Category Archives: Unik

Kisah-kisah di ArasoE: Dikerjain Pohon Kelapa

Pohon Kelapa Sendirian di Tengah Kebun Tebu

Masih ingat dengan kisah pohon kelapa yang ada di tengah-tengah kebun Tempeh (baca di sini: Kisah Horor Pohon Kelapa)? Ternyata memang horor.

Saat ini mulai musim durian. Saya dapat informasi dari mandor kalau ada sentra durian di dekat desa Sibulue, nama desanya kalau tidak salah Pattiro Riolo. Kami berlima; saya, Yogo, Andi, Ai dan Elsam, berencana mencari lokasi sentra durian ini. Kami berangkat selepas sholat asar. Kami mengambil jalan mutar lewat desa Kaju baru Sibulue dan ke Pattiro. Lumayan jauh juga. (Cerita duriannya lain kali saja).

Pulangnya sudah agak sore. Kami ingin mengejar sholat magrib di rumah. Kami putuskan untuk lewat jalan tengah kebun, jalan tanah berbatu. Pas kebetulan ada perbaikan jalan. Jalan sepanjang beberapa kilo meter penuh dengan tumpukan-tumpukan pasir dan kerikil. Apalagi lagi musim hujan seperti ini, jalan sempit dan licin. Kami mesti super hati-hati.

Setelah lewat jembatan, kami masuk ke kebun Sibulue, belok kanan memutari bukit Cinnong (kalau nggak salah namanya Cinnong). Jalan kebun tanah berbatu yang sepi. Setelah lewat pondok kebun Polewali, kami mendekat ke belokan pertigaan kebun Tempeh. Letak pohon kelapa itu. Matahari sudah tenggelam, adzan magrib sudah berkumandang. Jalanan sedikit gelap. Mendung lagi.

Agak dekat dengan pertigaan, tiba-tiba gigi motor saya masuk ke gigi satu. Motor mengerang agak keras, tapi motor tidak mau melaju. Saya coba pindah-pindah gigi. Tetap saja tidak mau pindah gigi. Saya naik motor sendirian, yang lain berboncengan. Mereka menyalip saya. Saya coba kejar. Motor tidak mau melaju. Setelah lewat belokan, mereka semakin menjauh dan saya tertinggal agak jauh di belakang. Saya kasih tanda pakai lampu.

Mereka menunggu di belokan batas antara kebun Kasimpureng dan kebun Tempeh.

“Ada apa, Pak?”

“Ini motor saya tidak mau pindah gigi.”

Lalu saya turun untuk melihat kondisi motor. Tetap saja tidak mau hidup dan tidak mau pindah gigi. Yogo coba menghidupkan motor dengan cara dibawa lari. Nggak bisa juga. Posisi kita sudah agak menjauh dari pohon kelapa itu.

Setelah dicoba-coba agak lama, akhirnya motorku bisa hidup juga. Yogo bawa motor saya dan saya membonceng Elsam. Sambil di jalan Elsam bilang ke saya:

“Di sini memang biasa seperti itu, Pak.”

“Nanti saya ceritakan.” katanya sambil terus melaju.

Setelah agak jauh dan mulai dekat dengan komplek PG. Elsam mulai menceritakan kisah tentang pohon kelapa itu. Sedikit dibumbui cerita-cerita horor dan dramatisasi. Mirip dengan cerita yang disampaikan oleh mandor dan sinder.

Dikerjain juga akhirnya.

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Pak Haji Yasmin, yang namanya jadi tiga spesies serangga

Pak Haji Yasmin (kanan) menunjukkan salah satu koleksi serangga langkanya.

Pak Haji Yasmin, hidupnya untuk serangga dan kumbang. Waktunya dihabiskan menjelajah hutan mencari dan mengidentifikasi serangga asli Indonesia. Namanya diabadikan untuk tiga spesies serangga; Pyrops jasmini dan Aegus jasmini dan satu sub spesies miky jasmini (lupa nama genusnya).
Saat ini sedang proses identifikasi serangga daun, mirip dengan serangga yang di foto tengah bagian bawah.
Dia sedang mencari juga serangga batang spesies Papua yang panjangnya sampai 70cm. Belum ketemu sampai sekarang, karena hidupnya di pohon2 besar dan tinggi.
Ketika menjelajah hutan sering nemu anggrek, sayang koleksi anggreknya mati. Aduuhh…. Pak Haji. Sayang banget.

Pyrops jasmini
Aegus jasmini

Air Terjun Bantimurung, Bulu Saraung; Surganya Kupu-kupu di Indonesia Timur

Air terjun Bantimurung yang terletak di salah satu kaki gunung Bulusaraung ini adalah salah satu lokasi surganya kupu-kupu di Indonesia. Ada kurang lebih 200 spesies kupu-kupu hidup di habitat ini.

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Tidur di Pondok Kayu

Terlelap sebentar di pondok kayu di tengah kebun. Alasnya papan kayu dan bantalnya buah kelapa tua. Nyenyak.

Seperti biasanya, pagi habis sarapan menuju ke kebun. Kali ini saya ke kebun upland wilayah barat; Kebun Walenreng 1. Jaraknya cukup jauh dari mess PG. Saya berangkat berdua dengan Ai. Saya naik Honda Win dan Ai naik Beat.

Jalan poros makadam kita lalui. Pertama kita singgah di Kebun Lompu. Lalu ke Kebun Talaga. Singgah sebentar beli minum di pondok rayon Barat; warungnya mandor Agus. Lanjut lagi, menyusuri tiang listrik, membelah kampung, lalu ke kebun Walenreng. Di sini sedang ada penanaman PC atau tebu baru.

Kami parkir motor di pinggir kebun dekat dengan kebun kakao milik warga. Kita cari-cari mandor kebunnya; Pak Iskandar. Nggak terlihat, padahal motor winnya parkir bersebelahan dengan motor saya.

Kita coba cari-cari di sekitar kebun tidak terlihat. Hanya ada beberapa buruh tanam yang sedang kletek bibit dan potong2 bibit.

Di kebun warga ada pondok kayu. Pondok kebun sederhana. Ukuranya 3 m x 6 m. Pondok ini berbentuk panggung tingginya hampir setinggi kepalaku. Di depannya ada tangga kecil kenuju ke teras pondok. Di teras ini terlihat ada orang tiduran di atas dipan kayu, Itu dia Pak Iskandar.

Kami segera menuju pondok dan naik di terasnya. “Assalamu’alaikum”, ucap kami hampir serempak sambil melambaikan tanggan. Pak Iskandar menyambut salam kami dengan wajah ceria. Di pelipisnya ada luka bekas jahitan. Seminggu yang lalu, jam 10 malam, Pak Iskandar kecelakaan menabrak kuda yang lari di tengah jalan. Tanggannya masih terkilir dan kepalanya masih kadang2 pusing.

Kami ngobrol di teras pondok. Di tempat itu ada banyak sekali buah kelapa tua. Ada satu dipan kayu panjang di sisi dalam. Anggin bertiup pelan membuat kesegaran di tengah terik matahari musim kemarau ini.

Lama2 mata jadi berat. Pingin tidur rasanya. Semakin lama pelupuk mata semakin berat dan sulit dibuka.

“Pinggin merbahkan badan, Pak Iskandar. Mata berat sekali. “

Saya ambil beberapa ikat buah kelapa muda dan saya letakkan di ujung dipan kayu. Saya rebahkan badan dan kepala di atas buah kelapa. Dipan kayu ini sempit, lebarnya sekitar 25 cm. Geser sedikit saja bisa jatuh.

Kesadaran saya pelan2 hilang. Saya miring sedikit ke arah dinding papan kayu. Melayang ke dunia mimpi.

***

Kenikmatan tidur bukan di atas spring bad yang empuk. Atau sejuknya AC. Mata yang terpejam dan pikiran lelap. Sebentar melupakan keruwetan.

Badan hampir iatuh. Lalu saya terbangun. Saya usap bibir dan dagu yang basah. Duduk sebentar sampai kesadaran saya pulih.

Matahari sudah condong ke barat. Perut mulai keroncongan. Saatnya makan siang. Kami pun turun dari pondok balik ke komplek PG.

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16

Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali

Meski di tawaf sunnah kedua saya sudah berhasil mengusap hajar aswad, saya belum merasa puas. Karena saya belum bisa benar-benar memasukkan kepala ke dalam lubang hajar aswad dan mencium batu hitam itu. Dalam hati kecil saya, keinginan saya untuk mencium hajar aswad tetap membara. Saya pun mengajak istri saya untuk mencoba mencium hajar aswad lagi di lain waktu.

Setelah makan pagi, saya merasa kuat dan cuaca cukup cerah. Saya ajak istri saya untuk mencoba ke hajar aswad lagi. Istri saya setuju. Kami pun bersiap-siap untuk mencium hajar aswad itu lagi. Saya berpakaian ihram dan istri saya menggenakan baju hitam dan kerudung hitam besar. Seperti biasa, kami berangkat ke masjid dengan naik bis hotel.

Jam besar di zam-zam tower menunjukkan pukul 9 kurang. Cuaca cerah dan cenderung panas. Saya lihat papan penunjuk di depan gerbang Raja Fahd menunjukkan suhu 32oC. Lumayan panas. Meski panas teris sekali, anehnya marmer di pelataran masjidil haram tidak terasa panas. Malah terasa dingin. Aneh.

Di Bogor ada juga masjid yang semuanya dilapisi marmer. Tapi pelataran luarnya panas luar biasa kalau terpapar terik matahari. Pikiran saya tidak bisa memahami bagaimana marmer di masjidil haram ini, yang sedemikian luas ini, bisa tetap dingin di cuaca yang sangat panas dan terik ini.

Sejak keluar hotel, kami menguatkan niat agar bisa mencium hajar aswad. Sepajang pejalanan di dalam bis, saya tidak pernah putus bersholawat. Demikian pula ketika masuk ke masjid. Setelah membaca doa masuk masjid, kami selalu bersholawat atas Nabi. Bersholawat dan terus berjalan sampai di rukun Yamani. Pelataran tawaf tetap ramai meski kondisinya terik. Memang tidak pepenuh dan sepadat ketika malam hari. Mungkin orang-orang lebih banyak menghindar di cuaca yang bisa membuat kepala pening seperti ini.

Kami merangsek agak ke tengah. Kami mulai tawaf dari posisi hajar aswad di lingkaran dalam. Jaraknya sekitar lima lapis orang dari hajar aswad. Hajar aswad tetap dipenuhi orang yang berjubel-jubel ingin menciumnya.

“Bismillahi Allahuakbar…..”, kami lambaikan tangan dan menciumnya.

Baru beberapa langkah kami mendekat ke multazam. Subhanallah. Dalam pandangan kami multazam kosong. Hanya satu lapis orang saja yang sedang menempel di dinding multazam.

“Ayo, Mi….!”

Saya tarik istri saya ke multazam. Di depan kami ada bapak-bapak yang sedang menangis dan bertafakur di dinding multazam. Kami berdiri tepat di bawah askar yang menjaga hajar aswad. Dinding multazam hanya cukup untuk tiga orang saja. Semuanya penuh. Bibir kami tak henti-hentinya bersholawat. Terus bersholawat sambil berdoa di dalam hati.

Tiba-tiba, tangan askar itu menarik orang yang ada di depan kami. Istr saya langsung saya dorong maju dan naik satu batu dan menempel tetap di dinding multazam. Tangan istri saya bergelantungan di kiswah penutup Ka’bah. Saya masih belum bisa ke multazam, karena masih terhalang satu orang lagi. Tak lama berselang, orang itu mundur dan gantian saya yang maju menempel ke multazam. Saya tempelkan seluruh badan saya, dada saya, pipi kanan saya dan tangan saya menegadah menempel ke dinding multazam. Mata air kami tumpah sejadi-jadinya. Hati bergemuruh hebat. Meluap-luap dan meletup-letup tidak terhaankan. Saya panjatkan do’a-do’a saya. Saya baca istigfar, sayidul istigfar, doa nabi yunus ketika diperut ikan paus. Semua doa dan harapan saya panjatkan. Saya sebutkan nama emak saya, nama bapak saya, nama anak-anak saya, nama adik saya, nama kakak saya dan nama saudara-saudara saya. Saya sebutkan semua dan saya sampaikan semua titipan do’anya. Saya berdoa sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami berada di multazam. Waktu serasa berhenti dan kami kehilangan orientasi waktu untuk sesaat. Sampai akhirnya, istri saya mengingatkan saya untuk mundur dan memberi kesempatan kepada jama’ah lainnya yang ada di belakang kami. Kami pun berjalan mundur. Saya pegang erat tangan istri saya, saya peluk kuat-kuat.

Jarak multazam dan hajar aswad sangat dekat. Hanya beberapa langkah saja. Ketika kami mundur itu, saya lihat hajar aswad sepi. Hanya satu atau dua lapis orang saja dan tidak tampak berdesak-desakan seperti sebelumnya.

“Hajar aswad lagi, Mi…. Langsung..!”

Saya tarik istri saya menuju hajar aswad. Di depan kami ada ibu-ibu dari Indonesia yang juga mengantri ingin mencium hajar aswad. Posisinya di depan kami.Kami merangsek ke depan pelan-pelan. Meski berdesak-desakan, kali ini tidak seramai sebelumnya. Sampai akhirnya jarak kami dengan hajar aswad hanya beberapa langkah lagi. Ibu-ibu di depan saya tergencet dari depan. Saya tahan dari belakang. Pelan-pelan kami maju terus. Bapak-bapak saling sikut berebut untuk bisa mencium hajar aswad. Sampai akhirnya tinggal satu lapir orang lagi. Begitu orang yang mencium hajar aswad berbalik, saya segera dorong ibu-ibu itu maju. Posisinya tepat di depan hajar aswad dan bisa mencium hajar aswad. Saya mengikuti dari belakang sambil memeluk istri saya dengan tangan kanan. Tangan kiri saya berpegangan pada bibir hajar aswad.

Ibu-ibu itu berbeger ke kanan. Sesaat hajar aswad terlihat lowong. Saya mencoba untuk maju, tapi susah sekali. Orang-orang laki-laki yang dari sisi kiri juga tidak bisa masuk. Saya berteriak keras: “Allahuakbar….!!!!””””
Saya merengsek ke depan dan seperti mimpi, hajar aswad di depan mata saya. Saya cium sepuas-puasnya hajar asawad itu.

Setelah seluruh bagian dalam hajar aswad saya cium, saya menegakkan badan. Tiba-tiba dari samping orang sudah berdesakan mau masuk. Saya tarik tangan istri saya agar bisa mendekat ke hajar aswad. Rupanya sudah orang lain yang lebih dulu ke hajar aswad. Istri saya terhalang oleh ibu-ibu yang ada di depan saya tadi. Tangan istri saya tetap saya tarik agar bisa masuk, minimal mengusap hajar aswad.

Ibu-ibu yang ada depan saya tadi posisinya sekarang tergencet di bawah askar. Dia bersaha keras untuk berbalik, tetapi tidak bisa. Justru semakin tergencet dari samping dan belakang. Saya dan istri saya berbeser ke kanan. Saya teriak ke ibu itu:

“Jangan berbalik, Bu. Tidak bisa. Mundur saja pelan-pelan.”

Saya tarik bahunya. Seperti ketika pertama kali mencium hajar aswad, tangan kirim saya memeluk istri saya dan menariknya ke belakang. Tangan kanan saya raih bahu ibu-ibu itu dan saya tarik ke belakang. Dengan susah payah, kami pelan-pelan mundur ke belakang mencari tempat yang lebih longgar. Akhirnya, kami pun bisa lepas dari kerumuman orang-orang yang ingin mencium hajar aswad itu. Ibu-ibu itu langsung berbalik dan memeluk erat istri saya. Mereka berdua menangis sesenggukan, entah apa yang dirasakan si Ibu itu. Mungkin si Ibu itu terharu bisa mencium hajar aswad. Mungkin bersyukur karena selamat dari gencetan orang-orang yang ingin mencium hajar aswad.

Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya dilepaskan pelukan itu. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada kami.

“Ibu masih ingat rombonganan, Ibu?” tanya saya.

Dia mengangguk sambil mengucapkan, “Masih.”

“Ibu bisa pulang sendiri?”

“Bisa…”

“Semoga kita bertemu lagi, Bu. Assalamu’alaikum.”

Lalu kami melanjutan tawaf kami yang tertunda. Saya sudah tidak lihat lagi ibu-ibu tadi. Dia menghilang dikerumuman orang-orang yang sedang tawaf.

Di putaran ketiga, kami mendekat ke hijr Ismail. Kali ini, pintu hijr ismail seperti terbuka kembali untuk kami. Kami pun masuk lagi ke dalam hijr Ismail. Sholat sunnah seperti ketika pertama kali masuk ke sini. Ketika keluar kami pun bermunajat di dinding Ka’bah.

Kami lanjutkan tawaf sampai putaran ke tujuh. Di putaran ketujuh kami menuju arah luar. Sholat dua rakaat di tempat yang sudah disediakan untuk sholat dan minum air zam-zam.

Kami berada di masjidil haram sampai sholat dhuhur dan baru kembali ke hotel untuk makan siang selepas sholat dhuhur.

Hari ini kami puas sekali, karena bisa mencium hajar aswad, berdoa di multazam dan sholat lagi di dalam hijr Ismail.

Alhamdulillah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Kisah-kisah di ArasoE: Kisah Pohon Kelapa di Kebun Tempei

Pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun Tempeh ini ternyata punya kisah seru.Lokasi tepatnya ada di Kebun Tempe IV blok 25.

Ketika saya lewat di kebun Tempe, ada yang menarik perhatian saya; yaitu: satu pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah-tengah kebun. Pohon kelapa ini benar-benar sendirian saja. Di area kebun yang luasnya beberapa puluh hektar ini tidak ada pohon lainnya. Pohon kelapa Jomblo.

Saya sangat ingin foto pohon kelapa ini, karena memang menarik bagi saya. Saya foto dari sisi kanan, sisi kiri, kadang-kadang dari timur atau dari barat, tergantung posisi matahari di saat itu. Nggak ada foto yang bagus.

Hari ini saya ketemu dengan SKW wilayah itu, Pak Rusli, yang beberapa hari sebelumnya di sengat lebah di kebun Tempeh (Baca kisahnya di sini: Pak Rusli diserang lebah). Saya tanya tentang pohon kelapa yang ada di tengah kebun Tempe ini. Lalu, Pak Rusli mulai menceritakan kisah pohon kelapa di tengah kebun ini.

Pohon kelapa ini pernah ditumbangkan dengan bulldoser sampai roboh. Keesok harinya, pagi-pagi ketika warga mulai berangkat ke kebun, orang-orang terkejut dan terheran-heran, karena pohon kelapa ini sudah berdiri tegak lagi. Aneh memang, tapi nyata.

Kebun tempeh ini memang terkenal angker di kalangan tenaga tebang tebu. Dulu tidak jauh dari lokasi pohon ini ada bangsal penebang. Bangsal atau pondok ini  semacam barak panjang yang jadi tempat tinggal sementara tenaga tebang. Posisinya ada di pojok kebun. Dalam satu bangsal ada ratusan orang penebang. Mereka datang dari jauh; Bulukumba, Palu, NTT, Jawa Timur atau Jawa Tenggah. Setiap musim tebang, di pondok ini selalu ada tenaga tebang yang meninggal. Hanya tahun 2019 ini saja tida ada tenaga penebang yang meninggal di kebun ini. Sekarang pondok ini sudah tidak ada, karena tidak ada yang mau menempatinya lagi.

Kejadian aneh-aneh juga sering terjadi di kebun ini. Beberapa waktu lalu ada kerjaan kletek daun tebu. Tujuannya kletek adalah untuk meningkatkan rendemen dan agar tebunya lebih ‘matang’. Selama pekerjaan itu dilakukan, ada empat tenaga buruh kletek yang kesurupan. Salah satu dari mereka menceritakan ke Pak Rusli, kalau ada orang tinggi besar dan hitam mencekik lehernya. Tenaga kerja kesurupan adalah hal biasa di kebun Tempeh ini. 

Ada kejadian lain lagi. Ada salah satu tenaga yang tidur-tiduran di bawah pohon kelapa itu. Cuaca yang panas dan terik, memang paling enak berteduh di bawah pohon. Angin semilir membuat mata menjadi berat. Orang ini tidur terus nggak bangun-bangun; tahu-tahu sudah meninggal.

Karena itu sekarang SKW pak Rusli selalu berpesan ke tenaga yang kerja di kebun Tempeh ini untuk banyak berdzikir ketika kerja, tidak banyak bercanda, tidak melakukan aktivitas yang aneh-aneh. Jangan sampai melamun, orang melamun gampang banget ‘kesambet’. 

Pak Rusli sendiri nggak pernah melihat sesuatu yang aneh di sekitar pohon ini. Sebagai sinder wilayah, kadang-kadang dia mesti keluar malam-malam untuk mengecek kebunnya. Keluar jam 2 malam. Biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hanya beberapa waktu lalu Pak Rusli kena musibah di serang lebah, tapi lokasinya agak jauh dari pohon kelapa ini.

Entah ‘dunia’ apa yang ada di sekitar pohon kelapa ini. Di mata saya hanya sebatang pohon kelapa yang tumbuh sendirian di tengah kebun.

Wallahua’lam.

Yang penasaran dengan lokasi pohonnya bisa lihat di google maps: https://goo.gl/maps/gzonv2bHudw96E4U8

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Para Pemburu Celeng dari Menado

Para pemburu celeng

Celeng menjadi hama di kebun tebu Camming dan Bone. Terutama yang terletak di pinggir-pinggir hutan. Sebenarnya celeng2 ini hanya sedikit makan tebu, tapi batang tebu yang dirusak banyak banget. Macam-macam cara sudah pernah dicoba; diracun, kawat listrik dan lain2. Ngggak mempan. Karena populasi celeng sangat banyak, sekali beranak bisa 6 ekor.

Akhirnya salah satu sinder berinisiatif untuk menyewa pemburu celeng dari Menado. Orang2 Menado terkenal makan binatang apa saja, apalagi celeng dan babi. Mereka pun terkenal sebagai pemburu ulung. Singkat cerita, diundanglah mereka untuk memburu babi di kebun tebu mulai tahun 2016. Pemburu ini akan mendapatkan premi dari setiap ekor celeng yang berhasil ditangkap/dibunuh. Keuntunga mereka juga mendapatkan daging celeng yang dijual ke Menado.

Jumlah pemburu yang datang hanya 10 orang saja. Mereka memasang jerat di dalam kebun. Ratusan jerat yang mereka pasang di tempat2 strategis. Pemburu2 ini tahu tempat yang akan dijadikan sarang celeng. Jalan2 yang dilalui celeng juga mereka tahu. Setelah jerat di pasang, setiap hari mereka patroli di kebun.

Hasil tangkapan mereka sungguh luar biasa. Informasi dari Pak ADM tahun 2016 dalam setahun mereka sudah menangkap 2500 ekor celeng.

Celeng2 yang tertangkap ditusuk sampai mati. Kepala dan jeroan dibuang. Dagingnya dieskan. Kalau sudah terkumpul satu tronton mereka bawa ke Menado. Katanya celeng dari camming banyak disukai orang menado. Dagingnya manis. Ya iyalah… makannya tebu, bagaimana nggak manis…!!!!

Tahun berikutnya serangan celeng menurun drastis. Tahun 2019 ini mulai banyak lagi. Mereka kembali diminta berburu di Camming. Jumlah pemburunya tidak banyak, 5 orang saja. Dalam 3 bulan mereka sudah dapat 350 ekor celeng.

Jeruk Nipis Plus Sirih; Obat Batuk yang Mujarab

Jaman saya masih kecil dulu belum ada yang namanya OBH (obat batuk hitam). Bapak orang yang ‘nggak punya’. Kalau anak-anaknya batuk obatnya adalah jeruk nipis + kecap. Jeruk nipis ditaruk sendok, lalu dituang kecap trus diaduk. Rasanya asemmmmmmm manis gimana gitu.

Batuknya sembuh…????

Ya…. kadang2 sembuh, kadang2 masih aja nggak ilang2.

Nah, saya mendapatkan lagi resep obat batuk dari temen saya; Pak Seger. Bahannya jeruk nipis juga. Cuma agak lain resep obat batuknya.

Ceritanya, Pak Seger dan istrinya tinggal di sebuah desa di Sragen yang jauh dari kota. Kalau mereka sakit lebih banyak diobati pakai obat2 tradisional. Salah satu penyakit yang sering diderita adalah batuk. Sulit sembuh lagi batuknya.

Suatu hari mereka pergi ke desa lain berjalan kaki. Sepanjang jalan mereka batuk2. Di jalan mereka bertemu dengan nenek2 yang kasihan dengan batuknya yang ‘kemekelen’. Nenek ini lalu memberi resep obat batuk yang bahannya adalah jeruk nipis dan daun sirih. Mereka mencoba resep ini. Ternyata manjur sekali. Batuk yang bertahun2 mereka derita akhirnya sembuh.

Resepnya seperti ini:

1. Jeruk nipis dibelah dua; tapi tidak sampai terpotong.

2. Siapkan dua lembar daun sirih ukuran sedang.

3. Daun sirih dipotong lalu dilipat dan dimasukkan ke dalam belahan jeruk nipis tadi.

4. Jeruk dan sirih ditusuk dengan lidi seperti membuat sate.

5. Lalu dibakar sampai matang.

6. Jeruknya diperes, posisi daun sirihnya usahakan tetap menempel terjepit di dalam jeruk.

7. Air perasannya ditampung di dalam gelas.

8. Ditambah sedikit air hangat.

9. Diminum.

Ulangi sampai 2-3 kali. Insya Allah batuknya sembuh.

Anggrek Kantong Spesies Paphiopedilum kolopakingii

Anggrek kantong spesies asli Indonesia Paphiopedilum kolopakingii

Anggrek kantong spesies asli Indonesia Paphiopedilum kolopakingii

Anggrek kantong spesies asli Indonesia Paphiopedilum kolopakingii

Anggrek kantong spesies asli Indonesia Paphiopedilum kolopakingii


Continue reading

Belajar Menyembelih Hewan Qurban

Saya sebenarnya orangnya penakut lihat darah dan tidak tegaan. Seumur-umur menyembelih ayam saja belum pernah. Padahal dulu Bapak hampir setiap hari menyembelih 4 ekor ayam. Saya tidak pernah sama sekali. Baru hari ini saya belajar menyembelih hewan qurban. Sekali mengembelih langsung 33 ekor.

Kalau hari raya qurban paling banter pengalaman saya adalah menjadi petugas motong-motong daging dan membagikan daging qurban. Saya ngeri kalau lihat darah. Apalagi melihat leher hewan qurban di sembelih, bisa berkunang-kunang mata saya. Pernah dulu saya menolong tukang becak yang tersermpet motor. Kepalanya bocor, darahnya mengucur ke mana2. Setelah menolong korban baik ke atas mobil untuk di bawa ke RS, saya langsung lemes.

Dalam hati kecil saya, saya harus berani lihat darah dan menyembelih hewan qurban. Pernah saya mengikuti pelatihan penyembelihan hewan qurban di Masjid Fatimatuzahra, tapi belum pernah saya praktekkan sama sekali. Maklum, masih takut.

Hari raya qurban tahun lalu saya mencoba memberanikan diri membantu Pak Iso, tukang jagal, kampung saya untuk memeganggi hewan qurban yang akan disembelih. Saya beranikan diri melihat golok tajam yang mengiris leher domba dan darah mengucur dari lubang leher yang hampir patah. Darah mengenai tangan aaya. Saya kuatkan hati untuk melihat darah itu. Saya tahun untuk tidak pingsan. Alhamdulillah, saya membantu Pak Iso menyembelih 36 ekor domba.

Hari Raya Qurban tahun ini saya ingin belajar menyembelih. Kebetulan ada teman yang menawarkan golok sebelih. Goloknya tajam sekali. Terbuat dari baja per jip willys. Tajam, kuat dan harganya lumayan. Saya membeli satu ukuran sedang yang biasa untuk menyembelih domba.

Setelah sholat Ied, saya menuju ke tempat penyembelihan hewan qurban. Pak Iso menyembelih 3 ekor sapi. Saya lihat dari jauh saja. Sempat ragu2 untuk menyembelih domba. Ketika selesai menyembelih sapi, giliran domba yang disemebelih.

Saya bilang ke Pak Iso, “Ajari saya menyembelih domba, Pakdhe Iso?”

“Ayo..!”

Satu ekor domba disiapkan untuk di sembelih. Pak Iso membacakan niat untun menyembelih dan mendoakan yang berqurban. Saya yang pegang pisau.

“Potong dari sini ke sini!” Kata Pak Iso sambil memegangi kaki bagian depan.

Saya kuatkan keberanian dan bersiap untuk menyembelih. Pisau saya posisikan di leher. Saya cari2 dan pegang kerongkongannya.

“Bismillahi laa illaha illallahuallahu akbar.”

Pisau saya potong ke bawah. Pisaunya bener-bener tajam. Sekali sayat langsung putus kerongkongan dan tenggorokan domba ini.

Seterusnya saya mulai berani memotong leher domba-domba ini. Hari ini, di hari pertama saya menyembelih, saya menyembelih 33 ekor domba dari 35 ekor domba yang di korbankan hari ini.

Alhamdulillah. Saya sudah mengalahkan ketakutan saya sendiri akan darah.