Fonomena Batu yang Tetap Eksis di Dunia Maya: Sakti Permata Group

blue topaz london

Blue Topaz London

Dunia ‘perbatuan’ di Indonesia masih tetap ramai di dunia maya. Memang tidak seheboh beberapa tahun yang lalu. Meski banyak yang sudah ‘tumbang’, pengemar dan pedagang batu masih banyak yang masih bertahan. Salah satunya adalah Sakti Permata Gemstone (SPG) yang lebih banyak bermain di dunia maya (on-line). Dalam kondisi yang kata sebagian orang ‘lesu’, SPG masih bisa mendapatkan omzet yang besar hingga 20 juta rupiah per hari.

Batu sebagai perhiasan sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Terutama batu-batu mulia seperti zamrud, ruby, topaz, sapphire, opal, intan dan batu permata lainnya. Batu menjadi simbol status seseorang. Mahkota Raja dihiasi banyak batu mulia. Keluarga bangsawan memakai cincin, lionting, anting dan perhiasan-perhiasan lain yang berhias batu mulia. Di Indonesia sempat booming batu akik selama beberapa tahun. Batu-batu akik (agate) asli Indonesia harganya melonjak luar biasa. Entah siapa yang dulu memulainya. Rasanya hampir semua orang gila batu. Tukang gosok batu berjamuran di mana2. Lomba2 batu diadakan dengan hadiah jutaan rupiah. Harga batu pun mencapai miliaran rupiah. Yang paling gila2an harga batu Bacan. Masing2 daerah menonjolkan batu dari daerah masing2. Seperti Red Baron Pacitan, Ijo Garut, Solar Aceh, Sungai Dareh dan lain-lain. Namun, pamor batu pelan2 meredup. Banyak tukang batu yang gulung tikar. Lapak2 batu hilang satu per satu. Pasar batu mulai sepi dan harga batu terjun bebas.

Penggemar batu musiman memang mulai hilang. Tapi orang yang benar2 penghobi batu masih tetap eksis. Mereka memiliki komunitas sendiri. Khususnya di dunia maya. Medsos, khususnya Facebook, menjadi sarana alternatif untuk berkumpul dan berbisnis. Komunitas yang masih tetap ramai adalah komunitas batu Kalimaya dan batu mulia. Postingan2 masih ada setiap hari. Transaksi2 masih ada setiap hari. Lelang2 batu masih saja ramai dan meriah. Batu Kalimaya memang sudah terkenal dari jaman dulu kala. Batu yang tergolong jenis opal ini memang indah.

Bos Kiki SPG

Bos Kiki

Continue reading

Serunya Liburan di Desa Citalahab, Komplek Taman Nasional Gunung Halimun

liburan Citalahab gunung Halimun

Di hutan Taman Nasional Gunung Halimun

Kalau orang biasanya liburan ke tempat keramaian, kami memilih liburan di hutan, di alam yang sepi dan sunyi dari keramaian. Liburan akhir tahun ini kami ke desa Citalahab, pingir hutan gunung Halimun.

Desa Citalahab masuk dalam komplek desa wisata Malasari Taman Nasional Gunung Halimun, Kec. Nanggung, Kab. Bogor. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Bogor atau Tangerang. Kondisi jalan sampai desa Malasari lumayan bagus. Tapi, masuk ke komplek taman nasional gn. Halimun kondisi jalan berbatu2 terjal. Dari gerbang sampai desa Citalahab perlu waktu 2 jam pakai mobil. Padahal jaraknya hanya sekitar 15 km. Kalau Anda mau ke desa Citalahab sebaiknya bawa mobil 4WD atau mobil yang tinggi. Jangan bawa mobil pendek apalagi ceper. Dijamin tidak akan pernah sampai desa Citalahab.

Desa wisata citalahab halimun

Gapura masuk ke komplek taman nasional gunung halimun.

Desa wisata citalahab halimun

Papan petunjuk masuk ke desa wisata Malasari, Kec. Nanggung.

Desa Citalahab adalah salah satu desa di perkebunan teh Nirmalasari. Kebun teh warisan penjajah Belanda ini kondisinya memprihatinkan. Perawatannya kurang. Pandangannya tidak seindah kebun teh di Puncak Bogor atau di Pengalengan Bandung. Tapi masih tetap indah juga sih. Namanya desa Citalahab Central. Posisinya paling atas dan berbatasan dengan Kab. Sukabumi. Di sinilah tempat tujuan kami untuk berlibur.

Sampai di desa Citalahab kami disambut oleh Bapak Suryana. Beliau adalah koordinator dan contact person desa wisata ini. Kami sebelumnya sudah mengontak beliau. Kami diantar ke salah satu rumah homestay, rumah milik Bapak Ade Suryadi. Posisinya di bawah dekat dengan sungai Cikaniki.

Desa Citalahab kondosinya terawat, rapi dan bersih. Tidak terlihat ada sampah sama sekali. Rumahnya sederhana. Umumnya adalah rumah panggung. Kami menyewa dua kamar. Tarif kamarnya Rp. 100rb/kamar/hari. Jangan dibayangkan kamarnya seperti kamar hotel atau losmen. Kamar sederhana. Tapi bersih. Spreinya baru. Sarung bantalnya baru dan wangi. Kasurnya saja yang agak kurang nyaman. Kalau buat tiduran berdua, semua akan mengumpul di tengah :).

Desa wisata citalahab halimun

Desa wisata citalahab halimun

Suara gemericik air sungai mengoda kami. Setelah istirahat sebentar, anak2; Royan, Abim dan Yusuf, ingin main ke sungai. Sungai Cikaniki membelah desa Citalahab Central. Airnya jernih banget. Dan dingin banget tentunya. Sungainya banyak batu-batunya.

Anak-anak langsung masuk di sungai. Melihat banyak batu-batu Abim muncul ide untuk menyusun batu2 itu. Dia mencoba untuk menumpuk batu-batu setinggi mungkin. Bukan hal yang sederhana. Perlu kesabaran dan ketekunan agar batu2 bisa tegak dan seimbang. Abim berhasil. Yusuf yang jarang main air senang banget bisa mencebur ke sungai.
Continue reading

Stone Balancing by Abim

Stone Balancing by Abim

Stone Balancing by Abim

Stone Balancing by Abim

Stone Balancing by Abim

Stone balancing by Abim

Stone Balancing by Abim

whatsapp-image-2016-12-31-at-12-37-27-1

whatsapp-image-2016-12-31-at-12-37-27

Bioplastic Production from Oil Palm Empty Fruit Bunch

Alkaline Oxidation of Cellulose from Oil Palm Empty Fruit Bunch Using Hydrogen Peroxide

Cara Mudah Membuat Edible Bioplastik

Indahnya Pemandangan Kebun Teh Sedep, Jawa Barat.

Ibu Tua dan Anak Laki-laki Kecil

Semalam sekitar pukul 11.30 saya pulang melewati jalan Ciomas. Jalan yang biasanya macet ini terasa lenggang. Hanya beberapa motor, angkot dan mobil yang melintas. Saya naiki motor supra saya pelan-pelan.
Sampai di jembatan Ciomas dari kejauhan terlihat ada seorang ibu tua mengandeng seorang anak sesekali melambai ke kendaraan motor yang melintas. Tidak ada yang memperdulikannya. Ketika sudah dekat, ibu tua itu pun melambai ke arah saya dan berkata:
“mau numpang, pak!” serunya.

Awalnya saya juga tidak peduli, sekitar 50-an meter saya menepi dan berhenti. Saya perhatikan ibu-ibu itu tampak lelah dan berjalan gontai. Anak kecil yang berjalan disampingnya pun terlihat kelelahan. Lalu saya balik arah dan menghampiri si ibu.

“Ibu mau ke mana?” tanya saya
“Saya mau pulang ke sana,” Si Ibu menyebut sebuah nama desa, saya lupa detailnya.
“Di mana itu?”
“Ciper masih ke atas lagi”,
“Jauh…..itu, Ibu dari mana?”
“Saya baru dari Parung, jalan kaki sejak magrib tadi,”
“Lho kenapa ….?”
“Iya…kehabisan ongkos. Saya baru pulang dari uwaknya anak ini. Bapaknya sudah tidak ada, setiap bulan saya mengantarnya ke Uwaknya di Parung. Hari ini kehabisan ongkos dan terpaksa jalan kaki,”
“Dari Parung…..?????!!!!”

Si Ibu menggangguk sedih. Saya melirik ke anak laki2 kecil di sampingnya, wajahnya sayu dan sedih. anak itu pakai kaos ipin upin, celana pendek dan sandal jepit.
Parung jauh sekali dari sini 30-40 kiloan.

“Masya Allah…..”

Saya mengambil dompet saya, di dalamnya cuma ada beberapa lembar. Saya kasih ke ibu itu sebagian; sedikit ongkos untuk naik angkot.

“Ibu naik angkot saja. Ini sudah malam sekali.”

Ibu itu menerimanya tanpa berkata apa-apa. Seperti ada yang ingin dia ucapkan, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Matanya berkaca-kaca.

Saya segera beranjak pulang. Ketika itu saya tidak membawa apa-apa. Sampai di rumah saya masih kepikiran dengan anak kecil itu. Lalu saya mencari secarik kertas, saya tulisakan nama temen yang bekerja di lembaga zakat. Saya tuliskan nomornya di situ. Saya berharap anak kecil itu bisa mendapatkan hak-nya dari zakatnya orang-orang kaya.

Saya pacu lagi motor saya ke tempat saya bertemu dengan ibu dan anak itu tadi. Sayang sekali, jalanan sepi. Saya coba susuri jalan ciomas sejauh setengah kilo meter. Namun nihil. Mungkin Si Ibu itu sudah naik angkot ke Ciper.
Saya yakin ibu dan anak itu bukan pengemis. Saya hampir hafal pengemis dan pemulung yang beroperasi di sekitar perumahan saya. Baru pertama kali saya ketemu dengan ibu dan anak ini. Mereka orang miskin tidak meminta-minta dan perlu uluran tangan para muzaki. Saya hanya bisa berdoa; semoga Allah memberi kecukupan rizqi dan barokah pada ibu dan anak kecil itu. Amin Ya Robb Yang Maha Kaya.

Menanam Kol dengan Polybag di Pekarangan Rumah

pertanian, kol, polybag

Pak Doddy dengan kol yang ditanam di pekarangan rumah dengan polybag.

pertanian, kol, polybag

pertanian, kol, polybag

Menanam kol dengan polybag di pekarangan rumah


Continue reading

PENGOMPOSAN KOTORAN KAMBING DENGAN PROMI