Kandungan Bahan Organik Tanah Kita Sangat Rendah

Beberapa hari lalu aku mendapatkan sebuah naskah pidato pengukuhan professor riset dari Bp. Ir. Kasdi Pirngadi, MS. Beliau adalah peneliti dari Balai Penelitian Padi Sukamandi. Judul orasinya adalah: PERAN BAHAN ORGANIK DALAM PENINGKATAN PRODUKSI PADI BERKELANJUTAN MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL.


Pembuatan Kompos Jerami Cepat, Mudah dan Murah

Ada beberapa informasi menarik yang disebutkan di dalam orasi ini. Salah satunya adalah tentang kandungan bahan organik di tahan pertanian di Indonesia. Disebutkan di dalam orasi tersebut bahwa 73% lahan pertanian di Indonesia baik untuk lahan sawah maupun lahan kering mempunyai kandungan bahan organik yang sangat rendah, yaitu kurang dari 2%. Padahal menurut literature kandungan bahan organik yang ideal adalah 5%. Ini sungguh ironi sekali. Karena informasi ini bisa berimplikasi banyak sekali. Misalnya saja, seperti yang disebutkan oleh Bp. Kasdi, yaitu gejala kelelahan lahan. Lahan menjadi lelah bin capek. Artinya daya dukung lahannya menjadi rendah. Tanah dan tanaman memerlukan asupan pupuk yang lebih banyak untuk mendapatkan tingkat produktivitas yang sama.

Misalnya begini, jika saat ini petani menggunakan pupuk NPK sebanyak 250kg/ha dan hasil panennya kurang lebih 6 ton/ha. Maka pada musim-musim tanam berikutnya memerlukan jumlah pupuk yang lebih banyak agar tetap menghasilkan panen 6 ton/ha. Beberapa hal lain yang langsung terasa adalah efisiensi pemupukan yang rendah. Tanah menjadi keras dan kurang gembur.

Di lahan pertanian kita sebenarnya banyak terdapat bahan organik yang cukup melimpah, yaitu dari sisa jerami. Jerami dapat dibuat kompos dengan cara yang mudah, murah, dan cepat. Dalam satu ha kurang lebih dapat dihasilkan jerami sebanyak 15 ton atau kira-kira 3 kali hasil panen gabahnya. Jika dibuat kompos rendmennya kurang lebih 50% atau kira-kira bisa diperoleh 7.5 ton kompos. Jika kompos ini dikembalikan ke tanah, paling tidak dapat menyumbang sebagian sampai separo dari kebutuhan hara tanaman. Jumlah yang tidak sedikit. Di samping itu ada manfaat lain yang sangat penting dari penambahan kompos jerami ini, yaitu perbaikan sifat fisik dan kimia tanah.

Seiring dengan pulihnya kondisi lahan, jumlah asupan pupuk buatan/kimia bisa dikurangi. Pengurangan ini pun sebaiknya disesuaikan dengan pemulihan lahan. Jangan dikurangi secara dratis karena akan dapat menurunkan secara dratis pula hasil panennya.

Andaikan para petani kita mulai menghentikan kebiasaan membakar jerami dan mengolah jerami ini menjadi pupuk organik, bukan mustahil swamsembada pangan akan tetap berkelanjutan (sustainable). Insya Allah.

Pembuatan Kompos Jerami Cepat, Mudah dan Murah

About these ads

3 responses to “Kandungan Bahan Organik Tanah Kita Sangat Rendah

  1. 1 hektar lahan pertanian, 20% lahan untuk hmt (hijauan makanan ternak), 4 ekor sapi … kita ndak perlu beli pupuk lagi

  2. menurut saya walaupun kandungan sisa2 tumbuhan ataupun bahan2 yng mnunjang perbnyakan bahan organik misalkan jerami bnyak kta tmukan di Indonesia, tpi knyataan dlapang bnar adnya klau indnsia mskin akan bhan orgnik.soalnya indonesia merpakan daerh dngan tpe iklim tropis yng mndapat crah hjan yng tnggi,dan pmnsan yng tnggi pula,sngga bhan2 orgnik trcuci dr lpisan A ke lpsan pnimbunan (lpsan B). drsama frksi yng lain dlm bntuk ukran yng rltf lih kcil (koloid).
    dan prlu dprhtikan slain sisa2 tmbhan,cuhu,crah hjan dan fktor2 lainnya jg sngat mnnjang prbnyakan bhan orgnik.

  3. Petani cenderung mengambil jalan praktis yaitu pemakaian pupuk kimia secara terus menerus tanpa di imbangi dengan pupuk organik. kedua bapak petani kita tidak memanfaatkan balai-balai penelitian yang menghasilkan teknologi untuk mendukung produktifitas pertanian padahal petani itu bayar pajak.tetapi tidak sadar akan peran balai itu.mbok yao jadilah petani yang bisa disebut petani sukses dengan hasil padi 10 ton/ha,kedelai 3ton/ha.seperti seorang para peternak sapi yang sudah memanfaatkan balai inseminasi buatan (BIB). jangan heran hasil pertanian di atas bisa tercapai dengan memanfaatkan para balai penelitian itu , sayang pajak kita.Saya sendiri mengalaminya dengan hasil diatas karena sudah memanfaatkan limbah dari pertanian dan peternakan.banyaklah ternak supaya bisa memupuk sawah,supaya bisa sekolahkan anak dan bisa membeli sawah baru. dengan perpaduan pertanian dan peternakan yang di kelola dengan baik tak usah mencari pekerjaan.benar saudari nasih di atas dengan 4 ekor sapi tak kan pernah lagi datang ke kios saprotan.asumsinya 4 ekor pedet simental(F3) x Rp 7 jt(umur 3 bl).feces semua masuk sawah,syukur-syukur urinnya dijadikan POC.syukur lagi padinya ada yang beli sebagai padi(beras organik). jeraminya otomatis jadikan pupuk organik,hitung hitung pengganti KCL.Ini pengalaman saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s