Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13

Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam

Sekitar jam 2 malam kami sudah bangun. Saya ketuk pintu kamar istri saya. Kamar kami dipisah, laki-laki dengan laki-laki satu kamar dan perempuan dengan perempuan di kamar yang lain. Saya memberitahu istri saya agar bersiap-siap menuju ke Ka’bah lagi. Kami, yang bapak-bapak berpakaian ihram. Karena yang boleh berada di area tawaf hanya yang berpakaian ihram saja.

Kamar samping saya dihuni ibu-ibu dari rombongan jember. Mereka ternyata juga tidak tidur.

“Mau ke mana, nak?” tanya salah satu nenek-nenek.
“Insya Allah, kami mau tawaf lagi.” jawab saya singkat.

“Mau nyium hajar aswad,ya?” tanya nenek-nenek yang lain dengan logat maduranya.

“Insya Allah, Mbah.”

“Saya juga pingin, boleh ikut bareng?”

“Saget, Mbak. Ikut bareng kami saja.”

Ada satu orang nenek yang ingin ikut. Namanya, Mbak Arstuti. Usianya 67 tahun berasal dari Bondowoso. Nenek Arstuti berangkat sendiri dan dititipkan ke rombongannya Mas Sugiono. Ada satu lagi nenek-nenek dari Surabaya. Usianya mungkin lebih tua dari Mbak Arstuti dan jalanya sedikit payah. Nenek ini berangkat bersama dengan anak-nya.

“Saya juga pingin ikut, tapi anak saya masih tidur. Katanya kecapaian.”

“Nanti saja, Mbak. Bareng dengan anak sampeyan saya. Saya tidak berani kalau ada apa-apa nanti.” kata saya.

Akhirnya, hanya Mbah Arstuti yang ikut kami tawaf malam ini. Kami serombongan bertujuh menuju ke masjidil haram naik bis hotel. Turun dari bis jalanan terlihat lebih sepi daripada malam tadi. Sesepi-sepinya masjidil haram tetap saja ramai orang. Kami masuk melalui pintu yang memang dikhususkan untuk orang yang akan umroh dan berpakaian ihrom. Istri saya selalu bersama dengan Mbah Arstuti. Dan saya menjaga mereka berdua. Pak Totok dan Pak Gunawan berjalan beriringan. Pak Soleh dan Istrinya juga berjalan beriringan.

Kami masuk dari sisi rukun yamani menuju ke rukun hajar aswad. Kami memulai tawaf seperti biasanya. Putaran pertama kami belum berhasil mendekat. Lanjut ke putaran kedua. Di putaran ini belum berhasil mendekat juga. Di putaran ketiga kami terpisah. Saya hanya bertiga; saya, istri saya dan Mbah Arstuti. Kewajiban saya untuk menjaga kedua wanita ini. Mbah Arstuti tumbuhnya pendek dan badannya kecil. Tapi, semangatnya kuat sekali untuk bisa mencium hajar aswad. Jadi selama tawaf berkeliling Ka’bah, saya berada ditengah sedikit di belakang mereka.

Di putara ketiga ini kami mendekat ke Ka’bah. Di depan hajar aswad penuh sekali orang. Berdesak-desakan luar biasa. Mbah Arstuti saya pegang dengan tangan kiri dan istri saya dengan tangan kanan saya. Kita mengikuti arus mendekat ke arah hajar aswad dari sisi multazam. Jadi bertentangan dengan arus orang yang sedang tawaf. Kami tepat di depan multazam. Orang-orang berdesak-desakan luar biasa. Saya lihat Mbah Arstuti tetap bersemangat dan tetap melafalkan dizkir dan sholawat. Saya pun bertambah bersemangat dan berdzikir lebih keras lagi.

Ketika berdesak-desakan itu ada bapak-bapak yang menegur saya:
“Dibantu-dibantu….!!!!” katanya dengan logat madura yang kental.
Rupanya benar kata orang-orang, untuk mencium hajar aswad ada calo-nya juga. Saya sudah diwanti-wanti oleh Ustad Rofi’i kalau jangan mau kalau ditawari bantuan. Karena kalau berhasil mereka minta uang besar sekali. Harganya tidak hitungan. Ada yang bilang 1000 riyal, 1500 riyal atau 500 riyal. Uang yang banyak sekali itu.
“Tidak….Tidak…..”, jawab saya tegas dan singkat.

Tidak cuma sekali saya ditawari. Tapi berkali-kali oleh orang-orang yang berbeda. Mafia dan calo ini memang nyata adanya.

Kami terombang-ambing mengikuti gelombang gerakan orang-orang. Entah berapa lama, saya sudah tidak ingat lagi. Jarak kami dengan dinding Ka’bah kira-kira tiga lapis orang. Kebetulan dua lapis di depan kami sebagian besar adalah ibu-ibu. Dalam posisi terjepit ini kami melatunkan sholawat terus dan berdzikir terus. Saya perhatikan orang-orang ini. Rupanya mereka ini adalah sekelompok sindikat mafia hajar aswad. Saya bisa tahu karena mereka saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan bahasa madura. Meski saya tidak bisa dan tidak tahu bahasa Madura.

Ada seorang ibu-ibu muda yang sedang dibantu calo. Bapak-bapak di belakang saya memberi arahan.
“Maju terus….”
“Jalan lawan arus…ikuti saja”
“Maju lagi….geser ke depan.”
“Tahan….jangan mundur…”

Ooo…. ini ketua mafia-nya, pikir saya dalam hati.

Di bagian paling depan, tepat di samping hajar aswad ada perepuan arab (mungkin), perawakan besar sekali, tangannya besar, badannya besar. Meski di samping hajar aswad, perempuan ini seperti tidak ingin mencium hajar aswad. Kerjaannya memukul kepala laki-laki yang ada di depannya dan memberi jalan bagi orang-orang yang ada di belakangnya. Wah…. calo juga nih sepertinya.
Oleh askar yang menjaga hajar aswad perempuan ini dimarah-marahi. Sayang saya tidak bisa bahasa arab, jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Kami terus merengsek ke depan. Badan tergencet. Saya lihat nenek Arstuti tetap semangat meski badanya kecepit. Istri saya nafasnya sudah terengah-engah dan mau menyerah.
“Kita di depan multazam. Berdoa’ terus. Sholawat terus. MInta sama Allah agar kita bisa mencium hajar aswad,” kata saya ke mereka berdua.

Mereka berdua saya peluk kuat-kuat. Dorongan dari belakang saya keras. Dari depan tidak kalau kerasnya lagi. Perjuangan yang luar biasa. Ibaratnya kita tidak bisa maju tidak bisa mundur. Tergencet di tengah-tengah.

Ibu-ibu muda yang dibantu calo tidak kalah parahnya. Posisinya sekarang tepat di depan kami. Dia sudah sangat kepayahan. Dia berteriak-teriak minta tolong dan mau menyerah.

“Maju terus…. sedikit lagi….Jangan menyerah”, begitu aba-aba dari pimpinan calo di belakang saya. Tepat persis di telinga saya ngomongnya.

Suasana semakin tidak terkendali. Ibu-ibu arab gede besar itu sikut sana sikut sini membuka celah. Termasuk nenek Arstuti kena sikut ibu-ibu itu. Arus dari depan sangat kuat. Mereka bapak-bapak orang arab yang tinggi besar, orang-orang dari Afrika dan dari India yang juga ingin mencium hajar aswad. Dorongannya sangat kuat. Kami terlempar ke luar karena tidak sanggup menahan dorongan itu. Ibu-ibu yang dibantu calo kembali berteriak menyerah. Kerudungnya sampai tertarik lepas dari kepalanya. Wajahnya memerah dan kelihatan kesakitan sekali.

Tiba-tiba dari arah depan, Ibu-ibu Arab itu sikut sana-sikut sini. Mungkin karena tidak kuat menahan dorongan dari depan, Ibu-ibu arab itu menyikut dan mendorong wajah saya. Saya pernah latihan pencak silat dulu, tahu bagaimana menangkis serangan semacam ini. Saya kibaskan tangan saya ke atas, sehingga tubuh ibu-ibu arab itu terlempar ke luar lewat samping saya.

Saya segera pegang kuat-kuat dua wanita yang saya lindungi. Saya dorong maju, hingga jarak kami dengan hajar aswad hanya tinggal satu orang lagi. Ada orang berambut gimbal yang mencium hajar aswad. Perasaan lama sekali dia menciumnya. Tiba-tiba tangan askar itu menarik kepala itu. Badannya sedikit bergeser ke belakang. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Nenek Arstuti saya dorong ke depan hajar aswad.

Alhamdulillah, nenek arstuti bisa masuk ke dalam hajar aswad. Tangan saya bertahan di besi pelindung hajar aswad, saya berusaha sekuat tenaga melindungi istri saya dan nenek ini. Saya tidak bisa mencium hajar aswad karena terhalang tubuh nenek arstuti. Tangan istri saya saya tarik agar bisa menyentuh hajar aswad. Tiba-tiba nenek arstuti terpeleset jatuh. Tangan saya masuk ke hajar aswad. Hajar aswad tepat di depan mata saya. Saya bisa melihat dengan jelas pecahan batu hitam itu. Tapi saya tidak bisa menciumnya, karena kalau saya mencium hajar aswad pasti menginjak nenek arstuti.

Nenek arstuti berteriak dan bertakbir “Allahu Akbar…..Allahu Akbar……Allahu Akbar….!!!!!””””
Tangannya melambai-lambai ke atas seperti minta pertolongongan. Saya terus berusaha melindungi beliau, karena dorongan dari belakang, kanan dan kiri sangat kuat sekali.
Saya pun berterik ke askar “Askar……Askar…..Askar…..!!!!!””””

Askar menoleh ke arah saya. Dia pun segera meraih tangan nenek arstuti dan mengankatnya ke belakang. Saya segera raih nenek arstuti dengan tangan kiri saya. Tangan kanan saya tetap memegang dan memeluk istri saya. Saya tarik mereka ke belakang. Saya berjalan mundur. Dari arah depan orang-orang segera merangsek lagi. Lalu kami pelan-pelan terlempar ke arah luar.

Perjuangan dan pengalaman yang luar biasa. Keringat kami bercucuran. Napas kami tersengal-sengal. Saya lihat wajah istri saya memerah berkeringan kecapaian. Nenek arstuti lebih parah lagi. Ternyata ketika berdesak-desakan tadi tas yang dibawa nenek Arstuti jatuh.

“Biarkan saja, Mbah….!” kata saya.

Kami pun melanjutkan lagi tawaf sampai tujuh putaran. Di lingkaran luar, saya ketemu dengan Pak Gunawan dan Pak Totok. Saya sampaikan ke mereka:
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mencium hajar aswad.”

Rupanya Pak Gunawan dan Pak Totok hanya bisa menempel di Multazam dan belum bisa mencium hajar aswad. Cerita kami ini ternyata menambah semangat Pak Gunawan dan Pak Totok untuk berusaha lebih keras agar bisa mencium hajar aswad. Tanpa sepengetahuan kami, mereka kembali lagi dan akhirnya berhasil juga mencium hajar aswad.

Padahal waktu itu suasana sangat ramai dan padat. Rasanya mustahil bisa mencium hajar aswad dalam suasana seperti ini.

Kami lalu menunggu sholat subuh dan berdzikir sampai waktu syurug. Setelah lewat syuruq kami sholat dua rokaat dan baru beranjak pulang ke hotel untuk sarapan.

***
Ruang makan adalah tempat berkumpul semua orang. Kami ceritakan pengalaman luar biasa kami pagi hari ini. Rupanya, cerita kami memberi inspirasi untuk teman-teman yang lain yang belum mencium hajar aswad. Malam berikutnya mereka ingin mencium hajar aswad dengan dibimbing oleh Ustad Rofi’i.

Esoknya Mbah Arstuti bercerita kalau badannya sakit semua. Di bawah mata kirinya ada lebam biru karena kena sikut orang. Tangan kanan dan kiri biru-biru semua. Kaminya juga biru. Mungkin terbentur waktu jatuh di depan hajar aswad ketika itu. Tapi Mbah Arstuti bangga karena bisa mencium hajar aswad. Biru di matanya malah menjadi pertanda perjuanganya ini. Saya jadi ingat Mak saya di kampung. Ketiak memeluk mereka berdua, yang saya ingat hanya emak saya di kampung. Saya selalu berdoa agar saya diberi kemampuan dan kekuatan untuk mengajak Mak saya pergi umroh. Insya Allah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

2 responses to “Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13

  1. Pingback: Mimpi Mencium Hajar Aswad | Berbagi Tak Pernah Rugi

  2. Pingback: Catatan-Catatan Umroh – Bagian 2 | Berbagi Tak Pernah Rugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s