Tag Archives: Magelang

Kisah Se-kandi Salak

Ini kisah jaman saya masih kuliah dulu, antara tahun 94-95, ketika harga bensin masin Rp.700 perak per liter. Di Fatimah hanya saya yang bawa motor. Motornya RX King. Jaman dulu motor ini keren banget. Larinya kenceng dan paling disukai oleh para preman, copet, jambret dan bandit. Karena itu RX King punya julukan motor jambret.

Ceritanya waktu itu akhir bulan. Biasa, kalau akhir bulan persediaan uang sudah menipis dan saatnya pulang kampung untuk minta uang ‘sangu’ ke Bapak. Uangku tinggal Rp. 2000an. Hanya cukup untuk beli bensin 3 literan. Padahal untuk sampai di rumah, Magelang, butuh bensin 4 liter. Nggak cukup.

“Kamu mau pulang ya, Is?” tanya temenmu Agung Sundowo. Sama-sama penghuni Fatimah. Namanya Sundowo, karena Agung adalah anak blasteran Sunda dan Jawa. Mestinya namanya SUNDAWA, kenapa jadi SUNDOWO? Mungkin karena pengaruh logat jawa. Huruf A dibaca O. 

“Iya nih, Gung. Uangku sudah habis.” jawabku penuh kejujuran.

“Aku boleh ikut tidak? Aku pingin main ke rumahmu di Magelang.”

“Boleh. Ayo main ke rumah. Kalau mau besok siang kita berangkat.” ajakku.

“Lewat Banjarnegara tidak? Aku pingin nengok adikku di sana.”

“Boleh saja. Besok kita lewat Bajar.”

“Tapi ngomong2 kamu punya uang tidak, Gung?”

“Kenapa?”

“Uangku tinggal dua ribu. Nggak cukup buat beli bensin.”

“Ada sih, tapi nggak banyak juga.”

“Oke deh kalau begitu. Besok kita berangkat.”

Esok hari kita sudah siap2 berangkat. Setelah pamitan dengan para sesepuh kami di Fatimah; Mas Imung, Mas Ikhsan, Mas Yono dan teman-teman yang lain, kami berangkat.

“Bismillah”

Agung membonceng di belakangku dengan tenang. Di jalan saya mampir ke pom bensin dulu. Seluruh uang di sakuku saya belikan bensin semua. Dompet yang sudah langsing jadi semakin kempes. Harapanku hanya tinggal sisa uang sakunya Agung.

Darah muda. Aku mengendari motor dengan kencang. Aku bisa tarik gas penuh. Jalan antara Prembun sampai Bajar lurus banget. Gass pooollll. Jalanan masih sepi. Aku lihat speedometer jarum sampai menunjuk angka 125-135. Aku merasa jadi Michael Doohan. Goncangannya sangat keras. Kaca helmku sampai bergetar. RK King memang raja jalanan.

Agung mendekapku kencang. Mungkin dia ketakutan sambil nahan napas dan berdoa.

Sampai di Bajarnegara kami berhenti di masjid agung yang ada di depan alun-alun untuk sholat dhuhur. Selesai sholat kami siap-siap melanjutkan perjalanan lagi. Ketika mau berangkat, Agung seperti kebingungan. Dia raba-raba seluruh sakunya.

“Ada apa, Gung?” tanyaku penasaran.

“Dompetku tidak ada, Is.”

“Jatuh kali waktu wudhu tadi.”

“Nggak ada, sudah aku cari2.”

“Coba cari sekali lagi. Aku bantuin nyari.”

Kami mencari dompet itu ke sana ke mari. Hasilnya nihil.

Hanya uang di dompet itu yang menjadi harapanku untuk bisa sampai rumah.

“Bagaimana nih, Is?”

Nasip….. nasip…. jengkel bercampur marah. Rasanya pingin aku pukuli maling dompet itu. Tega-teganya nyuri dompet mahasiswa miskin seperti kami.

“Kita coba pinjam ke adikku saja, Is. Mungmin dia punya uang.” Agung menawarkan ide.

Singkat cerita, kami mampir di rumah bibinya Agung. Adiknya tinggal di sini. Kami disambut dan dijamu di rumah bibinya Agung.

“Dik, kamu punya uang tidak? Aa pinjam dulu. Dompet aa hilang tadi di masjid.”

“Aku nggak punya uang, A!”

Agung pingin pinjam ke bibinya, tapi tidak berani bilang.

Kalau tidak beli bensin lagi, kami tidak akan bisa sampai Magelang. Baru setengah perjalanan. Mau balik ke Purwokerto bensinya juga tidak cukup. Kami berunding cukup lama untuk mencari jalan keluar. Hasilnya nihil.

Akhirnya kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun kami tidak yakin dan belum tahu bagaimana caranya agar bisa sampai ke Magelang.

Rupanya bibinya Agung sudah menyiapkan oleh-oleh. Banjarnegara adalah kota salak. Bibinya Agung punya kebun salak. Kami diberi oleh-oleh buah salak sekantong penuh. Kantong bekas beras. Kami menyebutnya kandi. Alhamdulillah.

Kami meneruskan perjalanan menuju Wonosobo. Jarum bensin sudah hampir mepet ke bawah. Habis. Kami tidak bawa uang. ‘Harta’ yang kami punya hanya buah salak itu. Tapi buah salak di kota ini harganya murah banget.

“Bagaimana nih, Gung, Bensin habis.”

“Kita jual saja salak ini. Uangnya bisa buat beli bensin.”

” Tapi di sini salak murah. Uangnya nggk cukup.”

“Atau kita tukerin aja salak ini dengan bensin. Mungkin ada yang mau.”

“Kita coba saja.”

Sambil jalan pelan-pelan kami mencari penjual bensin eceran. Kami ketemu penjual bensin. Dengan malu-malu kita mau menukarkan salak dengan bensin. Penjualnya tidak mau.

Kecewa dan sedih bercampur jadi satu. Kami terus berjalan. Setelah melewati jembatan yang berkelok, ada penjual bensin lagi. Penjualnya ibu-ibu. Kami memberanikan diri untuk menukarkan buah salak dengan bensin.

“Nyuwun sewu, Bu. Bensinne kulo telas.”
“Pinten liter nak?”
“Anu Bu. Nyuwun sewu, nangging kulo mboten gadah yotro.”
“Lho njur pripun mbayare?”
“Anu Bu. Dompette kulo kecopetan wonten Banjar wau. Pas sholat wonten engkan mendet dompette kulo.”
“Pripun nggih..??”
“Anu, Bu. Menawi angsal, bensine kulo kintun kaliyan salak. Wonten sekandi niki.”
“Lha arep milih ngendi sampeyan niki?”
“Megelang, Bu.”
“Tasih tebih ngoten?”
“Lah nggih, Bu. Bensine kulo telas.”
“Perlune pirang liter?”
“Kalih liter, Bu”
“Yo wis kene tak isine.”
“Matur sembah nuwun sanget, Bu.”

Mungkin karena kasihan, ibu penjual bensin itu memberi kami bensin dua liter yang dibayar dengan buah salak satu kandi.

Setelah mengucapakan terima kasih berkali-kali kepada ‘malaikat penolong” kami, kami melanjutkan perjalanan ke Magelang. Jaraknya masih 80 km lagi. Lewat Temanggung, Secang baru sampai Magelang.

Alhamdulillah. Kami selamat sampai rumah. Kami tidak akan pernah lupa pengalaman ini. Semoga Allah membalas kebaikan ibu penjual bensin eceran itu.

******
Ternyata dompet Agung tidak dicuri orang. Tapi jatuh di daerah Purbalingga. Ada orang yang menemukan dan mengirimkan balik ke Agung dengan utuh. Alhamdulillah.

Advertisements

Gang Jambon Gesikan Magelang yang Cantik

Jambon Gesikan Magelang - 1

Gang di Jambon Gesikan Magelang yang asri dan cantik. Banyak bunga-bunga di sisi jalan.

Jambon Gesikan Magelang - 1

Gang di Jambon Gesikan Magelang yang asri dan cantik. Banyak bunga-bunga di sisi jalan.

Jambon Gesikan Magelang - 1

papan peringatan

Jambon Gesikan Magelang - 1

Gang di Jambon Gesikan Magelang yang asri dan cantik. Banyak bunga-bunga di sisi jalan.

Jambon Gesikan Magelang - 1

Anggrek di tempel di dinding-dinding jalan. Jambon Gesikan Magelang .


Continue reading

Bus Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Pesawat terbang adalah salah satu sarana transportasi yang paling banyak dipakai untuk pergi dari satu kota ke kota lain secara cepat. Tarifnya pun semakin lama semakin murah dan terjangkau. Pesawat hanya mengantarkan penumpang dari satu bandara ke bandara lain. Masalahnya bagi penumpang adalah transportasi dari dan ke rumah – bandara. Untungnya saat ini ada Bis Damri khusus angkutan bandara. Salah satunya yang ada di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Kalau Anda datang ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dan akan melanjutkan perjalanan ke kota lain di sekitar Yogyakarta; Magelang, Secang, Temanggung, Purworejo, Kebumen, Wonosari, yang paling murah dan cepat adalah naik Bis Damri Angkutan Khusus Bandara. Jadwal Bis Damri adalah setiap jam, mulai pukul 4 pagi sampai pukul 8 malam dari Yogyakarta. Tarifnya pun cukup murah, berkisar dari Rp. 50rb – Rp. 75rb. Lihat foto tarif di foto berikut ini.

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Tarif Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Tempat parkir Bis Damri agak sedikit jauh dari Bandara. Kalau keluar dari Bandara, ikuti saja ke arah KELUAR atau PARKIR Mobil. Melewati jalan lorong bawah tanah menuju ke tempat parkir mobil bandara. Keluar dari pintu ke tempat parkir itu adalah tempat poolnya Bis Damri.

Jurusan Bis Damri Angkutan Khusus Bandara Adi Sucipto adalah:
– Magelang
– Secang
– Temanggung
– Purworejo
– Kebumen
– Wonosari
– Borobudur

Kalau di Magelang, pool bis Damri Angkutan khusus bandara ada di Hotel Wisata yang di dekat Jalan Ikhlas atau terminal lama Tidar. Jam 4 pagi sudah ada bis yang berangkat menuju ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Keberadaan bis ini sangat membantu penumpang. Tarifnya jauh lebih murah daripada naik taksi atau sewa mobil. Posisinya yang agak jauh juga agar tidak konflik dengan taksi dan mobil omprengan.

Sugeng Tindak Simbah Kakung

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.


Simbah, begitu biasanya kami memanggilnya. Nama lengkapnya Simbah Amat Dakwan. Simbah lupa tanggal dan tahun lahirnya. Yang beliau masih ingat adalah ketika sekolah SR (Sekolah Rakyat) pada tahun 1908. Mungkin usianya ketika itu sudah 8-9 tahunan. Simbah hanya lulus SR saja tidak melanjutkan sekolah lagi. Simbah kemudian nyantri di pesantren di ‘kulon progo’ (desa di seberang barat kali progo yang ada di desa Kedungingas).

Simbah tinggal di desa Kedungingas. Pekerjaannya adalah tukang kayu dan bertani. Beliau pernah kerja jadi tukang kayu di beberapa kota di Jawa, bahkan katanya pernah sampai ke Jakarta. Kalau musim tanam, biasanya awal musim penghujan, simbah kerja menggarap sawahnya. Mengolah tanah dan menanam padi. Selesai tanam simbah kembali jadi tukang kayu, yang mengurus sawahnya adalah simbah wedok.

Aku lahir di rumah Simbah. Konon katanya Simbah juga yang memberiku nama ISROI. Waktu kecil aku sering pergi ke rumah Simbah. Jaraknya dari rumahku cuma sekitar 2 km. Biasanya aku pergi dengan temen-temen naik sepeda BMX. Menyusuri kali Bening sampai ke desa Nepak. Dari Nepak turun ke Kedungingas. Di rumah Simbah ada pohon rambutan, duku dan mundung. Dulu di sawah juga ada pohon mangga. Kami paling senang ke main ke rumah Simbah apalagi kalau lagi musim buah.

Ketika SD dulu aku juga diajari simbah pencak silat. Kalau malam minggu aku nginep di rumah Simbah. Aku, Bambang dan Joko yang biasaya ke desa. Kami bertiga diajari pencak oleh Simbah. Tapi, karena Simbah sudah sepuh, keseimbanganya kurang, beliau juga sering kelihatan capek. Mungkin karena siangnya kerja di sawah. Lama-lama aku kasihan sama Simbah. Ketika lulus SD, aku masuk ke perguruan silat Kembang Setaman, anak perguruan SH. Latihannya di Stadion Abu Bakrin setiap minggu pagi.

Simbah hidup sangat sederhana. Rumahnya dari kayu dan bambu. Di depannya ada dipan bambu yang dibuatnya sendiri. Simbah cerita, kalau dulu punya anjing. Simbah tidak sengaja memeliharanya. Ceritanya, simbah malam-malam pulang dari kota Magelang. Pulangnya jalan kaki lewat pekuburan Giridarmoloyo (kami biasanya menyingkatnya menjadi Goriloyo). Ketika di tengah kuburan itu ada anjing yang mengikuti Simbah. Simbah menghalau anjing itu agar pergi. Tapi anjing itu tetap saja mengikuti Simbah sampai rumah. Akhirnya, karena tidak mau pergi Simbah bilang sama anjing itu:
“Nek kowe pingin melu aku, kudu nurut aku.”
“Kowe turu wae nang kene.” Sambil menunjuk ke dipan bambu itu.
“Ora oleh mblebu oman.”
Simbah adalah muslim yang taat. Tidak suka memelihara anjing. Meski tidak suka anjing, simbah tetap memelihara anjing itu. Tiap hari selalu diberi makan oleh Simbah lanang atau simbah wedok. Anjing itu jadi penjaga rumah. Kalau siang pergi dan kalau malam pulang ke rumah. Sampai suatu ketika anjing itu pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Simbah juga pernah punya burung perkutut. Burungnya bagus dan ‘manggungnya’ bagus. Kalau ada orang pasti ‘manggung’. Kalau didekati ‘manggung’ juga. Simbah sangat menyayangi burungnya itu. Karena bagus, burung itu disukai orang dan ingin dibelinya. Simbah berat hati menjualnya, tapi karena sedang butuh uang. Burung perkutut itu akhirnya dijual juga.

Keahlian simbah sebagai tukang kayu banyak membantu bapak. Semua kusen dan kayu-kayu ketika membantun rumah yang mengerjakan Simbah dan Lik Pangat. Meja-meja warung Bapak yang membuat juga Simbah. Sampai sekarang masih bagus dan kuat.

Simbah orangnya suka bercanda. Kalau ditanya umurnya, simbah bilang:
“Umurku songolas tahun,” sambil ketawa-tawa.
Kami menyahutnya, “Ning ongkone di walik tho, Mbah?”
Kami pun ketawa bersama-sama.

Simbah sangat rajin beribadan, mengaji dan sholat. Setiap waktu sholat hampir selalu di masjid. Meskipun simbah sudah sangat sepuh sekali. Simbah masih rajin mengaji dan membaca Al Qur’an. Ketika pandangannya sudah mulai rabun dan pendengarannya berkurang, simbah mulai jarang membuka Al Qur’an. Kami belikan Al Qur’an yang ukurannya besar, biar mudah dibaca oleh Simbah.

Masih segar dalam ingatanku, simbah selalu menasehati aku dengan nasehat yang selalu diulang-ulang.
“Kowe ojo lali sholatte lan ngaji moco Quran.”
“Arepo kowe tekan ngendi-ngendi wae ojo lali sholat yo!”
“Tak dongakke kowe lan keluargamu sok ben iso munggah kaji nang mekah kono.”
“Amin…ngih, Mbah….”

“Aku wis ora pingin opo-opo. Aku wis tuwo. Mung kepingin ‘khusnul khotimah’ wae.”
“Aku ora pingin duwit opo sandang pangan sing enak. Ora.”

Meski sudah sepuh, simbah sangat sehat dan tidak pikun. Makannya banyak, apalagi kalau pakai sambel dan ikan. Meski giginya sudah banyak yang ompong, simbah tetap lahap makannya.

Simbah juga jarang sakit. Paling sakit masuk angin saja. Pernah beliau sakit parah beberapa tahun yang lalu. Di bawa ke rumah Jambon dan tidur di kamarku. Kami menyangka ini ‘sudah waktunya’ simbah. Alhamdulillah Simbah sehat lagi dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Setahun yang lalu simbah juga sakit parah. Sudah lupa semuanya dan sudah tidak bisa apa-apa. Kami sudah pasrah, kalau Simbah mau ‘dipundut Sing Kuoso’. Alhamdulillah simbah kembali sehat. Waktu saya telepon ke adik saya,
“Piye kabar Simbah”,
“Alhamdulillah sehat wae, malah wingi bar seko Jambon.”

Minggu yang lalu, hari kamis malam, sepulang kerja. Seperti biasa kami sholat magrib di masjid dan pulang ke rumah sambil menghafal Al Qur’an. Saya buka laptop saya. Tiba-tiba ada ‘notification’ dari Facebook kalau adik saya men-tag sebuah foto. Sangat jarang adik saya men-tag foto, karena itu saya buka linknya.
Adik saya memposting foto lama simbah dan ada tulisannya; Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Seperti disambar geledek. Langsung saya telepon ke adik.
“Ono opo, Ngek?”
“Simbah sedo” jawabnya singkat.
Innalillahi wa innailaihi rojiun, ucap saya lirih.

“Mau awan jam siji.”
“Lha saiki piye, wis disarekke durung?”
“Wis, iki bar rampung wae, mau jam limo sore.”
“Aku mau telpon kowe ora iso-iso.”

Saya sangat dekat dengan Simbah. Setelah Bapak ’tilar’, Simbah lah yang saya anggap sebagai orang tua penganti Bapak. Sangat sulit saya menceritakan bagaimana perasaanku waktu mendengar kabar ini. Dulu ketika Bapak ’tilar’, saya tidak sempat menunggui dan pulang. Kini, ketika simbah ’tilar’ saya juga tidak bisa menunggui dan pulang.

Tapi saya bangga dengan Simbah. Beliau ‘sedo’ dengan kondisi baik. Hanya sakit biasa dua hari saja. Insha Allah, khusnul khotimah seperti yang selalu beliau inginkan.

Nasehat Simbah selalu tergiang di telinga saya. Karena nasehat itu selalu diucapkan beliau sejak aku masih SMA dulu sampai sekarang. Nasehatnya sama terus dan diulang-ulang.
Simbah menjadi suritauladan saya; kesederhanaan Simbah, keistiqomahan Simbah, kepasrahan Simbah, ke-itmi’nan beliau, ke-qona’ahan Simbah.

Sugeng Tindak Simbah.

simbah kakung

Foto kenangan terakhir bersama Simbah Kakung ketika lebaran 1436H/2015. Simbah masih sehat wal afiat.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang - 1 (1)

Simbah Kakung Magelang - 1 (2)

Simbah Kakung Magelang - 1 (3)

Simbah Kakung Magelang - 1 (4)

Simbah Kakung Magelang - 1 (5)

Simbah Kakung Magelang - 1 (8)

Simbah Kakung Magelang - 1 (9)

Simbah Kakung Magelang - 1 (10)

Membalik Energi Negatif Menjadi Energi Positif

Ini cerita jaman dulu waktu aku masih SMP. Perasaan marah, dendam, jengkel, mangkel yang membuatku dapat NEM terbaik di sekolahku.

Aku sekolah di sekolah ‘pinggiran’. Ketika SD aku sekolah di SD Inpres Cacaban 2 di kaki gunung sukorini. SD Inpres adalah konotasi untuk SD pinggiran. SDku sekarang sudah “almarhum”. Nilai sekolahku biasa2 saja, tidak cukup untuk masuk sekolah negeri. Akhirnya aku terdampar di sekolah SMP “luar negeri” alias SMP swasta; SMP Purnama Magelang. Sekolahnya “ndompleng” di SMP N 5. Masuknya siang, ketika anak2 SMP Negeri sudah pulang. Jaraknya dari rumahku 3-4 km. Aku ke sekolah naik sepeda.

Continue reading

Tips Membeli Oleh2 Getuk Magelang

image

Getuk Magelang warisan Mbah Ali Gondok

Entah sejak kapan kota Magelang terkenal sebagai kota Getuk. Padahal toko penjual getuk di Magelang tidak sebanyak penjual getuk goreng di Sokaraja. Ada banyak pilihan getuk Magelang. Anda bisa pilih yang tradisional atau yang sudah dikemas modern.

Getuk Magelang punya ciri khas yang beda dengan getuk dari tempat lain. Pertama, getuk Magelang digiling halus dan pulen. Katanya ketela untuk bahan getuk dipesan khusus untuk gethuk. Tidak bisa ketela sembarangan. Ketelanya dipilih yang pulen dan muda. Kedua, getuk Magelang punya tiga warna, yaitu: putih, coklat, dan pink. Ada beberapa variasi, tapi getuk tiga warna ini yang terkenal.

Continue reading

Bis Santoso Magelang

Sejak saya mulai merantau dulu, alat transportasi yang sering saya pakai adalah bis malam. Alasannya sederhana; paling mudah dan murah. Di Magelang tidak ada stasion kereta apalagi bandara dan pelabuhan. Kalau mau naik kereta atau pesawat mesti pergi Yogya atau Semarang dulu. Repot.

Ada banyak bis jurusan Mgl-Jobodetabek, baik bis yang ‘asli’ Mgl atau bis-bis lain yang punya trayel lewat Mgl. Bis asli Magelang antara lain: Santoso, Handoyo, dan Ramayana. Bis-bis malam lain yang juga lewat Magelang diantaranya Safari Dharma Raya, Lorena, Mulyo Indah dan Rosalia Indah. Saya pernah mencoba hampir semua bis malam itu.

Continue reading

Sejarah Gethuk Magelang

gethuk magelang

Magelang dikenal sebagai kota gethuk. Salah satu oleh-oleh khas dari Magelang adalah Gethuk. Gethuk ini dibuat dari singkong yang direbus lalu ditumbuk sampai halus. Gethuk yang dibuat di Magelang terasa lebih nikmat dibandingkan dengan gethuk dari tempat lain. Baik rasanya maupun teksturnya, lembut, halus dan enak lagi. Saat ini banyak sekali gethuk dibuat dalam kemasan-kemasan. Salah satu merek yang terkenal adalah Gethuk Trio. Tapi sebenarnya masih banyak merek yang lain, antara lain: Eco, Marem, Nyah Week, dan lain-lain.

Itu semua merek gethuk yang dibuat oleh pabrik gethuk. Semua merek itu sebenarnya adalah gethuk yang ikut-ikutan. Ada gethuk asli Magelang yang dibuat oleh anak keturunan pembuat gethuk asli Magelang. Tidak banyak yang tahu kalau dulu gethuk yang paling enak dibuat oleh Mbah Ali Gondok sekitar tahun 1940-an. Gethuk buatan Mbah Ali sangat enak sekali. Keenakan dan kenikmatan gethuk ini terdengar sampai di mana-mana. Bahkan sampai ke luar kota Magelang. Mbah Ali yang berasal dari desa Karet Magelang pun menjadi terkenal pula.

Setelah Mbah Ali Gondok meninggal usaha ini diteruskan oleh anak-anaknya. Kemudian dilanjutkan pula oleh cucu-cucunya. Lalu oleh cicit-cicitnya. Jadi sekarang sudah sampai generasi ke-3. Saat ini anak keturunan Mbah Ali Gondok berjualan gethuk di sekitar Pasar Gede Magelang. Ada sekitar 8 orang yang berjualan gethuk, 6 orang adalah keturuan Mbah Ali Gondok. Dua orang yang lain bukan.

Salah satunya adalah Mbak Tinah (Agustinah) yang berjualan di dekat gerbang pintu masuk pasar. Mbak Tinah adalah cicit Mbah Ali Gondok.

gethuk magelang

Mbak Tinah sedang sibuk melayani pelanggannya.

Continue reading

Mandi di Progo

image

Berenang di kali Progo bareng keluarga. Rasanya seperti kembali ke masa kecilku dulu. Dulu aku biasa berenang dengan teman2 di kali Progo ini.

Rumahku hanya 10-15 menit jalan kaki dari kali Progo. Dulu waktu kecil sering main dan berenang di kali Progo. Meskipun kalau pulang dari Progo selalu di-sabetin sama Emak, tetap saja tidak kapok main di Progo.

image

Continue reading

Aku Bangga pada Bapakku

Aku Bangga dengan Bapakku

Aku bangga pada almarhum Bapakku. Meskipun beliau lahir di desa, tidak pernah sekolah, dan harus kerja keras untuk menghidupi keluarga kami, beliau selalu mendorongku untuk sekolah setinggi-tingginya. Dan, Alhamdulillah, saya bisa memenuhi harapannya. Meskipun beliau tidak sempat menyaksikannya sendiri.

Bapakku dilahirkan di desa kecil di selatan kota Solo, desa Nguter namanya. Kira-kira 11 km sebelum Wonogiri. Bapakku adalah anak ‘ragil’ dari 16 orang saudara. Bapak lahir sebelum penjajah Jepang datang ke Indonesia. Ketika lahir bapak diberi nama ‘Wagimin’, pangilannya ‘Min’. Kelak ketika dewasa namanya diganti menjadi ‘Minto Pawiro’. Tetap ‘Min’ atau ‘Minto’ panggilannya.

Bapak kecil hidup susah di desa. Simbah hanya petani biasa. Ketika itu sudah ada sekolah, tapi Bapak tidak boleh sekolah oleh simbah. Kata simbah; kalau bapak sekolah tidak ada yang mengurus sapi-sapinya Simbah. Masa kecil bapak dihabiskan di sawah dengan sapi-sapinya.

Jadi anak petani di desa hidupnya susah. Kalau mau pergi ke mana-mana dengan jalan kaki. Bapak pernah cerita, ketika masih kecil diajak Simbah Wedok pergi ke Kartosuro. Kota yang jaraknya kira-kira 20km itu ditempuh dengan berjalan kaki pulang-pergi. Kalau capek berjalan, mereka istirahat di bawah pohon sambil minum atau makan bekal yang mereka bawa dari rumah.

Saya tidak sempat mengenal Simbah Kakung dan Simbah Wedok. Mbah Kakung meninggal sebelum saya lahir dan Mbah Wedok meninggal waktu saya umur satu tahunan. Semoga mereka diampuni semua dosa-dosanya dan diberi rahmat di alam kubur.

Ketika beranjak besar, kira-kira seumuran anak SD, Bapak mulai banyak keinginan. Namun, keinginan itu banyak yang tidak terwujud. Suatu ketika di hari lebaran Bapak minta dibelikan baju baru ke Mbah Wedok. Tapi Mbah Wedok tidak membelikannya. Bapak dijanjikan mau dibelikan baju nanti waktu ‘bodo besar’ (hari raya qurban). Bapak kecewa dan sakit hati. Lalu, bapak pergi dari rumah dan ikut kakaknya yang paling besar, Pak De Kromo, di Palur Solo.

Pak De Kromo orang kaya di desanya. Kerjaannya ‘blantik’ sapi. Sapinya Pak De Kromo banyak dan sawahnya luas. Sayangnya Pak De Kromo tidak dikaruniai anak. Bapak ‘ngendong’ di rumahnya Pak De. Kerjaan bapak  masih sama: ‘angon sapi’.

Kerja ‘angon sapi’ tidak banyak memberi perubahan pada kehidupan Bapak. Bapak ingin bekerja di tempat lain, tapi Bapak tidak punya keahlian apa-apa. Bapak tidak sekolah, tidak punya ijazah, dan tidak bisa baca-tulis. Kalau pun mendapat pekerjaan, dapatnya pekerjaan yang ‘kasar’ juga. Bapak mencoba mencari kerjaan lain yang bisa memberikan uang lebih.

Akhirnya Bapak ikut tetangganya yang berjualan mi dan nasi goreng keliling. Setiap malam bapak ikut berjalan kaki keliling kampung-kampung untuk berjualan mi. Waktu itu angkringan mi-nya masih dipikul ke mana-mana. Bapak jadi pelayan yang pekerjaannya mencuci piring dan membuatkan minum.

Bapak memperhatikan cara tetangganya memasak mi dan nasi goreng. Di sela-sela waktu berjualan tetangganya sedikit-sedikit mengajari tip-tip memasak mi dan nasi goreng. Kurang lebih dua bulan bapak ikut tetangganya berjualan mi.

Kemudian bapak pindah rumah ke kakak perempuannya, Mbok De Karto, di Kerten Solo. Di sini Bapak memberanikan diri untuk berjualan mi keliling sendiri. Dengan uang celengan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Bapak membuat angkringan sendiri, beli perlengkapan sendiri, dan belanja sendiri. Bapak mulai berjualan keliling kampung Kerten, Purwosari, dan Manahan.

Kehidupan Bapak masih belum banyak berubah. Kehidupan keras sepanjang malam dijalaninya dari kampung ke kampung. Kemudian Bapak mencoba keberuntungan di kota lain. Bapak pindah berjualan mi ke kota Sragen. Di kota ini Bapak berjualan tidak lama, hanya beberapa bulan saja.

Bapak merantau lagi ke tempat yang lebih jauh dengan membawa angkringannya dan tas koper kecil tempat pakaian. Bapak pergi mengadu nasip ke Muntilan, Magelang. Tidak ada sanak saudara di kota kecil ini. Ketika malam tiba, Bapak keliling berjualan mi di sepanjang pertokoan Muntilan.

Banyak orang-orang Cina pemilik toko yang menjadi pelanggannya. Ada seorang pelanggan yang memberikan ‘resep rahasia’ untuk membuat masakan mi dan nasi goreng menjadi lebih enak. Awalnya Bapak tidak terlalu tertarik mencobanya. Namun, karena penasaran bapak mencoba ‘bumbu resep’ itu. Ternyata tambahan bumbu itu membuat masakan Mi-nya menjadi lebih enak.

Muntilan hanyalah kota kecil. Meskipun masakannya lebih enak, tetapi penjualannya tidak banyak meningkat. Akhirnya, dengan sisa uang yang ada bapak pergi ke kota Magelang yang lebih ramai.

Masih segar dalam ingatan saya, ketika bapak menceritakan kisahnya sampai di kota Magelang. Bapak turun dari angkot di jalan tentara pelajar sekarang. Tepatnya di dekat Bank BRI. Dulu jalan ini adalah jalan utama Jogja-Semarang. Sisa uang di sakunya tinggal 50 perak. Tidak cukup untuk modal berjualan.

Kemudian Bapak pergi ke pasar dan mencari bahan-bahan dagangan dengan cara hutang. Bayarnya besok hari setelah mendapat uang. Ada beberapa pedagang pasar yang mau memberinya hutang bahan. Dengan modal belanjaan hutang itulah Bapak berjualan mi pertama kali di kota Magelang. Tas koper kecilnya diselipkan di bawah angkringan, dan kadang-kadang dijadikan alas duduk. Malam itu Bapak tidur di emperan toko, karena belum punya tempat tinggal.

Beberapa hari kemudian Bapak punya sedikit uang tambahan. Kemudian Bapak mencari tempat untuk di sewa. Bapak mendapat tempat kecil, ‘slompetan’ bekas kandang ayam di rumahnya Mbah Ali Jambon. Di ruang sempit ini pertama kali Bapak tinggal.

Setiap malam Bapak memikul angkringan berjualan mi dan nasi goreng dari kampung ke kampung. Berjalan menyusuri pertokoan pecinan Magelang. Seiring berjalannya waktu pelanggannya semakin banyak. Bapak membuat tempat berjualan yang lebih baik: gerobak. Kalau sebelumnya dipikul sekarang didorong.

Pada saat inilah Bapak bertemu Emak dengan bantuan Mbah Sastro. Akhirnya Bapak dan Emak menikah. Bapak tetap berjualan mi keliling. Lama kelamaan Bapak mulai menetap jualannya seiring dengan bertambahnya pelanggan. Bapak mendapat tempat berjualan yang tetap di depan hotel Pringgading.

Kalau pagi tempat itu digunakan untuk berjualan soto ayam Pak Sarju. Kalau malam Bapak yang berjualan di tempat itu. Bapak masih memakai gerobak dorong dan tidak ada naungannya. Kalau malam sudah agak larut, ada juga penjual sate madura keliling yang berhenti di situ. Saya masih ingat sekali kalau pergi ke warung kadang-kadang dibelikan sate oleh Bapak.

Pelanggan Bapak semakin banyak. Bapak kemudian berfikir untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga bisa membuat warung tenda untuk tempat berjualan. Akhirnya bapak mendapat tempat di halaman rumah Pak Soekidjo yang letaknya cuma berseberangan jalan dengan tempat sebelumnya.

Di tempat ini Bapak membuat tenda dan meja untuk berjualan. Pada saat itu, kami tinggal di rumah kecil di kampung Jambon Wot. Saya masih kelas satu dan adik saya belum sekolah. Kadang-kadang kalau malam kami ikut berjualan di warung, bermain-main di pinggir jalan dan sekali-kali membantu mencuci piring dan gelas kotor.

Saya sekolah di sekolah SD Inpres Cacaban 2, sekolah kecil di balik gunung sukorini. (Karena tidak ada muridnya, SD Cacaban 2 sekarang sudah ditutup). Saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Tidak ada yang mengajariku belajar, karena Bapak dan Emak sibuk berjualan dan mereka tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca-tulis bagaimana bisa mengajari anaknya sekolah?

Walikota Magelang saat itu, Bapak Bagus Panuntun, berencana untuk menertibkan pedagang kaki lima. Pak Walikota membuatkan kompek warung di bekas pembuangan sampah di lereng Jambon. Ada 30 warung yang dibangun dan Bapak mengambil dua warung untuk berjualan Mi. Kampung itu bernama Jambon Tempel Sari.

Warung semakin berkembang dan kehidupan keluarga kami lebih banyak di warung daripada di rumah. Tidak beberapa lama kemudian kami pindah ke warung yang cuma berukuran 8×6 m itu. Tempat tidur kami adalah kolong meja tempat bapak berjualan. Mungkin ada pelanggan yang tidak sadar, ketika mereka makan, di bawahnya ada anak-anak yang sedang tidur.

Warung semakin ramai dan pelangan semakin banyak. Warung bapak diberi nama ‘Warung Bakmi Pak Mien’. Bapak mulai mengunpulkan uang sedikit demi sedikit. Bapak juga membeli beberapa becak untuk disewakan. Lereng belakang warung dijadikan ‘kandang becak’. Ada tujuh becak yang dimiliki Bapak.

Ketika uang yang terkumpul banyak, Bapak mulai membangun rumah di belakang warung. Ketika itu saya masih kelas 3 atau 4 SD. Saya masih ingat nama tukangnya; Pak Manduro. Beberapa sanak saudara juga ikut membantu; Lik Pangat, Pak De Sapari, Pak De Mudakri dan Mbah Amad Dakwan, simbahku sendiri. Kalau pulang sekolah saya membantu mengangkat batu bata sambil memperhatikan mereka bekerja. Bapak juga ikut membantu membangun rumah ketika pekerjaan warung selesai.

Bapak orang yang sangat rajin bekerja. Kalau orang bilang ‘ora duwe wudel’.  Kalau pagi kerja membangun rumah, malam berjualan. Meskipun tidak mahir, bapak bisa ‘nukang kayu’ dan ‘nukang batu’. Rumah kami itu dibangun sedikit demi sedikit. Kalau ada uang dibelikan material, kalau uang habis berhenti. Alhamdulillah, akhirnya rumah kecil itu jadi juga. Saya tidak lagi tidur di kolong meja, tapi sudah punya kamar sendiri.

Pada saat saya masih SD, Bapak yang hanya penjual Mi itu sudah bisa membangun rumah sendiri. Bapak lebih hebat dari saya. Di saat anak-anak saya hampir lulus SD, rumah saya kreditnya belum lunas, kecil lagi.

Sisa tanah di sebelah barat kemudian di bangun juga oleh Bapak. Kali ini yang mengerjakan lebih banyak Bapak sendiri dan selesainya lebih lama. Sungguh saya sangat hormat dengan kegigihan dan ketekunan Bapak bekerja dan membangun rumah tempat kami berteduh.

Ketika saya lulus SD, Bapak membelikan 40 ekor bebek untuk saya dan membuatkan kandang di belakang rumah. Setiap hari sebelum berangkat sekolah saya ‘angon bebek’ dulu. Telur-telurnya lumayan untuk tambah uang jajan. Bapak juga membuatkan saya gerobak kaki lima di pinggir jalan Diponegoro. Setiap sore hingga malam saya berjualan rokok, permen, dan minuman di warung gerobak itu.

Alhamdulillah, dengan dorongan Bapakku, akhirnya aku bisa kuliah di Unsoed Purwokerto. Bapak membiayai kuliahku dari hasil berjualan Mi.

Tidak lama setelah saya lulus ujian pendadaran, Bapak jatuh sakit tepat setelah sholat ‘iedhul fitri. Beliau terkena serangan ‘stroke’ dan harus rawat inap PKU Muhammadiyah Solo. Saya selalu menunggui Bapak selama di rumah sakit. Hanya sekali saja saya meninggalkannya, karena saya harus ke kampus untuk mendaftar wisuda. Alhamdulillah, akhirnya Bapak sembuh.

Setelah sembuh, Bapak membangun bagian atas warung menjadi mushola. Pembangunan itu Bapak kerjakan sendirian. Semua bahannya dari kayu dan papan. Subhanallah. Bapak semakin sehat dan semakin rajin beribadah.

Ketika kampung kami membangun masjid, Bapak sangat giat membantu pembangunan masjid itu. Bapak ikut menyumbang tenaga dan material untuk pembangunan majid. Setelah masjid itu berdiri, Bapak hampir selalu sholat wajib di masjid. Subhanallah. Allahuakbar.

Dengan dorongan dan doa Bapak, saya bisa melanjutkan kuliah saya di Institut Pertanian, Bogor, dilanjutkan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan saya bisa melakukan penelitian di Chalmers University of Technology, Gothenburg.

Suatu malam, sekitar pukul satu dini hari, HP saya berdering. Saya sudah tidur dan malas mengangkat HP itu. Ketika pagi habis sholat subuh saya lihat HP saya dan ternyata adik saya yang menelpon. Tidak biasanya adik saya menelpon dini hari. Beda waktu kami 6 jam. Dia biasanya menelpon siang, saya menerimanya malam hari.
Tidak beberapa lama telepon berbunyi lagi. Adik saya menelpon. Dari kejauhan dengan suara berat adik saya mengabarkan kalau Bapak sudah tidak ada dan sekarang menunggu dikebumikan. Innalillahi wa innalillahi roji’un. Serasa disamber geledek pada saat itu. Antara tidak percaya dan serasa di mimpi, kalau Bapak yang sangat saya cintai dan sangat saya hormati telah tiada.

Saya menangis seperti anak kecil di pangkuan istri saya. Hati saya hancur berkeping-keping. Bapak tiada ketika saya berada jauh darinya. Saya tidak bisa menemani Bapak ketika menghadapi sakaratul maut. Padahal dulu ketika Bapak sakit keras, saya selalu berada di sisinya. Saya juga tidak bisa pulang untuk menghadiri pemakamannya.

Menurut cerita adik dan keluarga, Bapak meninggal mendadak. Sehari sebelumnya Bapak masih kerjabakti membuat tower tandon air dan membangun atapnya. Sore hari, ketika hujan turun, tetangga-tetangga yang lain berteduh dari hujan, Bapak masih bekerja dan menyelesaikan pembuatan atap tandon air sumur umum yang letaknya di samping rumah itu. Selepas magrib Bapak pergi ke rumah Simbah menghadiri acara ‘tahlilan’ tiga hari meninggalnya Simbah Wedok. Pukul sebelas malam Bapak pulang ke rumah dan masih sempat membuat mie instant. Pukul dua belas malam, Bapak masih bercanda ngobrol dengan teman-teman adikku dan tetangga rumah.

Biasanya sebelum adzan subuh Bapak sudah pergi ke masjid. Hari itu Bapak belum bangun sampai lewat adzan subuh. Oleh Emak dibiarkan saja, karena dikira Bapak masih kecapaian setelah bekerja keras kemarin hari. Namun, ketika jam sudah hampir menunjuk angka 6, Emak membangunkan Bapak. Bapak diam saja, dan Emak menjadi panik. Emak lari memanggil adik saya. Adik saya segera datang dan membangunkan Bapak. Bapak diam tetap diam saja. Kemudian adik saya menelpon tetangga yang jadi perawat untuk memeriksa Bapak. Pagi itu Bapak dikabarkan sudah meninggal dunia. Adik saya langsung menelpon saya, tapi karena saya masih tidur dan dini hari saya tidak menjawab panggilan telepon itu.

Pagi itu suasana rumah jadi ramai. Tetangga-tetangga seakan tidak percaya dengan meninggalnya Bapak. Kabar menyebar cepat. Orang-orang ramai datang ke rumah. Bapak Walikota Magelang, anggota DPRD, sanak-saudara, dan pelanggan-pelanggan Bapak datang ikut mengantarkan jenasah Bapak dikuburkan di pemakaman Giridarmoloyo.

Selamat jalan Bapak. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menerima semua amal-amalmu, dan menjagamu seperti engkau menimangku ketika aku masih kecil. Amin.

Kini, seperti yang selalu Bapak harapkan, akhirnya anakmu bisa menyelesaikan kuliah. Mendapatkan gelar pendidikan tertinggi. Gelar ini aku persembahkan untukmu.

Bapak, aku akan selalu mengingat kisah hidupmu yang selalu engkau ceritakan padaku. Kisah itu selalu membakar semangatku. Kan kuceritakan kisahmu pada anak-anakku, cucu-cucumu. Agar mereka selalu mengenangmu dan mendoakan engkau.

Bapak, aku selalu bangga padamu.

[Magelang, 21 September 2013]