Tag Archives: Göteborg

Belajar dari Swedia: Memilah-Milah Sampah Sejak Dari Awal

This slideshow requires JavaScript.

Seperti yang pernah saya tulis di posting sebelumnya (Masalah sampah dan solusinya 1 2 3 4), sortasi adalah salah satu kerjaan yang banyak makan biaya jika tidak dilakukan sejak dari awal. Di Swedia, memilah sampah sudah dilakukan sejak pertama kali sampah dibuang.
Slogan 3R (Reuse, Recycle, Reduce) melibatkan proses sortasi atau memilah-milah sampah. Sampah mana yang bisa digunakan kembali (Reuse) dan mana yang bisa didaur ulang lagi (Recycle). Untuk daur ulang juga perlu dikelompokkan dan dipisahkan. Sampah plastik dikumpulkan dengan plastik, kaleng dengan kaleng, kaca/glass dengan gelas, dan kertas dengan kertas. Sampah-sampah organik juga dikelompokkan dengan sampah organik agar bisa diolah menjadi biogas atau kompos.
Kalau semua jenis sampah tercampur aduk seperti di negara kita Indonesia Raya. Proses sortasi rasanya zulit dilakukan dan akan banyak makan biaya. Saya lihat sendiri beberapa proyek sortasi sampah yang gagal di beberapa TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah.
Continue reading

Pantun Rasa Buah

Buah pisang, di atas tangga.
Sekarang apa dong, acaranya.

Berlayar naik kapal, sambil makan buah mangga.
Silahkan Cik Fisal, dibaca pantun pembuka.

Buah kedondong, baru buah maja.
Senyum dulu dong, baru dibaca.

Buah mangga petik, manis rasanya.
Neng Iin cantik, punya bang Reza.

Buah kenari, tidak berduri.
Sudah jadi suami istri, jangan lirik kanan kiri.

Buah kelapa masak ditandan,
dibuat santan masak kari.
Cincin sudah malingkar ditangan,
tanda janji sehidup semati.

Buah bluberry, dari göteborg (baca: yotebori),
jauh2 datang kemari, ntuk hidup bersama si jantung hati.

Rasanya manis bukan kepalang,
buah durian dari medan.
Kalau bang reza datang pulang,
siapkan tempat rebahkan badan

Buah pisang kuning warnanya,
kalau merah buah pepaya.
sayang jangan waktu pacaran saja,
walau sudah kawin tetap dimanja.

Merah-merah buah jambu,
paling enak dimakan pakai madu.
Kalau datang hati merindu,
angkat telepon bilang I love U.

Buah duku, asem rasanya.
Kalau rindu, jangan ditunda.

Buah anggur dari kampung melayu,
Buah nanas dari Indramayu.
Bang Reza buktikan kejantananmu
Kak Ida sudah pingin momong cucu.

Buah manggis nikmat rasanya,
lebih nikmat makan bersama.
Mohon maaf kalau ada salah kata,
kami baru belajar berpantun ria.

[Pantun ini dibaca pada saat pernikahan Reza Tallberg, Göteborg, November 28, 2010]

Posted from WordPress for Android

Di Göteborg, Swedia, Pejalan Kaki adalah Raja

menyeberang jalan rambu lalu lintas
Menyebrang jalan dengan tenang dan mobil-mobil pun menunggu dengan sabar.

Waktu kecil, orang tua saya sering menasehati kita kalau mau menyebrang jalan: ‘Lihat kanan-kiri, kalau sepi baru menyebrang’. Seandainya tidak hati-hati waktu menyeberang, bisa-bisa ditabrak mobil.

Nasehat ini sepertinya tidak berlaku di Göteborg, Sweden. Di sini pejalan kaki seperti raja. Orang-orang hampir selalu menyeberang jalan di tempat yang sudah disediakan; zebra cross. Jarang sekali saya lihat orang menyebrang jalan sembarangan. Kalau kebetulan kita menyeberang jalan di zebra cross yang tidak ada lampu ‘bangjo’-nya, mobil-mobil akan mendahulukan penyebrang jalan. Kita bisa tetap melintas meskipun ada mobil yang akan lewat. Mobil akan berhenti, mendahulukan dan menyilahkan kita melintas, setelah itu mobilnya baru berjalan.

menyeberang jalan rambu lalu lintas
Continue reading

Västraffik: Urat nadi transportasi kota Göteborg

This slideshow requires JavaScript.

Transportasi publik ibarat aliran darah dalam tubuh. Kalau aliran darah lancar jaya, maka tubuh pun akan sehat sentosa. Kalau alirannya tersumbat, apalagi acak-kadul, bisa seperti menir kena jantung koroner.

Göteborg, atau Sverige (bahasa jawanya Swedia) pada umumnya, memiliki trasportasi publik yang tertata sangat apik. Semua sarana trasportasi via darat, laut, dan udara sudah saling terkoneksi dan terintegrasi. Orang bisa pergi dengan mudah dan cepat dari satu tempat ke tempat lain.

Transportasi utama kota ini adalah tram dan bis. Tram adalah kereta listrik pendek dengan dua atau tiga gerbong. Sepanjang jalan utama terlihat dua jalur rel untuk tram. Ada tram yang sudah cukup uzur, sudah tua, terlihat dari bentuknya yang antik. Saya agak heran juga tram ini kok masih bagus mesinnya dan berfungsi dengan baik. Tram yang baru terlihat lebih aerodinamis dengan gerbong yang lebih banyak. Bagian dalam Gerbongnya juga saling terhubung.

tram uzur goteborg sweden
Tram yang sudah cukup uzur, bentuknya sedikit antik

tram uzur goteborg sweden
Tram yang lebih baru, gerbongnya sudah saling terhubung.

tram uzur goteborg sweden
Tram yang paling baru, bentuknya lebih aerodinamis.

Bus digunakan untuk meng-cover transportasi ke wilayah yang berbukit-bukit, berkelok-kelok, atau wilayah lain yang tidak bisa dijangkau tram. Busnya juga dibuat mirip seperti tram, panjang-panjang dan ada yang gandeng. Bus ini kalau menurut saya fungsinya mirip angkot untuk puter-puter kota. Menariknya, bus di sini besar-besar dan panjang-panjang. Panjang satu bus mungkin lebih dari 15 m. Ada lagi bus gandeng. Bus gandeng satu panjangnya sampai 20 m dan yang gandeng 2 sampai 25 meter.

tram uzur goteborg sweden
Dua macam bis, bis biasa yang ukurannya besar dan bis gandeng 3.
Continue reading

Nama Saya Dani Penjol dari Spanyol

dani penjol dari spanyol
Aku, Dani Penjol, Celiene, dan ‘Car’-nya Dani

Di apartemen ini kami lah yang datang pertama. Saya satu kamar dengan Pak Muslikhin. Hari pertama datang badan penat luar biasa setelah menempuh perjalanan lebih dari 18 jam. Pinginnya langsung glosor aja.
Di kamar cuma ada satu tempat tidur ukuran satu orang, untungnya ada kasur tipis extra yang bisa dijadikan alas tidur. Saya pakai kasur itu untuk tepar. Dalam sekejab saya sudah melanglang buana di dunia mimpi.
Sedangkan Pak Mus yang belum bisa tidur, karena mesti menunggu kopernya yang tertinggal di KLM Airlines. Pihak KLM janji sore hari mau mengantar ke apartemen, karena itu Pak Mus tetap menjaga mata tetap terbuka. Menjelang sore bel telepon berbunyi. Pak Mus pikir ini dia orang dari KLM.
“Hello….!!!!” terdengar suara orang dari luar apartemen. Gedung apartemen pintunya terkunci. Hanya penghuni yang punya kuncinya dan bisa masuk gedung. Kalau ada tamu, dia mesti pencet tombol bel semacam interkom. Kalau tuan rumah pencet tombol telepon maka pintu gerbang akan terbuka.
“Hai…Hello..Are Your from the air port?”, tanya Pak Mus.
“Yes…I am from the air port”, jawab orang itu dengan mantap. Lalu tombol telpon dipencet untuk membuka pintu gerbang.
Apartemen kami ada di gedung no. 32 lantai tujuh No. 315. Tak berapa lama terdengar lift berhenti di lantai kami. Pak Mus yang dengan kegirangan – dalam pikirannya kopernya bisa segera kembali – segera membuka pintu apartemen.
Setelah dibuka, berdiri sesosok manusia asing di depan pintu. Kepalanya lonjong penjol dan plontos. Rambutnya mungkin baru tumbuh kurang dari satu mm. Licin kepalanya. Tingginya sekitar 160-an cm. Cukup pendek untuk ukuran orang eropa. Dia membawa koper besar dan tas. Tapi, bukan tasnya Pak Mus.
Dengan wajah penuh ragu, Pak Mus bertanya sekali lagi untuk meyakinkan: “Are You from the air port?”
“Yes…yes…I’m from the airport. You not believe me?”, dia balik bertanya dengan bahasa Inggris yang sedikit kacau.
Wajah Pak Mus semakin ragu, apalagi orangnya tampak tidak meyakinkan. Rupanya orang itu merasa kalau dirinya diragukan.
“I have a key…I have a key…You not bilieve me?” katanya sambil menunjukkan kunci untuk meyakinkan. Lalu dia masuk ke dalam apartemen.
Continue reading

Rinduku

Seuntai Rindu

Malam ini
Bersama sunyi dan sepi
Di  balik diam termanggu
Rindu menyapa
dengan lembut
namun mengena

***

Hal terberat yang aku rasakan ketika berada di Göteborg ini adalah jauh dengan keluarga & orang yang dicintai.  Meskipun saat ini ngobrol bisa dilakukan setiap saat  via Skype (thanks skype), tapi cuma bisa didengar dan dilihat. Tak bisa di pegang, dipeluk atau dicium.
Minggu-minggu awal belum begitu terasa. Komunikasi masih dilakukan dengan cara konvensional: SMS. Saya lupa tidak install Skype di komputer rumah, jadi belum bisa Skype-an. Paling-paling kirim pesan via FB atau YM-an pakai NIMBUZZ. Hanya bisa baca pesan-pesan singkat saja.
Awalnya saya SMS pakai kartu KOMPIZ. Lumayan juga, sekali SMS kena 1-2 SEK. Pulsa disedot habis dalam sekejab. Obat rindu ternyata mahal banget. Lalu, temen merekomendasikan pakai AMIGOS, katanya murah untuk telepon dan SMS ke luar negeri. Jadilah saya beli pulsa AMIGOS di warung PRESSBYRÅN 100 SEK. Memang bener murah sekali, semenit cuma sekitar 1  SEK. Tapi biaya misscall sampai 2 SEK. Pernah susah sekali terhubung, yang menjawab Cik Veronika melulu, tak terasa pulsa 25 SEK pun melayang. Bulan ini biaya pulsaku menembus 500 SEK  (= Rp. 600rb). Obat rindu memang semakin mahal. 
Komunikasi yang murah memang via internet rupanya. Apalagi pakai SKYPE. Masalahnya satu, laptop rumah belum terinstall Skype. Saya minta Ummi Royan – istri tercinta – install Skype saya pandu via NIMBUZZ, tetep aja belum bisa. Saya  pandu pakai AMIGOS. Ngomong sampai ndower bibirku, belum berhasil juga. Lalu coba alternatif lain, minta bantuan saudara untuk mwngistallnya, tetep aja nggak bisa-bisa. Akhirnya laptop rumah diungsikan ke Magelang. Setelah diutak-utik oleh Om Manto baru sukses Skype  terintall. Malam itu pukul 2 WIB (atau pukul 11 malam CEST) aku bisa melihat wajah Om Manto. AKhirnya pikirku….
Hari-hari berikutnya, ngobrol via Skype. Pulsa telepon bisa ditekan lebih rendah. Demi Skype, orang rumah pasang Speedy, tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Hari minggu pagi, saya janjian Online dengan keluarga. Jam 5 pagi, habis sholat subuh laptop sudah dihidupkan. Nunggu video call dari negeri tercinta di seberang benua sana.
Tak begitu lama suara ringging call khas Skype terdengar. Klik Accept video call. Koneksi terasa luuaaambrrraaaatttt…..banget. Loading video tidak muncul-muncul. Setelah nunggu sampai hampir putus asa:
“Abi…………..!!!!!!”, teriak Mas Royan & Dedek Abim bersamaan. Suara itu menerobos masuk ke relung hati.
Saya jadi ingat dulu ketika mereka masih anak-anak.  Royan yang diam, tetapi tak pernah berhenti bergerak. “Anteng Kitiran” kata orang jawa. Dedek Abim yang tangisannya kenceng banget dan klo ngomong seperti radio, sama-sama tak bisa diam.
Tanpa ku sadari mereka sudah besar-besar. Dedek Abim tambah putih dan cakep. Mas Royan wajahnya  semakin ‘cool’ dan tampak lebih besar.
“Abi…, sedang apa? Di sana dingin ya…?” tanya Mas Royan.
Adiknya yang ada disampingnya, sambil bergaya bilang, “Abi…abi…abi….”
Ummi Royan yang ada di belakang mereka hanya senyam senyum saja. Meskipun kadang-kadang nakal, anak-anak tetap menyenangkan.
Hari itu rinduku tertumpah semua.
***
Pernah suatu hari, ketika sedang naik Tram, saya melihat dua anak laki-laki. Sepertinya mereka bersaudara, karena wajahnya mirip. Yang satu duduk diam saja menghadap ke arah luar. Sepertinya dia anak yang lebih besar. Di sampingnya adiknya mengelayut di punggung kakaknya. Sang kakak sepertinya sedang marah dan tidak mau diganggu adiknya. Di usirnya sang adik dengan sikutnya. Sang adik tetap aja menggoda. Dia sentil-sentil kakaknya. Sang kakak tetap mengarahkan pandangannya ke luar, cuek saja.
Sang adik tidak kekurangan akal. Diahadapkan wajahnya ke wajah sang kakak, sambil menyibir: “Weeeekkk…..” (gitulah kira-kira klo orang Indonesia).
Sang kakak tampak semakin kesal. Lalu dia bangkit dan ngeloyor pindah ke depan.   Sang adik mengekor di belakangnya.
Melihat tingkah mereka saya jadi ingat Royan & Ibrahim. Hampir tiap hari mereka bertengkar. Ada aja yang rebutkan. Kadang-kadang mereka bertengkar, kadang-kadang kompak. Pernah suatu hari saya jemput mereka di sekolah, keduanya jalan pulang sambil berangkulan. Kompak banget. Tak jarang kakaknya menggoda adiknya sampai nangis. Atau adiknya merenggek-rengek yang membuat kakaknya kesal.
Umminya yang sudah capek semakin kesal dan marah-marah. Anak-anak seperti sengaja membuat umminya marah.
Saya jadi ingat Royan ketika baru berumur 1 tahun. Sejak kecil Royan tidur denganku, karena umminya ‘nenenin’ Ibrahim. Saya jadi ingat Ibrahim kalau tidur selalu minta ‘dipuk-puk’ punggungnya. Kalau Abim belum tidur tidak boleh berhenti nepuk-nepuk punggungnya. Padahal orang tuanya sudah capek seharian kerja.
Saya jadi teringat kalau saya capek, Mas Royan dan Dedek Abim yang menginjak-injak badan. Badan capek jadi sedikit lebih lega.
Kenangan-kenangan itu menari-nari di dalam pikiranku. Ketika sendiri mau tidur. Atau ketika istirahat di sela-sela mengerjakan tugas. Kenangan itu menoreh-menoreh hati.
Rinduku makin dalam. 

Posted from WordPress for Android

Sepeda Kuning di Hepan Halte Chalmers

sepeda kuning goteborg

Hari kedua setalah menghirup segarnya udara Göteborg, kami langsung ke kampus-Chalmers University of Technology. Beruntung saya dapat apartemen di Västra Frölunda. Persis di samping halte tram Frölunda torg (bacanya: frolunda tori). Kalau mau ke kampus tinggal turun, lalu naik Tram No. 7 atau No. 8. Sekali jalan, kira-kira 25-30 menit sudah sampai di depan halte Chalmers.

Saya naik tram di gerbong belakang, jadi turunnya dekat ujung halte. Waktu saya turun, sekilas saya lihat ada sepeda di parkir di ujung dekat pagar, sepeda warna kuning.

Sepeda merupakan salah satu sarana transpotasi yang digemari Göteborg. Meskipun sarana transportasi publik sangat bagus di Göteborg, sepeda banyak pengemarnya. Salah satu alasannya adalah untuk olah raga. Sepeda memaksa mereka melakukan gerakan otot yang membuat tubuh mereka jadi sehat.  Prof Anders, salah satu dosen di kemi setiap hari selalu naik sepeda dari rumahnya yang jaraknya sekitar 5 km.

Alasan lain adalah karena sepeda lebih ramah lingkungan. Orang Swedia sangan memperhatikan enviroment suistainability . Dengan menggunakan sepeda, berarti membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Karena alasan ini pemerintah kota Göteborg juga menyediakan penyewaan sepeda di sekitar kota.

Continue reading

Mengaspal Jalan: Cepat & Rapi

aspal jalan goteborg
Empat orang petugas sedang memperbaiki jalan Gilbaltargatan.

Daya penciuman Aziz ternyata sangat tajam, mungkin lebih tajam dari anjing anggota Brimop atau aparat bea cukai (sorry…Ziz…).  Dia mencium bau aspal di departemen Kemi. Padahal tidak ada yang kerja dengan aspal di lantai ini.

Saya baru tahu kalau ada petugas yang sedang memperbaiki jalan setelah keluar untuk mencari makan siang. Di jalan Gibaltargatan yang jaraknya sekitar 10 menit jalan dari departemen Kemi. Ada empat orang petugas yang sedang memperbaiki jalan. Lebar jalan yang diperbaiki kira-kira 5 m x 15 m. Saya tidak tahu pasti. Waktu kami lewat mereka baru mengaspal sebagian ujung jalan.

Mereka mengerjakannya dengan menggunakan ‘slender kecil’, pengeras jalan manual, dan truk aspal yang digerakkan dengan remot.  Sambil jalan saya perhatikan mereka kerja. Kerja mereka rapi dan cermat.

aspal jalan goteborg
Continue reading

Var så god och ta

varsagod“Var så god och ta” kalau diindonesiakan artinya kurang lebih ‘Silahkan diambil’. Tulisan itu tertera di karpet yang ditinggal pemiliknya di dalam lift apartemen. Barang itu sudah tidak dipakai oleh pemiliknya, dan ditinggalkan untuk dipakai siapa saja yang mau memakainya. Jangan dibayangkan kalau barang ditinggal ini sudah rusak atau jelek atau ‘layak buang’. Barangnya masih bagus. Masih sangat layak dipakai, cuma kelihatan agak kotor, dan seringkali belum ada cacatnya.

varsagodOrang Swedia memiliki kebiasaan yang baik untuk barang-barang yang sudah tidak mereka perlukan lagi tetapi masih bagus dan bisa dimanfaatkan. Orang Swedia meletakkan barang tersebut di tempat umum dan menyilahkan siapa saja yang mau untuk mengambilnya. Pernah saya lihat di depan kamar apartemen tergeletak sebuah monitor 19″ & keyboard. Di dekatnya ada tulisan ‘ FOR FREE, PLEASE TAKE ANYTHING YOU NEED’. Kata temen sudah beberapa hari ada di tempat itu & belum ada yang mengambilnya.

Di kampus, di ujung koridor ada yang meletakkan file box di dalam kardus besar. Ada beberapa filebox. Di situ tertulis ‘Please, take me if you want’. Harga filebox baru lumayan mahal untuk ukuran Indonesia, harganya bisa 30-40 kron atau hampir Rp. 50 ribuan. Orang yang meletakkan barang ini mungkin mahasiswa yang sudah lulus dan tidak membutuhkannya lagi. Pernah juga saya lihat di depan sebuah rumah, ada sebuah TV besar, ukurannya saya rasa > 21″. Mungkin pemiliknya sudah punya TV baru dan TV lamanya diberikan ke orang lain.

Barang-barang yang “dibuang” ini tidak hanya itu saja. Meubeler, almari, kursi dll pun sering dijumpai. Di setiap apartemen ada tempat khusus untuk menaruh meja, kursi, atau barang-barang yang ukurannya cukup besar. Setiap orang boleh mengambil & memanfaatkan barang-barang yang diletakkan di tempat itu. Temen saya beuntung mendapatkan kursi belajar/kerja yang masih bagus dan sebuah lampu hias rumah.

Continue reading