Masalah Analisa Rasio C/N Kompos TKKS

Rasio C/N adalah salah satu parameter penting untuk mengetahui kualitas kompos. Rasio ini digunakan untuk mengetahui apakah kompos (baca: bahan organik) sudah cukup ‘matang’ atau belum. Rasio C/N ini juga diatur di dalam SNI ataupun KepMenTan tentang kualitas kompos. Di dalam SNI rasio C/N kompos yang diijinkan adalah 10 – 20, sedangkan di dalam KepMenTan rasio C/N kompos yang diijinkan berkisar antara 20.

Selain pengamatan secara visual/fisik, analisa rasio C/N adalah parameter yang diuji pertama kali. Analisa rasio C/N digunakan untuk mengkonfirmasi pengamatan secara visul/fisik. secara fisik, kompos TKKS yang sudah cukup matang ditandai dengan: perubahan warna menjadi berwarna coklat tua,lunak dan mudah dihancurkan, tidak berbau menyengat, suhu mendekati suhu ruang. Rasio C/N kompos yang sudah cukup matang berdasarkan literatur berkisar antara 20 – 30.

Di sini masalah mulai muncul. Ternyata berdasarkan pengalaman,menganalisa rasio C/N kompos TKKS tidak semudah untuk kompos-kompos yang lain. Hasil analisa kadang-kadang tidak masuk di akal. Misalnya saja, ada hasil analisa rasio C/N kompos TKKS yang 135, 90, dan 100. Padahal TKKS segar rasio C/N berkisar antara 50 – 60. Mustahil, rasio C/N-nya kompos lebih tinggi daripada bahan bakunya. ….. ????????

Pengalaman ini membuat aku berfikir, apanya yang salah. Apakah metode pengomposanku yang kurang baik atau analisanya yang kurang benar? Untuk lebih menyakinkan aku, analisa dilakukan di dua lab yang berbeda. Ternyata hasil dari kedua lab ini berbeda juga. Semakin pusing saja kepalaku memikirkan hasil analisa ini. Dugaanku ini mungkin ada yang salah dimetodenya. Setelah aku cek, ternyata metode yang digunakan sama. Aku coba berdiskusi dengan analis yang melakukan analisa ini. Aku lihat juga data-data hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya, bahkan data-data beberapa tahun yang lalu. Aku tanyakan juga bagaimana mereka melakukan preparasi bahan yang akan dianalisa.

Dari diskusi-diskusi ini, mulai ada titik terang di mana letak kesalahannya. Ini baru dugaanku. Mungkin yang menyebabkan hasil analisa yang bermacam-macam dan aneh-aneh itu adalah preparasi bahan yang kurang baik. Kompos TKKS memiliki karakteristik yang berbeda dengan kompos-kompos yang lain. TKKS berserat dan serat ini belum benar-benar hancur pada saat pengomposan. Serat-serat ini sangat liat dan sulit dihancurkan. Meskipun sudah diblender sehalus mungkin, bentuknya masih berserat-serat. Jika di ayak dengan ayakan 60 mesh, masih banyak yang tersisa. Artinya mungkin sampel yang dianalisa tidak mewakili contoh komposnya.

Aku punya keinginan untuk melakukan studi tentang analisis rasio C/N untuk kompos TKKS. Tujuannya untuk mendapatkan metode preparasi yang akurat dan bisa dipercaya untuk mengambarkan rasio C/N sebenarnya dari kompos TKKS ini.

About these ads

29 responses to “Masalah Analisa Rasio C/N Kompos TKKS

  1. Dear mas Isroi,

    Aku pelaku produsen pupuk organik sekala kecil di padang, tapi tinggal di gresik.
    Tentang analisa c/n di tkks itu sudah ada jawaban/solusinya belum? kalau sudah disharing ya…
    Terus metode analisa c organik dan c total di kompos apa bisa dikirimkan ke email aku?
    Kalau pas aku ke Jakarta/Bogor, boleh kita ketemu untuk diskusi beberapa hal?

    tks sebelumnya.

    • Metode analisa rasio C/N rasanya ada di SNI tentang kompos. Metode ini punyanya lab analisis kimia. Kebetulan saya tidak punya. Kebetulan sekarang saya sedang tinggal di Jogja, tetapi silahkan saja kalau mau ke Bogor. Banyak teman-teman saya yang bisa membantu Anda. Atau silahkan mampir ke jogja.

      isroi

  2. halo temen2..
    sudah saatnya anda ikut bergabung dengan komunitas kami untuk berkampanye bahan bakar hijau..dengan misi “reduction emission and global warming..
    kalu bukan kita siapa lagi yg peduli dg bumi kita ini…
    let’s hear the mother earth speaks..
    more information klik http://www.linara.myffi.biz..
    or call me at 0818937599

    thanks..

  3. Ngomong2 soal TKKS
    saat ini saya lagi mengembangkan Cover Compos UV untuk Pembuatan Kompos dengan Bahan baku utama TKKS… metodologinya serupa dengan Yang telah mas Isro contohkan pada salah satu tempat pengolahan TKKS

    saya bisa tidak dapat Informasi data teknis mengenai cover atau penutup TKKS pada saat di fregmentasikan menjadi pupuk..?

    thanks
    best REgards,

    Muh. Akbar Suudi

    • Cover untuk penutup TKKS yang pernah dipakai adalah kain terpal plastik biasa. Sedangkan yang di Sumut terpalnya dari Asianagreen. Katanya produk australia. Cuma menurut saya mahal sekali, nambah costnya agak lumayan. Cover yang saya pakai, sesuai kebutuhan kami, bertujuan untuk mempertahankan kelembaban dan suhu. Yang jadi masalah sekarang adalah terpal tersebut hanya bisa dipakai selama 3-4 kali membuat kompos atau kira-kira 6 bulan saja. Setelah itu sudah lapuk. Mungkin karena tidak tahan UV. Selain itu kalau membuka dan menutupnya pakai mesin justru jadi cepat sobek. Karena masih ada bagian-bagian yang runcing dari TKKS yang difermentasi.
      Semoga covernya cepet jadi dan cepet bisa dipakai oleh pekebun.
      Terima kasih sudah berkunjung di blog ini.

  4. sy sering menggunakan kompos tapi hasilnya kurang memuaskan.
    berapa lamakah kompos dibuat?
    mengapa ada orang yg membuat kompos yg bahan dasarnya dari pupuk kandang dan serbuk gergaji setelah diolah dalam beberapa menit dapat langsung digunakan?
    adakah obat yg dapat mengurai bakteri secepat mungkin?

    • Silahkan baca di posting saya yang lain. INI PRINSIPNYA: BAHAN ORGANIK MENTAH TIDAK BISA DIMANFAATKAN OLEH TANAMAN. Bahan organik tersebut harus didekomposis/degradasi terlebih dahulu baru bisa dipakai oleh tanaman. Kalau pupuk kandang plus serbuk gergaji langsung dipakai ke tanaman, jelas hasilnya kurang bagus.
      Lama pengomposan tergantung banyak hal, salah satunya adalah ukuran dan kekerasan bahan. Bahan yang lunak akan terkomposkan dengan cepat. Semoga bermanfaat.

  5. Pak, saya mau tanya. Saya sering baca di buku dan dengar dari temen2 kalo penggunaan abu janjang sawit itu sangat baik sekali untuk kelapa sawit. kandungan K2O berkisar 40%. tapi apa bener kandungan K2O di abu janjang ada segitu tingginya?

    terus apakah abu janjang sawit bisa menggantikan pupuk KCl sepenuhnya. artinya kebutuhan hara Kalium cuma disupply oleh abu janjang tanpa KCl.

    terima kasih.

    • Setahu saya abu janjang mengandung K (K2O) kurang lebih 30%. Tetapi seringnya kurang dari itu, abu yang biasa saya pakai cuma 22%. Saya ngak yakin ada abu janjang yang adarnya sampai >40%.
      K dalam abu janjang dalam bentuk kalium karbonat, jadi relatif mudah larut dalam air. Kalau mau dipakai untuk mengantikan KCl, ya..harus dihitung kadar K-nya dulu dan disetarakan volume/jumlahnya.

  6. salam agro,
    mas isroi..saya mau tanya nih..saya sering baca dilabel pupuk,ada tulisan c-organik 31,05%,1,36%,22,16%…yang jadi pertanyaan adalah:
    1.apakah arti dan maksud c-organik tersebut?
    2.apakah angka besar dan kecil dalam prosentase mengandung sesuatu terhadap aplikasinya?
    3.ada beberapa produk nutrisi (sari pati makanan)tuk tanaman,apakah sangat besar pengaruhnya terhadap tanaman tersebut?mohn infonya..saya sangat senang jika ada penjelasan ilmiah mengenai hal tersebut diatas..terima kasih atas atensinya..

    • Salam agro juga,
      Memang dalam label pupuk organik (cair atau padat) dicantumkan kandungan beberapa bahan, salah satunya adalah C-organik. C-organik secara sederhana adalah unsur C yang terikat dalam senyawa organik. Karena ini pupuk organik, jadi sangat penting artinya. Umumnya bahan organik yang masih mentah (belum terdekomposisi) memiliki kandungan C-organik yang tinggi, sedangkan bahan organik yang sudah terdekomposisi kandungan C-organiknya rendah.
      Pupuk organik yang memiliki kandungan C-organik tinggi berarti belum terdekomposisi dan tidak layak sebagai pupuk organik. Sedangkan kalau terlalu rendah, juga tidak baik, karena mungkin banyak bahan tambahannya (banyak C non organiknya).
      Saya juga belum mendapatkan batasan yang pasti, berapa kandungan C-organik yang diangap baik. Menurut standard deptan kandungan C-organik untuk pupuk organik granul adalah 12%, sedangkan untuk cair adalah 5%.
      Tentu saja besar kecilnya persentasi unsur hara (nutrisi tanaman) sangat berpengaruh terhadap kualitas pupuk organik tersebut.
      Semoga jawabannya cukup, meskipun singkat.

  7. pak saya mau tanya,,,,
    1. bgaimana sih cara menghitung rasio C/N pada pupuk dan jerami/brangkasan tanaman..???? apakah rasio C/N di doat dari C-org / N…???
    2. apakah bpak punya data kandungan N,P,K,C org dan rasio C/N Pada alang..???
    trims…

  8. ada harkat untuk N gak?

  9. maaf sya mo tnya bgamana ya menghitung nilai C-organik dari susbtrat yang tersuspensi dlam larutan…
    makasih

  10. maaf mas, sy mau nanya tentang kompos. sy membuat kompos dari sampah rumah tangga menggunakan komposter takakura, volume kompos 1kg perhari. setelah hasilnya diuji dilaboratorium hasilnya tidak memenuhi standar SNI, yaitu:
    1. kadar air 56% sedangkan SNI maksimal 50%
    2. pH 7,52 sedangkan SNI maksimal 7,49
    3. C 5,22 sedangkan SNI minimal 9,80
    4. N 0,22 sedangkan SNI minaml 0,4
    5. C/N 23 sedangkan SNI maksimal 20
    pertanyaan saya :
    1. Apakah kompos dengan kualitas ini masih baik untuk tanaman?
    2. apa yang mempengaruhi kompos saya sehingga sangat kekurangan nitrogen padahal uda banyak sayuran hijau yang saya masukkan
    3. apakah yang mempengaruhi pH kompos
    4. adakah standar kualitas kompos lain yang dapat dijadikan acuan selain SNI
    terimakasih sebelumnya

    • Selamat datang di blog saya. Semoga bermanfaat. Saya tidak pernah pakai takakura, jd tidak paham dg proses pengomposannya.
      Standard SNI memang sedikit berbeda dg standard Deptan untuk pupuk organik. Standard ini biasanya digunakan untuk produk2 yg diperdagangkan. Klo komposnya untuk dipakai sendiri, tdk perlu mengikuti SNI.
      Ada beberapa metode menguji kualitas kompos yg bisa dilakukan sendiri, yaitu uji germination indek atau uji perkecambahan. Silahkan dicari di kotak pencarian di atas. Kalau hasilnya bagus ya dipakai saja tidak apa2.
      Saya membuat kompos dr sawit dan rasio C/N nya sekitar 25, dan bisa digunakan untuk pupuk tanaman.
      Kadar air yang tinggi tidak masalah.
      Menurut saya pH 7.6 masih baik untuk tanaman.
      Kalau kandungan N yang rendah dan C yg rendah kemungkinan karena komposnya belum cukup matang. Coba diperlama waktu pengomposannnya, dan sedikit dikeringkan komposnya. Setelah itu coba dianalisakan lagi.
      Semoga bermanfaat.

  11. maaf mas saya mau tanyak…
    cara menghitung rasio C/N yang benar itu bagaimana? soalnya saya masih bingung?

    misalnya untuk menghasilkan rasio C/N= 25:1, itu caranya bagaimana ya mas?

    tolong di jawab ya mas, soalnya saya butuh banget utk penelitian….
    terima kasih

    • Saya juga bingung dengan pertanyaannya. Biasanya rasio C/N dilakukan berdasarkan analisis kandungan C-organik dan N dengan metode Kjeldahl. Menghitungnya tinggal kandungan C dibagi kandungan N.

  12. mas Isroi, mohon informasi, Aku buat Pupuk Organik Cair, ingin melakukan analisa lab. untuk C-Organik Pupuk Cair tsb.
    Ada rekomendasi mengenai lab. yang mumpuni buat itu?
    Beberapa lab. yang aku hubungi angkat tangan, katanya kalau buat Pupuk Organik Cair ada kesulitan, tapi kalau padat mereka malah bisa.
    Trims sebelumnya.

  13. Salam sejahtera Agro..
    Mau tanya mas saya memproduksi kompos setelah saya analisakan di laboratorium C/N 1,67 pada standart SNI 10-20. Saya sudah konsultasi katanya memang itu hasilnya, apa kompos saya masih bisa digunakan ? dan bagaimana caranya untuk meningkatkan C/N tersebut.Trimakasih

  14. pak isroi, saya pernah membuat pupuk organik cair, namun c/n rasio sampai 111. padahal bahan baku sudah dalam bentuk tepung dan saya pecah dengan asam terlebih dahulu.
    1.menurut bapak, kemungkinan apa yg bisa terjadi?
    2.apakah pupuk organik cair juga perlu diukur c/n rasionya?

    mohon bantuannya, terimakasih
    salam

  15. Mas Isroi…….apakah pembuatan kompos cair memiliki standar C/N rasio juga? Berapa C/N rasio standar Deptan untuk kompos cair?

  16. Menurut pendapat saya mengenai CN rasio yang cenderung naik setelah dilakukan pengomposan atau dekomposisi pada TKKS, bisa jadi C organik sudah terdekompos tetapi Nitrogen yg seharusnya berada di kompos tersebut tidak dapat dipertahankan sehingga mengalami volatil berbentuk Nitrat atau Nitrit hal ini karena bakteri yang berfungsi menambat N tidak dapat mempertahankan hidupnya, lambat laun Nitrogen berkurang yang mengakibatkan CN Ratio menjadi lebih tinggi dibandingkan TKKS segar. Tks

    • Pendapat ini hanya asumsi/hipotesis atau ada datanya? Klo ada datanya sangat bagus sekali. Tapi kalau hanya asumsi/hipotesis boleh2 saja. Tetapi saya blm bisa menerimanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s