Tag Archives: ayam goreng

Penjual Ayam Goreng dan Gelandangan


Kisah-kisah yang menginspirasi saya


Ketika kuliah di jogja dulu saya kost di jalan Magelang. Saya biasa beli makan di warung-warung tenda yang ada di sepanjang jalan itu. Salah satunya di ayam goreng yang mangkal di depan ruko-ruko di daerah Kutu Asem. Malam hari selepas isya’ saya beli makan di warung tenda itu. Ketika sedang menunggu giliran dimasakkan, tiba-tiba ada gelandangan kumuh, pakainnya compang-camping, rambutnya gimbal, di tangannya membawa bungkusan tas kresek hitam dan badanya bau. Dia berdiri tepat di belakang saya. Dia hanya berdiri mematung, tidak berkata apa-apa. Matanya tertuju pada ayam-ayam goreng yang memang mengundang selera itu. Dari pandangannya saya bisa merasakan kalau ‘mungkin’ dia lapar dan ingin makan ayam goreng itu.

“Tambah satu lagi, Pak. Ayam gorengnya. Dibungkus, ya. Untuk orang ini. Saya yang bayarin”, kata saya, pakai bahasa jawa, pada penjual ayam goreng itu sambil menunjuk ke orang yang di belakang saya.

“Kangge tiyang niku?” tanya penjualnya.

“Inggih,” kata saya menegaskan.

“Mboten usah, mas. Tiyang niku pancen saben dinten teko mriki. Sampun biasa. Mpun mboten usah dibayari,” Katanya lagi.

Ternyata geladangan yang kurang waras itu memang setiap hari datang meminta jatah makan ke warung ayam goreng ini. Setiap hari penjualnya memberinya sebungkus ayam goreng menu lengkap, seperti yang biasa disajikan untuk pelanggan-pelangannya. Ayamnya yang gede dan enak, bukan ayam sisa atau yang basi-basi saja.

“Untuk sedekah saya, Mas. Satu bungkus tiap hari tidak akan membuat bangkrut warung ini. Malahah tambah laris.” katanya setelah menyerahkan satu bungkus ayam goreng ke gelandangan itu.

Sungguh, saya tidak bisa berkata apa-apa mendengar kata Bapak ini. Tiba-tiba saya merasa mengecil sekecil-kecilnya.

Subanallah. Semoga Allah menerima semua sedeqah Bapak penjual ayam goreng ini. Dan menggantinya dengan ganti yang lebih baik di dunia dan di akhirat.

Advertisements

Ayam Bakar Lezat di Warung Sederhana, Subang

Setiap kali ke Subang saya selalu menyempatkan diri untuk mampir di sebuah warung kecil, tepatnya di pertigaan Kali Jati. Nama warungnya Warung Sederhana. Kalau dari arah Subang, warungnya ada di sisi kanan jalan. Saya sering mampir ke warung ini karena menu ayamnya sungguh lezat. Menu yang paling saya sukai adalah ayam bakar kampung dengan sambal trasi segar. Ayamnya ayam kampung, jelas lezat. Apalagi ditambah dengan sambal trasi, tambah lezat lagi. Hampir dapat dipastikan saya selalu ‘nambah’ kalo makan di warung ini.

Sambal trasi subang

Ayam kampung goreng atau bakar mungkin tidak banyak bedanya dengan warung-warung yang lain. Yang membuat ayam kampung bakar di warung ini menjadi istimewa adalah sambalnya. Sambalnya adalah sambel trasi segar (mentah). Saya sempat mengintip bagaimana ‘koki’ warung membuat sambal. Sambalnya dibuat dengan campuran cabe rawit merah, cabe rawit kuning, tomat sambal/sayur, garam, gula jawa, dan terasi yang sudah dibakar. Semua sambal kemudian diulek di atas cobek batu. Membayangkan saja sudah membuat air liur saya deras mengalir….hmmmmmmmmm…..

Ayam bakar hangat plus nasi putih hangat dan sambel terasi segar…..hmmmm …. sebuah panduan yang mak nyoss tenan. Saking nikmatnya sambal ini, biasanya kami selalu minta tambah dibuatkan sambal lagi. Nasinya pun bisa makan dua sampai tiga. Pokokknya, asalkan perut masih muat nambah terus. Continue reading