Category Archives: MyStories

Kebiasaan Mengunyah Pinang dan Sirih Masyarakat Papua

Ketika saya turun dari pesawan di Bandara Mozes Kilangin, Timika Papua, saya melihat satpam dan beberapa petugas bandara yang orang asli Papua mengunyah sesuatu. Begitu juga ketika saya keluar dari Bandara, saya melihat beberapa orang asli Papua yang mengunyah sesuatu. Kemudian saya tahu bahwa orang-orang Papua ini mengunyah buah pinang dan kapur sirih. Mirip kebiasaan yang dilakukan oleh nenek-nenek dan orang tua di Jawa jaman dulu.

Ternyata kebiasaan ini adalah kebiasaan yang sangat umum dilakukan oleh masyarakat asli Papua. Kebetulan saya jalan-jalan di pasar Timika, saya melihat banyak sekali pedagang yang menjual buah pinang. Buah pinangnya disusun berkelompok di atas meja. Ada juga kapur sirih yang dibungkus dengan plastik. Yang menarik adalah orang Papua tidak menggunakan daun sirih sebagai campuran buah pinang yang dikunyah, tetapi menggunakan bunga sirih yang berbentuk panjang-panjang.

Saya minta ijin untuk merekam video Bapak-bapak ini yang sedang mengunyah buah pinang.

Advertisements

Suntik Vaksin Meningitis di KKP Soekarno Hatta

suntuk vaksin meningitis KKP Soeta haji umroh

Kartu bukti sudah disuntuk vaksin meningitis di KKP Bandara Soekarno Hatta.

Meningitis adalah penyakit radang selaput otak atau membram pelindung syaraf pusat. Penyakit yang sangat berbahaya. Untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit ini perlu disuntik vaksin meningitis. Terutama untuk masyarakat yang ingin berangkat haji dan umroh. Salah satu klinik yang melayani suntik vaksin meningitis adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Soekarno Hatta,

Vaksin ini diwajibkan oleh pemerintah Saudi sejak tahun 2002 bagi jamaah haji dan umroh dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Calon jamaah haji dan umroh sangat banyak di Indonesia, permintaan suktik vaksin ini pun sangat banyak. Tidak heran kalau sampai mengantri lama untuk vaksin meningitis.

Salah satu klinik yang melayani suntik vaksin ini adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta. Lokasinya ada di komplek perkantoran Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Jakarta. Jika Anda ingin suntik vaksin di sini, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.

suntuk vaksin meningitis KKP Soeta haji umroh

Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno Hatta yang melayani suntik vaksin meningitis untuk calon jamaah haji dan umroh.


Continue reading

Daun Gatal; Obat Tradisional Papua

daun gatal obat tradisional papua

Daun gatal (Laportea ducumana), salah satu obat tradisional papua.


Papua terkenal dengan obat-obatan tradisional yang diambil dari hutah. Beberapa yang sudah terkenal adalah buah merah dan sarang semut. Ada satu lagi obat tradisional Papua yang unik, yaitu daun gatal (Laportea ducumana). Seperti namanya, daun ini menyebabkan gatal-gatal pada kulit, tetapi setelah itu badan akan terasa lebih enak dan nyaman.

Bentuk Daun Gatal (Laportea ducumana)

Saya kebetulan menemukan daun ini ketika sedang jalan-jalan di pasar Timika. Ada penjual warga asli Papua yang menjual daun unik. Saya tanya pada ibu penjualnya:
“Apa ini, mama?”
“Ini daun gatal.”
“Untuk apa daun gatal ini?”
Beberapa mama-mama di sekitar situ menjelaskan bagaimana menggunakan daun ini dan manfaatnya. Katanya daun ini bisa untuk menyegarkan badan, mengobati masuk angin dan pegal-pegal.

Saya pun tertarik untuk mencoba khasiat daun ini.

Guide yang mengantarkan saya menggatakan kalau daun ini sangat gatal dan perih sekali. Kalau tidak kuat sebaiknya jangan mencobanya.

Daun ini beruukuran cukup besar. Panjangnya sekitar 20 cm dan lebarnya 15 cm. Ujung daun meruncing dan bagian pangkalnya membulat. Warnanya daun hijau tua. Namun di bagian tengahnya terdapat pola warna daun yang lebih muda. Permukaan daun bagian atas dan bawah tidak rata dan berbulu-bulu kecil. Bulu-bulu ini seperti jarum kecil yang akan menempel pada kulit yang terkenal daun ini.


Continue reading

Tidur Sambil Berdiri di Commuterline

tidur berdiri

Orang tidur umumnya dengan cara berbaring. Jika tidak merasakan sendiri atau tidak melihat sendiri, mustahil orang bisa tidur dengan cara berdiri. Jika Anda ingin mencoba sensasi tidur sambil berdiri, saya akan beritahu bagaimana caranya.

Pengalaman ini saya alami ketika naik commuterline jurusan Jakarta – Bogor sore selepas jam kerja. Jarang sekali saya kerja di Jakarta, tapi seminggu ini memaksa saya untuk berangkat dini hari dan pulang sore hari ke Jakarta. Saya lebih suka pergi PP Jakarta-Bogor dengan memanfaatkan kereta listrik atau Commuterline. Biasanya saya sudah kembali ke Bogor sebelum pukul 3 sore, untuk menghindari orang-orang yang pulang dari kerjaan mereka. Namun, hari ini terpaksa saya pulang sampai sore. Saya naik kereta dari Stasiun Sudirman dan turun transit di Stasiun Manggarai. Dari Stasiun ini naik dari peron 6 kereta yang ke arah Bogor.

Jam-jam ini adalah jam orang pulang kerja. Stasiun Manggarai sudah penuh dengan orang, apalagi yang jurusan ke Bogor. Di sepanjang peron orang sudah bergerombol menunggu datangnya kereta. Begitu kereta datang, orang-orang berebut naik ke kereta, berjubel-jubel dan saling dorong. Semua orang ingin naik ke kereta meski kereta sudah sangat penuh. Saya ikut arus saja, terdorong sendiri masuk ke kereta.

Di dalam kereta tentu saja sudah tidak kebagian tempat duduk. Penumpang berdiri sambil berjubel-jubel. Rasanya tidak ada tempat lowong di kereta tanpa orang yan berdiri. Dari stasiun Manggarai ke Bogor melewati beberapa stasiun. Di stasiun-stasiun yang dilewati lebih banyak orang yang naik daripada orang yang turun. Gerbong kereta semakin penuh sesak. Berdiri berdempet-dempet. Termasuk saya. Meski tidak dapat pegangan tangan, tidak akan bisa jatuh. Berdiri saja tegak.

Jarak Jakarta-Bogor kurang lebih 1 sampai 1.5 jam perjalanan. Badan capek sekali dan mata sudah mulai sayu. Meski bedesak-desakan, udara di kereta lumayan dingin. Kereta ber-AC dan dilengkapi kipas angin yang cukup kecang. Angin membuat saya semakin mengantuk. Saya lihat orang-orang yang di dalam kereta pun juga banyak yang tertunduk mengantuk.

Goncangan kereta seperti ayunan nina-bobo. Tak terasa mata semakin berat dan tidak tertahankan rasa mengantuknya. Mata yang semakin berat membuat penumpang tertidur sambil berdiri. Meski tidurnya tidak benar-benar pulas, orang-orang tetap bisa tertidur meski cuma sekejab.

Jika Anda ingin merasakan sensasi tidur sambil berdiri, silahkan coba naik kereta commuterline hari senin atau jum’at pukul 5 sore dari stasiun Manggarai. Rasakan sensasinya.

Pak Supar; Tidak Sekolah, Jadi Petani Saja Bisa Kaya

Petani Kaya Lampung

Pak Supar di Kebun Sayurannya, Lampung

Laki-laki tua yang di sebelah kiri itu namanya Pak Supar. Pak Supar adalah contoh nyata bahwa profesi menjadi petani bisa jadi kaya raya. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk jadi petani. Belajar sambil bekerja;’Learning by doing’. Setelah sekian tahun jadi petani, Pak Supar kini memiliki lahan (tanah, kebun dan sawah) yang luasnya puluhan ha, punya pabrik tapioko medern dengan pengering bahan bakar biogas, pengolahan jagung dan lahan pertanian yang subur.

Pak Supar lahir di Kediri, Jawa Timur. Masa kecilnya bandel dan tidak mau sekolah. Pak Supar kecil hanya mau sekolah selama 10 bulan di kelas 1 SD. Setelah itu nggak mau sekolah dan memilih untuk kerja kasar. Umur 15 tahun merantau ke Lampung, daerah bukaan transmigrasi baru yang masih rawan. Kerja serabutan apa saja, jadi kuli panggul singkong dan pindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Lampung.

Badannya yang kecil membuatnya tidak cukup kuat dan tangkas untuk jadi kuli panggul. Mandor kuli dan teman-temannya tidak mau memakai tenaganya. Lalu dia belajar dan coba-coba untuk menjadi pedagang singkong saja, yang kerjanya menyetor singkong ke pabrik-pabrik tapioka di Lampung. Usahanya maju, dia dipercaya oleh engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka. Sampai akhirnya dia punya beberapa truk untuk mengangkut singkong.

Pak Supar berteman baik dengan engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka itu. Pak Supar memang tidak bisa membaca tulis, tapi bisa berhitung. Kalau uang tau lah. Tambah-tambahan tahu. Pak Supar banyak belajar dari Engkoh-engkoh itu. Belajar bagaimana cara orang-orang china berbisnis dan berdagang, termasuk belajar bagaimana mereka memanfaatkan pinjaman dari Bank.

Tahun 1997 terjadi krisis. Ekonomi memburuk dan banyak usaha yang tumbang, termasuk usaha pabrik tapioka. Pasokannya ke pabrik pun turun drastis. Banyak orang yang tidak punya kerja, mengganggur. Termasuk tetangga-tetangganya sendiri. Pak Supar merasa kasihan dan ingin membantu memberikan lapangan kerja untuk tetangga-tetangganya yang jadi penggangguran. Lalu dia memberanikan diri untuk membuat pabrik tapioka sendiri. Semuanya masih manual.

Petani Kaya Lampung

Berkunjung ke rumah pak Supar

Barokah dari Allah. Usahanya maju dan berkembang. Pak Supar mulai berani memajukan usahanya. Pak Supar mendapat pinjaman dari Bank. Karena dia tidak bisa baca tulis, orang bank-nya yang membantu dia mengisi semua formulir. Pokoknya dia hanya tandan tangan dan dapat pinjaman. Dengan uang itu dia mulai membangun pabriknya, sampai dia bisa membangun pabrik dengan nilai lebih dari Rp. 6 M.

Pak Supar juga mengambangkan usaha pertanian yang lain. Pak Supar menanam singkong sendiri, jagung, berternak sapi, menanam padi, sayuran, tomat, terong dan buah-buahan. Dia senang dan bahagia, terutama bisa memberikan lapangan kerja untuk tetangga dan saudara-saudaranya.

Bahkan Pak Supar salah satu pengusaha kecil yang berhasil memanfaatkan limbah dari pabri tapioka menjadi biogas. Kolam limbah biogasnya besar dan berukuran 40m x 70m. Metodenya covered lagoon. Penutup lagoonnya itu mengembung tinggi sekali, bahkan bisa dinaiki motor di atasnya. Energi dari biogas ini digunakan untuk mesin pengering pabrik tapioka, memasang dan kebutuhan lainnya.

Petani Kaya Lampung

Pabrik tapioka milik Pak Supar


Continue reading

Wiwit dan Rikin


Kisah-kisah yang menginspirasi saya


Di kampung saya dulu ada dua orang ‘kurang waras’ yang biasa keliling-keliling kampung. Yang satu namanya Wiwit, laki-laki, umurnya kira-kira 15 tahun di atas saya. Badannya kurung kering, jalannya cepat penuh semangat, selalu tertawa dan ngoceh ke mana-mana. Dia sering digodain oleh anak-anak di kampung saya. Macam-macamlah cara ngodainnya. Sampai kasihan saya.
Wiwit hampir setiap hari datang ke rumah. Kadang-kadang pagi, kadang-kadang siang. Masuk ke rumah lalu duduk dan ngoceh apa saja. Kadang-kadang dikerjain sama saya dan pembantu-pembantu di rumah saya. Dia mah ketawa-ketawa saja.
“Arep ngombe opo kowe, Wit?” tanya Mak saya.
Lalu Mak saya menyiapkan segelas teh manis hangat untuk Wiwit. Kalau makan siang sudah siap:
“Arep mangan sisa ora? Ki aku lagi masak jangan gori karo tempe bacem.”
Wiwit makan dengan lahap. Setelah itu dia pergi lagi, jalan-jalan keliling kampung.
Wiwit biasa memanggil ibu saya dengan panggilan “Makke” (Ibuk) dan bapaknya saya dengan “Pakke”. Kalau lagi pingin minta makan dia masuk rumah dan langsung teriak:
“Pakke, aku luwe ki lho, pingin mangan!”
Bapak saya menyuruh salah seorang ‘rewang’ di rumah saya mengambilkan makan untuk Wiwit.
Ini hampir setiap hari. Subhanallah.
Satu lagi namanya Rikin. Rikit sudah agak tua, badannya tegap, tubuhnya kuat, matanya bulat dan sepertinya banyak putihnya. Anak-anak kampung jarang ngodain Rikin, suka ngamuk soalnya. Kalau ada yang ngodain pasti dikejar dan ditabok. Nggak ada yang berani sama dia. Saya tidak tahu di mana rumah Rikin ini. Kadang-kadang saja dia mampir ke kampung saya.
Sama seperti Wiwit, Rikin juga sering masuk ke rumah. Duduk di bangku kayu panjang yang ada di depan rumah. Rikin ngomongnya juga ngalor-ngidul nggak jelas. Bapak saya sering menyuruhnya mengerjakan sesuatu, bersih-bersih kadang atau kebun.
Pernah suatu hari dia datang ke rumah. Waktu itu belakang rumah masih kebun kosong dan banyak pohon pisangnya. Rumputnya sudah tinggi-tinggi. Bapak saya meminta Rikin untuk membersihkan kebun.
“Kebonan omah kae reged, sukette duwur-duwur. Diresiki kono. Ki gamanne.”,
(Kebon belang rumah sudah kotor. Rumputnya tinggi-tinggi. Dibersihkan ya. Ini sabitnya)
“Yoh….Pakke. Diresikki kabeh, tho?”
“Nganti resik tenah lho, ojo disisakke.”
“Yoh….pak”.
Rikin mengambil sabit itu dan segera ke belang rumah untuk membersihkan kebun. Dia memang rajin sekali dan didukung oleh badannya yang kuat.
Beberapa waktu kemudian, menjelang siang dia selesai mengerjakan tugasnya. Dia kembali ke depan menemui Bapak saya.
“Wis rampung, Pak. Wis tak resikki kabeh.”
“Tenan.”
“Tenah, Pakke. Ora percoyo. Lha mbok ditilikki dewe kae nang mburi.”
Bapak saya menuju ke kebun belakang rumah. Betapa terkejutnya Bapak ketika melihat kebunnya.
Allahuakbar….!!!!
Kebunnya bersih banget, rumputnya dibabat habis oleh Rikin. Termasuk pohon-pohon pisangnya semua. Bersih…sih…. tidak ada yang tersisa.
Bapak pingin marah, tapi juga geli. Bapak ngombel-ngomel ke Rikin. Rikinnya malah nyengar-nyengir saja.
“Mau ngongonnge kon ngersiki kabeh. Yo tak resiki kabah tho……”
“Maksude sukette thok……. ora sak wit-wit gedannge mok enthekke kabeh……..!!!!!”
Tapi Bapak tidak terus-terusan marah. Rikin tetap dikasih makang siang dan sedikit uang. Rikin masih sering datang ke rumah dan Bapak juga ngasih dia kerjaan apa saja.
******
Isroi
Bogor, 07-07-2017

Penjual Ayam Goreng dan Gelandangan


Kisah-kisah yang menginspirasi saya


Ketika kuliah di jogja dulu saya kost di jalan Magelang. Saya biasa beli makan di warung-warung tenda yang ada di sepanjang jalan itu. Salah satunya di ayam goreng yang mangkal di depan ruko-ruko di daerah Kutu Asem. Malam hari selepas isya’ saya beli makan di warung tenda itu. Ketika sedang menunggu giliran dimasakkan, tiba-tiba ada gelandangan kumuh, pakainnya compang-camping, rambutnya gimbal, di tangannya membawa bungkusan tas kresek hitam dan badanya bau. Dia berdiri tepat di belakang saya. Dia hanya berdiri mematung, tidak berkata apa-apa. Matanya tertuju pada ayam-ayam goreng yang memang mengundang selera itu. Dari pandangannya saya bisa merasakan kalau ‘mungkin’ dia lapar dan ingin makan ayam goreng itu.

“Tambah satu lagi, Pak. Ayam gorengnya. Dibungkus, ya. Untuk orang ini. Saya yang bayarin”, kata saya, pakai bahasa jawa, pada penjual ayam goreng itu sambil menunjuk ke orang yang di belakang saya.

“Kangge tiyang niku?” tanya penjualnya.

“Inggih,” kata saya menegaskan.

“Mboten usah, mas. Tiyang niku pancen saben dinten teko mriki. Sampun biasa. Mpun mboten usah dibayari,” Katanya lagi.

Ternyata geladangan yang kurang waras itu memang setiap hari datang meminta jatah makan ke warung ayam goreng ini. Setiap hari penjualnya memberinya sebungkus ayam goreng menu lengkap, seperti yang biasa disajikan untuk pelanggan-pelangannya. Ayamnya yang gede dan enak, bukan ayam sisa atau yang basi-basi saja.

“Untuk sedekah saya, Mas. Satu bungkus tiap hari tidak akan membuat bangkrut warung ini. Malahah tambah laris.” katanya setelah menyerahkan satu bungkus ayam goreng ke gelandangan itu.

Sungguh, saya tidak bisa berkata apa-apa mendengar kata Bapak ini. Tiba-tiba saya merasa mengecil sekecil-kecilnya.

Subanallah. Semoga Allah menerima semua sedeqah Bapak penjual ayam goreng ini. Dan menggantinya dengan ganti yang lebih baik di dunia dan di akhirat.

Ibu Tua dan Anak Laki-laki Kecil

Semalam sekitar pukul 11.30 saya pulang melewati jalan Ciomas. Jalan yang biasanya macet ini terasa lenggang. Hanya beberapa motor, angkot dan mobil yang melintas. Saya naiki motor supra saya pelan-pelan.
Sampai di jembatan Ciomas dari kejauhan terlihat ada seorang ibu tua mengandeng seorang anak sesekali melambai ke kendaraan motor yang melintas. Tidak ada yang memperdulikannya. Ketika sudah dekat, ibu tua itu pun melambai ke arah saya dan berkata:
“mau numpang, pak!” serunya.

Awalnya saya juga tidak peduli, sekitar 50-an meter saya menepi dan berhenti. Saya perhatikan ibu-ibu itu tampak lelah dan berjalan gontai. Anak kecil yang berjalan disampingnya pun terlihat kelelahan. Lalu saya balik arah dan menghampiri si ibu.

“Ibu mau ke mana?” tanya saya
“Saya mau pulang ke sana,” Si Ibu menyebut sebuah nama desa, saya lupa detailnya.
“Di mana itu?”
“Ciper masih ke atas lagi”,
“Jauh…..itu, Ibu dari mana?”
“Saya baru dari Parung, jalan kaki sejak magrib tadi,”
“Lho kenapa ….?”
“Iya…kehabisan ongkos. Saya baru pulang dari uwaknya anak ini. Bapaknya sudah tidak ada, setiap bulan saya mengantarnya ke Uwaknya di Parung. Hari ini kehabisan ongkos dan terpaksa jalan kaki,”
“Dari Parung…..?????!!!!”

Si Ibu menggangguk sedih. Saya melirik ke anak laki2 kecil di sampingnya, wajahnya sayu dan sedih. anak itu pakai kaos ipin upin, celana pendek dan sandal jepit.
Parung jauh sekali dari sini 30-40 kiloan.

“Masya Allah…..”

Saya mengambil dompet saya, di dalamnya cuma ada beberapa lembar. Saya kasih ke ibu itu sebagian; sedikit ongkos untuk naik angkot.

“Ibu naik angkot saja. Ini sudah malam sekali.”

Ibu itu menerimanya tanpa berkata apa-apa. Seperti ada yang ingin dia ucapkan, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Matanya berkaca-kaca.

Saya segera beranjak pulang. Ketika itu saya tidak membawa apa-apa. Sampai di rumah saya masih kepikiran dengan anak kecil itu. Lalu saya mencari secarik kertas, saya tulisakan nama temen yang bekerja di lembaga zakat. Saya tuliskan nomornya di situ. Saya berharap anak kecil itu bisa mendapatkan hak-nya dari zakatnya orang-orang kaya.

Saya pacu lagi motor saya ke tempat saya bertemu dengan ibu dan anak itu tadi. Sayang sekali, jalanan sepi. Saya coba susuri jalan ciomas sejauh setengah kilo meter. Namun nihil. Mungkin Si Ibu itu sudah naik angkot ke Ciper.
Saya yakin ibu dan anak itu bukan pengemis. Saya hampir hafal pengemis dan pemulung yang beroperasi di sekitar perumahan saya. Baru pertama kali saya ketemu dengan ibu dan anak ini. Mereka orang miskin tidak meminta-minta dan perlu uluran tangan para muzaki. Saya hanya bisa berdoa; semoga Allah memberi kecukupan rizqi dan barokah pada ibu dan anak kecil itu. Amin Ya Robb Yang Maha Kaya.

Perpustakaan Sampah Pak RT Elan Pamoyanan Bogor

image

image

Jangan membayangkan kalau perpustakaan sampah isinya hanya sampah saja. Perpustakaan ini adalah perpustakaan di kampung yang kalau mau meminjam buku bayarnya pakai sampah. Pak RT Elan yang mempunyai ide ini. Lokasinya ada di RT 02/RW 12, Kp. Nagrok,  Kel. Pamoyanan, Kec. Bogor Selatan, Kota Bogor.

Pak RT Elan resah dengan kondisi di lingkungan RTnya yang kurang bersih dan kesadaran warganya yang masih kurang tentang sampah. Masih ada warga, terutama anak2 yang membuang sampah sembarangan. Kebun di depan rumahnya banyak sampah berserakan. Selokan air banyak sampahnya. Kampung yang rumahnya berhimpit-himpitan itu menjadi terlihat kumuh. Berbagai upaya untuk menyadarkan warganya belum juga membuahkan hasil.

Di kampungnya banyak anak2 usia sekolah. Sepulang sekolah mereka hanya main2 saja. Lalu muncul ide untuk mengisi waktu luang anak2 itu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan sekaligus merangsang kepedulian mereka tentang sampah. Lahirlah perpustakaan sampah ini.

Continue reading

99 + 1 = 0

99 + 1 = 0. Rumus yang menyalahi kaidah matematika. Tapi artinya dalam dan filosofis sekali. Rumus itu saya dapatkan dari sabahat baru saya, Pak Bambang S. Rumus yang jadi peringatan untuk mengarungi kehidupan ini.

Rumus itu didapatkan dari pengalaman hidup Pak Bambang sendiri yang penuh liku-liku. Pak Bambang orang yang hidup mapan. Kuliahnya di Amerika. Bekerja di tempat yang ‘basah’, tidak hanya sekedar ‘basah’ tapi ‘basah kuyup’. Punya istri yang baik dan cantik, dikaruniai anak-anak yang baik-baik dan pinter-pinter. Istrinya tipikal istri yang soleh, rajin mengaji dan haus akan ilmu agama. Seperti sempurna hidupnya.

Namun semua itu kemudian barubah. Secara lahiriyah, perubahan itu bukan perubahan yang ‘buruk’. Namun ini hanya permukaan luarnya saja.

Suatu hari istrinya, yang memang suka mengaji, belajar agama dan membaca, mendapatkan sebuah buku. Buku itu dicap oleh orang sebagai ajaran menyimpang, karena penasaran dia tetap menelaahnya sampai selesai. Menurut istrinya itu isinya bagus banget, buku yang mengajarkan kebaikan, suka menolong, banyak sedekah, rajin beribadah, dan semua perbuatan kebajikan yang lain. Istrinya semakin penasaran dan ingin ketemu langsung dengan yang mengajarkannya. Maka dia pun mencari alamatnya. Gampang dicari tinggal tanya mbah Google saja.

Kalau orang Jawa bilang ‘lha kok ndelalah’; kebetulan di tempat yang ditujunya itu istrinya bertemu dengan kawan sekolahnya dulu, bapak2 yang sudah lebih dulu mengikuti ‘ajaran baru’ ini. Singkat cerita istrinya kemudian akrif di pengajian dan pertemuan yang dilakukan oleh kelompok itu. Isinya baik semua. Bahkan baik banget. Orangnya juga baik-baik. Tidak melakukam kekerasan atau menyakiti orang. Istrinya semakin masuk ke dalam. Saking rajinnya beribadah sholat malam saja diwajibkan dalam kelompok itu. Dari ketiga anaknya dua orang akhirnya ikut masuk juga. Pak Bambang pun semakin binggung.

Setelah lama mulai kelihatan ‘penyimpangan-penyimpangannya’. Kemudian dia tahu syahadat kelompok itu diubah. Sekilas seperti tidak ada yang salah, artinya bener. Beberapa ibadah mulai ada ‘improvisasi’ dan ‘modifikasi’. Ujungnya yang memberi ajaran itu dindeklarasikan sebagai ‘nabi baru’. Pengikutnya banyak, bahkan sempat heboh di Indonesia. Dalam sejarah agama-agama samawi, nabi2 adalah laki-laki, kalau ini nabinya ‘wanita’. Kelompok ini percaya ‘akhir jaman’ sudah dekat, karena itu turunlah ‘nabi yang dijanjikan’ itu.

Kehidupan yang ‘sempurna’ itu akhirnya berubah. Biduk rumah tangganya pecah. Satu anaknya berhasil lepas dan ‘kembali’ ke jalan yang lurus. Mantan istrinya akhirnya menikah dengan laki2, kawan lamanya yang bertemu pertama kali di rumah ‘nabi baru’ itu.

****
Kisah ini dituliskan oleh Pak Bambang dalam sebuah buku. Bukunya belum diterbitkan karena banyak pertimbangan.

Godaan syaitan ternyata tidak hanya yang jahat-jahat saja. Syaitan mengoda dengan yang ‘baik-baik’, bagus-bagus, sholeh-sholeh. Godaan itu dibungkus dengan kebajikan-kebajikan. Namun, semuanya hanya ‘fatamorgana’ saja. Semua kebaikan itu hancur lebur dan tidak berbekas karena satu hal saja: akidahnya menyimpang. Tuhannya bukan Allah SWT, nabinya bukan Nabi Muhammad, dan kitabnya bukan Al Quran. Kasihan.