Category Archives: Unik

Trifting: Berburu Jam Second di Pasar Loak – Bag. 1

Kalau beruntung, trifting jam tangan second di pasar loak Jembatan Item Jatinegara bisa mendapatkan jam dengan kualitas cukup bagus dan dengan harga yang miring. Jam-nya campur-campur, ada yang ori dan banyak juga yang KW super sampai nggak jelas mereknya. Kita mesti pintar-pintar memilih dan menawar. Tidak perlu buru-buru.

Aku ingin menceritakan pengalamanku mencari jam tangan analog second di pasar loak Jembatan Item Jatinegara. Pasar ini sudah jadi legenda pasar loak di Ibukota. Seru juga jalan-jalan di pasar ini, karena hampir semua jenis barang di jual dengan kondisi yang macam-macam. Aku beberapa kali main ke pasar ini, dan salah satu yang paling banyak dijual oleh para pelapak di sana adalah jam tangan. Kayaknya, hampir setiap lapak ada jam tangan bekasnya. Ada beberapa yang khusus hanya menjual jam tangan.

Ada beberapa tips sederhana bagi saya orang awam untuk mengecek apakah jam itu ori atau KW. Baca di sini: Tips memilih jam tangan second ori.

Pertama Kali Beli Jam Dinding Seiko Second

Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan jam-jam second ini, karena kami sudah punya jam. Satu jam sudah dipakai bertahun-tahun. Lama-lama kami penasaran juga. Awalnya kami tertarik dengan jam dinding Seiko. Kami menemukan satu lapak yang hanya menjual jam dinding. Jam dinding Seiko sudah sangat terkenal awet dan kualitasnya bagus. Harganya pun lumayan mahal. Worthed lah dengan harganya. Nah, waktu kami tanya-tanya harganya lumayan murah. Kondisi memang tidak mulus banget. Ada bekas lecetnya dan agak sedikit kusam. Aku coba cek-cek mesin jam-nya, dan memang ini jam Seiko original, bukan KW.

Aku tanya berapa harganya. Harga tergantung umur jam dan kondisi jam-nya. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp. 150rb s/d 200rb. Seperti biasa, aku tawar mulai dari setengahnya. Sambil cek-cek dan lihat-lihat, kami terus menawar jam-nya. Alot…. biasa lah … emak-emak…. :). Akhirnya deal kami beli dua jam dinding dengan harga sekitar Rp. 150-an rb. Lumayan.

Jam Tangan Second Ada di Mana-mana

Kalau jalan-jalan ke pasar loak Jembatan Item Jatinegara, rasanya di mana-mana hampir selalu ada yang jual jam tangan. Dari jam tangan analog, jam tangan digital, sampai smartwatch juga banyak. Lihat saja foto-fotoku ini.

Ada juga yang jual jam tangan second di ruko-ruko kecil, tapi saya lupa belum mengambil foto-fotonya.

Harga jam yang ditawarkan pun mulai dari puluhan ribu sampai jutaan ada. Padahal dijajakannya hanya lesehan saja. Kondisinya ada yang masih mulus seperti baru sampai yang sudah tinggal bangkai jam saja.

Tips Berburu Jam di Pasar Loak

Sedikit sharing kalau temen-temen mau berburu jam tangan second di pasar loak. Tips ini semoga membantu mendapatkan jam yang diinginkan dengan harga yg miring.

1. Putuskan dulu mau cari jam apa dan yang seperti apa

Ini penting banget. Kamu mesti sudah punya rencana dulu mau beli jam apa. Jangan ke sana tanpa tahu apa yang akan dibeli atau dicari.

Contohnya, aku ingin membeli jam tangan analog yang automatic atau quartz (battery), jam yang simple, elegan, kondisi bagus, harga kirasan beberapa ratus ribu saja. Aku cari beberapa merek yang sudah cukup terkenal: SEIKO, CASIO, ALBA atau CITIZEN. Semua merek Jepang. Aku cari yang original yang usianya kisaran 20-30 tahun. Agak vintage.

Kamu bisa pilih jam lain yang kamu sukai. Intinya jangan ke sana tanpa ada tujuan yang jelas.

2. Searching dan Palajari dulu Jam Incaranmu

Langkah berikutnya adalah lakukan riset kecil-kecilan terlebih dahulu. Cari pakai Google atau pakai AI, model-model jam yang jadi incaranmu. Kalau bisa sedetail mungkin, termasuk bagaimana membedakan jam yang original dan tidak. Apa ciri-ciri penting dari jam original yang kamu incar. Kalau perlu buat catatan kecil.

3. Trifting Santai, Jangan Buru-buru

Karena kamu berburu jam second jadi santai saja. Jangan buru-buru dan emosi. Jangan targetkan sekali datang langsung dapat yang diinginkan. Ada banyak pilihan jam dan lapaknya. Kalau perlu putarin semua lapak, cek-cek dulu, baru pilih dan tandai jam mana pilihanmu.

Jam analog yang akhirnya aku beli, aku tidak langsung beli. Aku lihat-lihat dulu. Aku ijin ambil foto-fotonya; depan, belakang, detailnya, foto nomor serinya, lengkap lah. Belum aku jadiin. Pulang dari sana, hari berikutnya aku searching lagi. Maklum masih pemula. Aku tanya AI apakah jam ini asli original.

Seminggu lagi aku datang. Seperti biasa berburu santai. Sampai ke lapak itu baru aku tawar kenceng. Akhirnya deal juga.

4. Cek Keaslian Jam yang Ditawarkan

Kalau kamu mencari jam original, kamu harus tahu ciri-ciri ke aslian dari merek jam yang kamu incar. Banyak jam KW yang sangat mirip dengan aslinya. Istilahnya KW super atau KW 1. Banyak juga jam hasil kanibal atau sudah diperbaiki dari kerusakannnya.

Selalu tanyakan ke pejualnya apakah barangnya ori. Sepanjang pengalaman saya banyak penjual yang jujur. Tapi ada juga sih yang tidak jujur. Jadi tetap hati-hati. Selalu cek dan re-rek lagi.

Mengecek keaslian jam sudah banyak tutorialnya di Youtube. Beberapa yang aku lalukan adalah: mengecek kualitas fisik jam, cek bagian belakangnya dan nomor serinya, cek detail-detail kecilnya.

Kalau sudah yakin mau beli, minta ijin untuk cek mesin bagian dalamnya. Kalau perlu bawa kaca pembesar atau pakai kamera HP untuk cek mesin dalamnya.

5. Cek Seluruh Fungsi Jam Berjalan dengan Normal

Aku sempat beberapa kali gagal beli karena mesin dalemnya ada masalah, meskipun barangnya ori. Pernah aku sudah tawar menawar jam tangan wanita untuk istriku. Istriku suka juga. Jam Citizen Quartz. Setelah deal, aku minta untuk cek fungsi IC dan mekanik-nya. Para penjual jam punya alat khusus untuk mengecek ini. (Sayang aku lupa foto dan dokumentasikan). Setelah dicek, ternyata mekaniknya ada kendala, jalannya seperti agak tersendat. Akhirnya kami batal beli dan pembelinya pun juga membatalkan penjualan.

Karena ini jam penunjuk waktu, baik itu digital atau pun analog, semua fungsi jam harus dicek bener dan benar-benar bisa berfungsi normal. Untuk jam analog automatic, pastikan bahwa mesinnya normal dan jamnya berjalan normal. Tidak tersendat, atau jamnya lebih lambat. Aktifkan fungsi reset agar jamnya bisa ke jam 12 dengan normal. Tunggu sampai 15 menit dan cek apakah jamnya bisa berjalan dengan normal, tidak lambat atau tidak terlalu cepat.

Kalau jamnya pakai battery atau Quartz. Cek apakah detiknya normal dan apakah tidak lambat atau terlalu cepat. Buka juga bagian mesinnya. Cek apakah ada karat di bagian batterynya. Mekanis harus berjalan dengan normal tanpa tersendat.

Hampir semua pedagang jam second punya alat untuk mengecek fungsi jam quartz. Alat kotak kecil yang gunanya untuk mengecek IC mesin jam dan mekanik jam-nya. Jadi sebelum deal beli, jangan pernah lupa untuk cek mesin-mesinnnya dulu.



6. Tawar Mulai dari Kurang dari Setengah dari Harga yang Ditawarkan

Di pasar loak tidak ada patokan harga yang pasti, jadi mesti pintar-pintar menawar. Kalau saya biasanya lihat-lihat barangnya dulu dan tanya berapa penawaran harga awalnya. Klo kita suka dan ingin beli baru tawar harganya. Sebaiknya kita sudah punya referensi dulu berapa harga barang baru-nya atau kisaran harga secondnya dari internet. Dari penawaran pedagangnya kita bisa mengira-ngira apakah dia menawarkan dengan harga tinggi atau cukup murah. Kalau harga awalnya sudah tidak masuk akal, biasanya langsung saya skip. Susah.
Nah kalau barang cocok dan harga penawaran juga menarik baru kita mulai tawar menawar.

Saya biasanya menawar dengan harga setengah dari yang mereka tawarkan. Tunjukkan keseriusan kita untuk membeli. Cek lebih detail dan sambil menawar. Naik pelan-pelan saja. Bersyukurlah kalau akhirnya harganya deal. Kalau tidak, ya… tinggalin saja. Belum rekekinya.

7. Klo harga tidak cocok, pindah ke lapak lain

Kalau tidak cocok harganya tinggalin saja, pindah ke lapak lainnya. Ada banyak pelapak dan mungkin juga ada yang barangnya mirip-mirip atau sama.

Pengalaman saya, saya pernah cek jam Casio sporty. Di pelapak pertanya yang saya lihat dia ngasih harga Rp. 150rb – Rp. 180rb. Aku cek dan memang barangnya original. Semua part masih berfungi dengan baik. Aku tidak menawar di lapak ini. Lanjut jalan lagi. Ternyata tidak jauh dari situ ada juga barang yang mirip, satu seri. Aku tanya lagi. Di pelapak ini ngasih harga sedikit lebih tinggi Rp. 200rb. Aku cek dan sama kualitasnya; ori. Aku coba tawar menawar, Mentok di harga Rp. 150rb. Aku tinggalin. Aku jalan lagi dan cek-cek yang lain.

Kira-kira satu jam kemudian aku balik lagi ke lapak pertama. Aku tawar lagi. Dia tetap kekeh di harga Rp. 125rb. Tidak mau turun. Aku coba tawar dengan keras. Aku keluarkan uang Rp. 100rb dan aku kasihkan. Dia minta naik lagi. Akhirnya deal di harga Rp. 110rb. Alhamdulillah.

Jam tangan casio murah

8. Minta garansi klo ada masalah

Barang second biasanya tidak ada garansi. Karena itu harus cek dengan teliti, double cek sebelum benar-benar membelinya. Ada baiknya tanyakan juga apakah ada garansinya.

Jam dinding SEIKO yang saya beli ternyata ada masalah, dan akhirnya saya bawa balik lagi ke penjualnya. Sama penjualnya diperbaiki dan tanpa ada biaya lagi.

Ada juga jam tangan SEIKO yang ternyata kondisinya parah, untuk perbaikan perlu biaya lumayan besar. Jadi saya bawa balik lagi ke lapaknya dan saya minta tukar tambah barang saja. Meskipun barangnya belum ada, jamnya tetap saya tinggal. Lain waktu kalau pas lewat dan ada jam yang cocok bisa jadi pengurang harganya.

Asalkan kita jaga komunikasi dan jaga pertemanan dengan pejual lapaknya saja. Insya Allah, pedagang di pasar loak baik-baik dan mereka adalah pedagang tetap di sana.

Happy trifting.

Pengalaman Serem; Boneka Pocong Menoleh Setelah Dipanggil

Baru kali ini aku mengalami pengalaman aneh saat hunting foto. Aku memotret boneka pocong yang digantung di atas pohon. Waktu pertama kali aku foto, dia menghadap ke samping. Nggak bagus lah. Lalu aku panggil pelan agar menoleh ke arah kamera. Eh… menoleh benaran.

Jadi ceritanya aku mengantar pacarku jalan-jalan ke pasar, cuci mata. Seperti biasa aku membawa kameraku, antisipasi kalau ada pemandangan yang menarik untuk difoto. Awalnya, aku tertarik dengan pohon yang akarnya saling bertalian. Foto genik menurutku. Aku foto akar itu. Nah, bapak-bapak penjual lapak di sebelah pohon itu menunjuk ke atas sambil bilang: “Tuh….klo mau foto yang di atas. Ada jalangkung.” Aku reflek menoleh ke atas, ada boneka putih yang digantung di pohon, bentuknya dibuat seperti pocong.

Aku berjalan agak menjauh dari pohon itu. Lalu aku mulai ambil fotonya. Foto pertama, si boneka pocong menghadap ke samping. Nggak kelihatan serem-seremnya sama sekali. Lalu, setenah berbisik aku bilang; “Nenggok dong ke kamera.” Eh…. tiba-tiba boneka itu bergerak pelan menghadap ke arah kameraku.

Kaget tentunya…. aku segera ambil foto itu. Dan, aku segera pergi dari tempat itu.

Setengah tidak percaya, apakah boneka itu mendengar dan merespon bisikanku. Atau, karena faktor angin saja…???? Aku masih berpikiran positif kalau gerakannya akibat tertiup angin. Semoga.

Kisah-kisah di ArasoE: Dikerjain Pohon Kelapa

Pohon Kelapa Sendirian di Tengah Kebun Tebu

Masih ingat dengan kisah pohon kelapa yang ada di tengah-tengah kebun Tempeh (baca di sini: Kisah Horor Pohon Kelapa)? Ternyata memang horor.

Saat ini mulai musim durian. Saya dapat informasi dari mandor kalau ada sentra durian di dekat desa Sibulue, nama desanya kalau tidak salah Pattiro Riolo. Kami berlima; saya, Yogo, Andi, Ai dan Elsam, berencana mencari lokasi sentra durian ini. Kami berangkat selepas sholat asar. Kami mengambil jalan mutar lewat desa Kaju baru Sibulue dan ke Pattiro. Lumayan jauh juga. (Cerita duriannya lain kali saja).

Pulangnya sudah agak sore. Kami ingin mengejar sholat magrib di rumah. Kami putuskan untuk lewat jalan tengah kebun, jalan tanah berbatu. Pas kebetulan ada perbaikan jalan. Jalan sepanjang beberapa kilo meter penuh dengan tumpukan-tumpukan pasir dan kerikil. Apalagi lagi musim hujan seperti ini, jalan sempit dan licin. Kami mesti super hati-hati.

Setelah lewat jembatan, kami masuk ke kebun Sibulue, belok kanan memutari bukit Cinnong (kalau nggak salah namanya Cinnong). Jalan kebun tanah berbatu yang sepi. Setelah lewat pondok kebun Polewali, kami mendekat ke belokan pertigaan kebun Tempeh. Letak pohon kelapa itu. Matahari sudah tenggelam, adzan magrib sudah berkumandang. Jalanan sedikit gelap. Mendung lagi.

Agak dekat dengan pertigaan, tiba-tiba gigi motor saya masuk ke gigi satu. Motor mengerang agak keras, tapi motor tidak mau melaju. Saya coba pindah-pindah gigi. Tetap saja tidak mau pindah gigi. Saya naik motor sendirian, yang lain berboncengan. Mereka menyalip saya. Saya coba kejar. Motor tidak mau melaju. Setelah lewat belokan, mereka semakin menjauh dan saya tertinggal agak jauh di belakang. Saya kasih tanda pakai lampu.

Mereka menunggu di belokan batas antara kebun Kasimpureng dan kebun Tempeh.

“Ada apa, Pak?”

“Ini motor saya tidak mau pindah gigi.”

Lalu saya turun untuk melihat kondisi motor. Tetap saja tidak mau hidup dan tidak mau pindah gigi. Yogo coba menghidupkan motor dengan cara dibawa lari. Nggak bisa juga. Posisi kita sudah agak menjauh dari pohon kelapa itu.

Setelah dicoba-coba agak lama, akhirnya motorku bisa hidup juga. Yogo bawa motor saya dan saya membonceng Elsam. Sambil di jalan Elsam bilang ke saya:

“Di sini memang biasa seperti itu, Pak.”

“Nanti saya ceritakan.” katanya sambil terus melaju.

Setelah agak jauh dan mulai dekat dengan komplek PG. Elsam mulai menceritakan kisah tentang pohon kelapa itu. Sedikit dibumbui cerita-cerita horor dan dramatisasi. Mirip dengan cerita yang disampaikan oleh mandor dan sinder.

Dikerjain juga akhirnya.

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Pak Haji Yasmin, yang namanya jadi tiga spesies serangga

Pak Haji Yasmin (kanan) menunjukkan salah satu koleksi serangga langkanya.

Pak Haji Yasmin, hidupnya untuk serangga dan kumbang. Waktunya dihabiskan menjelajah hutan mencari dan mengidentifikasi serangga asli Indonesia. Namanya diabadikan untuk tiga spesies serangga; Pyrops jasmini dan Aegus jasmini dan satu sub spesies miky jasmini (lupa nama genusnya).
Saat ini sedang proses identifikasi serangga daun, mirip dengan serangga yang di foto tengah bagian bawah.
Dia sedang mencari juga serangga batang spesies Papua yang panjangnya sampai 70cm. Belum ketemu sampai sekarang, karena hidupnya di pohon2 besar dan tinggi.
Ketika menjelajah hutan sering nemu anggrek, sayang koleksi anggreknya mati. Aduuhh…. Pak Haji. Sayang banget.

Pyrops jasmini
Aegus jasmini

Air Terjun Bantimurung, Bulu Saraung; Surganya Kupu-kupu di Indonesia Timur

Air terjun Bantimurung yang terletak di salah satu kaki gunung Bulusaraung ini adalah salah satu lokasi surganya kupu-kupu di Indonesia. Ada kurang lebih 200 spesies kupu-kupu hidup di habitat ini.

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Tidur di Pondok Kayu

Terlelap sebentar di pondok kayu di tengah kebun. Alasnya papan kayu dan bantalnya buah kelapa tua. Nyenyak.

Seperti biasanya, pagi habis sarapan menuju ke kebun. Kali ini saya ke kebun upland wilayah barat; Kebun Walenreng 1. Jaraknya cukup jauh dari mess PG. Saya berangkat berdua dengan Ai. Saya naik Honda Win dan Ai naik Beat.

Jalan poros makadam kita lalui. Pertama kita singgah di Kebun Lompu. Lalu ke Kebun Talaga. Singgah sebentar beli minum di pondok rayon Barat; warungnya mandor Agus. Lanjut lagi, menyusuri tiang listrik, membelah kampung, lalu ke kebun Walenreng. Di sini sedang ada penanaman PC atau tebu baru.

Kami parkir motor di pinggir kebun dekat dengan kebun kakao milik warga. Kita cari-cari mandor kebunnya; Pak Iskandar. Nggak terlihat, padahal motor winnya parkir bersebelahan dengan motor saya.

Kita coba cari-cari di sekitar kebun tidak terlihat. Hanya ada beberapa buruh tanam yang sedang kletek bibit dan potong2 bibit.

Di kebun warga ada pondok kayu. Pondok kebun sederhana. Ukuranya 3 m x 6 m. Pondok ini berbentuk panggung tingginya hampir setinggi kepalaku. Di depannya ada tangga kecil kenuju ke teras pondok. Di teras ini terlihat ada orang tiduran di atas dipan kayu, Itu dia Pak Iskandar.

Kami segera menuju pondok dan naik di terasnya. “Assalamu’alaikum”, ucap kami hampir serempak sambil melambaikan tanggan. Pak Iskandar menyambut salam kami dengan wajah ceria. Di pelipisnya ada luka bekas jahitan. Seminggu yang lalu, jam 10 malam, Pak Iskandar kecelakaan menabrak kuda yang lari di tengah jalan. Tanggannya masih terkilir dan kepalanya masih kadang2 pusing.

Kami ngobrol di teras pondok. Di tempat itu ada banyak sekali buah kelapa tua. Ada satu dipan kayu panjang di sisi dalam. Anggin bertiup pelan membuat kesegaran di tengah terik matahari musim kemarau ini.

Lama2 mata jadi berat. Pingin tidur rasanya. Semakin lama pelupuk mata semakin berat dan sulit dibuka.

“Pinggin merbahkan badan, Pak Iskandar. Mata berat sekali. “

Saya ambil beberapa ikat buah kelapa muda dan saya letakkan di ujung dipan kayu. Saya rebahkan badan dan kepala di atas buah kelapa. Dipan kayu ini sempit, lebarnya sekitar 25 cm. Geser sedikit saja bisa jatuh.

Kesadaran saya pelan2 hilang. Saya miring sedikit ke arah dinding papan kayu. Melayang ke dunia mimpi.

***

Kenikmatan tidur bukan di atas spring bad yang empuk. Atau sejuknya AC. Mata yang terpejam dan pikiran lelap. Sebentar melupakan keruwetan.

Badan hampir iatuh. Lalu saya terbangun. Saya usap bibir dan dagu yang basah. Duduk sebentar sampai kesadaran saya pulih.

Matahari sudah condong ke barat. Perut mulai keroncongan. Saatnya makan siang. Kami pun turun dari pondok balik ke komplek PG.

Senam Otak: Membaca

Prcaya aatu tidk, Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabrdge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna.

Katlimt  bsia dtiluis berantaakn, teatp ktia daapt mebmacayna.

Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, buukn ktaa per ktaa. Laur bisaa kan?

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat ”

Sdaar aatu ngagk adna brau sjaa mambcea dgnaen tiluasn ynag braentakan.

Inlaih khebeatan oatk mansuia, alpagi ynag
Mctipakn oatk ktia,

Allh Yang Maha Sempurna.

Gimana? Bisa ditangkap kan maksudnya?

# Ayo Senam Otak #

Silahkan di baca dan terjemahkan pesan berikut ini:

P354N 1N1 11131118UK71K4N 841-1W4 074K
K174 8154 1113L4KUK4N 1-14L Y6 LU412 81454
1113N4KJU8K4N!

P4D4 4W4LNY4 T312454 5UK412 74P1 5373L41-1
54111P41 D1841215 1N1 P1K1124N K174 8154
111311184C4NY4 53C4124 07O1114715 74NP4
8312P1K112 841-1W4 K174 111311184C4 4N6K4.

84N664L41-1! K4123N4 1-14NY4 0124N6-0124nN6
731273NTU Y4N6 8154 111311184C4 P35AN 1N1.
PL3453 F012W412D 1F U C4N 1234D 71-115 111355463.

Bagi yg bisa membaca ini, berarti otak kanan nan kirinya masih baik. Salam Senam Otak…:)

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16

Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali

Meski di tawaf sunnah kedua saya sudah berhasil mengusap hajar aswad, saya belum merasa puas. Karena saya belum bisa benar-benar memasukkan kepala ke dalam lubang hajar aswad dan mencium batu hitam itu. Dalam hati kecil saya, keinginan saya untuk mencium hajar aswad tetap membara. Saya pun mengajak istri saya untuk mencoba mencium hajar aswad lagi di lain waktu.

Setelah makan pagi, saya merasa kuat dan cuaca cukup cerah. Saya ajak istri saya untuk mencoba ke hajar aswad lagi. Istri saya setuju. Kami pun bersiap-siap untuk mencium hajar aswad itu lagi. Saya berpakaian ihram dan istri saya menggenakan baju hitam dan kerudung hitam besar. Seperti biasa, kami berangkat ke masjid dengan naik bis hotel.

Jam besar di zam-zam tower menunjukkan pukul 9 kurang. Cuaca cerah dan cenderung panas. Saya lihat papan penunjuk di depan gerbang Raja Fahd menunjukkan suhu 32oC. Lumayan panas. Meski panas teris sekali, anehnya marmer di pelataran masjidil haram tidak terasa panas. Malah terasa dingin. Aneh.

Di Bogor ada juga masjid yang semuanya dilapisi marmer. Tapi pelataran luarnya panas luar biasa kalau terpapar terik matahari. Pikiran saya tidak bisa memahami bagaimana marmer di masjidil haram ini, yang sedemikian luas ini, bisa tetap dingin di cuaca yang sangat panas dan terik ini.

Sejak keluar hotel, kami menguatkan niat agar bisa mencium hajar aswad. Sepajang pejalanan di dalam bis, saya tidak pernah putus bersholawat. Demikian pula ketika masuk ke masjid. Setelah membaca doa masuk masjid, kami selalu bersholawat atas Nabi. Bersholawat dan terus berjalan sampai di rukun Yamani. Pelataran tawaf tetap ramai meski kondisinya terik. Memang tidak pepenuh dan sepadat ketika malam hari. Mungkin orang-orang lebih banyak menghindar di cuaca yang bisa membuat kepala pening seperti ini.

Kami merangsek agak ke tengah. Kami mulai tawaf dari posisi hajar aswad di lingkaran dalam. Jaraknya sekitar lima lapis orang dari hajar aswad. Hajar aswad tetap dipenuhi orang yang berjubel-jubel ingin menciumnya.

“Bismillahi Allahuakbar…..”, kami lambaikan tangan dan menciumnya.

Baru beberapa langkah kami mendekat ke multazam. Subhanallah. Dalam pandangan kami multazam kosong. Hanya satu lapis orang saja yang sedang menempel di dinding multazam.

“Ayo, Mi….!”

Saya tarik istri saya ke multazam. Di depan kami ada bapak-bapak yang sedang menangis dan bertafakur di dinding multazam. Kami berdiri tepat di bawah askar yang menjaga hajar aswad. Dinding multazam hanya cukup untuk tiga orang saja. Semuanya penuh. Bibir kami tak henti-hentinya bersholawat. Terus bersholawat sambil berdoa di dalam hati.

Tiba-tiba, tangan askar itu menarik orang yang ada di depan kami. Istr saya langsung saya dorong maju dan naik satu batu dan menempel tetap di dinding multazam. Tangan istri saya bergelantungan di kiswah penutup Ka’bah. Saya masih belum bisa ke multazam, karena masih terhalang satu orang lagi. Tak lama berselang, orang itu mundur dan gantian saya yang maju menempel ke multazam. Saya tempelkan seluruh badan saya, dada saya, pipi kanan saya dan tangan saya menegadah menempel ke dinding multazam. Mata air kami tumpah sejadi-jadinya. Hati bergemuruh hebat. Meluap-luap dan meletup-letup tidak terhaankan. Saya panjatkan do’a-do’a saya. Saya baca istigfar, sayidul istigfar, doa nabi yunus ketika diperut ikan paus. Semua doa dan harapan saya panjatkan. Saya sebutkan nama emak saya, nama bapak saya, nama anak-anak saya, nama adik saya, nama kakak saya dan nama saudara-saudara saya. Saya sebutkan semua dan saya sampaikan semua titipan do’anya. Saya berdoa sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami berada di multazam. Waktu serasa berhenti dan kami kehilangan orientasi waktu untuk sesaat. Sampai akhirnya, istri saya mengingatkan saya untuk mundur dan memberi kesempatan kepada jama’ah lainnya yang ada di belakang kami. Kami pun berjalan mundur. Saya pegang erat tangan istri saya, saya peluk kuat-kuat.

Jarak multazam dan hajar aswad sangat dekat. Hanya beberapa langkah saja. Ketika kami mundur itu, saya lihat hajar aswad sepi. Hanya satu atau dua lapis orang saja dan tidak tampak berdesak-desakan seperti sebelumnya.

“Hajar aswad lagi, Mi…. Langsung..!”

Saya tarik istri saya menuju hajar aswad. Di depan kami ada ibu-ibu dari Indonesia yang juga mengantri ingin mencium hajar aswad. Posisinya di depan kami.Kami merangsek ke depan pelan-pelan. Meski berdesak-desakan, kali ini tidak seramai sebelumnya. Sampai akhirnya jarak kami dengan hajar aswad hanya beberapa langkah lagi. Ibu-ibu di depan saya tergencet dari depan. Saya tahan dari belakang. Pelan-pelan kami maju terus. Bapak-bapak saling sikut berebut untuk bisa mencium hajar aswad. Sampai akhirnya tinggal satu lapir orang lagi. Begitu orang yang mencium hajar aswad berbalik, saya segera dorong ibu-ibu itu maju. Posisinya tepat di depan hajar aswad dan bisa mencium hajar aswad. Saya mengikuti dari belakang sambil memeluk istri saya dengan tangan kanan. Tangan kiri saya berpegangan pada bibir hajar aswad.

Ibu-ibu itu berbeger ke kanan. Sesaat hajar aswad terlihat lowong. Saya mencoba untuk maju, tapi susah sekali. Orang-orang laki-laki yang dari sisi kiri juga tidak bisa masuk. Saya berteriak keras: “Allahuakbar….!!!!””””
Saya merengsek ke depan dan seperti mimpi, hajar aswad di depan mata saya. Saya cium sepuas-puasnya hajar asawad itu.

Setelah seluruh bagian dalam hajar aswad saya cium, saya menegakkan badan. Tiba-tiba dari samping orang sudah berdesakan mau masuk. Saya tarik tangan istri saya agar bisa mendekat ke hajar aswad. Rupanya sudah orang lain yang lebih dulu ke hajar aswad. Istri saya terhalang oleh ibu-ibu yang ada di depan saya tadi. Tangan istri saya tetap saya tarik agar bisa masuk, minimal mengusap hajar aswad.

Ibu-ibu yang ada depan saya tadi posisinya sekarang tergencet di bawah askar. Dia bersaha keras untuk berbalik, tetapi tidak bisa. Justru semakin tergencet dari samping dan belakang. Saya dan istri saya berbeser ke kanan. Saya teriak ke ibu itu:

“Jangan berbalik, Bu. Tidak bisa. Mundur saja pelan-pelan.”

Saya tarik bahunya. Seperti ketika pertama kali mencium hajar aswad, tangan kirim saya memeluk istri saya dan menariknya ke belakang. Tangan kanan saya raih bahu ibu-ibu itu dan saya tarik ke belakang. Dengan susah payah, kami pelan-pelan mundur ke belakang mencari tempat yang lebih longgar. Akhirnya, kami pun bisa lepas dari kerumuman orang-orang yang ingin mencium hajar aswad itu. Ibu-ibu itu langsung berbalik dan memeluk erat istri saya. Mereka berdua menangis sesenggukan, entah apa yang dirasakan si Ibu itu. Mungkin si Ibu itu terharu bisa mencium hajar aswad. Mungkin bersyukur karena selamat dari gencetan orang-orang yang ingin mencium hajar aswad.

Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya dilepaskan pelukan itu. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada kami.

“Ibu masih ingat rombonganan, Ibu?” tanya saya.

Dia mengangguk sambil mengucapkan, “Masih.”

“Ibu bisa pulang sendiri?”

“Bisa…”

“Semoga kita bertemu lagi, Bu. Assalamu’alaikum.”

Lalu kami melanjutan tawaf kami yang tertunda. Saya sudah tidak lihat lagi ibu-ibu tadi. Dia menghilang dikerumuman orang-orang yang sedang tawaf.

Di putaran ketiga, kami mendekat ke hijr Ismail. Kali ini, pintu hijr ismail seperti terbuka kembali untuk kami. Kami pun masuk lagi ke dalam hijr Ismail. Sholat sunnah seperti ketika pertama kali masuk ke sini. Ketika keluar kami pun bermunajat di dinding Ka’bah.

Kami lanjutkan tawaf sampai putaran ke tujuh. Di putaran ketujuh kami menuju arah luar. Sholat dua rakaat di tempat yang sudah disediakan untuk sholat dan minum air zam-zam.

Kami berada di masjidil haram sampai sholat dhuhur dan baru kembali ke hotel untuk makan siang selepas sholat dhuhur.

Hari ini kami puas sekali, karena bisa mencium hajar aswad, berdoa di multazam dan sholat lagi di dalam hijr Ismail.

Alhamdulillah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Kisah-kisah di ArasoE: Kisah Pohon Kelapa di Kebun Tempei

Pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun Tempeh ini ternyata punya kisah seru.Lokasi tepatnya ada di Kebun Tempe IV blok 25.

Ketika saya lewat di kebun Tempe, ada yang menarik perhatian saya; yaitu: satu pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah-tengah kebun. Pohon kelapa ini benar-benar sendirian saja. Di area kebun yang luasnya beberapa puluh hektar ini tidak ada pohon lainnya. Pohon kelapa Jomblo.

Saya sangat ingin foto pohon kelapa ini, karena memang menarik bagi saya. Saya foto dari sisi kanan, sisi kiri, kadang-kadang dari timur atau dari barat, tergantung posisi matahari di saat itu. Nggak ada foto yang bagus.

Hari ini saya ketemu dengan SKW wilayah itu, Pak Rusli, yang beberapa hari sebelumnya di sengat lebah di kebun Tempeh (Baca kisahnya di sini: Pak Rusli diserang lebah). Saya tanya tentang pohon kelapa yang ada di tengah kebun Tempe ini. Lalu, Pak Rusli mulai menceritakan kisah pohon kelapa di tengah kebun ini.

Pohon kelapa ini pernah ditumbangkan dengan bulldoser sampai roboh. Keesok harinya, pagi-pagi ketika warga mulai berangkat ke kebun, orang-orang terkejut dan terheran-heran, karena pohon kelapa ini sudah berdiri tegak lagi. Aneh memang, tapi nyata.

Kebun tempeh ini memang terkenal angker di kalangan tenaga tebang tebu. Dulu tidak jauh dari lokasi pohon ini ada bangsal penebang. Bangsal atau pondok ini  semacam barak panjang yang jadi tempat tinggal sementara tenaga tebang. Posisinya ada di pojok kebun. Dalam satu bangsal ada ratusan orang penebang. Mereka datang dari jauh; Bulukumba, Palu, NTT, Jawa Timur atau Jawa Tenggah. Setiap musim tebang, di pondok ini selalu ada tenaga tebang yang meninggal. Hanya tahun 2019 ini saja tida ada tenaga penebang yang meninggal di kebun ini. Sekarang pondok ini sudah tidak ada, karena tidak ada yang mau menempatinya lagi.

Kejadian aneh-aneh juga sering terjadi di kebun ini. Beberapa waktu lalu ada kerjaan kletek daun tebu. Tujuannya kletek adalah untuk meningkatkan rendemen dan agar tebunya lebih ‘matang’. Selama pekerjaan itu dilakukan, ada empat tenaga buruh kletek yang kesurupan. Salah satu dari mereka menceritakan ke Pak Rusli, kalau ada orang tinggi besar dan hitam mencekik lehernya. Tenaga kerja kesurupan adalah hal biasa di kebun Tempeh ini. 

Ada kejadian lain lagi. Ada salah satu tenaga yang tidur-tiduran di bawah pohon kelapa itu. Cuaca yang panas dan terik, memang paling enak berteduh di bawah pohon. Angin semilir membuat mata menjadi berat. Orang ini tidur terus nggak bangun-bangun; tahu-tahu sudah meninggal.

Karena itu sekarang SKW pak Rusli selalu berpesan ke tenaga yang kerja di kebun Tempeh ini untuk banyak berdzikir ketika kerja, tidak banyak bercanda, tidak melakukan aktivitas yang aneh-aneh. Jangan sampai melamun, orang melamun gampang banget ‘kesambet’. 

Pak Rusli sendiri nggak pernah melihat sesuatu yang aneh di sekitar pohon ini. Sebagai sinder wilayah, kadang-kadang dia mesti keluar malam-malam untuk mengecek kebunnya. Keluar jam 2 malam. Biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hanya beberapa waktu lalu Pak Rusli kena musibah di serang lebah, tapi lokasinya agak jauh dari pohon kelapa ini.

Entah ‘dunia’ apa yang ada di sekitar pohon kelapa ini. Di mata saya hanya sebatang pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun.

Wallahua’lam.

Yang penasaran dengan lokasi pohonnya bisa lihat di google maps: https://goo.gl/maps/gzonv2bHudw96E4U8

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Para Pemburu Celeng dari Menado

Para pemburu celeng

Celeng menjadi hama di kebun tebu Camming dan Bone. Terutama yang terletak di pinggir-pinggir hutan. Sebenarnya celeng2 ini hanya sedikit makan tebu, tapi batang tebu yang dirusak banyak banget. Macam-macam cara sudah pernah dicoba; diracun, kawat listrik dan lain2. Ngggak mempan. Karena populasi celeng sangat banyak, sekali beranak bisa 6 ekor.

Akhirnya salah satu sinder berinisiatif untuk menyewa pemburu celeng dari Menado. Orang2 Menado terkenal makan binatang apa saja, apalagi celeng dan babi. Mereka pun terkenal sebagai pemburu ulung. Singkat cerita, diundanglah mereka untuk memburu babi di kebun tebu mulai tahun 2016. Pemburu ini akan mendapatkan premi dari setiap ekor celeng yang berhasil ditangkap/dibunuh. Keuntunga mereka juga mendapatkan daging celeng yang dijual ke Menado.

Jumlah pemburu yang datang hanya 10 orang saja. Mereka memasang jerat di dalam kebun. Ratusan jerat yang mereka pasang di tempat2 strategis. Pemburu2 ini tahu tempat yang akan dijadikan sarang celeng. Jalan2 yang dilalui celeng juga mereka tahu. Setelah jerat di pasang, setiap hari mereka patroli di kebun.

Hasil tangkapan mereka sungguh luar biasa. Informasi dari Pak ADM tahun 2016 dalam setahun mereka sudah menangkap 2500 ekor celeng.

Celeng2 yang tertangkap ditusuk sampai mati. Kepala dan jeroan dibuang. Dagingnya dieskan. Kalau sudah terkumpul satu tronton mereka bawa ke Menado. Katanya celeng dari camming banyak disukai orang menado. Dagingnya manis. Ya iyalah… makannya tebu, bagaimana nggak manis…!!!!

Tahun berikutnya serangan celeng menurun drastis. Tahun 2019 ini mulai banyak lagi. Mereka kembali diminta berburu di Camming. Jumlah pemburunya tidak banyak, 5 orang saja. Dalam 3 bulan mereka sudah dapat 350 ekor celeng.