Tag Archives: pertanian

Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman

Kesuburan Tanah Nutrisi Tanaman

Kesuburan Tanah Nutrisi Tanaman

Banyak lahan yang produktivitasnya menurun/turun. Salah satunya karena kesuburan dan daya dukung lahan tersebut yang menurun akibat eksploitasi tanah bertahun-tahun. Meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha tani.

Buku setebal 240 halaman yang ditulis oleh Bp. Ali Munawar, Ph.D (dosen Unlam) ini membahas tentang kesuburan tanah dan hubungannya dengan nutrisi tanaman. Pembahasannya cukup lengkap dan detail yang terbagi menjadi 11 bab. Buku ini memang buku-nya anak kuliahan, tetapi buku ini sangat bermanfaat bagi petani, pekebun, formulator pupuk dan praktisi-praktisi di bidang pertanian. Buku ini bisa menjadi referensi yang sangat bermanfaat ketika menghadapi masalah pemupukan dan ketidaksuburan tanah.

Pupuk tidak asal memupuk saja, tetapi banyak faktor yang perlu diperhatikan agar pupuk lebih efisien dan optimum dalam mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman. Bagusnya buku ini juga membahas tentang bahan organik dan peranan mikroba tanah dalam penyerapan hara oleh tanaman.
Continue reading

Advertisements

Belajar Pertanian dengan Facebook

group pertanian cabe facebook

Facebook sering jadi ‘kambing hitam’dan lebih banyak disorot sisi negatifnya. Sebenarnya Facebook juga punya banyak manfaat. Ibaratnya pisau bermata dua, ada sisi positif dan ada sisi negatifnya. Kita bisa mengambil banyak sisi positif dari Facebook ini. Salah satunya adalah untuk belajar tentang pertanian.

Bagaimana caranya bisa belajar pertanian di Facebook?

Disadari atau tidak penggunaan Facebook sudah berkembang sangat pesat. Lebih dari hanya sekedar ‘microblogging’ atau ‘update status’ saja. Fasilitas group di FB membuka banyak peluang yang mungkin tidak pernah terpikirkan. Orang-orang yang memiliki minat yang sama kemudian membuat group-group FB tersendiri. Termasuk orang-orang yang bergerak di dunia pertanian. Ada banyak group-group tentang pertanian. Ada yang umum ada, ada yang spesifik, bahkan sangat spesifik. Misalnya saja: Komunitas Petani Cabe Indonesia, Petani Cabe Rawit Indonesia, Komunitas Petani Jahe Indonesia, Gabungan Petani Singkong Indonesia, Petani Kentang Dieng.

Saya mencoba untuk mendaftar ke group-group pertanian itu. Menariknya, anggota group-group itu sebagian besar adalah petani-petani. Ada juga sih yang pedagang, pedagang pupuk, pedagang bibit atau ‘pengembira’ seperti saya. Anggotanya pun mencapai ribuan. Ada yang sampai 50rb anggota. Luar biasa. Ada anggota yang masih ‘newbie’ ada yang sudah ‘expert’ alias ‘ahli’ dan ‘berpengalaman’.

Di sinilah menariknya komunitas-komunitas pertanian tersebut. Diskusinya menjadi konstruktif dan bisa menjadi ajang pembelajaran bagi petani. Contohnya saja. Ketika ada masalah mereka posting di Group. Foto-fotonya ditampilkan berikut sedikit keterangan. Anggota-anggota yang lain akan ikut membahasnya. Misalnya tentang penyakit. Akan banyak pembahasan di group-group itu. Intinya bagaimana mengatasi masalah penyakit itu. Apa obatnya, apa penyebabnya, bagaimana penanganannya. Masing-masing akan menyampaikan pengalamannya sendiri-sendiri. Jadi ada tips-tips dan cara-cara penangannan yang sudah teruji sendiri oleh petani. Bukan hanya omongan dari pedagang obatnya saja.

Kalau ada yang berhasil dan tanamannya subur-subur. Biasanya mereka juga akan upload foto-fotonya. Mereka kasih keterangan bagaimana resepnya agar tanamannya bisa tumbuh subur seperti itu. Pakai pupuk apa? Pakai obat apa? Benihnya dari mana? Jenisnya apa? Ditanam di daerah mana? Tinggi tempatnya berapa? Dan masih banyak informasi lainnya.

Petani-petani di Group ini saling berbagi ilmu dan pengalaman. Masing-masing akan saling belajar dan mengajari. Tidak pelit ilmu.

Saya rasa potensi ini harus dikembangkan dan didorong agar bisa lebih mau lagi. Ada banyak alasan group FB ini bisa berkembang di kalangan petani:
– petani-petani sekarang sudah kaya-kaya, HPnya minimal Android dan langganan pulsa internet.
– lintas wilayah dan lintas waktu. Tidak peduli tinggalnya di mana, asalkan ada koneksi internet bisa aktif di Group.
– anggota group bisa siapa saja, Menteri Pertanian pun kalau mau bisa jadi anggotanya.
– bisa jadi ajang jual beli langsung dari petani ke konsumen.
– bisa jadi sarana untuk cek harga dan menentukan harga komoditas pertanian.

Menurut saya Group di Facebook memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan Group di WA (saya tidak pernah punya BBM, jadi tidak bisa membandingkan dengan BBM):
– memudahkan posting foto, video, dokumen, link dan lain-lain,
– memudahkan untuk searching postingan-postingan yang lama-lama,
– bisa menambahkan artikel-artikel/dokumen di tempat khusus, sehingga memudahkan untuk membaca dan belajar.

WA juga memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh FB. Tapi lain kali saja dibahasnya.

Kalau Anda bergerak di dunia pertanian, siapa pun Anda, saya sangat menyarankan untuk ikut dan aktif bergabung di Group-Group dan komunitas di Facebook. Ada sedikit tip dari saya untuk memilih group atau komunitas di Facebook, karena ada puluhan mungkin ratusan group sejenis.

Pertama. Gunakan fasilitas searching/pencarian yang ada di Facebook. Gunakan katan kunci yang spesifik. Di halaman pencarian pilih tab Group. Facebook akan menampilkan semua group yang mengandung kata kunci tersebut. Di daftar itu ada informasi singkat yang bisa digunakan untuk memilih group Facebook, yaitu: nama group, keterangang singkat group, anggota dan teman-teman kita yang sudah menjadi anggota. Saya biasanya melihat terlebih dahulu informasi singkat dan jumlah anggota. Semakin banyak jumlah anggotanya, biasanya semakin aktif group tersebut.

group_cabe_facebook - 1 (1)

Langkah kedua, adalah melihat isi diskusi di Group Facebook tersebut. Kadang-kadang ada group yang isinya cuma iklan melulu. Nyebelin. Tapi ada group-group yang diskusinya aktif dan bergairah. Jadi cobalah untuk melihat-lihat dan scroll down sampai beberapa minggu sebelumnya. Jangan lupa juga untuk membaca peraturan Group. Dan file-file lain yang mungkin sudah ada di Group tersebut. Kalau Anda merasa cocok silahkan klik Join untuk meminta gabung di Group tersebut.

Setelah gabung sebaiknya Anda ‘kulonuwun’ dulu. Minimal mengucapkan ucapan terima kasih karena sudah diperbolehkan untuk gabung di group tersebut. Berikutnya cobalah untuk aktif. Jadilah pengamat yang sopan terlebih dahulu. Pelajari ‘adat-istiadat’ dan kebiasaan-kebiasaan di group tersebut. Kalau Anda sudah merasa cukup PD, cobalah untuk memposting sesuatu dan melihat bagaimana respon anggota group yang lain.

Biasanya setelah gabung kita akan menapatkan update dari Group ini. Amati dulu selama beberapa waktu. Kalau Anda tidak merasa betah di group ini. Tidak ada salahnya untuk keluar. Saya sering keluar group. Gara2nya sepele: terlalu banyak iklan, promosi, informasi yang tidak sesuai dengan group, dan banyak spammnya (pornografi). Sebel banget.

Potensi pemanfaatan Group Facebook ini belum banyak dieksplorasi oleh instansi-instansi pemerintah, seperti: penyuluh, kelompok tani, gapoktan, BPTP, Dinas Pertanian TK II atau TK I, Badan Litbang Deptan atau kementrian pertanian. Saya lihat ada beberapa group penyuluh pertanian, tetapi isinya bukan tentang dunia pertanian sendiri. Ada juga akun-akun Gapoktan, saya masih belum cukup aktif juga. Pemerintah perlu mendorong agar petani bisa memanfaatkan secara maksimal potensi belajar pertanian dari Group FB ini. Ini bisa jadi bahan kajian menarik bagi orang IT yang kerja di Badang Litbang atau Kementrian Pertanian. Bahkan juga bisa menjadi kajian atau penelitian bagi peneliti di lingkup Badang Litbang Pertanian sendiri. Sayangnya saya bukan ‘orang departemen pertanian’ atau ‘Badang litbang Deptan’. Jadi bisanya cuma ngasih saran saja dan berharap agar tulisan ini ada yang membacanya.

Semoga.

Uniknya Cabe di Indonesia

Cabe (foto dari BP4K Gresik)

Cabe (foto dari BP4K Gresik)

Kemarin saya bertemu dengan kenalan baru yang menekuni percabaian. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Malam-malam saya berkunjung ke rumahnya. Karena baru kenal, kami basa-basi seperlunya. Kemudian mulai dia cerita tentang percabaian. Boleh dibilang teman saya ini adalah kolektor bibit/benih cabe dan mulai bercocok tanam hidroponik.

Koleksinya tidak terlalu banyak dan tempatnya pun tidak terlalu besar. Ada sebuah Green House (GH) sederhana di depan rumahnya dan ada juga banyak bibit-bibit cabe yang baru ditanam dengan sistem hidroponik. Ada cukup banyak gelas-gelas bekas minuman yang dijadikan sebagi tempat menanam hidroponik. Menarik.

Saya jadi inggat, mungkin 25 tahun yang lalu, ketika itu masih SMA. Saya membeli sebuah buku hidroponik terjemahan. Sampul bukunya putih dan ada tulisannya Hidroponik. Saya tertarik membeli buku itu karena penasaran dengan pengantarnya, menanam tanaman dengan air. Kendala waktu itu adalah sarana dan prasarananya tidak banyak tersedia seperti sekarang ini. Saya paling sulit mendapatkan bahan-bahan kimia untuk media tanamanya. Alhasil, saya menyerah dengan sendirinya. Entah ke mana buku hidroponik itu sekarang.

Kami cerita ke mana-mana, ngalor-ngidul. Mulai dari pertanian, kondisi ekonomi kita, politik pertanian, tilang polisi dan tentunya tentang cabe. Nah, yang menarik adalah alasan kenapa dia tertarik menekuni cabe. Awalnya dia pernah mencoba menanam bermacam-macam tanaman. Mulai dari tanaman kehutanan, tanaman hortikultura, buah-buahan dan akhirnya cabai. Alasanya, karena cabe adalah komoditas yang unik di Indonesia. Harga cabe bisa gila-gilaan. Harga cabe bisa lebih mahal dari harga daging sapi di pasaran. Bahkan, ekonomi Indonesia pun bisa goyah kalau harga cabe memumbung tinggi.

Orang Indonesia memang seperti tidak bisa dipisahkan dengan cabe. Cabe memang bukan makanan pokok, tapi mayoritas orang Indonesia hampir selalu makan dengan cabe setiap hari. Masakan Indonesia hampir semua ada citarasa pedasnya. Bisa dibayangngkan jika cabe menghilang dari pasaran bagaimana rasanya masakan warung padang. Aneh sekali kan?

Harga cabe memang berfluktuasi mulai dari belasan ribu per kg sampai lebih dari seratus ribu per kilo. Menanam cabe juga tidak mudah, apalagi di musim penghujan. Cabe rentan penyakit dan hama. Cabe tanaman yang manja, harus diberi perhatian penuh. Kalau tidak bisa tidak panen.

Konon, ini menurut cerita dia, Indonesia juga kaya akan plasma nutfah cabe. Di Indonesia tumbuh tanaman cabe asli Indonesia dan ada juga yang cabe purba. Misalnya saja cabe jawa yang biasanya untuk jamu di Magelang. Termasuk tanaman cabe asli Indonesia, katanya. Masih banyak jenis-jenis cabe asli Indonesia yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Menarik.

Mesin-mesin pertanian sederhana di YouTube

Saya ingin mengumpulkan video-video di YouTube yang memuat tentang mesin-mesin pertanian yang sederhana, praktis, dan bermanfaat. Siapa tahu, mesin-mesin sederhana ini bisa menginspirasi orang-orang kreatif di Indonesia untuk membuatnya demi kemajuan pertanian Indonesia. Selamat menikmati.

Continue reading

Pelatihan Kultur Jaringan di PPBBI

Budidaya Jahe – ICAR – India


Baca juga:

Semuanya tentang Jahe
Pupuk Anorganik Khusus Jahe
Hormon/ZPT Giberelin untuk Jahe
Hormon/ZPT untuk Bibit Jahe
Hormon/ZPT untuk Menghambat Tunas Jahe
Penggunaan Mikroba Trichoderma sp untuk Tanaman Jahe


Pentingnya Biologi Tanah Terhadap Kesuburan dan Kesehatan Tanah

Melarutkan Hormon Auksin

Informasi hormon tanaman: Hormon Tanaman

Silahkan klik gambar di bawah ini jika Anda membutuhkan hormon tanaman/zpt.

hormon tanaman zpt

Hormon Tanaman/ZPT dari Bahan-bahan alami

hormon tanaman giberelin auksin sitokinin

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak lepas dari peranan hormon atau zat pengatur tumbuh (ZPT). Senyawa ini konsentrasinya sangat kecil, namun menentukan pertumbuhan maupun perkembangan tanaman. Ada tujuh golongan ZPT yang sudah dikenal, yaitu: auksin, sitokinin, giberelin, asam absisik, retardan dan etilen. ZPT saat ini banyak dimanfaatkan untuk Pupuk Organik Cair (POC)  maupun untuk penanaman tanaman dengan kultur jaringan.

Beberapa bahan alami ternyata mengandung ZPT dan bisa dimanfaatkan untuk merangsang pertumbuhan maupun perkembangbiakan tanaman. Penelitian  tetang ZPT alami umumnya dilakukan untuk kultur jaringan, namun saya yakin bisa juga digunakan secara langsung untuk tanaman. Golongan ZPT dari sebagian bahan alami tersebut sudah diketahui, namun beberapa diantaranya belum diketahui. Beberapa bahan alami yang mengandung ZPT alami adalah:

1. Air Kelapa
2. Ekstrak Tauge
3. Ekstrak Tomat
4. Cuka Kayu/Wood Vinegar
5. Asam Humat
6. Ekstrak Rumput Laut

Air Kelapa
Air kelapa mengandung hormon/ZPT Sitokinin, mineral dan senyawa organik lain, seperti 1,3 dipheniluea, zaetin, zeatin glukosida dan zeatin ribosida.

Ekstrak Tauge
Ekstrak tauge memiliki respon yang mirip dengan air kelapa. Ekstrak tauge juga banyak dimanfaatkan pada perbanyakan tanaman secara kultur jaringan.

Ekstrak Tomat
Ekatrak tomat ternyata tidak hanya baik untuk kesehatan manusia, ternyata juga baik untuk pertumbuhan tanaman. Ekstrak tomat pada penelitian in vitro/kultur jaringan memberikan respon tanaman yang baik.

Cuka Kayu/wood vinegar/asap cair
Cuka kayu dibuat dengan cara mengkondensasi asap hasil pembakaran kayu secara tidak langsung. Asap yang mencair ini disebut juga cuka kayu/wood vinegar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cuka kayu memiliki sifat antibiotik dan hormonal. Aplikasi cuka kayu menunjukkan respon yang positif untuk tanaman. Cuka kayu juga bisa digunakan sebagai pestisida nabati.

Rumput Laut
Rumput laut juga diketahui memiliki kandungan ZPT atau hormon tanaman yang lengkap, selain itu rumput laut juga memiliki kandungan hara mikro. Ada beberapa orang yang melakukan ekstraksi zpt dari rumput laut dengan pelarut organik, baik yang polar maupun non polar. Ekstrak rumput laut yang sudah dipekatkan, artinya kandungan zpt-nya dibuat tinggi, dihargai cukup mahal. Ada yang menjual ekstrak rumput laut 100 ml dengan harga sampai ratusan ribu.


Silahkan klik gambar di bawah ini jika Anda membutuhkan hormon tanaman/zpt.

hormon tanaman zpt

Catatan buku: Prinsip dan Teknologi Pertanian Organik, Prof. Agus Kardinan (editor)

Buku pertanian organik

Prinsip dan Teknologi Pertanian organik

Saya mendapatkan buku menarik tentang pertanian organik yang berjudul “Prinsip dan Teknologi Pertanian Organik” terbitan Badan Litbang Pertanian. Editor buku ini adalah Prof. Dr. Ir. Agus Kardinan, salah satu ahli pertanian organik dari Badan Litbang Pertanian. Bukunya cukup tebal, ukurannya A4. Menarik, kesan saya pertama kali mendapatkan buku ini.

Buku ini adalah kumpulan tulisan dari beberapa orang, terutama dari peneliti di Badang Litbang Pertanian. Artinya kredibilitas dari penulis maupun isinya bisa ‘dipegang’. Isinya cukup lengkap, mulai dari kebijakan pertanian organik di Indoneisa, prospeknya, prinsip pertanian organik yang ada di kepmentan, teknologi pestisida babati, pestisida hayati, cara praktis pembuatan pestisida nabati, aplikasi teknologi nano, dan juga kisah sukses pertanian organik. Menurut saya isi dan informasinya bagus dan bermanfaat. Namun, sayangnya buku ini lebih mirip monograph atau prosiding seminar. Kumpulan makalah yang ditumpuk dan di jilid.

Penulisannya juga bergaya tulisan ilmiah. Misalnya, bagian depan ada ringkasan eksekutif. Lalau di artikel-artikelnya ada abstrak, pendahuluan, dan ditutup dengan penutup dan daftar pusataka. Karena pada dasarnya adalah makalah terpisah terasa ada loncatan ide maupun gaya penulisan. Ada sebagian materi yang terasa diulang-ulang. Untuk pembaca awam atau praktisi pertanian organik, bahkan petani membaca buku ini terasa seperti makan roti afgan yang besar dan keras. Rotinya memang bergizi, tapi ngigitnya susah, apalagi mengunyah dan menelannya.

hormon tanaman giberelin auksin sitokininSaya juga agak sanksi dengan proses cetaknya. Sepertinya buku ini tidak dicetak tapi diprint dan langsung di jilid jadi buku. Saya khawatir kalau ketumpahan minuman atau kena air tulisannya bisa luntur. Sayang sekali.

Andaikan buku ini ditulis lebih populer, istilah-istilah teknis dan akademis dikurangi, lalu gaya bahasanya juga dibuat lebih santai, mungkin buku ini akan jadi seperti criping yang renyah dan membuat ketagihan.

Apa pun itu. Kalau Anda hobi pertanian organik, praktisi pertanian organik, atau pun pengamat saja, saya sarankan untuk memiliki buku ini.

Baca ulasan tentang beberapa buku di Catatan Buku