Category Archives: Uncategorized

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16

Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali

Meski di tawaf sunnah kedua saya sudah berhasil mengusap hajar aswad, saya belum merasa puas. Karena saya belum bisa benar-benar memasukkan kepala ke dalam lubang hajar aswad dan mencium batu hitam itu. Dalam hati kecil saya, keinginan saya untuk mencium hajar aswad tetap membara. Saya pun mengajak istri saya untuk mencoba mencium hajar aswad lagi di lain waktu.

Setelah makan pagi, saya merasa kuat dan cuaca cukup cerah. Saya ajak istri saya untuk mencoba ke hajar aswad lagi. Istri saya setuju. Kami pun bersiap-siap untuk mencium hajar aswad itu lagi. Saya berpakaian ihram dan istri saya menggenakan baju hitam dan kerudung hitam besar. Seperti biasa, kami berangkat ke masjid dengan naik bis hotel.

Jam besar di zam-zam tower menunjukkan pukul 9 kurang. Cuaca cerah dan cenderung panas. Saya lihat papan penunjuk di depan gerbang Raja Fahd menunjukkan suhu 32oC. Lumayan panas. Meski panas teris sekali, anehnya marmer di pelataran masjidil haram tidak terasa panas. Malah terasa dingin. Aneh.

Di Bogor ada juga masjid yang semuanya dilapisi marmer. Tapi pelataran luarnya panas luar biasa kalau terpapar terik matahari. Pikiran saya tidak bisa memahami bagaimana marmer di masjidil haram ini, yang sedemikian luas ini, bisa tetap dingin di cuaca yang sangat panas dan terik ini.

Sejak keluar hotel, kami menguatkan niat agar bisa mencium hajar aswad. Sepajang pejalanan di dalam bis, saya tidak pernah putus bersholawat. Demikian pula ketika masuk ke masjid. Setelah membaca doa masuk masjid, kami selalu bersholawat atas Nabi. Bersholawat dan terus berjalan sampai di rukun Yamani. Pelataran tawaf tetap ramai meski kondisinya terik. Memang tidak pepenuh dan sepadat ketika malam hari. Mungkin orang-orang lebih banyak menghindar di cuaca yang bisa membuat kepala pening seperti ini.

Kami merangsek agak ke tengah. Kami mulai tawaf dari posisi hajar aswad di lingkaran dalam. Jaraknya sekitar lima lapis orang dari hajar aswad. Hajar aswad tetap dipenuhi orang yang berjubel-jubel ingin menciumnya.

“Bismillahi Allahuakbar…..”, kami lambaikan tangan dan menciumnya.

Baru beberapa langkah kami mendekat ke multazam. Subhanallah. Dalam pandangan kami multazam kosong. Hanya satu lapis orang saja yang sedang menempel di dinding multazam.

“Ayo, Mi….!”

Saya tarik istri saya ke multazam. Di depan kami ada bapak-bapak yang sedang menangis dan bertafakur di dinding multazam. Kami berdiri tepat di bawah askar yang menjaga hajar aswad. Dinding multazam hanya cukup untuk tiga orang saja. Semuanya penuh. Bibir kami tak henti-hentinya bersholawat. Terus bersholawat sambil berdoa di dalam hati.

Tiba-tiba, tangan askar itu menarik orang yang ada di depan kami. Istr saya langsung saya dorong maju dan naik satu batu dan menempel tetap di dinding multazam. Tangan istri saya bergelantungan di kiswah penutup Ka’bah. Saya masih belum bisa ke multazam, karena masih terhalang satu orang lagi. Tak lama berselang, orang itu mundur dan gantian saya yang maju menempel ke multazam. Saya tempelkan seluruh badan saya, dada saya, pipi kanan saya dan tangan saya menegadah menempel ke dinding multazam. Mata air kami tumpah sejadi-jadinya. Hati bergemuruh hebat. Meluap-luap dan meletup-letup tidak terhaankan. Saya panjatkan do’a-do’a saya. Saya baca istigfar, sayidul istigfar, doa nabi yunus ketika diperut ikan paus. Semua doa dan harapan saya panjatkan. Saya sebutkan nama emak saya, nama bapak saya, nama anak-anak saya, nama adik saya, nama kakak saya dan nama saudara-saudara saya. Saya sebutkan semua dan saya sampaikan semua titipan do’anya. Saya berdoa sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami berada di multazam. Waktu serasa berhenti dan kami kehilangan orientasi waktu untuk sesaat. Sampai akhirnya, istri saya mengingatkan saya untuk mundur dan memberi kesempatan kepada jama’ah lainnya yang ada di belakang kami. Kami pun berjalan mundur. Saya pegang erat tangan istri saya, saya peluk kuat-kuat.

Jarak multazam dan hajar aswad sangat dekat. Hanya beberapa langkah saja. Ketika kami mundur itu, saya lihat hajar aswad sepi. Hanya satu atau dua lapis orang saja dan tidak tampak berdesak-desakan seperti sebelumnya.

“Hajar aswad lagi, Mi…. Langsung..!”

Saya tarik istri saya menuju hajar aswad. Di depan kami ada ibu-ibu dari Indonesia yang juga mengantri ingin mencium hajar aswad. Posisinya di depan kami.Kami merangsek ke depan pelan-pelan. Meski berdesak-desakan, kali ini tidak seramai sebelumnya. Sampai akhirnya jarak kami dengan hajar aswad hanya beberapa langkah lagi. Ibu-ibu di depan saya tergencet dari depan. Saya tahan dari belakang. Pelan-pelan kami maju terus. Bapak-bapak saling sikut berebut untuk bisa mencium hajar aswad. Sampai akhirnya tinggal satu lapir orang lagi. Begitu orang yang mencium hajar aswad berbalik, saya segera dorong ibu-ibu itu maju. Posisinya tepat di depan hajar aswad dan bisa mencium hajar aswad. Saya mengikuti dari belakang sambil memeluk istri saya dengan tangan kanan. Tangan kiri saya berpegangan pada bibir hajar aswad.

Ibu-ibu itu berbeger ke kanan. Sesaat hajar aswad terlihat lowong. Saya mencoba untuk maju, tapi susah sekali. Orang-orang laki-laki yang dari sisi kiri juga tidak bisa masuk. Saya berteriak keras: “Allahuakbar….!!!!””””
Saya merengsek ke depan dan seperti mimpi, hajar aswad di depan mata saya. Saya cium sepuas-puasnya hajar asawad itu.

Setelah seluruh bagian dalam hajar aswad saya cium, saya menegakkan badan. Tiba-tiba dari samping orang sudah berdesakan mau masuk. Saya tarik tangan istri saya agar bisa mendekat ke hajar aswad. Rupanya sudah orang lain yang lebih dulu ke hajar aswad. Istri saya terhalang oleh ibu-ibu yang ada di depan saya tadi. Tangan istri saya tetap saya tarik agar bisa masuk, minimal mengusap hajar aswad.

Ibu-ibu yang ada depan saya tadi posisinya sekarang tergencet di bawah askar. Dia bersaha keras untuk berbalik, tetapi tidak bisa. Justru semakin tergencet dari samping dan belakang. Saya dan istri saya berbeser ke kanan. Saya teriak ke ibu itu:

“Jangan berbalik, Bu. Tidak bisa. Mundur saja pelan-pelan.”

Saya tarik bahunya. Seperti ketika pertama kali mencium hajar aswad, tangan kirim saya memeluk istri saya dan menariknya ke belakang. Tangan kanan saya raih bahu ibu-ibu itu dan saya tarik ke belakang. Dengan susah payah, kami pelan-pelan mundur ke belakang mencari tempat yang lebih longgar. Akhirnya, kami pun bisa lepas dari kerumuman orang-orang yang ingin mencium hajar aswad itu. Ibu-ibu itu langsung berbalik dan memeluk erat istri saya. Mereka berdua menangis sesenggukan, entah apa yang dirasakan si Ibu itu. Mungkin si Ibu itu terharu bisa mencium hajar aswad. Mungkin bersyukur karena selamat dari gencetan orang-orang yang ingin mencium hajar aswad.

Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya dilepaskan pelukan itu. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada kami.

“Ibu masih ingat rombonganan, Ibu?” tanya saya.

Dia mengangguk sambil mengucapkan, “Masih.”

“Ibu bisa pulang sendiri?”

“Bisa…”

“Semoga kita bertemu lagi, Bu. Assalamu’alaikum.”

Lalu kami melanjutan tawaf kami yang tertunda. Saya sudah tidak lihat lagi ibu-ibu tadi. Dia menghilang dikerumuman orang-orang yang sedang tawaf.

Di putaran ketiga, kami mendekat ke hijr Ismail. Kali ini, pintu hijr ismail seperti terbuka kembali untuk kami. Kami pun masuk lagi ke dalam hijr Ismail. Sholat sunnah seperti ketika pertama kali masuk ke sini. Ketika keluar kami pun bermunajat di dinding Ka’bah.

Kami lanjutkan tawaf sampai putaran ke tujuh. Di putaran ketujuh kami menuju arah luar. Sholat dua rakaat di tempat yang sudah disediakan untuk sholat dan minum air zam-zam.

Kami berada di masjidil haram sampai sholat dhuhur dan baru kembali ke hotel untuk makan siang selepas sholat dhuhur.

Hari ini kami puas sekali, karena bisa mencium hajar aswad, berdoa di multazam dan sholat lagi di dalam hijr Ismail.

Alhamdulillah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
15. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
16. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13

Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam

Sekitar jam 2 malam kami sudah bangun. Saya ketuk pintu kamar istri saya. Kamar kami dipisah, laki-laki dengan laki-laki satu kamar dan perempuan dengan perempuan di kamar yang lain. Saya memberitahu istri saya agar bersiap-siap menuju ke Ka’bah lagi. Kami, yang bapak-bapak berpakaian ihram. Karena yang boleh berada di area tawaf hanya yang berpakaian ihram saja.

Kamar samping saya dihuni ibu-ibu dari rombongan jember. Mereka ternyata juga tidak tidur.

“Mau ke mana, nak?” tanya salah satu nenek-nenek.
“Insya Allah, kami mau tawaf lagi.” jawab saya singkat.

“Mau nyium hajar aswad,ya?” tanya nenek-nenek yang lain dengan logat maduranya.

“Insya Allah, Mbah.”

“Saya juga pingin, boleh ikut bareng?”

“Saget, Mbak. Ikut bareng kami saja.”

Ada satu orang nenek yang ingin ikut. Namanya, Mbak Arstuti. Usianya 67 tahun berasal dari Bondowoso. Nenek Arstuti berangkat sendiri dan dititipkan ke rombongannya Mas Sugiono. Ada satu lagi nenek-nenek dari Surabaya. Usianya mungkin lebih tua dari Mbak Arstuti dan jalanya sedikit payah. Nenek ini berangkat bersama dengan anak-nya.

“Saya juga pingin ikut, tapi anak saya masih tidur. Katanya kecapaian.”

“Nanti saja, Mbak. Bareng dengan anak sampeyan saya. Saya tidak berani kalau ada apa-apa nanti.” kata saya.

Akhirnya, hanya Mbah Arstuti yang ikut kami tawaf malam ini. Kami serombongan bertujuh menuju ke masjidil haram naik bis hotel. Turun dari bis jalanan terlihat lebih sepi daripada malam tadi. Sesepi-sepinya masjidil haram tetap saja ramai orang. Kami masuk melalui pintu yang memang dikhususkan untuk orang yang akan umroh dan berpakaian ihrom. Istri saya selalu bersama dengan Mbah Arstuti. Dan saya menjaga mereka berdua. Pak Totok dan Pak Gunawan berjalan beriringan. Pak Soleh dan Istrinya juga berjalan beriringan.

Kami masuk dari sisi rukun yamani menuju ke rukun hajar aswad. Kami memulai tawaf seperti biasanya. Putaran pertama kami belum berhasil mendekat. Lanjut ke putaran kedua. Di putaran ini belum berhasil mendekat juga. Di putaran ketiga kami terpisah. Saya hanya bertiga; saya, istri saya dan Mbah Arstuti. Kewajiban saya untuk menjaga kedua wanita ini. Mbah Arstuti tumbuhnya pendek dan badannya kecil. Tapi, semangatnya kuat sekali untuk bisa mencium hajar aswad. Jadi selama tawaf berkeliling Ka’bah, saya berada ditengah sedikit di belakang mereka.

Di putara ketiga ini kami mendekat ke Ka’bah. Di depan hajar aswad penuh sekali orang. Berdesak-desakan luar biasa. Mbah Arstuti saya pegang dengan tangan kiri dan istri saya dengan tangan kanan saya. Kita mengikuti arus mendekat ke arah hajar aswad dari sisi multazam. Jadi bertentangan dengan arus orang yang sedang tawaf. Kami tepat di depan multazam. Orang-orang berdesak-desakan luar biasa. Saya lihat Mbah Arstuti tetap bersemangat dan tetap melafalkan dizkir dan sholawat. Saya pun bertambah bersemangat dan berdzikir lebih keras lagi.

Ketika berdesak-desakan itu ada bapak-bapak yang menegur saya:
“Dibantu-dibantu….!!!!” katanya dengan logat madura yang kental.
Rupanya benar kata orang-orang, untuk mencium hajar aswad ada calo-nya juga. Saya sudah diwanti-wanti oleh Ustad Rofi’i kalau jangan mau kalau ditawari bantuan. Karena kalau berhasil mereka minta uang besar sekali. Harganya tidak hitungan. Ada yang bilang 1000 riyal, 1500 riyal atau 500 riyal. Uang yang banyak sekali itu.
“Tidak….Tidak…..”, jawab saya tegas dan singkat.

Tidak cuma sekali saya ditawari. Tapi berkali-kali oleh orang-orang yang berbeda. Mafia dan calo ini memang nyata adanya.

Kami terombang-ambing mengikuti gelombang gerakan orang-orang. Entah berapa lama, saya sudah tidak ingat lagi. Jarak kami dengan dinding Ka’bah kira-kira tiga lapis orang. Kebetulan dua lapis di depan kami sebagian besar adalah ibu-ibu. Dalam posisi terjepit ini kami melatunkan sholawat terus dan berdzikir terus. Saya perhatikan orang-orang ini. Rupanya mereka ini adalah sekelompok sindikat mafia hajar aswad. Saya bisa tahu karena mereka saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan bahasa madura. Meski saya tidak bisa dan tidak tahu bahasa Madura.

Ada seorang ibu-ibu muda yang sedang dibantu calo. Bapak-bapak di belakang saya memberi arahan.
“Maju terus….”
“Jalan lawan arus…ikuti saja”
“Maju lagi….geser ke depan.”
“Tahan….jangan mundur…”

Ooo…. ini ketua mafia-nya, pikir saya dalam hati.

Di bagian paling depan, tepat di samping hajar aswad ada perepuan arab (mungkin), perawakan besar sekali, tangannya besar, badannya besar. Meski di samping hajar aswad, perempuan ini seperti tidak ingin mencium hajar aswad. Kerjaannya memukul kepala laki-laki yang ada di depannya dan memberi jalan bagi orang-orang yang ada di belakangnya. Wah…. calo juga nih sepertinya.
Oleh askar yang menjaga hajar aswad perempuan ini dimarah-marahi. Sayang saya tidak bisa bahasa arab, jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Kami terus merengsek ke depan. Badan tergencet. Saya lihat nenek Arstuti tetap semangat meski badanya kecepit. Istri saya nafasnya sudah terengah-engah dan mau menyerah.
“Kita di depan multazam. Berdoa’ terus. Sholawat terus. MInta sama Allah agar kita bisa mencium hajar aswad,” kata saya ke mereka berdua.

Mereka berdua saya peluk kuat-kuat. Dorongan dari belakang saya keras. Dari depan tidak kalau kerasnya lagi. Perjuangan yang luar biasa. Ibaratnya kita tidak bisa maju tidak bisa mundur. Tergencet di tengah-tengah.

Ibu-ibu muda yang dibantu calo tidak kalah parahnya. Posisinya sekarang tepat di depan kami. Dia sudah sangat kepayahan. Dia berteriak-teriak minta tolong dan mau menyerah.

“Maju terus…. sedikit lagi….Jangan menyerah”, begitu aba-aba dari pimpinan calo di belakang saya. Tepat persis di telinga saya ngomongnya.

Suasana semakin tidak terkendali. Ibu-ibu arab gede besar itu sikut sana sikut sini membuka celah. Termasuk nenek Arstuti kena sikut ibu-ibu itu. Arus dari depan sangat kuat. Mereka bapak-bapak orang arab yang tinggi besar, orang-orang dari Afrika dan dari India yang juga ingin mencium hajar aswad. Dorongannya sangat kuat. Kami terlempar ke luar karena tidak sanggup menahan dorongan itu. Ibu-ibu yang dibantu calo kembali berteriak menyerah. Kerudungnya sampai tertarik lepas dari kepalanya. Wajahnya memerah dan kelihatan kesakitan sekali.

Tiba-tiba dari arah depan, Ibu-ibu Arab itu sikut sana-sikut sini. Mungkin karena tidak kuat menahan dorongan dari depan, Ibu-ibu arab itu menyikut dan mendorong wajah saya. Saya pernah latihan pencak silat dulu, tahu bagaimana menangkis serangan semacam ini. Saya kibaskan tangan saya ke atas, sehingga tubuh ibu-ibu arab itu terlempar ke luar lewat samping saya.

Saya segera pegang kuat-kuat dua wanita yang saya lindungi. Saya dorong maju, hingga jarak kami dengan hajar aswad hanya tinggal satu orang lagi. Ada orang berambut gimbal yang mencium hajar aswad. Perasaan lama sekali dia menciumnya. Tiba-tiba tangan askar itu menarik kepala itu. Badannya sedikit bergeser ke belakang. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Nenek Arstuti saya dorong ke depan hajar aswad.

Alhamdulillah, nenek arstuti bisa masuk ke dalam hajar aswad. Tangan saya bertahan di besi pelindung hajar aswad, saya berusaha sekuat tenaga melindungi istri saya dan nenek ini. Saya tidak bisa mencium hajar aswad karena terhalang tubuh nenek arstuti. Tangan istri saya saya tarik agar bisa menyentuh hajar aswad. Tiba-tiba nenek arstuti terpeleset jatuh. Tangan saya masuk ke hajar aswad. Hajar aswad tepat di depan mata saya. Saya bisa melihat dengan jelas pecahan batu hitam itu. Tapi saya tidak bisa menciumnya, karena kalau saya mencium hajar aswad pasti menginjak nenek arstuti.

Nenek arstuti berteriak dan bertakbir “Allahu Akbar…..Allahu Akbar……Allahu Akbar….!!!!!””””
Tangannya melambai-lambai ke atas seperti minta pertolongongan. Saya terus berusaha melindungi beliau, karena dorongan dari belakang, kanan dan kiri sangat kuat sekali.
Saya pun berterik ke askar “Askar……Askar…..Askar…..!!!!!””””

Askar menoleh ke arah saya. Dia pun segera meraih tangan nenek arstuti dan mengankatnya ke belakang. Saya segera raih nenek arstuti dengan tangan kiri saya. Tangan kanan saya tetap memegang dan memeluk istri saya. Saya tarik mereka ke belakang. Saya berjalan mundur. Dari arah depan orang-orang segera merangsek lagi. Lalu kami pelan-pelan terlempar ke arah luar.

Perjuangan dan pengalaman yang luar biasa. Keringat kami bercucuran. Napas kami tersengal-sengal. Saya lihat wajah istri saya memerah berkeringan kecapaian. Nenek arstuti lebih parah lagi. Ternyata ketika berdesak-desakan tadi tas yang dibawa nenek Arstuti jatuh.

“Biarkan saja, Mbah….!” kata saya.

Kami pun melanjutkan lagi tawaf sampai tujuh putaran. Di lingkaran luar, saya ketemu dengan Pak Gunawan dan Pak Totok. Saya sampaikan ke mereka:
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mencium hajar aswad.”

Rupanya Pak Gunawan dan Pak Totok hanya bisa menempel di Multazam dan belum bisa mencium hajar aswad. Cerita kami ini ternyata menambah semangat Pak Gunawan dan Pak Totok untuk berusaha lebih keras agar bisa mencium hajar aswad. Tanpa sepengetahuan kami, mereka kembali lagi dan akhirnya berhasil juga mencium hajar aswad.

Padahal waktu itu suasana sangat ramai dan padat. Rasanya mustahil bisa mencium hajar aswad dalam suasana seperti ini.

Kami lalu menunggu sholat subuh dan berdzikir sampai waktu syurug. Setelah lewat syuruq kami sholat dua rokaat dan baru beranjak pulang ke hotel untuk sarapan.

***
Ruang makan adalah tempat berkumpul semua orang. Kami ceritakan pengalaman luar biasa kami pagi hari ini. Rupanya, cerita kami memberi inspirasi untuk teman-teman yang lain yang belum mencium hajar aswad. Malam berikutnya mereka ingin mencium hajar aswad dengan dibimbing oleh Ustad Rofi’i.

Esoknya Mbah Arstuti bercerita kalau badannya sakit semua. Di bawah mata kirinya ada lebam biru karena kena sikut orang. Tangan kanan dan kiri biru-biru semua. Kaminya juga biru. Mungkin terbentur waktu jatuh di depan hajar aswad ketika itu. Tapi Mbah Arstuti bangga karena bisa mencium hajar aswad. Biru di matanya malah menjadi pertanda perjuanganya ini. Saya jadi ingat Mak saya di kampung. Ketiak memeluk mereka berdua, yang saya ingat hanya emak saya di kampung. Saya selalu berdoa agar saya diberi kemampuan dan kekuatan untuk mengajak Mak saya pergi umroh. Insya Allah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Oil Palm Bioplastic

Tindihan Ketika Tidur

Apakah Anda pernah ‘tindihan’? Saya coba cari padanan kata ‘tindihan’ dalam bahasa Indonesia, sulit banget. Tindihan itu orang yang dalam posisi tidur, merasa sudah bangun dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya terasa berat dan seperti ditindih sesuatu. Ada beberapa pendapat yang mengaitkan tindihan ini dengan hal-hal ghoib. Entahlah.

Seingat saya, saya belum pernah atau setidaknya sangat jarang sekali tindihan. Padahal sering sekali saya diceritain saudara yang sering ‘tindihan’. Baru kemarin malam saya merasakan sendiri pengalaman tindihan ini. Jadi saya merasa perlu mengabadikan dalam tulisan di blog ini. Kelak suatu saat nanti akan memudahkan saya untuk mengingat dan menceritakan kembali pengalaman ini.

Malam itu saya tidur seperti biasanya. Tidur miring ke kanan. Lampu kamar dimatikan dan hanya lampur ruang utama saja yang dinyalakan. Entah berapa lama saya tertidur. Suatu ketika saya merasa sudah tersadar dari tidur. Saya membuka mata. Kamar masih gelap. Saya bisa melihat almari dan cermin di dekat tempat tidur. Tetapi ketika saya mencoba berpindah posisi tidur dan ‘mengolet’, badan tidak bisa digerakkan. Badan terasa berat banget. Saya coba meronta, tetapi tidak bisa bergerak.

Seperti ada sesuatu yang menindih dari punggung saya. Tengkuk saya bergidik, bulu kuduk berdiri. Saya ingin berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut. Sekilas, saya tersadar; mungkin saya tindihan.

Saya coba untuk membaca ta’awudz, sebisanya…. meski mulut terkunci, tetapi saya terus membaca ta’awudz. Hanya suara ‘argh–argh’ yang keluar. Saya terus berusaha membaca. Saya baca istighfar. Lalu pelan-pelan saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya. Lalu jari-jari kaki. Bisa bergerak sedikit.

Saya coba meronta sekuat tenaga….. Allahuakbar…..

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bergerak normal. Saya bangkit dari tempat tidur. Badan sedikit berkeringat. Lalu saya keluar dan ke kamar mandi. Buang hajat. Lalu, ambil air wudhu.

Saya lihat jam di dinding. Pukul 03.15. Subuh masih cukup lama.

Saya sholat beberapa rakaat… lalu berdzikir dan berdoa seperti biasanya.

Saya coba ingat-ingat, apakah sore tadi saya lupa tidak baca dzikir petang, apakah saya sudah baca doa dan dzikir tidur….. Tidak ingat.

Pengalaman Buruk Menanam Anggrek

hama penyakit anggrek

Anggrek yang mati karena kena busuk jamur dan dimakan siput


Harus saya akui, kalau akhir-akhir ini saya lebih banyak menulis dan memotret anggrek. Harap maklum. Masih pemula, jadi masih banyak belajar.


Kali ini saya ingin berbagi pengalaman buruk menanam anggrek, khususnya anggrek spesies. Pengalaman buruk ini adalah pelajaran berharga untuk lebih baik lagi. Pengalaman buruknya adalah anggrek yang dipelihara ‘mati’ alias wassalam. Ada banyak sebabnya. Salah satunya karena dimakan siput dan busuk akar.

Bogor adalah kota hujan, meski hujannya sudah tidak sesering dulu. Karena sering hujan menyebabkan kelembaban sangat tinggi. Nah, musuh anggrekd di musim hujan adalah siput dan busuk pangkal batang ini.

Siput

Hama tanaman anggrek siput

Hama tanaman anggrek siput

Hewan Nokturnal

Ada dua macam siput yang sering mengganggu tanaman anggrek, yaitu siput bercangkang dan siput tidak bercangkang. Siput tidak bercangkang bentuknya mirip lintah, bedanya siput ini punya tangkai mata yang seperti antena. Antena mata ini tidak panjang cuma beberapa centi saja.

Siput adalah binatang nokturnal, artinya binatang yang aktifnya di malam hari. Siput suka makan bagian tanaman yang lunak-lunak. Kalau siang hari siput akan bersembunyi di balik batu, di sela-sela batang kayu atau di balik arang di dalam pot anggrek. Ketika malam tiba, siput akan merayap mencari makan. Meskipun terkesan lamban, tapi siput bisa merayap naik sampai tinggi sekali. Post saya yang digantung di pohon pernah dimakan siput Sekali makan siput bisa menghabiskan beberapa daun dan batang/bulbo anggrek. Bahaya kan…??!!

Nah… gara-gara siput ini beberapa tanaman anggrek saya sudah jadi korban. Awalnya, pagi hari ketika sedang menyiram tanaman saya lihat ada pot yang gundul. Waduh…kenapa nih anggrek, pikir saya. Daunnya habis semua, tinggal sisa sedikit pangkal batangnya. Bekasnya seperti dimakan binatang. Saya coba cari-cari binatangnya tidak ketemu. Kejadian ini terjadi beberapa kali. Anggrek yang habis dimakan hampir semuanya tidak bisa diselamatkan lagi; wassalam.

Saya curiga mungkin binatangnya makan di malam hari. Habis isya’ saya bawa senter dan clingak-clinguk di antara pot-pot anggrek. Ternyata eh…ternyata… ada sepotong binatang lunak yang sedang lahap memakan daun anggrek. Ketahuan dah… Saya ambil siput itu dan saya gencet sampai mati.

Mengatasi Hama Siput

Patroli Malam Hari

Untuk mengatasi masalah ini, saya jadi lebih sering untuk patroli malam hari, khususnya setelah turun hujan. Cek satu per satu pot atau anggrek yang digantung. Perhatikan dengan lebih seksama, karena warna siput sangat mirip dengan warna tanah, kalau malam hampir-hampit tidak terlihat.

Nah..
Continue reading

Tips Agar Whatsapp Tidak Lemot

Whatsapp (WA) memiliki banyak fitur. WA tidak hanya sekedar tempat ngobrol (chatting) tapi juga berbagi foto, video dan dokumen. Sayangnya, WA menjadi lamban, lemot dan banyak makan memori HP. Berikut ini beberapa tips agar WA tidak cepat lemot.

WA akan Mengilas SMS, MMS dan E-mail

Whatsapp (WA) menjadi salah satu aplikasi messenger wajib di dalam smartphone. Saat ini WA menggantikan fungsi SMS dan MMS. Bahkan, pelan tapi pasti WA akan menggilas e-mail juga dengan kemampuannya untuk saling berbagi foto, video dan dokumen. WA juga bisa untuk menelpon via jaringan internet seperti Skype. Komplit fasilitasnya.

SMS dan MMS fitur komunikasi kuno yang biasanya per satuan pesan. Berbeda dengan WA yang biayanya berdasarkan besarnya memori pesan tersebut. WA menawarkan biasa komunikasi yang jauh lebih murah dibandingkan SMS dan MMS.

Salah satu yang menarik dari WA saat ini adalah fasilitas untuk berbagi dokumen, seperti pdf, docx, xlsx dan pptx. File2 ini bisa langsung dibuka dengan HP smartphone. Dokumen2 yang dulu biasa dikirim via e-mail, kini mulai dikirim via smartphone. WA web yang bisa dibuka dengan laptop/pc menambah fungsionalitas WA yang menggantikan fungsi e-mail.

Namun, karena banyaknya fasilitas ini seringkali WA menjadi lemot alias lamban dan memori membengkak dengan cepat. Apalagi jika kita menggikuti banyak sekali group WA. Percakapan yang intensif dan ramai akan diikuti dengan membengkaknya memori WA. Ada satu group WA yang saya ikuti memakan penyimpanan hingga 3G dan total memori WA 5 GB. Gila…..

Besarnya memori yang dimakan oleh WA bisa memperlemah kemampuan smartphone. Tapi jangan khawatir, berikut ini beberapa tips agar WA menjadi lebih ‘jinak’ dan tidak banyak memakan resource/sumber daya smartphone kita.

Menonaktifkan Download/Loading Otomatis

File yang banyak memakan memori dan kuota internet adalah file foto, video, pesan suara dan dokumen. Secara default, file2 ini akan didownload secaran otomatis. Sayangnya, sebagian besar foto dan video ini tidak terlalu penting. Kadang2 isinya hanya guyonan dan candaan saja.

Salah satu cara agar WA tidak banyak memakan memori adalah membatasi loading otomatis dari file2 ini. Saya mematikan semua setting/pengaturan loading otomatis. Dengan pengaturan ini, foto, video dan pesan suara hanya akan diloading ketika kita memberinya ijin. Jadi kita bisa kemilih foto atau video mana yang akan kita lihat.
Continue reading

Menulis Tulisan yang Google Friendly

Lautan Informasi dan Tulisan di Jagad Maya

Saya mulai suka menulis sejak masih SD. Menulis di buku tulis KIKI, lalu berlanjut menulis di dunia maya. Tujuan menulis hanya satu, menuangkan isi kepala. Mau dibaca orang atau tidak, saya tidak peduli. Tapi, kini saya berpikiran lain; ‘Ngapain menulis kalau tidak ada yang baca…?????’

Ada milyaran artikel dan tulisan di dunia maya. Tulisan kita tenggelam di lautan data dan informasi. Tulisan kita tidak ada manfaatnya jika tidak ada yang membacanya. Agar tulisan kita dibaca orang, maka tulisan kita harus mudah dicari oleh masyarakat dunia maya atau netizen. Dan, netizen mencari dengan bantuan mesin pencari: Mbah Google. Karena itu tulisan yang kita tulis di dunia maya harus mudah dikenali dan dicari oleh Mbah Google. Istilahnya tulisan yang ditulis di internet mesti Google Friendly.

Mengapa harus membuat tulisan yang Google Friendly

Saya tahu sudah cukup lama, tapi baru menyadarinya akhir-akhir ini. Lalu, saya mencoba mencari tahu dan belajar tentang cara-cara membuat tulisan yang Google Friendly. Maka ketemulah saya dengan ‘mahluk’ yang namanya SEO. ‘Mahluk’ yang sudah cukup lama saya dengar, tapi belum pernah ‘berinteraksi’ dengannya.

Ada beberapa buku yang saya baca. Saya juga mencarinya di internet. Banyak sekali, jadi ‘lier’ bacanya. Saya coba memahaminya pelan2. Maklum, sudah mulai berumur, jadi ‘stamina’ belajar juga berkurang.

Karena tulisan yang sudah saya buat cukup banyak, dan semuanya tidak ada pertimbangan ‘Google Friendly‘ atau tidak, saya mulai dari tulisan2 ini. Praktek menerapkan belajar menulis yang Google Friendly jadi dibalik. Tulisan2 yang sudah saya buat saya evaluasi dan perbaiki. Istilahnya di SEO; optimasi on-page.

Masih banyak yang belum saya pelajari dan saya praktekkan. Tapi, saya menikmati setiap proses belajar ini. Meski pelan tapi dipelajari terus dan dipraktekkan. Semoga hasilnya menjadi lebih baik.

Tulisan ini adalah contoh tulisan yang ditulis tanpa mempertimbangkan Google Friendly. Masih pakai metode lama, pokoknya menulis terus dan terus menulis.

Beberapa Tips dari Internet untuk Menulis Tulisan yang Google Friendly

Ada banyak sekali tips yang disampaikan di internet. Ada macam-macam. Saya akan mulai dari yang saya tahu dan sudah saya praktekkan. Pembahansan di artikel ini akan saya update dan mungkin belum selesai. Mohon maaf pembaca. Harap maklum.

Buat Tulisan yang Baik dan Bermutu

Tulisan yang baik, berbobot dan bermutu dengan sendirinya akan selalu menarik perhatian orang dan memberikan manfaat bagi pembacanya. Untuk dapat membuat tulisan yang baik perlu banyak latihan dan memahami kaidah-kaidah bahasa dan tata bahasa yang baik dan benar. Tulisan yang bermutu menyampaikan banyak informasi yang disusun secara logis, sehingga pembaca lebih mudah memahaminya. Meskipun tidak di-optimasi agar Google Friendly, tulisan yang baik akan mendapatkan ranking yang baik dari Google atau pengunjung dunia maya.

Saya mencoba sedikit searching di Google dan mencari tulisan-tulisan yang ada di halaman pertama pencarian Google. Banyak artikel-artikel yang memang bagus dan layak untuk menduduki posisi pertama. Tapi ada juga artikel-artikel yang di halaman pertama, tetapi isinya kurang bermutu, tapi tulisan ini sudah dioptimasi agar Google Friendly.

Membuat sebuah tulisan yang baik mungkin perlu di bahas dalam artikel dan postingan tersendiri. Insya Allah.

Masukkan Kata Kunci di Judul, Heading/Lead Paragraf, dan Isi Tuliran

Orang melakukan pencarian di halaman Google dengan mengetikkan kata kunci dari informasi yang ingin mereka dapatkan. Kata kunci ini bisa bermacam-macam dan banyak sekali kombinasinya. Sebelum menulis sebuah artikel, bisa juga setelah-nya sih…., kita bisa mencoba kombinasi kata kunci dari ide pokok tulisan kita ini dengan Google. Jadi coba ketikkan katan kunci di Google. Google biasanya memberikan beberap saran kata kunci di bawah kotak pencarian tersebut. Di bagian bawah hasil pencarian Google juga menampilkan beberapa kata kunci yang terkait dengan kata kunci yang sudah kita masukkan tadi.

Nah…. Gunakan kata-kata kunci dari Google tersebut untuk judul, heading atau lead tulisan kita, juga beberapa di dalam tubuh artikel yang kita buat.

Buat Struktur dan Sistematika Tulisan yang Baik dan Logis dan Gunakan tag h1, h2 dan h3 untuk menandai struktur tulisan tersebut

Lengkapi dengan Multi Media: Foto, Gambar, Video dan lain-lain

Optimasi Foto, Gambar dan Video

Tambahkan Internal Link dan Eksternal Link

Gunakan Meta Discription

Semoga bermanfaat.

Belajar Injection Molding Plastic

Saya sedang belajar tentang cara dan teknik injection molding untuk bioplastic. Mesin-mesin dan teknologi injection molding yang berkembang baik saat ini adalah untuk plastik dan bukan untuk bioplastik. Mau tidak mau saya harus belajar bagaimana sih teknik injection molding ini. Ada banyak cara untuk belajar, misalnya saja baca buku textbook atau kursus. Saya bukan orang teknik, jadi baca-baca buku teknik tentang injection molding jadi tambah pening kepala saya.

Untungnya sekarang ada YouTube. Apa saja ada di YouTube ini, termasuk masalah injection molding ini. Jadilah saya murid YouTube. Meskipun banyak yang nggak paham, minimal saya jadi tahu prinsip-prinsip dasar injection molding ini. Saya berharap bisa menemukan cara yang mudah dan murah untuk me-molding bioplastik yang sedang saya kembangkan.

Insya Allah.

Oil Palm Bioplastic

Babad Tanah Jawi

Catatan tentang buku Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi

Waktu kecil dulu saya kadang2 diajak Bapak nonton wayang kulit atau pagelaran ketoprak di alun2. Dulu ada acara ketoprak di Tvri Jogja yang sering saya lihat, yaitu ketroprak Gito-Gati. Jadi dikit2 saya tahu cetita2 babad tanah jawa.

Ketika membaca buku ini pikiran saya serasa kembali ke masa2 lalu. Cerita2 ketoprak itu seperti hadir kembali. Ceritanya Ario Penangsang, Joko Tingkir, Breh Wijaya, dan Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Buku ini ditulis oleh orang Belanda W.L.Olthof, di Leiden tahun 1941 dalam bahasa jawa. Lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya tidak tahu cerita ini asli atau campur aduk dengan cerita fiksi. Mungkin ada fakta2 sejarah yang dituliskan di sini, tapi sepertinya juga ada ‘bunga2’ fiksinya. Namun, Disitulah menariknya buku ini.

Ada keterkaitan antara sejarah2 kerajaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa, Sumatera sampai ke Champa dan China. Beberapa waktu yang lalu sempat ramai dengan adanya fakta sejarah koin jaman Majapahit yang bertuliskan arab/Islam. Mungkin juga ada benarnya. Di dalam buku ini disebutkan bahwa jaman Majapahit dulu sudah ada hubungan dengan kerajaan Champa yang sudah masuk Islam. Bahkan sunan2 jaman dulu datang dari Makkah ke Kerajaan Majapahit.

Menariknya di dalam buku ini banyak cerita2 tentang masuknya Islam di Nusantara, asmara, perselingkuhan dan pengkhianatan, intrik2 perebutan kekuasaan, cerita2 kesaktian tokoh2 jaman dulu, kesaktian Kanjeng Sunan Walisongo, Ki Ageng Selo, Aria Penangsang, Ki Ageng Pemanahan, Raden Patah, Kisahnya Joko Tingkir yang terkenal, dan kisah2 keturunan raja2 yang akan berkuasa di tanah jawa ini.

Sejak jaman dulu sebenarnya agama Islam dan politik (pemerintahan) tidak pernah dipisahkan dalam sejarah tanah jawa. Tokoh agama, Para Sunan, juga merupakan tokoh politik atau pimpinan politik kerajaan. Yang menjadi raja2 di tanah jawa punya garis keturunan dengan para Sunan.

Jarang saya tahan membaca buku sejarah dan cerita yang tebalnya sampai 800 halaman. Tidak ada gambarnya sama sekali. Isinya tulisan semua. Justru ‘gambar2’ itu muncul di dalam kepala.

Buku ini menjadi teman bacaan yang menarik, di sela-sela bacaan ‘keras’ sehari2. Menambah wawasan tentang sejarah dan budaya Islam di tanah Jawa ini. Andaikan saya bisa baca langsung yang berbahasa Jawa atau yang ditulis oleh orang jawa asli akan lebih menarik lagi.