Category Archives: MyStories

Pak Supar; Tidak Sekolah, Jadi Petani Saja Bisa Kaya

Petani Kaya Lampung

Pak Supar di Kebun Sayurannya, Lampung

Laki-laki tua yang di sebelah kiri itu namanya Pak Supar. Pak Supar adalah contoh nyata bahwa profesi menjadi petani bisa jadi kaya raya. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk jadi petani. Belajar sambil bekerja;’Learning by doing’. Setelah sekian tahun jadi petani, Pak Supar kini memiliki lahan (tanah, kebun dan sawah) yang luasnya puluhan ha, punya pabrik tapioko medern dengan pengering bahan bakar biogas, pengolahan jagung dan lahan pertanian yang subur.

Pak Supar lahir di Kediri, Jawa Timur. Masa kecilnya bandel dan tidak mau sekolah. Pak Supar kecil hanya mau sekolah selama 10 bulan di kelas 1 SD. Setelah itu nggak mau sekolah dan memilih untuk kerja kasar. Umur 15 tahun merantau ke Lampung, daerah bukaan transmigrasi baru yang masih rawan. Kerja serabutan apa saja, jadi kuli panggul singkong dan pindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Lampung.

Badannya yang kecil membuatnya tidak cukup kuat dan tangkas untuk jadi kuli panggul. Mandor kuli dan teman-temannya tidak mau memakai tenaganya. Lalu dia belajar dan coba-coba untuk menjadi pedagang singkong saja, yang kerjanya menyetor singkong ke pabrik-pabrik tapioka di Lampung. Usahanya maju, dia dipercaya oleh engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka. Sampai akhirnya dia punya beberapa truk untuk mengangkut singkong.

Pak Supar berteman baik dengan engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka itu. Pak Supar memang tidak bisa membaca tulis, tapi bisa berhitung. Kalau uang tau lah. Tambah-tambahan tahu. Pak Supar banyak belajar dari Engkoh-engkoh itu. Belajar bagaimana cara orang-orang china berbisnis dan berdagang, termasuk belajar bagaimana mereka memanfaatkan pinjaman dari Bank.

Tahun 1997 terjadi krisis. Ekonomi memburuk dan banyak usaha yang tumbang, termasuk usaha pabrik tapioka. Pasokannya ke pabrik pun turun drastis. Banyak orang yang tidak punya kerja, mengganggur. Termasuk tetangga-tetangganya sendiri. Pak Supar merasa kasihan dan ingin membantu memberikan lapangan kerja untuk tetangga-tetangganya yang jadi penggangguran. Lalu dia memberanikan diri untuk membuat pabrik tapioka sendiri. Semuanya masih manual.

Petani Kaya Lampung

Berkunjung ke rumah pak Supar

Barokah dari Allah. Usahanya maju dan berkembang. Pak Supar mulai berani memajukan usahanya. Pak Supar mendapat pinjaman dari Bank. Karena dia tidak bisa baca tulis, orang bank-nya yang membantu dia mengisi semua formulir. Pokoknya dia hanya tandan tangan dan dapat pinjaman. Dengan uang itu dia mulai membangun pabriknya, sampai dia bisa membangun pabrik dengan nilai lebih dari Rp. 6 M.

Pak Supar juga mengambangkan usaha pertanian yang lain. Pak Supar menanam singkong sendiri, jagung, berternak sapi, menanam padi, sayuran, tomat, terong dan buah-buahan. Dia senang dan bahagia, terutama bisa memberikan lapangan kerja untuk tetangga dan saudara-saudaranya.

Bahkan Pak Supar salah satu pengusaha kecil yang berhasil memanfaatkan limbah dari pabri tapioka menjadi biogas. Kolam limbah biogasnya besar dan berukuran 40m x 70m. Metodenya covered lagoon. Penutup lagoonnya itu mengembung tinggi sekali, bahkan bisa dinaiki motor di atasnya. Energi dari biogas ini digunakan untuk mesin pengering pabrik tapioka, memasang dan kebutuhan lainnya.

Petani Kaya Lampung

Pabrik tapioka milik Pak Supar


Continue reading

Advertisements

Wiwit dan Rikin


Kisah-kisah yang menginspirasi saya


Di kampung saya dulu ada dua orang ‘kurang waras’ yang biasa keliling-keliling kampung. Yang satu namanya Wiwit, laki-laki, umurnya kira-kira 15 tahun di atas saya. Badannya kurung kering, jalannya cepat penuh semangat, selalu tertawa dan ngoceh ke mana-mana. Dia sering digodain oleh anak-anak di kampung saya. Macam-macamlah cara ngodainnya. Sampai kasihan saya.
Wiwit hampir setiap hari datang ke rumah. Kadang-kadang pagi, kadang-kadang siang. Masuk ke rumah lalu duduk dan ngoceh apa saja. Kadang-kadang dikerjain sama saya dan pembantu-pembantu di rumah saya. Dia mah ketawa-ketawa saja.
“Arep ngombe opo kowe, Wit?” tanya Mak saya.
Lalu Mak saya menyiapkan segelas teh manis hangat untuk Wiwit. Kalau makan siang sudah siap:
“Arep mangan sisa ora? Ki aku lagi masak jangan gori karo tempe bacem.”
Wiwit makan dengan lahap. Setelah itu dia pergi lagi, jalan-jalan keliling kampung.
Wiwit biasa memanggil ibu saya dengan panggilan “Makke” (Ibuk) dan bapaknya saya dengan “Pakke”. Kalau lagi pingin minta makan dia masuk rumah dan langsung teriak:
“Pakke, aku luwe ki lho, pingin mangan!”
Bapak saya menyuruh salah seorang ‘rewang’ di rumah saya mengambilkan makan untuk Wiwit.
Ini hampir setiap hari. Subhanallah.
Satu lagi namanya Rikin. Rikit sudah agak tua, badannya tegap, tubuhnya kuat, matanya bulat dan sepertinya banyak putihnya. Anak-anak kampung jarang ngodain Rikin, suka ngamuk soalnya. Kalau ada yang ngodain pasti dikejar dan ditabok. Nggak ada yang berani sama dia. Saya tidak tahu di mana rumah Rikin ini. Kadang-kadang saja dia mampir ke kampung saya.
Sama seperti Wiwit, Rikin juga sering masuk ke rumah. Duduk di bangku kayu panjang yang ada di depan rumah. Rikin ngomongnya juga ngalor-ngidul nggak jelas. Bapak saya sering menyuruhnya mengerjakan sesuatu, bersih-bersih kadang atau kebun.
Pernah suatu hari dia datang ke rumah. Waktu itu belakang rumah masih kebun kosong dan banyak pohon pisangnya. Rumputnya sudah tinggi-tinggi. Bapak saya meminta Rikin untuk membersihkan kebun.
“Kebonan omah kae reged, sukette duwur-duwur. Diresiki kono. Ki gamanne.”,
(Kebon belang rumah sudah kotor. Rumputnya tinggi-tinggi. Dibersihkan ya. Ini sabitnya)
“Yoh….Pakke. Diresikki kabeh, tho?”
“Nganti resik tenah lho, ojo disisakke.”
“Yoh….pak”.
Rikin mengambil sabit itu dan segera ke belang rumah untuk membersihkan kebun. Dia memang rajin sekali dan didukung oleh badannya yang kuat.
Beberapa waktu kemudian, menjelang siang dia selesai mengerjakan tugasnya. Dia kembali ke depan menemui Bapak saya.
“Wis rampung, Pak. Wis tak resikki kabeh.”
“Tenan.”
“Tenah, Pakke. Ora percoyo. Lha mbok ditilikki dewe kae nang mburi.”
Bapak saya menuju ke kebun belakang rumah. Betapa terkejutnya Bapak ketika melihat kebunnya.
Allahuakbar….!!!!
Kebunnya bersih banget, rumputnya dibabat habis oleh Rikin. Termasuk pohon-pohon pisangnya semua. Bersih…sih…. tidak ada yang tersisa.
Bapak pingin marah, tapi juga geli. Bapak ngombel-ngomel ke Rikin. Rikinnya malah nyengar-nyengir saja.
“Mau ngongonnge kon ngersiki kabeh. Yo tak resiki kabah tho……”
“Maksude sukette thok……. ora sak wit-wit gedannge mok enthekke kabeh……..!!!!!”
Tapi Bapak tidak terus-terusan marah. Rikin tetap dikasih makang siang dan sedikit uang. Rikin masih sering datang ke rumah dan Bapak juga ngasih dia kerjaan apa saja.
******
Isroi
Bogor, 07-07-2017

Penjual Ayam Goreng dan Gelandangan


Kisah-kisah yang menginspirasi saya


Ketika kuliah di jogja dulu saya kost di jalan Magelang. Saya biasa beli makan di warung-warung tenda yang ada di sepanjang jalan itu. Salah satunya di ayam goreng yang mangkal di depan ruko-ruko di daerah Kutu Asem. Malam hari selepas isya’ saya beli makan di warung tenda itu. Ketika sedang menunggu giliran dimasakkan, tiba-tiba ada gelandangan kumuh, pakainnya compang-camping, rambutnya gimbal, di tangannya membawa bungkusan tas kresek hitam dan badanya bau. Dia berdiri tepat di belakang saya. Dia hanya berdiri mematung, tidak berkata apa-apa. Matanya tertuju pada ayam-ayam goreng yang memang mengundang selera itu. Dari pandangannya saya bisa merasakan kalau ‘mungkin’ dia lapar dan ingin makan ayam goreng itu.

“Tambah satu lagi, Pak. Ayam gorengnya. Dibungkus, ya. Untuk orang ini. Saya yang bayarin”, kata saya, pakai bahasa jawa, pada penjual ayam goreng itu sambil menunjuk ke orang yang di belakang saya.

“Kangge tiyang niku?” tanya penjualnya.

“Inggih,” kata saya menegaskan.

“Mboten usah, mas. Tiyang niku pancen saben dinten teko mriki. Sampun biasa. Mpun mboten usah dibayari,” Katanya lagi.

Ternyata geladangan yang kurang waras itu memang setiap hari datang meminta jatah makan ke warung ayam goreng ini. Setiap hari penjualnya memberinya sebungkus ayam goreng menu lengkap, seperti yang biasa disajikan untuk pelanggan-pelangannya. Ayamnya yang gede dan enak, bukan ayam sisa atau yang basi-basi saja.

“Untuk sedekah saya, Mas. Satu bungkus tiap hari tidak akan membuat bangkrut warung ini. Malahah tambah laris.” katanya setelah menyerahkan satu bungkus ayam goreng ke gelandangan itu.

Sungguh, saya tidak bisa berkata apa-apa mendengar kata Bapak ini. Tiba-tiba saya merasa mengecil sekecil-kecilnya.

Subanallah. Semoga Allah menerima semua sedeqah Bapak penjual ayam goreng ini. Dan menggantinya dengan ganti yang lebih baik di dunia dan di akhirat.

Ibu Tua dan Anak Laki-laki Kecil

Semalam sekitar pukul 11.30 saya pulang melewati jalan Ciomas. Jalan yang biasanya macet ini terasa lenggang. Hanya beberapa motor, angkot dan mobil yang melintas. Saya naiki motor supra saya pelan-pelan.
Sampai di jembatan Ciomas dari kejauhan terlihat ada seorang ibu tua mengandeng seorang anak sesekali melambai ke kendaraan motor yang melintas. Tidak ada yang memperdulikannya. Ketika sudah dekat, ibu tua itu pun melambai ke arah saya dan berkata:
“mau numpang, pak!” serunya.

Awalnya saya juga tidak peduli, sekitar 50-an meter saya menepi dan berhenti. Saya perhatikan ibu-ibu itu tampak lelah dan berjalan gontai. Anak kecil yang berjalan disampingnya pun terlihat kelelahan. Lalu saya balik arah dan menghampiri si ibu.

“Ibu mau ke mana?” tanya saya
“Saya mau pulang ke sana,” Si Ibu menyebut sebuah nama desa, saya lupa detailnya.
“Di mana itu?”
“Ciper masih ke atas lagi”,
“Jauh…..itu, Ibu dari mana?”
“Saya baru dari Parung, jalan kaki sejak magrib tadi,”
“Lho kenapa ….?”
“Iya…kehabisan ongkos. Saya baru pulang dari uwaknya anak ini. Bapaknya sudah tidak ada, setiap bulan saya mengantarnya ke Uwaknya di Parung. Hari ini kehabisan ongkos dan terpaksa jalan kaki,”
“Dari Parung…..?????!!!!”

Si Ibu menggangguk sedih. Saya melirik ke anak laki2 kecil di sampingnya, wajahnya sayu dan sedih. anak itu pakai kaos ipin upin, celana pendek dan sandal jepit.
Parung jauh sekali dari sini 30-40 kiloan.

“Masya Allah…..”

Saya mengambil dompet saya, di dalamnya cuma ada beberapa lembar. Saya kasih ke ibu itu sebagian; sedikit ongkos untuk naik angkot.

“Ibu naik angkot saja. Ini sudah malam sekali.”

Ibu itu menerimanya tanpa berkata apa-apa. Seperti ada yang ingin dia ucapkan, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Matanya berkaca-kaca.

Saya segera beranjak pulang. Ketika itu saya tidak membawa apa-apa. Sampai di rumah saya masih kepikiran dengan anak kecil itu. Lalu saya mencari secarik kertas, saya tulisakan nama temen yang bekerja di lembaga zakat. Saya tuliskan nomornya di situ. Saya berharap anak kecil itu bisa mendapatkan hak-nya dari zakatnya orang-orang kaya.

Saya pacu lagi motor saya ke tempat saya bertemu dengan ibu dan anak itu tadi. Sayang sekali, jalanan sepi. Saya coba susuri jalan ciomas sejauh setengah kilo meter. Namun nihil. Mungkin Si Ibu itu sudah naik angkot ke Ciper.
Saya yakin ibu dan anak itu bukan pengemis. Saya hampir hafal pengemis dan pemulung yang beroperasi di sekitar perumahan saya. Baru pertama kali saya ketemu dengan ibu dan anak ini. Mereka orang miskin tidak meminta-minta dan perlu uluran tangan para muzaki. Saya hanya bisa berdoa; semoga Allah memberi kecukupan rizqi dan barokah pada ibu dan anak kecil itu. Amin Ya Robb Yang Maha Kaya.

Perpustakaan Sampah Pak RT Elan Pamoyanan Bogor

image

image

Jangan membayangkan kalau perpustakaan sampah isinya hanya sampah saja. Perpustakaan ini adalah perpustakaan di kampung yang kalau mau meminjam buku bayarnya pakai sampah. Pak RT Elan yang mempunyai ide ini. Lokasinya ada di RT 02/RW 12, Kp. Nagrok,  Kel. Pamoyanan, Kec. Bogor Selatan, Kota Bogor.

Pak RT Elan resah dengan kondisi di lingkungan RTnya yang kurang bersih dan kesadaran warganya yang masih kurang tentang sampah. Masih ada warga, terutama anak2 yang membuang sampah sembarangan. Kebun di depan rumahnya banyak sampah berserakan. Selokan air banyak sampahnya. Kampung yang rumahnya berhimpit-himpitan itu menjadi terlihat kumuh. Berbagai upaya untuk menyadarkan warganya belum juga membuahkan hasil.

Di kampungnya banyak anak2 usia sekolah. Sepulang sekolah mereka hanya main2 saja. Lalu muncul ide untuk mengisi waktu luang anak2 itu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan sekaligus merangsang kepedulian mereka tentang sampah. Lahirlah perpustakaan sampah ini.

Continue reading

99 + 1 = 0

99 + 1 = 0. Rumus yang menyalahi kaidah matematika. Tapi artinya dalam dan filosofis sekali. Rumus itu saya dapatkan dari sabahat baru saya, Pak Bambang S. Rumus yang jadi peringatan untuk mengarungi kehidupan ini.

Rumus itu didapatkan dari pengalaman hidup Pak Bambang sendiri yang penuh liku-liku. Pak Bambang orang yang hidup mapan. Kuliahnya di Amerika. Bekerja di tempat yang ‘basah’, tidak hanya sekedar ‘basah’ tapi ‘basah kuyup’. Punya istri yang baik dan cantik, dikaruniai anak-anak yang baik-baik dan pinter-pinter. Istrinya tipikal istri yang soleh, rajin mengaji dan haus akan ilmu agama. Seperti sempurna hidupnya.

Namun semua itu kemudian barubah. Secara lahiriyah, perubahan itu bukan perubahan yang ‘buruk’. Namun ini hanya permukaan luarnya saja.

Suatu hari istrinya, yang memang suka mengaji, belajar agama dan membaca, mendapatkan sebuah buku. Buku itu dicap oleh orang sebagai ajaran menyimpang, karena penasaran dia tetap menelaahnya sampai selesai. Menurut istrinya itu isinya bagus banget, buku yang mengajarkan kebaikan, suka menolong, banyak sedekah, rajin beribadah, dan semua perbuatan kebajikan yang lain. Istrinya semakin penasaran dan ingin ketemu langsung dengan yang mengajarkannya. Maka dia pun mencari alamatnya. Gampang dicari tinggal tanya mbah Google saja.

Kalau orang Jawa bilang ‘lha kok ndelalah’; kebetulan di tempat yang ditujunya itu istrinya bertemu dengan kawan sekolahnya dulu, bapak2 yang sudah lebih dulu mengikuti ‘ajaran baru’ ini. Singkat cerita istrinya kemudian akrif di pengajian dan pertemuan yang dilakukan oleh kelompok itu. Isinya baik semua. Bahkan baik banget. Orangnya juga baik-baik. Tidak melakukam kekerasan atau menyakiti orang. Istrinya semakin masuk ke dalam. Saking rajinnya beribadah sholat malam saja diwajibkan dalam kelompok itu. Dari ketiga anaknya dua orang akhirnya ikut masuk juga. Pak Bambang pun semakin binggung.

Setelah lama mulai kelihatan ‘penyimpangan-penyimpangannya’. Kemudian dia tahu syahadat kelompok itu diubah. Sekilas seperti tidak ada yang salah, artinya bener. Beberapa ibadah mulai ada ‘improvisasi’ dan ‘modifikasi’. Ujungnya yang memberi ajaran itu dindeklarasikan sebagai ‘nabi baru’. Pengikutnya banyak, bahkan sempat heboh di Indonesia. Dalam sejarah agama-agama samawi, nabi2 adalah laki-laki, kalau ini nabinya ‘wanita’. Kelompok ini percaya ‘akhir jaman’ sudah dekat, karena itu turunlah ‘nabi yang dijanjikan’ itu.

Kehidupan yang ‘sempurna’ itu akhirnya berubah. Biduk rumah tangganya pecah. Satu anaknya berhasil lepas dan ‘kembali’ ke jalan yang lurus. Mantan istrinya akhirnya menikah dengan laki2, kawan lamanya yang bertemu pertama kali di rumah ‘nabi baru’ itu.

****
Kisah ini dituliskan oleh Pak Bambang dalam sebuah buku. Bukunya belum diterbitkan karena banyak pertimbangan.

Godaan syaitan ternyata tidak hanya yang jahat-jahat saja. Syaitan mengoda dengan yang ‘baik-baik’, bagus-bagus, sholeh-sholeh. Godaan itu dibungkus dengan kebajikan-kebajikan. Namun, semuanya hanya ‘fatamorgana’ saja. Semua kebaikan itu hancur lebur dan tidak berbekas karena satu hal saja: akidahnya menyimpang. Tuhannya bukan Allah SWT, nabinya bukan Nabi Muhammad, dan kitabnya bukan Al Quran. Kasihan.

Bekicot Kecil Tinggal Di Hutan

Di sebuah hutan, pohon – pohon tumbuh lebat dan subur. Batangnya besar menjulang tinggi ke langit. Daunnya rimbun sekali. Ada satu pohon yang paling besar dan paling tua. Dia adalah pohon tua yang paling tinggi di hutan ini. Lingkar batang sebesar 10 lingkarang orang dewasa. Akar-akarnya besar menonjol seperti ular yang menjalar ke mana-mana. Kulit batangnya retak-retak dan berkeriput seperti kakek-kakek yang tua renta. Banyak lumut dan tanaman paku-pakuan yang tumbuh di batang pohon itu.

Di bagian bawah pohon itu terdapat lubang cukup besar. Lubang itu menjadi tempat tinggal keluarga bekicot; Ayah bekicot, ibu bekicot dan tiga orang anaknya. Bekicot yang paling sulung namanya Yan-yan, adiknya namanya Bim-bim dan yang paling kecil namanya Yo-yo.

Yan-yan adalah bekicot kecil yang kuat. Otot-otonya besar dan kuat. Dia suka olah-raga. Makannya paling banyak dan rakus. Apa saja dia makan. Kalau ada makanan di meja langsung disikatnya. Yan Yan suka tanaman. Tapi, Yan-yan tidak suka mandi dan gosok gigi. Keringatnya bau.

Bim-bim adalah bekicot yang periang dan lucu. Dia paling usil diantara saudara-saudaranya. Dia suka bercerita yang lucu-lucu. Bim-bim aslinya anak yang penakut, tetapi dia paling suka baca cerita horor. Bim-bim juga suka mengambar dan mewarnai. Tapi, Bim-bim agak pemalas. Sukanya tidur melulu dan susah dibangunin.

Yo-yo adalah bekicot yang periang, lucu dan pintar, tapi Yo-yo agak manja. Yo-yo suka membaca buku. Yo-yo suka mencari perhatian. Yo-yo juga suka dengan binatang-binatang. Yo-yo suka bercerita. Yo-yo kalau ngomong suaranya melengking kenceng banget. Apalagi kalau menangis suaranya mengagetkan seluruh penghuni hutan ini.

Suatu hari di pagi yang cerah Yo Yo bermain keluar rumah. Dia berlari-lari kecil sambil bernyanyi.

“Bersinar matahari
Wo … O … O
Wo … O … O”

Awal musim panas adalah saatnya jamur – jamur bermunculan. Ada banyak sekali jenis jamur di hutan ini. Ada jamur yang warnanya kuning seperti warna kuning telor. Ada jamur yang warnanya ungu. Ada jamur yang warnanya putih besar. Ada jamur yang warnanya abu-abu. Ada juga jamur yang warnanya merah totol-totol. Ada jamur yang enak dimakan, tapi ada juga jamur yang beracun.

“Aku akan mencari jamur. Kalau di masak pasti rasanya lezat sekali, ” kata Yo Yo dalam hati.
Sambil terus berdendang Yo Yo mulai mencari jamur di sekitar pohon besar itu. Yo Yo menyibak setiap rumput sambil mencari-cari kalau ada jamur yang tumbuh dibaliknya. Yo Yo juga mencari di sela-sela batu. Setelah mencari sekian lama. Akhirnya Yo Yo menemukan jamur.

“Horeeee ……. !!!!”

Yo Yo menemukan jamur yang berwarna kuning dan bentuknya seperti terompet. Jamur kuning ini tumbuhnya bergerombol banyak sekali. Yo Yo mencabuti jamur-jamur itu dan menaruhnya dalam keranjang. Pagi ini Yo Yo panen jamur. Keranjangnya penuh dengan jamur. Yo Yo senang sekali. Yo Yo beranjak pulang setelah semua jamur diambilnya.

Dari kejauhan Yo Yo melihat Yan Yan di dekat lubang.

“Yan Yan… Yan Yan….!!!! Lihat apa yang aku temukan!” teriak Yo Yo.

“Aku menemukan jamur kuning yang lezat!”

Yan Yan pun bergegas menghampiri Yo Yo.
“Mana – mana! Aku mau lihat!”
“Nih…. bayak, kan?”
“Woooowww, banyak sekali.”

Teriakan Yo Yo terdengar sampai ke dalam rumah. Bim Bim yang sedang malas-malasan di tempat tidur pun beranjak keluar.

“Wooowww…… banyak sekali. Aku mau. Aku mau ….!”

Mereka beramai-ramai membawa jamur itu ke dalam rumah dan menyerahkannya ke Ibu Bekicot yang sedang ada di dapur.

Coba Tantangan Ini; 2 Jam Saja Siang Hari Matiin Gadget

anak main gadget

Anak-anak asik dengan gadgetnya.

Pernah tidak Anda merasakan kalau sebenarnya kita sudah ‘dijajah’ oleh gadget? Entah itu smarphone, tablet, netbook, laptop, dan sebangsanya. Rasanya gadget tidak bisa lepas dari tangan kita. Main game, FBan, Twitteran, Googling, YouTube-an atau hanya sekedar berselancar di dunia maya. Banyak yang ketagihan, termasuk saya. Coba saja perhatikan kalau sedang meeting/rapat. Iseng-iseng coba hitung, berapa persen dari peserta rapat yang asik dengan gadget-nya. Coba perhatikan di jalan, berapa banyak pejalan kaki yang berjalan seperti zombie, asik dengan gadgetnya. Coba perhatikan di rumah, siapa-siapa saja yang tidak bisa lepas dari gadgetnya; kita sendiri, istri kita, anak-anak kita, atau bahkan pembantu kita.

Gadget memang di satu sisi banyak memberi manfaat bagi kita. Gadget telah memudahkan pekerjaan-pekerjaan kita. Gadget juga memberi pengalaman baru dan cara pandang baru dalam kehidupan manusia. Masalahnya, gadget membuat kecancuan baru. Ibaratnya manusia modern tidak bisa hidup tanpa gadget.

Banyak fonomena baru akibat kecanduan gadget ini. Misalnya, mulai bergesernya kehidupan sosial manusia dari ‘dunia nyata’ ke ‘dunia maya’. Ada orang yang memiliki banyak teman di Facebook, bahkan mungkin mencapai ribuan teman. Aktif berkomunikasi. Aktif bertegur sapa. Aktif bersendau gurau. Bahkan aktif berdebat. Tapi itu terjadi di ‘Dunia Maya’.

Pada kenyataannya di ‘dunia nyata’. Orang ini adalah orang yang suka menyendiri di kamar. Asik dengan komputer atau smartphonenya. Kalau di jalan juga asik main-main dengan gadgetnya. Kalau di kantor juga jarang bertegur sapa dengan teman-temannya. Uniknya, ketika bertemu dengan ‘teman di dunia maya’-nya itu di jalan. Mereka tidak bertegur sapa. Karena mereka tidak kenal secara fisik di dunia maya.

Saya pernah mengalaminya sendiri. Kebetulan saya aktif di salah satu group di Facebook. Ada teman dunia maya yang sering memberi komentar ke postingan-postingan saya. Dan saya juga tahu dia di dunia nyata. Pada suatu hari saya bertemu dengan dia dalam sebuah acara. Saya sok akrab dan mencoba mengajaknya ngobrol. E…..tidak tahunya dia malam dingin-dingin saja, bahkan seperti tidak mengenal saya. Bener-bener keki saya pada saat itu. Ternyata dia hanya ‘teman saya di dunia maya’ saja. Parah kan…..

Ada anak tetangga yang juga maniak gadget. Hari-hari sepulang sekolah, masuk kamar langsung main gadget. Entah main game atau main FB. Jarang sekali keluar rumah. Temennya di kampung juga sedikit. Ada satu dua temennya yang kadang-kadang ikut bermain di rumahnya. Main game juga.

Saya juga merasakan mulai ‘kecanduan’ dengan gadget. Bahaya. Saya mulai berfikir untuk mengendalikan ‘kecanduan’ ini. Saya yang ngatur gadget saya, bukan gadget yang ngatur saya.

Saya mencoba untuk bisa sedikit lepas dari ‘kecanduan’ gadget ini. Sebisa mungkin di siang hari ada waktu-waktu yang bebas dari gadget. Minimal dua jam saja. Tidak lama, kan. Saya coba tinggalkan gadget saya. Kalau perlu dimatikan. Saya ganti dengan aktivias lain, aktivitas di dunia nyata. Gadget dikembalikan ke fungsi dasarnya saja; komunikasi – telepon dan sms.

Saya coba juga untuk anak-anak. Karena mereka juga sudah mulai kecanduan gadget. Apalagi si Yusuf, kalau batterai iPadnya ‘low’ pasti teriak-teriak minta di-charge. Kalau koneksi internetnya lambat, teriak-teriak juga. Kakak-kakaknya juga lebih sama parahnya. Saya sadar ini tidak baik. Untungnya, istri saya cerewet untuk malasah ini. Tugasnya yang marah-marah dan melarang anak-anak agar terlepas dari gadgetnya. Saya melakukan pendekatan lain. Saya mencoba mencarikan alternatif kegiatan yang bisa membuat mereka terlepas dari kecanduan gadget.

10154183_10208320277752922_5128002523139139110_n
Di rumah ada banyak buku. Kami ajak mereka untuk membaca. Royan dan Abim saya minta mengajak adiknya untuk membaca buku dan bercerita apa saja tentang isi buku itu.

Kebetulan saya juga suka dengan tanaman. Saya ajak anak-anak untuk ‘bercocok tanam’. Kami juga punya projek kecil untuk ‘bercocok tanam’ ini.

Kami tidak punya pembantu. Jadi pekerjaan rumah dikerjakan secara gotong-royong. Pekerjaan ini cukup menyita waktu dan membuat capek. Aktivitas ini bisa mengurangi kontak antara kami dengan gadget.

Semoga langkah-langkah ini bisa membebaskan kami dari kecanduan gadget. Kami bisa terbebas dari jajahan gadget. Kembali ke kehidupan di ‘dunia nyata’.

permainan loncat tali anak-anak

Permainan loncat tali. Permainan yang menyehatkan, melatih fisik, dan kemampuan sosial anak-anak.

Yusuf dan Teman Barunya; Belalang Sembah

Abim dari dulu memang suka dengan binatang (baca di link ini: Mengajarkan Anak tentang Alam dan Binatang). Dia paling jago kalau menangkap binatang dan tidak takut dengan binatang sejak kecil. Kali ini dia mendapatkan anak belalang sembah. Dia bawa pulang belalang sembah itu dan diberikan ke adiknya Yusuf. Yusuf senang sekali, karena dia punya teman baru; Belalang Sembah.

Ibrahim sedang mengamati belalang sentadu/sembah

Ibrahim sedang mengamati belalang sentadu/sembah (fotonya abim tahun 2008)

Mungkin menurun dari kakak-kakaknya, Yusuf juga suka dengan binatang. Yusuf lebih imaginatif daripada kakak-kakaknya dulu. Yusuf senang sekali dengan teman barunnya ini. Dia ajak ngobrol terus belalang sembahnya. Yusuf memcoba memberi makan belalang sembah itu dengan daun-daunan. Ya…tentu saja belalangnya tidak mau, karena dia makannya belalang kecil yang lain, bukan daun-daun.

kid and mantis

Yusuf has a new pat, a mantis.

Belalang sembah berbeda dengan belalang-belalang yang lain. Belalan sembah termasuk hewan yang pemberani. Dia tidak takut dengan manusia dan tidak mudah lari jika dipegang. Bahkan dia cenderung menurut dan diam saja kalau kita pegang-pegang. Karakter belalang sembah ini cocok untuk diajak bermain-main dengan anak kecil. Mungkin bisa juga jadi pembelajaran untuk anak-anak PAUD atau TK.

Belalang sembah itu diletakkan di pohon bonsai yang kami milikki. Dia diam saja di situ dan tidak mau pergi. Cuma kami masih binggung belalangnya mau dikasih makan apa ya…???? Kalau siang hari belalang sembah itu diletakkan di luar rumah. Biar belalangnya bisa mencari makan sendiri. Kalau malam belalangnya dimasukkan ke dalam rumah. Alhamdulillah, sudah beberapa hari ini belalangnya masih setia jadi temannya Yusuf.

kid and mantis

Yusuf play with his mantis

kid and mantis

kid and mantis

mantis

Mantis

Blogging Resolution 2016

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang $ dari WordPress.com. Mengawali hari-hari baru di tahun 2016 ini saya punya banyak rencana terkait aktivitas blogging saya di isroi.com ini. Saya bukan lagi merasakan kebutuhan untuk menulis di blog, tapi sudah sampai pada taraf ‘ketagihan’. Banyak sekali ide-ide yang berputar di kepala saya dan ingin saya tuangkan dalam ketukan tuts keyboard di isroi.com ini.

Resolusi pertama saya untuk blogging adalah ‘TETAP MENULIS DAN MENULIS’. Menulis terus, kalau bisa setiap hari posting. Meskipun postingan itu hanya sepele saja dan cuma beberapa puluh kata saja. Atau mungkin hanya upload sebuah foto atau sebuah video. Dengan menulis saya tetap menjaga dan melatih agar otak saya tidak pikun. Maklum, umur terus bertambah tanpa bisa saya hentikan. Topik-topik yang akan saya tulis masih sama saja, hanya dalam beberapa topik saya akan lebih fokus dan lebih mendatail. Saya akan tetap menulis tentang kompos, pupuk organik, hormon tanaman, pertanian organik dan tanaman. Saya akan tetap menulis tentang limbah lignoselulusa, lebih khusus lagi tentang selulosa dan aplikasinya untuk bioplastik. Topik ini yang sedang banyak saya geluti dalam tiga empat tahun ke depan. Saya juga akan banyak menulis tentang pengalaman sehari-hari, pengalaman dengan anak-anak dan pengalaman-pengalaman saya yang perlu saya dokumentasikan sendiri. Saya juga akan terus memotret. Nah, yang agak baru adalah mulai tahun ini mungkin akan lebih banyak video-video yang saya tampilkan. Membuat video sederhana terasa mengairahkan daripada hanya sekedar menuliskan kata-kata saja. Video-video ini sementara saya upload di YouTube yang gratis dan saya ‘load’ ke halaman http://isroi.com ini.

Tahun lalu saya memposting 266 postingan setahun. Tahun ini target saya bisa dua kali lipat atau kalau bisa lebih banyak lagi dari postingan tahun sebelumnya. Memang berat dan tidak mudah. Tapi saya yakin bisa melakukannya.

Resolusi kedua adalah saya akan mencoba lebih banyak menuliskan sesuatu yang berguna dan bisa diambil manfaatnya oleh pengunjung blog ini. Saya berharap tidak hanya menuliskan keluh kesah dan curhatan saya sendiri saja. Saya ingin menuliskan sesuaitu yang tetap bisa diambil manfaatnya sampai kapan pun. Andaikan suatu saat nanti wordpress.com almarhum, saya berharap tulisan-tulisan saya ini tidak ikut-ikutan terkubur. Saya juga bermimpi jika blog ini bisa saya wariskan ke anak cucu saya. Blog ini akan terus berkembang dan terus on-line sampai kapan pun. Semoga.

Resolusi ketiga adalah lebih meningkatkan penjualan on-line. Awalnya hanya iseng-iseng saja 8 tahun yang lalu. Saya mencoba untuk menjual sesuatu di blog ini, yaitu: tikus putih, tikus hias, tikus jepang dan tikus SD. Ternyata laku. Banyak yang membeli tikus putih ini, bahkan sampai dikirimkan hampir ke seluruh penjuru Indonesia. Kemudian saya menambah item dengan menjual Biang POC, ZPT, dan pestisida nabati. Sampai saat ini yang berjalan lancar adalah Biang POC dan ZPT. Sedangkan pestisida nabati kesulitan dalam penyediaan bahan bakunya. Tahun ini saya ingin lebih meningkatkan penjualan on-line produk-produk saya. Saya masih menggunakan WP yang free. Saya berharap bisa membayar untuk yang premium atau bussines agar saya bisa menambahkan fitur-fitur penjualan dan bisnis on-line. Saya meyakini bahwa toko masa depan adalah toko on-line. Kalau sekarang masih ‘warung on-line’. Insya Allah.

Resolusi keempat adalah lebih meningkatkan pengunjung dan jumlah kunjungan ke blog ini. Pengunjung blog ini sudah cukup banyak, tapi masih kurang banyak lagi. Karena penduduk Indonesia yang demikian besar adalah pengunjung-pengunjung yang haus informasi on-line. Apalagi dengan penetrasi internet yag semakin gencar. Saya yakin masyarakat on-line Indonesia akan lebih banyak lagi. Di kampung saya saya sekarang sudah ada dua provider yang menyediakan layanan fiber optic. Layanan koneksi internet dengan bandwith yang lebih besar dan kecepatan yang lebih tinggi. Dalam setahun dua tahun ini, saya yakin perkembanganya akan semakin besar.

Hanya empat resolusi itu saja yang ingin saya lakukan dengan blogging di tahun 2016 ini. Semoga bisa terlaksana dan bisa tercapai target-targetnya. Insha Allah.