Pemanfaatan Produk Samping Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Alternatif Terbarukan

Didiek H. Goenadi , Wayan R. Susila , dan Isroi


Makalah disampaikan pada tanggal 1 Maret 2005 di Badan Litbang Pertanian, Jakarta
Artikel terkait: Energi Terbarukan dari Limbah Sawit


PENDAHULUAN
Sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa, Indonesia menghadapi masalah energi yang cukup mendasar. Sumber energi yang tidak terbarukan (non-renewable) tingkat ketersediaannya semakin berkurang. Sebagai contoh, produksi minyak bumi Indonesia yang telah mencapai puncaknya pada tahun 1977 yaitu sebesar 1.7 juta barel per hari terus menurun hingga tinggal 1.125 juta barel per hari tahun 2004. Di sisi lain konsumsi minyak bumi terus meningkat dan tercatat 0.95 juta barel per hari tahun 2000, menjadi 1.05 juta barel per hari tahun 2003 dan sedikit menurun menjadi 1.04 juta barel per hari tahun 2004 (Tabel 1).


Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Minyak Bumi Indonesia

Tahun Produksi (juta barel/hari) Konsumsi (juta barel/hari)
2000 1.4 0.9446
2001 1.3 0.9632
2002 1.2 0.9959
2003 1.1 1.0516
2004 1.125 1.0362

Sumber: Media Indonesia, 8 September 2004 dan Kompas, 27 Mei 2004.

Indonesia yang semula adalah tergolong net-exporter di bidang bahan bakar minyak (BBM), sejak tahun 2000 telah menjadi net importer jika produksi minyak mentah Indonesia dikurangi dengan bagian kontraktor asing sebesar 35% produksi. Pada tahun 2003, impor bersih BBM Indonesia mencapai 0.336 juta barel per hari atau sedikit lebih kecil dari produksi bagian kontraktor asing. Impor bersih ini diperkirakan akan terus meningkat dengan semakin menurunnya produksi ladang-ladang minyak Indonesia dan meningkatnya konsumsi minyak penduduk Indonesia.Dalam upaya mengatasi masalah defisit energi tersebut, pengembangan sumber energi terbarukan merupakan suatu keharusan. Terhadap tuntutan ini, industri kelapa sawit mempunyai potensi kontribusi yang sangat besar. Produk utama kelapa sawit yaitu minyak sawit (CPO) kini sudah mulai dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan dengan memprosesnya menjadi biodiesel, seperti yang sudah dikembangkan di Malaysia. Produk samping kelapa sawit seperti cangkang dan limbah pabrik CPO juga potensial sebagai sumber biomassa yang dapat dikonversi menjadi energi terbarukan. Alternatif ini memiliki beberapa kelebihan. Pertama, sumber energi tersebut merupakan sumber energi yang bersifat renewable sehingga bisa menjamin kesinambungan produksi. Kedua, Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit sehingga ketersediaan bahan baku akan terjamin dan industri ini berbasis produksi dalam negeri. Ketiga, pengembangan alternatif tersebut merupakan proses produksi yang ramah lingkungan. Keempat, upaya tersebut juga merupakan salah satu bentuk optimasi pemanfaatan sumberdaya untuk meningkatkan nilai tambah.Sejalan dengan hal tersebut, maka dalam tulisan ini akan dibahas mengenai pemanfaatan produk samping sawit (PSS) sebagai sumber energi terbarukan. Pembahasan difokuskan pada potensi secara empiris produk samping kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan. Di samping itu, teknologi yang sudah berkembang serta status penguasaan teknologi Indonesia dalam hal produk samping kelapa sawit sebagai sumber energi dibahas secara ringkas di bagian akhir tulisan ini.

PRODUK SAMPING KELAPA SAWIT SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN 

Potensi Produk Samping Sawit sebagai Sumber Energi Terbarukan

Kebun dan pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah padat dan cair dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Serat dan sebagian cangkang sawit biasanya terpakai untuk bahan bakar boiler di pabrik, sedangkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang jumlahnya sekitar 23% dari tandan buah segar yang diolah, biasanya hanya dimanfaatkan sebagai mulsa atau kompos untuk tanaman kelapa sawit (Goenadi et al., 1998). Pemanfaatan dengan cara tersebut hanya menghasilkan nilai tambah yang terendah di dalam rangkaian proses pemanfaatannya.

neraca massa sawit

Gambar 1. Kesetaraan biomassa dan energi dalam proses pengolahan sawit di pabrik kelapa sawit

Proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 1. Dari 1 ton TBS yang diolah dapat diperoleh CPO sebanyak 140 – 220 kg. Proses ini membutuhkan energi sebanyak 20–25 kWh/t dan 0.73 ton steam (uap panas). Proses pengolahan ini akan menghasilkan limbah padat, limbah cair dan gas. Limbah cair yang dihasilkan sebanyak 600–700 kg POME (Palm Oil Mill Effluent). Limbah padat yang dihasilkan adalah serat dan cangkang sebanyak 190 kg dan 230 kg TKKS segar (kadar air 65%). Selain itu juga dihasilkan limbah emisi gas dari boiler dan incenerator (Lacrosse, 2004).

Potensi energi yang dapat dihasilkan dari produk samping sawit dapat dilihat dari nilai energi panas (calorific value). Nilai energi panas (calorific value) dari beberapa produk samping sawit ditunjukkan pada Tabel 2. Produk samping yang memiliki nilai energi panas tinggi adalah cangkang dan serat. Cangkang dan serat (fibre) dimanfaatkan sebagian besar atau seluruhnya sebagai bahan bakar boiler PKS. Produk samping yang lain belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber energi. TKKS yang juga memiliki nilai energi panas cukup tinggi saat ini banyak dimanfaatkan sebagai mulsa atau diolah menjadi kompos. Sebagian PKS masih membakar TKKS dalam incinerator untuk mengurangi volume limbah TKKS, walaupun sudah dilarang sejak tahun 1996.

Tabel 2. Nilai energi panas (calorific value) dari beberapa produk samping sawit (berdasarkan berat kering).

Rata-rata calorific value (kJ/kg) Kisaran (kJ/kg)
TKKS 18 795 18 000 – 19 920
Serat 19 055 18 800 – 19 580
Cangkang 20 093 19 500 – 20 750
Batang 17 471 17 000 – 17 800
Pelepah 15 719 15 400 – 15 680

Sumber: Ma et.al. (2004)

TKKS adalah limbah biomassa yang potensial sebagai sumber energi terbarukan. TKKS dapat digunakan sebagai bahan bakar generator listrik. Sebuah PKS dengan kapasitas pengolahan 200_000 ton TBS/tahun akan menghasilkan seba-nyak 44_000 ton TKKS (kadar air 65%)/tahun. Nilai kalor (heating value) TKKS kering adalah 18.8 MJ/kg, dengan efisiensi konversi energi sebesar 25%, dari energi tersebut ekuivalen dengan 2.3 MWe (megawatt-electric). TKKS dapat juga dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas walaupun proses pengolahannya lebih sulit daripada biogas dari limbah cair.

Di samping itu, limbah padat dapat juga diproses menjadi briket arang sebagai sumber energi terbarukan. Dengan teknologi yang relatif sederhana, pemanfaatan limbah padat menjadi briket arang merupakan suatu pilihan yang sangat realistis dan prospektif.

Menurut Loebis dan Tobing (1989), limbah cair PKS berasal dari air kondensat rebusan (150–175 kg/ton TBS), air drab (lumpur) klarifikasi (350–450 kg/ton TBS) dan air hidroksiklon (100-150 kg/ton TBS). PKS dengan kapasitas olah 30 ton TBS/jam menghasilkan limbah cair sebanyak 360–480 m3 per hari dengan konsentrasi BOD rata-rata sebesar 25_000 mg/l. Limbah cair tidak dapat dibuang langsung ke perairan, karena akan sangat berbahaya bagi lingkungan. Saat ini umumnya PKS menampung limbah cair tersebut di dalam kolam-kolam terbuka (lagoon) dalam beberapa tahap sebelum dibuang ke perairan. Secara alami limbah cair di dalam kolam akan melepaskan emisi gas rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan. Gas-gas tersebut antara lain adalah campuran dari gas methan (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Kedua gas ini sebenarnya adalah biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Potensi biogas yang dapat dihasilkan dari 600–700 kg POME kurang lebih mencapai 20 m3 biogas (Lacrosse, 2004). Penelitian pemaanfaatan POME untuk menghasilkan biogas saat ini menjadi perhatian banyak pihak. Selain sebagai sumber energi, teknologi biogas ini juga dapat mengurangi dampak emisi gas rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan.

Potensi Indonesia untuk Memanfaatkan Produk Samping Sawit untuk Energi

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam memanfaatkan produk samping sawit sebagai sumber energi. Seperti diketahui, kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu komoditi yang mengalami perkembangan yang terpesat. Pada era tahun 1980-an sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, industri kelapa sawit berkembang sangat pesat. Pada periode tersebut, areal meningkat dengan laju sekitar 11% per tahun. Sejalan dengan perluasan areal, produksi juga meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Konsumsi domestik dan ekspor juga meningkat pesat dengan laju masing-masing 10% dan 13% per tahun. Pada awal tahun 2001–2004, luas areal kelapa sawit dan produksi masing-masing tumbuh dengan laju 3.97% dan 7.25% per tahun, sedangkan ekspor meningkat 13.05% per tahun (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2005). Sampai dengan tahun 2020, industri kelapa sawit Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh, walau dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan periode sebelum tahun 2000. Sampai dengan tahun 2010, produksi CPO diperkirakan akan meningkat antara 5%–6%, sedangkan untuk periode 2010–2020, pertumbuhan produksi diperkirakan berkisar antara 2%–4% (Susila, 2004).

Pertumbuhan produksi CPO berarti pula peningkatan ketersediaan produk samping sawit yang antara lain bersumber dari TBS. Seperti terlihat pada Gambar 2, produksi TBS diperkirakan akan terus meningkat dan mencapai sekitar 83 juta ton pada tahun 2020, sehingga dapat dihasilkan 17 ton CPO. Volume tersebut merupakan sumber produk samping yang sangat besar untuk menghasilkan energi.

grafik2

Gambar 2. Grafik Perkembangan dan Proyeksi Produksi CPO Indonesia 2000/2010.

Volume produksi CPO tersebut dihasilkan dari 205 pabrik kelapa sawit yang sebagian besar berlokasi di Sumatera (177 pabrik), dan lainnya di Kalimantan, Sulawesi dan Jawa. Sebagai ilustrasi, produksi TBS Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan sebesar 53_762 juta ton TBS. Produksi ini akan terus meningkat dan pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 64_000 juta ton TBS. Dari produksi TBS tahun 2004 dapat diperkirakan produksi POME sebanyak 32_257 – 37_633 juta ton dan TKKS sebanyak 12_365 juta ton. Jumlah ini sangat melimpah dan berpotensi besar sebagai sumber energi terbarukan.

Potensi produksi biogas dari seluruh limbah cair tersebut kurang lebih adalah sebesar 1075 juta m3. Nilai kalor (heating value) biogas rata-rata berkisar antara 4700–6000 kkal/m3 (20–24 MJ/m3) (CTL, 2004). Dengan nilai kalor tersebut 1075 juta m3 biogas akan setara dengan 516_000 ton gas LPG, 559 juta liter solar, 666.5 juta liter minyak tanah, dan 5052.5 MWh listrik. TKKS juga memiliki potensi energi yang besar sebagai bahan bakar generator listrik. TKKS sebanyak 12_365 juta ton berpotensi menghasilkan energi sebesar 23_463.5 juta MWe.

Alternatif lain pemanfaatan limbah padat kelapa sawit yang paling sederhana untuk Indonesia adalah menjadikannya briket arang. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki sifat tersebut dengan cara pemadatan melalui pembriketan, pengeringan dan pengarangan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah merancang bangun paket teknologi untuk produksi briket arang dari limbah sawit, baik tandan kosong maupun cangkang sawit.

Pada dasarnya ada dua metode pembuatan briket arang, yaitu (i) bahan baku-penggilingan-pengayakan-pembriketan-pengarangan, dan (ii) bahan baku-pengarangan-penggilingan-pengayakan-pembriketan. Untuk limbah sawit ternyata metode kedua lebih sesuai untuk menghasilkan briket arang yang bermutu tinggi.

TKKS dan cangkang sawit memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga untuk proses pengarangannya juga memerlukan tungku yang berbeda. Untuk TKKS, proses pengarangan lebih sesuai dilakukan dalam tungku vertikal, sedangkan untuk cangkang sawit lebih baik dilakukan proses pengarangan pada tungku horisontal. Rendemen yang dihasilkan dari proses pengarangan tersebut adalah 25–30%.

Proses pembriketan limbah sawit dapat dilakukan dengan mesin pembriket tipe ulir dengan kapasitas 1 ton per hari. Mesin ini menghasilkan briket arang berbentuk silinder dengan diameter 5 cm dan panjang 10–30 cm. ukuran ini sesuai dengan briket arang komersial yang dibuat dari serbuk gergaji. Briket arang sawit memiliki keunggulan yaitu permukaannya halus dan tidak meninggalkan warna hitam apabila dipegang.

Karakteristik briket arang yang terbuat dari TKKS dan cangkang sawit sangat berbeda, seperti yang terlihat pada Tabel 3. Briket arang TKKS memiliki kadar abu yang lebih tinggi, sedangkan kadar kalor dan karbon terikatnya lebih rendah. Ditinjau dari segi kalor, kedua briket arang tersebut telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk briket arang kayu yaitu minimal 5000 kalori/gram.

Tabel 3. Karakteristik Briket Arang dari TKKS dan Cangkang Sawit

No Karakteristik Briket arang tandan kosong sawit Briket arang cangkang sawit
1 Kadar air, % 9.77 8.47
2 Kadar abu, % 17.15 9.65
3 Kadar zat terbang, %
(volatile matter)
29.03 21.10
4 Kadar karbon terikat, %
(fixed carbon)
53.82 69.25
5 Keteguhan tekan, kg/cm2 2.10 7.82
6 Nilai kalor, kal/g 5_578.00 6_600.00

Perkembangan Teknologi Energi Terbarukan dari Produk Samping Sawit

Potensi biomassa dari produk samping sawit sebagai sumber energi terbarukan mulai dikembangkan di beberapa negera produsen sawit utama. Malaysia sebagai salah satu negera produsen CPO utama telah mengembangkan teknologi produksi biogas dari POME. Dari sisi teknologi Malaysia lebih maju daripada Indonesia dalam mengembangkan teknologi ini. Sejak tahun 2001 Malaysia melaksanakan program pengembangan energi terbarukan yang disebut dengan Small Renewable Energy Programe (SREP) (Yeoh, 2004). Salah satu energi terbarukan yang dikembangkan dalam program ini adalah pengembangan biogas dari POME (Ma et al, 2003). Saat ini mereka telah berhasil mengembangkan bioreaktor untuk produksi biogas dari POME. Bumibiopower (Pantai Remis) Sdn. Bhd. adalah salah satu perusahaan di Malaysia yang melaksanakan proyek untuk mengembangkan pabrik produksi biogas dari POME (Mitsubishi Securities, 2004). Pabrik ini direncanakan akan mengolah POME dari salah satu pabrik kelapa sawit yaitu Pantai Remis Paml Oil Mill. Biogas yang dihasilkan juga akan digunakan untuk generator listrik dengan kapasitas 1 MW – 1.5 MW.

COGEN bekerjasama dengan ASEAN melaksanakan proyek pengembangan energi terbarukan dari limbah biomassa sebanyak 8 proyek ( 3 proyek di Thailand, 3 proyek di Malaysia, dan 2 proyek di Singapura). Proyek ini memanfaatkan limbah biomassa, salah satunya adalah TKKS, sebagai bahan bakar generator listrik. Proyek pemanfaatan TKKS sebagai bahan bakar listrik dilaksanakan oleh TSH Bio Energy Sdn Bhn di Sabah, Malaysia. Kapasitas listrik yang dihasilkan adalah sebesar 14 MW (Lacrosse, 2004).

Pengembangan produk samping sawit sebagai sumber energi terbarukan masih tertinggal dibandingkan negera-negara lain. Menurut Abdullah (2004) dari total potensi biomassa (TKKS termasuk di dalamnya) sebesar 178 MWe baru sekitar 0.36% yang dimanfaatkan. Melalui Kep.Men. No. 1122 K/30/MEM/2002 tentang Distribusi Pembangkit Listrik Skala Kecil, Indonesia mulai mengembangkan energi terbarukan. Tahun 2005 Indonesia mendapatkan bantuan sebesar $ US 500.000 dollar dari ADB (Bank Pembangunan Asia) untuk mengembangkan energi terbarukan dari limbah cair kelapa sawit (Kompas, 27 Desember 2004).

PENUTUP

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit energi dengan volume defisit semakin meningkat. Hal ini terjadi karena sementara konsumsi energi terus meningkat, sumber energi, khususnya yang tidak terbarukan, semakin menurun. Untuk mengatasi hal ini, pengembangan sumber energi yang terbarukan merupakan pilihan yang strategis. Dalam konteks ini, pemanfaatan produk samping sawit dan limbahnya mempunyai potensi besar untuk dimanfaatkan. Produk samping sawit dan limbahnya mempunyai potensi besar sebagai sumber energi yang terbarukan. Dengan perkembangan industri kelapa sawit yang masih relatif pesat, upaya untuk mewujudkan hal tersebut perlu mendapat prioritas. Indonesia perlu segera memacu diri untuk mewujudkan hal tersebut sehingga ketertinggalan dengan negara lain dalam hal teknologi dan implementasi dapat terus diperkecil. Hal ini memerlukan dukungan semua pihak, khususnya pelaku bisnis, lembaga riset, dan pemerintah. Kebijakan Pemerintah perlu diarahkan pada pemberian insentif finansial kepada industri yang merintis kegiatan pengembangan energi terbarukan seperti ini, misalnya dengan memanfaatkan sebagian dana kompensasi pencabutan subsidi BBM.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, K. (2004). Biomass Energy Potentials and Utilization in Indonesia. Laboratory of Energy and Agricultural Electrification, Department of Agricultural Engineering, IPB and Indonesian Renewable Energy Society (IRES). Institute Pertanian Bogor, Indonesia.

Cipta Tani Lestari (CTL) (2004). Teknologi Reaktor Biogas Plastik. Energi Alternatif Pedesaan yang Ekonomis. CTL Pusat Inkubator Bisnis ITB.

Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan (2005). Pokok-Pokok Rencana Makro Pengembangan Agribisnis Komoditi Perkebunan 2005-2009. Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan.

Goenadi, D.H, Y. Away, Sukin, Y., Yusuf, H. H., Gunawan & Aritonang, P. (1998). Pilot-Scale Compossing of Oil Palm Using ligno-cellulosic Decompossing Bioactivator. 1998 International Oil Palm Conference. Nusa Dua Bali, September 23-25, 1998.

Lacrosse, L. (2004). Clean and Efficient Biomass Cogeneration Technology in ASEAN, COGEN 3 Seminar on “Business Prospects In Southeast Asia For European Cogeneration Equipment”, 23 November 2004, Krakow, Poland.

Loebis, B. & Tobing, P.L. (1989). Potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit. Buletin Perkebunan. 20: 49-56.

Ma, A.N., Choo, Y.M. & Cheah, K.Y. (2003). Development of Renewable Energy in Malaysia. Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

Menon, N. R, Rahman, Z. A & Bakar, N. A. (2003). Empty Fruit Bunches Evaluation: Mulch in Plantation vs. Fuel for Electricity Generation. Oil Palm Industry Economic Journal, Vol. 3, No. 2, p. 15-20. Malaysian Palm Oil Board.

Mitsubishi Securities (2004). Bumibiopower Methane Extraction and Power Generation Project. Mitsubishi Securities, Clean Energy Finance Committee.

Susila, W. R. (2004). ‘Impacts of CPO-export tax on several aspects of Indonesian CPO industty’, Oil Palm Industry Economic Journal, 4(2), 1-13, Malaysian Palm Oil Board.

Yeoh, B.G. (2004). Energy Recovery from Waste-water treatment: A Case Study in the Biometharation as Oil Palm Oil Mill Eflluent. Brunei Darussalam Cogeneration Week. 23-24 November 2004. The Centrepoint Hotel, Bandar Seri Begawan.

About these ads

37 responses to “Pemanfaatan Produk Samping Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Alternatif Terbarukan

  1. makasih mas atas penyajiannya materi mhon bisa kerja sama. saya dapat dihubungi di email saya: http://www.a2olo@yahoo.co.id

  2. waaahhh,
    makasih datanya…
    ngebantu dalam pembuatan tugas,,,,

  3. mas…. kalaw boleh tahu
    kira-kira bagaimana cara proses pembuatannya ada gak
    dimulai dari alat dan caranya,
    terima kasih atas infonya

    http://qpula.wordpress.com

  4. Terimakasih atas ulasannya yang sangat menarik. saya ingin menanyakan beberapa hal:
    1.untuk briket arang TKKS dan cangkang sawit, dipress dg tekanan berapa?
    2.pengarangan briket TKKS dan cangkang sawit dengan suhu berapa dan berapa lama?
    3.kalau boleh saya tahu, saya ingin mengetahui informasi ttg nilai kalor biomass lain selain TKKS dan cangkang sawit?

  5. Pingback: Energi Terbarukan Dari Limbah Pabrik Kelapa Sawit « isroi

  6. Tulisan anda bagus -bagus.. Apakah anda ahli dibidang ini??

    Boleh saya kontak… Berapa no Hp.
    Trims

    Dimas
    dari Medan.
    085270492372

  7. mas…….
    Loebis, B. & Tobing, P.L. (1989). Potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit. Buletin Perkebunan. 20: 49-56.

    bisa pinjem nggak?
    beli deh!!!

    ato boleh minta CP nya gak?

  8. Mas… boleh kontruksi boiler limbah sawit, apakah perbedaan utama dengan Boiler Batu bara atau Boiler limbah tebu.

    Pabrik CPO mana saja yang sudah menggunakan Boiler Limbah Sawit, bila ada waktu, mungkin saya akan studi banding.

    trims

    boycke
    081931378664

    • Maaf, saya bukan orang teknik, jadi tidak paham tentang boiler. Setahu saya ada beberapa pabrik kelapa sawit di sumatera yang sudah menggunakan cangkang sawit dan fiber sebagai bahan bakar boiler. Misalnya yang di sekayu, dan di OKI, sumsel. Semoga bermanfaat.

      isroi

  9. Maaf mas, Kalau arang dari “Pelepah Sawit” bagaimana? saya perlu infonya nich buat laporan :)

    Please Info.

    Thanks & Regards,
    Rani
    sec-nsg@cbn.net.id
    0813-19622880

    • Pelapah biasanya dibuat untuk kompos, penutup lahan, atau sudah dicoba untuk pakan ternak. Tetapi untuk arang, saya belum pernah mendengarnya. Jadi tidak punya info tentang topik ini. Maaf

  10. Apakah benar TKKS mengandung kadar potasium yg tinggi sehingga dapat mengerosi boiler ?

  11. mas ko k maaf terus siy, kaya oneng mas..

  12. bagaimana cara mendapatkan alat dan cara?

  13. Mas… tulisan2 Mas di internet bagus2 dan sangat membantu saya dalam menambah wawasan dan pengetahuan krn kebetulan saya bekerja di PKS sebagai Asst proses dan saya saat ini telah membuat sebuah Makalah tentang Pengolahan Kelapa sawit secara teknis dan sedang di koreksi oleh Direksi, rencananya saya akan membuat suatu makalah tentang masalah Energi terbarukan dari limbah cair dan padat sebagai sumber energi untuk PKS . Yang mau saya tanyakan kira2 buku2 apa yang pas untuk saya bisa mempelajari hal2 tsb ?. Dan kalau bisa saya bisa minta no. Hp mas ? Terima kasih.

  14. isi tulisannya bagus dan menarik untuk di kembangkan. saya mau tanya kalau proses batok kelapa menjadi arang itu bagaimana?

  15. mas boleh tau g almt web untuk download SNI briket???
    cos q ini jg butuh untuk tugas akhir.

  16. tolong bantuany y mas.trims b4

  17. kirimkan saya proses alur pembuatan kelapa sawit selengkapnya di facebook saya
    rio.abei@yahoo.com

  18. mas tulisan mas di bloger mas ini bagus banget banget aku lebih mudah mengetahui apapun di blger ini :)

  19. Aji Defri Julienki

    Sy ingn Bntuan Info ny tntng Minyk Lmbh Swit.
    1. Kesultn sy mndptkn Byer Minyk Lmbh Swt yg betl2 Bonfide d Indonsia…
    2. Hrg jual /kg nya.? Ats penglmn sy trnsksi, sy meras sprti di Rugkn..
    Asl sy d’Kaltim, bntuan infony sy hrpkn ke Email Sy, Trim

    • Sy tidak punya banyak info tentang minyak limbah sawit. Biasanya langsung nego ke pihak direksi, jd sy tidak banyak tahu. Sekarang minyak ini juga sdh jadi komoditas, bukan limbah lagi. Maaf tidak banyak bisa membantu.

  20. Terima kasih atas artikel yang sangat informatif sekali…
    Dimana saya bisa dapat kan data dan informasi mengenai harga pasar dari produk samping kelapa sawit ?

    Thanks in advance

  21. klo untuk biopellet dr limbah kelapa sawit ini ada bahan ato referensi ga mas? minta dunk.. :)
    buat tambahan referensi tesis nie

  22. Terima kasih atas artikelnya.. bisa sangat membantu.. Apa ada data atau artikel tentang pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai biopellet untuk bahan bakar boiler..?? terima kasih

  23. candra cah ndeso

    tulisan” mas bagus mas……..
    boleh gak mas di jelasin cara pembuatan pakan ternak dari limbah pelepah sawit. soalnya di daerah saya banyak sekali limbah yang tidak optimal pemanfaatanya mas

  24. mas sy mw tnya klo nilai kalori dalm cacahn kayu brp ya…
    tlong sy krimi karakteristik dari kayu bakar dg sifat cscahan kayu.trimksih

  25. apakah tandan buah segar dari kelapa sawit bisa di buat menjadi karbon aktif?
    dan pada suhu berapa pembakaran yang bagus untuk menjadikan tandan buah segar menjadi karbon aktif?

  26. Salam kenal,

    Mas, menarik sekali ulasan yg diuraikan diatas. terima kasih telah berbagi pengetahuan kepada publik. Yang ingin saya tanyakan, berapa investasi yg dibutuhkan untuk merealisasikan ide ini?

    Terima Kasih,

    • Salam kenal juga,
      Tulisan ini sudah berumur 5 tahun. Saya sudah menulis beberapa artikel lain yang lebih spesifik.
      Saya belum sampai menghitung investasinya sampai spesifik. Biasanya orang pabrik sendiri yang menghitungnya. Mungkin sampai beberapa ratus juga, tergantung pada kapasitasnya.

  27. Terima kasih banyak pak informasinya,
    sangat bermanfaat pak,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s