Membaca

Prcaya aatu tidk, Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabrdge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna.

Katlimt  bsia dtiluis berantaakn, teatp ktia daapt mebmacayna.

Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, buukn ktaa per ktaa. Laur bisaa kan?

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat ”

Sdaar aatu ngagk adna brau sjaa mambcea dgnaen tiluasn ynag braentakan.

Inlaih khebeatan oatk mansuia, alpagi ynag
Mctipakn oatk ktia,

Allh Yang Maha Sempurna.

Gimana? Bisa ditangkap kan maksudnya?

# Ayo Senam Otak #

Silahkan di baca dan terjemahkan pesan berikut ini:

P354N 1N1 11131118UK71K4N 841-1W4 074K
K174 8154 1113L4KUK4N 1-14L Y6 LU412 81454
1113N4KJU8K4N!

P4D4 4W4LNY4 T312454 5UK412 74P1 5373L41-1
54111P41 D1841215 1N1 P1K1124N K174 8154
111311184C4NY4 53C4124 07O1114715 74NP4
8312P1K112 841-1W4 K174 111311184C4 4N6K4.

84N664L41-1! K4123N4 1-14NY4 0124N6-0124nN6
731273NTU Y4N6 8154 111311184C4 P35AN 1N1.
PL3453 F012W412D 1F U C4N 1234D 71-115 111355463.

Bagi yg bisa membaca ini, berarti otak kanan nan kirinya masih baik. Salam Senam Otak…:)

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 12

Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail

Ada tiga tempat dan posisi yang paling dicari dan diburu oleh jama’ah di Masjidil Haram. Tiga tempat itu adalah Hadjar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail. Hajar Aswad memempel di salah satu sudut Ka’bah. Batu hitam yang sudah terpecah-pecah ini selalu di buru jama’ah untuk dicium atau hanya sekedar diusap tangan saja. Tawaf dimulai dari sudut Hajar aswad ini. Dulu Rasulullah memulai tawaf dengan mengucakan basmallah, takbir dan mencium hajar aswad. Praktek ini diikuti oleh para sahabat dan kaum muslimin hingga saat ini. Jika tidak bisa mencium, mengusap saja atau melambaikan tangan sudah cukup sebagai isyarat memulai tawaf.

Hajar aswad ini adalah batu dari surga yang diturunkan untuk Nabi Adam AS. Lama kelamaan batu ini berubah menjadi hitam kelam karena dosa-dosa yang dilakukan oleh ummat manusia. Meski hanya batu biasa yang tidak bisa mendatangkankan kebaikan maupun kemudhorotan, namun batu ini sangat dimuliakan sejak jaman dulu. Bahkan sejak sebelum kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Ketika hari kimat kelak, batu ini akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menciumnya atau menyentuhnya. Karena itu banyak orang muslim yang berlomba-lomba untuk mencium hajar aswad.

Multazam adalah bagian dinding Ka’bah diantara hajar aswad dan pintu Ka’bah. Dalam sebuah hadist dari Abullah ibnu Umar yang merapatkan seluruh badannya dan menempelkan pipi kanannya ke dinding Multazam. Beliau menyebutkan bahwa seperti itulah yang Beliau saksikan dari Rasulullah. Multazam diyakini sebagai salah satu tempat yang makbul, atau tempat-tempat yang doa-doa akan dikabulkan. Tidak heran jika banyak kaum muslimin yang juga berebut untuk bisa berdoa dan menempelkan badannya ke multazam.

Tempat ketiga adalah hijr Ismail. Salah satu sisi Ka’bah ada bangunan berbentuk setengah lingkaran dan setinggi kira-kira satu setengah meter. Banyak sekali orang mengantri untuk bisa masuk, sholat dan berdoa di dalam hijr Ismail ini. Dalam sebuah hadist Rasulullah dijelaskan kalau hijir Ismail ini adalah bagian dari Ka’bah. Sholat di dalam hijr Ismail sama seperti sholat di dalam Ka’bah. Siapa orang muslim yang tidak ingin sholat di dalam Ka’bah…??? Pastilah semua orang ingin bisa sholat di tempat yang paling mulia ini.

Ketika tawaf dalam rangkaian ibadah umroh hari pertama sama sekali kami tidak bisa mendekat ke Ka’bah. Area tawaf penuh sesak dengan orang. Padahal saat itu masih sore hari. Setiap kali kami mencoba mendekat ke Ka’bah selalu mental kembali ke arah luar. Orang-orang menumpuk dan berjubel di rukun hajar aswad. Di hijr Ismail pun tidak kalau ramainya. Ustad Rofi’i juga sudah mengingatkan untuk tidak berusaha mencium atau mendekat ke Ka’bah ketika tawaf umroh. Sebaiknya selesaikan dulu rangkaian ibadah umroh. Mencium hajar aswad dilakukan di lain waktu saja.

Selepas sholat Magrib kami berempat kembali berpakaian ihram dan akan melakukan tawaf sunnah. Tujuannya agar bisa mendatangi tiga tempat yang mulia itu. Putaran pertama kami masih belum bisa mendekat. Di depan Hajar Aswad penuh sesak orang. Berkali-kali kami coba tetap tidak bisa mendekat. Putaran kedua masih sama. Tapi kalai ini Pak Gunawan terpisah dari rombongan. Kami hanya bertiga saja; saya, istri saya dan Pak Totok.

Di putaran ketiga kami kembali merapat ke Ka’bah. Tetap tidak bisa mendekat ke hajar aswad maupun multazam. Kami berjalan terus ke arah hijr Ismail. Orang-orang masih berdesak-desakan. Ketika sampai di dekat pintu masuk hijr Ismail terlihat terbuka. Dalam pandangan kami, pintu itu kosong, tidak ada orang berdesak-desakan akan masuk, tidak ada penjaganya juga.

“Subhanallah…., sepi Pak Totok”
“Iya…Pak….”
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam hijr Ismail. Di dekat pintu itu sudah banyak orang yang sedang sholat dan sujud. Bahkan di depan kami pas ada orang yang sujud. Lalu saya ajak mereka merengsek ke arah tengah dan terus ke sisi yang berseberangan.

Alhamdulillah di tempat ini suasana lebih longgar. Akhirnya, di sini kami bertiga berdiri mengambil posisi sholat. Istri saya, saya di tengah dan Pak Totok di samping kanan saya. Saya sholat taubat dua rakaat. Hati bergemuruh hebat. Rasanya senang, terharu, gembira, sedih bercampur menjadi satu. Ketika sujud, air mata tumpah tak bisa ditahan. Kami semua menangis seperti anak kecil. Kami menangis sejadi-jadinya. Kami tidak peduli lagi dengan suasana sekitar kita. Kami tidak peduli kepala-kepala kami dilangkahi dan diinjak orang. Kami mengadu kepuas-puasnya kepada Allah.

Selesai sholat pertama. Kami sholat dua rokaat lagi. Saya niat sholat hajat. Saya sudah tidak memperdulikan dengan istri dan Pak Totok lagi. Ketika saya menoleh, kiri kanan saya sudah beda orang. Air mata tumpah lagi, lebih deras daripada hujan di kota Bogor di bulan Februari seperti ini. Saya berdoa sepuas-puasnya. Dalam setiap sujud saya panjatkan do’a- do’a. Termasuk ditipan do’a dari keluarga, sanak famili dan teman-teman. Salah satu do’a yang saya ucapkan berulang-ulang adalah do’a agar dikaruniani kesehatan dan umur yang barokah. Selesai sholat saya angkat tangan tinggi-tinggi dan berdo’a lagi. Total saya bisa sholat tiga kali, masing-masing dua rokaat. Alhamdulillah.

Lalu saya berdiri. Istri ada di belakang dan Pak Totok juga sedikit di belakang saya. Saya gandeng mereka berdua mendekat ke dinding Ka’bah. Ada askar yang berjaga di sudut itu. Di dinding Ka’bah sudah ada jama’ah perempuan dan laki-laki yang menangis di dinding. Kami menunggu dengan sabar. Askar itu melihat kami. Saya tersenyum ke arah askar itu dan memberi isyarat kalau kami ingin mendekat ke dinding Ka’bah. Askar itu paham dan dengan isyarat kepala dia meminta kami untuk bersabar.

Tak berapa lama askar itu menarik orang yang di dinding Ka’bah dan menyerahkan tempat itu ke istri saya. Saya dan Pak Totok juga mendekat ke dinding. Tapi di depan kami masih ada orang yang sedang berdoa. Tak berapa lama, dia pun beranjak dan kami menempel ke dinding Ka’bah. Tangis kami tumpah lagi. Pak Totok yang menurut saya paling tegar di antar kami juga menangis sesenggukan. Suaranya keras seperti tidak pedulu dengan orang-orang di sekitarnya. Kami pun berdoa lagi. Memanjatkan semua keinginan dan harapan kami kepada Allah, Robb Ka’bah ini. Entah berapa lama kami menangis di dinding Ka’bah ini.

Sampai akhirnya, Istri saya berbisik:”Sudah…gantian dengan yang lain.”
Saya pun segera beranjak. Saya tepuk punggung Pak Totok dan Beliau pun segera beranjak pula. Kami menuju ke arah pintu hijr Ismail.

Ternyata mau keluar dari Hijr Ismail lebih sulit dari ketika masuk tadi. Di sekitar pintu masuk penuh orang. Banyak orang yang mau masuk dan banyak juga orang yang mau keluar. Ada juga orang yang sedang sholat dan berdoa di tengah-tengah keurumunan itu. Pelan-pelan kami terus merengsek ke luar. Maju terus, meski hanya setapak demi setapak. Setelah berdesak-desakan cukup lama, akhirnya kami berhasil keluar juga dari dalam Hijr Ismail. Alhamdulillah.

Kami melanjutkan tawaf yang baru di putaran ketiga. Di rukun yamani kami usap dinding Ka’bah yang terbuka. Berjalan terus dan melantunkan ‘do’a sapu jagad’. Sampai di hajar aswad, kami tetap tidak bisa mendekat. Gelombang orang berdesak-desakan luar biasa yang ingin mencium hajar aswad. Kami terpaksa harus sedikit melebar keluar agar bisa tetap terus melanjutnya putaran tawaf. Di dekat multazam saya coba lagi mendekat. Suasana tidak kalah serunya dibandingkan dengan yang di hajar aswad. Tapi kali ini saya coba paksakan

Jarak kami dengan multazam kira-kira tiga lapis orang. Semuanya berebut ingin mengantung di pintu Kabah, menempel di multazam dan merengsek ke hajar aswad. Saya coba paksakan untuk ikut merengsek ke depan. Badan saya dan istri tergencet. Saya sudah tidak ingat lagi di mana Pak Totok. Pikiran cuma satu, bagaimana badan bisa menempel di multazam. Itu saja.

Sekeras usaha yang kami coba, posisi tetap tidak beranjak. Saya tetap tidak bisa mendekat. Badan malah semakin tergencet. Jarak paling dekat yang sempat saya raih adalah menyentuh dinding multazam. Itu saja tidak bisa lebih lagi. Arus dan gelombang orang sangat kuat. Ketika tangan baru menyentuh sedikit, tiba-tiba gelombang orang keluar dari arah hajar aswad. Kami menjauh lagi dari multazam dan hajar aswad. Akhirnya kami menyerah. Kami mundur dan melanjutkan lagi putaran tawaf yang tersisa.

Putaran-putaran berikutnya kami tidak lagi berusaha mendekat ke hajar aswad atau multazam. Kerumuman orang sangat penuh. Rasanya tidak mungkin bagi kami untuk bisa mendekat. Insya Allah di kesempatan lain kami akan coba lagi. Kami selesaikan tawaf sunnah ini. Lalu kami mencari tempat agak lapang untuk sholat. Sholat di areal tawaf sangat dilarang, karena mengganggu orang yang sedang tawaf. Askar-askar yang berjaga akan mendorong orang-orang yang nekad sholat di areal tawaf dan mengusir mereka ke arah luar.

Kami berjalan terus ke arah luar. Di Bagian belakang ke jalur yang menuju ke bukit shofa ada tempat minum air zam-zam. Seperti yang disunnahkan, kami minum air zam-zam sambil menghadap ka’bah dan membaca doa. Sebagian kami siramkam ke kepala. Kerongkongan rasanya segar sekali.

Kali ini saya sudah terpisah dengan Pak Totok dan Pak Gunawan. Entah di mana mereka. Kami lalu duduk menunggu sholat isya’ sambil berdizkir dan membaca Al Qur’an. Selepas sholat kami pulang ke hotel untuk makan malam.

Di tempat makan kami menceritkan pengalaman kami ini. Pak Totok dan Pak Gunawan sudah ada di hotel duluan. Ustad Rofi’i, mutawif kami, menyarankan kalau kami ingin mencium hajar aswad sebaiknya selepas tengah malam. Sekitar jam 2 malam sampai menjelang waktu subuh. Konon katanya di waktu-waktu itu area tawa lebih sepi dan lebih mudah untuk mencium hajar aswad. Kami pun sepakat nanti malam mau mencoba lagi untuk bisa mencium hajar aswad. Rugi rasanya kalau sudah di Makkah dan di depan Ka’bah tetapi tidak mencium hajar aswad.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 10

Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali

Bis yang ditunggu pun datang juga. Bisnya berwarna orange dan ada tiga pintu otomatis; pintu bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Di bagian depannya ada papan tulisan Deafah Hotel Group. Ustad Rofi’i memberi tahu bahwa bis ini gratis untuk pelanggan hotel. Tandanya gelang plastik warna orange dan ada logonya D; logo group hotel Deafah. Dari hotel ini hanya rombongan jama’ah umroh kami saja, maklum kami terlambat ikut sholat jamaah di masjidil haram.

Kami yang Bapak2 semua sudah berpakaian ihram, ibu2 ada yang mengenakan mukena putih ada juga yang menggenakann mukena hitam. Ustad Rofi’i terus membimbing kami mengucapkan kalimat talbiyah. Jarak antara hotel dengan masjidil haram tidak terlalu jauh, sekitar 500-700m saja. Naik bis tidak lebih dari 5 menit saja. Saya lihat ke arah luar. Dari kejauhan menara masjid sudah terlihat. Kami melewati bagian perluasan masjid yang belum jadi. Setelah tanjakan sedikit, lalu jalan menurun. Pelataran masjidil haram sudah terlihat. Hati berdegub keras serasa tidak percaya bahwa kami akhirnya sampai juga ke Makkah.

Bis berhenti tidak jauh dari pertigaan dekat pelataran masjid. Kami semua turun dengan tertib sambil mulut masing2 melafalkan kalimat talbiyah. Ustad Rofi’i berjalan di depan dan kami mengikutinya dari belakang. Saya gandeng tangan Umminya Royan erat-erat. Pak Gunawan dan Pak Totok berjalan di depan saya. Pak Soleh dan istrinya di belakang saya. Posisi kami ditengah2 jama’ah.

Kami melewati polisi yang berjaga di pertigaan. Jalan terus ditutup, sehingga mobil2 yang sebagian taksi dan bis harus berbelok balik ke arah bawah. Jalan ini macet dan ramai. Sesekali ada bunyi klakson taksi dan klakson bis. Setelah melewati aspal, kami melangkah menuju ke pelataran masjid yang tersusun dari lantai marmer putih. Ada semacam gedung kecil kotak dan di atasnya terlulis ‘EXIT 4’, ditulis juga dalam bahasa arab. Kami berjalan terus, melewati tempat wudhu untuk laki2 dan tempat orang minum. Di depan kami gerbang masjidil haram yang megah sudah terlihat. Di seberangnya berdiri kokoh Zam-Zam Tower yang terkenal itu. Di bagian atasnya adalah jam besar. Jam menunjukkan pukul satu siang lebih sedikit.

Pelataran masjid ini sangat luas. Orang2 berpakaian ihram mulai banyak terlihat berjalan searah dengan jalan kami. Ada orang arab, orang berwajah India atau Pakistan, ada juga orang Turki, dan orang2 berwajah putih dengan mata agak sipit, mungkin jamaah dari Eropa Timur. Kami semakin dekat dengan gerbang masjid. Di salah satu pintunya tertulis Gate 70. Tapi ustad Rofi’i tidak mengajak kami masuk ke pintu itu.

“Kita masuk lewat pintu khusus untuk jamaah umroh,” kata ustad Rofi’i memberi aba2 pada kami.

Kami pun melangkah mengikuti di belakang beliau. Kami berjalan terus mendekat ke arah Zam-Zam Tower. Melewati gerbang besar dengan dua menara yang mengapitnya. Tapi kita masih berjalan terus. Sampailah kita di pntu yang dijaga beberapa orang askar. Jama’ah diminta melepas sandal dan memasukkannnya ke dalam kantong plastik lalu menyimpannya di tas kecil yang kita bawa. Suasana hari ini benar-benar ramai. Pintu masuk untuk umroh ini kecil saja, membuat orang3 berdesak2kan untuk masuk.

Askar2 itu berjaga2 sambil matanya tajam mengawasi setiap jamaah yang mau masuk. Ada juga beberapa orang petugas berpakaian gamis putih dan menggunakan rompi coklat. Mereka mengawasi tas dan bawaan para jama’ah. Jika ada jamaah yang membawa bungkusan besar atau tas besar akan di hentikan dan diperiksa bawaannya. Tas yang besar tidak boleh di bawa masuk. Tas itu harus ditinggal atau dititipkan di tempat penitipan.

Terus terang, perasaan kami antara percaya dan tidak percaya, antara mimpi dan kenyataan. Hati terasa diaduk; haru, sedih, gembira, menjadi satu. Saya pegang erat tangan Umminya Royan, samping saya Pak Gunawan, Pak Totok di depan saya. Ustad Rofi’i yang agak pendek tertutup oleh jamaah yang lain. Kalimat talbiyah terus terucap dari mulut kami. Bersahut2tan dengan jamaah lain.

Masjid ini benar2 megah. Langit2ya tinggi dan semuanya terbuat dari batuan alam. Kami belum bisa melihat Ka’bah. Kami berjalan pelan2 sambil berdesak2kan. Semuanya dengan wajah terharu dan tidak sabar ingin melihat Ka’bah. Kami berjalan terus dan berbelok dua kali. Di beberapa bagian masjid ini ditutup dan tidak boleh dilewati karena sedang ada renovasi, mungkin karena itu jama’ah harus berjalan sedikit memutar.

Meski jama’ah penuh sejak, suasana di dalam masjidilharam terasa dingin. Banyak kipas yang ada di atas kepala kami. Kipasnya berukuran besar dan hanya berjarak sekitar 1,5m dari atas kepala jama’ah. Di beberapa tiang ada kipas2 yang lebih kecil yang menempel dan mengarah ke bawah. Di bagian bawah setiap tiangnya juga terasa udara dingin yang berhembus. Udaranya lebih dingin daripada di puncak. Saya pun terasa kedinginan.

Lampu2 gantung besar mengantung di langit2 masjidil haram. Ada lampu2 lain yang menempel di dinding dan melingkar di tiang2 masjid. Suasana di dalam majid ini terang benderang.

Setelah berjalan beberapa lama, di depan kami ada tangga menuju ke lantai bawah. Di tengah2nya ada dua eksalator (tanga berjalan). Jamaah berduyun2 ke bawah. Di lantai bawah ini lah kami bisa melihat langit luar dan cahaya matahari yang cerah. Dari kejauhan, di atas kerumunan orang2 itu di depan kami mulai terlihat bagunan kotak berwarna hitam. Ya…. itulah bagian atas Ka’bah yang kami rindukan.

Tanpa teras air mata kami tumpah seketika. Do’a-do’a, kalimat2 pujian meluncur dari mulut kami. Hampir semua wajah-wajah itu berlinang air mata. Kami berjalan masih berdesak-desakan. Ustad Rofi’i sesekali menengok ke belakang untuk melihat jamaahnya. Kami masuk dari rukun Yamani.

Tangan kanan saya memeluk istri saya. Saya pegang erat-erat. Tangan kanan saya pegangan dengan tangan Pak Gunawan. Istri Pak Soleh pegangan tangah istri saya, Pak Soleh di belakangnya. Pak Totok dibelakang sendiri. Kami bergandengan seperti ular yang berada di lautan manusia.

Tidak ada mata yang tidak mengucurkan air mata. Tidak ada mulut yang tidak basah berdzikir.

Ya …Robb kami penuhi panggilanmu

Kisah-kisah di ArasoE: Digrebeg Orang Bugis

Bruk….doorrrr…dorr…bruk…..

“Keluar…!!!!!”

Terperanjat saya. Suara pintu depan rumah digedor-gedor orang.

Waktu itu saya sedang tidur-tiduran kecapekan dan hanya pakai celana kolor saja. Sore tadi selepas sholat asar saya dan kawan saya Yogo berenang di Pemandian Bilqis, desa Tempe. Entah berapa lama saya berenang tanpa henti mengelilingi kolam renang itu. Hampir satu jam kira2. Selesai berenang badan capek dan perut lapar.

Saya membonceng Yogo naik si hitam motor Honda Win kesayangan. Biasanya saya yang di depan, tapi karena capek, saya minta Yogo yang di depan.

Hari ini ada pertandingan bola di ArasoE. Panitia meminjam lapangan bola yang kebetulan letaknya di depan rumah S13 yang saya tempati. Siang tadi, salah seorang staff TU yang minta ijin pinjam ruangan mess untuk ganti baju pemain bola. Saya persilahkan, karena memang ruangan mess cukup luas dan tidak masalah bagi saya kalau hanya sekedar ganti baju.

Jam 2 lapangan mulai ramai. Pertandingan pertama dimulai. Pintu rumah terbuka lebar. Beberapa orang sudah masuk ke rumah untuk menaruh tas dan ganti baju.

Siang ini saya sudah janjian dengan Yogo untuk berenang. Selepas sholat asar saya dan Yogo berangkat ke Tempe. Kolam renang sepi. Hanya saya dan Yogo saja yang berenang. Kolam renang seperti milik kita berdua.

Saya pemanasan sebentar. Lalu nyebur ke air. Berenang pendek dulu gaya bebas untuk memanaskan otot-otot badan. Kemudian saya mulai berenang gaya cebong mengelilingi kolam renang berlawanan arah dengan jarum jam. Seperti arahnya orang tawaf. Renang terus sampai teler. Saya berenang 12 putaran lebih, hampir satu jam tanpa henti.

Singkat cerita, waktu sampai ke komplek, lapangan bola masih ramai. Di rumah banyak motor2 yang diparkir. Ada beberapa mobil juga yang diparkir di halaman rumah.

Turun dari motor, ketika mau masuk rumah, terkejut saya. Rumah kotor sekali. Banyak sampah berserakan di mana2. Gelas air mineral, bungkus rokok, kulit pisang, bekas makanan. Berceceran di mana-mana. Darah saya naik…..

Kebetulan ada bapak mess 9, Pak Salim bapak penjaga mess 9, saya panggil dia. Saya tanya:

“Pak Salim punya nomornya Pak Taring?”

“Nggak ada, di”

Ada Bu Salim dan Mbak Nana. Kebetulan mereka punya nomornya Pak Taring. Saya minta untuk ditelponnkan Pak Taring.

“Assalamu’alaikum, Pak Taring”

“Wa’alaikum salam,” jawaban dari seberang telepon.

“Ini Isroi yang tinggal di S13. Maaf, Pak Taring. Rumah saya kotor sekali. Banyak sampah di mana-mana. Bahkan, ada motor di taruh di dalam rumah. Bagaimana ini, Pak Taring?”

“Iyek…Pak, sebentar saya ke sana..”

“Ke sini ya, Pak?”

“Iyek….Pak.. sebentar saya ke sana,” ulanginya lagi untuk meyakinkan saya.

Saya masuk rumah. Bau rokok menyengat. Plus, bau sisa-sisa makanan. Saya masuk kamar dan siap2 mandi. Masjid sudah tilawah tanda menjelang masuk waktu magrib.

Pertandingan baru selesai. Para pemain masuk ke rumah untuk ganti baju. Meski sedikit jengkel, saya biarkan mereka. Saya masih percaya kalau panitia akan bertanggung jawab. Selepas sholat magrib. Pemain sudah kosong. Lapangan sudah sepi. Rumah masih berantakan.

Pak Taring yang janji mau datang tidak kelihatan batang hidungnya. Saya mulai senewen. Darah saya naik lagi. Saya telpon lagi pak Taring. Telponnya nggak aktif. Saya ulangi lagi beberapa kali. Nihil.

Lalu saya telepon Pak Ka TU. Saya laporkan perihal ini dan saya sampaikan juga kalau saya tidak bisa terima rumah saya kotor sekali. Ditambah ada motor ditaruh di dalam rumah tanpa ijin.

Pak Ka TU bilang, “Kenapa dikasih ijin, Pak? Jangan. Itu bukan kegiatan perusahaan.”

“Yang bilang ke saya Pak Taring, staff bapak. Saya pikir dari PG.”

“Bukan, Pak. Itu urusan pribadi. Jangan boleh, Pak.”

“Baik, Pak. Saya bilang ke Pak Taring.”

Adzan isya’ saya ke masjid. Saya ke Mess S9 untuk makan malam. Saya telp Pak Taring lagi. Nggak diangkat. Tambah emosi saya.

Lalu saya tanya ke kawan2 di mess. Rumah pak Taring di mana? Siapa yang dekat dengan rumahnya?

Adi, karyawan keuangan yang dulu tinggal di S13 rumahnya dekat dengan Pak Taring.

Saya minta untuk ditelponkan Adi. Saya minta ke Adi untuk memberitahu Pak Taring agar segera ke rumah S13. Saya minta tanggungjawabnya. Rumah seperti tempat sampah dan entah motor siapa yang ditaruh di dalam rumah. Minta tolong kasih tahu yang punya motor untuk mengeluarkannya. Kalau tidak motornya saya buang. Ancam saya.

Di S9 saya cukup lama. Karena capek. Saya pulamg. Amarah masih membara di dada. Kalau Pak Taring tidak datang, motor itu benar2 saya keluarkan dari rumah.

Saya tlp sekali lagi ke Pak Taring. Nihil. Darah saya naik semakin tinggi. Saya ajak temen2 untuk mengeluarkan motor dari rumah.

Ada salah satu karyawan risbang yang datang membantu. Kebetulan dia kenal dengan yang punya motor. Di telpon yang punya motor itu. Saya minta telponnya. Dengan nada tinggi, karena sudah jengkel sekali. Saya bilang kalau motornya saya keluarkan dari rumah, segera ambil, saya tidak bertanggungjawab kalau ada kerusakan.

Saya masuk rumah dan mulai memejamkan mata.

Antara sadar dan tidak sadar, pintu rumah digedor-gedor orang. Orang teriak dari luar.

Saya loncat, hanya pakai celaka kolor saja saya keluar. Saya coba buka pintu. Nggak bisa. Pintu terkunci. Ada beberapa orang masuk ke halaman rumah. Menunjuk saya dan mengancam saya untuk keluar rumah.

Saya kembali masuk kamar. Saya pakai celana, baju dan ambil kunci.

Saya buka pintu. Rumah sudah ramai orang. Satu orang emosi ngajak berantem. Mereka ramai-ramai. Banyak pemuda datang. Sebagian saya kenal.

Saya bukan orang penakut dan tidak takut. Emosi saya jadi ikutan naik.

Pak Kepala Desa hadir. Pak Taring juga ada. Beberapa orang lagi menghalangi saya dan menahan orang emosional itu.

Tak berapa lama sekuriti datang. Brimob juga ada.

Debat pun semakin panas. Kepala saya semakin panas juga jadinya. Saya jelaskan kronologinya. Pak Taring mengelak dan selalu ‘ngeles’. Tambah naik darah saya. Orang semakin ramai dan suasana mulai panas.

Pak Kepala Desa yang bijaksana meredam suasana. Pak Polisi ikut mendinginkan suasana.

Berangsur-angsur reda. Perlahan mereka bubar. Beberapa sekuriti masih berjaga di depan rumah.

***
Esok hari saya ke kebun seperti biasa. Kali ini saya update data capaian kebun. Badan saya masih terasa capek, kerena habis berenang kemarin. Ketika matahari mulai naik, saya ke kebun Lompu dengan Ai (Suaib, tapi panggilannya Ai). Selesai dari Lompu saya ke Talaga. Singgah melepas dahaga di pondok kantor Rayon Barat di Talaga. Lalu saya lanjut ke Walenreng. Di sana ketemu dengan mandor Pak Iskandar. Duduk-duduk di gubuk tengah kebun. Udara yang semilir membua mata saya jadi berat. Saya memejamkan mata sebentar melepas rasa kantuk yang berat. Matahari sudah lewat dari ubun-ubun ketika saya bangun. Saya dan Ai beranjak pulang.

Di tengah jalan, Yogo kirim WA menanyakan posisi saya di mana?

Sampailah saya di Mess S9 untuk makan siang. Di mess ternyata sudah ada Bapak Kelapa Desa Arasoe. Kita ngobrol santai sambil minum kopi di ruangan dapur belakang. Ngobrol ngalor ngidul macam-macam. Ngobrol tentang pengombatan Korea, orang Bugis, Janitri sampai ke batu akik. He…he…he…

Setelah suasana mencair, saya sampaikan permintaan maaf saya ke Pak Kepala Desa, kalau semalam saya emosional karena terpancing juga. Untung ada Pak Kepala Desa yang sangat disegani dan sudah 18 tahun jadi kepala desa. Puang menceritakan kronologi versi Beliau.

Terungkaplah, ketika saya telp berkali-kali ke Pak Taring dan tidak diangkat atau dijawab. Ternyata dia yang mendatangi pemuda ArasoE. Entah apa yang dia ceritakan. Singkat cerita, pemuda-pemuda itu marah dan berkumpul untuk ‘menyerbu’ rumah S13. Untung ada kepala dusun yang tahu dan memberitahukan ke Puang Kepala Desa ArasoE.

Puang Kepala Desa sangat disegani di ArasoE. Apa yang dia bilang akan diikuti oleh warga desa, termasuk pemuda-pemuda desa. Dia bilang, masalah sudah clear, pentolan pemuda ArasoE adalah anaknya. Dia sendiri yang akan memberitahukan ke anaknya.

***

Saya tidak ingin cari musuh di ArasoE ini. Saya cuma menjalankan tugas kerjaan. Saya ingin mencari teman sebanyak-banyaknya. Tapi, kalau saya dilecehkan dan diintimidasi saya juga tidak terima. Saya tidak takut, meski saya kalah jumlah dan mungkin akan babak belur. Saya berani karena saya yakin tidak salah.

Semoga masalah ini selesai sampai malam ini saja. Besok membuka lembaran baru. Tambah teman, tambah sahabat, tambah saudara.

Aamiin.

Doa-doa Perlindungan agar Aman dari Gangguan Jin

Gara-gara banyak kejadian orang kesurupan di kebun dan tempat-tempat angker di sekitar kebun tebu, seperti yang sudah saya ceritakan di sebelumnya:

Saya jadi ingat tentang doa-doa perlindungan.

Jin, syetan dan sebangsanya adalah nyata meskipun tidak terlihat mata. Mereka adalah salah satu mahluk Allah yang juga tinggal di bumi ini. Mereka tingga bersama manusia di bumi ini. Mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Mereka juga bisa mengganggu dan mencelakai kita.

Rasulullah banyak mengajarkan tentang do’a-do’a dan dzikir untuk melindungi kita dari gangguan dan godaan jin dan syetan itu. Salah satu dzikir yang banyak diamalkan oleh orang muslim adalah doa-doa pagi hari dan sore hari. Ada banyak buku panduan doa-doa pagi hari dan sore hari. Salah satu yang banyak dipakai adalah Al Maktruroh Pagi dan Petang. Kalau kita baca di keterangan hadist dan penjelasannya, sebagian besar dzikir pagi dan petang itu adalah doa-doa perlindungan. Dzikir-dzikir ini juga dipakai untuk meruqyah orang yang kemasuan jin. 

Bacaan dzikir yang paling mudah adalah membaca ta’awudz. Semua orang muslim pasti hafal dzikir ini. 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A’udzubillahi minas syaitonir rojim”

Artinya, “Abu berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.”

Dzikir-dzikir itu antara lain adalah dzikir Al Qur’an: Surat Al Fatihah, Surat Al Baqoroh, Surat Al Ikhlas, Surat Al Falaq dan Surat Annas. Lalu dizkir yang saya sampaikan di postingan ini doa pagi dan sore:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Bismillahilladzi La Yadhurru Ma’asmihi Syai’un fil Ardhi wa Laa fis Sama’i wa Huwas Sami’ul ‘Alim.”

Artinya: “Dengan nama Allah Yang bersama NamaNya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Medengar lagi maha Mengetahui.”

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“A’udzu bikalimatillahi taammah min syarri maa khalaq.”

Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa-apa yang Dia ciptakan.” Keutamaannya: Barangsiapa membaca (doa di atas) Maka dia tidak akan dicelakakan oleh gigitan beracun pada malam itu. Diriwayatkan (1) At Tirmidzi No. 3605, 

Ada satu dzikir lagi yang saya dapatkan dari kitab-nya Syekh Al Qothoni, yaitu dzikir no. 126 tentang Bacaan untuk Menolak Gangguan Syetan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ اَلتِي لاَ يُجَاوِزُهُنَ بِرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ

A’uzu bikalimatillahit tammatil lati la yujawizuhunna birrun wala fajirun min syarri ma kholaqa wa zaro-a wa baro-a wamin syarri ma yanzilu minas sama-i wamin syarri ma ya’ruju fihaa wamin syarri fitanil lail wan nahaari wamin syarri kulli thoriqin illa thoriqoy yathruqu bikhoirin ya rohman.

“Aku berlindung dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Sempurna, yang tidak melebihi batas antara kebaikan dan keburukan dari kejahatan apa yang telah Dia ciptakan, dari kejahatan apa-apa yang turun dan naik ke langit,  dari kejahatan apa-apa yang tumbuh dan keluar dari bumi, dari kejahatan ujian malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang berjalan kecuali dia berjalan membawa kebaikan, wahai  Maha Pengasih.”

Pengalaman-pengalaman selama di ArasoE ini semakin membuat saya lebih banyak berdzikir. Terutama ketika ke kebun atau ke tempat-tempat lain yang baru pertama saya datangi dan belum saya kenal. Minimal saya lebih menjaga adab-adab agar tidak menganggu apa saja yang ada di situ. 
Ya…minimal membaca ta’awudz.
 
Semoga bermanfaat.

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16

Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali

Meski di tawaf sunnah kedua saya sudah berhasil mengusap hajar aswad, saya belum merasa puas. Karena saya belum bisa benar-benar memasukkan kepala ke dalam lubang hajar aswad dan mencium batu hitam itu. Dalam hati kecil saya, keinginan saya untuk mencium hajar aswad tetap membara. Saya pun mengajak istri saya untuk mencoba mencium hajar aswad lagi di lain waktu.

Setelah makan pagi, saya merasa kuat dan cuaca cukup cerah. Saya ajak istri saya untuk mencoba ke hajar aswad lagi. Istri saya setuju. Kami pun bersiap-siap untuk mencium hajar aswad itu lagi. Saya berpakaian ihram dan istri saya menggenakan baju hitam dan kerudung hitam besar. Seperti biasa, kami berangkat ke masjid dengan naik bis hotel.

Jam besar di zam-zam tower menunjukkan pukul 9 kurang. Cuaca cerah dan cenderung panas. Saya lihat papan penunjuk di depan gerbang Raja Fahd menunjukkan suhu 32oC. Lumayan panas. Meski panas teris sekali, anehnya marmer di pelataran masjidil haram tidak terasa panas. Malah terasa dingin. Aneh.

Di Bogor ada juga masjid yang semuanya dilapisi marmer. Tapi pelataran luarnya panas luar biasa kalau terpapar terik matahari. Pikiran saya tidak bisa memahami bagaimana marmer di masjidil haram ini, yang sedemikian luas ini, bisa tetap dingin di cuaca yang sangat panas dan terik ini.

Sejak keluar hotel, kami menguatkan niat agar bisa mencium hajar aswad. Sepajang pejalanan di dalam bis, saya tidak pernah putus bersholawat. Demikian pula ketika masuk ke masjid. Setelah membaca doa masuk masjid, kami selalu bersholawat atas Nabi. Bersholawat dan terus berjalan sampai di rukun Yamani. Pelataran tawaf tetap ramai meski kondisinya terik. Memang tidak pepenuh dan sepadat ketika malam hari. Mungkin orang-orang lebih banyak menghindar di cuaca yang bisa membuat kepala pening seperti ini.

Kami merangsek agak ke tengah. Kami mulai tawaf dari posisi hajar aswad di lingkaran dalam. Jaraknya sekitar lima lapis orang dari hajar aswad. Hajar aswad tetap dipenuhi orang yang berjubel-jubel ingin menciumnya.

“Bismillahi Allahuakbar…..”, kami lambaikan tangan dan menciumnya.

Baru beberapa langkah kami mendekat ke multazam. Subhanallah. Dalam pandangan kami multazam kosong. Hanya satu lapis orang saja yang sedang menempel di dinding multazam.

“Ayo, Mi….!”

Saya tarik istri saya ke multazam. Di depan kami ada bapak-bapak yang sedang menangis dan bertafakur di dinding multazam. Kami berdiri tepat di bawah askar yang menjaga hajar aswad. Dinding multazam hanya cukup untuk tiga orang saja. Semuanya penuh. Bibir kami tak henti-hentinya bersholawat. Terus bersholawat sambil berdoa di dalam hati.

Tiba-tiba, tangan askar itu menarik orang yang ada di depan kami. Istr saya langsung saya dorong maju dan naik satu batu dan menempel tetap di dinding multazam. Tangan istri saya bergelantungan di kiswah penutup Ka’bah. Saya masih belum bisa ke multazam, karena masih terhalang satu orang lagi. Tak lama berselang, orang itu mundur dan gantian saya yang maju menempel ke multazam. Saya tempelkan seluruh badan saya, dada saya, pipi kanan saya dan tangan saya menegadah menempel ke dinding multazam. Mata air kami tumpah sejadi-jadinya. Hati bergemuruh hebat. Meluap-luap dan meletup-letup tidak terhaankan. Saya panjatkan do’a-do’a saya. Saya baca istigfar, sayidul istigfar, doa nabi yunus ketika diperut ikan paus. Semua doa dan harapan saya panjatkan. Saya sebutkan nama emak saya, nama bapak saya, nama anak-anak saya, nama adik saya, nama kakak saya dan nama saudara-saudara saya. Saya sebutkan semua dan saya sampaikan semua titipan do’anya. Saya berdoa sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami berada di multazam. Waktu serasa berhenti dan kami kehilangan orientasi waktu untuk sesaat. Sampai akhirnya, istri saya mengingatkan saya untuk mundur dan memberi kesempatan kepada jama’ah lainnya yang ada di belakang kami. Kami pun berjalan mundur. Saya pegang erat tangan istri saya, saya peluk kuat-kuat.

Jarak multazam dan hajar aswad sangat dekat. Hanya beberapa langkah saja. Ketika kami mundur itu, saya lihat hajar aswad sepi. Hanya satu atau dua lapis orang saja dan tidak tampak berdesak-desakan seperti sebelumnya.

“Hajar aswad lagi, Mi…. Langsung..!”

Saya tarik istri saya menuju hajar aswad. Di depan kami ada ibu-ibu dari Indonesia yang juga mengantri ingin mencium hajar aswad. Posisinya di depan kami.Kami merangsek ke depan pelan-pelan. Meski berdesak-desakan, kali ini tidak seramai sebelumnya. Sampai akhirnya jarak kami dengan hajar aswad hanya beberapa langkah lagi. Ibu-ibu di depan saya tergencet dari depan. Saya tahan dari belakang. Pelan-pelan kami maju terus. Bapak-bapak saling sikut berebut untuk bisa mencium hajar aswad. Sampai akhirnya tinggal satu lapir orang lagi. Begitu orang yang mencium hajar aswad berbalik, saya segera dorong ibu-ibu itu maju. Posisinya tepat di depan hajar aswad dan bisa mencium hajar aswad. Saya mengikuti dari belakang sambil memeluk istri saya dengan tangan kanan. Tangan kiri saya berpegangan pada bibir hajar aswad.

Ibu-ibu itu berbeger ke kanan. Sesaat hajar aswad terlihat lowong. Saya mencoba untuk maju, tapi susah sekali. Orang-orang laki-laki yang dari sisi kiri juga tidak bisa masuk. Saya berteriak keras: “Allahuakbar….!!!!””””
Saya merengsek ke depan dan seperti mimpi, hajar aswad di depan mata saya. Saya cium sepuas-puasnya hajar asawad itu.

Setelah seluruh bagian dalam hajar aswad saya cium, saya menegakkan badan. Tiba-tiba dari samping orang sudah berdesakan mau masuk. Saya tarik tangan istri saya agar bisa mendekat ke hajar aswad. Rupanya sudah orang lain yang lebih dulu ke hajar aswad. Istri saya terhalang oleh ibu-ibu yang ada di depan saya tadi. Tangan istri saya tetap saya tarik agar bisa masuk, minimal mengusap hajar aswad.

Ibu-ibu yang ada depan saya tadi posisinya sekarang tergencet di bawah askar. Dia bersaha keras untuk berbalik, tetapi tidak bisa. Justru semakin tergencet dari samping dan belakang. Saya dan istri saya berbeser ke kanan. Saya teriak ke ibu itu:

“Jangan berbalik, Bu. Tidak bisa. Mundur saja pelan-pelan.”

Saya tarik bahunya. Seperti ketika pertama kali mencium hajar aswad, tangan kirim saya memeluk istri saya dan menariknya ke belakang. Tangan kanan saya raih bahu ibu-ibu itu dan saya tarik ke belakang. Dengan susah payah, kami pelan-pelan mundur ke belakang mencari tempat yang lebih longgar. Akhirnya, kami pun bisa lepas dari kerumuman orang-orang yang ingin mencium hajar aswad itu. Ibu-ibu itu langsung berbalik dan memeluk erat istri saya. Mereka berdua menangis sesenggukan, entah apa yang dirasakan si Ibu itu. Mungkin si Ibu itu terharu bisa mencium hajar aswad. Mungkin bersyukur karena selamat dari gencetan orang-orang yang ingin mencium hajar aswad.

Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya dilepaskan pelukan itu. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada kami.

“Ibu masih ingat rombonganan, Ibu?” tanya saya.

Dia mengangguk sambil mengucapkan, “Masih.”

“Ibu bisa pulang sendiri?”

“Bisa…”

“Semoga kita bertemu lagi, Bu. Assalamu’alaikum.”

Lalu kami melanjutan tawaf kami yang tertunda. Saya sudah tidak lihat lagi ibu-ibu tadi. Dia menghilang dikerumuman orang-orang yang sedang tawaf.

Di putaran ketiga, kami mendekat ke hijr Ismail. Kali ini, pintu hijr ismail seperti terbuka kembali untuk kami. Kami pun masuk lagi ke dalam hijr Ismail. Sholat sunnah seperti ketika pertama kali masuk ke sini. Ketika keluar kami pun bermunajat di dinding Ka’bah.

Kami lanjutkan tawaf sampai putaran ke tujuh. Di putaran ketujuh kami menuju arah luar. Sholat dua rakaat di tempat yang sudah disediakan untuk sholat dan minum air zam-zam.

Kami berada di masjidil haram sampai sholat dhuhur dan baru kembali ke hotel untuk makan siang selepas sholat dhuhur.

Hari ini kami puas sekali, karena bisa mencium hajar aswad, berdoa di multazam dan sholat lagi di dalam hijr Ismail.

Alhamdulillah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
15. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
16. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13

Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam

Sekitar jam 2 malam kami sudah bangun. Saya ketuk pintu kamar istri saya. Kamar kami dipisah, laki-laki dengan laki-laki satu kamar dan perempuan dengan perempuan di kamar yang lain. Saya memberitahu istri saya agar bersiap-siap menuju ke Ka’bah lagi. Kami, yang bapak-bapak berpakaian ihram. Karena yang boleh berada di area tawaf hanya yang berpakaian ihram saja.

Kamar samping saya dihuni ibu-ibu dari rombongan jember. Mereka ternyata juga tidak tidur.

“Mau ke mana, nak?” tanya salah satu nenek-nenek.
“Insya Allah, kami mau tawaf lagi.” jawab saya singkat.

“Mau nyium hajar aswad,ya?” tanya nenek-nenek yang lain dengan logat maduranya.

“Insya Allah, Mbah.”

“Saya juga pingin, boleh ikut bareng?”

“Saget, Mbak. Ikut bareng kami saja.”

Ada satu orang nenek yang ingin ikut. Namanya, Mbak Arstuti. Usianya 67 tahun berasal dari Bondowoso. Nenek Arstuti berangkat sendiri dan dititipkan ke rombongannya Mas Sugiono. Ada satu lagi nenek-nenek dari Surabaya. Usianya mungkin lebih tua dari Mbak Arstuti dan jalanya sedikit payah. Nenek ini berangkat bersama dengan anak-nya.

“Saya juga pingin ikut, tapi anak saya masih tidur. Katanya kecapaian.”

“Nanti saja, Mbak. Bareng dengan anak sampeyan saya. Saya tidak berani kalau ada apa-apa nanti.” kata saya.

Akhirnya, hanya Mbah Arstuti yang ikut kami tawaf malam ini. Kami serombongan bertujuh menuju ke masjidil haram naik bis hotel. Turun dari bis jalanan terlihat lebih sepi daripada malam tadi. Sesepi-sepinya masjidil haram tetap saja ramai orang. Kami masuk melalui pintu yang memang dikhususkan untuk orang yang akan umroh dan berpakaian ihrom. Istri saya selalu bersama dengan Mbah Arstuti. Dan saya menjaga mereka berdua. Pak Totok dan Pak Gunawan berjalan beriringan. Pak Soleh dan Istrinya juga berjalan beriringan.

Kami masuk dari sisi rukun yamani menuju ke rukun hajar aswad. Kami memulai tawaf seperti biasanya. Putaran pertama kami belum berhasil mendekat. Lanjut ke putaran kedua. Di putaran ini belum berhasil mendekat juga. Di putaran ketiga kami terpisah. Saya hanya bertiga; saya, istri saya dan Mbah Arstuti. Kewajiban saya untuk menjaga kedua wanita ini. Mbah Arstuti tumbuhnya pendek dan badannya kecil. Tapi, semangatnya kuat sekali untuk bisa mencium hajar aswad. Jadi selama tawaf berkeliling Ka’bah, saya berada ditengah sedikit di belakang mereka.

Di putara ketiga ini kami mendekat ke Ka’bah. Di depan hajar aswad penuh sekali orang. Berdesak-desakan luar biasa. Mbah Arstuti saya pegang dengan tangan kiri dan istri saya dengan tangan kanan saya. Kita mengikuti arus mendekat ke arah hajar aswad dari sisi multazam. Jadi bertentangan dengan arus orang yang sedang tawaf. Kami tepat di depan multazam. Orang-orang berdesak-desakan luar biasa. Saya lihat Mbah Arstuti tetap bersemangat dan tetap melafalkan dizkir dan sholawat. Saya pun bertambah bersemangat dan berdzikir lebih keras lagi.

Ketika berdesak-desakan itu ada bapak-bapak yang menegur saya:
“Dibantu-dibantu….!!!!” katanya dengan logat madura yang kental.
Rupanya benar kata orang-orang, untuk mencium hajar aswad ada calo-nya juga. Saya sudah diwanti-wanti oleh Ustad Rofi’i kalau jangan mau kalau ditawari bantuan. Karena kalau berhasil mereka minta uang besar sekali. Harganya tidak hitungan. Ada yang bilang 1000 riyal, 1500 riyal atau 500 riyal. Uang yang banyak sekali itu.
“Tidak….Tidak…..”, jawab saya tegas dan singkat.

Tidak cuma sekali saya ditawari. Tapi berkali-kali oleh orang-orang yang berbeda. Mafia dan calo ini memang nyata adanya.

Kami terombang-ambing mengikuti gelombang gerakan orang-orang. Entah berapa lama, saya sudah tidak ingat lagi. Jarak kami dengan dinding Ka’bah kira-kira tiga lapis orang. Kebetulan dua lapis di depan kami sebagian besar adalah ibu-ibu. Dalam posisi terjepit ini kami melatunkan sholawat terus dan berdzikir terus. Saya perhatikan orang-orang ini. Rupanya mereka ini adalah sekelompok sindikat mafia hajar aswad. Saya bisa tahu karena mereka saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan bahasa madura. Meski saya tidak bisa dan tidak tahu bahasa Madura.

Ada seorang ibu-ibu muda yang sedang dibantu calo. Bapak-bapak di belakang saya memberi arahan.
“Maju terus….”
“Jalan lawan arus…ikuti saja”
“Maju lagi….geser ke depan.”
“Tahan….jangan mundur…”

Ooo…. ini ketua mafia-nya, pikir saya dalam hati.

Di bagian paling depan, tepat di samping hajar aswad ada perepuan arab (mungkin), perawakan besar sekali, tangannya besar, badannya besar. Meski di samping hajar aswad, perempuan ini seperti tidak ingin mencium hajar aswad. Kerjaannya memukul kepala laki-laki yang ada di depannya dan memberi jalan bagi orang-orang yang ada di belakangnya. Wah…. calo juga nih sepertinya.
Oleh askar yang menjaga hajar aswad perempuan ini dimarah-marahi. Sayang saya tidak bisa bahasa arab, jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Kami terus merengsek ke depan. Badan tergencet. Saya lihat nenek Arstuti tetap semangat meski badanya kecepit. Istri saya nafasnya sudah terengah-engah dan mau menyerah.
“Kita di depan multazam. Berdoa’ terus. Sholawat terus. MInta sama Allah agar kita bisa mencium hajar aswad,” kata saya ke mereka berdua.

Mereka berdua saya peluk kuat-kuat. Dorongan dari belakang saya keras. Dari depan tidak kalau kerasnya lagi. Perjuangan yang luar biasa. Ibaratnya kita tidak bisa maju tidak bisa mundur. Tergencet di tengah-tengah.

Ibu-ibu muda yang dibantu calo tidak kalah parahnya. Posisinya sekarang tepat di depan kami. Dia sudah sangat kepayahan. Dia berteriak-teriak minta tolong dan mau menyerah.

“Maju terus…. sedikit lagi….Jangan menyerah”, begitu aba-aba dari pimpinan calo di belakang saya. Tepat persis di telinga saya ngomongnya.

Suasana semakin tidak terkendali. Ibu-ibu arab gede besar itu sikut sana sikut sini membuka celah. Termasuk nenek Arstuti kena sikut ibu-ibu itu. Arus dari depan sangat kuat. Mereka bapak-bapak orang arab yang tinggi besar, orang-orang dari Afrika dan dari India yang juga ingin mencium hajar aswad. Dorongannya sangat kuat. Kami terlempar ke luar karena tidak sanggup menahan dorongan itu. Ibu-ibu yang dibantu calo kembali berteriak menyerah. Kerudungnya sampai tertarik lepas dari kepalanya. Wajahnya memerah dan kelihatan kesakitan sekali.

Tiba-tiba dari arah depan, Ibu-ibu Arab itu sikut sana-sikut sini. Mungkin karena tidak kuat menahan dorongan dari depan, Ibu-ibu arab itu menyikut dan mendorong wajah saya. Saya pernah latihan pencak silat dulu, tahu bagaimana menangkis serangan semacam ini. Saya kibaskan tangan saya ke atas, sehingga tubuh ibu-ibu arab itu terlempar ke luar lewat samping saya.

Saya segera pegang kuat-kuat dua wanita yang saya lindungi. Saya dorong maju, hingga jarak kami dengan hajar aswad hanya tinggal satu orang lagi. Ada orang berambut gimbal yang mencium hajar aswad. Perasaan lama sekali dia menciumnya. Tiba-tiba tangan askar itu menarik kepala itu. Badannya sedikit bergeser ke belakang. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Nenek Arstuti saya dorong ke depan hajar aswad.

Alhamdulillah, nenek arstuti bisa masuk ke dalam hajar aswad. Tangan saya bertahan di besi pelindung hajar aswad, saya berusaha sekuat tenaga melindungi istri saya dan nenek ini. Saya tidak bisa mencium hajar aswad karena terhalang tubuh nenek arstuti. Tangan istri saya saya tarik agar bisa menyentuh hajar aswad. Tiba-tiba nenek arstuti terpeleset jatuh. Tangan saya masuk ke hajar aswad. Hajar aswad tepat di depan mata saya. Saya bisa melihat dengan jelas pecahan batu hitam itu. Tapi saya tidak bisa menciumnya, karena kalau saya mencium hajar aswad pasti menginjak nenek arstuti.

Nenek arstuti berteriak dan bertakbir “Allahu Akbar…..Allahu Akbar……Allahu Akbar….!!!!!””””
Tangannya melambai-lambai ke atas seperti minta pertolongongan. Saya terus berusaha melindungi beliau, karena dorongan dari belakang, kanan dan kiri sangat kuat sekali.
Saya pun berterik ke askar “Askar……Askar…..Askar…..!!!!!””””

Askar menoleh ke arah saya. Dia pun segera meraih tangan nenek arstuti dan mengankatnya ke belakang. Saya segera raih nenek arstuti dengan tangan kiri saya. Tangan kanan saya tetap memegang dan memeluk istri saya. Saya tarik mereka ke belakang. Saya berjalan mundur. Dari arah depan orang-orang segera merangsek lagi. Lalu kami pelan-pelan terlempar ke arah luar.

Perjuangan dan pengalaman yang luar biasa. Keringat kami bercucuran. Napas kami tersengal-sengal. Saya lihat wajah istri saya memerah berkeringan kecapaian. Nenek arstuti lebih parah lagi. Ternyata ketika berdesak-desakan tadi tas yang dibawa nenek Arstuti jatuh.

“Biarkan saja, Mbah….!” kata saya.

Kami pun melanjutkan lagi tawaf sampai tujuh putaran. Di lingkaran luar, saya ketemu dengan Pak Gunawan dan Pak Totok. Saya sampaikan ke mereka:
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mencium hajar aswad.”

Rupanya Pak Gunawan dan Pak Totok hanya bisa menempel di Multazam dan belum bisa mencium hajar aswad. Cerita kami ini ternyata menambah semangat Pak Gunawan dan Pak Totok untuk berusaha lebih keras agar bisa mencium hajar aswad. Tanpa sepengetahuan kami, mereka kembali lagi dan akhirnya berhasil juga mencium hajar aswad.

Padahal waktu itu suasana sangat ramai dan padat. Rasanya mustahil bisa mencium hajar aswad dalam suasana seperti ini.

Kami lalu menunggu sholat subuh dan berdzikir sampai waktu syurug. Setelah lewat syuruq kami sholat dua rokaat dan baru beranjak pulang ke hotel untuk sarapan.

***
Ruang makan adalah tempat berkumpul semua orang. Kami ceritakan pengalaman luar biasa kami pagi hari ini. Rupanya, cerita kami memberi inspirasi untuk teman-teman yang lain yang belum mencium hajar aswad. Malam berikutnya mereka ingin mencium hajar aswad dengan dibimbing oleh Ustad Rofi’i.

Esoknya Mbah Arstuti bercerita kalau badannya sakit semua. Di bawah mata kirinya ada lebam biru karena kena sikut orang. Tangan kanan dan kiri biru-biru semua. Kaminya juga biru. Mungkin terbentur waktu jatuh di depan hajar aswad ketika itu. Tapi Mbah Arstuti bangga karena bisa mencium hajar aswad. Biru di matanya malah menjadi pertanda perjuanganya ini. Saya jadi ingat Mak saya di kampung. Ketiak memeluk mereka berdua, yang saya ingat hanya emak saya di kampung. Saya selalu berdoa agar saya diberi kemampuan dan kekuatan untuk mengajak Mak saya pergi umroh. Insya Allah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Kisah-kisah di ArasoE: Kisah Pohon Kelapa di Kebun Tempei

Pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun Tempeh ini ternyata punya kisah seru.Lokasi tepatnya ada di Kebun Tempe IV blok 25.

Ketika saya lewat di kebun Tempe, ada yang menarik perhatian saya; yaitu: satu pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah-tengah kebun. Pohon kelapa ini benar-benar sendirian saja. Di area kebun yang luasnya beberapa puluh hektar ini tidak ada pohon lainnya. Pohon kelapa Jomblo.

Saya sangat ingin foto pohon kelapa ini, karena memang menarik bagi saya. Saya foto dari sisi kanan, sisi kiri, kadang-kadang dari timur atau dari barat, tergantung posisi matahari di saat itu. Nggak ada foto yang bagus.

Hari ini saya ketemu dengan SKW wilayah itu, Pak Rusli, yang beberapa hari sebelumnya di sengat lebah di kebun Tempeh (Baca kisahnya di sini: Pak Rusli diserang lebah). Saya tanya tentang pohon kelapa yang ada di tengah kebun Tempe ini. Lalu, Pak Rusli mulai menceritakan kisah pohon kelapa di tengah kebun ini.

Pohon kelapa ini pernah ditumbangkan dengan bulldoser sampai roboh. Keesok harinya, pagi-pagi ketika warga mulai berangkat ke kebun, orang-orang terkejut dan terheran-heran, karena pohon kelapa ini sudah berdiri tegak lagi. Aneh memang, tapi nyata.

Kebun tempeh ini memang terkenal angker di kalangan tenaga tebang tebu. Dulu tidak jauh dari lokasi pohon ini ada bangsal penebang. Bangsal atau pondok ini  semacam barak panjang yang jadi tempat tinggal sementara tenaga tebang. Posisinya ada di pojok kebun. Dalam satu bangsal ada ratusan orang penebang. Mereka datang dari jauh; Bulukumba, Palu, NTT, Jawa Timur atau Jawa Tenggah. Setiap musim tebang, di pondok ini selalu ada tenaga tebang yang meninggal. Hanya tahun 2019 ini saja tida ada tenaga penebang yang meninggal di kebun ini. Sekarang pondok ini sudah tidak ada, karena tidak ada yang mau menempatinya lagi.

Kejadian aneh-aneh juga sering terjadi di kebun ini. Beberapa waktu lalu ada kerjaan kletek daun tebu. Tujuannya kletek adalah untuk meningkatkan rendemen dan agar tebunya lebih ‘matang’. Selama pekerjaan itu dilakukan, ada empat tenaga buruh kletek yang kesurupan. Salah satu dari mereka menceritakan ke Pak Rusli, kalau ada orang tinggi besar dan hitam mencekik lehernya. Tenaga kerja kesurupan adalah hal biasa di kebun Tempeh ini. 

Ada kejadian lain lagi. Ada salah satu tenaga yang tidur-tiduran di bawah pohon kelapa itu. Cuaca yang panas dan terik, memang paling enak berteduh di bawah pohon. Angin semilir membuat mata menjadi berat. Orang ini tidur terus nggak bangun-bangun; tahu-tahu sudah meninggal.

Karena itu sekarang SKW pak Rusli selalu berpesan ke tenaga yang kerja di kebun Tempeh ini untuk banyak berdzikir ketika kerja, tidak banyak bercanda, tidak melakukan aktivitas yang aneh-aneh. Jangan sampai melamun, orang melamun gampang banget ‘kesambet’. 

Pak Rusli sendiri nggak pernah melihat sesuatu yang aneh di sekitar pohon ini. Sebagai sinder wilayah, kadang-kadang dia mesti keluar malam-malam untuk mengecek kebunnya. Keluar jam 2 malam. Biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hanya beberapa waktu lalu Pak Rusli kena musibah di serang lebah, tapi lokasinya agak jauh dari pohon kelapa ini.

Entah ‘dunia’ apa yang ada di sekitar pohon kelapa ini. Di mata saya hanya sebatang pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun.

Wallahua’lam.

Yang penasaran dengan lokasi pohonnya bisa lihat di google maps: https://goo.gl/maps/gzonv2bHudw96E4U8

Amalan sederhana agar harta kita tidak dicolong tuyul, babi ngepet dan sejenisnya

Jaman modern kok masih percaya tuyul dan babi ngepet…..?????!!!!!!

Percaya atau nggak, itu urusan masing-masing. Silahkan saja.

Di dunia timur, praktek-praktek sihir dengan bekerjasama dengan jin/setan adalah kebudayaan kuno. Sampai sekarang pun masih ada orang yang percaya dan mempratekkan sihir semacam ini. Orang-orang syirik semacam ini melakukan perjanjian dengan setan untuk mengambil harta mereka dengan cara-cara ‘ghoib’. Dalam istilah orang jawa; memelihara tuyul dan ilmu babi ngepet. Entah bagaimana caranya, jin-jin itu bisa masuk ke dalam rumah dan mengambil uang atau harta tanpa sepengatuan kita.

Memelihara tuyul atau babi ngepet itu urusan mereka lah….. Mereka yang dapat dosa dan terlaknat di akhirat kelak.

Bagi saya yang penting adalah bagaimana caranya melindungi harta kita dari pencurian-pencurian ghoib pakai sihir semacam ini. Ternyata cara melindungi harta kita dari gangguan jin dan sihir ini sederhana sekali. Saya baca dari buku “Kumpulan Do’a Dalam Al Qur’an dan Hadist” karangan Syech Al Qothoni. Saya juga pernah dengar dari ceramah ustad ahli ruqyah Ustad Faizar dari Purwokerto. Kalau di bukunya Syech Al Qothoni ada di Bab 119 Tambahan. Senjata untuk menghindari tuyul dan babi ngepet adalah bacaan “BASMALLAH“.

Caranya sederhana juga. Jadi setiap kita menutup laci lemari tempat menyimpan uang atau perhiasan, menutup box tempat penyimpanan uang, dan menutup brangkas selalu ucapkan “Bismillahirohmannirrohim”. Itu saja. Dalam hadist disebutkan kalau syetan dan jin tidak akan bisa membuka tempat-tempat yang ditutup dengan menyebutkan Asma Allah. Bahkan, meskipun kita menutupnya hanya dengan selempang benang atau tali saja.

Basmallah juga dibaca ketika kita menutup jendela atau pintu di ruangan yang tertutup. Kadang-kadang kita meninggalkan rumah atau kamar dalam waktu yang cukup lama. Ruangan kosong yang ditinggal lama bisa menjadi tempat tinggal ‘jin’ atau syetan. Syetan akan berkeliaran di sore hari menjelang malam dan bisa masuk ke rumah-rumah orang. Kalau pintu dan jendela di tutup dengan membaca Basmallah, insya Allah tidak akan dimasuki oleh syetan.

Semoga bermanfaat.

Buku Doa Al Quran Hadist

Kisah-kisah di ArasoE: Serangan Lebah di Kebun Tempeh

Seperti hari-hari biasanya. Setiap sore SKW atau sinder kebun wilayah akan mengontrol kebunnya. Apalagi kalau musim tebang seperti sekarang ini. Sore2 biasanya mereka membakar daduk (daun tebu kering) sisa tebangan hari ini.

Selepas asar, Pak Rusli SKW C1 keliling kebun. Sambil naik motor KLX-nya yang gagah. Pak Rusli keliling dari jalan poros kebun ke Darampa lalu belok ke Tempeh. Pak Rusli ini orangnya kecil, tubuhnya langsing dan berjenggot tipis. Naik motor KLX warna hijau. Keren banget.

Pak Rusli menyusuri pingir kebun Tempeh yang berbatasan dengan kampung dan kebun warga. Di pinggir kebun banyak pohon besar dan rindang. Pak Rusli menaiki motornya pelan2 sambil memperhatikan kalau ada sapi yang masuk kebun.

Tiba2 ada tawon yang hinggap di dadanya. Pak Rusli mengibaskan tangan untuk mengusir tawon itu. Lalu datang lagi tawon lain. Pak Rusli memukul dadanya dan membuang lagi tawon itu.

Tak diduga. Datang kawanan lebah menyerang Pak Rusli. Tawon2 itu mulai menyengat tangan dan leher pak Rusli. Pak Rusli menghentikan motornya dan menangkis tawon2 yang datang.

Tawon yang menyerang semakin banyak. Topi dan wajahnya mulai tertutup oleh tawon2 itu. Pak Rusli lari menuju kampung dan minta pertolongan warga.

Namun, warga malah lari ketakutan dan menutup pintu rumah mereka. Mereka kira ada babi yang datang. Soalnya, seluruh tubuh Pak Rusli sudah tertutup ribuan lebah. Hitam semua.

Pak Rusli mulai kesakitan. Sengatan lebah terasa panas di wajahnya. Matanya mulai tidak bisa melihat, karena matanya mulai tertutup oleh lebah2 itu. Setiap kali dia ambil dengan tangan lebah2 itu. Ribuan lebah lain segera menyerangnya. Lebah2 itu masuk ke baju dan celananya.

“Tolong ….tolong…!!!!!”, teriaknya meminta pertolongan.

Nggak ada orang yang menolongnya.

“Mati aku ….”, pikirnya dalam hati.

Antara sadar dan tidak, Pak Rusli ingat kalau lemab takut dengan api. Dia merogoh saku jaketnya. Ada korek di situ.

Dia ambil kain, kebetulan ada solar. Kainnya dibasahi dengan solar dan hendak dibakarnya. Tapi, tangannya mulai kaku. Tangannya tidak bisa menyalakan api.

Pak Rusli lari lagi. Sayup2 dia mendengar ada ibu2 yang teriak dari dalam rumah;

“Buka semua bajunya ki.. sambil lari..”

Pak Rusli membuang topinya. Lebah2 menyerang topinya itu.

Pak Rusli membuang kaosnya yang berwarna putih. Kaosnya dalam sekejan jadi hitam karena dikerumuni lebah.

Dia buang celanya, hingga hanya tersisa celana dalam.

Ada warga yang berani keluar dan menyalakan api dari daun2 kering. Pak Rusli segera menuju api itu dan duduk di dekatnya.

Lebah2 mulai pergi. Setelah lebah2 pergi. Warga mulai datang menolongnya. Pak Rusli diangkat ke teras salah satu rumah warga. Mereka beramai2 mencabuti sisa2 sengatan yang ada di tubuhnya. Ada ribuan sengatan; di wajah, kepala, telapak tangan, leher. Hampir semua tubuhnya banyak sisa sengatan.

Antara sadar dan tidak sadar, Pak Rusli minta di telponkan asistennya dan wakernya yang rumahnya tidak jauh dari kampung ini.

Asistennya, Pak Umar datang. Setengah panik dia menelpon pak SKK untuk minta pertolongan. Kebetulan waktu itu Pak SKK sedang di kebun kasimpureng. Tidak jauh lokasinya.

“Assalamu’alaikum, Puang. Bisa minta bantuan ta’? Pak Rusli diserang lebah. Sekarang di tempeh.”

“Leh…leh… di mana itu ki?”

Karen panik pak SKK naik mobil jip daihatsunya menuju tempeh. Beliau belum hafal jalanan di situ. Di tengah jalan dia tanya ke petani yang ada di jalan. Ditunjunkkan arahnya.

“Terima kasih, pak di!” Katanya sambil menjalankan mobilnya.

Tanpa disadari di depannya ada got besar. Ban mobilnya tergelincir masuk got, mobilnya terguling di dasar got. Roda2nya menghadap ke atas.

Pak Umar mulai gelisah; kenapa pak SKK lama sekali nggak sampai2.

Pak Rusli mulai pingsan. Disengat satu ekor lebah saja sakit. Apalagi ini ribuan lebah. Nggak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya; panas, perih dan gatal di seluruh tubuh.

Pak Umar menelpon Pak SKK;

“Sampai mana, puang? Kenapa lama sekali?”

“Mobilku kebalik di kebun. Nggak bisa jalan ini.”

Mandor2 kebun lainnya berdatangan untuk menolong Pak SKK.

Akhirnya, Pak Rusli dibawa ke puskesmas Cina dengan naik motor.

Satu malam Pak Rusli dirawat. Setelah agak mendingan, Pak Rusli minta pulang ke rumah. Dokter hanya memberi obat penahan sakit dan vitamin.

Pak Rusli dirawat di rumah. Tiga hari kemudian, saya sudah ketemu dengannya di masjid waktu sholat subuh.

Alhamdulillah.