Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16

Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali

Meski di tawaf sunnah kedua saya sudah berhasil mengusap hajar aswad, saya belum merasa puas. Karena saya belum bisa benar-benar memasukkan kepala ke dalam lubang hajar aswad dan mencium batu hitam itu. Dalam hati kecil saya, keinginan saya untuk mencium hajar aswad tetap membara. Saya pun mengajak istri saya untuk mencoba mencium hajar aswad lagi di lain waktu.

Setelah makan pagi, saya merasa kuat dan cuaca cukup cerah. Saya ajak istri saya untuk mencoba ke hajar aswad lagi. Istri saya setuju. Kami pun bersiap-siap untuk mencium hajar aswad itu lagi. Saya berpakaian ihram dan istri saya menggenakan baju hitam dan kerudung hitam besar. Seperti biasa, kami berangkat ke masjid dengan naik bis hotel.

Jam besar di zam-zam tower menunjukkan pukul 9 kurang. Cuaca cerah dan cenderung panas. Saya lihat papan penunjuk di depan gerbang Raja Fahd menunjukkan suhu 32oC. Lumayan panas. Meski panas teris sekali, anehnya marmer di pelataran masjidil haram tidak terasa panas. Malah terasa dingin. Aneh.

Di Bogor ada juga masjid yang semuanya dilapisi marmer. Tapi pelataran luarnya panas luar biasa kalau terpapar terik matahari. Pikiran saya tidak bisa memahami bagaimana marmer di masjidil haram ini, yang sedemikian luas ini, bisa tetap dingin di cuaca yang sangat panas dan terik ini.

Sejak keluar hotel, kami menguatkan niat agar bisa mencium hajar aswad. Sepajang pejalanan di dalam bis, saya tidak pernah putus bersholawat. Demikian pula ketika masuk ke masjid. Setelah membaca doa masuk masjid, kami selalu bersholawat atas Nabi. Bersholawat dan terus berjalan sampai di rukun Yamani. Pelataran tawaf tetap ramai meski kondisinya terik. Memang tidak pepenuh dan sepadat ketika malam hari. Mungkin orang-orang lebih banyak menghindar di cuaca yang bisa membuat kepala pening seperti ini.

Kami merangsek agak ke tengah. Kami mulai tawaf dari posisi hajar aswad di lingkaran dalam. Jaraknya sekitar lima lapis orang dari hajar aswad. Hajar aswad tetap dipenuhi orang yang berjubel-jubel ingin menciumnya.

“Bismillahi Allahuakbar…..”, kami lambaikan tangan dan menciumnya.

Baru beberapa langkah kami mendekat ke multazam. Subhanallah. Dalam pandangan kami multazam kosong. Hanya satu lapis orang saja yang sedang menempel di dinding multazam.

“Ayo, Mi….!”

Saya tarik istri saya ke multazam. Di depan kami ada bapak-bapak yang sedang menangis dan bertafakur di dinding multazam. Kami berdiri tepat di bawah askar yang menjaga hajar aswad. Dinding multazam hanya cukup untuk tiga orang saja. Semuanya penuh. Bibir kami tak henti-hentinya bersholawat. Terus bersholawat sambil berdoa di dalam hati.

Tiba-tiba, tangan askar itu menarik orang yang ada di depan kami. Istr saya langsung saya dorong maju dan naik satu batu dan menempel tetap di dinding multazam. Tangan istri saya bergelantungan di kiswah penutup Ka’bah. Saya masih belum bisa ke multazam, karena masih terhalang satu orang lagi. Tak lama berselang, orang itu mundur dan gantian saya yang maju menempel ke multazam. Saya tempelkan seluruh badan saya, dada saya, pipi kanan saya dan tangan saya menegadah menempel ke dinding multazam. Mata air kami tumpah sejadi-jadinya. Hati bergemuruh hebat. Meluap-luap dan meletup-letup tidak terhaankan. Saya panjatkan do’a-do’a saya. Saya baca istigfar, sayidul istigfar, doa nabi yunus ketika diperut ikan paus. Semua doa dan harapan saya panjatkan. Saya sebutkan nama emak saya, nama bapak saya, nama anak-anak saya, nama adik saya, nama kakak saya dan nama saudara-saudara saya. Saya sebutkan semua dan saya sampaikan semua titipan do’anya. Saya berdoa sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami berada di multazam. Waktu serasa berhenti dan kami kehilangan orientasi waktu untuk sesaat. Sampai akhirnya, istri saya mengingatkan saya untuk mundur dan memberi kesempatan kepada jama’ah lainnya yang ada di belakang kami. Kami pun berjalan mundur. Saya pegang erat tangan istri saya, saya peluk kuat-kuat.

Jarak multazam dan hajar aswad sangat dekat. Hanya beberapa langkah saja. Ketika kami mundur itu, saya lihat hajar aswad sepi. Hanya satu atau dua lapis orang saja dan tidak tampak berdesak-desakan seperti sebelumnya.

“Hajar aswad lagi, Mi…. Langsung..!”

Saya tarik istri saya menuju hajar aswad. Di depan kami ada ibu-ibu dari Indonesia yang juga mengantri ingin mencium hajar aswad. Posisinya di depan kami.Kami merangsek ke depan pelan-pelan. Meski berdesak-desakan, kali ini tidak seramai sebelumnya. Sampai akhirnya jarak kami dengan hajar aswad hanya beberapa langkah lagi. Ibu-ibu di depan saya tergencet dari depan. Saya tahan dari belakang. Pelan-pelan kami maju terus. Bapak-bapak saling sikut berebut untuk bisa mencium hajar aswad. Sampai akhirnya tinggal satu lapir orang lagi. Begitu orang yang mencium hajar aswad berbalik, saya segera dorong ibu-ibu itu maju. Posisinya tepat di depan hajar aswad dan bisa mencium hajar aswad. Saya mengikuti dari belakang sambil memeluk istri saya dengan tangan kanan. Tangan kiri saya berpegangan pada bibir hajar aswad.

Ibu-ibu itu berbeger ke kanan. Sesaat hajar aswad terlihat lowong. Saya mencoba untuk maju, tapi susah sekali. Orang-orang laki-laki yang dari sisi kiri juga tidak bisa masuk. Saya berteriak keras: “Allahuakbar….!!!!””””
Saya merengsek ke depan dan seperti mimpi, hajar aswad di depan mata saya. Saya cium sepuas-puasnya hajar asawad itu.

Setelah seluruh bagian dalam hajar aswad saya cium, saya menegakkan badan. Tiba-tiba dari samping orang sudah berdesakan mau masuk. Saya tarik tangan istri saya agar bisa mendekat ke hajar aswad. Rupanya sudah orang lain yang lebih dulu ke hajar aswad. Istri saya terhalang oleh ibu-ibu yang ada di depan saya tadi. Tangan istri saya tetap saya tarik agar bisa masuk, minimal mengusap hajar aswad.

Ibu-ibu yang ada depan saya tadi posisinya sekarang tergencet di bawah askar. Dia bersaha keras untuk berbalik, tetapi tidak bisa. Justru semakin tergencet dari samping dan belakang. Saya dan istri saya berbeser ke kanan. Saya teriak ke ibu itu:

“Jangan berbalik, Bu. Tidak bisa. Mundur saja pelan-pelan.”

Saya tarik bahunya. Seperti ketika pertama kali mencium hajar aswad, tangan kirim saya memeluk istri saya dan menariknya ke belakang. Tangan kanan saya raih bahu ibu-ibu itu dan saya tarik ke belakang. Dengan susah payah, kami pelan-pelan mundur ke belakang mencari tempat yang lebih longgar. Akhirnya, kami pun bisa lepas dari kerumuman orang-orang yang ingin mencium hajar aswad itu. Ibu-ibu itu langsung berbalik dan memeluk erat istri saya. Mereka berdua menangis sesenggukan, entah apa yang dirasakan si Ibu itu. Mungkin si Ibu itu terharu bisa mencium hajar aswad. Mungkin bersyukur karena selamat dari gencetan orang-orang yang ingin mencium hajar aswad.

Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya dilepaskan pelukan itu. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada kami.

“Ibu masih ingat rombonganan, Ibu?” tanya saya.

Dia mengangguk sambil mengucapkan, “Masih.”

“Ibu bisa pulang sendiri?”

“Bisa…”

“Semoga kita bertemu lagi, Bu. Assalamu’alaikum.”

Lalu kami melanjutan tawaf kami yang tertunda. Saya sudah tidak lihat lagi ibu-ibu tadi. Dia menghilang dikerumuman orang-orang yang sedang tawaf.

Di putaran ketiga, kami mendekat ke hijr Ismail. Kali ini, pintu hijr ismail seperti terbuka kembali untuk kami. Kami pun masuk lagi ke dalam hijr Ismail. Sholat sunnah seperti ketika pertama kali masuk ke sini. Ketika keluar kami pun bermunajat di dinding Ka’bah.

Kami lanjutkan tawaf sampai putaran ke tujuh. Di putaran ketujuh kami menuju arah luar. Sholat dua rakaat di tempat yang sudah disediakan untuk sholat dan minum air zam-zam.

Kami berada di masjidil haram sampai sholat dhuhur dan baru kembali ke hotel untuk makan siang selepas sholat dhuhur.

Hari ini kami puas sekali, karena bisa mencium hajar aswad, berdoa di multazam dan sholat lagi di dalam hijr Ismail.

Alhamdulillah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

3 responses to “Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16

  1. Pingback: Mimpi Mencium Hajar Aswad | Berbagi Tak Pernah Rugi

  2. Pingback: Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13 | Berbagi Tak Pernah Rugi

  3. Pingback: Catatan-Catatan Umroh – Bagian 2 | Berbagi Tak Pernah Rugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s