Category Archives: MyPoems

Puisi-puisiku

Senja Tiba

Senja Tiba

Senja Tiba

Biarlah penatku
Berlalu

Biarkanlah jengkelku
Tersapu

Digantikan mimpi2 indah
Bersamamu

Bogor, 1 Agustus 2019

http://isroi.com

Advertisements

Merah Putih

Merah putih bungaku
Merah putih darahku
Merah putih hatiku
Merah putih semangatku
Merah putih cita-citaku
Merah putih mimpiku
Merah putih amarahku
Merah putih cintaku

Pada Mu

Bogor, 31 Juli 2018

http://isroi.com

Selintas Surat Cinta

puisi selintas surat cinta

Manisku
Ada banyak, banyak sekali
Yang mesti kuucapkan padamu

Dari mana ya permata, mesti kumulai
Segalam padamu serba terpuji

O kau, yang membuat indung sutera
Dari tulisanku dengan segala maknanya

Inilah nyanyianku, dan aku di sini
Dan kita terangkum dalam buku kecil ini

Esok, bila kubuka halaman-halaman buku ini
Maka lampu akan meratap dan ranjang akan bernyanyi

Karena rindu, akan menjadi hijau huruf-hurufnya
Dan seakan hendak terbang koma-komanya

Jangan katakan: kenapa orang muda ini
bicara tentang diriku pada sungai dan jalan yang berkelok sunyi

Pada pohon badam dan bunga tulip sehingga ke mana aku pergi
Dunia pun akan selalu mengikuti

Dan mengatakan apa yang dikatakan orang muda itu
Bahwa tiada lagi bintang yang tak diharumi semerbak wangiku

Esok, orang akan melihatku dalam sejaknya, dan tampak:
Mulut rasa anggur dan rambut dipotong pandak

Jangan pedulikan kata mereka, karena kau akan besar
Hanya dengan kasihku yang besar

Apa artinya dunia ini tanpa kita
Dan tanpa matamu, apa jadinya

———————————-
Nizar Gabbani, 1923 —

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Juita
Kalaulah kegandrungan yang kunyatakan ini menarik perhatianmu
Atau tak berarti apa-apa bagimu
Maafkanlah aku. Namun di matamulah
Dalam lindup bayangannya, suatu petang aku bersandar istirah
Dan sebentar terhantar dalam tidur yang indah.
Dalam ketenangannya kubelai bulan dan bintang-bintang
Kuanyam kapal khayal dari kelopak-kelopak kembang
Dan kubaringkan jiwaku yang lelah di sana
Kuberi minum bibirku yang dahaga
Dan kupuaskan gairah mataku yang mendamba

Juita
Waktu kebetulan kita bertemu sebagai dua orang asing yang bertemu
Dukaku pun berjalan juga di jalan itu
Telanjang, tak terselubung
Dengan langkah murung…
Dan engkaulan dukaku itu
Kesedihan dan kegagalan
Kebisuan dan kekecewaan
Mengungkung penyair yang bergulat habis-habisan
Karena puisi, Juita, ialah orang asing dinegeriku
Dibunuh kekosongan dan kehampaan.
Jiwaku gemetar ketika aku melihatmu
Aku merasa tiba-tiba seakan sebuah golok mengorek ke dalam darahku
Membersihkan hatiku, mulutku
Meniarapkan aku dengan kening kotor dan tangan meminta
Dalam lindap bayangan matamu yang jelita

Juita
Jika tiba-tiba kita bertemu
Jika mataku memandang matamu
Yang anggun, hijau, tenggelam dalam kabut dan hujan
Jika kebetulan pula kita bertemu lagi di jalan
(Dan bukankah hanya nasib kebetulan ini)
Maka akan kucium jalan itu, kucium dua kali

Muhammad Al Fayaturi (1930 – )

********

Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Dialog

DIALOG

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan.

‘Ali Ahmad Sa’id (Anonis) (1930 – )
***
Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Hidup ini Indah

Hidup ini indah, maka jangan disia-siakan. Kesulitan ada batasnya. Kesedihan ada akhirnya. Perjuangan ada buahnya. Pengorbanan ada imbalannya. Darah & air mata ada balasannya. Janji Allah itu pasti ditepati. Sunnatullah itu pasti & tidak pernah berubah. Rahmat Allah itu maha luas, maka jangan pernah berputus asa.
#selfmotivation

Dua belas tahun

12 Tahun
Terima kasih sayang sudah menemaniku selama 12 tahun ini
Terima kasih sayang atas kesabaranmu selama 12 tahun ini
Terima kasih sayang kau beri tiga jagoan pemberani

Jauh dan beratnya perjalanan ini tak terasa karena kau di sisiku
topan badai petir dan salju tak akan menyurutkan langkahku
karena dirimu selalu mendorong di belakangku
api semangatku berkobar-kobar karena engkau isi dengan bara cintamu

Ajarkan kepada tiga jagoan kita kelembutan dan kasih sayang
agar hati mereka tidak terkontaminasi kebencian dan kedengkian
akan ku ajarkan kepada mereka keperkasaan dan ketabahan
buat bekal mereka mengarungi keras dan kejamnya kehidupan

Perjalanan ini masih panjang
Kita arungi dengan riang
Aku dirimu dan tiga jogoan

Magelang, 12 November 2012

Pantun Rasa Buah

Buah pisang, di atas tangga.
Sekarang apa dong, acaranya.

Berlayar naik kapal, sambil makan buah mangga.
Silahkan Cik Fisal, dibaca pantun pembuka.

Buah kedondong, baru buah maja.
Senyum dulu dong, baru dibaca.

Buah mangga petik, manis rasanya.
Neng Iin cantik, punya bang Reza.

Buah kenari, tidak berduri.
Sudah jadi suami istri, jangan lirik kanan kiri.

Buah kelapa masak ditandan,
dibuat santan masak kari.
Cincin sudah malingkar ditangan,
tanda janji sehidup semati.

Buah bluberry, dari göteborg (baca: yotebori),
jauh2 datang kemari, ntuk hidup bersama si jantung hati.

Rasanya manis bukan kepalang,
buah durian dari medan.
Kalau bang reza datang pulang,
siapkan tempat rebahkan badan

Buah pisang kuning warnanya,
kalau merah buah pepaya.
sayang jangan waktu pacaran saja,
walau sudah kawin tetap dimanja.

Merah-merah buah jambu,
paling enak dimakan pakai madu.
Kalau datang hati merindu,
angkat telepon bilang I love U.

Buah duku, asem rasanya.
Kalau rindu, jangan ditunda.

Buah anggur dari kampung melayu,
Buah nanas dari Indramayu.
Bang Reza buktikan kejantananmu
Kak Ida sudah pingin momong cucu.

Buah manggis nikmat rasanya,
lebih nikmat makan bersama.
Mohon maaf kalau ada salah kata,
kami baru belajar berpantun ria.

[Pantun ini dibaca pada saat pernikahan Reza Tallberg, Göteborg, November 28, 2010]

Posted from WordPress for Android

Pantun Rindu

Jangan ke laut tanpa perahu,
Topan halilintar kan berlalu.
Jangan ditanya rinduku padamu,
rinduku gemuruh lautan biru.

Jangan berjalan di hutan randu,
onak duri tajam mengelana.
Jangan ditanya cintaku padamu,
Cintaku semerbak harum cendana.

Jangan mengelana ke padang baru,
panas pasir datang mendera.
Jangan ditanya kesetianku padamu,
kesetianku setegar karang samudera.

Göteborg, Nov 2010
Posted from WordPress for Android

Pergi ke Taman Kota

Pargi ketaman kota

Kemarin hari kamis tanggal 28 oktober 2010 aku pergi ketaman kota bersama teman -teman sekolah. Di sana aku melihat monyet dan rusa. Di sana juga ada pohon yg bisa di panjat. Setelah puas bermain kamipun akan makan makanan yg kami bawa. Jika sudah kenyang kami akan pulang kerumah masing -masing.

Beda dengan adikknya yang suka menyanyi dan menulis puisi. Mas Royan, anakku yang nomor 1, juga sering menulis. Dia suka menulis pengalamannya di buku khusus. Pernah dia menulis sampai 500 kata, satu kata perbaris. Tulisannya ada yang lucu, ada juga yang mengharukan. Tulisannya di atas sudah ada sedikit kemajuan. Karena dia menulis satu paragraf.
Teruslah menulis anakku….!!!!

Royan