Category Archives: MyStories

Kisah-kisah di ArasoE: Pohon Kelapa Lagi

Masih melanjutkan kisah pohon kelapa yang kemarin. Hari ini saya coba mendekat ke pohon kelapa itu dan melihat lebih dekat kondisinya.

Pohon kelapa itu posisinya di tengah kebun, jarak dari jalan poros sekitar 50 meter dan pas di got malang. Memang, dengan posisi seperti itu akan sangat mengganggu kegiatan kultivasi tanaman tebu, terutama yang menggunakan traktor.

Tingginya kurang lebih 30 meter. Mungkin umurnya sudah cukup tua. Daunnya agak jarang, seperti dimakan kumbang. Dan tidak ada buahnya.

Bagian pangkal batang bawahnya memang ada bekas seperti kena doser. Mungkin ini bekas luka ketika ditumbangkan dulu. Bagian pangkal batangnya juga ada bekas terbakar. Setelah tebang memang ada kegiatan bakar daduk. Mungkin ini bekasnya.

Pohon kelapa ini masih berdiri kokoh. Entah sampai kapan, dan akan tetap menyimpan misteri kebun Tempeh ini.

Kisah-kisah di ArasoE: Dikerjain Pohon Kelapa

Pohon Kelapa Sendirian di Tengah Kebun Tebu

Masih ingat dengan kisah pohon kelapa yang ada di tengah-tengah kebun Tempeh (baca di sini: Kisah Horor Pohon Kelapa)? Ternyata memang horor.

Saat ini mulai musim durian. Saya dapat informasi dari mandor kalau ada sentra durian di dekat desa Sibulue, nama desanya kalau tidak salah Pattiro Riolo. Kami berlima; saya, Yogo, Andi, Ai dan Elsam, berencana mencari lokasi sentra durian ini. Kami berangkat selepas sholat asar. Kami mengambil jalan mutar lewat desa Kaju baru Sibulue dan ke Pattiro. Lumayan jauh juga. (Cerita duriannya lain kali saja).

Pulangnya sudah agak sore. Kami ingin mengejar sholat magrib di rumah. Kami putuskan untuk lewat jalan tengah kebun, jalan tanah berbatu. Pas kebetulan ada perbaikan jalan. Jalan sepanjang beberapa kilo meter penuh dengan tumpukan-tumpukan pasir dan kerikil. Apalagi lagi musim hujan seperti ini, jalan sempit dan licin. Kami mesti super hati-hati.

Setelah lewat jembatan, kami masuk ke kebun Sibulue, belok kanan memutari bukit Cinnong (kalau nggak salah namanya Cinnong). Jalan kebun tanah berbatu yang sepi. Setelah lewat pondok kebun Polewali, kami mendekat ke belokan pertigaan kebun Tempeh. Letak pohon kelapa itu. Matahari sudah tenggelam, adzan magrib sudah berkumandang. Jalanan sedikit gelap. Mendung lagi.

Agak dekat dengan pertigaan, tiba-tiba gigi motor saya masuk ke gigi satu. Motor mengerang agak keras, tapi motor tidak mau melaju. Saya coba pindah-pindah gigi. Tetap saja tidak mau pindah gigi. Saya naik motor sendirian, yang lain berboncengan. Mereka menyalip saya. Saya coba kejar. Motor tidak mau melaju. Setelah lewat belokan, mereka semakin menjauh dan saya tertinggal agak jauh di belakang. Saya kasih tanda pakai lampu.

Mereka menunggu di belokan batas antara kebun Kasimpureng dan kebun Tempeh.

“Ada apa, Pak?”

“Ini motor saya tidak mau pindah gigi.”

Lalu saya turun untuk melihat kondisi motor. Tetap saja tidak mau hidup dan tidak mau pindah gigi. Yogo coba menghidupkan motor dengan cara dibawa lari. Nggak bisa juga. Posisi kita sudah agak menjauh dari pohon kelapa itu.

Setelah dicoba-coba agak lama, akhirnya motorku bisa hidup juga. Yogo bawa motor saya dan saya membonceng Elsam. Sambil di jalan Elsam bilang ke saya:

“Di sini memang biasa seperti itu, Pak.”

“Nanti saya ceritakan.” katanya sambil terus melaju.

Setelah agak jauh dan mulai dekat dengan komplek PG. Elsam mulai menceritakan kisah tentang pohon kelapa itu. Sedikit dibumbui cerita-cerita horor dan dramatisasi. Mirip dengan cerita yang disampaikan oleh mandor dan sinder.

Dikerjain juga akhirnya.

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Pak Haji Yasmin, yang namanya jadi tiga spesies serangga

Pak Haji Yasmin (kanan) menunjukkan salah satu koleksi serangga langkanya.

Pak Haji Yasmin, hidupnya untuk serangga dan kumbang. Waktunya dihabiskan menjelajah hutan mencari dan mengidentifikasi serangga asli Indonesia. Namanya diabadikan untuk tiga spesies serangga; Pyrops jasmini dan Aegus jasmini dan satu sub spesies miky jasmini (lupa nama genusnya).
Saat ini sedang proses identifikasi serangga daun, mirip dengan serangga yang di foto tengah bagian bawah.
Dia sedang mencari juga serangga batang spesies Papua yang panjangnya sampai 70cm. Belum ketemu sampai sekarang, karena hidupnya di pohon2 besar dan tinggi.
Ketika menjelajah hutan sering nemu anggrek, sayang koleksi anggreknya mati. Aduuhh…. Pak Haji. Sayang banget.

Pyrops jasmini
Aegus jasmini

Kisah-kisah di ArasoE: Berburu Anggrek Sulawesi

Sudah jadi rahasia umum kalau saya suka dengan tanaman anggrek, apalagi anggrek spesies asli pribumi Indonesia. Zukkaaa zekali…..!!!! Mumpung pas di Sulawesi Selatan, saya ingin mendapatkan anggrek pribumi asli Sulawesi Selatan ini. Asyikkk….nggakk….

Anggrek Bulan Sulawesi Selatan

Anggrek bulan spesies Sulawesi

Setelah lebaran tahun ini, surat tugas saya di PG Camming, Kab. Bone, Sulawesi Selatan. Lumayan jauh juga dari kota Makassar. Di PG Camming ini sementara saya tinggal di Mess. Satu kamar sendirian. Tetangga kamar saya waktu itu ada pak CA yang baru; Pak Yusron dan Pak Prasetyo. Selang satu kamar saja. Di ujung sana ada juga Pak Wasis. Saat itu saya belum punya ‘alat trasportasi’ sendiri, jadi kalau mau ke mana-mana masih ‘ndompleng’ ke Pak CA; kalau nggak Pak Yusron ya pak Prasetyo. Tapi paling sering saya pergi dengan keliling kebun dengan Pak Yusron. Kadang-kadang kalau Pak Yusron tidak sedang pergi, saya diperbolehkan pakai mobil dan sopirnya, Pak Supardi. Jadi ingat anggrek Paphio supardii….

Nah… kalau ke kebun mata saya selalu ‘menyapu’ pohon-pohon dan halaman rumah warga di sini. Kalau-kalau ada ‘sesuatu’ yang menarik, terutama ya…anggrek. Suatu ketika saya lihat merah-merah ramai di depan rumah warga…. anggrek dendro tuh…pikir saya. Bunganya besar dan tanamannya lebat… Cantik pokoknya. Saya ingat-ingat lokasi rumahnya. Kalau lewat saya akan minta ke empunya rumah. Saya lihat juga ada anggrek bulan yang warnanya putih menyolok. Lalu ada anggrek Doritis pulcherrima yang bunganya merah. Kalau pas lewat pohon-pohon besar, saya minta Pak Supardii berjalan agak lambat, biar saya bisa melihat ke lebih detail bagian atas pohonnya. Maklum, anggrek biasanya di atas-atas.

Pulang dari kebun Mapesangka, saya berhenti di depan rumah warga di pinggir jalan poros. Saya ingat di rumah ini ada bunga anggrek merah-merah dan putih. Saya nggak bisa bahasa bugis Bone, jadi saya minta Pak Supardi untuk ngomong ke yang punya rumah. Setelah saya dekati, anggrek yang warna merah adalah anggrek dendrobium, mungkin Dendrobium bantimurung. Cuma yang ini tanamannya agak langsing. Lalu anggrek merah yang kedua, sedikit pink adalah Doritis pulcerimma. Anggrek klasik yang menawan.

Pak Supardi ngomong ke orang yang ada di rumah itu. Nggak bisa mengartikan saya. Lalu pak Supardi bilang ke saya:

“Nggak bisa diminta, Pak. Ibunya nggak ada di rumah.”

“Yang ada cuma anaknya, dia nggak berani untuk ngasih bunganya.”

“Ya…sudah..”

“Kapan-kapan lagi saja mampir ke sini lagi.”

Melanjutkan perjalanan ke PGC, jaraknya cukup jauh 20 km. Sepajang perjalanan mata saya tidak pernah lepas dari pohon-pohon dan rumah-rumah di sepanjang jalan. Saya lihat ada anggrek Phalaenopsi. Kapan-kapan saya akan mampir.

Di kebun Mapesangka sambil duduk melihat ibu-ibu yang sedang kethok bibit saya cerita kalau saya suka anggrek. Di sekitar kebun ada pohon-pohon besar. Mereka cerita biasanya ada anggrek warna putih di pohon-pohon. Anggrek bulan pikir saya. Anggrek bulan spesies sulawesi sedikit berbeda dengan anggrek bulan spesies jawa. Bedanya sedikit sekali sih..hanya di ‘sungut’ bunganya saja. Kalau anggrek bulan spesies jawa, sunggutnya warna kuning, kalau spesies sulawesi putih.

Saya coba jalan-jalan ke pinggir-pingggir kebun, kalau-kalau nemu anggrek bulan spesies sulawesi. Nihil.

“Di rumah banyak, ” kata ibu-ibu buruh tanam.

“Di pohon mangga”, lanjutnya lagi.

“Beneran, Bu? Bawain kalau ada deh…” pinta saya.

“Iyek… besok dibawain,” sahutnya lagi.

Continue reading

Menabung Investasi Emas

Tahungan dalam bentuk uang mah biasa. Ada yang lebih baik daripada menyimpan harta dalam bentuk uang; yaitu menabung dalam bentuk emas.

Pengalaman Pak Katiman; Uang Turni untuk Beli Perhiasan Emas

Saya diajari oleh senior kerja saya dulu. Namanya Alm Pak Katiman. Ketika masuk kerja, beliau sudah sepuh dan mau pensiun. Namanya aslinya Katiman, tapi sejak kecil diasuh dan tinggal di tanah Sunda. Namanya diganti menjadi Maman Katiman. Meski besar di Sunda, Pak Katiman tetap orang jawa tulen.

Orang jawa itu ramah, ulet, ‘gemi’, hemat dan suka nemabung. Rumah Pak Katiman besar, tanahnya luas banget. Lebih dari 1000 m. Punya beberapa bidang tanah. Suatu hari ketika kita sama2 ‘turni’ ke Madura, saya tanya ke Beliau; apa rahasia Pak Katiman sampai bisa punya rumah besar dan tanah yang luas? Padahal kerjanya hanya teknisi saja.

Lalu beliau menceritakan rahasianya. Waktu kerja dulu beliau sering ‘turni’ atau tugas luar. Uang saku perjalanannya banyak, bahkan lebih besar dari gajinya. Apalagi Pak Katiman irit. Kalau pulang dari Turni selalu bawa uang banyak. Nah, setiap kali pulang Turni beliau selalu membeli perhiasan emas. Uangnya tidak disimpan di bawah kasur atau tabungan bank. Beliau tahu kalau harga emas cenderung naik. Lama kelamaan perhiasan emasnya banyak.

Beliau belum punya rumah. Beliau ingin punya rumah. Karena orang kampung, cara berfikirnya sederhana. Dia beli tanah dulu baru membangunnya. Singkat cerita dia dapat lokasi tanah di daerah Kota Batu Ciapus. Uang untuk membelinya dari menjual perhiasan emas-emasnya. Ketika dia menjual emasnya itu harganya sudah jauh lebih tinggi daripada harga ketika membelinya dulu. Beruntung sekali Pak Katiman. Dia bangun sendiri rumahnya. Kalau pulang kerja dari kantor, dia ‘nukang batu’. Dicat sendiri dan dirapikan sendiri. Pelan tapi pasti rumahnya jadi. Lambat laun, tanah2 disekitarnya pun dia beli. Rumahnya jadi luas sekali.

Menabung dalam bentuk emas bukan hanya sekedar menyimpan harta saja, tetapi salah satu bentuk investasi. Karena nilai (harga emasnya) akan berkembang. Menurut saya ini ‘halal’, beda dengan menambung dalam bentuk deposito. Tambahan uangnya dari ‘bunga bank’. Meski persentasenya tidak sebesar bunga deposito, saya pribadi lebih memilih emas. Belum pernah sama sekali saya depositokan uang saya.


Baca juga memilih Tabungan Emas: Bukalapak, Tokopedia, atau Pegadaian.

Kelebihan dan Kekurangan Menyimpan Emas Perhiasan

Menyimpan yang dalam bentuk emas memang lebih menguntungkan daripada menyimpan dalam bentuk uang saja. Karena nilai emas cenderung naik, meski kenaikan ini tidak tinggi dan kadang2 turun.

Perhiasan emas relatif mudah didapat. Selain itu bisa dipakai untuk perhiasan. Tapi menyimpan emas untuk perhiasan ada kekurangannya. Pertama; kurang aman. Perhiasan emas bisa dicuri atau dijambret.

Kedua; banyak potongan. Kalau kita jual lagi emas itu ke toko. Biasanya ke toko waktu membeli dulu. Kalau ketoko lain dihargai lebih murah, apalagi tidak ada surat-suratnya. Potongan pertama adalah potongan berat emas. Ini kadang2 curangnya toko. Timbangan emas selalu berkurang, meski nggak dipakai dan disimpan di laci saja. Lalu, potongan ongkos buat. Harganya bervariasi. Jadi potongan harganya bisa sampai 5-10% dari harga emas saat itu.

Investasi perhiasan emas adalah investasi jangka panjang. Kalau jangka pendek biasanya rugi. Pas beli harga mahal, pas jual harga rendah. Ada selisih antara harga beli dan jual sekitar 2 persen. Apalagi kalau pas turunnya agak banyak, semakin besar penurunannya.

Koin Emas dan Emas Batangan

Alternatif simpanan emas adalah koin emas atau emas batangan. PT Antam mengeluarkan produk yang orang kenal dengan sebutan ‘Emas LM’. Bentuknya kepingan kecil berbentuk kotak dan ada logonya LM. Pecahannya mulai dari 1 gr, 5 gr, 10 gr dan seterusnya. Emas LM ada nomor serinya dan ada sertifikatnya.

Harga emas LM lebih tinggi daripada emas perhiasan. Beda antara harga beli dan harga jualnya sekitar 2% saja. Kalau kita jual tidak ada potongan lain lagi.

Selain emas LM ada lagi emas UBS. Harganya lebih murah.

Emas LM dan Emas UBS bisa dibeli di toko2 emas perhiasan. Bisa juga dibeli di Pegadaian, kantor pos, bank atau langsung ke gerai Antam. Bahkan sekarang sudah bisa beli on-line. Kalau kita cari di apliaksi Marketplace (Bukalapak, Tokopedia, dll) ada yang jual emas LM.

Kalau perlu uang, emas LM ini bisa dijual atau digadaikan. Jualnya ya di toko emas waktu kita beli. Tapi nggak bisa dijual ke Pegadaian atau Bank. Mereka hanya terima gadai.

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 11

Umroh: Tawaf, Sa’i dan Tahalul

Dari rukun Yamani kami berjalan ke arah rukun Hajar Aswad. Rukun ini adalah pojok2 Ka’bah. Tawaf dimulai dari rukun Hajar Aswad. Ustad Rofi’i memimpin kami melakukan tawaf ini. Sunnahnya, tawaf diawali dengan mencium hajar aswad. Susasana yang sangat ramai tidak memungkinkan semua orang menciumnya. Sejajar dengan hajar aswad ini ada lampu hijau. Lampu ini yang menjadi tanda dimulainya Tawaf. Ustad Rofi’i mengangkat tangannya tinggi2 dan mengarahkannya ke hajar aswad sambil mengucapkan: “Bismillahi Allahuakbar,” lalu mengecup tangan. Kami semua mengikuti apa yang dilakukan oleh Ustad Rofi’i. Putaran pertama sampai ketiga disunnahkan untuk berlari2 kecil, namun kali ini sama sekali tidak memungkinkan bagi kami untuk berlari2 kecil. Kami hanya bisa berjalan berdesak2an dengan jama’ah yang lain.

Ustad Rofi’i membimbing kami membaca kalimat tahmid, tahlil dan takbir. Kami baca berulang2. Kami berjalan di lingkaran luar. Kami melewati maqam Ibrahim. Berjalan terus sampai melewati hijr Ismail. Setelah dekat dengan rukun Yamani, ustad Rofi’i memberi aba2 lagi, beliau mengangkat tanggannya dan membaca sama seperti di awal tawaf. Namun, kali ini ucapan dzikirnya berubah:

“Robbana atina fiddunya khasanah, wafil akhkhiroti khasanah, waqina adzabannar”

Kami pun semua mengikuti apa yang diucapkan Ustad Rofi’i.

Putaran kedua kami masih bergabung dengan jamaah. Di putaran ketiga tidak terasa kami terpisah dari jama’ah. Kami mengikuti arus dan lebih mendekat ke arah Ka’bah. Di putaran keempat kami sangat dekat dengan Ka’bah. Di rukun Yamani, kami menyentuh dan mengusap dinding Ka’bah yang sedikit terbuka. Tapi kami tidak bisa mendekat ke hajar aswad. Kerumuman orang benar2 penuh dan berdesak2kan. Di dalam hijr ismail pun penuh sesak, di pintu masukknya di jaga askar. Sangat sulit bagi jama’ah untuk masuk atau pun keluar.

Putaran berikutnya giliran Pak Gunawan yang ke rukun Yamani. Beliau menciumi dinding Ka’bah sepuas2nya. Dinding dan kain kiswah penutup Ka’bah wangi sekali. Wanginya menempel di tangan-tangan kami.

Dengan bantuan karet gelang kami menghitung putaran tawaf kami. Setiap selesai satu putaran karet gelang dipindahkan dari tangan kiri ke tangan kanan. Begitu seterusnya. Jika semua karet sudah berpindah, berarti sudah tujuh putaran.

Putaran terakhir kami mengarah ke lingkaran paling luar. Kami mencari tempat untuk bisa sholat dua rakaat. Tapi banyak askar yang di pingiran area tawaf. Tidak boleh ada jamaah yang berhenti apalagi sholat di area tawaf. Kalau ada yang sholat pasti akan didorong dan diusir oleh Askar.

“Haji… haji… tariq…!!!!!!” Begitu teriak askar2 itu.

Kami pun berjalan ke arah luar. Ada petunjuk yang mengarahkan ke tempat sa’i ke bukit Saffa. Kami sholat dua rakaat di jalan itu. Di pinggir2nya ada drum2 tempat air zam-zam. Kami ambil gelas dan minum air zam-zam. Sebagian airnya kami siramkam ke atas kepala kami.

Kami sudah terpisah dengan jamaah. Kami hanya berempat; saya, Umminya Royan, Pak Gunawan dan Pak Totok. Setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan ke tempat sa’i. Kami mengikuti arus orang2 yang berpakaian ihram. Kami yakin mereka pasti akan melakukan sa’i.

Jalan menuju tempat sai cukup lebar. Mungkin lebih dari 50 meter dan semua penuh orang berjalan satu arah. Jalanan sedikit menanjak. Diujung jalan itu ada tempat datar lalu ada tangga turun. Di kejauhan ada papan besar tertulis Saffa start here. Berarti itu adalah lokasi bukut safa tempat dimulainya ibadah Sai.

Kami berjalan mendaki ke Bukit Safa. Bukit Saffa saat ini sangat berbeda dengan jaman Siti Hajar dulu. Tempat sa’fi ini sudah masuk ke dalama komplek Masjidil Haram. Lantainya dari marmer halus dan dingin. Tempat Sa’i ini ada tiga lantai; lantai dasar, lantai satu dan lantai dua. Bukit Saffa masih tersisa bagian atasnya. Namun bagian puncak bukit saffa ini sekarang dikelilingi oleh tembok kaca. Jama’ah tidak bisa lagi naik ke puncak bukitnya lagi. Bagian ini berlubang sampai ke lantai yang paling tinggi. Jadi jamaah yang berada di lantai 1 dan 2 masih bisa melihat ke bawah ke puncak bukit Saffa.

Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, ketika naik kami membaca awal surat …. … Lalu membaca takbir tiga kali. Di sisi puncak bukit itu kami menghadap ke arah Ka’bah dan membaca do’a:

……….

Dari puncak bukit safa kami menuju ke bukit Marwa. Jalur sa’i ini cukup lebar, mungkin lebih dari 50 meter lebarnya. Di bagian tengahnya ada jalur yang dikhususkan untuk orang-orang tua dan orang yang menggunakan kursi roda. Di putaran pertama sampai ke tiga kami berjalan setengah berlari sambil berdzikir apa saja. Saya menggucapkan kalimat tahmid, tahlil dan takbir, sesekali kami membaca sholawat untuk Nabi.

Di beberapa tempat sepajang jalur Sa’i ada tempat untuk minum air Zam-zam. Jadi, kalau ada jama’ah yang capai dan haus bisa berhenti untuk minum air zam-zam ini. Perjalanan dari satu bukit safa ke bukit Marfa dihitung satu putaran. Perjalanan dari bukit Marwa ke bukit safa juga dihitung satu putaran. Semuanya ada tujuh putaran. Dimulai dari bukit safa dan akan berakhir di putaran ke tujuh di bukit Marwa.

Sepanjang perjalanan sa’i ini kami membayangkan bagaimana dulu Siti Hajar yang baru saja melahirkan Ismail berlari-lari mencari air di antara dua bukit ini. Bukitnya batu-batu terjal. Cuaca panas dan terik. Dalam kondisi yang lemah itu terus mencari air di tengah gurun pasir yang gersang. Subhanallah.

Kisah-kisah di ArasoE: Tidur di Pondok Kayu

Terlelap sebentar di pondok kayu di tengah kebun. Alasnya papan kayu dan bantalnya buah kelapa tua. Nyenyak.

Seperti biasanya, pagi habis sarapan menuju ke kebun. Kali ini saya ke kebun upland wilayah barat; Kebun Walenreng 1. Jaraknya cukup jauh dari mess PG. Saya berangkat berdua dengan Ai. Saya naik Honda Win dan Ai naik Beat.

Jalan poros makadam kita lalui. Pertama kita singgah di Kebun Lompu. Lalu ke Kebun Talaga. Singgah sebentar beli minum di pondok rayon Barat; warungnya mandor Agus. Lanjut lagi, menyusuri tiang listrik, membelah kampung, lalu ke kebun Walenreng. Di sini sedang ada penanaman PC atau tebu baru.

Kami parkir motor di pinggir kebun dekat dengan kebun kakao milik warga. Kita cari-cari mandor kebunnya; Pak Iskandar. Nggak terlihat, padahal motor winnya parkir bersebelahan dengan motor saya.

Kita coba cari-cari di sekitar kebun tidak terlihat. Hanya ada beberapa buruh tanam yang sedang kletek bibit dan potong2 bibit.

Di kebun warga ada pondok kayu. Pondok kebun sederhana. Ukuranya 3 m x 6 m. Pondok ini berbentuk panggung tingginya hampir setinggi kepalaku. Di depannya ada tangga kecil kenuju ke teras pondok. Di teras ini terlihat ada orang tiduran di atas dipan kayu, Itu dia Pak Iskandar.

Kami segera menuju pondok dan naik di terasnya. “Assalamu’alaikum”, ucap kami hampir serempak sambil melambaikan tanggan. Pak Iskandar menyambut salam kami dengan wajah ceria. Di pelipisnya ada luka bekas jahitan. Seminggu yang lalu, jam 10 malam, Pak Iskandar kecelakaan menabrak kuda yang lari di tengah jalan. Tanggannya masih terkilir dan kepalanya masih kadang2 pusing.

Kami ngobrol di teras pondok. Di tempat itu ada banyak sekali buah kelapa tua. Ada satu dipan kayu panjang di sisi dalam. Anggin bertiup pelan membuat kesegaran di tengah terik matahari musim kemarau ini.

Lama2 mata jadi berat. Pingin tidur rasanya. Semakin lama pelupuk mata semakin berat dan sulit dibuka.

“Pinggin merbahkan badan, Pak Iskandar. Mata berat sekali. “

Saya ambil beberapa ikat buah kelapa muda dan saya letakkan di ujung dipan kayu. Saya rebahkan badan dan kepala di atas buah kelapa. Dipan kayu ini sempit, lebarnya sekitar 25 cm. Geser sedikit saja bisa jatuh.

Kesadaran saya pelan2 hilang. Saya miring sedikit ke arah dinding papan kayu. Melayang ke dunia mimpi.

***

Kenikmatan tidur bukan di atas spring bad yang empuk. Atau sejuknya AC. Mata yang terpejam dan pikiran lelap. Sebentar melupakan keruwetan.

Badan hampir iatuh. Lalu saya terbangun. Saya usap bibir dan dagu yang basah. Duduk sebentar sampai kesadaran saya pulih.

Matahari sudah condong ke barat. Perut mulai keroncongan. Saatnya makan siang. Kami pun turun dari pondok balik ke komplek PG.

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 12

Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail

Ada tiga tempat dan posisi yang paling dicari dan diburu oleh jama’ah di Masjidil Haram. Tiga tempat itu adalah Hadjar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail. Hajar Aswad memempel di salah satu sudut Ka’bah. Batu hitam yang sudah terpecah-pecah ini selalu di buru jama’ah untuk dicium atau hanya sekedar diusap tangan saja. Tawaf dimulai dari sudut Hajar aswad ini. Dulu Rasulullah memulai tawaf dengan mengucakan basmallah, takbir dan mencium hajar aswad. Praktek ini diikuti oleh para sahabat dan kaum muslimin hingga saat ini. Jika tidak bisa mencium, mengusap saja atau melambaikan tangan sudah cukup sebagai isyarat memulai tawaf.

Hajar aswad ini adalah batu dari surga yang diturunkan untuk Nabi Adam AS. Lama kelamaan batu ini berubah menjadi hitam kelam karena dosa-dosa yang dilakukan oleh ummat manusia. Meski hanya batu biasa yang tidak bisa mendatangkankan kebaikan maupun kemudhorotan, namun batu ini sangat dimuliakan sejak jaman dulu. Bahkan sejak sebelum kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Ketika hari kimat kelak, batu ini akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menciumnya atau menyentuhnya. Karena itu banyak orang muslim yang berlomba-lomba untuk mencium hajar aswad.

Multazam adalah bagian dinding Ka’bah diantara hajar aswad dan pintu Ka’bah. Dalam sebuah hadist dari Abullah ibnu Umar yang merapatkan seluruh badannya dan menempelkan pipi kanannya ke dinding Multazam. Beliau menyebutkan bahwa seperti itulah yang Beliau saksikan dari Rasulullah. Multazam diyakini sebagai salah satu tempat yang makbul, atau tempat-tempat yang doa-doa akan dikabulkan. Tidak heran jika banyak kaum muslimin yang juga berebut untuk bisa berdoa dan menempelkan badannya ke multazam.

Tempat ketiga adalah hijr Ismail. Salah satu sisi Ka’bah ada bangunan berbentuk setengah lingkaran dan setinggi kira-kira satu setengah meter. Banyak sekali orang mengantri untuk bisa masuk, sholat dan berdoa di dalam hijr Ismail ini. Dalam sebuah hadist Rasulullah dijelaskan kalau hijir Ismail ini adalah bagian dari Ka’bah. Sholat di dalam hijr Ismail sama seperti sholat di dalam Ka’bah. Siapa orang muslim yang tidak ingin sholat di dalam Ka’bah…??? Pastilah semua orang ingin bisa sholat di tempat yang paling mulia ini.

Ketika tawaf dalam rangkaian ibadah umroh hari pertama sama sekali kami tidak bisa mendekat ke Ka’bah. Area tawaf penuh sesak dengan orang. Padahal saat itu masih sore hari. Setiap kali kami mencoba mendekat ke Ka’bah selalu mental kembali ke arah luar. Orang-orang menumpuk dan berjubel di rukun hajar aswad. Di hijr Ismail pun tidak kalau ramainya. Ustad Rofi’i juga sudah mengingatkan untuk tidak berusaha mencium atau mendekat ke Ka’bah ketika tawaf umroh. Sebaiknya selesaikan dulu rangkaian ibadah umroh. Mencium hajar aswad dilakukan di lain waktu saja.

Selepas sholat Magrib kami berempat kembali berpakaian ihram dan akan melakukan tawaf sunnah. Tujuannya agar bisa mendatangi tiga tempat yang mulia itu. Putaran pertama kami masih belum bisa mendekat. Di depan Hajar Aswad penuh sesak orang. Berkali-kali kami coba tetap tidak bisa mendekat. Putaran kedua masih sama. Tapi kalai ini Pak Gunawan terpisah dari rombongan. Kami hanya bertiga saja; saya, istri saya dan Pak Totok.

Di putaran ketiga kami kembali merapat ke Ka’bah. Tetap tidak bisa mendekat ke hajar aswad maupun multazam. Kami berjalan terus ke arah hijr Ismail. Orang-orang masih berdesak-desakan. Ketika sampai di dekat pintu masuk hijr Ismail terlihat terbuka. Dalam pandangan kami, pintu itu kosong, tidak ada orang berdesak-desakan akan masuk, tidak ada penjaganya juga.

“Subhanallah…., sepi Pak Totok”
“Iya…Pak….”
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam hijr Ismail. Di dekat pintu itu sudah banyak orang yang sedang sholat dan sujud. Bahkan di depan kami pas ada orang yang sujud. Lalu saya ajak mereka merengsek ke arah tengah dan terus ke sisi yang berseberangan.

Alhamdulillah di tempat ini suasana lebih longgar. Akhirnya, di sini kami bertiga berdiri mengambil posisi sholat. Istri saya, saya di tengah dan Pak Totok di samping kanan saya. Saya sholat taubat dua rakaat. Hati bergemuruh hebat. Rasanya senang, terharu, gembira, sedih bercampur menjadi satu. Ketika sujud, air mata tumpah tak bisa ditahan. Kami semua menangis seperti anak kecil. Kami menangis sejadi-jadinya. Kami tidak peduli lagi dengan suasana sekitar kita. Kami tidak peduli kepala-kepala kami dilangkahi dan diinjak orang. Kami mengadu kepuas-puasnya kepada Allah.

Selesai sholat pertama. Kami sholat dua rokaat lagi. Saya niat sholat hajat. Saya sudah tidak memperdulikan dengan istri dan Pak Totok lagi. Ketika saya menoleh, kiri kanan saya sudah beda orang. Air mata tumpah lagi, lebih deras daripada hujan di kota Bogor di bulan Februari seperti ini. Saya berdoa sepuas-puasnya. Dalam setiap sujud saya panjatkan do’a- do’a. Termasuk ditipan do’a dari keluarga, sanak famili dan teman-teman. Salah satu do’a yang saya ucapkan berulang-ulang adalah do’a agar dikaruniani kesehatan dan umur yang barokah. Selesai sholat saya angkat tangan tinggi-tinggi dan berdo’a lagi. Total saya bisa sholat tiga kali, masing-masing dua rokaat. Alhamdulillah.

Lalu saya berdiri. Istri ada di belakang dan Pak Totok juga sedikit di belakang saya. Saya gandeng mereka berdua mendekat ke dinding Ka’bah. Ada askar yang berjaga di sudut itu. Di dinding Ka’bah sudah ada jama’ah perempuan dan laki-laki yang menangis di dinding. Kami menunggu dengan sabar. Askar itu melihat kami. Saya tersenyum ke arah askar itu dan memberi isyarat kalau kami ingin mendekat ke dinding Ka’bah. Askar itu paham dan dengan isyarat kepala dia meminta kami untuk bersabar.

Tak berapa lama askar itu menarik orang yang di dinding Ka’bah dan menyerahkan tempat itu ke istri saya. Saya dan Pak Totok juga mendekat ke dinding. Tapi di depan kami masih ada orang yang sedang berdoa. Tak berapa lama, dia pun beranjak dan kami menempel ke dinding Ka’bah. Tangis kami tumpah lagi. Pak Totok yang menurut saya paling tegar di antar kami juga menangis sesenggukan. Suaranya keras seperti tidak pedulu dengan orang-orang di sekitarnya. Kami pun berdoa lagi. Memanjatkan semua keinginan dan harapan kami kepada Allah, Robb Ka’bah ini. Entah berapa lama kami menangis di dinding Ka’bah ini.

Sampai akhirnya, Istri saya berbisik:”Sudah…gantian dengan yang lain.”
Saya pun segera beranjak. Saya tepuk punggung Pak Totok dan Beliau pun segera beranjak pula. Kami menuju ke arah pintu hijr Ismail.

Ternyata mau keluar dari Hijr Ismail lebih sulit dari ketika masuk tadi. Di sekitar pintu masuk penuh orang. Banyak orang yang mau masuk dan banyak juga orang yang mau keluar. Ada juga orang yang sedang sholat dan berdoa di tengah-tengah keurumunan itu. Pelan-pelan kami terus merengsek ke luar. Maju terus, meski hanya setapak demi setapak. Setelah berdesak-desakan cukup lama, akhirnya kami berhasil keluar juga dari dalam Hijr Ismail. Alhamdulillah.

Kami melanjutkan tawaf yang baru di putaran ketiga. Di rukun yamani kami usap dinding Ka’bah yang terbuka. Berjalan terus dan melantunkan ‘do’a sapu jagad’. Sampai di hajar aswad, kami tetap tidak bisa mendekat. Gelombang orang berdesak-desakan luar biasa yang ingin mencium hajar aswad. Kami terpaksa harus sedikit melebar keluar agar bisa tetap terus melanjutnya putaran tawaf. Di dekat multazam saya coba lagi mendekat. Suasana tidak kalah serunya dibandingkan dengan yang di hajar aswad. Tapi kali ini saya coba paksakan

Jarak kami dengan multazam kira-kira tiga lapis orang. Semuanya berebut ingin mengantung di pintu Kabah, menempel di multazam dan merengsek ke hajar aswad. Saya coba paksakan untuk ikut merengsek ke depan. Badan saya dan istri tergencet. Saya sudah tidak ingat lagi di mana Pak Totok. Pikiran cuma satu, bagaimana badan bisa menempel di multazam. Itu saja.

Sekeras usaha yang kami coba, posisi tetap tidak beranjak. Saya tetap tidak bisa mendekat. Badan malah semakin tergencet. Jarak paling dekat yang sempat saya raih adalah menyentuh dinding multazam. Itu saja tidak bisa lebih lagi. Arus dan gelombang orang sangat kuat. Ketika tangan baru menyentuh sedikit, tiba-tiba gelombang orang keluar dari arah hajar aswad. Kami menjauh lagi dari multazam dan hajar aswad. Akhirnya kami menyerah. Kami mundur dan melanjutkan lagi putaran tawaf yang tersisa.

Putaran-putaran berikutnya kami tidak lagi berusaha mendekat ke hajar aswad atau multazam. Kerumuman orang sangat penuh. Rasanya tidak mungkin bagi kami untuk bisa mendekat. Insya Allah di kesempatan lain kami akan coba lagi. Kami selesaikan tawaf sunnah ini. Lalu kami mencari tempat agak lapang untuk sholat. Sholat di areal tawaf sangat dilarang, karena mengganggu orang yang sedang tawaf. Askar-askar yang berjaga akan mendorong orang-orang yang nekad sholat di areal tawaf dan mengusir mereka ke arah luar.

Kami berjalan terus ke arah luar. Di Bagian belakang ke jalur yang menuju ke bukit shofa ada tempat minum air zam-zam. Seperti yang disunnahkan, kami minum air zam-zam sambil menghadap ka’bah dan membaca doa. Sebagian kami siramkam ke kepala. Kerongkongan rasanya segar sekali.

Kali ini saya sudah terpisah dengan Pak Totok dan Pak Gunawan. Entah di mana mereka. Kami lalu duduk menunggu sholat isya’ sambil berdizkir dan membaca Al Qur’an. Selepas sholat kami pulang ke hotel untuk makan malam.

Di tempat makan kami menceritkan pengalaman kami ini. Pak Totok dan Pak Gunawan sudah ada di hotel duluan. Ustad Rofi’i, mutawif kami, menyarankan kalau kami ingin mencium hajar aswad sebaiknya selepas tengah malam. Sekitar jam 2 malam sampai menjelang waktu subuh. Konon katanya di waktu-waktu itu area tawa lebih sepi dan lebih mudah untuk mencium hajar aswad. Kami pun sepakat nanti malam mau mencoba lagi untuk bisa mencium hajar aswad. Rugi rasanya kalau sudah di Makkah dan di depan Ka’bah tetapi tidak mencium hajar aswad.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 10

Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali

Bis yang ditunggu pun datang juga. Bisnya berwarna orange dan ada tiga pintu otomatis; pintu bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Di bagian depannya ada papan tulisan Deafah Hotel Group. Ustad Rofi’i memberi tahu bahwa bis ini gratis untuk pelanggan hotel. Tandanya gelang plastik warna orange dan ada logonya D; logo group hotel Deafah. Dari hotel ini hanya rombongan jama’ah umroh kami saja, maklum kami terlambat ikut sholat jamaah di masjidil haram.

Kami yang Bapak2 semua sudah berpakaian ihram, ibu2 ada yang mengenakan mukena putih ada juga yang menggenakann mukena hitam. Ustad Rofi’i terus membimbing kami mengucapkan kalimat talbiyah. Jarak antara hotel dengan masjidil haram tidak terlalu jauh, sekitar 500-700m saja. Naik bis tidak lebih dari 5 menit saja. Saya lihat ke arah luar. Dari kejauhan menara masjid sudah terlihat. Kami melewati bagian perluasan masjid yang belum jadi. Setelah tanjakan sedikit, lalu jalan menurun. Pelataran masjidil haram sudah terlihat. Hati berdegub keras serasa tidak percaya bahwa kami akhirnya sampai juga ke Makkah.

Bis berhenti tidak jauh dari pertigaan dekat pelataran masjid. Kami semua turun dengan tertib sambil mulut masing2 melafalkan kalimat talbiyah. Ustad Rofi’i berjalan di depan dan kami mengikutinya dari belakang. Saya gandeng tangan Umminya Royan erat-erat. Pak Gunawan dan Pak Totok berjalan di depan saya. Pak Soleh dan istrinya di belakang saya. Posisi kami ditengah2 jama’ah.

Kami melewati polisi yang berjaga di pertigaan. Jalan terus ditutup, sehingga mobil2 yang sebagian taksi dan bis harus berbelok balik ke arah bawah. Jalan ini macet dan ramai. Sesekali ada bunyi klakson taksi dan klakson bis. Setelah melewati aspal, kami melangkah menuju ke pelataran masjid yang tersusun dari lantai marmer putih. Ada semacam gedung kecil kotak dan di atasnya terlulis ‘EXIT 4’, ditulis juga dalam bahasa arab. Kami berjalan terus, melewati tempat wudhu untuk laki2 dan tempat orang minum. Di depan kami gerbang masjidil haram yang megah sudah terlihat. Di seberangnya berdiri kokoh Zam-Zam Tower yang terkenal itu. Di bagian atasnya adalah jam besar. Jam menunjukkan pukul satu siang lebih sedikit.

Pelataran masjid ini sangat luas. Orang2 berpakaian ihram mulai banyak terlihat berjalan searah dengan jalan kami. Ada orang arab, orang berwajah India atau Pakistan, ada juga orang Turki, dan orang2 berwajah putih dengan mata agak sipit, mungkin jamaah dari Eropa Timur. Kami semakin dekat dengan gerbang masjid. Di salah satu pintunya tertulis Gate 70. Tapi ustad Rofi’i tidak mengajak kami masuk ke pintu itu.

“Kita masuk lewat pintu khusus untuk jamaah umroh,” kata ustad Rofi’i memberi aba2 pada kami.

Kami pun melangkah mengikuti di belakang beliau. Kami berjalan terus mendekat ke arah Zam-Zam Tower. Melewati gerbang besar dengan dua menara yang mengapitnya. Tapi kita masih berjalan terus. Sampailah kita di pntu yang dijaga beberapa orang askar. Jama’ah diminta melepas sandal dan memasukkannnya ke dalam kantong plastik lalu menyimpannya di tas kecil yang kita bawa. Suasana hari ini benar-benar ramai. Pintu masuk untuk umroh ini kecil saja, membuat orang3 berdesak2kan untuk masuk.

Askar2 itu berjaga2 sambil matanya tajam mengawasi setiap jamaah yang mau masuk. Ada juga beberapa orang petugas berpakaian gamis putih dan menggunakan rompi coklat. Mereka mengawasi tas dan bawaan para jama’ah. Jika ada jamaah yang membawa bungkusan besar atau tas besar akan di hentikan dan diperiksa bawaannya. Tas yang besar tidak boleh di bawa masuk. Tas itu harus ditinggal atau dititipkan di tempat penitipan.

Terus terang, perasaan kami antara percaya dan tidak percaya, antara mimpi dan kenyataan. Hati terasa diaduk; haru, sedih, gembira, menjadi satu. Saya pegang erat tangan Umminya Royan, samping saya Pak Gunawan, Pak Totok di depan saya. Ustad Rofi’i yang agak pendek tertutup oleh jamaah yang lain. Kalimat talbiyah terus terucap dari mulut kami. Bersahut2tan dengan jamaah lain.

Masjid ini benar2 megah. Langit2ya tinggi dan semuanya terbuat dari batuan alam. Kami belum bisa melihat Ka’bah. Kami berjalan pelan2 sambil berdesak2kan. Semuanya dengan wajah terharu dan tidak sabar ingin melihat Ka’bah. Kami berjalan terus dan berbelok dua kali. Di beberapa bagian masjid ini ditutup dan tidak boleh dilewati karena sedang ada renovasi, mungkin karena itu jama’ah harus berjalan sedikit memutar.

Meski jama’ah penuh sejak, suasana di dalam masjidilharam terasa dingin. Banyak kipas yang ada di atas kepala kami. Kipasnya berukuran besar dan hanya berjarak sekitar 1,5m dari atas kepala jama’ah. Di beberapa tiang ada kipas2 yang lebih kecil yang menempel dan mengarah ke bawah. Di bagian bawah setiap tiangnya juga terasa udara dingin yang berhembus. Udaranya lebih dingin daripada di puncak. Saya pun terasa kedinginan.

Lampu2 gantung besar mengantung di langit2 masjidil haram. Ada lampu2 lain yang menempel di dinding dan melingkar di tiang2 masjid. Suasana di dalam majid ini terang benderang.

Setelah berjalan beberapa lama, di depan kami ada tangga menuju ke lantai bawah. Di tengah2nya ada dua eksalator (tanga berjalan). Jamaah berduyun2 ke bawah. Di lantai bawah ini lah kami bisa melihat langit luar dan cahaya matahari yang cerah. Dari kejauhan, di atas kerumunan orang2 itu di depan kami mulai terlihat bagunan kotak berwarna hitam. Ya…. itulah bagian atas Ka’bah yang kami rindukan.

Tanpa teras air mata kami tumpah seketika. Do’a-do’a, kalimat2 pujian meluncur dari mulut kami. Hampir semua wajah-wajah itu berlinang air mata. Kami berjalan masih berdesak-desakan. Ustad Rofi’i sesekali menengok ke belakang untuk melihat jamaahnya. Kami masuk dari rukun Yamani.

Tangan kanan saya memeluk istri saya. Saya pegang erat-erat. Tangan kanan saya pegangan dengan tangan Pak Gunawan. Istri Pak Soleh pegangan tangah istri saya, Pak Soleh di belakangnya. Pak Totok dibelakang sendiri. Kami bergandengan seperti ular yang berada di lautan manusia.

Tidak ada mata yang tidak mengucurkan air mata. Tidak ada mulut yang tidak basah berdzikir.

Ya …Robb kami penuhi panggilanmu


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Kisah-kisah di ArasoE: Digrebeg Orang Bugis

Bruk….doorrrr…dorr…bruk…..

“Keluar…!!!!!”

Terperanjat saya. Suara pintu depan rumah digedor-gedor orang.

Waktu itu saya sedang tidur-tiduran kecapekan dan hanya pakai celana kolor saja. Sore tadi selepas sholat asar saya dan kawan saya Yogo berenang di Pemandian Bilqis, desa Tempe. Entah berapa lama saya berenang tanpa henti mengelilingi kolam renang itu. Hampir satu jam kira2. Selesai berenang badan capek dan perut lapar.

Saya membonceng Yogo naik si hitam motor Honda Win kesayangan. Biasanya saya yang di depan, tapi karena capek, saya minta Yogo yang di depan.

Hari ini ada pertandingan bola di ArasoE. Panitia meminjam lapangan bola yang kebetulan letaknya di depan rumah S13 yang saya tempati. Siang tadi, salah seorang staff TU yang minta ijin pinjam ruangan mess untuk ganti baju pemain bola. Saya persilahkan, karena memang ruangan mess cukup luas dan tidak masalah bagi saya kalau hanya sekedar ganti baju.

Jam 2 lapangan mulai ramai. Pertandingan pertama dimulai. Pintu rumah terbuka lebar. Beberapa orang sudah masuk ke rumah untuk menaruh tas dan ganti baju.

Siang ini saya sudah janjian dengan Yogo untuk berenang. Selepas sholat asar saya dan Yogo berangkat ke Tempe. Kolam renang sepi. Hanya saya dan Yogo saja yang berenang. Kolam renang seperti milik kita berdua.

Saya pemanasan sebentar. Lalu nyebur ke air. Berenang pendek dulu gaya bebas untuk memanaskan otot-otot badan. Kemudian saya mulai berenang gaya cebong mengelilingi kolam renang berlawanan arah dengan jarum jam. Seperti arahnya orang tawaf. Renang terus sampai teler. Saya berenang 12 putaran lebih, hampir satu jam tanpa henti.

Singkat cerita, waktu sampai ke komplek, lapangan bola masih ramai. Di rumah banyak motor2 yang diparkir. Ada beberapa mobil juga yang diparkir di halaman rumah.

Turun dari motor, ketika mau masuk rumah, terkejut saya. Rumah kotor sekali. Banyak sampah berserakan di mana2. Gelas air mineral, bungkus rokok, kulit pisang, bekas makanan. Berceceran di mana-mana. Darah saya naik…..

Kebetulan ada bapak mess 9, Pak Salim bapak penjaga mess 9, saya panggil dia. Saya tanya:

“Pak Salim punya nomornya Pak Taring?”

“Nggak ada, di”

Ada Bu Salim dan Mbak Nana. Kebetulan mereka punya nomornya Pak Taring. Saya minta untuk ditelponnkan Pak Taring.

“Assalamu’alaikum, Pak Taring”

“Wa’alaikum salam,” jawaban dari seberang telepon.

“Ini Isroi yang tinggal di S13. Maaf, Pak Taring. Rumah saya kotor sekali. Banyak sampah di mana-mana. Bahkan, ada motor di taruh di dalam rumah. Bagaimana ini, Pak Taring?”

“Iyek…Pak, sebentar saya ke sana..”

“Ke sini ya, Pak?”

“Iyek….Pak.. sebentar saya ke sana,” ulanginya lagi untuk meyakinkan saya.

Saya masuk rumah. Bau rokok menyengat. Plus, bau sisa-sisa makanan. Saya masuk kamar dan siap2 mandi. Masjid sudah tilawah tanda menjelang masuk waktu magrib.

Pertandingan baru selesai. Para pemain masuk ke rumah untuk ganti baju. Meski sedikit jengkel, saya biarkan mereka. Saya masih percaya kalau panitia akan bertanggung jawab. Selepas sholat magrib. Pemain sudah kosong. Lapangan sudah sepi. Rumah masih berantakan.

Pak Taring yang janji mau datang tidak kelihatan batang hidungnya. Saya mulai senewen. Darah saya naik lagi. Saya telpon lagi pak Taring. Telponnya nggak aktif. Saya ulangi lagi beberapa kali. Nihil.

Lalu saya telepon Pak Ka TU. Saya laporkan perihal ini dan saya sampaikan juga kalau saya tidak bisa terima rumah saya kotor sekali. Ditambah ada motor ditaruh di dalam rumah tanpa ijin.

Pak Ka TU bilang, “Kenapa dikasih ijin, Pak? Jangan. Itu bukan kegiatan perusahaan.”

“Yang bilang ke saya Pak Taring, staff bapak. Saya pikir dari PG.”

“Bukan, Pak. Itu urusan pribadi. Jangan boleh, Pak.”

“Baik, Pak. Saya bilang ke Pak Taring.”

Adzan isya’ saya ke masjid. Saya ke Mess S9 untuk makan malam. Saya telp Pak Taring lagi. Nggak diangkat. Tambah emosi saya.

Lalu saya tanya ke kawan2 di mess. Rumah pak Taring di mana? Siapa yang dekat dengan rumahnya?

Adi, karyawan keuangan yang dulu tinggal di S13 rumahnya dekat dengan Pak Taring.

Saya minta untuk ditelponkan Adi. Saya minta ke Adi untuk memberitahu Pak Taring agar segera ke rumah S13. Saya minta tanggungjawabnya. Rumah seperti tempat sampah dan entah motor siapa yang ditaruh di dalam rumah. Minta tolong kasih tahu yang punya motor untuk mengeluarkannya. Kalau tidak motornya saya buang. Ancam saya.

Di S9 saya cukup lama. Karena capek. Saya pulamg. Amarah masih membara di dada. Kalau Pak Taring tidak datang, motor itu benar2 saya keluarkan dari rumah.

Saya tlp sekali lagi ke Pak Taring. Nihil. Darah saya naik semakin tinggi. Saya ajak temen2 untuk mengeluarkan motor dari rumah.

Ada salah satu karyawan risbang yang datang membantu. Kebetulan dia kenal dengan yang punya motor. Di telpon yang punya motor itu. Saya minta telponnya. Dengan nada tinggi, karena sudah jengkel sekali. Saya bilang kalau motornya saya keluarkan dari rumah, segera ambil, saya tidak bertanggungjawab kalau ada kerusakan.

Saya masuk rumah dan mulai memejamkan mata.

Antara sadar dan tidak sadar, pintu rumah digedor-gedor orang. Orang teriak dari luar.

Saya loncat, hanya pakai celaka kolor saja saya keluar. Saya coba buka pintu. Nggak bisa. Pintu terkunci. Ada beberapa orang masuk ke halaman rumah. Menunjuk saya dan mengancam saya untuk keluar rumah.

Saya kembali masuk kamar. Saya pakai celana, baju dan ambil kunci.

Saya buka pintu. Rumah sudah ramai orang. Satu orang emosi ngajak berantem. Mereka ramai-ramai. Banyak pemuda datang. Sebagian saya kenal.

Saya bukan orang penakut dan tidak takut. Emosi saya jadi ikutan naik.

Pak Kepala Desa hadir. Pak Taring juga ada. Beberapa orang lagi menghalangi saya dan menahan orang emosional itu.

Tak berapa lama sekuriti datang. Brimob juga ada.

Debat pun semakin panas. Kepala saya semakin panas juga jadinya. Saya jelaskan kronologinya. Pak Taring mengelak dan selalu ‘ngeles’. Tambah naik darah saya. Orang semakin ramai dan suasana mulai panas.

Pak Kepala Desa yang bijaksana meredam suasana. Pak Polisi ikut mendinginkan suasana.

Berangsur-angsur reda. Perlahan mereka bubar. Beberapa sekuriti masih berjaga di depan rumah.

***
Esok hari saya ke kebun seperti biasa. Kali ini saya update data capaian kebun. Badan saya masih terasa capek, kerena habis berenang kemarin. Ketika matahari mulai naik, saya ke kebun Lompu dengan Ai (Suaib, tapi panggilannya Ai). Selesai dari Lompu saya ke Talaga. Singgah melepas dahaga di pondok kantor Rayon Barat di Talaga. Lalu saya lanjut ke Walenreng. Di sana ketemu dengan mandor Pak Iskandar. Duduk-duduk di gubuk tengah kebun. Udara yang semilir membua mata saya jadi berat. Saya memejamkan mata sebentar melepas rasa kantuk yang berat. Matahari sudah lewat dari ubun-ubun ketika saya bangun. Saya dan Ai beranjak pulang.

Di tengah jalan, Yogo kirim WA menanyakan posisi saya di mana?

Sampailah saya di Mess S9 untuk makan siang. Di mess ternyata sudah ada Bapak Kelapa Desa Arasoe. Kita ngobrol santai sambil minum kopi di ruangan dapur belakang. Ngobrol ngalor ngidul macam-macam. Ngobrol tentang pengombatan Korea, orang Bugis, Janitri sampai ke batu akik. He…he…he…

Setelah suasana mencair, saya sampaikan permintaan maaf saya ke Pak Kepala Desa, kalau semalam saya emosional karena terpancing juga. Untung ada Pak Kepala Desa yang sangat disegani dan sudah 18 tahun jadi kepala desa. Puang menceritakan kronologi versi Beliau.

Terungkaplah, ketika saya telp berkali-kali ke Pak Taring dan tidak diangkat atau dijawab. Ternyata dia yang mendatangi pemuda ArasoE. Entah apa yang dia ceritakan. Singkat cerita, pemuda-pemuda itu marah dan berkumpul untuk ‘menyerbu’ rumah S13. Untung ada kepala dusun yang tahu dan memberitahukan ke Puang Kepala Desa ArasoE.

Puang Kepala Desa sangat disegani di ArasoE. Apa yang dia bilang akan diikuti oleh warga desa, termasuk pemuda-pemuda desa. Dia bilang, masalah sudah clear, pentolan pemuda ArasoE adalah anaknya. Dia sendiri yang akan memberitahukan ke anaknya.

***

Saya tidak ingin cari musuh di ArasoE ini. Saya cuma menjalankan tugas kerjaan. Saya ingin mencari teman sebanyak-banyaknya. Tapi, kalau saya dilecehkan dan diintimidasi saya juga tidak terima. Saya tidak takut, meski saya kalah jumlah dan mungkin akan babak belur. Saya berani karena saya yakin tidak salah.

Semoga masalah ini selesai sampai malam ini saja. Besok membuka lembaran baru. Tambah teman, tambah sahabat, tambah saudara.

Aamiin.