Category Archives: Kuliner

Cara Mudah Membuat Edible Bioplastik

Herbal Daun Bluntas: cara tradisional mengobati wasit/ambeien

Herbal daun bluntas; bisa untuk mengobati sakit wasir/ambeien luar.

Herbal daun bluntas; bisa untuk mengobati sakit wasir/ambeien luar.

Saya main ke rumah tentangga, Pak Yanto. Saya lihat di depan rumahnya ada tanaman yang saya kenal. Saya tanya ke Pak Yanto:
“Wit opo ki, Pak Yanto?” (Tanaman apa ini, Pak Yanto)
“Ooo… kuwi wit nggo tombo ambeien.” (ooo….itu tanaman untuk obat ambeien/wasir)
“Mosok tho….” (Massa sih)
“Koncoku ki loro ambeien. Njur diobati nggango godong wit iki. Lha ndelalah kok yo mari.” (Temanku itu sakit ambeien. Trus diobati pakai daun ini. Ternyata bisa sembuh)
“Carane yo mung dienggo lalap ngene wae.” (caranya cuma dengan dimakan sebagai lalapan saja)
Pak Yanto lalu mengambil satu daun dan dimakan.
“Rasanya enak tidak pahit.”

Saya kenal tanaman ini. Namanya adalah Bluntas atau Beluntas (Pluchea indica L.). Banyak ditemui di Jawa (jawa tengah jawa timur). Biasa digunakan sebagai lalapan atau disayur sop/lodeh. Rasanya enak dan tidak pahit. Daun Bluntas mudah di tanam. Tanamanya perdu, daunnnya lunak dan pingir-pingirnya bergerigi. Saya pernah juga menemukan tanaman ini di kebun percobaannya PKTH yang di Ciawi. Di Desa Balumbang Jaya, Bogor saya juga pernah menemukan tanaman ini di depan rumah warga. Kalau di tempat saya dulu, tanaman ini juga dikenal bisa menghilangkan bau badan, sama seperti khasianya daun kemanggi. Ternyata daun bluntas/beluntas juga bisa digunakan untuk mengobati sakit ambeien/wasir. Tanaman ini menjadi salah satu tanaman herbal kekayaan negeri ini.

Jika Anda kebetulan sakit ambeien/wasir, bisa mencoba memakan daun beluntas ini. Siapa tahu sakit ambeien/wasir Anda bisa segera sembuh.

Semoga bermanfaat.

Tanaman Obat Bermanfaat Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.)

Daun tanaman obat binahong

Daun Tanaman Obat Binahong. Seduhannya bisa menyegarkan tubuh.

Umminya Royan, diberitahu oleh tetannga saya, Bu Ujang tentang tanaman Binahong. Konon katanya daun tanaman ini bisa untuk obat bermacam-macam penyakit. Binahong bisa untuk mengobati luka. Kalau luka, daun binahong digerus dan dioleskan ke luka. Bisa juga untuk gatal-gatal/eksim. Ternyata seduhannya pun bisa untuk obat macam-macam. Teman saya Yudi Wahyudin yang kerja di dinas kesehatan, mengatakan kalau dia biasa minum seduhan daun binahong jika merasa tidak enak badan. Istrinya juga biasa melakukan itu. Dulu mereka biasa mengkonsumsi obat warung, sekarang sudah tidak lagi. Teman-teman saya juga bilang kalau seduhan daun binahong bisa untuk mengobati asam urat.

Cara membuat seduhannya sangatlah mudah. Caranya: ambil beberapa lembar daun binahong yang masih segar (5-10 lembar). Daun dicuci dengan air bersih. Ditiriskan. Kemudian diseduh dengan air mendidih. Setelah dingin, airnya diminum. Jika perlu bisa diminum pagi dan sore. Saya sih biasanya minum kalau sedang tidak enak badan saya. Sehari sekali sudah cukup.
Continue reading

Asal-usul Teh Wangi dan Teh Melati

kebun teh pasir sarongge

Di kebun teh Pasir Sarongge milik Pusat Penelitian Teh dan Kina

Siang tadi di sela-sela acara Workshop PUI saya ngobrol santai dengan Bu Oha (Dr. Rohayati), Kabid Riset Pusat Penelitian Teh dan Kina. Beliau cerita banyak tentang teh di Indonesia. Sampailah pada ceita tentang teh wangi melati.

Kalau diperhatikan, sebagian besar teh yang dikonsumsi di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah teh melati. Berbeda dengan teh yang banyak diminum di Sumatera atau di Jawa Barat. Kalau orang Jateng minum teh di Jabar akan terasa sedikit aneh. Orang Sunda lebih suka minum teh tawar bening. Oranf Jateng lebih suka minum teh tubruk yang super manis. Kalau di daerah Slawi, Tegal dan sekitarnya, teh diminum dengan gula batu; manis banget.

Bu Oha sedikit cerita tentang asal-usul dan sejarah teh wangi ini. Seperti yang kita ketahui, teh adalah tanaman yang diintroduksikan oleh kolonial Belanda. Mereka menanam teh di daerah jajahan mereka, salah satunya di Indonesia. Sejak jaman dulu teh adalah komoditas eksport. Teh yang dihasilkan dari perkebunan di Indonesia dikirim ke Eropa. Teh-teh yang dikirim ini adalah teh-teh2 yang berkualitas bagus.

Sisa-sisa produksi teh eksport ini yang hanya batang2 dan sisa2 daun yang sudah tidak laku. Ya… boleh dikatakan sampahnya lah…. Teh itulah yang diseduh dan dikonsumsi oleh budak2 pribumi di perkebunan teh. Karena kwalitasnya yang sangat jelek, citarasa tehnya pun sangat jelek. Kalau menurut bu Oha, sudah tidak ada rasa tehnya.

Nah, rupanya orang jawa cukup kreatif. Teh2 yang rasanya tidak jelas ini diberi tambahan aroma dan yang dipakai adalah bunga melati. Aroma melati harum dan wangi. Teh melati ini rupanya disukai oleh orang pribumi.

Continue reading

Uniknya Cabe di Indonesia

Cabe (foto dari BP4K Gresik)

Cabe (foto dari BP4K Gresik)

Kemarin saya bertemu dengan kenalan baru yang menekuni percabaian. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Malam-malam saya berkunjung ke rumahnya. Karena baru kenal, kami basa-basi seperlunya. Kemudian mulai dia cerita tentang percabaian. Boleh dibilang teman saya ini adalah kolektor bibit/benih cabe dan mulai bercocok tanam hidroponik.

Koleksinya tidak terlalu banyak dan tempatnya pun tidak terlalu besar. Ada sebuah Green House (GH) sederhana di depan rumahnya dan ada juga banyak bibit-bibit cabe yang baru ditanam dengan sistem hidroponik. Ada cukup banyak gelas-gelas bekas minuman yang dijadikan sebagi tempat menanam hidroponik. Menarik.

Saya jadi inggat, mungkin 25 tahun yang lalu, ketika itu masih SMA. Saya membeli sebuah buku hidroponik terjemahan. Sampul bukunya putih dan ada tulisannya Hidroponik. Saya tertarik membeli buku itu karena penasaran dengan pengantarnya, menanam tanaman dengan air. Kendala waktu itu adalah sarana dan prasarananya tidak banyak tersedia seperti sekarang ini. Saya paling sulit mendapatkan bahan-bahan kimia untuk media tanamanya. Alhasil, saya menyerah dengan sendirinya. Entah ke mana buku hidroponik itu sekarang.

Kami cerita ke mana-mana, ngalor-ngidul. Mulai dari pertanian, kondisi ekonomi kita, politik pertanian, tilang polisi dan tentunya tentang cabe. Nah, yang menarik adalah alasan kenapa dia tertarik menekuni cabe. Awalnya dia pernah mencoba menanam bermacam-macam tanaman. Mulai dari tanaman kehutanan, tanaman hortikultura, buah-buahan dan akhirnya cabai. Alasanya, karena cabe adalah komoditas yang unik di Indonesia. Harga cabe bisa gila-gilaan. Harga cabe bisa lebih mahal dari harga daging sapi di pasaran. Bahkan, ekonomi Indonesia pun bisa goyah kalau harga cabe memumbung tinggi.

Orang Indonesia memang seperti tidak bisa dipisahkan dengan cabe. Cabe memang bukan makanan pokok, tapi mayoritas orang Indonesia hampir selalu makan dengan cabe setiap hari. Masakan Indonesia hampir semua ada citarasa pedasnya. Bisa dibayangngkan jika cabe menghilang dari pasaran bagaimana rasanya masakan warung padang. Aneh sekali kan?

Harga cabe memang berfluktuasi mulai dari belasan ribu per kg sampai lebih dari seratus ribu per kilo. Menanam cabe juga tidak mudah, apalagi di musim penghujan. Cabe rentan penyakit dan hama. Cabe tanaman yang manja, harus diberi perhatian penuh. Kalau tidak bisa tidak panen.

Konon, ini menurut cerita dia, Indonesia juga kaya akan plasma nutfah cabe. Di Indonesia tumbuh tanaman cabe asli Indonesia dan ada juga yang cabe purba. Misalnya saja cabe jawa yang biasanya untuk jamu di Magelang. Termasuk tanaman cabe asli Indonesia, katanya. Masih banyak jenis-jenis cabe asli Indonesia yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Menarik.

Citarasa Unik dari Secangkir Minuman Kopi

biji kopi sangrai

Biji kopi sangrai

Masih mencoba mempraktekkan ajaran dari Pak Yusianto untuk menikmati minum kopi (Citarasa Kopi). Citarasa kopi bermacam-macam, ada citarasa yang enak dan ada citarasa yang tidak enak. Nah, ternyata di dalam minuman kopi juga ada citarasa-citarasa yang unik. Antara lain ada rasa seperti rasa buah; fruity. Ada juga citarasa seperti kacang, kalau Pak Yusi menyebutnya citarasa sambel pecel. Memang ada yang menyebutkan ada kopi yang bercitarasa kacang almond, kacang mede, dan kacang tanah.

Ada juga rasa manis seperti gula atau karamel. Setingkat lagi ada citarasa seperti madu. Konon, di NTT ada kopi yang memiliki citarasa honeys. Ada juga citarasa seperti rasa coklat. Saya masih agak susah mengenali citarasa ini. Kalau untuk citarasa karamel dan honey masih bisa menemukannya.

Salah satu syarat untuk dapat menikmati citarasa kopi ini adalah minum kopi tanpa gula. Kalau kopinya pakai gula, citarasanya akan tertutup oleh rasa gula.

Silahkan dicoba.

Belajar Menikmati Minum Kopi

Pak Yusianto Ahli Kopi

Saya dengan Pak Yusianto di Rumah Kopi Rannin, jl. Bangbarung. Saya banyak belajar dengan beliau bagaimana cara menikmati kopi. Beliau adalah ahli kopi, tapi bukan peminum kopi.

“Ada peminum kopi dan ada penikmat kopi,” kata pak Yusianto, salah satu tester kopi yang bersertifikat Internasional. Beliau menyampaikan itu waktu kami minum kopi di Rumah Kopi Rannin, jl. Bangbarung Bogor.

Tiga hari ini di kantor diselenggarakan acara pelatihan peningkatan citarasa kopi dengan teknik bioteknologi. Pembicara utamanya antara lain adalah Pak Dr. Surip Mawardi dan Pak Ir. Yusianto, peneliti senior di Puslit Koka. Mereka adalah para ahli perkopian. Mereka menyampaikan materi tentang citarasa kopi, pengenalan dan faktor2 yang mempengaruhi citarasa kopi.

Pak Yus dan saya diajak mampir ke rumah Kopi Rannin. Pak Yusianto diminta untuk mencicipi minuman kopi2 yang disuguhkan di sini dan memberikan komentarnya. Saya senang sekali, karena bisa dapat tambahan ilmu dari beliau.

biji kopi sangrai

Biji kopi sangrai

Secara umum memang ada dua tipe orang minum kopi, yang pertama peminum kopi dan penikmat kopi. Sebagian besar orang Indonesia adalah peminum kopi dan minum kopi untuk mendapatkan manfaat ‘melek’-nya. Sehari bisa minum dua sampai tiga gelas kopi. Kopi yang umum di pasaran lokal Indonesia adalah kopi robusta yang kandungan kafeinnya tinggi dan rasanya lebih pahit. Minumnya ditambah banyak gula biar rssanya manis. Sekali minum bisa langsung satu cangkir. Saya punya teman yang kalau tidak minum kopi rasanya lemes dan males.

Tipe kedua adalah penikmat kopi. Mereka meminum kopi untuk menikmati citarasa kopinya itu. Penikmat kopi biasanya minum kopi tanpa gula. Kopi yang dipilih kopi arabika atau kopi2 yang sudah terkenal citarasanya seperti kopi luwak, kopi gayo, kopi flores dan lain2. Saya belajar dari Pak Yusi bagaimana menikmati kopi dan mengenali citarasanya.

Kopi yang enak adalah kopi yang baru disangrai. Citarasanya belum banyak berubah. Kopi yang baru disangrai dan dihaluskan akan mengeluarkan bau yang khas. Bau ini namanya fragrance. Jika dicium, kopi akan mengeluarkan bau yang bermacam2. Baunya bisa seperti ada bau gulanya, madu, rempah2, kacang2an, atau bau jagung manis. Kopi yang enak akan berbau segar dan menyenangkan. Tapi kopi yang jelek akan berbau tanah, bau gosong, bau jamur/tengik dan lain2.

Setelah itu kopi baru diseduh tanpa diaduk. Kopi yang baru diseduh akan mengeluarkan aroma segar. Penikmat kopi pertama kali akan menikmati aroma ini. Aromanya juga bermacam-macam. Ada aroma seperti aroma buah, kacang2an atau rempah2. Selain itu ada juga aroma seperti gula/karamel dan coklat.

Setelah dinikmati aromanya baru diminum kopinya. Ketika diminum kopi yang enak akan meninggalkan citarasa di lidah. Rasanya tidak hanya pahit, ada rasa sedikit asam, sedikit manis dan sedikit sepat. Kopi robusta terasa lebih pahit dan tidak masam. Sedangkan kopi arabika terasa lebih masam dan tidak terlalu pahit. Kopi arabika lebih enak diminum dalam kondisi hangat.

Pak Tedjo, pemilik kopi Rannin, menyugguhkan beberapa kopi dengan berbagai cara penyeduhan/penyajian. Saya mencoba menikmati kopi2 ini. Memang terasa bedanya. Setiap kopi memiliki citarasanya sendiri2.

Sampai dirumah saya coba menyeduh kopi yang biasa kami beli di warung. Beda banget rasanya. Terasa sekali ada bau tanahnya, ada bau tengiknya, dan pahit banget. Minum kopi warung tidak enak kalau tidak pakai gula. Aroma dan citarasa yang kurang tadi akan tertutup dengan rasa gula yang manis.

Terima kasih, Pak Yus. Sekarang kalau minum kopi saya akan coba untuk menikmatinya.

Pak Yusianto, ahli citarasa kopi Indonesia.

Pak Yusianto, ahli citarasa kopi Indonesia.

Pangan Pengganti Nasi dari Kearifan Lokal Maluku

makan pisang pakai sambel

Menu pisang goreng yang dimakan bersama dengan nasi dan sayur. Makanan di sebuah rumah makan di Tobelo, Halmahera Utara. (Foto koleksi pribadi)

Bagi saya, kalau belum makan nasi serasa belum makan meski sudah banyak makan makanan lain. Sebagian besar orang Indonesia, terutama Indonesia bagian barat, memiliki tabiat yang sama. Karenanya, kita sangat tergantung pada makanan pokok nasi atau beras. Saudara-saudara kita dari Indonesia Timur sudah terbiasa makan makanan pokok selain nasi, yaitu: sagu, singkong, ubi dan pisang. Saya baru sadar setelah merasakannya sediri ketika berkunjung pertama kali ke Halmahera, Maluku.

Sagu sebagai makanan pokok sudah diajarkan sejak saya masih SD dulu, tapi saya baru tahu kalau sagu dimasak menjadi seperti lem yang disebut dengan papeda. Di sebuah rumah makan kami disuguhi makanan ini. Ketika pertama kali saya melihatnya yang terbayang dikepala saya adalah lem dari tepung kanji. Mirip sekali soalnya. Cara membuatnya juga sangat sederhana. Tepung sagu, diberi air panas lalu diaduk sampai mengental seperti lem.

Papeda dimakan seperti makan nasi. Papeda dimakan dengan sayur ikan, sayur terong, sayur daun ketela dan juga sambal. Makannya pun hanya dengan tangan. Bagi saya ini agak aneh, sulit mengambil papeda dengan tangah, soalnya ‘njedel’ seperi itu. Meski bagi saya sedikit asing dan aneh, tapi makan papeda ini enak juga.

Makanan pengganti nasi berikutnya adalah singkong rebus, ubi rebus dan pisang rebus. Singkong, ubi dan pisang ini direbus dengan menggunakan santan. Saya tidak tahu apa nama buah pisang yang dimakan ini, tapi buah pisang ini banyak mengandung pati. Cara makannya sama persis dengan jenis sayuran yang sama seperti makan papeda atau nasi. Kalau makan singkong dengan sayur ikan, tidak terlalu mengherankan bagi saya. Yang akan aneh adalah ubi dan pisang. Ubi dan pisang rasanya manis ditambah gurih dari santan kelapa. Ketika dipadukan dengan sayur ikan, ikan bakar dan sambal rasanya sedikit unik di mulut saya. Paduan rasa manis ubi dan pisang dengan gurih ikan dan pedas sambal.

Pisang ternyata dimakan dengan banyak makanan lain. Orang Maluku makan pisang dicocol dengan sambal dan kacang merah. Pisangnya disebut dengan pisang bebek, salah satu jenis pisang lokal yang terkenal di Maluku. Pisang yang dimakan dengan nasi ini adala pisang yang masih agak muda. Pisangnya juga banyak mengandung pati, jadi rasanya pulen dan mengenyangkan.

Rasanya saya perlu mencoba makan dengan cara ini di rumah. Saya akan coba minta istri saya sesekali makan singkong dan ubi dengan sayur.

Andaikan kebiasaan ini bisa ditularkan ke orang-orang di wilayah Indonesia bagian barat, mungkin diversifikasi pangan bisa direalisasikan. Pak Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail, sudah memulai untuk menggalakan makan pokok selain nasi. Kalau tidak salah, dalam sehari dicanangkan makan selain nasi.

Sayang sekali, saya tidak membawa HP ataupu kamera, sehingga saya tidak bisa tampilkan foto-fotonya.

Kuliner Unik dari Maluku Utara

makan pisang pakai sambel

Menu pisang goreng yang dimakan bersama dengan nasi dan sayur. Makanan di sebuah rumah makan di Tobelo, Halmahera Utara. (Foto koleksi pribadi)

Makan pisang dengan kacang merah. Makan pisang goreng dicocol pakai sambel, ikan teri, dan kacang merah. Makan ubi, singkong, dan pisang rebus dengan sayur ikan, sayur terong, dan sambal. Minuman jahe dengan gula aren, kacang kenari, pisang, dan sambel. Paduan rasa yang unik dan aneh di lidah saya.

(Sayang sekali, saya tidak sempat memotret makanan-makanan unik ini, karena waktu makan kamera dan hp saya tertinggal di tas)

Setiap berkunjung ke daerah baru salah satu yang menarik adalah makannya. Saya tidak suka mencoba makanan di resto2 besar yang terkenal. Saya lebih suka makanan-makanan tradisional yang unik-unik dan khas daerah setempat. Karena itu, ketika sampai di Maluku Utara masalah makanan jadi pertatian saya.

Malam saya dijamu di rumah dinas Kepala BPTP, Pak Andriko. Kita duduk lesehan bertiga dengan Pak Assegaf. Oleh istri Pak Andriko kita dijamu pisang goreng dan kacang.

Bu Andriko bilang jika pisang ini khas Maluku. Bentuk pisangnya seperti pisang Mas. Kacangnya juga khas daerah sana, kacang tanah merah. Yang lebih unik cara makannya. Katanya pisang ini paling enak dimakan sama kacang merah.

Kacangnya memang bener gurih. Dipadu dengan rasa pisang yang lembut dan sedikit manis rasanya jadi lain. Enak sih, tapi aneh saja bagi saya.

Buah pisang ternyata memiliki posisi penting dalam kuliner di Maluku ini. Ketika kita makan di sebuah restoran, menunya berisi: ikan bakar, kangkung, sambal ikan bakar, dan pisang goreng.

Tadinya saya berfikir jika pisang ini sebagai cemilan atau makanan penutup. Pak Assegaf mengajari saya kalau pisang ini dimakan dengan nasi. Dengan nasi.. ???? Pikir saya dalam hati.

Pak Assegaf menunjukkan caranya. Jadi pisang ini jadi seperti lauk nasi kita. Saya mencoba mengikuti cara makan Pak Assegaf. Rasanya enak juga. Unik.

Malam hari sebelum pulang, Pan Assegaf mengajak saya makan lagi di sebuah restoran yang cukup ramai. Meski terkesan modern, restoran ini juga menyediakan masakan tradisional.  Cara makannya prasmanan sepuasnya dan hartanya murah. Mantap nih. Kata saya.
Continue reading

Membuktikan Sendiri Khasiat Bawang Putih

Bawang untuk sambal

Bawang dibuat sambal

Sudah lama sekali saya tidak kena sariawan sejak saya minum kombucha bertahun-tahun yang lalu. Sesekali kena sariawan karena kegigit, atau kena kepalanya Yusuf. Sariawan model seperti ini cepat sembuh. Namun, seminggu ini saya benar-benar capek, banyak aktivitas, kurang tidur, dan akhirnya badan meriang dan mulut sariawan. Kalau cuma sehari sih tidak terlalu masalah, hampir seminggu masih terus meriang dan sariawan tidak kunjung sembuh-sembuh.

Saya tidak punya kombucha lagi. Jadi saya mesti cara alternatif untuk mengobati sakit saya ini. Saya jadi ingat kalau bawang putih banyak khasiatnya, termasuk mengobati sakit. Caranya, bawang putih ini dimakan mentah-mentah. Kalau perlu di-‘untal’ seperti makan pil. Tahu sendiri lah, bawang putih rasanya seperti apa. Sulit kalau saya mesti ‘nguntal’ bawang. Saya coba mencari cara makan bawang mentah yang lebih ‘nikmat’.

Saya jadi inggat, dulu Bapak pernah mengajari saya cara membuat sambal bawang. Resep sambal ala Bapak saya sederhana. Bawang putih dikupas kemudian dikeprek, cabai rawit potong kecil-kecil/rajang. Kalau Bapak pakai cabai merah yang super pedas plus cabai rawit hijau. Ditambah kecambah kacang hijau yang masih kecil-kecil dan segar. Semuda dicampur jadi satu lalu diberi kecap. Muantap sekali.

Sayang bahan-bahan ini tidak ada. Saya membuat sambal bawang mentah hanya bawang empat siung dan cabai rawit hijau beberapa buah. Semua saya uleg jadi satu. Tidak lupa saya tambahkan kecap manis cap tiga keong yang kami beli khusus dari Pati. Sambal ini adalah lauk utama makan malam saya. Agar lebik nikmat saya tambah ikan asin goreng kering dan lalapan.

Ketika cabai dan bawang menyentuh sariawan, rasanya ‘mak nyossss’, persis kalau sariawan diberi Abotil. Tapi, sakitnya cuma sebentar, setelah itu terasa lebih lunak dan lemes. Paduan bawang, cabai, ikan asin, kecap dan lalapan rasanya nikmat. Ada sensasi khusus yang selalu membuat ketagihan. Saya sempat nambah nasi sampai perut penuh.

Saya tahu, istri saya mungkin merasa nggak enak dengan bau mulut saya. Ngaak apa-apa lah, paling cuma sehari dua hari ini.

Esok hari sudah mulai terasa efeknya. Badan mering sudah hilang, karena saya kemarin minum banyak air putih dan istirahat cukup. Sariawan sudah tidak ‘kemeng’ lagi, dan terlihat sudah mulai sembuh.

Hari ini saya makan malam dengan sambal bawang mentah. Saya sengaja tambahkan banyak bawang, sampai empat lima siung. Saya harap ini akan memberikan efek yang lebih baik.


Saya sangat jarang minum obat. Sejak kecil saya diajarkan oleh orang tua, terutama Bapak, untuk tidak sering minum obat-obat. Saya memang ke dokter puskesmas pakai bpjs, tetapi hanya untuk minta surat keterangan sakit. Resep obatnya tidak saya ambil. Biar untuk orang lain saja. Saya lebih memilih cara-cara yang lebih ‘alami’, istirahat cukup, olah raga, dan jamu/herbal.