Category Archives: Organik

Trichoderma – Kapang yang Bermanfaat untuk Tanaman

trichoderma

Percobaan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan biji arabidopsis di cawan petri

Trichoserma sp sudah cukup lama dikenal sebagai salah satu bahan aktif biofertilizer dan biocontrol. Banyak spesies Trichoderma yang sudah terbukti bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman, melarutkan fosfat dan menghasilkan hormon tanaman. Beberapa spesies Trichoderma juga dikenal bisa menjagi agen antagonis untuk berbagai penyakit tular tanah. Contoh yang sudah cukup dikenal adalah penggunaan Trichoderma untuk pengedalian penyakit Ganoderma pada tanaman kelapa sawit dan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman komoditas lainnya.

Saya sedang iseng-iseng mencari literatur tentang Trichoderma dan menapatkan litratur baru yang menguraikan peranan Trichoderma oleh Lopez-Bucio et al 2015. Di dalam paper itu ditunjukkan salah satu percobaan untuk membuktikan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan benih Arabidopsis. Dan hasilnya sangat mencengangkan saya. Jelas sekali terlihat perbedaan pertumbuhan kecambah yang ada trichodermanya dan yang tidak ada trichodermanya. Ruar biasa.

Di dalam paper itu juga disebutkan beberapa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Trichoderma. Ada banyak sekali seperti yang ada di gambar di bawah ini.

Trichoderma

Metabolit yang dihasilkan oleh Trichoderma

López-Bucio, José, Ramón Pelagio-Flores, and Alfredo Herrera-Estrella. “Trichoderma as biostimulant: exploiting the multilevel properties of a plant beneficial fungus.” Scientia horticulturae 196 (2015): 109-123.

Advertisements

KEEFEKTIFAN BEBERAPA DEKOMPOSER UNTUK PENGOMPLOSAN LIMBAH SLUDGE PABRIK KERTAS SEBAGAI BAHAN BAKU PUPUK ORGANIK

KEEFEKTIFAN BEBERAPA DEKOMPOSER UNTUK PENGOMPLOSAN LIMBAH SLUDGE PABRIK KERTAS SEBAGAI BAHAN BAKU PUPUK ORGANIK

Abstrak
Sludge, a solid waste by-product of paper industry, is very useful as raw materials for organic fertilizer, since this material contains carbon, and others mineral such as nitrogen, phosphorus, and pottasium. This researh evaluated 128 treatments which is combination of32 decomposers and four types of media. Thirty two decomposer are combination of 5 selected isolates i.e. omphalina sp., agrayli sp., pholyota sp., T. Pseudokoningii, and unidentified fungsi isolated from basal stem of coconut, while four types of media were sludge, sludge +cocopit, sludge+manure, sludge+cocopit+manure. composting of sludge was conducted in bag log containing 0.5 kg dry weight of sludge. Optimim condition of composting of sludge was obtained by supplementing with manure in combination with the composer (Polyota sp. And mixture of omphalina sp.+agraylie sp.+ unidentfiied fungsi isolated from basal stem of coconut). This condition can enchaane the rate of composting process, showed by reducing dry weight of compost and C concentration, and the highest percentage of carbon reducing. Application of this organic fertilizer increase the growth, N and P

Serangga Sahabat Petani yang Memakan Serangga Hama

Tidak semua serangga menjadi hama untuk pertanian. Ada juga serangga yang menjadi predator bagi serangga-serangga hama yang lain. Salah satunya adalah lady bug atau kalau di jawa dinamakan Bapak Pucung. Serangga ini memakan telur-telur seranga hama dan membantu keseimbangan ekosistem agar tidak terjadi ledakan serangga hama yang bisa merugikan petani.

Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan akan mematikan semua serangga, termasuk seranggga-serangga yang baik ini. Bijaklah dalam mengaplikasikan pestisida kimia. Gunakan cara-cara alami yang lebih ramah lingkungan.

Dalam ekosistem yang seimbang, maksudnya antara serangga hama dan serangga musuhnya dalam jumlah yang seimbang, serangga hama tidak akan membuat kerugian pada tanaman-tanaman budidaya. Serangga hama itu jumlahnya sedikit dan hanya menyerang tanaman secukupnya saja. Kerugian akan terjadi ketika jumlah dan populasi serangga hama sangat besar sehingga banyak menyerang tanaman budidaya.

Cara Pengendalian Serangga Hama dengan Umpan Alami

umpan serangga alami

Umpan serangga alami dari keong dan sabut kelapa.

Cara ini saya dapatkan dari Wall temen di FB, Mas Wiwit Setyoko. Petani kita dari jaman dulu punya cara sederhana untuk mengalihkan perhatian serangga hama agar tidak menyerang tanaman padi atau tanaman yang dibudidayakan. Umpan serangga ini dibuat dari keong sawah atau keong emas sawah yang juga menjadi hama di sawah. Caranya, keong dipecah cangkangnya, lalu diletakkan di atas sabut kelapa tua. Umpan ini dipasang di atas kayu atau bambu dan ditancapkan di sudut-sudut sawah.

Dengan umpan ini serangga-serangga hama akan tertarik untuk datang dan bertelur di tempat ini. Secara berkala umpan ini diganti/diperbaharui sesuai kebutuhan.

Baca juga artikel tentang pestisida organik di link ini: Pestisida Organik/Nabati.

umpan serangga alami

umpan serangga alami

Pengaruh Kompos Terhadap Kesuburan Tanah – KTK

kompos jerami padi untuk sawah

Kompos jerami dengan aktivator Promi


Aplikasi kompos, pupuk kandang, atau pupuk organik padat sudah terbukti bisa meningkatkan kesuburan tanah. Aplikasi bahan organik yang sudah matang seperti ini akan meningkatkan efisiensi pemupukan maupuan serapan hara oleh tanaman. Aplikasi pupuk kimia akan lebih baik dan meningkat efisiensinya jika dikombinasikan dengan aplikasi pupuk organik/kompos/pupuk kandang.

Bagaimana ini bisa terjadi??

Salah satu jawabannya ada di buku “Produksi Sayuran di Daerah Tropika” karangan C.W. Williams, yang diterbitkan oleh UGM Press. Di dalam buku ini, di halaman 32 ditunjukkan hasil-hasil percobaan ilmiah yang melihat pengaruh penambahan bahan organik ke tanah terhadap nilai KTK (kapasitas tukar kation) tanah. Gambarnya ada di bawah ini:

bahan organik KTK

Pengaruh bahan organik terhadap nilai KTK, semakin tinggi bahan organik tanah akan semakin meningkat nilai KTK-nya.

Dari grafik hasil percobaan tersebut terlihat jelas bahwa bahan organik tanah berkorelasi positif terhadap nilai KTK. Artinya, penambahan bahan organik ke tanah akan linier meningkatkan nilai KTK tanah tersebut. Semakin banyak bahan organik yang diberikan akan semakin tinggi nilai KTK-nya. Nilai KTK ini mengambarkan kemampuan tanah untuk ‘memegang’ hara pupuk yang kita berikan ke tanah. Hara itu menjadi lebih mudah untuk diserap oleh akar tanaman dan tidak mudah hilang/tercuci.

Tanah-tanah yang miskin/kurus/tidak subur hampir dapat dipastikan memiliki nilai KTK yang sangat rendah. Misalnya saja, tanah berpasir. Efektivitas pupuk yang diberikakan juga sangat rendah. Hara-hara pupuk itu akan tidak dapat ‘dipegang’ oleh tanahnya, cepat hilang karena tercuci atau penguapan dan akibatnya sedikit yang bisa diambil dan diserap oleh akar tanaman.

Bahan organik seperti kompos memiliki muatan negatif di permukaannya. Hara di dalam pupuk umumnya bermuatan positif. Kalau positif ketemu negatif akan saling berikatan. Jadi, hara yang bermuatan positif itu akan dengan suka-cita untuk berikatan dengan muatan negatif yang ada di permukaan bahan organik. Bahan organik yang ditambahkan ke tanah yang miskin akan meningkatkan KTK ini.

Konsep KTK Tanah

Konsep KTK (Sumber Wikipedia)


(Sumber: Wikipedia)

Akar tanaman dalam menyerap hara dari pupuk akan melakukan ‘pertukaran’ kation. Hara-hara dalam bentuk kation yang sudah ‘dipegang’ oleh bahan organik ini akan dilepaskan dan diserap oleh akar tanaman. Kira-kira seperti itu ceritanya, kenapa pupuk kimia yang diaplikasikan bersama dengan pupuk organik akan lebih baik efisiensinya.

Aplikasi pupuk organik/bahan organik dalam skala yang besar biasanya tidak efisien, bulky, memerlukan jumlah yang sangat besar dan membutuhkan biaya yang besar juga. Salah satu cara untuk menyiasatinya adalah dengan pemberian di lubang tanam. Jadi tidak diaplikasikan ke seluruh lahan, hanya di lubang tanamanya saja atau hanya di guludannya saja.

Semoga bermanfaat.

Buku Produksi Sayuran di Daerah Tropika

Buku Produksi Sayuran di Daerah Tropika

Pengomposan Limbah Kulit Singkong dengan Promi

kompos kulit singkong promi

Pengomposan kulit singkong dengan Promi di Lampung

Artikel ini saya buat berdasarkan pengalaman petani cabe di Kota Gajah, Lampung, Bapak Wahyu. Sudah setahun lebih beliau menggunakan Promi untuk pengompsan limbah kulit singkong dan digunakan untuk memupuk tanaman-tanaman di ladangnya, terutama cabe.

Lampung adalah salah satu penghasil singkong terbesar di Indonesia. Di Lampung banyak sekali pabrik-pabrik tepung tapioka. Satu limbah pabrik tapioka yang melimpah dan tidak banyak dimanfaatkan adalah limbah kulit singkong. Limbah ini menggunung dan pabrik juga binggung mau diapakan. Bapak Wahyu menghubungi saya dan menanyakan bagimana cara memafaatkan limbah kulit singkong ini untuk kompos dan pupuk organik.

Awalnya beliau hanya mengomposakan dalam skala kecil saja, yaitu 5 ton atau satu rit truk. Hasilnya ternyata bagus. Saya sempat berkunjung sekali ke rumahnya. Alhamdulillah.

Sekarang, Pak Wahyu sudah mulai rutin mengomposakan kulit singkong dengan Promi dan dijadikan pupuk organik untuk tanaman cabe.

Artikel lain tentang pengomposan limbah organik dan kohe dengan Promi, silahkan lihat di link berikut ini: Promi.

kompos kulit singkong promi

Kulit singkong yang akan dikomposkan dengan Promi

kompos kulit singkong promi

Pengomposan kulit singkong dengan promi di Kota Gajah, Lampung


Continue reading

Metode Analisis Biologi Tanah (versi pdf)

Buku ini juga bisa didownload di link: Puslittanah

Bioplastik Tahan Air

bioplastik kantong air

Uji bioplastik untuk kantong air.

Salah satu permasalahan bioplastik adalah ketahanannya terhadap air. Bioplastik umumnya tidak tahan air, karena memang dari ‘sono’nya sudah suka air. Jadi kalau ada air, biplastik akan segera ‘mendekap’-nya. Akibatnya, penggunaan bioplastik jadi terbatas, banyak yang belum bisa digunakan untuk yang basah-basah. Sebagian besar digunakan untuk yang kering-kering saja.

Nah, berbagai penelitian dilakukan untuk meningkatkan kekuatan bioplastik agar lebih tahan air. Sifatnya yang ‘suka air’ dikurangi sebanyak mungkin, atau kalau bisa dibuat jadi ‘benci air’. Tidak mudah memang. Tapi ini tantangan luar biasa. Banyak cara dilakukan orang untuk membuat agar bioplastik jadi ‘benci air’.

Saya juga sudah mencoba berbagai macam cara agar bioplastik yang saya buat menjadi ‘tidak terlalu suka air. Setahun saya coba ini itu, hasilnya masih kurang memuaskan. Hari ini saya agak seneng sedikit, karena bioplastik yang saya buat sudah lebih ‘tahan air’. Sudah bisa dipakai untuk kantong air, meski belum kuat bener.

Lebih senengnya lagi, ini bisa dimakan. Jadi bahan-bahan yang saya buat adalah edible alias layak dimakan.

Tunggu kelanjutannya.

Pengujian Disintegrasi Bioplastik

Salah satu parameter bahwa material bioplastik bisa dinyatakan sebagai ramah lingkungan adalah bisa terurai secara biologis di alam. Ada beberapa metode pengujian yang diakui secara internasional, salah satunya ISO 20200:2015. Metode ini hanya menguji disintegrasi material bioplastik secara biologis dengan menggunakan sistem pengomposan terkontrol skala laboratorium.

Saya mencoba melakukan metode ini untuk beberapa sampel plastik dan bioplastik yang saya buat. Waktunya memang masih singkat hanya satu bulan saja, meskipun di standarnya perlu waktu kurang lebih 3-4 bulan. Meskipun belum sempurna banget, tapi hasil pengujian ini cukup memberikan harapan bahwa bioplastik yang saya buat bisa dikategorikan sebagai ‘ramah lingkungan.

bioplastik pengujian disintegrasi

Pengujian disitegrasi sampel bioplastik A dari sawit dalam kondisi pengomposan terkontrol skala laboratorium umur 1 bulan

bioplastik pengujian disintegrasi

Pengujian disitegrasi sampel bioplastik B dari sawit dalam kondisi pengomposan terkontrol skala laboratorium umur 1 bulan

bioplastik pengujian disintegrasi

Pengujian disitegrasi sampel bioplastik C dari sawit dalam kondisi pengomposan terkontrol skala laboratorium umur 1 bulan

bioplastik pengujian disintegrasi

Pengujian disitegrasi sampel bioplastik D dari sawit dalam kondisi pengomposan terkontrol skala laboratorium umur 1 bulan

Meski baru sebulan, dari foto-foto di atas terlihat bahwa bioplastik sawit sudah mulai terbiodegradasi. Saya menambahkan penguat dan ekstrak nabati antimikroba pada bioplastik ini. Penambahannay sedikit sekali, namun terlihat bahwa bioplastiknya lebih tahan terhadap biodegradasi oleh mikroba. Hasil ini menambah keyakinan saya, jika ‘keawetan bioplatik’ bisa diatur sesuai kebutuhan.

Saya juga mencoba melakukan hal yang sama untuk beberapa sampel bioplastik yang sudah ada di pasaran. Pertama adalah sampel yang ada logonya biodegradable bioplastik. Bioplatik ini berbahan baku utama pati-patian. Hasilnya, bioplastiknya masih utuh, namun sudah mulai ada proses degradasi.

bioplastik pengujian disintegrasi

Pengujian disitegrasi sampel bioplastik yagn sudah beredar di pasaran dalam kondisi pengomposan terkontrol skala laboratorium umur 1 bulan

Satu lagi sampel plastik ramah lingkungan yang saya peroleh dari supermarket setempat. Di logonya ada pernyataan eco label dan degradable. Hasilnya, plastik ini sama sekali tidak terdegradasi dan tidak ada tanda-tanda mulai terbiodegradasi.

bioplastik pengujian disintegrasi

Pengujian disitegrasi sampel degradable yang sudah beredar di pasaran dalam kondisi pengomposan terkontrol skala laboratorium umur 1 bulan

Presentasi Pengelolaan Sampah Warga