Tidak banyak orang yang dikaruniai umur panjang. Salah satu orang yang dikaruniai umur panjang adalah kakekku. Beliau lupa kapan tanggal lahirnya. Maklum waktu itu belum ada catatan kelahiran. Satu hal yang beliau ingat adalah waktu sekolah di SR. Seingat beliau waktu itu sekitar tahun 1903. Waktu dulu mungkin anak mulai sekolah umur 8 – 9 tahun. Jadi kalau sekarang tahun 2008, maka kira-kira umur kakek saya adalah 113 tahun.
Ada banyak hal yang saya kagumi dari kakek. Meskipun sudah sangat tua, beliau tidak pikun. Fisiknya sangat kuat untuk orang setua Beliau. Rajin sholat ke masjid yang jaraknya kurang lebih 150 m dari rumah. Masih mengurus diri sendiri dan tidak mau bergantung pada orang lain. Kakek tidak punya penyakit yang macam-macam, tidak sakit darah tinggi, tidak sakit jantung, tidak sakit stroke, dan tidak sakit gemetaran. Sakit yang sering dideritanya hanya sakit ‘masuk angin’ biasa, kadang-kadang batuk dan flu, atau pusing karena darah rendah. Ingatan beliau masih baik. Bahkan kakek masih ingat pelajaran-pelajaran waktu sekolah dulu. Namun penglihatan dan pendengaran beliau sudah sangat berkurang. Kalau berbicara dengan kakek harus dekat telinga dan sedikit berteriak.
Kakek tinggal di rumah berdua saja dengan nenek yang juga sudah tua. Beliau tidak mau tinggal di rumah anak-anaknya. Meskipun tinggal di rumah yang sederhana dengan fasilitas sangat terbatas, tetapi kakek dan nenek hidup tentram.
Kakek suka bercanda dan senang ketawa. Kalau ditanya umurnya dia akan menjawab: “Umurku masih balita”. Alasannya katanya karena giginya belum tumbuh alias ompong, jadi seperti anak-anak yang belum tumbuh giginya. Lalu kakek akan tertawa terkekeh-kekeh.
Kakek senang bekerja dan tidak mau diam saja di rumah. Meskipun semua sawahnya sudah dibeli oleh ‘toke-toke’ dan sekarang sudah dibangun pabrik, kakek masih suka bekerja. Pernah waktu itu kakek menebang pohon bambu. Kakek menebang dengan ‘bendo’ yang sangat tajam dan diayunkan menyilang ke batang bambu. Potongan bambu yang tajam dan runcing meluncur ke tanah. Malangnya potongan bambu itu jatuh tepat di kaki kakek. Satu jari kaki kakek putus karenanya.
Kakek pernah memelihara beberapa ekor domba. Seperti biasa kakek mencari rumput untuk domba-dombanya. Waktu itu sedang puasa ramadhan, kakek mencari rumput di pinggir ‘kali progo’ yang berbatu-batu. Mungkin karena puasa dan fisiknya yang sudah lemah ditambah dengan sinar matahari yang terik, kakek jatuh pingsan di pinggir ‘kali progo’. Kakek diantar pulang oleh tetangganya yang kebetulan ada di dekat kakek.
Pernah juga kakek ‘keserempet’ truk waktu memikul kayu bakar. Kakek jatuh di pinggir jalan, untungnya hanya luka lecet sedikit saja. Kemudian kakek diantar pulang oleh sopit truk itu.
Pernah juga kakek manjat pohon rambutan sendiri. Waktu itu saya sedang berkunjung ke rumah kakek dan kebetulan pohon rambutan di depan rumah kakek sedang berbuah lebat. Kekek mengambil tangga dan mau mengambil buah rambutan untukku. Aku melarang kakek naik tangga dan aku sendiri saja yang mengambil buah rambutan dengan naik tangga itu. Ketika sedang asik-asiknya mengambil rambutan, tanpa aku sadari kakek sudah ada di sampingku dengan memanjat pohon rambutannya. Memang sih, pohon rambutannya tidak tinggi dan banyak cabangnya, jadi lebih mudah dipanjat.
Kadang-kadang saya ingin tahu apa rahasia kakek panjang umur dan tetap sehat. Saya hanya menduga-duga saja. Kekek orangnya sabar, tidak suka macam-macam, dan kata orang jawa ‘nrimo ing pandhum’. Menerima segala sesuatu apa adanya. Makanan kakek sederhana dan umumnya dari kebun sendiri. Makalan paling ‘mewah’ adalah daging ‘enthok’ di hari lebaran. Tidak pernah makan donat, humberger, atau pizza. Tidak pernah minum ‘coca cola’, ‘sprite’, ‘7up’, apalagi ‘bir bintang’ atau ‘greensand’. Tapi kakek perokok berat, ‘ting we’ namanya, alias melinting sendiri.
Ada nasehat yang sering dikatakannya setiap kali saya bertemu kakek. Seingat saya nasehat ini selalu dikatakan kakek sejak saya SMP atau SMA. Dan hampir selalu dikatakannya berulang-ulang hingga sulit bagi saya untuk melupakan nasehat itu. Nasehat kakek tidak banyak hanya beberapa saja. Nasehat kakek: “Jangan lupa sholat dan jangan pernah meninggalkannya. Jangan lupa ‘ngaji’. Dan kalau punya rizki naiklah haji ke makkah. Kalau kakek meninggal nanti, jangan lupa selalu mendoakan kakek”. Kan ku ingat selalu nasehatmu, Simbah. Insya Allah.







