-
Yang Kesasar
- 2,878,461 hits
Cari di sini
- Buku Tamu
Silahkan isi buku tamu, agar saya tahu Anda pernah berkunjung. Klik di sini, atau Follow @Isroi Be My Friend on Facebook
Follow me on Twitter
- Girl with face painting 2 wp.me/p1R846-ec 1 week ago
- Girl with face painting 1 wp.me/p1R846-e9 1 week ago
- Two girls with face painting wp.me/p1R846-e6 1 week ago
Category Cloud
Biodecomposer Bioethanol Biofertilizer Biofuel Download Fotografi Göteborg Jamur Jerami Kompos Komputer Kuliner Lignoselulosa Limbah Perkebunan Literatur MS PowerPoint MyBooks MyFamily MyPoems MyResearch OpenOffice Organik Pestisida Nabati PROMI Pupuk Pupuk Organik Cair Pupuk Organik Granul Sampah Tikus Uncategorized-
Recent Posts
Kategori
Archives
Pustaka
- ASM
- Bank Pengetahuan Padi
- Bioresources
- Biotechnology for biofuel
- Canadian Journal of Microbiology
- Cari PDF
- Cellulosic Ethanol
- DocStroc
- Elseiver
- Fermentasi
- Fermentasi 2
- Gudang Ebooks
- Japan Society for bioscience
- JBC
- Journal Biological Chemistry
- Kelapa Sawit
- Lignin by Lundquist
- MDPI
- Mycologia
- National Agricultural Library
- NCBI
- Proquest
- PubMed
- Pustaka Biofuel
- Pustaka Gratis
- Science Direct
- springerlink
- Teori Distilasi
- USDA Library
Jamur
Gulai Kepala Salmon

Masih segar dalam ingatan saya waktu makan di RM Padang Pagi Sore di Palembang. Salah satu menu favorit saya adalah gulai kepala kakap. Satu piring berisi satu kepala, sudah cukup memenuhi isi perut. Meskipun hanya bagian kepala, tapi dagingnya banyak sekali. Makannya pun mesti sabar dan pakai tangan, ‘sendok alami’ karunia Allah.
Nah, di Göteborg tidak ada yang namanya ikan kakap. Memang sih di sini dekat laut dan banyak yang jual ikan, namun harganya itu ….minta amphyunnn….. Salah satu makanan ikan yang mewah adalah ikan Salmon. Dagingnya yang merah segar rasanya nikmat sekali. Ikan salmon di makan mentah tanpa di masak. Dagingya dipotong tipis-tipis. Daging salmon biasa dimakan dengan kentang, menu tambahan baquete, atau susi.
Indahnya Persahabatan Manusia dengan Alam di Danau Hitam
Kalau manusia mau bersahabat dengan alam, maka alam pun akan bersahabat dengan manusia. Itulah yang tercermin dari harmoni kehidupan di Danau Hitam.
Namanya Svartemossen, kalau diterjermahkan artinya Danau Hitam. Danau ini letaknya tidak jauh dari apartemen kami di Biskopgarden, Göteborg, Swedia. Hanya lima menit jalan kaki. Ukurannya tidak begitu besar, panjangnya hanya sekitar lima kali panjang lapangan bola dan lebarnya dua atau tiga kali lebar lapangan bola. Danau ini dinamakan danau hitam karena warna airnya yang kehitaman. Di danau ini tumbuh ganggang yang berwarna kehitaman.
This slideshow requires JavaScript.
Tempat Tinggal Ribuan Burung
Meskipun ukurannya kecil dan berada di tengah pemukiman, danau ini menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk ribuan burung. Mereka hidup dan berkembang biak dengan tenang. Tidak ada orang yang mengusik kehidupannya. Bahkan penduduk yang tinggal di sekitar danau menyayangi dan merawat mereka. Mereka bisa hidup berdampingan dengan damai.

Ada banyak jenis burung yang tinggal di danau Hitam. Ada yang tinggal menetap sepanjang musim, dan ada juga yang hanya tinggal di musim-musim tertentu. Burung yaang tinggal sepanjang musim adalah burung merpati, beberapa jenis angsa, beberapa jenis bebek, beberapa jenis burung pipit, burung camar, burung gereja, dan burung-burung kecil lainnya. Burung-burung yang tinggal pada musim-musim tertentu adalah burung camar dan burung gagak.
Burung-burung yang tinggal di danau jinak-jinak dan tidak takut dengan manusia. Seringkali burung-burung itu terbang dan mencari makan di sekitar apartemen, atau balkon. Ada beberapa burung merpati yang jadi langganan balkon kami. Setiap pagi mereka selalu datang ‘meminta jatah’ makan. Biasanya kami beri makan dengan biji-bijian yang kami beli di supermarket atau serpihan roti sisa makanan.
Continue reading
Tagged alam, Biskopgarden, blackberry, blackcurren, blueberry, burung, danau, Göteborg, kelestarian, Svartemosse, Swedia
Portrait Photography by Loreta Lux
Portrait photography mungkin salah satu objek fotofrafi yang banyak digemari. Selalu ada yang menarik dan menantang ketika memotret wajah orang. Ada karakter yang terpancar dari setiap wajah yang dipotret. Ada pesan di balik raut mukanya. Photographer-photographer besar juga banyak mengambil foto portrait (potret). Seperti sang maestro Henri Cartier-Bersson (HBC). Banyak potret yang dibuat oleh HBC, banyak diantaranya yang jadi iconik. Atau foto Mother Migran-nya Dorothea Lange yang legendaris. Atau fotonya Afgan Girl (Sharbat Gula) oleh Steve McCurry. Sorot mata Sharbat Gula menceritakan kepedihan dan kemarahan. Kadang-kadang saya juga memotret foto teman-teman atau orang di sekitar saya, bisa dilihat di link ini: Portrait of My Colleagues atau di album FB saya: Portrait.
![]()
Erza Pound, Henri Cartier-Bresson

Mother Migran, Dorothea Lange

Afgan Girl (Sharbat Gula) by Steve McCurry.
Namun, kalau menikmati potreat yang dibuat oleh Loretta Lux terasa beda dengan potreat-potret klasik. Loretta Lux salah satu fotografer komteporer yang mengkhususkan diri memotreat Portrait Photo. Potret-potret Loretta Lux seperti potret dari dunia mimpi. Wajah anak-anak yang polos, warna-warna yang lembut, dan ada bayangan seperti dari dunia imajinasi. Wajah-wajah itu terlihat polos dan membawa kita kembali ke masa-masa kanak-kanak.

Self Portrait, Loretta Lux
Continue reading
Posted in Fotografi
Tagged Afgan Girl, Fotografi, Henry Cartier Bersson, Loretta Lux, photographer, photography, portrait, potret, Sharbat Gula, Steve McCurry
Jam Karet Cap Indonesia Raya
Rasanya stigma jam karet sudah lekat erat dengan orang Indonesia Raya. Budaya jam karet alias waktu yang moloooorrrr sudah menjadi hal lumrah dan dipermaklumi secara nasional. Bahkan orang luar pun juga tahu kalau orang Indonesia Raya suka mengolooor-oloooorrrrr waktu.
Misalkan saja ada undangan, tertulis di suratnya, mulai jam 15:30 teng. Hampir pasti bisa diprediksikan kalau mulainya sekitar satu jam setelahnya, atau bahkan bisa lebih lama lagi. Bagaimana bisa dimulai ‘on time’ kalau pesertanya saja baru mulai bermunculan setelah jarum jam panjang menunjuk angka 11 dan jarum pendek menunjuk angka 3. Munculnya juga satu-satu dengan selang waktu 10an menit. Ampyuuuunnn deh….!!!!
Entah memang karena ada halangan, hambatan, atau memang sengaja ‘nelat’ yang membuat orang Indonesia Raya tidak bisa ‘on time’. Rata-rata dalam benak mereka terbersit pikiran ‘ah…pasti mulainya juga telat’. Jadi jauh dalam pikiran bawah sadar telah terjadi kesepakatan untuk menelatkan diri secara berjama’ah.
Continue reading
[Foto:Dokumentasi Pribadi]




