Category Archives: MyStories

Dapat Ide Penelitian dari Jalan-jalan

Banyak informasi hasil2 penelitian di jagad maya yang bisa dicari dengan bantuan Google Schoolar. Banyak ide2 penelitian yang bisa diperoleh dari situ. Tapi, ide-ide penelitian yang lebih ‘membumi’ justru seringkali tidak ditemukan di Google Schoolar. Ide-ide penelitian ini diperoleh karena jalan-jalan.

Sudah cukup lama saya tidak pergi ke Medan. Banyak temen di sini, termasuk temen2 yang jadi pengusaha2 UK/MK. Nah, tidak direncanakan, karena sesuatu hal saya ditugaskan untuk ikut meeting di Medan. Acara meetingnya 2 hari. Meeting berlangsung lebih lancar dan cepat. Satu hari setengah sudah kelar. Pesawat saya berangkat sore hari. Jadi saya masih punya waktu sekitar setengah hari untuk ‘jalan-jalan’. Saya memilih acara ‘jalan-jalan’ yang berbeda dengan teman2 yang lain. Saya ingin jalan-jalan lihat pabrik pengolahan B3 punya salah satu teman di sini.

Dia menjemput saya di penginapan menjelang tengah hari. Kami ngobrol ke sana-ke sini. Dia bercerita tentang limbah2 B3 yang diolahnya dan menceritakan peluang2 kalau limbah ini bisa dimanfaatkan. Menarik juga; ada limbah dari salah satu pabrik kertas terbesar di Asia, limbah pabrik minyak kernel, limbah pabrik kramik, pabrik bahan bagunan, pabrik semen, dan lain2.

Saya diajak mengunjungi sebuah lokasi pabrik pengolahan kernel yang sedang di bangun. Saya tidak ketemu yang punya, tapi ketemu dengan kontraktor pembangunan pabrik itu. Kontraktor ini cerita macam2 dan pabrik2 yang pernah dia bangun. Asik juga mendengar cerita praktisi2 di lapang. Bagaimana inovasi kreatif mereka menyelesaikan permasalahan riil di lapang dan cara2 mereka membuat sebuah proses menjadi lebih efisien.

Terus terang, praktek2 inovasi yang mereka lakukan sebenarnya adalah kegiatan2 riset problem solving yang lebih riil. Mereka melakukan ujicoba, trial and error. Mereka sebenarnya sudah melakukan metode2 ilmiah untuk riset dengan cara yang lebih simple, lebih hemat biaya, dan lebih tepat sasaran. Mereka juga mengirimkan sampel2 ke lab2 pengujian ternama untuk melihat kualitas hasil ‘penelitian’ mereka. Inspiratif.

Dari ngobrol-ngobrol ringan ini saya juga jadi tahu, kalau ada perusahaan2 yang sudah diam2 memproduksi produk2 baru dari limbah/produk samping industri kelapa sawit. Selama ini saya baru membacanya hanya sebatas abstrak paper ilmiah yang masih dangkal sekali. Masih jauh sekali dari sisi komersial. Saya jadi terbelalak, ternyata ada perusahaan kecil yang sudah bisa mengolah limbah sawit menjadi produk bernilai tinggi pengganti/subtitusi produk dari minyak bumi. Produknya di-export ke korea dan china. Produknya dipakai di gadget2 yang banyak dipakai di sini. Ruar biasa.

Teman2 ini murni orang bisnis dan pengusaha. ‘Kacamata’ mereka adalah kacamata usaha. ‘Knowledge’ mereka mungkin tidak mendalam seperti orang lulusan S3 dan bergelar proffesor, tapi knowhow mereka jauh lebih praktikal daripada tokoh2 ilmuwan yang tinggi2 itu. Mereka punya cara berfikir yang khas yang berbeda dengan cara berfikir ilmuwan peneliti seperti saya ini. Terus terang saya banyak belajar dari mereka.

Jangan dikira mereka tidak melakukan penelitian. Mereka membuat penelitian2 kecil. Melakukan ujicoba. Membuat prototipe. Menguji prototipe ini. Dan akhirnya, mereka memproduksinya dan menjualnya ke pasar. Laku. Dapat untung besar.

Salah satu perbedaan mendasar dengan cara berdikir peneliti ‘puritan’ seperti saya ini adalah di kepala mereka sudah tahu produk seperti apa yang akan mereka hasilkan dan mereka ingin capai. Mereka sudah tahu ‘demand-nya’. Mereka sudah tahu peluang pasarnya. Mereka sudah tahu kepada siapa mereka akan menjualnya dan bagaimana caranya. Mereka sudah tahu berapa harga yang bisa diterima oleh pasar. Mereka sudah tahu darimana bahan2 bakunya dan mereka bisa mendapatkan dengan cara yang lebih mudah dan murah. Super sekali.

Saya jadi merasa kecil sekali. Selama ini, saya sangat jauh cara berfikirnya daripada mereka. Ide2 penelitian kami jauh tinggi di atas awan. Saking tingginya jadi tidak bisa ‘membumi’, bahkan orang bumi pun tidak mau memanfaatkannya.

Angkat topi saya untuk teman2 UK/MK ini. Anda sungguh luar biasa.

Advertisements

Belajar Menyembelih Hewan Qurban

Saya sebenarnya orangnya penakut lihat darah dan tidak tegaan. Seumur-umur menyembelih ayam saja belum pernah. Padahal dulu Bapak hampir setiap hari menyembelih 4 ekor ayam. Saya tidak pernah sama sekali. Baru hari ini saya belajar menyembelih hewan qurban. Sekali mengembelih langsung 33 ekor.

Kalau hari raya qurban paling banter pengalaman saya adalah menjadi petugas motong-motong daging dan membagikan daging qurban. Saya ngeri kalau lihat darah. Apalagi melihat leher hewan qurban di sembelih, bisa berkunang-kunang mata saya. Pernah dulu saya menolong tukang becak yang tersermpet motor. Kepalanya bocor, darahnya mengucur ke mana2. Setelah menolong korban baik ke atas mobil untuk di bawa ke RS, saya langsung lemes.

Dalam hati kecil saya, saya harus berani lihat darah dan menyembelih hewan qurban. Pernah saya mengikuti pelatihan penyembelihan hewan qurban di Masjid Fatimatuzahra, tapi belum pernah saya praktekkan sama sekali. Maklum, masih takut.

Hari raya qurban tahun lalu saya mencoba memberanikan diri membantu Pak Iso, tukang jagal, kampung saya untuk memeganggi hewan qurban yang akan disembelih. Saya beranikan diri melihat golok tajam yang mengiris leher domba dan darah mengucur dari lubang leher yang hampir patah. Darah mengenai tangan aaya. Saya kuatkan hati untuk melihat darah itu. Saya tahun untuk tidak pingsan. Alhamdulillah, saya membantu Pak Iso menyembelih 36 ekor domba.

Hari Raya Qurban tahun ini saya ingin belajar menyembelih. Kebetulan ada teman yang menawarkan golok sebelih. Goloknya tajam sekali. Terbuat dari baja per jip willys. Tajam, kuat dan harganya lumayan. Saya membeli satu ukuran sedang yang biasa untuk menyembelih domba.

Setelah sholat Ied, saya menuju ke tempat penyembelihan hewan qurban. Pak Iso menyembelih 3 ekor sapi. Saya lihat dari jauh saja. Sempat ragu2 untuk menyembelih domba. Ketika selesai menyembelih sapi, giliran domba yang disemebelih.

Saya bilang ke Pak Iso, “Ajari saya menyembelih domba, Pakdhe Iso?”

“Ayo..!”

Satu ekor domba disiapkan untuk di sembelih. Pak Iso membacakan niat untun menyembelih dan mendoakan yang berqurban. Saya yang pegang pisau.

“Potong dari sini ke sini!” Kata Pak Iso sambil memegangi kaki bagian depan.

Saya kuatkan keberanian dan bersiap untuk menyembelih. Pisau saya posisikan di leher. Saya cari2 dan pegang kerongkongannya.

“Bismillahi laa illaha illallahuallahu akbar.”

Pisau saya potong ke bawah. Pisaunya bener-bener tajam. Sekali sayat langsung putus kerongkongan dan tenggorokan domba ini.

Seterusnya saya mulai berani memotong leher domba-domba ini. Hari ini, di hari pertama saya menyembelih, saya menyembelih 33 ekor domba dari 35 ekor domba yang di korbankan hari ini.

Alhamdulillah. Saya sudah mengalahkan ketakutan saya sendiri akan darah.

Buku Herbarium Amboinense, karya Georg Eberhard Rumphius

Herbarium Amboinense by Georg Eberhard Rumphius

Herbarium Amboinense by Georg Eberhard Rumphius

Buku ini luar biasa bukan hanya karena isinya saja, tetapi kisah dibalik penulisan buku ini tidak kalah luar biasanya. Coba ada yang membuakan film atau novel. Kisah yang penulisan buku yang penuh darah dan air mata.

Buku kuno ini disimpan di tempat khusus di perpustakaan PPBBI. Di bagian bawah buku itu tertulis angka tahun 1708, artinya jika dihitung tahun sekarang, 2018, umurnya sudah 310 tahun. Subhanallah. Ukuran bukunya sangat besar jika dibandingkan dengan buku-buku sekarang yang hanya seukuran A5. Buku ini berukuran A2. Tebelnya pun ada yang 10 cm. Konon buku yang terbitan ini hanya ada dua set saja di dunia ini. Koleksi yang sangat berharga sekali.

Total di dalam peti penyimpanannya ada 5 jilid buku. Judulnya Het Amboinsche kruidboek penulisnya Georg Eberhard Rumphius. Eyang Rumphius kelahiran jerman tanggal 1 November 1627, lebih tua daripada Charles Darwin. Beliau seorang ahli biologis. Sebagaimana ahli-ahli biologi di masa itu. Mereka banyak melakukan eksplorasi di negeri-negeri jajahan di Asia, Afrika dan Amerika. Mbah Rumphius bekerja untuk Kompeni, VOC dan ditempatkan di Indonesia Timur. Tepatnya di Ambon. Mbah Rumphius meninggalkan negeri londo pada tanggal 26 Desember 1652 dengan kapal Muyden. Setahun kemudian Mbah Rumphius baru sampai ke kantor pusat VOC di Batavia (Jakarta). Setelah melakukan persiapan selama satu tahun, Mbah Rumphius ditempatkan di pulau Ambon. Tahun 1667 jabatannya adalah seorang insinyur, tetapi kemudian ditempatkan di salah satu kantor cabang VOC di pulau Hitu, Ambon.

Ketika Gubernur Jenderal VOC-nya Joan Maetsuycker, Mbah Rumphius dijadikan ‘secunde’ dan langsung dibawah Gubernur Jenderal pada tahun 1666. Mbah Rumphius mendapatkan dispensasi dari pekerjaan rutinnya dan diperbolehkan untuk menyelesaikan pendidikannya. Pulau Ambon sangat kaya akan flora dan fauna yang eksotik, khususnya bagi orang barat seperti Mbah Rumphius. Mbah Rumphius mulai melakukan explorasi di hutan-hutan dan pantai-pantai Ambon yang sangat indah pada masa-masa itu. Saya membayangkan, pantai Ambon dan hutan-hutannya masih alami, masih virgin, masih sepi, masih indah, masih bersih dari sampah. Ruar biasah.

Mbah Rumphius mengumpulkan contoh-contoh tanaman dan binatang. Mengambarnya sendiri. Gambarnya bukan gambar biasa, tapi gambar taksonomi, gambar untuk tujuan ilmiah klasifikasi dan penamaan. Istrinya menjadi asistennya dalam pekerjaan ini.

Saya jadi ingat dulu waktu semester pertama kuliah di Fak. Biologi Unsoed, praktikum morfologi dan taksonomi. Pekerjaan praktikum ini adalah berburu sampel, menggambar dan mengambar. Beruntunglah saya yang suka mengambar, meski tidak jago-jago amat. Teman-teman saya sering saya bantuin mengambar preparat-prerapat praktikum. Kadang-kadang kita ke hutan Baturaden dan mengambar sampel yang dikumpulkan.
Continue reading

Belajar Tentang Anggrek Spesies

anggrek spesies Anggrek spesies

Dari dulu saya suka tanaman dan suka menanam. Tapi, kurang suka tanaman bunga. Kenapa? Karena tanaman berbunga umumnya umurnya pendek. Entah kenapa beberapa tahun ini mulai menyukai anggrek, khususnya anggrea spesies dari bumi pertiwi.

Sajak lupa awal mula dan kapan saya mulai menyukai tanaman anggrek ini. Sekitar tiga tahun yang lalu kalau tidak salah. Di rumah mertua ada banyak tanaman anggrek, tapi merana. Kadang2 kalau pas pulang, saya coba rawat tanaman2 ini.

Nah. Suatu ketika kami ingin memberikan hadiah bunga anggrek ke Eyang Uti, karena beliau suka tanaman anggrek. Kami membeli bunga anggrek di salah satu kebun anggrek di Magelang; Anggrek Nambangan.

Nah waktu di Anggrek Nambangan itu saya melihat banyak sekali jenis anggrek. Cantik2 bunganya. Tapi saya lebih tertarik dengan anggrek2 yang biasa2 saja dan ditempel di tembok2 pinggir. Kata penjaga kebun anggrek ini, anggek2 itu adalah anggrek spesies asli Indonesia. Bunga2nya eksotik. Kami membeli beberapa anggrek untuk ditanam sendiri.

Ada yang membuat saya sedikit kaget. Di Nambangan itu ada tanaman digantung berdaun hanya satu. Bentuknya biasa2 saja. Saya tanya ke peniaganya.

“Apa itu, Mas?”

“Anggrek Kalimantan, Pak.”

“Berapa harganya?” Saya piki harganya murah. Karena bentuknya jelek.

“Sejuta, Pak.”

“Hah… mahal sekali. Apa istimewanya?”

“Itu anggrek spesies dari hutan asli Kalimantan. Unik dan sulit di dapat. Makanya mahal.”

Jadi penasaran kami.

Mulai Berburu Anggrek Spesies

Anggrek Spesies Mini Asli Indonesia

Salah satu anggrek Spesies Mini Asli Indonesia yang kami dapati di Cipanas.

Saya jadi pingin tahu apa sih keistimewaan anggrek spesies pribumi Indonesia ini. Saya mulai tanya2 ke Mbah Google dan gabung di Group FB. Ternyata Indonesia sangat kaya dengan anggrek spesies.

Kami suka berlibur ke alam bebas; ke hutan, ke curug, ke gunung, ke kebun raya dan lain2. Nah, kalau kebetulan kami sedang main2 ke alam bebas, kini tambah satu kebiasaan kami, yaitu berburu anggrek liar.

Ketika kami main2 ke Kebun Raya Bogor atau ke Ciboda, kami berburu anggrek liarnya. Ketika kami ke Cibereum, Gn Bunder, Gn Rowo, Gn Andhong, Gn. Wungkal, situ gede, curug nangka, Cikaniki, Green Canyon atau hanya ke kuburan, mata kami selalu ke atas atau ke bawah mencari2 anggrek liar.

Anggrek2 itu kami bawa pulang dan ditanam di rumah. Teras depan rumah yang tidak seberapa pun jadi penuh dengan pot2 anggrek.

Kalau kami main2 ke rumah saudara atau teman. Kalau ada tanaman anggreknya, pasti kami minta anakannya. Habis ngiler sih.

Sebagian anggrek2 yang kami bawa pulang saya tempelkan ke pohon rambutan depan rumah. Batang rambutan itu jadi penuh dengan anggrek2 liar.

Beli Buku-buku Tentang Anggrek

Buku-buku tentang anggrek

Buku-buku tentang anggrek

Untuk memenuhi rasa ingin tahu say

Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya membeli buku2 tentang anggrek. Buku anggrek pertama yang saya punya adalah: Simon & Schuster’s Guide to Orchids. Sebuah buku bekas yang saya beli on-line.

Setelah sekian lama. Buku ini masih kurang memenuhi rasa ingin tahu saya. Saya beli lagi buku yang kedua. Buku bekas juga, buku kuno terbitan tahun 56, judulnya “Bunga Anggerik, Permata Belantara Indonesia”. Buku ejaan lama yang bagus dan sangat lengkap tentang anggerik asli Indonesia.

u-anggrek-spesies-kuno-1.jpg”> Buku Anggrek Spesies Kuno Indonesia karya M Latief 1960[/caption]
Saya kurang tertarik dengan buku2 terbitan

Saya kurang tertarik dengan buku2 terbitan baru. Kebanyakan membahas tentang anggrek2 hibrida yang populer. Malas membelinya.

Ketika sedang buka2 perpuatakaan Nano. Saya menemukan buku anggrek klasik terbitan PS, judulnya “Budidaya Anggrek” karya dosen IPB Dr. Livy Winata Gunawan. Buku kecil yang bisa jadi pengantar tentang anggrek.

Lalu saya coba cari buku di Amazon.com. Saya beli tiga buku tentang anggrek. Buku second. Buku yang saya beli: “Orchids of Java”, “The Conplete Encyclopedia of Orchids”, dan “Illustrated Dicti onary of Orchid Genera”.

Gabung di Komunitas Anggrek Spesies FB

Saya mulai juga gabung di sebuah komunitas anggrek spesies di FB. Meskipun sebagian besar isinya jual beli anggrek spesies, tapi saya bisa belajar dan mencari informasi anggrek2 spesies pribumi Indonesia.Kadang2 saya posting foto anggrek yang kami temukan di hutan dan tanya ID dari anggrek tersebut. Responnya cepat dan bisa berduskusi juga.

Kebun Anggrek Langganan

Kini kami, saya dan keluarga jadi berlangganan kebun Anggrek. Salah satunya ya Anggrek Nambangan di Magelang. Kalau pulang ke Magelang hampir selalu beli anggrek. Meski hanya satu pot saja.

Di Bogor kami biasa main2 ke kebun anggrek di Selakopi. Penjaganya Mas Teguh cukup ramah dan saya banyak belajar bagaimana cara merawat anggrek spesies. Di sini banyak juga anggrek spesies, sayangnya tidak banyak yang dijual.

Di Bogor akhirnya saya ketemu juga pedagang bunga yang biasa menjual anggrek2’cabutan dari hutan. Entah dari hutan mana. Yang jelas, saya tahu ini anggrek cabutan, bukan anggrek yang dibudidayakan. Katanya dikirim dari mana2. Ada banyak jenisnya juga. Sayangnya, penjualnya kadang2 tidak tahu semua nama ilmiahnya. Hanya tahu nama lokal/pasaran dan nama genusnya. Sebagian ada juga yang tahu nama lengkapnya.

Tapi, pedagang anggek ini bisa menceritakan banyak tentang anggrek2 spesies pribumi Indonesia.

Ternyata bumi pertiwi ini kaya akan jenis2 anggrek spesies. Subhanallah.

Mudik Lewar Jalur Selatan Jabar; Mencoba Tantangan Baru

(Foto2 dan videonya menyusul ya….)

Mudik melalui jalur pantura dan lewat jalan tol sudah terlalu mainstream. Apalagi jalur tol sekarang sudah bisa tembus ke Semarang, meski sebagian masih tol fungsional, menjadikan perjalanan mudik tidak lagi banyak tantangan dan hambatan. Tahun 2018 ini, kami ingin mencoba jalur baru; jalur pantai selatan Jabar. Jalur mudik yang baru pertama kali kami coba ini ternyata penuh kejutan dan sangat mengasikkan. Hanya saja kami melalui jalur ini ketika balik kembali dari Jawa (Pati) ke Bogor.

Menyiapkan Rute Perjalanan

Ketika berangkat mudik kami sengaja lewat jalur pantura, karena buru-buru ingin cepat sampai rumah. Kami berangkat hari jum’at selepas saya pulang kerja. Saya pulang kerja pukul 15. Siap2 satu jam, kurang lebih pukul 16.30 kami berangkat. Jalan masih cukup penggang, karena perkiraan puncak arus mudik hari sabtu dan minggu. Kami masuk tol dari Baranangsiang masuk ke Tol Jagorawi. Jalan tol terus, JORR-Cikampek-Cipali-tol fungsional Gringsing- tol fungsional Gringsing-Seramang-masuk tol Semarang-tol Bawen dan keluar di Bawen. Tol terus sejauh 400km. Lancar jaya.

Nah. Baliknya, kami membaca himbauan pak Gubernur Jabar Aher, kalau jalur pantai selatan jabar jalannya sudah mulus dan lancar. Tantangan yang perlu dicoba. Malamnya saya coba cek jalur ini melalui aplikasik Google Maps dan Waze. Start dari Pati, lewat Semarang, trus ke Temanggung, trus ke Wonosobo, lanjut ke Banjarnegara, trus ke Banyumas, ‘mlipir’ ke Rowalo dan lanjut ke Pangandaran. Jalur ini saya sudah hafal di dalam kepala. Karena sering saya lewati sejak jaman kuliah dulu.

Nah. Jalur berikutnya adalah jalur baru. Saya coba beberapa kali dengan berbagai pilihan rute. Google Maps dan Waze seringkali menyarankan rute via Bandung. Tapi kami ingin lewat jalur pantai selatan. Ketemu juga rute dari Pangandaran ke Cianjur, puncak baru ke Bogor. Kepikiran juga untuk lewat Pelabuhan Ratu trus lanjut Sukabumi baru ke Bogor. Saya trauma dengan kemacetan Sukabumi – Bogor. Pilih rute yang pertama saja. Lumayan jauh juga, kurang lebih 700km. Lebih jauh duaratusan km dari jarak mudik yang biasa kami lalui. Tidak apa-apalah.

Karena rute ini seumur hidup baru pertama kali ini kami lewati. Saya coba atur ketika melewati jalur itu sebisanya ketika matahari masih terang benderang. Kalau malam lewat jalur itu tidak ada yang bisa dinikmati.

Berangkat …!!!!!

Senin pagi, tanggal 18 kami sudah bersiap2. Setelah menyelesaikan urusan thethek bengek, kira2 jam sebelas siang kami baru bisa berangkat. Jalan santai saja. Isi BBM full tank dan tancap gas.

Biasanya kami berhenti sholat di Masjid Demak. Tapi karena agak macet di ring road Demak, kami sholat di masjid pingir jalan saja. Lanjut ke Semarang. Jam setengah dua sudah sampai Bawen.

Makan Siang di Rawa Pening

Rawa Pening

Indahnya pemandangan sawah di Rawa Pening, Ambarawa.

Perut mulai keroncongan. Akuirnya kami pesan bebek goreng Pak Slamet. Tapi kami tidak makan di tempat. Kami makan siang di Rawa Pening. Makan sambil menikmati pemandangan gunung2 di seputaran Rawa Pening.

Saya jadi ingat kisahnya Baru Klinting, kisah asal muasal Rawa Pening. Kisah anak manusia yang berwujud naga. Kisah anak buruk rupa dan lidi yang tertancap ditanah. Salah satu gunung di sekeliling rawa ini terbentuk dari lidi yang tertancap itu.

Perut sudah kenyang, saatnya melanjutkan perjalanan. Jalanan naik gunung dan berkelok2. Mobil melaju lambat. Di Temanggung ternyata juga macet. Mlipir lewat pingiran kota pun jalanan ramai. Kira2 selepas magrib kami baru lolos dari Parakan.

Rawapening, Ambarawa, Jawa Tengah

Rawapening, Ambarawa, Jawa Tengah

Makan Malam di Tengah2 Dua Gunung

Di jalur ini ada rumah makan yang biasa kita singgahi; Warung Joglo. Lokasinya hampir tepat di tengah2 antara gunung Sumbing dan gunung Sindoro. Kalau siang pemandangannya bagus baget. Pertama kali makan di tempat ini sekitar 3 lebaran yang lalu. Kami makan sahur di sini. Sepi. Hanya kami saja tamu yang makan. Kini, warung joglo sudah ramai sekali. Kami berhenti untuk sholat dan makan.

Agak lama juga kami berhenti di warung joglo ini. Sempat ngobrol2 dengan anak kecil yang jadi tukang parkir. Anak desa sekitar. Namanya Agus dan baru kelas 4 SD.

Melanjutkan perjalanan lagi. Mobil melaju agak kencang karena jalanan relatif sepi. Banyak juga mobil2 Plat B, A dan F yang sudah mulai balik dari kampung menuju ke Barat.

Sampai di Klampok saya ambil jalan ke Banyumas. Mobil2 lain belok kanan menuju ke Purbalingga dan Purwokerto. Ada jalan pintas menuju ke Jawa Barat yang tidak melewati Purwokerto. Saya tahu jalur ini dari sopir travel. Jadi dari Klampok ke Banyumas dan lanjut ke Rowalo. Baru masuk Jabar ke Bajar. Jalanan bagus, karena jalur ini salah satu jalur alternatif utama.

Dari Rowalo kami menuju ke Pangandaran. Google Maps menujukkan jalan pintas yang belum saya kenal. Kami ikuti saja. Lewat jalan2 desa. Jalan kecil. Bukan hanya kami yang melewati jalan ini. Ada empat mobil plat Jabar yang konvoi bersama-sama. Lumayan ada teman. Maklum, jalanan sepi dan gelap. Jelek lagi jalannya.

Menikmati Sunrise di Pantai Pangandaran

Jalanan mulai bagus dan ramai setelah melewati pertigaan yang dari arah Banjar. Banyak motor2 yang menuju ke Pangandaran. Terus terang, baru pertama kali ini kami ke pantai Pangandaran.

Masuk gerbang pantai Pangandaran macet. Mobil2 dan motor ngantri beli tiket masuk. Untuk mobil, tiketnya Rp. 65rb. Mahal amir.

Saya tanya ke salah satu pedagang di warung tempat parkir, mana lokasi yang paling bagus untuk menikmati matahari terbit. Mereka menunjukkan lokasinya, yaitu Pantai Timur. Kami menuju ke sana dan parkir di salah satu sudut lapangan. Saya istirahat sambil menunggu masuk sholat subuh. Kami sholat di mushola samping pos Polisi Air.

Saya mencoba untuk istirahat dan tidur di mobil. Anak2 menikmati suasana pagi di pantai Pangandaran.

Menurut kami sih pantai Pangandaran kurang bagus. Terlalu ramai dan banyak sampahnya.

Jam tujuh lewat kami melanjutkan perjalanan.

Bodyrafting di Green Canyon

Royan jadi navigator, maklum saya belum tahu rute ini. Jalanan bagus dan sudah di beton. Di salah satu papan penunjuk jalan saya lihat ada tulisan Green Canyon, latar belakang coklat; tempat wisata. Saya minta Royan cek di internet tempat apa itu.

Foto2 dan informasi di internet bagus-bagus. Sepertinya lokasi yang wajib di kunjungi, apalagi rutenya dilewati. Berhentilah kami di Green Canyon, Cijulang.

Belum juga mobil di parkir, sudah ada orang yang menawari bodyrafting. Saya tidak tahu, jadi ikut saja dengan ‘calo’ marketing agen wisata itu. Kami diajak jalan ke atas dan berhenti di kantornya.

Ada lelaki muda yang menjelaskan paket2 wisata Green Canyong yang mereka tawarkan. Paket bidyrafting menyusuri Green Canyon selama 2-3 jam plus makan siang dan guide. Biayanya per 6 orang Rp. 1 jeti. Basah2an di air.

Kami lalu berdiskusi. Baju kami semua ada di koper dan diikat di rak atas mobil. Kalau basah2an berabe ambil baju gantinya. Akhirnya kami batal tidak body raffing dan ambil paket reguler naik perahu saja.

Kami parkir di lokasi parkir depan dramaga perahu wisata. Harga tiketnya terpampang jelas di baliho dan papan pengumuman. Satu perahu maksimal 6 orang biayanya Rp. 200rb. Lama perjalanan kurang lebih 1 jam. Kalau ada kelebihan waktu ada tambahan biaya.

Setelah membeli tiket, kami menuju ke dramaga perahu. Antrian kami nomor 48. Ada banyak perahu, tidak perlu antri lama. Langsung ada perahu yang siap kami naiki. Di perahu ada dua orang. Satu orang pemandu dan satu orang yang mengemudikan perahu.

Sepanjang perjalanan, si Pemandu ini banyak bercerita. Dia juga menawarkan untuk melihat2 lebih jauh masuk ke Green Canyon dengan tambahan biaya Rp. 100rb per setengah jam. Tapi kami harus basah2an. Di perahu sudah di sediakan baju pelampung.

Kami sempar ragu2 juga untuk basah2an lagi. Tapi, si pemandu gigih mengiming-imingi dengan pemandangan menawan di Green Canyon. Akhirnya, kami luluh juga. Apalagi banyak juga wisatawan lokal yang berenang ke bagian hulu sungai.

Green Canyong memang menawan. Rasnya tidak rugi tambah biaya untuk menikmati keindahan green canyon ini.

Liburan mendatang kami ingin mencoba paket 4 jam menyusuri Green Canyon. Wajib dicoba.

Menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat

Badan masih terasa capek setelah berenang di sungai Cijulang. Tapi, perjalanan tetap harus dilanjutkan.

Arroyan jadi navigator lagi. Kami menuju ke Barat. Jalanan bagus. Sebagian aspal hotmix dan sebagian beton. Kondisi jalanan bagus seperti promosi Pak Gubernur Aher.

Setelah melewati Bandara kecilnya Bu Susi. Kami mulai menyusuri pantai. Jalan raya memang dekat dengan bibir pantai. Ombak laut selatan terlihat jelas dari mobil. Hari masih siang dan terik, membuat pemandangan pantai menjadi lebih menawan. Di salah satu pantai kami menepi, memarkirkan mobil kami di salah satu warung kecil di pingir pantai.

Pantainya masih sepi, tidak banyak pengunjung yang datang. Hanya beberapa mobil pemudik yang berhenti di pantai ini. Warung-warungnya juga masih sedikit.

Untungnya, kondisi ini membuat pantai selatan ini lebih bersih. Tidak banyak sampah yang terlihat. Kami pun berhenti dan mendekat ke bibir pantai. Ombak laut selatan yang besar menghempas ke pantai. Lautnya ‘ganas’, sangat berbahaya dan tidak memungkinkan untuk berenang di pantai ini. Anak-anak; Royan, Abim dan Yusuf pun bermain-main di pinggir pantai. Mereka bermain cukup lama. Baju yang baru saja kering dari sungai Cijulang, kini basah lagi. Malah sekarang basah dengan air asin. Yusuf basah kuyup dan celananya penuh pasir.

Meskipun anak-anak masih senang bermain-main di pantai, kami tetap harus melanjutkan perjalanan. Sudah lebih dari 24 jam perjalanna kami. Saya pun mulai terasa lelah dan ingin cepat-cepat sampai rumah. Akhirnya, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri pingir pantai ini.

Dalam perjalanan ini, banyak pantai-pantai yang menjadi lokasi wisata. Banyak orang yang menikmati liburan di pantai-pantai ini. Ada pantai yang pasirnya putih, ada pantai yang karang-nya terjal-terjal, ada pantai yang cukup tinggi sehingga pemandangan lautnya tampah lebih menawan. Sebenarnya kami ingin berhenti menikmati pantai-pantai ini, tapi kami sudah cukup lelah dan ingin cepat-cepat sampai.

Jalanan di sepanjang pantai ini bagus, sebagian besar sudah dibeton. Tapi di beberapa tempat masih ada jembatan-jembatan yang hanya cukup dilalui satu mobil. Kalau tidak salah ada dua atau tiga jembatan seperti ini. Posisinya sangat dekat dengan pantai. Ada juga jembatan-jembatan yang cukup panjang dan lebar. Banyak motor-motor dan muda-mudi yang berhenti di pingir jembatan untuk menikmati pemandangan laut selatan.

Pingir pantai selatan Jawa Barat belum terkenal sebagai lokasi tujuan wisata. Terlihat dari fasilitas wisatawan yang masih minim. Belum ada penginapan di sekitar sini. Warung-warung pun masih sederhana. Padahal pantainya menawan, tidak kalah dengan Pangandaran dan Pelabuhan Ratu.

Mengisi Bahan Bakar

Jalur pantai selatan masih sepi. Tidak banyak POM Bensin atau SPBU di jalur ini. Sebagian besar SPBU ada di ibukota kecamatan atau beberapa tempat yang cukup ramai. Jadi, saran saya kalau melalui jalur selatan ini upayakan full tank dan cukup untuk sekitar 400-500 km. Kalau isi tanki bansin sudah separo dan ketemu dengan SPBU, sebaiknya isi lagi sampai full. Jaga-jaga daripada kehabisan bensin di jalan malah berabe jadinya.

Perjalanan dengan Sisa-sisa Tenaga

Rute ini lebih jauh sekitar 200 km dari rute yang biasa saya lalui. Kami pun sudah di jalan lebih dari 30 jam. Lelah dan capek mulai terasa. Saya bawa mobil sendiri, Royan memang sudah bisa bawa mobil, tetapi saya belum berani memberi kepercayaan pada dia untuk membawa mobil di jalur yang masih ‘asing’ ini. Untungnya kondisi jalan bagus dan tidak ramai. Jadi mobil bisa melaju dengan santai dan lancar. Kecepatan mobil bisa mencapai >100 km/jam dalam kondisi sepi. Kalau ramai bisa 40-60 km/jam.

Rintangan di jalan yang menurut saya agak mengganggu adalah motor-motor yang berseliweran. Saya lihat banyak juga konvoi motor dengan jumlah 5 sampai puluhan motor. Rombongan motor biasanya lebih tertib, karena ada pemimpin dan pemandu jalannya. Yang biasa menjadi masalah adalah para pengendara motor lokal. Mereka ibaratnya ‘Rosi’ kampung. Naik motor nggak pakai helm, boncengan dan ngebut seperti di lintasan balap. Parah. Kalau ketemu dengan rombongan motor seperti ini, mendingan mengalah saja, Sing waras Ngalah…..!!!!

Perut keroncongan. Kami terpaksa makan siang di warung kecil setelah melewati kebun karet-nya PTPN VIII. Mengisi perut sambil istirahat. Selepas sholat asar baru kami berangkat lagi melanjutnya menyusuri pingiran pantai.

Kalau tidak salah ingat, sampai di suatu tempat/desa atau kecamatan yang namanya Cidaun, baru ada aba-aba belok kanan dari Google Maps. Di perempatan jalan ada penunjuk arah ke Pelabuhan Ratu ke kiri. Tadinya saya mau ambil jelan ke pelabuhan ratu dan lanjut ke Sukabumi. Terlalu jauh pikir saya. Saya sudah pernah lewat jalan ini. Kondisi jalan cukup bagus, tapi saya trauma dengan kemacetan Sukabumi-Bogor. Saya pikir kalau lewat Cianjur akan lebih lancar.

Kami berhenti istirahat di sebuah SPBU. Isi tanki full tank dan menunggu sholat magrib. Selesai menunaikan kewajiban dan baca-baca dzikir sore. Lanjut lagi perjalannannya.

Berbeloklah kami ke kanan ke arah Cianjur. Awalnya, saya ragu-ragu.
“Bener nih jalannya, Mas Royan?”
“Kok kecil dan sepi begini?”

“Bener….!!! Nih lihat di Maps!”

Kondisi jalanan berubah drastis. Jalanan menanjak ke arah gunung. Jalanan kecil dan berkelok-kelok. Apalagi matahari sudah tidak kelihatan dan tidak ada lampu penerangan jalan. Setelah melewati perkampungan, jalanan lanjut ke hutan. Pohon kanan kiri besar-besar dan ada jurang-nya. Kelokannya tajam-tajam lagi. Saya jadi ingat waktu melalui jalan Deandles, setelah melewati Gombong, jalanan berubah terjal dan lewat hutan.

Jalanan sepi. Saya hanya bertemu dengan truk dan bak terbuka. Hanya satu dua mobil pribadi yang saya salip di jalanan. Saya tanya lagi ke Royan, “Berapa jauh sampai ke Cipanas?”

“136 km lagi…!”

Walah… jauh juga. Dengan kondisi jalan seperti ini, paling 4 jam lagi baru masuk ke Cianjur.

Tengah malam, kami masih di jalanan berhutan. Mata sudah mulai mengantuk. Minuman air mineral ber-oksigen yang saya minum tidak mampu lagi menahan rasa kantuk ini. Akhirnya, di Cibeber saya berhenti di sebuah SPBU. SPBU-nya sepi. Saya parkir di dekat kantornya yang ada WC-nya.

Anak-anak sudah tidur sejak dalam perjalanan tadi. Mereka tetap tidur bahkan tidak sadar kalau mobilnya berhenti. Saya coba memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan mencoba untuk terlelap walau sejenak.

Sejam atau dua jam saya istirahat. Lanjut perjalanan lagi. Oh…ya. Isi full tank dulu.

Macet di Jalur Puncak

Cianjur masuk ke kota, trus lanjut ke arah Cipanas. Jalanan mulai ramai dan tersendat. Masih jauh dari istana Cipanas jalanan semakin tersendat. Akhirnya macet-cet…

Astagfirullah.

Mau bagaimana lagi. Tidak ada pilihan.

Saya lupa kalau di puncak pas ada beberapa tempat yang longsor. Mobil besar, bus dan truk, tidak boleh lewat jalur ini. Saya lihat di peta, kemacetannya 36km dan waktu tempunya diperkirakan lebih dari satu jam.

Mobil-mobil berjalan merayap. Sesekali berhenti sesaat baru jalan lagi.

Titik kemacetannya ada di puncak pas, bagian yang longsor itu dan di Masjid Ta’awun, karena banyak mobil yang berhenti di sini.

Rasa ngantuk mulai menyerang lagi. Saya harus istirahat lagi nih.

Setelah melewati gerbang Gunung Mas dan pintu masuk taman Safari, saya minggir di sebuah SPBU. Istirahat lagi. Parkiran SPBU penuh.

Menjelang subuh saya sholat di SPBU ini.

Sudah dekat dengan rumah, tinggal beberapa km lagi. Mesti mata masih agak mengantuk, saya lanjutkan perjalanan.

Tidak beberapa lama jalanan mulai lancar dan masuk ke tol. Alhamdulillah. Perjalanan lancar jaya sampai ke Ciomas.

Mobil masuk garasi kurang lebih pukul setengah enam pagi.

Saya langsung mandi air hangat. Maklum, badan rasanya masih gatal-gatal kene air di Cijulan dan air asin pantai.

TEPAR……

Cara Menanam Anggrek Spesies Cabutan dari Hutan

Anggrek adalah tanaman hias yang sudah terkenal dari jaman dulu. Indonesia termasuk negeri yang kaya akan berbagai jenis anggrek. Banyak sekali tanaman anggrek spesies asli Indonesia. Kami, saya dan keluarga, juga mulai suka mengkoleksi tanaman anggrek, terutama anggrek hutan.

Kalau ada waktu berlibur, biasanya kami jalan-jalan ke hutan, situ, gunung atau curug. Berburu anggrek hutan menjadi salah satu kegiatan kami ketika berlibur di alam ini. Kami sering mendapatkan banyak tanaman anggrek yang menempel di batang kayu atau ranting pohon-pohon besar.

Saya belajar cara menanam anggrek spesies cabutan dari hutan ini dari salah satu kebun anggrek yang ada di Bogor. Pengelolanya, Mas Teguh, mengajari saya bagaimana cara menanam anggrek cabutan dari hutan. Media atau tempat penanamannya bukan dengan papan pakis atau arang, seperti yang biasa dilakukan oleh orang, tetapi dengan menggunakan potongan ranting pohon atau kayu. Cara ini lebih mendekati tumbuhnya tanaman anggrek di alam aslinya.

Bahan dan peralatan yang diperlukan sederhana saja, yaitu:
1. Batang atau dahan pohon. Ukurannya tergantung dengan ukuran anggrek yang akan kita tanam.
2. Tali plastik
3. Gunting,
4. Tang,
5. Kawat

Anggrek spesies cabutan ini ditempelkan di dahan kayu, lalu diikat dengan kuat menggunakan tali plastik. Untuk mengantung dahan kayu itu digunakan kawat.

Mudah sekali bukan.

Pak Haji Fathur

Pak Haji Fathur haji berkali-kali

Pak Haji Fathur dan saya di Masjid Nabawi.

Namanya Pak Haji Fathur. Orang Madura, tapi tinggal di Jember. Ketika umroh saya gabung (digabungkan) dengan jama’ah umroh keluarga Pak Haji Fathur yang berjumlah 16 orang. Pak Haji Fathur sudah pergi haji 4 kali dan pergi umroh sudah berkali-kali. Semangatnya luar biasa. Saya banyak terinspirasi oleh Beliau. Semoga Allah memberi kemampuan pada kami untuk bisa pergi haji dan umroh berkali-kali, seperti keluarga Pak Haji Fathur ini. Aamiin

Kenapa kita mesti membaca doa ketika masuk WC atau toilet

Dalam agama Islam disunnahkan untuk selalu berdoa ketika akan melakukan semua aktifitas. Minimal membaca basmallah. Termasuk ketika kita akan masuk WC atau toliet untuk membuang hajat kecil atau hajat besar. Kenapa…??? Temen saya yang seorang indigo membuat saya tersadar kenapa kita mesti selalu membaca doa ketika masuk WC.

Teman saya ini, namanya Pak Gunawan, sudah sejak kecil bisa melihat ‘mahluk lain’. Awalnya beliau tidak sadar akan kemampuannya ini. Beliau mengira mereka adalah orang2 biasa. Mereka diajak ngobrol, anehnya hanya dia sendiri yang melihat ‘orang2 ini’. Lama2 beliau bisa melihat mahluk2 yang aneh2. Barulah, dia sadar bahwa ‘mahluk2 ini’ adalah jin2 dan syaiton2, salah satu mahluk ciptaan Allah yang ada di dunia ini. Katanya, di dunia ini ada banyak sekali jin dan mereka ada di mana2. Bentuknya bermacam2. Patung2 berhala-berhala yang sering dipahat dengan batu atau kayu, ada wujud aslinya dalam bentuk jin.

Nah….. salah satu tempat favorite bagi kaum jin ini adalah WC atau toilet atau tempat manusia buang hajat dan kotoran. Jin atau syaiton ini adalah mahluk ‘kotor’ dan suka yang kotor-kotor. Karena itu tidaklah mengherankan kalau mereka sangat menyukai WC dan toilet. Ketika kami menginap di sebuah hotel yang sudah tua dan sepi, toiletnya terasa gelap dan ‘wingit’, saay pergi ke toilet untuk buang air kecil. Keluar dari toilet, dia tanya: “Bagiaman suasana di toilet, Pak? Serem nggak?”

“Memang terasa agak lain sih, tapi saya tidak lihat2 apa2,” kata saya.

“Ada banyak sekali tuh, Pak, di dalam sana.”

“Hah…. beneran, Pak?”

“Iya…!”

“Ada nenek-nenek yang di langit-langit…!”

Lalu Beliau menjelaskan apa2 saja yang tinggal di toilet. Beliau menjelaskan kalau mahluk2 itu memang suka tinggal di tempat kotor dan bau. Semakin kotor dan semakin mau semakin disukai oleh jin. Apalagi sudah lama dan jarang dipakai.

Syaitan memang pekerjaannya mengganggu manusia. Orang2 yang masuk WC akan diganggu oleh jin2 ini. Kalau kita bukan pakaian dan terbuka aurot kita, jin2 ini akan bisa melihatnya juga. Orang normal kalau terlihat aurotnya pasti akan malu dan akan menutupi aurotnya. Kebetulan yang melihat adalah mahluk lain yang ‘tidak terlihat’, kita tidak sadar dan biasa2 saja. Kalau kita tahu, pastilah kita malu.

Nah, salah satu cara untuk memberi hijab atau tabir agar jin tidak bisa melihat aurot kita. Saya mendengar dari Ustad saya, bahwa cara untuk memberi hijab itu dengan membaca doa, doa masuk WC. Doa ini juga menjadi pelindung dari gangguan jin2 syaiton.

Saya semakin tersadar dan selalu berusaha berdoa setiap akan masuk WC, toilet dan tempat2 semacamnya. Agar terhindar dari gangguan jin penghuni toilet.

Bacaan doa masuk dan keluar WC adalah sebagai berikut:

Doa masuk wc

Jin-Jin Pemakan Sesaji

Di masyarakat kita masih ada yang sering memberikan sesajian – atau orang jawa bilang ‘sajen’. Sesaji ini bisa berupa bunga2, wangi2-an, membakar kemenyan, makanan, buah2an, minuman kopi atau teh. Ternyata memang makanan2 sesaji ini benar2 ‘dimakan’ oleh jin2 itu.

Ini masih cerita teman saya yang indigo dan bisa melihat mahluk ‘astral’. Beliau menceritakan tentang jin2 yang suka memakan sesaji ini. Kalau ada sesaji, mahluk2 ini akan segera mendatanginya. Wujudnya mirip kera, tangannya lebih panjang daripada kakinya. Kukunya panjang2 dan berbulu lebat. Tapi ekornya pendek. Di kepalanya ada dua tanduk kecil. Mahluk ini meloncat2 seperti kera.

Jin ini makan dengan lahab. Sesaji ini dicakar2 dan dimakannya semua. Apa saja dimasukkan ke dalam mulutnya. Semuanya bisa masuk. Kalau sesajinya banyak, mahluk ini akan loncat dari satu sejaji ke sesaji yang lain. Setelah habis dia akan pergi.

Ternyata, mahluk ini datang ke jin2 lain yang lebih besar dan lebih menyeramkan. Misalnya gendruwo atau raksasa yang besar dan mengerikan. Mahluk ini memutahkan apa yang sudah mereka makan untuk dimakan oleh jin2 yang lebih besar ini. Dimutahkan utuh.

Teman saya ini membuat ujicoba sendiri. Makanan yang diberikan untuk sesaji dan dimakak jin, maka bobotnya akan berkurang meski hanya sedikit. Makanan2 yang sudah dimakan jin akan kehilangan ‘barokah-nya’. Kita, orang biasa, melihatnya seperti tidak ada perubahan apa2 pada makanan ini. Namun, hakekatnya makanan ini sudah tidak ada barokahnya lagi. Karena itu kita sebaiknya tidak memakan makanan2 sesaji atau makanan yang memang diperuntukan untuk jin. Janganlah kita makan makanan sisa jin.

Apalagi kita yang memberikan sesaji. Sesaji adalah salah satu bentuk pejembahan kepada selain Allah. Itu adalah perbuatan syirik dan salah satu dosa besar. Kadang, mungkin, orang menganggap remeh perbuatan ini, padahal dosanya ‘sundul langit’. Jangan lah sampai terucap pada kita kalau kita memberikan, makanan meskipun kecil, kepada jin dan syaitan. Karena hal itu menjadi jalan bagi jin dan syaitan untuk merasuki kita dan mengganggu kita.

Mitos Mata Air untuk Awet Muda dan Cantik

Di banyak tempat sering ada kepercayaan dan mitos yang mengatakan kalau air dari mata air atau sedang tertentu bisa menyebabkan awet muda. Orang yang mandi dan cuci muka di tempat itu, dipercayai akan terlihat awet muda, lebih cantik dan lebih ganteng. Silahkan dituliskan di komentar kalau di tempat kalian ada kepercayaan semacam ini.

Biasanya tempat2 semacam ini tekenal angker dan ‘wingit’. Tempat di mana banyak hantu dan jin-nya. Banyak orang yang ‘ngalap berkah’, bersemedi dan memberikan sesajen. Benar tidak…??????

Di hari-hari dan bulan-bulan tertentu, tempat-tempat semacam ini biasanya ramai dikunjungi orang. Bahkan banyak yang rela mengantri dan rela berdesak-desakan hanya untuk bisa ‘terlihat awet muda’.

Masih menjutkan cerita teman saya yang indigo itu. Beliau pernah datang di suatu tempat wisata yang terkenal karena airnya bisa menyebabkan awet mudah dan cantik/ganteng.

“Tahu tidak, Pak, apa yang saya lihat di tempat itu..????” Katanya mengawali pembicaraan.

“Tempat itu adalah tempat berkumpulnya para jin. Mereka buang air di situ, mereka ‘pub’ di situ. ‘E O’ di situ. Bahkan mereka ber-jima’ di situ. Itu tempat sejorok2-nya bagi bangsa jin.”

“Airnya itu tidak bening seperti yang kita lihat, Pak…”

“Air itu sampai berwarna putih, karena saking kotornya kena kotoran2 jin itu.”

“Jijik sekali pokoknya lah….”

“Mereka mandi, cuci muka …. hiiiii…. jijik pokoknya lah…”

Jadi, bayangkan saja kita cuci muka dengan air comberan yang super kotor. Muka kita dibaluri dengan kotoran-kotoran jin yang bermacam-macam jadi satu. Lalu kita senyum-senyum penuh percaya diri karena merasa terlihat lebih muda. Coba bayangkan….!!!!

Terlihat cantik atau muda hanyalah sihir bangsa jin saja. Mereka memberi tabir dan mengelabui mata manusia agar terlihat lebih muda dan cantik. Padahal hakekatnya mereka kotor dan menjijikkan sekali. Mereka sudah ditipu oleh jin syaiton.

Naudzubillahi mindzalik.

Karena itu, janganlah kita percaya dengan mitos2 yang tidak jelas. Apalagi mitos2 yang melibatkan jin dan syaiton. Percaya dengan ‘kekuatan’ air yang bisa membuat orang awet muda dan terlihat cantik adalah perbuatan syirik. Itu adalah tipu daya syaiton untuk menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Cara itu menjadi jalan agar jin bisa merasuki dan mengganggu kita.