Catatan-Catatan Umroh – Bagian 12

Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail

Ada tiga tempat dan posisi yang paling dicari dan diburu oleh jama’ah di Masjidil Haram. Tiga tempat itu adalah Hadjar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail. Hajar Aswad memempel di salah satu sudut Ka’bah. Batu hitam yang sudah terpecah-pecah ini selalu di buru jama’ah untuk dicium atau hanya sekedar diusap tangan saja. Tawaf dimulai dari sudut Hajar aswad ini. Dulu Rasulullah memulai tawaf dengan mengucakan basmallah, takbir dan mencium hajar aswad. Praktek ini diikuti oleh para sahabat dan kaum muslimin hingga saat ini. Jika tidak bisa mencium, mengusap saja atau melambaikan tangan sudah cukup sebagai isyarat memulai tawaf.

Hajar aswad ini adalah batu dari surga yang diturunkan untuk Nabi Adam AS. Lama kelamaan batu ini berubah menjadi hitam kelam karena dosa-dosa yang dilakukan oleh ummat manusia. Meski hanya batu biasa yang tidak bisa mendatangkankan kebaikan maupun kemudhorotan, namun batu ini sangat dimuliakan sejak jaman dulu. Bahkan sejak sebelum kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Ketika hari kimat kelak, batu ini akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menciumnya atau menyentuhnya. Karena itu banyak orang muslim yang berlomba-lomba untuk mencium hajar aswad.

Multazam adalah bagian dinding Ka’bah diantara hajar aswad dan pintu Ka’bah. Dalam sebuah hadist dari Abullah ibnu Umar yang merapatkan seluruh badannya dan menempelkan pipi kanannya ke dinding Multazam. Beliau menyebutkan bahwa seperti itulah yang Beliau saksikan dari Rasulullah. Multazam diyakini sebagai salah satu tempat yang makbul, atau tempat-tempat yang doa-doa akan dikabulkan. Tidak heran jika banyak kaum muslimin yang juga berebut untuk bisa berdoa dan menempelkan badannya ke multazam.

Tempat ketiga adalah hijr Ismail. Salah satu sisi Ka’bah ada bangunan berbentuk setengah lingkaran dan setinggi kira-kira satu setengah meter. Banyak sekali orang mengantri untuk bisa masuk, sholat dan berdoa di dalam hijr Ismail ini. Dalam sebuah hadist Rasulullah dijelaskan kalau hijir Ismail ini adalah bagian dari Ka’bah. Sholat di dalam hijr Ismail sama seperti sholat di dalam Ka’bah. Siapa orang muslim yang tidak ingin sholat di dalam Ka’bah…??? Pastilah semua orang ingin bisa sholat di tempat yang paling mulia ini.

Ketika tawaf dalam rangkaian ibadah umroh hari pertama sama sekali kami tidak bisa mendekat ke Ka’bah. Area tawaf penuh sesak dengan orang. Padahal saat itu masih sore hari. Setiap kali kami mencoba mendekat ke Ka’bah selalu mental kembali ke arah luar. Orang-orang menumpuk dan berjubel di rukun hajar aswad. Di hijr Ismail pun tidak kalau ramainya. Ustad Rofi’i juga sudah mengingatkan untuk tidak berusaha mencium atau mendekat ke Ka’bah ketika tawaf umroh. Sebaiknya selesaikan dulu rangkaian ibadah umroh. Mencium hajar aswad dilakukan di lain waktu saja.

Selepas sholat Magrib kami berempat kembali berpakaian ihram dan akan melakukan tawaf sunnah. Tujuannya agar bisa mendatangi tiga tempat yang mulia itu. Putaran pertama kami masih belum bisa mendekat. Di depan Hajar Aswad penuh sesak orang. Berkali-kali kami coba tetap tidak bisa mendekat. Putaran kedua masih sama. Tapi kalai ini Pak Gunawan terpisah dari rombongan. Kami hanya bertiga saja; saya, istri saya dan Pak Totok.

Di putaran ketiga kami kembali merapat ke Ka’bah. Tetap tidak bisa mendekat ke hajar aswad maupun multazam. Kami berjalan terus ke arah hijr Ismail. Orang-orang masih berdesak-desakan. Ketika sampai di dekat pintu masuk hijr Ismail terlihat terbuka. Dalam pandangan kami, pintu itu kosong, tidak ada orang berdesak-desakan akan masuk, tidak ada penjaganya juga.

“Subhanallah…., sepi Pak Totok”
“Iya…Pak….”
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam hijr Ismail. Di dekat pintu itu sudah banyak orang yang sedang sholat dan sujud. Bahkan di depan kami pas ada orang yang sujud. Lalu saya ajak mereka merengsek ke arah tengah dan terus ke sisi yang berseberangan.

Alhamdulillah di tempat ini suasana lebih longgar. Akhirnya, di sini kami bertiga berdiri mengambil posisi sholat. Istri saya, saya di tengah dan Pak Totok di samping kanan saya. Saya sholat taubat dua rakaat. Hati bergemuruh hebat. Rasanya senang, terharu, gembira, sedih bercampur menjadi satu. Ketika sujud, air mata tumpah tak bisa ditahan. Kami semua menangis seperti anak kecil. Kami menangis sejadi-jadinya. Kami tidak peduli lagi dengan suasana sekitar kita. Kami tidak peduli kepala-kepala kami dilangkahi dan diinjak orang. Kami mengadu kepuas-puasnya kepada Allah.

Selesai sholat pertama. Kami sholat dua rokaat lagi. Saya niat sholat hajat. Saya sudah tidak memperdulikan dengan istri dan Pak Totok lagi. Ketika saya menoleh, kiri kanan saya sudah beda orang. Air mata tumpah lagi, lebih deras daripada hujan di kota Bogor di bulan Februari seperti ini. Saya berdoa sepuas-puasnya. Dalam setiap sujud saya panjatkan do’a- do’a. Termasuk ditipan do’a dari keluarga, sanak famili dan teman-teman. Salah satu do’a yang saya ucapkan berulang-ulang adalah do’a agar dikaruniani kesehatan dan umur yang barokah. Selesai sholat saya angkat tangan tinggi-tinggi dan berdo’a lagi. Total saya bisa sholat tiga kali, masing-masing dua rokaat. Alhamdulillah.

Lalu saya berdiri. Istri ada di belakang dan Pak Totok juga sedikit di belakang saya. Saya gandeng mereka berdua mendekat ke dinding Ka’bah. Ada askar yang berjaga di sudut itu. Di dinding Ka’bah sudah ada jama’ah perempuan dan laki-laki yang menangis di dinding. Kami menunggu dengan sabar. Askar itu melihat kami. Saya tersenyum ke arah askar itu dan memberi isyarat kalau kami ingin mendekat ke dinding Ka’bah. Askar itu paham dan dengan isyarat kepala dia meminta kami untuk bersabar.

Tak berapa lama askar itu menarik orang yang di dinding Ka’bah dan menyerahkan tempat itu ke istri saya. Saya dan Pak Totok juga mendekat ke dinding. Tapi di depan kami masih ada orang yang sedang berdoa. Tak berapa lama, dia pun beranjak dan kami menempel ke dinding Ka’bah. Tangis kami tumpah lagi. Pak Totok yang menurut saya paling tegar di antar kami juga menangis sesenggukan. Suaranya keras seperti tidak pedulu dengan orang-orang di sekitarnya. Kami pun berdoa lagi. Memanjatkan semua keinginan dan harapan kami kepada Allah, Robb Ka’bah ini. Entah berapa lama kami menangis di dinding Ka’bah ini.

Sampai akhirnya, Istri saya berbisik:”Sudah…gantian dengan yang lain.”
Saya pun segera beranjak. Saya tepuk punggung Pak Totok dan Beliau pun segera beranjak pula. Kami menuju ke arah pintu hijr Ismail.

Ternyata mau keluar dari Hijr Ismail lebih sulit dari ketika masuk tadi. Di sekitar pintu masuk penuh orang. Banyak orang yang mau masuk dan banyak juga orang yang mau keluar. Ada juga orang yang sedang sholat dan berdoa di tengah-tengah keurumunan itu. Pelan-pelan kami terus merengsek ke luar. Maju terus, meski hanya setapak demi setapak. Setelah berdesak-desakan cukup lama, akhirnya kami berhasil keluar juga dari dalam Hijr Ismail. Alhamdulillah.

Kami melanjutkan tawaf yang baru di putaran ketiga. Di rukun yamani kami usap dinding Ka’bah yang terbuka. Berjalan terus dan melantunkan ‘do’a sapu jagad’. Sampai di hajar aswad, kami tetap tidak bisa mendekat. Gelombang orang berdesak-desakan luar biasa yang ingin mencium hajar aswad. Kami terpaksa harus sedikit melebar keluar agar bisa tetap terus melanjutnya putaran tawaf. Di dekat multazam saya coba lagi mendekat. Suasana tidak kalah serunya dibandingkan dengan yang di hajar aswad. Tapi kali ini saya coba paksakan

Jarak kami dengan multazam kira-kira tiga lapis orang. Semuanya berebut ingin mengantung di pintu Kabah, menempel di multazam dan merengsek ke hajar aswad. Saya coba paksakan untuk ikut merengsek ke depan. Badan saya dan istri tergencet. Saya sudah tidak ingat lagi di mana Pak Totok. Pikiran cuma satu, bagaimana badan bisa menempel di multazam. Itu saja.

Sekeras usaha yang kami coba, posisi tetap tidak beranjak. Saya tetap tidak bisa mendekat. Badan malah semakin tergencet. Jarak paling dekat yang sempat saya raih adalah menyentuh dinding multazam. Itu saja tidak bisa lebih lagi. Arus dan gelombang orang sangat kuat. Ketika tangan baru menyentuh sedikit, tiba-tiba gelombang orang keluar dari arah hajar aswad. Kami menjauh lagi dari multazam dan hajar aswad. Akhirnya kami menyerah. Kami mundur dan melanjutkan lagi putaran tawaf yang tersisa.

Putaran-putaran berikutnya kami tidak lagi berusaha mendekat ke hajar aswad atau multazam. Kerumuman orang sangat penuh. Rasanya tidak mungkin bagi kami untuk bisa mendekat. Insya Allah di kesempatan lain kami akan coba lagi. Kami selesaikan tawaf sunnah ini. Lalu kami mencari tempat agak lapang untuk sholat. Sholat di areal tawaf sangat dilarang, karena mengganggu orang yang sedang tawaf. Askar-askar yang berjaga akan mendorong orang-orang yang nekad sholat di areal tawaf dan mengusir mereka ke arah luar.

Kami berjalan terus ke arah luar. Di Bagian belakang ke jalur yang menuju ke bukit shofa ada tempat minum air zam-zam. Seperti yang disunnahkan, kami minum air zam-zam sambil menghadap ka’bah dan membaca doa. Sebagian kami siramkam ke kepala. Kerongkongan rasanya segar sekali.

Kali ini saya sudah terpisah dengan Pak Totok dan Pak Gunawan. Entah di mana mereka. Kami lalu duduk menunggu sholat isya’ sambil berdizkir dan membaca Al Qur’an. Selepas sholat kami pulang ke hotel untuk makan malam.

Di tempat makan kami menceritkan pengalaman kami ini. Pak Totok dan Pak Gunawan sudah ada di hotel duluan. Ustad Rofi’i, mutawif kami, menyarankan kalau kami ingin mencium hajar aswad sebaiknya selepas tengah malam. Sekitar jam 2 malam sampai menjelang waktu subuh. Konon katanya di waktu-waktu itu area tawa lebih sepi dan lebih mudah untuk mencium hajar aswad. Kami pun sepakat nanti malam mau mencoba lagi untuk bisa mencium hajar aswad. Rugi rasanya kalau sudah di Makkah dan di depan Ka’bah tetapi tidak mencium hajar aswad.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

4 responses to “Catatan-Catatan Umroh – Bagian 12

  1. Pingback: Catatan-Catatan Umroh – Bagian 10 | Berbagi Tak Pernah Rugi

  2. Pingback: Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16 | Berbagi Tak Pernah Rugi

  3. Pingback: Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13 | Berbagi Tak Pernah Rugi

  4. Pingback: Catatan-Catatan Umroh – Bagian 2 | Berbagi Tak Pernah Rugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s