Category Archives: MyPoems

Puisi-puisiku

Selintas Surat Cinta

puisi selintas surat cinta

Manisku
Ada banyak, banyak sekali
Yang mesti kuucapkan padamu

Dari mana ya permata, mesti kumulai
Segalam padamu serba terpuji

O kau, yang membuat indung sutera
Dari tulisanku dengan segala maknanya

Inilah nyanyianku, dan aku di sini
Dan kita terangkum dalam buku kecil ini

Esok, bila kubuka halaman-halaman buku ini
Maka lampu akan meratap dan ranjang akan bernyanyi

Karena rindu, akan menjadi hijau huruf-hurufnya
Dan seakan hendak terbang koma-komanya

Jangan katakan: kenapa orang muda ini
bicara tentang diriku pada sungai dan jalan yang berkelok sunyi

Pada pohon badam dan bunga tulip sehingga ke mana aku pergi
Dunia pun akan selalu mengikuti

Dan mengatakan apa yang dikatakan orang muda itu
Bahwa tiada lagi bintang yang tak diharumi semerbak wangiku

Esok, orang akan melihatku dalam sejaknya, dan tampak:
Mulut rasa anggur dan rambut dipotong pandak

Jangan pedulikan kata mereka, karena kau akan besar
Hanya dengan kasihku yang besar

Apa artinya dunia ini tanpa kita
Dan tanpa matamu, apa jadinya

———————————-
Nizar Gabbani, 1923 —

Advertisements

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Juita
Kalaulah kegandrungan yang kunyatakan ini menarik perhatianmu
Atau tak berarti apa-apa bagimu
Maafkanlah aku. Namun di matamulah
Dalam lindup bayangannya, suatu petang aku bersandar istirah
Dan sebentar terhantar dalam tidur yang indah.
Dalam ketenangannya kubelai bulan dan bintang-bintang
Kuanyam kapal khayal dari kelopak-kelopak kembang
Dan kubaringkan jiwaku yang lelah di sana
Kuberi minum bibirku yang dahaga
Dan kupuaskan gairah mataku yang mendamba

Juita
Waktu kebetulan kita bertemu sebagai dua orang asing yang bertemu
Dukaku pun berjalan juga di jalan itu
Telanjang, tak terselubung
Dengan langkah murung…
Dan engkaulan dukaku itu
Kesedihan dan kegagalan
Kebisuan dan kekecewaan
Mengungkung penyair yang bergulat habis-habisan
Karena puisi, Juita, ialah orang asing dinegeriku
Dibunuh kekosongan dan kehampaan.
Jiwaku gemetar ketika aku melihatmu
Aku merasa tiba-tiba seakan sebuah golok mengorek ke dalam darahku
Membersihkan hatiku, mulutku
Meniarapkan aku dengan kening kotor dan tangan meminta
Dalam lindap bayangan matamu yang jelita

Juita
Jika tiba-tiba kita bertemu
Jika mataku memandang matamu
Yang anggun, hijau, tenggelam dalam kabut dan hujan
Jika kebetulan pula kita bertemu lagi di jalan
(Dan bukankah hanya nasib kebetulan ini)
Maka akan kucium jalan itu, kucium dua kali

Muhammad Al Fayaturi (1930 – )

********

Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Dialog

DIALOG

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan.

‘Ali Ahmad Sa’id (Anonis) (1930 – )
***
Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Hidup ini Indah

Hidup ini indah, maka jangan disia-siakan. Kesulitan ada batasnya. Kesedihan ada akhirnya. Perjuangan ada buahnya. Pengorbanan ada imbalannya. Darah & air mata ada balasannya. Janji Allah itu pasti ditepati. Sunnatullah itu pasti & tidak pernah berubah. Rahmat Allah itu maha luas, maka jangan pernah berputus asa.
#selfmotivation

Dua belas tahun

12 Tahun
Terima kasih sayang sudah menemaniku selama 12 tahun ini
Terima kasih sayang atas kesabaranmu selama 12 tahun ini
Terima kasih sayang kau beri tiga jagoan pemberani

Jauh dan beratnya perjalanan ini tak terasa karena kau di sisiku
topan badai petir dan salju tak akan menyurutkan langkahku
karena dirimu selalu mendorong di belakangku
api semangatku berkobar-kobar karena engkau isi dengan bara cintamu

Ajarkan kepada tiga jagoan kita kelembutan dan kasih sayang
agar hati mereka tidak terkontaminasi kebencian dan kedengkian
akan ku ajarkan kepada mereka keperkasaan dan ketabahan
buat bekal mereka mengarungi keras dan kejamnya kehidupan

Perjalanan ini masih panjang
Kita arungi dengan riang
Aku dirimu dan tiga jogoan

Magelang, 12 November 2012

Pantun Rasa Buah

Buah pisang, di atas tangga.
Sekarang apa dong, acaranya.

Berlayar naik kapal, sambil makan buah mangga.
Silahkan Cik Fisal, dibaca pantun pembuka.

Buah kedondong, baru buah maja.
Senyum dulu dong, baru dibaca.

Buah mangga petik, manis rasanya.
Neng Iin cantik, punya bang Reza.

Buah kenari, tidak berduri.
Sudah jadi suami istri, jangan lirik kanan kiri.

Buah kelapa masak ditandan,
dibuat santan masak kari.
Cincin sudah malingkar ditangan,
tanda janji sehidup semati.

Buah bluberry, dari göteborg (baca: yotebori),
jauh2 datang kemari, ntuk hidup bersama si jantung hati.

Rasanya manis bukan kepalang,
buah durian dari medan.
Kalau bang reza datang pulang,
siapkan tempat rebahkan badan

Buah pisang kuning warnanya,
kalau merah buah pepaya.
sayang jangan waktu pacaran saja,
walau sudah kawin tetap dimanja.

Merah-merah buah jambu,
paling enak dimakan pakai madu.
Kalau datang hati merindu,
angkat telepon bilang I love U.

Buah duku, asem rasanya.
Kalau rindu, jangan ditunda.

Buah anggur dari kampung melayu,
Buah nanas dari Indramayu.
Bang Reza buktikan kejantananmu
Kak Ida sudah pingin momong cucu.

Buah manggis nikmat rasanya,
lebih nikmat makan bersama.
Mohon maaf kalau ada salah kata,
kami baru belajar berpantun ria.

[Pantun ini dibaca pada saat pernikahan Reza Tallberg, Göteborg, November 28, 2010]

Posted from WordPress for Android

Pantun Rindu

Jangan ke laut tanpa perahu,
Topan halilintar kan berlalu.
Jangan ditanya rinduku padamu,
rinduku gemuruh lautan biru.

Jangan berjalan di hutan randu,
onak duri tajam mengelana.
Jangan ditanya cintaku padamu,
Cintaku semerbak harum cendana.

Jangan mengelana ke padang baru,
panas pasir datang mendera.
Jangan ditanya kesetianku padamu,
kesetianku setegar karang samudera.

Göteborg, Nov 2010
Posted from WordPress for Android

Pergi ke Taman Kota

Pargi ketaman kota

Kemarin hari kamis tanggal 28 oktober 2010 aku pergi ketaman kota bersama teman -teman sekolah. Di sana aku melihat monyet dan rusa. Di sana juga ada pohon yg bisa di panjat. Setelah puas bermain kamipun akan makan makanan yg kami bawa. Jika sudah kenyang kami akan pulang kerumah masing -masing.

Beda dengan adikknya yang suka menyanyi dan menulis puisi. Mas Royan, anakku yang nomor 1, juga sering menulis. Dia suka menulis pengalamannya di buku khusus. Pernah dia menulis sampai 500 kata, satu kata perbaris. Tulisannya ada yang lucu, ada juga yang mengharukan. Tulisannya di atas sudah ada sedikit kemajuan. Karena dia menulis satu paragraf.
Teruslah menulis anakku….!!!!

Royan

Puisinya Abim: Tamanku

Anakku yang nomor dua, Dedek Abim alias Ibrahim (8 tahun), mulai belajar menulis. Anaknya periang, sensitif, dan sedikit romantis. Hari ini dia mengirimkan puisi gubahannya yang pertama via Skype. Ini dia puisinya:

Tamanku

tamanku kau bersih sekali,
aku lihat burung bernyanyi riang,
tidak ada sampah dimana – mana,
tamanku kau indah sekali,
karena kubersihkan setiap hari.

Pati, 30 Oktober 2010
Abim

100_1154

Rinduku

Seuntai Rindu

Malam ini
Bersama sunyi dan sepi
Di  balik diam termanggu
Rindu menyapa
dengan lembut
namun mengena

***

Hal terberat yang aku rasakan ketika berada di Göteborg ini adalah jauh dengan keluarga & orang yang dicintai.  Meskipun saat ini ngobrol bisa dilakukan setiap saat  via Skype (thanks skype), tapi cuma bisa didengar dan dilihat. Tak bisa di pegang, dipeluk atau dicium.
Minggu-minggu awal belum begitu terasa. Komunikasi masih dilakukan dengan cara konvensional: SMS. Saya lupa tidak install Skype di komputer rumah, jadi belum bisa Skype-an. Paling-paling kirim pesan via FB atau YM-an pakai NIMBUZZ. Hanya bisa baca pesan-pesan singkat saja.
Awalnya saya SMS pakai kartu KOMPIZ. Lumayan juga, sekali SMS kena 1-2 SEK. Pulsa disedot habis dalam sekejab. Obat rindu ternyata mahal banget. Lalu, temen merekomendasikan pakai AMIGOS, katanya murah untuk telepon dan SMS ke luar negeri. Jadilah saya beli pulsa AMIGOS di warung PRESSBYRÅN 100 SEK. Memang bener murah sekali, semenit cuma sekitar 1  SEK. Tapi biaya misscall sampai 2 SEK. Pernah susah sekali terhubung, yang menjawab Cik Veronika melulu, tak terasa pulsa 25 SEK pun melayang. Bulan ini biaya pulsaku menembus 500 SEK  (= Rp. 600rb). Obat rindu memang semakin mahal. 
Komunikasi yang murah memang via internet rupanya. Apalagi pakai SKYPE. Masalahnya satu, laptop rumah belum terinstall Skype. Saya minta Ummi Royan – istri tercinta – install Skype saya pandu via NIMBUZZ, tetep aja belum bisa. Saya  pandu pakai AMIGOS. Ngomong sampai ndower bibirku, belum berhasil juga. Lalu coba alternatif lain, minta bantuan saudara untuk mwngistallnya, tetep aja nggak bisa-bisa. Akhirnya laptop rumah diungsikan ke Magelang. Setelah diutak-utik oleh Om Manto baru sukses Skype  terintall. Malam itu pukul 2 WIB (atau pukul 11 malam CEST) aku bisa melihat wajah Om Manto. AKhirnya pikirku….
Hari-hari berikutnya, ngobrol via Skype. Pulsa telepon bisa ditekan lebih rendah. Demi Skype, orang rumah pasang Speedy, tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Hari minggu pagi, saya janjian Online dengan keluarga. Jam 5 pagi, habis sholat subuh laptop sudah dihidupkan. Nunggu video call dari negeri tercinta di seberang benua sana.
Tak begitu lama suara ringging call khas Skype terdengar. Klik Accept video call. Koneksi terasa luuaaambrrraaaatttt…..banget. Loading video tidak muncul-muncul. Setelah nunggu sampai hampir putus asa:
“Abi…………..!!!!!!”, teriak Mas Royan & Dedek Abim bersamaan. Suara itu menerobos masuk ke relung hati.
Saya jadi ingat dulu ketika mereka masih anak-anak.  Royan yang diam, tetapi tak pernah berhenti bergerak. “Anteng Kitiran” kata orang jawa. Dedek Abim yang tangisannya kenceng banget dan klo ngomong seperti radio, sama-sama tak bisa diam.
Tanpa ku sadari mereka sudah besar-besar. Dedek Abim tambah putih dan cakep. Mas Royan wajahnya  semakin ‘cool’ dan tampak lebih besar.
“Abi…, sedang apa? Di sana dingin ya…?” tanya Mas Royan.
Adiknya yang ada disampingnya, sambil bergaya bilang, “Abi…abi…abi….”
Ummi Royan yang ada di belakang mereka hanya senyam senyum saja. Meskipun kadang-kadang nakal, anak-anak tetap menyenangkan.
Hari itu rinduku tertumpah semua.
***
Pernah suatu hari, ketika sedang naik Tram, saya melihat dua anak laki-laki. Sepertinya mereka bersaudara, karena wajahnya mirip. Yang satu duduk diam saja menghadap ke arah luar. Sepertinya dia anak yang lebih besar. Di sampingnya adiknya mengelayut di punggung kakaknya. Sang kakak sepertinya sedang marah dan tidak mau diganggu adiknya. Di usirnya sang adik dengan sikutnya. Sang adik tetap aja menggoda. Dia sentil-sentil kakaknya. Sang kakak tetap mengarahkan pandangannya ke luar, cuek saja.
Sang adik tidak kekurangan akal. Diahadapkan wajahnya ke wajah sang kakak, sambil menyibir: “Weeeekkk…..” (gitulah kira-kira klo orang Indonesia).
Sang kakak tampak semakin kesal. Lalu dia bangkit dan ngeloyor pindah ke depan.   Sang adik mengekor di belakangnya.
Melihat tingkah mereka saya jadi ingat Royan & Ibrahim. Hampir tiap hari mereka bertengkar. Ada aja yang rebutkan. Kadang-kadang mereka bertengkar, kadang-kadang kompak. Pernah suatu hari saya jemput mereka di sekolah, keduanya jalan pulang sambil berangkulan. Kompak banget. Tak jarang kakaknya menggoda adiknya sampai nangis. Atau adiknya merenggek-rengek yang membuat kakaknya kesal.
Umminya yang sudah capek semakin kesal dan marah-marah. Anak-anak seperti sengaja membuat umminya marah.
Saya jadi ingat Royan ketika baru berumur 1 tahun. Sejak kecil Royan tidur denganku, karena umminya ‘nenenin’ Ibrahim. Saya jadi ingat Ibrahim kalau tidur selalu minta ‘dipuk-puk’ punggungnya. Kalau Abim belum tidur tidak boleh berhenti nepuk-nepuk punggungnya. Padahal orang tuanya sudah capek seharian kerja.
Saya jadi teringat kalau saya capek, Mas Royan dan Dedek Abim yang menginjak-injak badan. Badan capek jadi sedikit lebih lega.
Kenangan-kenangan itu menari-nari di dalam pikiranku. Ketika sendiri mau tidur. Atau ketika istirahat di sela-sela mengerjakan tugas. Kenangan itu menoreh-menoreh hati.
Rinduku makin dalam. 

Posted from WordPress for Android