Tag Archives: keluarga

Statusku dulu 12 Nov 2013

Tgl 12, bulan 11, tahun 13.

Tak terasa 13 tahun lamanya kita mengarungi bahtera hidup ini bersama.
Samudera ini sangat luas. Gulungan ombak, topan, badai kita taklukan bersama. Kita akan terus mengejar matahari. Biar buah hati kita jadi anak-anak bahari yang kuat. Biar mereka menjadi anak-anak yang perkasa.
Kita akan terus berlayar bersama. Canda riang, tangis dan tawa, menjadi irama syahdu yang indah.
I love you full…

 

Rinduku

Seuntai Rindu

Malam ini
Bersama sunyi dan sepi
Di  balik diam termanggu
Rindu menyapa
dengan lembut
namun mengena

***

Hal terberat yang aku rasakan ketika berada di Göteborg ini adalah jauh dengan keluarga & orang yang dicintai.  Meskipun saat ini ngobrol bisa dilakukan setiap saat  via Skype (thanks skype), tapi cuma bisa didengar dan dilihat. Tak bisa di pegang, dipeluk atau dicium.
Minggu-minggu awal belum begitu terasa. Komunikasi masih dilakukan dengan cara konvensional: SMS. Saya lupa tidak install Skype di komputer rumah, jadi belum bisa Skype-an. Paling-paling kirim pesan via FB atau YM-an pakai NIMBUZZ. Hanya bisa baca pesan-pesan singkat saja.
Awalnya saya SMS pakai kartu KOMPIZ. Lumayan juga, sekali SMS kena 1-2 SEK. Pulsa disedot habis dalam sekejab. Obat rindu ternyata mahal banget. Lalu, temen merekomendasikan pakai AMIGOS, katanya murah untuk telepon dan SMS ke luar negeri. Jadilah saya beli pulsa AMIGOS di warung PRESSBYRÅN 100 SEK. Memang bener murah sekali, semenit cuma sekitar 1  SEK. Tapi biaya misscall sampai 2 SEK. Pernah susah sekali terhubung, yang menjawab Cik Veronika melulu, tak terasa pulsa 25 SEK pun melayang. Bulan ini biaya pulsaku menembus 500 SEK  (= Rp. 600rb). Obat rindu memang semakin mahal. 
Komunikasi yang murah memang via internet rupanya. Apalagi pakai SKYPE. Masalahnya satu, laptop rumah belum terinstall Skype. Saya minta Ummi Royan – istri tercinta – install Skype saya pandu via NIMBUZZ, tetep aja belum bisa. Saya  pandu pakai AMIGOS. Ngomong sampai ndower bibirku, belum berhasil juga. Lalu coba alternatif lain, minta bantuan saudara untuk mwngistallnya, tetep aja nggak bisa-bisa. Akhirnya laptop rumah diungsikan ke Magelang. Setelah diutak-utik oleh Om Manto baru sukses Skype  terintall. Malam itu pukul 2 WIB (atau pukul 11 malam CEST) aku bisa melihat wajah Om Manto. AKhirnya pikirku….
Hari-hari berikutnya, ngobrol via Skype. Pulsa telepon bisa ditekan lebih rendah. Demi Skype, orang rumah pasang Speedy, tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Hari minggu pagi, saya janjian Online dengan keluarga. Jam 5 pagi, habis sholat subuh laptop sudah dihidupkan. Nunggu video call dari negeri tercinta di seberang benua sana.
Tak begitu lama suara ringging call khas Skype terdengar. Klik Accept video call. Koneksi terasa luuaaambrrraaaatttt…..banget. Loading video tidak muncul-muncul. Setelah nunggu sampai hampir putus asa:
“Abi…………..!!!!!!”, teriak Mas Royan & Dedek Abim bersamaan. Suara itu menerobos masuk ke relung hati.
Saya jadi ingat dulu ketika mereka masih anak-anak.  Royan yang diam, tetapi tak pernah berhenti bergerak. “Anteng Kitiran” kata orang jawa. Dedek Abim yang tangisannya kenceng banget dan klo ngomong seperti radio, sama-sama tak bisa diam.
Tanpa ku sadari mereka sudah besar-besar. Dedek Abim tambah putih dan cakep. Mas Royan wajahnya  semakin ‘cool’ dan tampak lebih besar.
“Abi…, sedang apa? Di sana dingin ya…?” tanya Mas Royan.
Adiknya yang ada disampingnya, sambil bergaya bilang, “Abi…abi…abi….”
Ummi Royan yang ada di belakang mereka hanya senyam senyum saja. Meskipun kadang-kadang nakal, anak-anak tetap menyenangkan.
Hari itu rinduku tertumpah semua.
***
Pernah suatu hari, ketika sedang naik Tram, saya melihat dua anak laki-laki. Sepertinya mereka bersaudara, karena wajahnya mirip. Yang satu duduk diam saja menghadap ke arah luar. Sepertinya dia anak yang lebih besar. Di sampingnya adiknya mengelayut di punggung kakaknya. Sang kakak sepertinya sedang marah dan tidak mau diganggu adiknya. Di usirnya sang adik dengan sikutnya. Sang adik tetap aja menggoda. Dia sentil-sentil kakaknya. Sang kakak tetap mengarahkan pandangannya ke luar, cuek saja.
Sang adik tidak kekurangan akal. Diahadapkan wajahnya ke wajah sang kakak, sambil menyibir: “Weeeekkk…..” (gitulah kira-kira klo orang Indonesia).
Sang kakak tampak semakin kesal. Lalu dia bangkit dan ngeloyor pindah ke depan.   Sang adik mengekor di belakangnya.
Melihat tingkah mereka saya jadi ingat Royan & Ibrahim. Hampir tiap hari mereka bertengkar. Ada aja yang rebutkan. Kadang-kadang mereka bertengkar, kadang-kadang kompak. Pernah suatu hari saya jemput mereka di sekolah, keduanya jalan pulang sambil berangkulan. Kompak banget. Tak jarang kakaknya menggoda adiknya sampai nangis. Atau adiknya merenggek-rengek yang membuat kakaknya kesal.
Umminya yang sudah capek semakin kesal dan marah-marah. Anak-anak seperti sengaja membuat umminya marah.
Saya jadi ingat Royan ketika baru berumur 1 tahun. Sejak kecil Royan tidur denganku, karena umminya ‘nenenin’ Ibrahim. Saya jadi ingat Ibrahim kalau tidur selalu minta ‘dipuk-puk’ punggungnya. Kalau Abim belum tidur tidak boleh berhenti nepuk-nepuk punggungnya. Padahal orang tuanya sudah capek seharian kerja.
Saya jadi teringat kalau saya capek, Mas Royan dan Dedek Abim yang menginjak-injak badan. Badan capek jadi sedikit lebih lega.
Kenangan-kenangan itu menari-nari di dalam pikiranku. Ketika sendiri mau tidur. Atau ketika istirahat di sela-sela mengerjakan tugas. Kenangan itu menoreh-menoreh hati.
Rinduku makin dalam. 

Posted from WordPress for Android