Category Archives: Uncategorized

Menulis Tulisan yang Google Friendly

Lautan Informasi dan Tulisan di Jagad Maya

Saya mulai suka menulis sejak masih SD. Menulis di buku tulis KIKI, lalu berlanjut menulis di dunia maya. Tujuan menulis hanya satu, menuangkan isi kepala. Mau dibaca orang atau tidak, saya tidak peduli. Tapi, kini saya berpikiran lain; ‘Ngapain menulis kalau tidak ada yang baca…?????’

Ada milyaran artikel dan tulisan di dunia maya. Tulisan kita tenggelam di lautan data dan informasi. Tulisan kita tidak ada manfaatnya jika tidak ada yang membacanya. Agar tulisan kita dibaca orang, maka tulisan kita harus mudah dicari oleh masyarakat dunia maya atau netizen. Dan, netizen mencari dengan bantuan mesin pencari: Mbah Google. Karena itu tulisan yang kita tulis di dunia maya harus mudah dikenali dan dicari oleh Mbah Google. Istilahnya tulisan yang ditulis di internet mesti Google Friendly.

Mengapa harus membuat tulisan yang Google Friendly

Saya tahu sudah cukup lama, tapi baru menyadarinya akhir-akhir ini. Lalu, saya mencoba mencari tahu dan belajar tentang cara-cara membuat tulisan yang Google Friendly. Maka ketemulah saya dengan ‘mahluk’ yang namanya SEO. ‘Mahluk’ yang sudah cukup lama saya dengar, tapi belum pernah ‘berinteraksi’ dengannya.

Ada beberapa buku yang saya baca. Saya juga mencarinya di internet. Banyak sekali, jadi ‘lier’ bacanya. Saya coba memahaminya pelan2. Maklum, sudah mulai berumur, jadi ‘stamina’ belajar juga berkurang.

Karena tulisan yang sudah saya buat cukup banyak, dan semuanya tidak ada pertimbangan ‘Google Friendly‘ atau tidak, saya mulai dari tulisan2 ini. Praktek menerapkan belajar menulis yang Google Friendly jadi dibalik. Tulisan2 yang sudah saya buat saya evaluasi dan perbaiki. Istilahnya di SEO; optimasi on-page.

Masih banyak yang belum saya pelajari dan saya praktekkan. Tapi, saya menikmati setiap proses belajar ini. Meski pelan tapi dipelajari terus dan dipraktekkan. Semoga hasilnya menjadi lebih baik.

Tulisan ini adalah contoh tulisan yang ditulis tanpa mempertimbangkan Google Friendly. Masih pakai metode lama, pokoknya menulis terus dan terus menulis.

Beberapa Tips dari Internet untuk Menulis Tulisan yang Google Friendly

Ada banyak sekali tips yang disampaikan di internet. Ada macam-macam. Saya akan mulai dari yang saya tahu dan sudah saya praktekkan. Pembahansan di artikel ini akan saya update dan mungkin belum selesai. Mohon maaf pembaca. Harap maklum.

Buat Tulisan yang Baik dan Bermutu

Tulisan yang baik, berbobot dan bermutu dengan sendirinya akan selalu menarik perhatian orang dan memberikan manfaat bagi pembacanya. Untuk dapat membuat tulisan yang baik perlu banyak latihan dan memahami kaidah-kaidah bahasa dan tata bahasa yang baik dan benar. Tulisan yang bermutu menyampaikan banyak informasi yang disusun secara logis, sehingga pembaca lebih mudah memahaminya. Meskipun tidak di-optimasi agar Google Friendly, tulisan yang baik akan mendapatkan ranking yang baik dari Google atau pengunjung dunia maya.

Saya mencoba sedikit searching di Google dan mencari tulisan-tulisan yang ada di halaman pertama pencarian Google. Banyak artikel-artikel yang memang bagus dan layak untuk menduduki posisi pertama. Tapi ada juga artikel-artikel yang di halaman pertama, tetapi isinya kurang bermutu, tapi tulisan ini sudah dioptimasi agar Google Friendly.

Membuat sebuah tulisan yang baik mungkin perlu di bahas dalam artikel dan postingan tersendiri. Insya Allah.

Masukkan Kata Kunci di Judul, Heading/Lead Paragraf, dan Isi Tuliran

Orang melakukan pencarian di halaman Google dengan mengetikkan kata kunci dari informasi yang ingin mereka dapatkan. Kata kunci ini bisa bermacam-macam dan banyak sekali kombinasinya. Sebelum menulis sebuah artikel, bisa juga setelah-nya sih…., kita bisa mencoba kombinasi kata kunci dari ide pokok tulisan kita ini dengan Google. Jadi coba ketikkan katan kunci di Google. Google biasanya memberikan beberap saran kata kunci di bawah kotak pencarian tersebut. Di bagian bawah hasil pencarian Google juga menampilkan beberapa kata kunci yang terkait dengan kata kunci yang sudah kita masukkan tadi.

Nah…. Gunakan kata-kata kunci dari Google tersebut untuk judul, heading atau lead tulisan kita, juga beberapa di dalam tubuh artikel yang kita buat.

Buat Struktur dan Sistematika Tulisan yang Baik dan Logis dan Gunakan tag h1, h2 dan h3 untuk menandai struktur tulisan tersebut

Lengkapi dengan Multi Media: Foto, Gambar, Video dan lain-lain

Optimasi Foto, Gambar dan Video

Tambahkan Internal Link dan Eksternal Link

Gunakan Meta Discription

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Belajar Injection Molding Plastic

Saya sedang belajar tentang cara dan teknik injection molding untuk bioplastic. Mesin-mesin dan teknologi injection molding yang berkembang baik saat ini adalah untuk plastik dan bukan untuk bioplastik. Mau tidak mau saya harus belajar bagaimana sih teknik injection molding ini. Ada banyak cara untuk belajar, misalnya saja baca buku textbook atau kursus. Saya bukan orang teknik, jadi baca-baca buku teknik tentang injection molding jadi tambah pening kepala saya.

Untungnya sekarang ada YouTube. Apa saja ada di YouTube ini, termasuk masalah injection molding ini. Jadilah saya murid YouTube. Meskipun banyak yang nggak paham, minimal saya jadi tahu prinsip-prinsip dasar injection molding ini. Saya berharap bisa menemukan cara yang mudah dan murah untuk me-molding bioplastik yang sedang saya kembangkan.

Insya Allah.

Oil Palm Bioplastic

Babad Tanah Jawi

Catatan tentang buku Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi

Waktu kecil dulu saya kadang2 diajak Bapak nonton wayang kulit atau pagelaran ketoprak di alun2. Dulu ada acara ketoprak di Tvri Jogja yang sering saya lihat, yaitu ketroprak Gito-Gati. Jadi dikit2 saya tahu cetita2 babad tanah jawa.

Ketika membaca buku ini pikiran saya serasa kembali ke masa2 lalu. Cerita2 ketoprak itu seperti hadir kembali. Ceritanya Ario Penangsang, Joko Tingkir, Breh Wijaya, dan Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Buku ini ditulis oleh orang Belanda W.L.Olthof, di Leiden tahun 1941 dalam bahasa jawa. Lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya tidak tahu cerita ini asli atau campur aduk dengan cerita fiksi. Mungkin ada fakta2 sejarah yang dituliskan di sini, tapi sepertinya juga ada ‘bunga2’ fiksinya. Namun, Disitulah menariknya buku ini.

Ada keterkaitan antara sejarah2 kerajaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa, Sumatera sampai ke Champa dan China. Beberapa waktu yang lalu sempat ramai dengan adanya fakta sejarah koin jaman Majapahit yang bertuliskan arab/Islam. Mungkin juga ada benarnya. Di dalam buku ini disebutkan bahwa jaman Majapahit dulu sudah ada hubungan dengan kerajaan Champa yang sudah masuk Islam. Bahkan sunan2 jaman dulu datang dari Makkah ke Kerajaan Majapahit.

Menariknya di dalam buku ini banyak cerita2 tentang masuknya Islam di Nusantara, asmara, perselingkuhan dan pengkhianatan, intrik2 perebutan kekuasaan, cerita2 kesaktian tokoh2 jaman dulu, kesaktian Kanjeng Sunan Walisongo, Ki Ageng Selo, Aria Penangsang, Ki Ageng Pemanahan, Raden Patah, Kisahnya Joko Tingkir yang terkenal, dan kisah2 keturunan raja2 yang akan berkuasa di tanah jawa ini.

Sejak jaman dulu sebenarnya agama Islam dan politik (pemerintahan) tidak pernah dipisahkan dalam sejarah tanah jawa. Tokoh agama, Para Sunan, juga merupakan tokoh politik atau pimpinan politik kerajaan. Yang menjadi raja2 di tanah jawa punya garis keturunan dengan para Sunan.

Jarang saya tahan membaca buku sejarah dan cerita yang tebalnya sampai 800 halaman. Tidak ada gambarnya sama sekali. Isinya tulisan semua. Justru ‘gambar2’ itu muncul di dalam kepala.

Buku ini menjadi teman bacaan yang menarik, di sela-sela bacaan ‘keras’ sehari2. Menambah wawasan tentang sejarah dan budaya Islam di tanah Jawa ini. Andaikan saya bisa baca langsung yang berbahasa Jawa atau yang ditulis oleh orang jawa asli akan lebih menarik lagi.

Protected: Pabrik Pulp Sawit

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Pulp Tadan Kosong Kelapa Sawit

image

Kertas yang dibuat dari tankos sawit

Pembuatan bioplastik dari tandan kosong kelapa sawit/tankos diawali dengan proses pulping dan isolasi selulosa tankos. Saya pernah mencoba proses ini kurang lebih 10 tahun yang lalu. Bos saya lebih dulu melakukannya 15 tahun yang lalu. Waktu itu masih banyak kendalanya.

Pulp dan kertas yang dihasilkan masih berkualitas rendah. Beberapa literatur menyebutkan jika serat tankos pendek dan tebal. Ini membuat karakteristik  kertasnya kurang bagus. Permasalah lainnya adalah kontaminasi kernel/cangkang sawit dan sisa duri yang merusak kertas. Cangkang dan duri bukan selulosa/serat, jadi tidak bisa menjadi kertas. Kontaminasi ini membuat bercak2 hitam pada kertas. Kendala lainnya adalah masih adanya sisa minyak pada pulp. Sisa minyak ini menyebabkan munculnya busa pada saat proses pembuatan kertas.  Selain itu, proses pembuatannya pun masih tidak/belum efisien.

Ketika sedang melakukan penelitian bioplastik ini, saya jadi teringat dengan kawan lama saya Pak Gunawan Surya yang kerja di pabrik kertas. Sudah 10 tahun tidak pernah kontak2 lagi. Untungnya nomornya masih tersimpan. Saya cek nomornya masih aktif. Saya coba kontak, tidak diangkat. Beberapa kali saya coba tetap tidak tersambung. Saya coba lagi di hari lain. Alhamdulillah berhasil tersambung. Pak Gunawan masih ingat dengan saya dan ternyata mengikuti kegiatan penelitian saya. Pembicaraan pun semakin fokus.

Tertanya Pak Gunawan telah melakukan banyak penelitian dengan tankos untuk pulp dan berhasil. Lihat linknya di sini https://gunawansuryapaper.wordpress.com/2013/08/05/efb-tandan-kosong-kelapa-sawit-sebagai-bahan-baku-pulp-kertas/. Hasilnya bagus dan semua problem di atas sebagian besar sudah bisa diatasi. Masih ada sedikit kendala. Menariknya lagi pulp ini sudah diproduksi secara komersial besar-besaran. Saya diperbolehkan oleh Pak Gunawan untuk berkunjung ke pabriknya.

Ini artinya setengah pekerjaan saya untuk membuat bioplastik sudah terselesaikan. Mempermudah lagi fokus penelitian saya. Saya akan lebih fokus untuk memodifimasi selulosa tankos agar bisa menjadi bioplastik. Alhamdulillah.

image
Pulp 100% tankos.

image
Roll kertas 50% tankos

Menikmati Keadaan

Menikmati Keadaan

Semua orang pasti pernah mengalami kondisi yang tidak mengenakkan, suasana yang membosankan, kondisi kerja yang membuat frustasi, atau rumah yang tidak memuat betah. Enak atau tidak enaknya kondisi itu tergantung pada bagaimana kita mereson kondisi dan situasi yang sangat tidak mengenakkan itu.

Pernah suatu hari saya dalam perjalanan dari Semarang-Kendal ke Cirebon-Bogor. Saya naik bis ekonomi. Jarak perjalanannya lebih dari 4 jam. Bis ekonomi tahu sendirilah bagaimana kondisinya. Joknya keras. Tempat duduknya mepet-mepet, kalau duduk kaki nempel di jok depan kita. Susah digerakkan. Udara panas dan penggap, karena tidak ada AC.

Keamanan dengan Pendekatan Kesejahteraan

Ada yang menarik dari materi pra-raker minggu lalu tentang masalah keamanan. Rasa aman dan keamanan menjadi salah satu faktor suksesnya hidup dan usaha. Usaha apa saja. Kalau tidak ada keamanan, bisa hilang semua yang diusahakan. Masalah ini juga dihadapi dalam usaha pertanian dan agrikultur lainnya.

Misalnya saja menanam tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, kehutanan atau tanaman sayur-sayuran. Banyak tanaman yang hilang dicuri, buah-buahan yang diambil anak-anak, atau tanaman yang ditebangi oleh warga sekitar kebun. Kalau skalanya kecil, mungkin lebih mudah mengatasinya. Namun, kalau skalanya luas, perlu banyak usaha untuk mengamankan jerih payah kita ini.

Upaya yang umum dilakukan adalah dengan membangun pagar betis. Bisa berupa tembok tinggi, tanaman rimbun, pagar berduri bahkan kawat listrik. Ada petugas satpam dan keamanan khusus. Pendekatan ini tetap perlu dilakukan. Beberapa cara yang biasa digunakan adalah dengan membantun pagar dari tanaman berduri, seperti tanaman salak. Tanaman salak yang ditanam rapat dipagar kebun akan menghambat orang-orang yang berniat mencuri hasil kebun.

Pak Suhartono, SP., teknisi senior dari PPKK, berbagi tips untuk mengatasi permasalahan keamanan di kebun-kebun atau di pertanian, yaitu melalui pendekatan kesejahteraan. Seringkali permasalahan yang dihadapi perkebunan di desa-desa atau daerah terpencil adalah masalah ekonomi. Mereka mencuri untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Pencurian juga terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi yang cukup besar antara pemilik kebun dengan masyarakat di sekitarnya. Kesenjangan-kesenjangan ini yang mestinya diatasi.

Jadi pendekatannya adalah merelakan sebagian hasil kebun untuk masyarakat di sekitarnya atau orang-orang yang berada di sekitar kebun tersebut. Sebagai kompensasinya, orang-orang ini boleh memanfaatkan hasil kebun atau mendapatkan bagian dari hasil panennya. Melalui pendekatan ini, orang-orang yang berada di sekitar kebun akan ikut merasa memiliki dan akan ikut menjaga kebun dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Pak Suhartono, cara ini berhasil dilakukan di beberapa kebun kakao, kopi, pisang dan kebun-kebun lain. Pendekatan ini juga dilakukan oleh perhutani, mereka memperbolehkan warga untuk memanfaatkan kawasan di pingir hutan, tetapi tidak boleh menebang pohon-pohon di hutan tersebut. Dengan cara ini teryata tingkat pencurian bisa dikurangi.

Kisah Se-kandi Salak

Ini kisah jaman saya masih kuliah dulu, antara tahun 94-95, ketika harga bensin masin Rp.700 perak per liter. Di Fatimah hanya saya yang bawa motor. Motornya RX King. Jaman dulu motor ini keren banget. Larinya kenceng dan paling disukai oleh para preman, copet, jambret dan bandit. Karena itu RX King punya julukan motor jambret.

Ceritanya waktu itu akhir bulan. Biasa, kalau akhir bulan persediaan uang sudah menipis dan saatnya pulang kampung untuk minta uang ‘sangu’ ke Bapak. Uangku tinggal Rp. 2000an. Hanya cukup untuk beli bensin 3 literan. Padahal untuk sampai di rumah, Magelang, butuh bensin 4 liter. Nggak cukup.

“Kamu mau pulang ya, Is?” tanya temenmu Agung Sundowo. Sama-sama penghuni Fatimah. Namanya Sundowo, karena Agung adalah anak blasteran Sunda dan Jawa. Mestinya namanya SUNDAWA, kenapa jadi SUNDOWO? Mungkin karena pengaruh logat jawa. Huruf A dibaca O. 

“Iya nih, Gung. Uangku sudah habis.” jawabku penuh kejujuran.

“Aku boleh ikut tidak? Aku pingin main ke rumahmu di Magelang.”

“Boleh. Ayo main ke rumah. Kalau mau besok siang kita berangkat.” ajakku.

“Lewat Banjarnegara tidak? Aku pingin nengok adikku di sana.”

“Boleh saja. Besok kita lewat Bajar.”

“Tapi ngomong2 kamu punya uang tidak, Gung?”

“Kenapa?”

“Uangku tinggal dua ribu. Nggak cukup buat beli bensin.”

“Ada sih, tapi nggak banyak juga.”

“Oke deh kalau begitu. Besok kita berangkat.”

Esok hari kita sudah siap2 berangkat. Setelah pamitan dengan para sesepuh kami di Fatimah; Mas Imung, Mas Ikhsan, Mas Yono dan teman-teman yang lain, kami berangkat.

“Bismillah”

Agung membonceng di belakangku dengan tenang. Di jalan saya mampir ke pom bensin dulu. Seluruh uang di sakuku saya belikan bensin semua. Dompet yang sudah langsing jadi semakin kempes. Harapanku hanya tinggal sisa uang sakunya Agung.

Darah muda. Aku mengendari motor dengan kencang. Aku bisa tarik gas penuh. Jalan antara Prembun sampai Bajar lurus banget. Gass pooollll. Jalanan masih sepi. Aku lihat speedometer jarum sampai menunjuk angka 125-135. Aku merasa jadi Michael Doohan. Goncangannya sangat keras. Kaca helmku sampai bergetar. RK King memang raja jalanan.

Agung mendekapku kencang. Mungkin dia ketakutan sambil nahan napas dan berdoa.

Sampai di Bajarnegara kami berhenti di masjid agung yang ada di depan alun-alun untuk sholat dhuhur. Selesai sholat kami siap-siap melanjutkan perjalanan lagi. Ketika mau berangkat, Agung seperti kebingungan. Dia raba-raba seluruh sakunya.

“Ada apa, Gung?” tanyaku penasaran.

“Dompetku tidak ada, Is.”

“Jatuh kali waktu wudhu tadi.”

“Nggak ada, sudah aku cari2.”

“Coba cari sekali lagi. Aku bantuin nyari.”

Kami mencari dompet itu ke sana ke mari. Hasilnya nihil.

Hanya uang di dompet itu yang menjadi harapanku untuk bisa sampai rumah.

“Bagaimana nih, Is?”

Nasip….. nasip…. jengkel bercampur marah. Rasanya pingin aku pukuli maling dompet itu. Tega-teganya nyuri dompet mahasiswa miskin seperti kami.

“Kita coba pinjam ke adikku saja, Is. Mungmin dia punya uang.” Agung menawarkan ide.

Singkat cerita, kami mampir di rumah bibinya Agung. Adiknya tinggal di sini. Kami disambut dan dijamu di rumah bibinya Agung.

“Dik, kamu punya uang tidak? Aa pinjam dulu. Dompet aa hilang tadi di masjid.”

“Aku nggak punya uang, A!”

Agung pingin pinjam ke bibinya, tapi tidak berani bilang.

Kalau tidak beli bensin lagi, kami tidak akan bisa sampai Magelang. Baru setengah perjalanan. Mau balik ke Purwokerto bensinya juga tidak cukup. Kami berunding cukup lama untuk mencari jalan keluar. Hasilnya nihil.

Akhirnya kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun kami tidak yakin dan belum tahu bagaimana caranya agar bisa sampai ke Magelang.

Rupanya bibinya Agung sudah menyiapkan oleh-oleh. Banjarnegara adalah kota salak. Bibinya Agung punya kebun salak. Kami diberi oleh-oleh buah salak sekantong penuh. Kantong bekas beras. Kami menyebutnya kandi. Alhamdulillah.

Kami meneruskan perjalanan menuju Wonosobo. Jarum bensin sudah hampir mepet ke bawah. Habis. Kami tidak bawa uang. ‘Harta’ yang kami punya hanya buah salak itu. Tapi buah salak di kota ini harganya murah banget.

“Bagaimana nih, Gung, Bensin habis.”

“Kita jual saja salak ini. Uangnya bisa buat beli bensin.”

” Tapi di sini salak murah. Uangnya nggk cukup.”

“Atau kita tukerin aja salak ini dengan bensin. Mungkin ada yang mau.”

“Kita coba saja.”

Sambil jalan pelan-pelan kami mencari penjual bensin eceran. Kami ketemu penjual bensin. Dengan malu-malu kita mau menukarkan salak dengan bensin. Penjualnya tidak mau.

Kecewa dan sedih bercampur jadi satu. Kami terus berjalan. Setelah melewati jembatan yang berkelok, ada penjual bensin lagi. Penjualnya ibu-ibu. Kami memberanikan diri untuk menukarkan buah salak dengan bensin.

“Nyuwun sewu, Bu. Bensinne kulo telas.”
“Pinten liter nak?”
“Anu Bu. Nyuwun sewu, nangging kulo mboten gadah yotro.”
“Lho njur pripun mbayare?”
“Anu Bu. Dompette kulo kecopetan wonten Banjar wau. Pas sholat wonten engkan mendet dompette kulo.”
“Pripun nggih..??”
“Anu, Bu. Menawi angsal, bensine kulo kintun kaliyan salak. Wonten sekandi niki.”
“Lha arep milih ngendi sampeyan niki?”
“Megelang, Bu.”
“Tasih tebih ngoten?”
“Lah nggih, Bu. Bensine kulo telas.”
“Perlune pirang liter?”
“Kalih liter, Bu”
“Yo wis kene tak isine.”
“Matur sembah nuwun sanget, Bu.”

Mungkin karena kasihan, ibu penjual bensin itu memberi kami bensin dua liter yang dibayar dengan buah salak satu kandi.

Setelah mengucapakan terima kasih berkali-kali kepada ‘malaikat penolong” kami, kami melanjutkan perjalanan ke Magelang. Jaraknya masih 80 km lagi. Lewat Temanggung, Secang baru sampai Magelang.

Alhamdulillah. Kami selamat sampai rumah. Kami tidak akan pernah lupa pengalaman ini. Semoga Allah membalas kebaikan ibu penjual bensin eceran itu.

******
Ternyata dompet Agung tidak dicuri orang. Tapi jatuh di daerah Purbalingga. Ada orang yang menemukan dan mengirimkan balik ke Agung dengan utuh. Alhamdulillah.