Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada Tanaman


Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Itu kesimpulan sementara yang saya peroleh dari beberapa hasil percobaan yang kami lakukan.

Kami memiliki beberapa koleksi fungi unggul. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. T. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan, antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Selain daripada itu T. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut.

Ujicoba Awal pada Jagung

Kami mencoba untuk melihat pengaruh inokulasi kedua isolat ini pada tanaman. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak, kab. Bogor. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam, kandungan bahan organik rendah, dan kapasitas tukar kationnya rendah. Tanah ini terkenal sangat miskin, tanaman apapun yang ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup.

Perlakuan yang kami cobakan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali, (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia, (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang), dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba.

Hasil percobaan ini seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

percobaanaspergillus
Keterangan:
K = kontrol tanpa pemupukan
S = pemupukan standard
A = pemupukan dengan Posmanik + Urea
B = seperti perlakuan A + inokulum T. harzianum dan Aspergillus sp.

Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung.

Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Namun demikian, pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal, terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal.

Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal.

Perlakuan keempat dengan menambahkan T. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain.

Ujicoba Awal pada Tebu

Di samping percobaan tersebut saya juga mencoba mengaplikasikkannya pada tanaman tebu. Ini juga ujicoba saja. Tanah dan bibit saya peroleh dari PG Subang, Jawa Barat. Percobaan yang dilakukan masih sama seperti pada tanaman jagung.

Hasil percobaan ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

percobaan pada tanaman tebu

Keterangan:
K = kontrol tanpa pemupukan
S = pemupukan standard pupuk kimia
P = pemupukan dengan Posmanik + Urea
PR = pemupukan Posmanik + Urea + T. harzianum + Aspergillus sp

Hasil percobaan ini secara umum sama seperti pada percobaan jagung. Perlakuan kontrol juga menunjukkan pertumbuhan tanaman yang terhambat, malas tumbuh.

Pada perlakuan ke dua menunjukkan pertumbuhan yang baik. Dosis pupuk yang kami gunakan adalah dosis anjuran kebun PG Subang. Tebu tampak tumbuh dengan baik.

Perlakuan ketiga yang menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa pertumbuhan tanaman tebu yang diberi Posmanik lebih rendah daripada pemupukan standard, meskipun sudah diberi tambahan urea. Saya menduga bahwa Posmanik belum dapat menambah bahan organik tanah dan hara secara cukup ke tanaman. Selain itu Posmanik dibuat dari bahan organik yang masih mentah, mungkin memerlukan waktu untuk terdekomposisi dan menjadi tersedia bagi tanaman.

Perlakuan keempat menunjukkan bahwa penambahan mikroba (T. harzianum dan Aspergillus sp) dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman tebu seperti pemupukan standar.

Percobaan Rumah Kaca dengan Jagung

Dari hasil dua percobaan di atas selanjutnya dilakukan percobaan yang lebih terarah di rumah kaca dengan menggunakan tanaman jagung. Kami melakukan sedikit modifikasi pada perlakuan yang dicobakan. Kami tidak lagi menggunakan Posmanik, tetapi menggunakan kompos dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Tanah yang digunakan masih tanah Cikopomayak yang terkenal marginal. Perlakuan yang dicobakan antara lain adalah sebagai berikut: (1) kontrol tanpa pemupukan, (2) inokulasi mikroba (T. harzianum + Aspergillus sp), (3) penambahan kompops, (4) pemupukan kompos dan mikroba (T. harzianum + Aspergillus sp).

Hasil percobaan seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

percobaan pada jagung di rumah kaca 1percobaan pada jagung di rumah kaca 1percobaan pada jagung di rumah kaca 1percobaan pada jagung di rumah kaca 1

Keterangan:
A = kontrol tanpa pemupukan
B = inokulum mikroba tanpa kompos
C = kompos
D = kompos + mikroba

Hasilnya secara umum sebagai berikut. Penambahan kompos dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti yang terlihat pada perlakuan C. Sedangkan penambahan mikroba saja belum cukup untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman (perlakuan B). Hasil ini juga mendukung hipotesa bahwa aktivitas mikroba tanah dipengaruhi oleh kandungan bahan organik tanah. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat miskin kandungan bahan organik, mikroba tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah ini. Tetapi apabila dilakukan pemupukan kompos + mikroba memberikan hasil yang paling baik daripada semua perlakuan yang lain (D). Hasil ini juga mendukung hipotesis di atas.

Percobaan pada Pembibitan Sawit

Percobaan ini sebenarnya adalah kegiatan RUK 2005. Intinya masih sama seperti pada percobaan-percobaan sebelumnya yaitu inokulasi mikroba dan penambahan kompos TKKS. Saya sampaikan sebagian hasil dari percobaan tersebut.

Perhatikan gambar di bawah ini.

percobaan pada bibit sawit 1

Gambar sebelah kiri adalah bibit sawit yang ditanam tanpa pemberian kompos maupuan mikroba dan gambar sebelah kanan adalah bibit sawit yang diberi kompos namun tidak diberi mikroba. Terlihat bahwa bibit sawit yang diberi kompos tumbuh lebih baik daripada bibit sawit yang tidak diberi kompos. Sekali lagi ini membuktikan hipotesa akan peranan penting bahan organik (kompos) untuk pertumbuhan tanaman.

percobaan pada bibit sawit 2

Gambar sebelah kiri adalah bibit sawit yang diberi kompos dan gambar kanan adalah bibit sawit yang diberi kompos plus mikroba. Sangat berbeda sekali pertumbuhan bibit sawit yang diberi kompos + mikroba dengan perlakuan-perlakuan yang lain.

Hasil percobaan ini semakin memperkuat keyakinan akan arti penting mikroba dan bahan organik untuk pertumbuan tanaman.

Percobaan pada Tanaman Jati

Percobaan lain yang kami lakukan adalah percobaan pada tanaman jati. Percobaan ini dilakukan di salah satu kebun di Sumatera Selatan. Kondisi lahan juga cukup memprihatinkan, karena lahan ini adalah lahan marginal. Percobaan ini lebih fokus daripada percobaan sebelumnya. Kami tidak lagi menguji apakah kompos dan mikroba dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, karena kami sudah sangat yakin dengan percobaan-percobaan sebelumnya. Kami lebih fokus pada berapa dosis yang diperlukan untuk tanaman jati.

Percobaan dilakukan dengan percobaan faktorial (2 faktor) dengan tiga ulangan. Setiap unit perlakuan terdiri dari 20 tanaman jati. Faktor yang dicobakan adalah (1) dosis pupuk kimia dan (2) dosis kompos yang sudah diperkaya dengan mikroba. Dosis pupuk kimia kami cobakan dua taraf faktor, yaitu K100 = dosis pupuk kimia 100% dosis anjuran dan K50 = dosis pupuk kimia 50% dari dosis anjuran. Sedangkan dosis kompos yang dicobakan adalah B0 = tanpa kompos, B30 = 30 kg kompos/pohon, B60 = 60 kg/pohon, dan B90 = 90 kg/pohon.

Perhatikan gambar-gambar di bawah ini:

percobaan pada jati K100B0percobaan pada bibit K100B30
percobaan pada bibit K100B60percobaan pada bibit K100B90

percobaan pada bibit K50B0percobaan pada bibit K50B30
percobaan pada bibit K50B60percobaan pada bibit K50B90

Hasilnya memperkuan hipotesis bahwa bahan organik dan mikroba memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan tanaman di tanah-tanah marginal.
Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa pemberian 50% dosis pupuk kimia dan kompos jauh lebih baik daripada pemberian pupuk kimia saja.

Percobaan pada TBM Sawit

Selain di tanaman jati, kami juga mencoba pemberian kompos yang diperkaya mikroba pada TBM Sawit.

percobaan pada TBM sawit 1

percobaan pada TBM sawit 2

[isroi]


Download literatur gratis: Download di sini | Recomended site: Gudang Ebook Gratis

donwload ebook gratis microbiology

52 responses to “Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada Tanaman

  1. Hasil penelitian ini bapak publikasikan di majalah/jurnal mana? Bolehkah saya menjadikannya sbg bahan rujukan/pustaka di skripsi? Trmksh

  2. Hasil penelitian ini belum dipublikasikan di jurnal ilmiah. Maaf.

  3. pak, untuk pemupukan jati bisa minta komposisi detailnya?
    terima kasih

  4. mengenai tbm sawit lebih dijelaskan secara rincio

  5. Dear moderator,
    Bisa kita dikirimkan rinciannya. serta cara mendapatkannya.
    please reply to my email: sabaruddin@tf-fpm.com

  6. Bisa kita dikirimkan rincian lengkapnya, serta cara mendapatkannya.
    Please reply to : sabaruddin@tf-fpm.com

  7. pak, bisa dijelaskan lbh rinci proses fisiologinya, kenapa dg pemberian Tricho ini bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman

  8. Bagus mas, tulisan Anda ini sangat-sangat lebih jelas dan menarik sekali dibanding tulisan lain tentang trichoderma yang pernah saya baca. Sayang nya, malah sama-sama bikin saya bingung karena tidak menyinggung sedikitpun tentang dimana saya bisa mendapatkan Trichoderma harzianum atau pun Aspergillus sp, dalam sediaan seperti apa untuk siap diaplikasikan dan bagaimana cara mengaplikasikannya (ditabur, dioles ke semua bagian akar, dicampur air lalu dikocor di atas tanah, atau bagaimana). Bisa tolong infokan, mas? Saya yakin tambahan info itu sangat berguna bagi peminat upaya-upaya pengendalian hayati. Terimakasih banyak atas bantuannya.

    Salam

  9. Setelah “blusak-blusuk” di blog ini, waw.. bukan main, saya kagum dan sangat menghargai “upyek”-nya Anda di bidang bioteknologi perkebunan ini. Selamat, mas. Semoga sikap tanpa pamrih Anda mendapat ganjaran yang tak terbatas dari Gusti, satu-satunya sumber ilmu dan kekayaan yang abadi. Amin, amin, amin, ya Rabb..!

    Btw, kabolran, blog Anda ini akan lebih ciamik lagi jika Anda sediakan “tombol” (atau apa istilahnya, saya tidak paham) yang bisa mengantar setiap orang menuju pusat informasi teknis tentang produk2 yang Anda kemukakan dalam berbagai tulisan. Saya sempat baca ada ACTICOMP, ACTICOMP PLUS, SUPERDEC, dan BioSP selain PROMI dan PROMO. Tetapi baru dua yang terakhir saja yang berhasil saya dapatkan. Itu juga dalam tulisan tentang suatu topik. Jika disediakan pusat info yang komprehensif tentang produk-2 itu, tentu akan lebih menarik, melengkapi informasi penting tentang aplikasi dalam berbagai tulisan Anda yang sudah Anda sajikan dengan ungkapan-2 yang mudah dicerna kalangan awam. Maaf jika feedback ini “peanut”, tetapi yang peanut-peanut itu justru nikmat sebagai penghilang penat. Setuju gak mas?

    Sekarang konsul ya mas.
    1. Jika tanaman (lengkeng, durian, albasia, mangga, rambutan) sudah tertanam di kebun (usia 1 s/d 1,5 thn) dan kita ingin melindunginya dari patogen tanah, bisakah PROMI dikocorkan langsung ke tanah? Bagaimana saran aplikasinya?
    2. Lengkeng saya (usia 4 tahun) tiba-tiba mati dengan semua daun mengering tanpa sempat menguning (dan batang saya goyang keras tetapi daun tidak rontok). Kata teman (saya percaya dia cukup paham) itu disebabkan oleh jamur di akar. Sekarang sudah saya buang dengan lubang masih terbuka agar kena sinar matahari. Apa yang musti saya lakukan agar di lokasi tersebut bisa saya tanam lengkeng yang sama lagi?
    3. Sebulan ini saya mencoba memperbanyak trichoderma dan gliocladium (dari sediaan di pasar dgn merk GLIO) di media nasi 3/4 matang. Tetapi tidak di semua kantong tumbuh jamur hijau dan coklat muda.
    – Efektifkah cara perbanyakan ini?
    – Apakah kandungan Promi dapat diperbanyak sendiri dengan efektif?

    Terimakasih dan sukses selalu. Salam

    • Terima kasih saran-sarannya. Memang saya belum banyak menulis tentang hasil-hasil penelitian yang lain, seperti: ActiComp, BioSP, dll. Selain karena memang belum ada waktu, produk-produk itu juga sedang ‘dorman’. Mungkin suatu saat nanti akan saya tulis. Saya hanya menulis apa yang sudah dilakukan dengan hasilnya seperti apa adanya saja. Biarkan pengunjung sendiri yang menilainya.
      Sedikit jawaban dari pertanyaan Anda, semoga bisa membantu:
      1. Jika dalam sejarah kebun itu belum pernah terjadi serangan penyakit tular tanah (jamur yang menyerang akar), mungkin tindakan itu belum diperlukan. Karena kalau pake fungisida kimia, biayanya cukup mahal. Tetapi jika sudah pernah ada kejadian, memang perlu dikendalikan. Pengunaan jamur antagonis bisa membantu, namun salah satu kelemahan jamur ini (dan juga kelebihannya) adalah sangat spesifik. Belum tentu trichoderma yang cocok disawit, cocok juga di rambutan. Tetapi tidak ada salahnya jika akan dicoba.
      2. Penyakit serangan jamur tular tanah mudah dilihat. Coba cek bagian pangkal batang atau akarnya, apakah ada gejala busuk atau ditumbuhi jamur. Jika ya.., berarti matinya tersebut memang karena serangan jamur. Penyakit ini mirip dengan yang menyerang sawit atau karet. Kalau dikaret, tanaman yang diserang segera dicabut sampai akar-akarnya. Akarnya dibakar semua. Di tanahnya dibuat lubang besar, jika perlu diberi fungisida yang cocok. Atau kadang-kadang diberi kaptan. Setelah itu dibiarkan beberapa lama untuk mengurangi jamur yang tumbuh. Penanaman sebaiknya tidak dilakukan di lubang yang sama, tetapi disamping lubang. Karena kalau pas dilubangnya lagi ada kemungkinan kena lagi. Selain itu untuk menjaga agar tidak menular ke tanaman lain, dibuat parit-parit yang membatasi daerah yang sakit dengan tanaman yang sehat.
      3. Saya tidak menyarankan untuk membuat biakan dari produk yang terdiri dari bermacam-macam mikroba, karena sulit mengendalikan pertumbuhannya. Kecuali jika produk itu adalah kultur murni dan memang ditujukan untuk diperbanyak lagi. Jamur yang warna hijau adalah salah satu ciri trichoderma, cuma belum tentu yang warnanya hijau selalu trichoderma. Beberapa jenis Pencillin dan Aspergillus juga ada yang warnanya hijau.
      Promi memang tidak dibuat untuk diperbanyak lagi, tetapi langsung dipakai. Kalau ditumbuhkan di medium beras, bisa macam-macam yang tumbuh nanti.
      Semoga bermanfaat.

      isroi

  10. Wah iya yah, nernak jamur ternyata tidak sederhana. Apalagi bagi awam. Tadinya saya penasaran dan lalu berbekal info sepotong-2 dari sana sini “rekaknya” pengen tahu. Mungkin karena menyangkut jamur yang mahluk hidup, yang konon ada yang bisa “mengeloni” nematoda (apa itu maksud mengkloning ya?), jadi asik buat diamati.
    Ok, kalgit saya ikuti saja saran teman agar memeriksakan sampel tanah ke Lab Pengendalian Hayati Unsoed, di kota saya sini. Di Lab itu belakangan saya kenal dengan Pak Loekas, doktor yang pembawaannya bersahaja dan bikin tidak sungkan buat nanya ini itu. Tapi saya sempat kaget karena ternyata beliau penulis buku yang sudah lebih sebulan sebelumnya saya beli di Gramedia Semarang (Pengantar Pengendalian Hayati).

    Pengendalian hayati dan pupuk hayati, dua topik menarik. Kalau ada kursus or pelatihan yang praktis-praktis buat kalangan awam, boleh dong saya dijapri.

    Makasih mas, maksih juga atas waktunya.
    Salam

    • Ternyata tinggal di Pwt, tho…? Di mana tepatnya? saya punya saudara yang tinggal di dekat station. Ada yang diperumahan satria. Ada juga yang di dekat Unsoed. Kalau begitu belajar saja dengan Pak Lukas. Memproduksi biokontrol dan biofertilizer pada prinsipnya hampir sama. Perbedaannya hanya pada mikroba bahan aktifnya saja. Salam saya untuk Pak Lukas ya…..

  11. Lho..? Kenal Pak Loekas juga tho? Ya maklum wong sesama penghayat hal-hal hayati maka sudah barang tentu kenal. Ok akan saya sampaikan kalau ketemu beliau.
    Iya, saya di Pwto, tepatnya di Mutiara Pratama, daerah kidul RSUD Prof Margono dan petak lahan yang saya tanem-2i itu di Limpakuwus, Baturaden. Weleh-2, kayaknya kapan-2 perlu copy darat nih. Semoga ada waktu, insya Allah..

  12. saya tertarik dengan penelitian anda, saya ingin tahu bagaimana untuk mendapatkan Trichoderma dan aspergilus?dan bagaimana cara aplikasinya?
    saya juga ingin mencoba ikut mengaplikasikannya di tanaman tebu PG Sragi.
    atas informasinya dankerjasamanya,terimakasih.

  13. mau gabung,… mau tanya info boleh nggak..!!
    gimana cara aplikasi tricho yg tpat untuk tanaman karet & sawit dalam hal ini, untuk :
    1. peningkatkan hasil produksi
    2. mengatasi jamur
    3.perawatan/ pemeliharaan produksi
    makasih mas…

    • Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah dan singkat. Tetapi ada buku yang ditulis oleh dosen UGM tentang trichoderma. Kalau tidak salah judulnya Trichoderma ……, Buku ini cukup lengkap menjelaskan tentang trichoderma mulai dari isolasi, identifikasi, perbanyakan, dan aplikasinya. Silahkan dicari buku tersebut untuk mencari jawaban atas pertanyaan anda. Semoga membantu.

  14. Yayan Nurdiansyah (yanurs79@yahoo.com)

    pa isroi,
    seberapa cepat pertumbuhan & perkembangan mikroba di dalam tanah pada kondisi lingkungan optimal? lalu kalau kita aplikasi ppk hayati ke tanaman sawit, kapan bisa menguangi dosis pupuk kimianya dengan harapan sebagian nutrisi tanaman dapat disuplai dari hasil aktivitas mikroba terpilih tsb.

    to mr LENQkenq anda murid pa lukas atau rekan kerjanya? saya murid pa lukas juga loh

    • Saya tidak tahu secara pasti. Tetapi kalau lingkungan mendukung dan cocok dengan mikrobanya, mikroba akan segera berkembang. Biasanya aplikasi pupuk hayati selalu dibarengi dengan pengurangan pupuk kimia. Apalagi kalau juga diapliksikan kompos, pengurangan bisa dipercepat.

  15. Pak Isroi, assalamualaikum wrwb..
    Saya ingin mencoba Promi dan sekarang sedang dalam proses pesan 6 kg Promi. Tolong saya punya pertanyaan lagi:
    1. Apa maksud “Promi terdiri dari 3 bagian, yaitu A, T ,dan Pl. Dosis Promi adalah 0,5 kg (A, T, dan Pl) untuk setiap ton bahan”. Dari 6 kg yang sedang saya pesan itu akan dapat jenis yang mana? Ataukah sudah merupakan campuran dari ketiga-tiganya?
    2. Di bagian bawah postingan “Petunjuk Pengunaan Promi untuk Jerami Padi” tersedia petunjuk (prosedur_promi_v2_3.pdf) untuk didownload. Sudah saya coba tetapi selalu error dgn info detail can not find server http://www.isroi.org. Adakah link lain?

    Terimakasih, wassalam.

    ///Buat rekan Yayan, sebenarnya saya hanya tukang disain yang sudah bosan jadi ‘kongkonane sultan’ walau keren (konsultan). Sekarang sedang mencari aktifitas lain. Diantaranya ya di sini dan lalu ketemu Pak Loekas dan Pak Isroi ini. Kayaknya menarik juga, apalagi di sini ketemu dengan banyak ahli yang ringan tangan. Oh ya jelas, sy mau jadi muridnya Pak Loekas. Salam..

  16. 1. Dalam satu kantong Promi terdapat tiga bagian (3 kantong), satu untuk Pl (Pelapuk), T (trichoderma) dan A (aspergillus). Biasa kami singkat PLTA, biar mudah mengingatnya. Pada saat pembuatan semua dicampur jadi satu dalam perbandingan yang sama.
    2. Terima kasih informasinya, nanti saya upload lagi di server lain.

  17. Saya juga berminat dengan buku tentang trichoderma itu. Betulkah judulnya ” Peran Trichoderma Spp. Dlm Revitalisasi” dan pengarangnya Prof Widyastuti?
    Jika betul itu bukunya, ada info dapat dipesan di sini..

    http://www.palasarionline.com/result.php?awal=0&page=1&field=Judul&txtcari=trichoderma

    Salam..

  18. Saya terimakasih juga. Kalgit, saya tunggu buku Anda yang cocok buat awamis yang bisanya manut untuk just do it. Sukses selalu, Pak Isroi..

    Salam

  19. Apdit ya pak. Singkat crt sy sedang aplikasi promi untuk jerami dan bribil kambing. Sesuai petunjuk, Promi lebih dahulu dicampur air dan dikocor lapis demi lapis dgn dosis 1 kg per m3 jerami + bribil. Untuk skala lebih kecil, di rumah juga saya lakukan hal yang sama, tetapi cukup dgn jerami saja dan diperam dalam karung kandi lalu dibungkus plastik. Jika muncul bau yg mengganggu, unit ini mudah dievakuasi ke luar kawasan rumah.
    Saya amati di ember kocor itu tersisa butiran abu-2 yang tidak terlarut. Apa itu pak? apakah tetap harus dilarutkan dulu?

    Hal lain, nomor telepon pak Edo di informasi https://isroi.wordpress.com/promi/ mungkin perlu dikoreksi. Ada 9 diantara 56 dan 83. Beruntung ada nomor pak Afini yang meneruskan pesanan saya ke pak Edo yang bag pemasaran dan penjualan.

    Terimakasih, salam..

  20. chandra hary sukma

    pak isroi apakah saya bisa mendapatkan pengertian dari trichoderma itu sendiri, soalnya dalam penelitian yang saya lakukan ini berkaitan dengan trichoderma
    sebelumnya saya sampaikan terima kasih

  21. untuk mendapatkan Trichoderma harzianum dan Aspergillus itu sendiri bagaimana mas? beli atau bikin sendiri?

  22. saya tertarik untuk menggunakan aktivator promi untuk saya aplikasikan di kompos jerami.dimana saya bisa mendapatkan promi. Di kota jember, situbondo, dan bondowoso. terima kasih sebelumnya.

  23. Alprisni Surbakti

    Mas rois saat ini saya sedang meneliti pengendalian jamur akar cokelat pada kakao, yang ingin saya tanyakan berapa dosis trichoderma untuk kakao?

  24. Alprisni Surbakti

    oh iya mas isroi…maaf…:) trims utk jawabannya…

  25. pak isroi.. saya br bermain2 dengan trichoderma, berusaha ingin menumbuhkan di medium organik (mencoba mbwt pupuk hayati sendiri), apakah perlu ada zat tambahan yang digunakan untuk memicu pertumbuhan trichoderma? biasanya trichoderma tumbuh dalam medium organik membutuhkan waktu berapa lama? trimaksih..

    • Mediumnya cair atau padat? Kalau jamur umumnya membutuhkan waktu >5 hari. Tetapi kalau bakteri biasanya cukup 2-3 hari. Kalau baru pertamakali perlu dicek kurva pertumbuhannya dulu. Jadi tahu waktu yang tepat untuk panen. Karena setiap mikroba, meskipun sama-sama trichoderma bisa beda waktu terbaik untuk panennya. Semoga membantu.

  26. Bayu urba firdaus

    aslkum,saya adalah seorang mahasiswa pertanian tingkat akhir,skripsi saya tentang respon tanaman kacang merah terhadap berbagai dosis trichoderma,saya aga kesulitan untuk mencari refrensi,karna itu dengan segala hormat saya minta bantuan kepada bapak/ibu,jika mempunyai literatur yang berhubungan dengan judul tersebut tolong kirim ke email saya alamat emailnya bayubiru20@gmail.com
    atas bantuanya saya ucapkan terimakasih….

    • Coba cari di kolom kanan bagian perpustakaan. Disitu saya cantumkan beberapa situs website yang menyediakan pustaka ilmiah. Saya juga sdh tuliskan tip-tip untuk mendapatkan pustaka gratis. Silahkan dicari sendiri.

  27. Mas isroi yang saya hormati, terimakasih karna penelitian dari mas isroi banyak membantu dalam pengerjaan skripsi saya, ada stu hal yang ingin saya tanyakan, aplikasi yang paling bagus bila spora trichoderma sp ini di campur dengan 200 ml air,yang paling tepat adalah 10 pangkat berapa,yang kedua isolat trichoderma yang paling baik untuk membantu pertumbuhan itu jenis apa,mohon bantuannya karna untuk menyusun hipotesis pada skripsi saya,jika ada informasi lebih mohon kirim ke emil saya bayubiru20@gmail.com,atas apresiasi dan bantuanya saya ucapkan terimakasih.

    • Ada buku yg ditulis oleh Prof. Wiwik dari UGM, terbitan UGM PRESS tentang trichoderma. Cukup lengkap menurut sya. Populasi/konsentrasi mikroba yg umum dipakai adalah 10 pangkat 6. Semoga bermanfaat.

  28. Pak Isroi, saat ini kami tenaga harian lepas penyuluh pertanian di kabupaten tapanuli utara sedang memperbanyak trichoderma dan indukannya dari laboratorium kerasaan sumatera utara, dan rata-rata berubah jadi hijau setelah 1 minggu, perbanyakannya kami coba dari beras…terima kasih buat infonya ya pak…smoga pertanian kita semakin sukses…

  29. horman simarmata

    horman
    ass pak Asroi saya salah seorang distributor pupuk organik hayati yang mana unsur dari pupuk tersebut adalah trichoderma,aspergillus,bacillus yang ingin saya tanyakan apakah mikroba tersebut cocok untuk semua jenis tanaman? dan apakah sama jenis trichoderma tanaman keras {tanaman perkebunan} sama tanaman holtikultura ? mohon jawabanya ya masTrimakasi sebelumnya wass

  30. horman simarmata

    bagaimana ketahana trichoderma ini terhadap iklim tropis sama sub tropis, potensinya dimana lebih maximal

  31. Pingback: Peningkatkan Pertumbuhan Jahe dengan Mikroba Trichoderma spp | Berbagi Tak Pernah Rugi

  32. Pingback: Bukti Ilmiah Trichoderma sp untuk Mengatasi Penyakit Jahe – Bag. 2 | Berbagi Tak Pernah Rugi

  33. pak isroi boleh minta alamat dan kontak anda
    bisa reply ke email saya
    / bbm 52A34442

  34. membaca ari awal tetang tricoderma sangat menarik walau saya masih awam, banyak ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya yang masih pemula, terima kasih ilmunya pak Isroi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s