Tag Archives: Puisi

Selintas Surat Cinta

puisi selintas surat cinta

Manisku
Ada banyak, banyak sekali
Yang mesti kuucapkan padamu

Dari mana ya permata, mesti kumulai
Segalam padamu serba terpuji

O kau, yang membuat indung sutera
Dari tulisanku dengan segala maknanya

Inilah nyanyianku, dan aku di sini
Dan kita terangkum dalam buku kecil ini

Esok, bila kubuka halaman-halaman buku ini
Maka lampu akan meratap dan ranjang akan bernyanyi

Karena rindu, akan menjadi hijau huruf-hurufnya
Dan seakan hendak terbang koma-komanya

Jangan katakan: kenapa orang muda ini
bicara tentang diriku pada sungai dan jalan yang berkelok sunyi

Pada pohon badam dan bunga tulip sehingga ke mana aku pergi
Dunia pun akan selalu mengikuti

Dan mengatakan apa yang dikatakan orang muda itu
Bahwa tiada lagi bintang yang tak diharumi semerbak wangiku

Esok, orang akan melihatku dalam sejaknya, dan tampak:
Mulut rasa anggur dan rambut dipotong pandak

Jangan pedulikan kata mereka, karena kau akan besar
Hanya dengan kasihku yang besar

Apa artinya dunia ini tanpa kita
Dan tanpa matamu, apa jadinya

———————————-
Nizar Gabbani, 1923 —

Catatan buku: Puisi Arab Modern

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU

Kali ini saya ingin berbagi tentang buku yang lain yang tersimpan di ranjangku. Kadang-kadang saya  membaca buku sastra; cerita, novel, cerpen, dan kumpulan puisi. Buku ini adalah buku terjemahan kumpulan puisi dari Timur Tengah. Buku ini dulu saya ‘pinjam’ dari perpustakaan sekolah SMAku; SMANSA.

Ceritanya dulu saya langganan pinjam buku di perpus sekolah. Saking seringnya saya pinjam, petugas perpusnya membolehkan saya masuk ke ruangan koleksi dan meminjam buku-buku ‘Res’ yang ada tandanya merah. Banyak buku yang saya pinjam; baik yang resmi maupun yang ‘tidak resmi’. Ketika lulus buku-buku itu saya kembalikan, tapi ada beberapa buku yang ‘tetap saya pinjam’ sampai sekarang. (Hehehehe….maaaffff).

Penerjemah buku ini juga sastrawan Indonesia; Hartojo Andangdjaja. Ulasannya dan terjemahannya bagus. Saya suka sekali. Makanya buku ini tetap saya pinjam dan masih sering saya buka-buka sampai sekarang.

image

image

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Juita
Kalaulah kegandrungan yang kunyatakan ini menarik perhatianmu
Atau tak berarti apa-apa bagimu
Maafkanlah aku. Namun di matamulah
Dalam lindup bayangannya, suatu petang aku bersandar istirah
Dan sebentar terhantar dalam tidur yang indah.
Dalam ketenangannya kubelai bulan dan bintang-bintang
Kuanyam kapal khayal dari kelopak-kelopak kembang
Dan kubaringkan jiwaku yang lelah di sana
Kuberi minum bibirku yang dahaga
Dan kupuaskan gairah mataku yang mendamba

Juita
Waktu kebetulan kita bertemu sebagai dua orang asing yang bertemu
Dukaku pun berjalan juga di jalan itu
Telanjang, tak terselubung
Dengan langkah murung…
Dan engkaulan dukaku itu
Kesedihan dan kegagalan
Kebisuan dan kekecewaan
Mengungkung penyair yang bergulat habis-habisan
Karena puisi, Juita, ialah orang asing dinegeriku
Dibunuh kekosongan dan kehampaan.
Jiwaku gemetar ketika aku melihatmu
Aku merasa tiba-tiba seakan sebuah golok mengorek ke dalam darahku
Membersihkan hatiku, mulutku
Meniarapkan aku dengan kening kotor dan tangan meminta
Dalam lindap bayangan matamu yang jelita

Juita
Jika tiba-tiba kita bertemu
Jika mataku memandang matamu
Yang anggun, hijau, tenggelam dalam kabut dan hujan
Jika kebetulan pula kita bertemu lagi di jalan
(Dan bukankah hanya nasib kebetulan ini)
Maka akan kucium jalan itu, kucium dua kali

Muhammad Al Fayaturi (1930 – )

********

Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Dialog

DIALOG

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan.

‘Ali Ahmad Sa’id (Anonis) (1930 – )
***
Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Membaca Cerpenya Pak Sapardi Djoko Damono

cerpen puisi sapardi djoko damono Membaca puisi dan cerpennya Pak Sapardi, seperti sedang mengelana di dunia khayal. Peristiwa-peristiwa muncul tak terduga, dan ada humor yang lembut.

Pertama kali saya membaca karya Pak Sapardi adalah ketika di SMU (SMA N 1 Magelang). Sekolah saya memiliki perpustakaan yang cukup lengkap, termasuk koleksi buku-buku sastra. Saya paling suka ke perpustakaan dan mungkin saya siswa yang paling banyak meminjam (dan sebagian tidak terkembalikan) buku. Buku sastra yang paling saya suka adalah kumpulan puisinya Pak Sapardi Djoko Damono. Ada dua buku kumpulan puisi yang masih saya simpan sampai sekarang, yaitu: Perahu Kertas dan Mata Pisau. Namun, saya belum pernah membaca cerpen-cerpennya Pak Sapardi.

Sampai suatu ketika saya sedang naik pesawat dan tersedia koran gratis. Saya ambil Kompas minggu. Sambil menunggu terbang saya baca-baca koran itu, sampailah saya di halaman 20 yang membuat rubrik seni. Biasanya saya lewati halaman ini. Kali ini cerpen yang ditampilkan adalah cerpennya Pak Sapardi. Ada lima cerpen di halaman itu; yaitu: Wartawan itu menunggu pengadilan terakhir, Dalam tugas, Naik Ka-Er-El, Naik Garuda, dan Meditasi Sunan Kalijaga.

Saya tetap membaca dan tidak peduli meskipun lampu dalam kabin dimatikan. Saya nyalakan lampu baca dan terus membaca cerpen-cerpen itu.

Cerpen-cerpen Pak Sapardi mirip dengan puisi-puisinya. Cerpennya singkat, jauh lebih singkat daripada cerpen-cerpen yang lain. Mungkin hanya sekitar 500-2000 kata saja. Saya suka cerpen-cerpen ini, bahkan saya membacanya berkali-kali. Sepertinya saya tidak pernah bosan membaca cerpen-cerpen itu.

Pak Sapardi dengan nakal membuat peristiwa-peristiwa absurd yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Seperti halnya wartawan yang mau mewancarai kakek-nya di cerpen Wartawan itu Menunggu Pengadilan Terakhir. Atau peristiwa tertukarnya kaki penumpang Ka-Er-El. Kita akan menemukan sebuah kesimpulan atau penutup yang benar-benar tidak terduga. Meskipun tidak disampaikan secara eksplisit, tetapi kita akan tahu siapa yang dimaksud dalam cerita itu.

Misalnya, tentang kakek, kita akan tahu bahwa si kakek yang dimaksud adalah kakek kita semua, kakek seluruh ummat manusia, yaitu Nabi Adam.

Di cerpen kedua, Dalam Tugas, saya menduga Pak Sapardi sedang bercerita tentang foto Eddie Adam yang memotret eksekusi petani di vietnam. Kita jadi berfikir bagaimana perasaan sang fotografer ketika mengabadikan foto itu.

foto eddie adams vietnam

Yang paling absurd adalah cerpen Naik Ka-Er-El, bagaimana mungkin kaki bisa tertukar gara-gara naik Ke-Er-El. Namun, Pak Sapardi menyampaikannya dengan sangat menarik. Dan saya pun tertawa ketika membacanya. Apalagi cerpen Naik Garuda. Kebetulan saya sedang naik Garuda, jadi membayangkan bagaimana jika si kakek itu adalah orang di sebelah saya…..hiiiii……

Cerpen terakhir, meditasi Sunan Kalijaga, saya tidak tahu. Tapi mungkin ini gambaran kekecewaan Pak Sapardi ketika menyaksikan pertunjukan teater atau seni yang diluar ekspektasinya. Mungkin.

Saya masih membaca lagi 5 cerpen itu. Dan lagi.

Cerpen Sapardi Djoko Damono

Cerpen Sapardi Djoko Damono

***

***
Apa yang istimewa di hari ini
matahari yang terbit pagi ini
adalah matahari yang sama yang terbit di hari
ketika Adam dikirim ke bumi

Adalah matahari yang sama
ketika seorang Rasul lahir dari rahim yang suci
ketika Abrahah menyerang Kakbah
ketika Rasul Mulia hijrah ke tanah harapan

Saat kan terus berlalu
Bumi kan terus berputar
Waktu kan terus berlari mengejar

Apa yang tertinggal tak akan pernah kembali
masa depan adalah misteri
kita pun tak pernah tahu
apakah esok masih bisa melihat terbitnya sang mentari

Berjalan dan berkerja
Melangkah dan berkarya
onak duri adalah ujian
topan badai adalah tantangan

Tetap di jalan-Nya yang lurus
apa yang kita tanam
pasti akan kita panen

Mgl, 1 Muharam 1434H
isroi

************************
Selamat Tahun Baru 1434H

Dua belas tahun

12 Tahun
Terima kasih sayang sudah menemaniku selama 12 tahun ini
Terima kasih sayang atas kesabaranmu selama 12 tahun ini
Terima kasih sayang kau beri tiga jagoan pemberani

Jauh dan beratnya perjalanan ini tak terasa karena kau di sisiku
topan badai petir dan salju tak akan menyurutkan langkahku
karena dirimu selalu mendorong di belakangku
api semangatku berkobar-kobar karena engkau isi dengan bara cintamu

Ajarkan kepada tiga jagoan kita kelembutan dan kasih sayang
agar hati mereka tidak terkontaminasi kebencian dan kedengkian
akan ku ajarkan kepada mereka keperkasaan dan ketabahan
buat bekal mereka mengarungi keras dan kejamnya kehidupan

Perjalanan ini masih panjang
Kita arungi dengan riang
Aku dirimu dan tiga jogoan

Magelang, 12 November 2012

Pantun Rindu

Jangan ke laut tanpa perahu,
Topan halilintar kan berlalu.
Jangan ditanya rinduku padamu,
rinduku gemuruh lautan biru.

Jangan berjalan di hutan randu,
onak duri tajam mengelana.
Jangan ditanya cintaku padamu,
Cintaku semerbak harum cendana.

Jangan mengelana ke padang baru,
panas pasir datang mendera.
Jangan ditanya kesetianku padamu,
kesetianku setegar karang samudera.

Göteborg, Nov 2010
Posted from WordPress for Android

Puisinya Abim: Tamanku

Anakku yang nomor dua, Dedek Abim alias Ibrahim (8 tahun), mulai belajar menulis. Anaknya periang, sensitif, dan sedikit romantis. Hari ini dia mengirimkan puisi gubahannya yang pertama via Skype. Ini dia puisinya:

Tamanku

tamanku kau bersih sekali,
aku lihat burung bernyanyi riang,
tidak ada sampah dimana – mana,
tamanku kau indah sekali,
karena kubersihkan setiap hari.

Pati, 30 Oktober 2010
Abim

100_1154

Kutitipkan

Wahai bintang-bintang
kutitipkan sepotong mimpiku padamu
agar dia gemerlap seperti cahayamu

Wahai mentari
kutitipkan sepotong harapanku padamu
agar dia bergelora seperti kobar semangatmu

Wahai angin
kutitipkan sepotong angan-anganku kepadamu
agar dia terus bergerak segesit gerakanmu

Wahai samudra
kutitipkan sepotong kenanganku padamu
agar dia tersimpan rapat seperti misteri dalammu

Wahai Penguasa Langit dan Bumi
kutitipkan diriku padaMu
agar aku tetap berada di jalanMu

Tarengge, April 2010
isroi