Category Archives: Uncategorized

Protected: Pabrik Pulp Sawit

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Pulp Tadan Kosong Kelapa Sawit

image

Kertas yang dibuat dari tankos sawit

Pembuatan bioplastik dari tandan kosong kelapa sawit/tankos diawali dengan proses pulping dan isolasi selulosa tankos. Saya pernah mencoba proses ini kurang lebih 10 tahun yang lalu. Bos saya lebih dulu melakukannya 15 tahun yang lalu. Waktu itu masih banyak kendalanya.

Pulp dan kertas yang dihasilkan masih berkualitas rendah. Beberapa literatur menyebutkan jika serat tankos pendek dan tebal. Ini membuat karakteristik  kertasnya kurang bagus. Permasalah lainnya adalah kontaminasi kernel/cangkang sawit dan sisa duri yang merusak kertas. Cangkang dan duri bukan selulosa/serat, jadi tidak bisa menjadi kertas. Kontaminasi ini membuat bercak2 hitam pada kertas. Kendala lainnya adalah masih adanya sisa minyak pada pulp. Sisa minyak ini menyebabkan munculnya busa pada saat proses pembuatan kertas.  Selain itu, proses pembuatannya pun masih tidak/belum efisien.

Ketika sedang melakukan penelitian bioplastik ini, saya jadi teringat dengan kawan lama saya Pak Gunawan Surya yang kerja di pabrik kertas. Sudah 10 tahun tidak pernah kontak2 lagi. Untungnya nomornya masih tersimpan. Saya cek nomornya masih aktif. Saya coba kontak, tidak diangkat. Beberapa kali saya coba tetap tidak tersambung. Saya coba lagi di hari lain. Alhamdulillah berhasil tersambung. Pak Gunawan masih ingat dengan saya dan ternyata mengikuti kegiatan penelitian saya. Pembicaraan pun semakin fokus.

Tertanya Pak Gunawan telah melakukan banyak penelitian dengan tankos untuk pulp dan berhasil. Lihat linknya di sini https://gunawansuryapaper.wordpress.com/2013/08/05/efb-tandan-kosong-kelapa-sawit-sebagai-bahan-baku-pulp-kertas/. Hasilnya bagus dan semua problem di atas sebagian besar sudah bisa diatasi. Masih ada sedikit kendala. Menariknya lagi pulp ini sudah diproduksi secara komersial besar-besaran. Saya diperbolehkan oleh Pak Gunawan untuk berkunjung ke pabriknya.

Ini artinya setengah pekerjaan saya untuk membuat bioplastik sudah terselesaikan. Mempermudah lagi fokus penelitian saya. Saya akan lebih fokus untuk memodifimasi selulosa tankos agar bisa menjadi bioplastik. Alhamdulillah.

image
Pulp 100% tankos.

image
Roll kertas 50% tankos

Menikmati Keadaan

Menikmati Keadaan

Semua orang pasti pernah mengalami kondisi yang tidak mengenakkan, suasana yang membosankan, kondisi kerja yang membuat frustasi, atau rumah yang tidak memuat betah. Enak atau tidak enaknya kondisi itu tergantung pada bagaimana kita mereson kondisi dan situasi yang sangat tidak mengenakkan itu.

Pernah suatu hari saya dalam perjalanan dari Semarang-Kendal ke Cirebon-Bogor. Saya naik bis ekonomi. Jarak perjalanannya lebih dari 4 jam. Bis ekonomi tahu sendirilah bagaimana kondisinya. Joknya keras. Tempat duduknya mepet-mepet, kalau duduk kaki nempel di jok depan kita. Susah digerakkan. Udara panas dan penggap, karena tidak ada AC.

Keamanan dengan Pendekatan Kesejahteraan

Ada yang menarik dari materi pra-raker minggu lalu tentang masalah keamanan. Rasa aman dan keamanan menjadi salah satu faktor suksesnya hidup dan usaha. Usaha apa saja. Kalau tidak ada keamanan, bisa hilang semua yang diusahakan. Masalah ini juga dihadapi dalam usaha pertanian dan agrikultur lainnya.

Misalnya saja menanam tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, kehutanan atau tanaman sayur-sayuran. Banyak tanaman yang hilang dicuri, buah-buahan yang diambil anak-anak, atau tanaman yang ditebangi oleh warga sekitar kebun. Kalau skalanya kecil, mungkin lebih mudah mengatasinya. Namun, kalau skalanya luas, perlu banyak usaha untuk mengamankan jerih payah kita ini.

Upaya yang umum dilakukan adalah dengan membangun pagar betis. Bisa berupa tembok tinggi, tanaman rimbun, pagar berduri bahkan kawat listrik. Ada petugas satpam dan keamanan khusus. Pendekatan ini tetap perlu dilakukan. Beberapa cara yang biasa digunakan adalah dengan membantun pagar dari tanaman berduri, seperti tanaman salak. Tanaman salak yang ditanam rapat dipagar kebun akan menghambat orang-orang yang berniat mencuri hasil kebun.

Pak Suhartono, SP., teknisi senior dari PPKK, berbagi tips untuk mengatasi permasalahan keamanan di kebun-kebun atau di pertanian, yaitu melalui pendekatan kesejahteraan. Seringkali permasalahan yang dihadapi perkebunan di desa-desa atau daerah terpencil adalah masalah ekonomi. Mereka mencuri untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Pencurian juga terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi yang cukup besar antara pemilik kebun dengan masyarakat di sekitarnya. Kesenjangan-kesenjangan ini yang mestinya diatasi.

Jadi pendekatannya adalah merelakan sebagian hasil kebun untuk masyarakat di sekitarnya atau orang-orang yang berada di sekitar kebun tersebut. Sebagai kompensasinya, orang-orang ini boleh memanfaatkan hasil kebun atau mendapatkan bagian dari hasil panennya. Melalui pendekatan ini, orang-orang yang berada di sekitar kebun akan ikut merasa memiliki dan akan ikut menjaga kebun dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Pak Suhartono, cara ini berhasil dilakukan di beberapa kebun kakao, kopi, pisang dan kebun-kebun lain. Pendekatan ini juga dilakukan oleh perhutani, mereka memperbolehkan warga untuk memanfaatkan kawasan di pingir hutan, tetapi tidak boleh menebang pohon-pohon di hutan tersebut. Dengan cara ini teryata tingkat pencurian bisa dikurangi.

Kisah Se-kandi Salak

Ini kisah jaman saya masih kuliah dulu, antara tahun 94-95, ketika harga bensin masin Rp.700 perak per liter. Di Fatimah hanya saya yang bawa motor. Motornya RX King. Jaman dulu motor ini keren banget. Larinya kenceng dan paling disukai oleh para preman, copet, jambret dan bandit. Karena itu RX King punya julukan motor jambret.

Ceritanya waktu itu akhir bulan. Biasa, kalau akhir bulan persediaan uang sudah menipis dan saatnya pulang kampung untuk minta uang ‘sangu’ ke Bapak. Uangku tinggal Rp. 2000an. Hanya cukup untuk beli bensin 3 literan. Padahal untuk sampai di rumah, Magelang, butuh bensin 4 liter. Nggak cukup.

“Kamu mau pulang ya, Is?” tanya temenmu Agung Sundowo. Sama-sama penghuni Fatimah. Namanya Sundowo, karena Agung adalah anak blasteran Sunda dan Jawa. Mestinya namanya SUNDAWA, kenapa jadi SUNDOWO? Mungkin karena pengaruh logat jawa. Huruf A dibaca O. 

“Iya nih, Gung. Uangku sudah habis.” jawabku penuh kejujuran.

“Aku boleh ikut tidak? Aku pingin main ke rumahmu di Magelang.”

“Boleh. Ayo main ke rumah. Kalau mau besok siang kita berangkat.” ajakku.

“Lewat Banjarnegara tidak? Aku pingin nengok adikku di sana.”

“Boleh saja. Besok kita lewat Bajar.”

“Tapi ngomong2 kamu punya uang tidak, Gung?”

“Kenapa?”

“Uangku tinggal dua ribu. Nggak cukup buat beli bensin.”

“Ada sih, tapi nggak banyak juga.”

“Oke deh kalau begitu. Besok kita berangkat.”

Esok hari kita sudah siap2 berangkat. Setelah pamitan dengan para sesepuh kami di Fatimah; Mas Imung, Mas Ikhsan, Mas Yono dan teman-teman yang lain, kami berangkat.

“Bismillah”

Agung membonceng di belakangku dengan tenang. Di jalan saya mampir ke pom bensin dulu. Seluruh uang di sakuku saya belikan bensin semua. Dompet yang sudah langsing jadi semakin kempes. Harapanku hanya tinggal sisa uang sakunya Agung.

Darah muda. Aku mengendari motor dengan kencang. Aku bisa tarik gas penuh. Jalan antara Prembun sampai Bajar lurus banget. Gass pooollll. Jalanan masih sepi. Aku lihat speedometer jarum sampai menunjuk angka 125-135. Aku merasa jadi Michael Doohan. Goncangannya sangat keras. Kaca helmku sampai bergetar. RK King memang raja jalanan.

Agung mendekapku kencang. Mungkin dia ketakutan sambil nahan napas dan berdoa.

Sampai di Bajarnegara kami berhenti di masjid agung yang ada di depan alun-alun untuk sholat dhuhur. Selesai sholat kami siap-siap melanjutkan perjalanan lagi. Ketika mau berangkat, Agung seperti kebingungan. Dia raba-raba seluruh sakunya.

“Ada apa, Gung?” tanyaku penasaran.

“Dompetku tidak ada, Is.”

“Jatuh kali waktu wudhu tadi.”

“Nggak ada, sudah aku cari2.”

“Coba cari sekali lagi. Aku bantuin nyari.”

Kami mencari dompet itu ke sana ke mari. Hasilnya nihil.

Hanya uang di dompet itu yang menjadi harapanku untuk bisa sampai rumah.

“Bagaimana nih, Is?”

Nasip….. nasip…. jengkel bercampur marah. Rasanya pingin aku pukuli maling dompet itu. Tega-teganya nyuri dompet mahasiswa miskin seperti kami.

“Kita coba pinjam ke adikku saja, Is. Mungmin dia punya uang.” Agung menawarkan ide.

Singkat cerita, kami mampir di rumah bibinya Agung. Adiknya tinggal di sini. Kami disambut dan dijamu di rumah bibinya Agung.

“Dik, kamu punya uang tidak? Aa pinjam dulu. Dompet aa hilang tadi di masjid.”

“Aku nggak punya uang, A!”

Agung pingin pinjam ke bibinya, tapi tidak berani bilang.

Kalau tidak beli bensin lagi, kami tidak akan bisa sampai Magelang. Baru setengah perjalanan. Mau balik ke Purwokerto bensinya juga tidak cukup. Kami berunding cukup lama untuk mencari jalan keluar. Hasilnya nihil.

Akhirnya kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun kami tidak yakin dan belum tahu bagaimana caranya agar bisa sampai ke Magelang.

Rupanya bibinya Agung sudah menyiapkan oleh-oleh. Banjarnegara adalah kota salak. Bibinya Agung punya kebun salak. Kami diberi oleh-oleh buah salak sekantong penuh. Kantong bekas beras. Kami menyebutnya kandi. Alhamdulillah.

Kami meneruskan perjalanan menuju Wonosobo. Jarum bensin sudah hampir mepet ke bawah. Habis. Kami tidak bawa uang. ‘Harta’ yang kami punya hanya buah salak itu. Tapi buah salak di kota ini harganya murah banget.

“Bagaimana nih, Gung, Bensin habis.”

“Kita jual saja salak ini. Uangnya bisa buat beli bensin.”

” Tapi di sini salak murah. Uangnya nggk cukup.”

“Atau kita tukerin aja salak ini dengan bensin. Mungkin ada yang mau.”

“Kita coba saja.”

Sambil jalan pelan-pelan kami mencari penjual bensin eceran. Kami ketemu penjual bensin. Dengan malu-malu kita mau menukarkan salak dengan bensin. Penjualnya tidak mau.

Kecewa dan sedih bercampur jadi satu. Kami terus berjalan. Setelah melewati jembatan yang berkelok, ada penjual bensin lagi. Penjualnya ibu-ibu. Kami memberanikan diri untuk menukarkan buah salak dengan bensin.

“Nyuwun sewu, Bu. Bensinne kulo telas.”
“Pinten liter nak?”
“Anu Bu. Nyuwun sewu, nangging kulo mboten gadah yotro.”
“Lho njur pripun mbayare?”
“Anu Bu. Dompette kulo kecopetan wonten Banjar wau. Pas sholat wonten engkan mendet dompette kulo.”
“Pripun nggih..??”
“Anu, Bu. Menawi angsal, bensine kulo kintun kaliyan salak. Wonten sekandi niki.”
“Lha arep milih ngendi sampeyan niki?”
“Megelang, Bu.”
“Tasih tebih ngoten?”
“Lah nggih, Bu. Bensine kulo telas.”
“Perlune pirang liter?”
“Kalih liter, Bu”
“Yo wis kene tak isine.”
“Matur sembah nuwun sanget, Bu.”

Mungkin karena kasihan, ibu penjual bensin itu memberi kami bensin dua liter yang dibayar dengan buah salak satu kandi.

Setelah mengucapakan terima kasih berkali-kali kepada ‘malaikat penolong” kami, kami melanjutkan perjalanan ke Magelang. Jaraknya masih 80 km lagi. Lewat Temanggung, Secang baru sampai Magelang.

Alhamdulillah. Kami selamat sampai rumah. Kami tidak akan pernah lupa pengalaman ini. Semoga Allah membalas kebaikan ibu penjual bensin eceran itu.

******
Ternyata dompet Agung tidak dicuri orang. Tapi jatuh di daerah Purbalingga. Ada orang yang menemukan dan mengirimkan balik ke Agung dengan utuh. Alhamdulillah.

Kerikil Batu Akik Amethyst, Pirus, Lapis Jazuli, Kecubung Es untuk Gelang dan Kalung

Deman batu mungkin sudah mulai berkurang, tapi kreasi batu akik tidak pernah mati. Sisa-sisa bahan batu akik yang berukuran kecil, dilubangi dan dipoles. Kerikil ini bisa dibuat kalung atau gelang. Kalau Anda tertarik silahkan kontak Ummi Happy: 082325489277

bahan kerikil akik amethyst gelang kalung

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

kecubung es

Bahan kerikil kecubung es untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

kecubung es-2

kecubung es

Hilangnya Sawah di Kampungku

pemandangan dari jendela rumah

Pemandangan dari jendela kamarku tidak lagi indah. Sawah-sawah sudah tidak ada lagi. Air sungai kering, keruh, kotor dan bau.

Ketika aku masih kecil dulu, belakang rumahkau adalalah sawah. Konturnya menurun, dan di dasar bawahnya ada mata air yang jernih. Tepat di belakang rumahku ada sungai irigasi, kami menyebutnya ‘Kali Bening’, karena memang bening sekali airnya waktu itu. Mata airnya ada di kali bening, Payaman, Magelang.

Aku dan teman-teman biasa main di sawah. Kalau musim kering, biasanya kami main layang-layang. Di sawah tidak ada kabel listrik dan tidak ada pohon yang tinggi. Langitnya lapang, tempat yang cocok untuk main layang-layang. Kalau capek main layang-layang kami mandi di pancuran. Seger sekali airnya.

Paling asik adalah pada saat musim tanam padi tiba. Sawah biasanya dibajak dengan kerbau. Selesai olah tanah sawahnya diairi sedikit. Tanahnya gembur sekali. Kami biasanya main bola di sawah, main bola sambil main lumpur. Karena masih kecil, kami biasa telanjang, atau cuma pakai CD saja. Maklumlah masih anak-anak. Biasanya kami main kalau sudah sore, sepulang sekolah. Jaman dulu pulang sekolah jam 12. Tidak seperti anak-anak sekolah jaman sekarang, pulang sekolah jam 16. Sampai rumah sudah capek banget.

Kami main sore-sore untuk menghindari petani yang punya sawah. Soalnya, Pak tani sangat melarang kami main di sawah yang sudah diolah tanahnya. Begitu pak tani pulang, kami langsung mainan lumpur. Seneng sekali rasanya. Sepertinya tidak ada permainan yang paling mengasikkan selain main mandi lumpur.

Main di lumpur ada susahnya juga. Paling menyakitkan adalah kalau digigit TENGU. Tengu itu adalah serangga kecil berwarna merah dan kalau menggigit selalu di tempat spesial, yaitu di-titit. Rasanya gatal-gatal sakit, seperti ditusuk duri kecil di bagian tititnya. Kalau kegigit tengu biasanya kami duduk di atas batu di dekat pancuran mata air. Tititnya dibersihkan dulu, lalu dengan bantuan temen-temen kami mencari di mana tenguitu. Biasanya kelihatan merah kecil sekali. Kami hilangkan dengan ‘lengo klentik’ (minyak kelapa) dan dicukil pakai jarum. Wuiiihhh….saaakkitttt.

Kalau sawahnya sudah ditanami, kami tidak bisa lagi main ke sawah. Biasanya kami cuma mencari ikan di galengan-galengan (parit sawah). Kami mencari ikan gabus kecil, seperti ikan lele tapi tidak ada patilnya. Atau kami mancing belut. Tapi kami harus hati-hati kalau main di sawah, karena banyak ularnya. Belum pernah sih ada yang digigit ular, tapi kami sering bertemu dengan ular. Kebanyakan ular berbisa.

Kalau padi mulai tua dan menguning akan banyak burung-burung yang makan padi di sawah. Pak tani mulai memasang ‘memedi sawah’,orang-orangan sawah untuk menakuti burung. Pak tani membuat gubuk di sawah. Orang-orangan sawah itu dibuat beberapa buah, lalu diikat pakai tali panjang. Tali-talinya digantungi kain dan kaleng yang diisi kerikil. Talinya panjang sampai ke gubuk. Kalau ada burung, tapinya di tarik-tarik. Orang-orangan sawah akan bergerak dan kalengknya berbunyi nyaring. Burung-burungnya akan terbang ketakutan.

Burung-burung yang makan bulir padinya ada banyak; emprit, gereja dan glatik. Burung glatik yang paling cantik. Di pipinya ada warna merahnya, burungnya kecil seperti emprit, warnanya putih dan sayapnya coklat tua/hitam. Mereka hidup berkelompok, sekali terbang bisa ada ratusan burung. Pemandangan yang indah sekali.

Lain waktu kami mencari-cari sliring, hewan reptil kecil yang warnanya belang-belang kuning hijau coklat. Ukurannya kecil seperti kadal yang ramping, tetapi lebih panjang. Kami tangkap dan kami belai-belai. Kalau bosan kami lepaskan lagi ke rumput-rumputan.

Di sawah kami juga biasa mencari ‘tambang’, tanaman menjalar yang panjang dan kuat. Biasa buat main tali-talian. Tambangnya kami buat main ‘polisi-polisian’, kalau ada yang tertangkap kami ikat dengan tambang itu dan kami jadikan tawanan.

Kini pemandangan indah sawah-sawah dan padi-padi yang menguning sudah tidak ada lagi. Entah sejak kapan sawah itu tidak lagi ditanami padi. Mungkin sawahnya dijual dan ditanami pohon sengon laut (albasia). Anak-anak kampung jarang main ke sawah atau ladang. Sudah tidak asik lagi. Apalagi sekarang jamanya tivi dan smartphone. Mereka lebih asik main game dengan HP. Jalan pingir sawah yang dulu sempit, kini juga sudah dibangun dan dilebarkan. Jalannya sudah jadi melalui program padat karya. Sebentar lagi mau diaspal katanya.

Kali bening sekarang juga tidak ‘bening’ lagi. Malah airnya kering dan kotor. Banyak sampahnya, bau lagi.

Kalau aku buka jendela kamarku, pemandangan tidak lagi indah dan mengasikkan seperti dulu.

Contoh Kompos dari Sampah Organik Rumah Tangga

Foto-foto Kakbah dari Masa ke Masa

Memenuhi panggilan Allah untuk datang ke Baitullah (Kakbah) adalah salah satu mimpi terbesar saya. Saya ingin bingits pergi ke Baitullah bersama seluruh keluarga saya, terutama Emak saya yang sudah sepuh. Untuk mengobati kerinduan saya ini, saya mencari-cari foto-foto tentang Kakbah dari masa ke masa. Alhamdulillah, saya dapatkan foto-foto Kakbah dari tahun 1951 sampai yang baru dari Saudi Gazette.

Foto kakbah tahun 1951 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1951 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1953 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1953 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1954 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1954 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1988 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1988 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1990 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 1990 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 2006 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 2006 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 2009 (Sumber: Saudi Gazette)

Foto kakbah tahun 2009 (Sumber: Saudi Gazette)


Continue reading