Category Archives: MyStories

Kisah-kisah di ArasoE: Meninggalnya Imam Masjid ArasoE

Meninggalnya Imam Masjid ArasoE

Pagi ini saya ke kebun ArasoE. Di ujung komplek dekat timbangan ada keramaian dan bendera kuning. Siapa yang meninggal. Biasanya kalau di Bogor, kalau ada orang meninggal diumumkan lewat speaker masjid. Di sini tidak seperti itu. Karena saya tidak tahu, saya lewati saja.

Pak Mapesangka, mandor Arasoe IV, menceritakan kalau yang meninggal adalah Pak Haji Imam. Usianya di atas 110 tahun. Subhanallah. Beliau adalah tokoh desa. Jabatannya imam masjid. Tapi di sini imam masjid tidak hanya sekedar mengimani sholat fardu di masjid saja. Tugasnya juga sebagai penghulu pernikahan dan memimpin acara2 keagamaan yang dilaksanakan warga.

Beliau sudah tua, tapi badannya masih sehat dan kuat. Bahkan katanya masih bisa membawa mobil sendiri. Beberapa hari ini beliau jatuh sakit. Mungkin beliau merasa ajalnya sudah dekat. Sebelum meninggal beliau kumpulkan keluarganya. Beliau ambil simpanan uangnya. Jumlahnya tidak sedikit, ratusan juta. Beliau minta kepada anaknya untuk mensedeqahkan uang itu untuk masjid2 di sekitar desa ArasoE. Dua masjid yang di dekat rumahnya mendapat bagian 50jt. Masjid yang agak jauh mendapat 25jt. Masjid komplek PG mendapat bagian 10jt. Masjid2 lain mendapat 10jt. Tidak kurang uang yang disedeqahkan malam itu lebih dari 300jt. Beliau berpesan, jika uangnya masih ada sisa, dikasihkan ke anak yatim. Subhanallah.

Hari jumpat dini hari tadi, menjelang subuh beliau menghembuskan nafas terakhir.

Innalilahi wainnailaihi roji’un. Husnul khotiman, insya Allah.

Kenapa kita perlu berdo’a ketika masuk kamar mandi dan WC..??

Dalam agama Islam ada banyak sekali sunnah-sunnah berdoa ketika memulai aktivitas tertentu. Salah satunya ketika mau masuk ke kamar mandi, kamar kecil atau WC. Do’anya sederhana, setelah membaca Basmallah (Bismillahirrohmanirrohim), lalu membaca do’a di atas.

اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَآئِثِ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan dan kotoran”

Waktu saya masih kecil, saya mikir-mikir kenapa kalau masuk kamar mandi membaca do’a perlindungan dari syathon. Memangnya di kamar mandi ada jin..? Masih belum masuk di pikiran saya yang masih kecil waktu itu.

Bahkan Yusuf, ketika diajari membaca doa masuk kamar mandi dan tahu artinya malah jadi nggak mau masuk, karena dia pikir di kamar mandi ada ‘hantu’-nya. Bahkan, kadang-kadang jadi minta ditemeni kalau mau ke kamar mandi. Walah…

Jin dan Syaitan Suka Tinggal di Kamar Mandi

Saya bukan orang indigo, tidak punya kemampuan untuk melihat ‘mahluk-mahluk’ ghoib, mahluk astral, jin, setan, demit, pocong, gendruwo dan sebangsanya. Agak sulit bagi saya untuk menerima fakta bahwa mahluk-mahluk itu berdiam di kamar mandi. Lha wong nggak sensitif sama sekali.

Tapi kini, mulai marak acara-acara yang menampilkan cerita-cerita mistis. Sekaligus juga membawa dukun, paranormal, paratidaknormal dan orang-orang indigo yang bisa melihat mahluk-mahluk tidak kasat mata itu. Youtuber-youtuber yang mengkhususkan diri pada hal-hal mistik juga banyak. Kehidupan makhluk-mahluk dunia lain ini pun mulai banyak terkuak. Salah satunya tentang kesukaan jin ini tinggal atau menempati kamar mandi dan WC. Bahkan, temen saya waktu umroh, juga melihat ‘nenek-nenek’ di atas kamar mandi hotel di Negeri Sembilan yang kami singgahi.

Ada beberapa tayangan di YouTube yang menceritakan tentang dukun ‘ghoshbaster’ yang menunjukkan tempat tinggal jin di sebuah kamar mandi. Di tayangan lain, artis indigo yang menunjukkan tempat tinggal jin di kamar mandi. Atau ada selebgram indigo yang menceritakan tentang kepala jin yang nonggol ketika sedang berada di WC. WC yang jadi tempat tinggal jin bukan hanya WC yang sudah kuno dan nggak pernah dipakai. Bahkan, WC rumah mewah dan hotel mewah pun konon ada jin yang tinggal di situ.

Ustad-ustad di pengajian pun pernah menceritakan tentang WC dan kamar mandi yang jadi tempat tinggal jin. Hanya saja, kalau yang ngomong ustad yang mempercayai hanya orang mukmin (punya keimanan) saja. Orang awam, apalagi abangan akan sulit menerimanya. Justru, orang-orang awam dan abangan ini lebih percaya kepada dukun dan orang ‘indigo’. Apalagi orang yang dipercaya memiliki ‘kesaktian’ dan ‘mata batin’. Apa pun yang dikatakan dukun ini, meski pun ada ‘bohong-nya’, banyak orang yang manggut-manggut percaya.

Kata orang-orang indigo ini, WC dan kamar mandi memang menjadi salah satu tempat favorit jin untuk berdiam diri dan menetap. Semakin kotor dan bau semakin suka mereka tinggal di situ. Katanya ada gendruwo, kunti, atau pocong. Jin dan setan ini bisa melihat manusia, sedangkan manusia secara alami tidak bisa melihat jin dan setan. Jin ini juga punya ‘napsu birahi’ seperti manusia, bahkan pada manusia pun mereka bisa ‘birahi’. Terutama ‘gendruwo’ yang katanya matanya keranjang dan suka mengoda perempuan. Bahnyak kan cerita-cerita tentang wanita yang ‘digauli’ oleh gendruwo, bahkan ada yang sampai punya anak dari gendruwo. Gendurwo ini bisa menyerupai orang yang kita kenal. Hiiii….. menyeramkan.

Jadi, intinya, kalaua kita masuk ke WC dan kebetulan ada yang tinggal di situ, mereka bisa melihat kita sedangkan kita tidak bisa. Coba bayangkan, pas kita mandi dan telanjang bulat, tanpa sepengetahuan kita, ada ‘mata’ gendruwo yang sedang menikmati kemolekan tubuh kita. hiiii……

Nah, bagaimana caranya agar tidak dilihat oleh gendruwo atau jin penghuni kamar mandi? Caranya adalah dengan membaca ‘Basmallah’ sebelum masuk ke kamar mandi. Lalu membaca do’a perlindungan di atas. Bacaan ini, meskipun terdengar sepele, akan menjadi tabir antara dunia kita dengan dunia lain. Mereka, para jin, setan, demit dan gendruwo ini, tidak akan bisa melihat kita. Bahkan, mereka akan pergi ‘kepanasan’ karena kita meyebut Asma Allah.

Dukun-dukun dan orang-orang indigo ini pun mengakui, jika bacaan-bacaan tertentu bisa mengusir mereka dan membuat jin-jin ini tidak berkutik.

Salah satu adab masuk ke WC dan kamar mandi adalah mendahulukan yang kiri. Cebok pun pakai tangan kiri. Nah, waktu keluarnya baru mendahulukan kaki kanan dan membaca doa keluar kamar mandi. Adab ini tidak disukai jin. Mereka akan merasa terganggu dan minggat dari lokasi itu.

Saya jadi semakin sadar dan bisa memahami akan ajaran sunnah Rasulullah ini. Do’a sederhana yang bisa melindungi kita dari godaan dan gangguan jin penghuni WC dan kamar mandi. Bahkan; do’a sederhana ini juga bisa mengusir mereka.

Wallahu a’lam.

Kisah-kisah di ArasoE: Pak Bledek meninggal di sambar petir

ArasoE sudah masuk musim penghujan. Di cuacanya mirip dengan di Bogor, kalau sedang musim hujan, hujan bisa turun kapan saja. Kadang-kadang pagi, siang, malam, bahkan bisa setiap hari. Banyak pekerjaan kebun sedikit terhambat karena turun hujan. Cuma di ArasoE tidak seperti di Bogor yang petirnya menggelegar cetar. Petirnya biasa-biasa saja, jarang bahkan.

Hari ini saya berboncengan dengan Pak Mundakir ke kota untuk mencari garpu mata empat. Kita sudah cari di pedagang yang kita beli minggu lalu. Garpu mata empatnya habis. Cari-cari di tempat lain sama saja. Nihil. Akhirnya kami pulang. Setengah perjalanan tiba-tiba langit mulai mendung. Beneran, pas masuk desa Walenreng hujan turun.

Kami berteduh di sebuah masjid di pinggir jalan. Kebetulan pas sholat dhuhur, jadi berteduh sekalian sholat berjamaan di masjid. Sambil menyelam minum aqua. Selesai sholat hujan masih belum reda. Terdengar suara petir meyambar di kejauhan. Biasa-biasa saja. Setelah hujan reda, kami melanjutkan pulang ke mess untuk makan siang.

Esok harinya kami ke kebun. Saya ke Sumaling dan Pak Mundakir ke Rayon Barat, Tanete Harapan. Ternyata, kawan-kawan mandor dan sinder kebun banyak yang melayat di Bulu 2. Ada pensiunan karyawan PG dan sekarang jadi kontraktor angkutan tebu meninggal. Kebun kosong. Singkat cerita, kami pulang siang ke mess, biasa untuk makan siang.

Di situlah kita ngobrol-ngobrol kegiaan kebun hari ini. Ibu mess dan orang kebun menceritakan tentang pensiunan PG yang meninggal. Ceritanya tragis.

Tiga hari sebelumnya, hari senin, Pak Bledek (bukan nama sebenarnya) datang ke koperasi. Kantor koperasi tepat di samping mess; S10. Namanya Pak Bledek, bukan nama sebenarnya. Nama sebenarnya kalau diartikan sama dengan ‘petir’ atau ‘bledek’, suara mengelegar ketika turun hujan. Pak Bledek ini menaggih biaya angkutan tebu yang belum dibayarkan. Nilainya sampai ratusan juta. Beliau minta dibayarkan sebagian dulu, karena ada beberapa tanggungan yang harus dibayarkan segera. Petugas koperasi bilang kalau tidak ada uang dan belum bisa membayarkan tagihan itu. Pak Bledek terus mendesak, karena memang sedang perlu uang. Saking jengkelnya, sampai beliau berkata:

“Kalau tidak dibayarkan, tiga hari lagi saya meninggal.”

Petugas koperasi tidak bisa memenuhi keinginan Pak Bledek. Beliau pulang.

Saat ini sudah tidak musim giling. Kegiatan angkutan tebu tidak banyak. Kegiatan Pak Bledek mengangkut tebu pun praktis vacum. Tiga hari kemudian, hari rabu siang, Pak Bledek naik motor menuju ke kebun rumput gajahnya. Sampai siang belum pulang. Karena sore belum pulang juga, keluarganya mulai mencari-cari. Ada tetangga yang melihat motor pak Bledek ada di pinggir kebun rumput gajah.

Dicarilah Pak Bledek ke kebun. Namanya dipanggil-panggil tidak menyahut. Lalu di cari ke dalam kebun. Pak Bledek ditemukan sudah tergeletak di kebun. Di bagian dadanya ada bekas luka bakar. Tubuhnya basah karena kehujanan. Beliau sudah tidak bernyawa lagi. Hebohlah kampung Bulu2. Jenazah Pak Bledek di bawa ke rumahnya dan mulai prosesi pemakaman. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga beliau khusnul khotimah.

Di saat yang bersamaan. Sehari setelahnya ketika saya ngobrol di pondok kebun Sumaling. Mandor kebun juga menceritakan kalau kemarin siang ada kuda yang tersambar petir di kebun. Orang Bone biasa memelihara kuda dan sapi. Kuda ini digembalakan di kebun, di pinggir kebun atau di kebun-kebun ‘bero’. Pada saat itu di kebun sebelahnya juga ada tenaga yang sedang tanam tebu. Ketika petir meyambar kuda itu, tenaga-tenaga kaget semua dan berlarian menuju ke tempat yang lebih aman. Hujan hanya gerimis sebentar saja di kebun ini. Setelah itu reda. Tapi, kuda ini sudah gorong mati terbakar tersambar petir.

Kebun tebu di ‘low land’ tempatnya datar. Tidak ada pohon yang tinggi. Jadi kalau musim hujan dan petir sangat berbahaya. Karena bisa tersambar petir. Kejadian ini bukan yang pertama, sudah beberapa kali.

Semoga Pak Bledek diampuni semua dosa-dosanya, diterima semua amal-amalnya dan dilapangkan kuburnya. Aamiin.

Kisah-kisah di ArasoE: Meningalkan Motor di Kebun dengan Kuncinya

Meninggalkan Motor di Kebun dengan Kuncinya

Salah satu yang menarik di Arasoe adalah aman meningalkan motor dengan kuncinya atau barang2 di kebun. Meskipun motor ini ditinggal tanpa pengawasan tetap aman. Bahkan sampai berhari2 pun tetap aman. Barang2 ditinggal begitu saja juga aman. Sapi ditinggal di kebun tanpa ada yang menungguin tetap aman. Yang seperti ini tidak bisa dilakukan di Jakarta, Jadebotabek atau di kota besar lainnya di Indonesia. Jangankan ditinggal, dibawa saja dibegal orang.

Kisah-kisah di ArasoE: Musim Durian

Durian lokal di Ujung Tanah, Bone

King of Fruit, itu julukan untuk buah durian. Dan saat ini lagi mulai musim durian. Di ArasoE mulai musim durian sekitar awal bulan Januari 2020 ini. Di pinggir-pinggir jalan mulai banyak yang menjajakan durian lokal. Harganya pun cukup murah, masih dikisaran Rp. 5000 sampai Rp. 50.000 perbutir. Tergantung ukuran dan kualitas buahnya. Saya dan teman-teman tim berburu durian local bone sampai ke kebunnya.

Kebun Durian di Pattiro Riolo, Sibulue

Ternyata Kec. Cina, Kab. Bone adalah salah satu sentra durian di Sulawesi Selatan ini. Informasi pertama yang kami dapat ada sentra durian di dekat kebun Sibulue. Ketika ke kebun Polewali, sampingnya kebun Sibulue, kami minta diantarkan oleh mandor Polewali. Kami jalan menyusuri kebun ke arah Sibulue. Sibulue ini nama desa dan kecamatan. Di pasar Sibulue sudah banyak orang yang menjajakan durian di pinggir jalan. Tapi bukan di situ sentralnya. Kebun duriannya ada di desa Pattiro Riolo. Kami diajak ke desa Pattiro Riolo. 

Durian di desa ini memang murah-murah bingit. Ukurannya sih nggak terlalu besar. Cenderung kecil-kecil. Harganya murah banget, satu ikat isi3 biji cuma RP. 15rb. Yang ukurannya agak gede cuma Rp. 35rb per ikat. Meskipun kecil, tapi duriannya enak, manis dan creammy. Mantap. Kami berlima habis 5 ikat durian. Pulangnya bawa durian lagi.

Ukuran Buah Durian Lokal Bone




Kebun Durian di Ujung Tanah

Sentra durian tidak hanya di desa Pattiro Riolo saja. Ada banyak lokasi-lokasi lain. Informasi dari sinder dan mandor kebun juga. Salah satunya ada di dekat kebun Ujung Tanah. Dari kebun Ujung Tanah kita lewati sungai lalu naik ke Sanrego, trus ke atas ke arah gunung. Jalan tanah dan licin. Kami melewati kebun-kebun cengkeh. Masih naik lagi. Semakin ke atas semakin banyak kebun cengkeh yang ada pohon duriannya.

Kami berhenti di salah satu rumah pondok yang banyak pohon duriannya. Pondok itu diisi satu keluarga. Salah satu anak perempuannya menggantar kami keliling kebun mencari buah durian yang jatuh. Ada cukup lumayan banyak.

Kami makan sepuasnya. Nggak keitung lah berapa butir yang sudah kami buka. Setelah habis, ternyata penjaga kebun itu tidak mau dibayar atas buah durian yang sudah kami santap. Binggung juga kami. Tapi meskipun begitu, kami tetap menitipkan uang ke penjaga itu. 

Yogo, di antara durian-durian di kebun durian Ujung Tanah

Durian lokal di Ujung Tanah, Bone

Kisah-kisah di ArasoE: Pohon Kelapa Lagi

Masih melanjutkan kisah pohon kelapa yang kemarin. Hari ini saya coba mendekat ke pohon kelapa itu dan melihat lebih dekat kondisinya.

Pohon kelapa itu posisinya di tengah kebun, jarak dari jalan poros sekitar 50 meter dan pas di got malang. Memang, dengan posisi seperti itu akan sangat mengganggu kegiatan kultivasi tanaman tebu, terutama yang menggunakan traktor.

Tingginya kurang lebih 30 meter. Mungkin umurnya sudah cukup tua. Daunnya agak jarang, seperti dimakan kumbang. Dan tidak ada buahnya.

Bagian pangkal batang bawahnya memang ada bekas seperti kena doser. Mungkin ini bekas luka ketika ditumbangkan dulu. Bagian pangkal batangnya juga ada bekas terbakar. Setelah tebang memang ada kegiatan bakar daduk. Mungkin ini bekasnya.

Pohon kelapa ini masih berdiri kokoh. Entah sampai kapan, dan akan tetap menyimpan misteri kebun Tempeh ini.

Kisah-kisah di ArasoE: Dikerjain Pohon Kelapa

Pohon Kelapa Sendirian di Tengah Kebun Tebu

Masih ingat dengan kisah pohon kelapa yang ada di tengah-tengah kebun Tempeh (baca di sini: Kisah Horor Pohon Kelapa)? Ternyata memang horor.

Saat ini mulai musim durian. Saya dapat informasi dari mandor kalau ada sentra durian di dekat desa Sibulue, nama desanya kalau tidak salah Pattiro Riolo. Kami berlima; saya, Yogo, Andi, Ai dan Elsam, berencana mencari lokasi sentra durian ini. Kami berangkat selepas sholat asar. Kami mengambil jalan mutar lewat desa Kaju baru Sibulue dan ke Pattiro. Lumayan jauh juga. (Cerita duriannya lain kali saja).

Pulangnya sudah agak sore. Kami ingin mengejar sholat magrib di rumah. Kami putuskan untuk lewat jalan tengah kebun, jalan tanah berbatu. Pas kebetulan ada perbaikan jalan. Jalan sepanjang beberapa kilo meter penuh dengan tumpukan-tumpukan pasir dan kerikil. Apalagi lagi musim hujan seperti ini, jalan sempit dan licin. Kami mesti super hati-hati.

Setelah lewat jembatan, kami masuk ke kebun Sibulue, belok kanan memutari bukit Cinnong (kalau nggak salah namanya Cinnong). Jalan kebun tanah berbatu yang sepi. Setelah lewat pondok kebun Polewali, kami mendekat ke belokan pertigaan kebun Tempeh. Letak pohon kelapa itu. Matahari sudah tenggelam, adzan magrib sudah berkumandang. Jalanan sedikit gelap. Mendung lagi.

Agak dekat dengan pertigaan, tiba-tiba gigi motor saya masuk ke gigi satu. Motor mengerang agak keras, tapi motor tidak mau melaju. Saya coba pindah-pindah gigi. Tetap saja tidak mau pindah gigi. Saya naik motor sendirian, yang lain berboncengan. Mereka menyalip saya. Saya coba kejar. Motor tidak mau melaju. Setelah lewat belokan, mereka semakin menjauh dan saya tertinggal agak jauh di belakang. Saya kasih tanda pakai lampu.

Mereka menunggu di belokan batas antara kebun Kasimpureng dan kebun Tempeh.

“Ada apa, Pak?”

“Ini motor saya tidak mau pindah gigi.”

Lalu saya turun untuk melihat kondisi motor. Tetap saja tidak mau hidup dan tidak mau pindah gigi. Yogo coba menghidupkan motor dengan cara dibawa lari. Nggak bisa juga. Posisi kita sudah agak menjauh dari pohon kelapa itu.

Setelah dicoba-coba agak lama, akhirnya motorku bisa hidup juga. Yogo bawa motor saya dan saya membonceng Elsam. Sambil di jalan Elsam bilang ke saya:

“Di sini memang biasa seperti itu, Pak.”

“Nanti saya ceritakan.” katanya sambil terus melaju.

Setelah agak jauh dan mulai dekat dengan komplek PG. Elsam mulai menceritakan kisah tentang pohon kelapa itu. Sedikit dibumbui cerita-cerita horor dan dramatisasi. Mirip dengan cerita yang disampaikan oleh mandor dan sinder.

Dikerjain juga akhirnya.

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Pak Haji Yasmin, yang namanya jadi tiga spesies serangga

Pak Haji Yasmin (kanan) menunjukkan salah satu koleksi serangga langkanya.

Pak Haji Yasmin, hidupnya untuk serangga dan kumbang. Waktunya dihabiskan menjelajah hutan mencari dan mengidentifikasi serangga asli Indonesia. Namanya diabadikan untuk tiga spesies serangga; Pyrops jasmini dan Aegus jasmini dan satu sub spesies miky jasmini (lupa nama genusnya).
Saat ini sedang proses identifikasi serangga daun, mirip dengan serangga yang di foto tengah bagian bawah.
Dia sedang mencari juga serangga batang spesies Papua yang panjangnya sampai 70cm. Belum ketemu sampai sekarang, karena hidupnya di pohon2 besar dan tinggi.
Ketika menjelajah hutan sering nemu anggrek, sayang koleksi anggreknya mati. Aduuhh…. Pak Haji. Sayang banget.

Pyrops jasmini
Aegus jasmini

Memotret Kupu-kupu di Bantimurung, Bulusaraung

Kupu-kupu serangga terbang yang cantik dan gesit. Perlu kesabaran ekstra untuk bisa memotretnya. Apalagi memotret kupu-kupu di habitatnya; kerajaan kupu-kupu Indonesia, air terjun Bantimurung, Bulusaraung, Kab. Maros, Sulawesi Selatan.

Mendapatkan surat tugas di salah satu tempat di Sulawesi Selatan adalah tantangan tersendiri. Lokasinya jauh secara geografis, daerah yang sama sekali baru, dan masalahnya sedikit ‘berat. Bismillah saja. Saya mencari cara untuk bisa ‘menikmati’ penugasan ini.

Suatu hari saya pergi ke Makassar bersama Pak Arifin. Beliau cerita tempat-tempat menarik yang ditemui di jalur perjalanan ini. Ceritalah Beliau tentang Bantimurung. Kalau dari arah Bone, posisinya sebelum masuk kota Maros.

“Nanti kita lewati. Kita mampir sebentar, ” katanya.

Bantimurung adalah nama air terjun yang berada di salah satu lembah gunung Bulusaraung. Pegunungan karst yang mirip dengan landscape film Avatar. Cantik.

Yang paling unik dan terkenal dari tempat ini adalah kupu-kupu. Bantimurung adalah ‘kerajaan’ kupu2 di Indonesia. Di Bantimurung ada 200 spesies yang sudah diketahui. Ukurannya bervariasi dan corak warnanya cantik2.

Saya datang pertama kali ketika musik kemarau. Bukan musim kupu-kupu. Saya hanya menikmati kupu2 yang diawetkan dan dijajakan di kios2 sepanjang area parkir Bantimurung. Nggak asik lah.

Saya tanya ke guide yang menemani kami, kapan musim kupu2. Katanya; tergantung musim hujan. Kalau hujan sudah mulai turun, tanaman-tanaman akan mulai tumbuh. Kupu2 pun mulai bertelur dan menetas.

Kalau ada waktu luang, dan kebetulan lewat Maros, saya sempatkan untuk main ke Bantimurung. Pingin melanjutkan hobiku dulu, motret2, khususnya motret kupu2.

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Berburu Anggrek Sulawesi

anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum
Dapat anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum

Sudah jadi rahasia umum kalau saya suka dengan tanaman anggrek, apalagi anggrek spesies asli pribumi Indonesia. Zukkaaa zekali…..!!!! Mumpung pas di Sulawesi Selatan, saya ingin mendapatkan anggrek pribumi asli Sulawesi Selatan ini. Asyikkk….nggakk….

Anggrek Bulan Sulawesi Selatan

Anggrek bulan spesies Sulawesi

Setelah lebaran tahun ini, surat tugas saya di PG Camming, Kab. Bone, Sulawesi Selatan. Lumayan jauh juga dari kota Makassar. Di PG Camming ini sementara saya tinggal di Mess. Satu kamar sendirian. Tetangga kamar saya waktu itu ada pak CA yang baru; Pak Yusron dan Pak Prasetyo. Selang satu kamar saja. Di ujung sana ada juga Pak Wasis. Saat itu saya belum punya ‘alat trasportasi’ sendiri, jadi kalau mau ke mana-mana masih ‘ndompleng’ ke Pak CA; kalau nggak Pak Yusron ya pak Prasetyo. Tapi paling sering saya pergi dengan keliling kebun dengan Pak Yusron. Kadang-kadang kalau Pak Yusron tidak sedang pergi, saya diperbolehkan pakai mobil dan sopirnya, Pak Supardi. Jadi ingat anggrek Paphio supardii….

Nah… kalau ke kebun mata saya selalu ‘menyapu’ pohon-pohon dan halaman rumah warga di sini. Kalau-kalau ada ‘sesuatu’ yang menarik, terutama ya…anggrek. Suatu ketika saya lihat merah-merah ramai di depan rumah warga…. anggrek dendro tuh…pikir saya. Bunganya besar dan tanamannya lebat… Cantik pokoknya. Saya ingat-ingat lokasi rumahnya. Kalau lewat saya akan minta ke empunya rumah. Saya lihat juga ada anggrek bulan yang warnanya putih menyolok. Lalu ada anggrek Doritis pulcherrima yang bunganya merah. Kalau pas lewat pohon-pohon besar, saya minta Pak Supardii berjalan agak lambat, biar saya bisa melihat ke lebih detail bagian atas pohonnya. Maklum, anggrek biasanya di atas-atas.

Pulang dari kebun Mapesangka, saya berhenti di depan rumah warga di pinggir jalan poros. Saya ingat di rumah ini ada bunga anggrek merah-merah dan putih. Saya nggak bisa bahasa bugis Bone, jadi saya minta Pak Supardi untuk ngomong ke yang punya rumah. Setelah saya dekati, anggrek yang warna merah adalah anggrek dendrobium, mungkin Dendrobium bantimurung. Cuma yang ini tanamannya agak langsing. Lalu anggrek merah yang kedua, sedikit pink adalah Doritis pulcerimma. Anggrek klasik yang menawan.

Pak Supardi ngomong ke orang yang ada di rumah itu. Nggak bisa mengartikan saya. Lalu pak Supardi bilang ke saya:

“Nggak bisa diminta, Pak. Ibunya nggak ada di rumah.”

“Yang ada cuma anaknya, dia nggak berani untuk ngasih bunganya.”

“Ya…sudah..”

“Kapan-kapan lagi saja mampir ke sini lagi.”

Melanjutkan perjalanan ke PGC, jaraknya cukup jauh 20 km. Sepajang perjalanan mata saya tidak pernah lepas dari pohon-pohon dan rumah-rumah di sepanjang jalan. Saya lihat ada anggrek Phalaenopsi. Kapan-kapan saya akan mampir.

Di kebun Mapesangka sambil duduk melihat ibu-ibu yang sedang kethok bibit saya cerita kalau saya suka anggrek. Di sekitar kebun ada pohon-pohon besar. Mereka cerita biasanya ada anggrek warna putih di pohon-pohon. Anggrek bulan pikir saya. Anggrek bulan spesies sulawesi sedikit berbeda dengan anggrek bulan spesies jawa. Bedanya sedikit sekali sih..hanya di ‘sungut’ bunganya saja. Kalau anggrek bulan spesies jawa, sunggutnya warna kuning, kalau spesies sulawesi putih.

Saya coba jalan-jalan ke pinggir-pingggir kebun, kalau-kalau nemu anggrek bulan spesies sulawesi. Nihil.

“Di rumah banyak, ” kata ibu-ibu buruh tanam.

“Di pohon mangga”, lanjutnya lagi.

“Beneran, Bu? Bawain kalau ada deh…” pinta saya.

“Iyek… besok dibawain,” sahutnya lagi.

Continue reading