Category Archives: Biofuel

Tulisanku tentang biofuel khususnya bioethanol

Suprastuktur Selulosa

cellulosa sellulosa kayu serat

Gambar ini yang sering kita pelajari ketika belajar tentang selulosa. Ini adalah model rantai selulosa yang tersusun dari glukosa. Glukosa tersusun bersambung-sambung. Uniknya, selulosa hanya tersusun dari glukosa saja, tidak ada gula jenis lain. Salah satu keunikan lainnya adalah rantai glukosa ini lurus rus tidak bercabang.

cellulose-ibeta-from-xtal-2002-3d-balls

Dulu saya sering membayangkan kalau selulosa ini bentuknya panjang banget, dan memang tersusun seperti itu. Pada kenyataannya di alam raya ini, tidak ada selulosa yang hanya satu rantai saja. Ada yang disebut dengan suprastruktur selulosa. Maksudnya, rantai selulosa tersebut saling bergabung membentuk struktur sekunder yang lebih besar dan lebih rumit.

Kadang-kadang saya mengamati selulosa di bawah mikroskop. Banyak selulosa yang saya amati. Salah satunya seperti gambar di bawah ini. Ini adalah bentuk dari serat/fiber selulosa. Bentuknya panjang-panjang seperti rambut. Permukaannya umumnya terlihat halus di bawah mikroskop.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Namun, jika serabut selulosa tersebut ‘dirusak’, ternyata di muncul sesuatu yang menarik di bawah mikroskop. Seperti yang terlihat di gambar di bawah ini. Serabut selulosa tersebut seperti terkelupas dan muncul serabut-serabut yang lebih kecil. Atau terlihat ada struktur lain di dalam serat selulosa ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Foto ini menunjukkan bahwa serabut selulosa tersusun dari serabut-serabut yang lebih kecil lagi. Serabut kecil itu juga tersusun dari beberapa rantai selulosa yang berukuran lebih kecil lagi. Saya coba mencari foto mikroskopik selulosa di internet. Dan ketemu gambar di bawah ini. Meski dari biomassa yang berbeda, gambar ini cukup menunjukkan kalau selulosa memang tersusun dari serabut-serabut selulosa yang kecil-kecil.

silkatp2500x2

Perpustakaan Sampah Pak RT Elan Pamoyanan Bogor

image

image

Jangan membayangkan kalau perpustakaan sampah isinya hanya sampah saja. Perpustakaan ini adalah perpustakaan di kampung yang kalau mau meminjam buku bayarnya pakai sampah. Pak RT Elan yang mempunyai ide ini. Lokasinya ada di RT 02/RW 12, Kp. Nagrok,  Kel. Pamoyanan, Kec. Bogor Selatan, Kota Bogor.

Pak RT Elan resah dengan kondisi di lingkungan RTnya yang kurang bersih dan kesadaran warganya yang masih kurang tentang sampah. Masih ada warga, terutama anak2 yang membuang sampah sembarangan. Kebun di depan rumahnya banyak sampah berserakan. Selokan air banyak sampahnya. Kampung yang rumahnya berhimpit-himpitan itu menjadi terlihat kumuh. Berbagai upaya untuk menyadarkan warganya belum juga membuahkan hasil.

Di kampungnya banyak anak2 usia sekolah. Sepulang sekolah mereka hanya main2 saja. Lalu muncul ide untuk mengisi waktu luang anak2 itu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan sekaligus merangsang kepedulian mereka tentang sampah. Lahirlah perpustakaan sampah ini.

Continue reading

Catatan dari diskusi “Algae to Fuels” di BalitbangKP BBP4BKP

image

Salah satu topik yang banyak diteliti juga untuk biofuel adalah pemanfaatan mikroalgae yang menghasilkan minyak. Minyak dari mikro algae ini diolah dan dimanfaatkan sebagai biofuel, contohnya biodiesel. Hari ini saya mengikuti diskusi di BBP4BKP yang membahas tentang pemanfaatan algae untuk fuel ini. Salah satu pembicara utamanya ada Dr. Oki Muraza, pakar biodiesel.

Indonesia yang memiliki garis pantai yang panjang memang sangat memungkinkan untuk membudidayakan algae/mikroalgae. Namun, beberapa diskusi muncul beberapa tantangan pemanfaatan algae sebagai biofuel antara lain adalah:

  • proses ektraksi yang masih sulit/mahal
  • rendemen yang rendah

Diskusi ini membahas salah satu metode ekstraksi menggunakan supercritical water. Ini pendapat saya pribadi setelah mendengarkan pemaparan metode dari pembicara. Metode ini membutuhkan suhu (300oC) dan tekanan yang tinggi (25 psi). Artinya energi yang dibutuhkan pun juga tinggi. Padahal harga minyak masih murah. Pertanyaan yang ada di kepala saya adalah, apakah metode ini ekonomis? apakah nilai ekonomi energinya bisa positif? Jangan-jangan energi yang dibutuhkan untuk mendapatkan biooil dengan energi biooilnya malah lebih banyak energi yang dibutuhkan?

Dibandingkan dengan bahan-bahan lain, seperti misalnya CPO, pendapat saya pribadi mikroalga masih bagus di tataran teori dan di atas kertas. Masih perlu dibuktikan di lapangan untuk aspek2 praktis dan nilai ekonomisnya.

Mikroalgae memiliki banyak kandungan lain yang juga bernilai, protein, vitamin, mineral dan senyawa untuk obat. Saya rasa nilai ekonomi senyawa ini lebih tinggi dari sekedar biofuel. Alangkah lebih baik jika senyawa-senyawa yang bernilai tinggi itu diambil terlebih dahulu, jika masih ada sisa/limbahnya dan mengandung banyak minyak baru dimanfaatkan sebagai biofuel.

Biological Pretreatment of Oil Palm Empty Fruit Bunches

Biological Pretreatment of Oil Palm Empty Fruit Bunches – International Symposium on Integrated Biorefinery (ISIBio)

My poster presentation for International Symposium on Integrated Biorefinery (ISIBio), Sept 17tg, 2015, Bogor, Indonesia. Please, visit their official website http://symposium-biorefinery.org/home.html.

Biological Pretreatment of Oil Palm Empty Fruit Bunches

Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) volumenya luar biasa besarnya di Indonesia. TKKS bisa dimanfaatkan untuk bermacam-macam produk, tidak hanya sekedar kompos saja. Salah satu langkah awal pemanfaatan TKKS adalah mengekstrak selulosa.

Beberapa tahun yang lalu, saya sudah bisa membuat pulp dari TKKS. Prosesnya dengan sedikit memodifikasi teknik yang banyak dipakai di industri pulp. Saya juga mencoba membuat pulp dengan memanfaatkan jamur.

image

Pulp dari tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)

Continue reading

Pretreatment Biologi dengan Jamur Pelapuk Putih

Nyobain Minyak Atsiri untuk Motor Bensin

Setelah sebulan lebih nyobain pakai GastrofaC saya jadi pingin nyobain pakai minyak atsiri untuk bensin. Dari bau GastrofaC, saya sepertinya kenal bahan dasar pembuatannya. Salah satu kekurangan dari GastrofaC adalah harganya yang menurut saya masih belum ekonomis. Minyak atsiri harganya > seperdelapan harga GastrofaC. Kalau minyak atsiri ini bisa memberikan efek yang mirip, akan jauh lebih ekonomis menggunakan minyak atsiri.

minyak atsiri untuk bensin

Minyak Atsiri untuk Aditif Bensin

Saya coba tambahkan ke tangki motor dulu, belum berani ke tangki mobil. Kalau sudah terbukti di motor bensin baru masukkan ke tangki mobil bensin. Saya tambahkan sebelum mengisi bensin dan bensin diisi penuh. Saya tambahkan kira-kira tiga s/d empat cc. Setelah dua hari saya pakai efeknya baru terasa. Efek pertama yang saya rasakan tarikan menjadi lebih ringan dan motor menjadi lebih bertenaga. Sama seperti GastrofaC. Namun, memang lebih ringan jika menggunakan GastrofaC. Untuk masalah ke-iritan bensin masih nunggu seminggu lagi. Kalau seminggu kemudian (tujuh hari) saya baru isi bensin lagi, berarti efeknya sama seperti GastrofaC.

Harga minyak atsiri jauh lebih murah daripada harga GastrofaC. Kalau harga GastrofaC Rp. 1000 per ml, harga minyak atsiri hanya Rp. 110 rp per mil. Jauh banget. Ini sudah dihitung dengan perubahan harga premium yang naik menjadi Rp. 7600. Konsumsi BBM per hari jika pakai GastrofaC adalah Rp. 4900, sedang kalau pakai minyak atsiri adalah Rp. 4400. Sedangkan kalau tidak pakai aditif apa-apa konsumsi BBM per harinya rata-rata RP. 6000. Ada penghematan yang cukup besar. Pakai minyak atsiri bisa menghemat Rp. 1600. Lumayan banget.

Pengujian ini saya lakukan tanpa memenuhi kaidah-kaidah statistik. Jadi kemungkinan errornya sangat besar, kemungkinan penyimpangannya juga sangat besar. Meskipun begitu, hasil ini cukup memberi keyakinan pada saat untuk memakai minyak atsiri. Perlu diuji coba sampai beberapa bulan. Kalau mesin tetap baik, dipakai untuk mobil atau mesin-mesin yang lain pun kemungkinan juga tidak apa-apa.

Testimoni GastrofaC untuk Mobil Bensin

image

Liburan ini saya punya kesempatan untuk menguji manfaat GastrofaC untuk mobil bensin. Metode pengukuran yang saya lakukan adalah full to full. Rata-rata konsumsi bahan bakar adalah 15 km per liter BBM atau biaya perjalanannya Rp. 729/km (pertamax).

Sebelum berangkat saya isi tangki bensin di SPBU full. Saya catat jarak yang sudah ditempuh sebesar 271 km. Sebelumnya saya sudah pakai GastrofaC. Volume bensin yang ketika full sebanyak 21 L. Jadi konsumsi bensinnya adalah 13 km per liter bensin. Ini konsumsi bbm untuk pemakaian dalam kota. Tahu sendirilah Bogor macetnya minta ampun. Mungkin karena itu konsumsinya agak boros.

Seingatku konsumsi bbm di kota rata2 11-12 km per liter bensin. Ada peningkatan sedikit jadi 13 km per liter. Penghematannya adalah sebesar:
= (13-11)/11
=  18%

Dari sisi biaya, ada penambahan biaya GastrofaC sebesar Rp. 1 033 per liter. Kalau pakai pertamax berarti peningkatan biayanya sebesar 9,4%. Masih ada sedikit keuntungan sebesar 8,6%. Menurut saya penghematan ini masih terlalu kecil dan belum cukup menarik secara ekonomi.

Awal perjalanan agak macet di tol Jagorawi-Cikampek sampai ke Subang. Perjalanan lancar setelah lepas dari Subang. Saya mengisi bensin lagi setelah sampai Purwokerto dan Pati. Konsumsi bensinnya adalah:
= 353,6 km : 23,5 L
= 15 km per liter

Dari sisi biaya sebesar Rp. 729 per km.

Saya tidak punya pengalaman rata konsumsi bensin untuk di luar kota. Jadi tidak bisa membandingkan dengan konsumsi sebelum memakai GastrofaC. Seingat saya ketika lebaran konsumsi bensinnya sebesar 13 km per liter bensin. Ada peningkatan cuma 2 km per liter saja. Menurut saya, penghematan ini masih kecil secara ekonomi.

Penghematan akan cukup menarik bagi konsumen jika penghematannya minimal 20% dari sisi biaya. Jadi misalnya biaya perjalanan per kmnya dari Rp. 850 menjadi Rp. 680 per km.

GastrofaC dibuat dari minyak atsiri. Saya kenal bau minyak atsiri ini. Setahu saya harga minyak atsiri ini di daerah banten pelosok murah. Mestinya harga GasgrofaC bisa lebih murah lagi, sehingga penghematannya juga akan semakin besar.

Saya ingin mencoba memakai minyak atsiri langsung. Saya penasaran dengan hasilnya. Kalau hasilnya sebanding atau pun jeleknya lebih rendah, tapi secara ekonomi akan lebih besar, karena harganya yang lebih murah.