CARA LEBIH ARIF MENANGANI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

aedes-mosquito.jpg

Hampir setiap tahun, di bulan-bulan tertentu, selalu saja ada berita tentang kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Menurut cacatan Departemen Kesehatan RI, pada tahun 2007 telah terjadi kasus DBD sebanyak 139.695 kasus dengan 1397 orang meninggal di seluruh Indonesia. Ini artinya kurang lebih 10% dari pasien DBD meninggal dunia. Banyak wilayah di Indonesia yang merupakan wilayah endemik DBD, di mana terjadi kasus DBD yang berulang-ulang setiap tahun. DBD merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia dan memerlukan penanganan yang menyeluruh dan integral, agar penyakit ini tidak lagi menimbulkan banyak korban jiwa.

muhamat.jpgMuh ‘memet’ amat, SSi., MSi., ahli nyamuk Ae. aegypti dan pengendaliannya dengan Bt.
Muhamat adalah tipikal alumni fabio unsoed 93 yang bermental baja dilapis stainless steel, dikrom, dan dicat item. Lulus dari Fabio Unsoed dengan jungkir balik, tulang dibanting-banting, tetapi tetap kokoh tanpa cacat. Roda kehidupan membawanya terdampar di Kalimantan. Di Pulau terbesar se-Indonesia ini, Dewi fortuna rupanya jatuh hati berat pada Memet. Memet menjadi dosen di Universitas Lambung Mangkurat, Fak. Biologi. Semangatnya belajarnya yang tidak pernah padam mengantarkan Memet menempuh pendidikan S2 di Universitas Gadjah Mada. Dia balas dendam karena dulu ngak pernah lolos UMPT di UGM. Akan tetapi ternyata UGM lebih kejam dari Unsoed. Di salah satu kampus terbesar di Indonesia ini, Memet harus berdarah-darah. Lima tahun berjuang tak kenal lelah. Sampai badan lemah. Jadi kurang darah….ah..ah…h…h.
Seperti digodog di kawah candrodimuko, sampai mateng ..teng…teng bin gosong…song…. (Kasihan banget Memet, yang kelihatan cuma giginya aja). Kini Memet menjelma menjadi manusia lain (memangnya dulu bukan manusia…!!!???). Memet telah menjadi ahli nyamuk dan pengendaliannya secara biologi. Jelas keahlian ini sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Tunjukkan gigimu. Kami tunggu kiprahmu, Met.

Pengendalian Nyamuk Ae. aegypti

DBD disebabkan oleh virus dan penyebarannya melalui vektor nyamuk. Dari sekian banyak jenis nyamuk, hanya satu nyamuk yang menjadi vektor DBD, yaitu Aedes aegypti. Oleh karena itu untuk mengendalikan penyebaran DBD dilakukan dengan mengendalikan vektor nyamuk ini. Jika ada kasus DBD, biasanya segera dilakukan pengasapan di lingkungan sekitar tempat tinggal pasien tersebut. Pengasapan sebenarnya adalah penyemprotan obat anti nyamuk (insektisida) kimia.

basmi nyamuk
Mengendalikan Ae. aegypti berarti mengendalikan penyebaran penyakit DBD.
Cara lain yang telah diupayakan pemerintah adalah dengan melakukan kampanye 3 M: Menguras, Menutup, dan Mengubur. Cara ini dilakukan untuk meminimalisir tempat-tempat yang biasa dijadikan sarang nyamuk Ae. aegypti.
Cara pengasapan dengan obat nyamuk kimia, memang cara yang paling cepat dan sangat ‘cespleng’. Nyamuk akan segera mati. Namun, cara ini juga memiliki banyak kekurangan. Obat nyamuk tidak hanya membunuh nyamuk, tetapi juga serangga-serangga lain yang berguna. Lebih bahaya lagi, pestisida ini juga bisa meracuni manusia. Pengasapan yang berulang-ulang juga bisa menimbulkan resistensi pada nyamuk. Nyamuk menjadi kebal dan membutuhkan dosis atau obat lain yang lebih kuat.
Cara pengendalian yang lebih ramah lingkungan adalah cara pengendalian dengan agensia hayati. Nyamuk ini memiliki banyak musuh alami yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hayati, misalnya: predator, parasit, atau mikrobia. Cara pengendalian hayati lebih ramah lingkungan, karena spesifik, tidak mengenai serangga non target, dan tidak mencemari lingkungan. Kelamahannya adalah cara ini membutuhkan waktu yang relatif lebih lama daripada cara kimia.

Mengengal Nyamuk Ae. aegypti

Mengenali nyamum Ae. aegypti sangat mudah. Beberapa ciri khusus untuk mengenali nyamuk ini antara lain dari pola hitam putih di tubuhnya, sepeti di kaki dan diperutnya. Perhatikan gambar di bawah ini.

aedes-aegypti-mosquito.jpg
Tetapi perlu hati-hati, tidak semua nyamuk yang belang-belang adalah nyamuk Ae. aegypti. Masih ada beberapa ciri khusus lagi yang membedakkannya dengan nyamuk jenis lain. Perhatikan pola di punggungnya. Ae. aegypti memiliki dua garis putih di tengah dan di sisinya ada dua garis melengkung. Perhatikan baik-baik di bagian punggung nyamuk ini.

aedes-aegypti-mosquito2.jpg
Kalau gambar skemanya seperti gambar di bawah ini. Perhatikan kembali di bagian kepalanya.

p010ab.gif
Cara nunggingnya pun bisa digunakan untuk membedakan nyamuk ini dengan jenis nyamuk yang lain. Perhatikan kembali gambar skema di bawah ini.

aedes.gif
Gambar skema nyamuk Ae. aegypti tampak atas dan tampak samping.
Kalau diperhatikan lebih jauh lagi ada perbedaan penting pada bentuk larva Ae. aegypti. Larva nyamuk, kita sering menyebutnya jentik nyamuk, memiliki bentuk khusus pada sipon-nya. Sipon adalah alat pernafasan larva yang letaknya di bagian ekor. Perhatikan gambar di bawah ini. Sipon jentik Ae. aegypti berukuran sedang dibandingkan dengan sipon jenis lain.

various_larvae.jpg
Pupa larva ini juga sangat khas. Pupa Ae. aegypti berbeda dengan pupa serangga lain. Kalau kupu-kupu biasanya bertapa ketika menjadi pupa, nyamuk justru aktif ke sana ke mari ketika berbentuk pupa. Punya nyamuk seperti gambar di bawah ini.

aedes_aegypti_pupa.jpg
Sedangkan siklus hidup nyamuk ini seperti gambar di bawah ini. Nyamuk Ae. aegypti bertelur di air. Pertama nyamuk bertelur, telur menetas menjadi larva instar ke-1, instar ke-2, instar ke-3, instar ke-4, pupa, dan akhirnya menjelma menjadi nyamuk dewasa.

Asian Tiger Mosquito.jpg

11882LifeCycleMosquito-Final.JPG
Siklus hidup Ae. aegypti
Jadi kalau bertemu dengan nyamuk dengan ciri-ciri seperti di atas, berhati-hatilah, karena dia adalah vektor DBD. Apalagi jika ada tetangga anda yang terserang DBD.

Bt. thuringiensis, Musuh alami Ae. aegypti

Salah satu musuh alami Nyamuk adalah bakteri Bacillus thuringiensis atau sering disingkat Bt. Bt dikenal sebagai bakteri yang menghasilkan racun serangga. Kurang lebih sudah 67 subspesies Bt yang telah didiskripsikan dan toksis pada larva berbagai jenis serangga, seperti: lepidoptera, diptera, coleoptera, dan nematoda.
Bt memiliki ciri-ciri yang khas, seperti: koloni berwarna putih krem pada media padat, berbentuk sirkuler, elevasi berbentuk flat, dan pingiran koloni agak undulata dan transculent. Sel Bt berbentuk batang, berdinding sel tipis, menghasilkan endospora dan kristal protein.

sel_bt.jpg

bt2.jpg
Kenampakan sel Bt di bawah mikroskop.
Bt menempuh dua fase dalam kehidupannya, yaitu fase germinasi dan fase sporulasi. Fase germinasi adalah fase pertumbuhan. Fase ini terjadi ketika Bt hidup di tempat yang kaya dengan bahan makanan. Bt akan tumbuh dan memperbanyak diri dengan membelah diri. Fase sporulasi dimulai apabila sumber makanan di lingkungannya menipis atau habis, atau adanya tekanan pada kondisi lingkungannya, seperti kekeringan atau suhu yang tinggi. Pada kondisi ini Bt akan membentuk endospora. Endospora Bt mampu bertahan hidup pada kondisi kekeringan, suhu tinggi, maupun adanya pelarut organik. Spora akan mengalami fase germinasi kembali apabila kondisi lingkungannya membaik dan kaya akan bahan makanan.
Kristal protein yang toksik pada serangga dibentuk pada fase sporulasi ini. bipyramidal (jajaran genjang), sphaerical (bulat), rectanguler (persegi panjang) dan cuboidal (kubus). B. thuringiensis bersifat gram positif, aerobik fakultatif, dan mesophilik. Kristal protein dan endospora dilepaskan melalui mekanisme lisis sel.

kristal_protein.jpg
Sel Bt yang sedang membentuk spora dan kristal protein.
B. thuringiensis mempunyai 4 macam toksin yaitu : (1) α-eksotoksin (toumanoff factor, mouse factor atau thermosensitive exotoksin); (2) β-eksotoksin disebut juga thuringiensin atau Fly faktor; (3) kristal protein (δ-endotoksin, badan inklusi, badan parasporal, inclusi kristal); dan (4) louse faktor. α-eksotoksin adalah toksin yang larut dalam air, tidak stabil terhadap pemanasan, toksik terhadap serangga. β-eksotoksin adalah toksin yang dapat larut dalam air, stabil terhadap panas, merupakan nukleotida yang tersusun oleh adenine, glukosa dan asam allaric, β-eksotoksin dalam aksinya berkompetisi dengan ATP menghambat kerja enzim polymerase RNA. Sintesis RNA merupakan proses vital dalam semua kehidupan, maka toksisitas β-eksotoksin terjadi hampir semua bentuk kehidupan termasuk sejumlah spesies serangga dari ordo Coleoptera, Diptera dan Lepidoptera. Kristal protein merupakan glikoprotein yang tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam media alkali atau enzim-enzim tertentu. Kristal protein mempunyai aktivitas insektisida spesifik yang dikode oleh gena cry.
Kristal protein yang dihasilkan Bt merupakan protoksin, toksin yang sesungguhnya timbul setelah adanya proteolisis di dalam saluran pencernaan serangga. Kristal yang masuk ke saluran pencernaan serangga yang rentan terhadap toksin, akan berubah menjadi aktif setelah melalui serangkaian proses, yaitu:
a.Kristal protein Bt masuk ke dalam saluran pencernaan larva serangga
b.Di usus tengah serangga yang bersifat sangat basa, kristal protein akan larut menjadi bentuk protoksin
c.Protoksin terurai oleh kerja enzim-enzim protease dalam usus tengah serangga menjadi fragmen-fragmen yang lebih beracun.
d.Fragmen-fragmen beracun tersebut berikatan pada reseptor khusus, yaitu cadherin dan aminopeptidase, yang terdapat pada membran sel-sel epithel usus tengah.
e.Ikatan reseptor-fragmen beracun menyebabkan kebocoran pada epithelium usus tengah, sehingga permeabilitas sel-sel terganggu dan mengganggu pengangkutan ion Na+ dan K+.
Setelah sel-sel dinding usus tengah lisis, bakteri-bakteri yang ada di usus tengah akan masuk ke dalam rongga tubuh dan menggunakan haemolimfe serangga sebagai media pertumbuhan, yang menyebabkan septisemia (keracunan haemolimfe oleh bakteri), setelah 2-3 hari serangga inang mati. Ada dua pendapat tentang peranan Bt di dalam terjadinya septisemia. Pendapat pertama, septisemia disebabkan oleh Bt dan bakteri-bakteri yang ada di usus tengah. Pendapat kedua, B. thuringiensis tidak berperan di dalam terjadinya septisemia, tetapi septisemia disebabkan oleh bakteri usus tengah seperti Enterobacter sp dan E. coli.

Membuat Bioinsektisida untuk Ae. aegypti dengan Bt

Kemampuan Bt untuk membunuh larva nyamuk Ae. aegypti sudah tidak diragukan lagi. Hebatnya lagi, Bt ini sangat spesifik, dia hanya membunuh larva Ae. aegypti. Larva nyamuk lain bahkan serangga lain tidak terkena sarangan racun Bt ini. Kemampuan Bt ini dapat dimanfaatkan untuk membuat bioinsektisida yang ramah lingkungan untuk mengendalikan nyamuk Ae. aegypti.
Bt relatif mudah dikembangbiakan atau diproduksi secara masal. Dengan teknologi yang sederhana dan bahan-bahan yang relatif murah. Bioinsektisida bisa dibuat dengan bahan aktif sel Bt, endospora, atau ekstrak kristal proteinnya.
Bioinsektisida ini disebarkan di tempat-tempat habitat nyamuk Ae. aegypti dan wilayah-wilayah yang endemik DBD. Memang pengaruhnya tidak secepat insektisida kimia. Namun demikian, cara ini bisa dijadikan langkah preventif dalam mengendalikan wabah penyakit DBD dengan cara yang ramah lingkungan.

About these ads

9 responses to “CARA LEBIH ARIF MENANGANI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

  1. Bpk Muhamad yth,
    Saya adlh ibu2 anggota PKK di kota Depok yang kebetulan latar blkgnya medis sehg ditunjuk sebagai koordinator jumantik (juru pemantau jentik). Saya ingin punya file foto pupa atau jentik nyamuk tapi yang tampak tanpa mikroskop/pembesaran sehingga dapat dengan mudah diingat ibu2 kader jumantik lainnya ketika saya berikan pelatihan bagaimana mengenali jentik nyamuk. Kira2 apa Bapak bisa memberi petunjuk dimana saya bisa mendapatkan gambar tersebut? (buku, website, dll)
    Makasih banyak Pak…

    • Silahkan saja ambil yang diblog ini, Bu Dian. Kalau foto-foto bisa cari dengan Google>Picture atau Google>Gambar dengan katan kunci Aedes aegepty pupa larvae mosquito tiger dengue.

  2. Mas Isroi yang baik,
    Saya adalah konsultan untuk komunikasi perubahan perilaku, saya tertarik untuk belajar dari mas Memet tentang DBD. Apa bisa saya dapatkan alamat email beliau?

    Salam hangat,

    Teguh Budiono
    sayasetujusekaliberbagitakpernahrugi

  3. Ariyanti Naissaiss

    wah..blog ini sangad membantu buad cr pustaka saia..thanks infony gan… :)

  4. Yudhie Adhesmoro

    Saya berbulan-bulan sedang melakukan riset pribadi tentang budidaya jentik-jentik nyamuk untuk sumber pakan ikan hias. Setelah melihat ini saya yakin ada seseorang yang lebih ahli daripada saya mengenai jentik-jentik nyamuk. Saya ingin share dengan mas, bagaimana supaya mengundang nyamuk supaya mau bertelor di tempat-tempat air saya. Parameter apa saja persyaratan supaya nyamuk mau bertelor di situ ?

    • Bisa ditanyakan langsung ke Pak Muhamat, katanya cuma naruh air leri (cucian beras) di kebun yang banyak nyamuknya. Dalam beberapa hari sudah banyak nyamuk yang bertelur di situ.

  5. PAK, saya Qudsi, saat menulis comment ini saya masih menjabat sebagai mahasiswi biologi, yang ingin saya tanyakan adalah
    1. dimana kita dapat menemukan sumber pustaka mengenai “kunci identifikasi larva nyamuk”?
    2. kira – kira kalau kita menaruh limbah industri tahu di tempat yang banyak nyamuknya kita dapat nyamuk jenis apa?
    terimakasih sebelumnya pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s