Wiwit dan Rikin


Kisah-kisah yang menginspirasi saya


Di kampung saya dulu ada dua orang ‘kurang waras’ yang biasa keliling-keliling kampung. Yang satu namanya Wiwit, laki-laki, umurnya kira-kira 15 tahun di atas saya. Badannya kurung kering, jalannya cepat penuh semangat, selalu tertawa dan ngoceh ke mana-mana. Dia sering digodain oleh anak-anak di kampung saya. Macam-macamlah cara ngodainnya. Sampai kasihan saya.
Wiwit hampir setiap hari datang ke rumah. Kadang-kadang pagi, kadang-kadang siang. Masuk ke rumah lalu duduk dan ngoceh apa saja. Kadang-kadang dikerjain sama saya dan pembantu-pembantu di rumah saya. Dia mah ketawa-ketawa saja.
“Arep ngombe opo kowe, Wit?” tanya Mak saya.
Lalu Mak saya menyiapkan segelas teh manis hangat untuk Wiwit. Kalau makan siang sudah siap:
“Arep mangan sisa ora? Ki aku lagi masak jangan gori karo tempe bacem.”
Wiwit makan dengan lahap. Setelah itu dia pergi lagi, jalan-jalan keliling kampung.
Wiwit biasa memanggil ibu saya dengan panggilan “Makke” (Ibuk) dan bapaknya saya dengan “Pakke”. Kalau lagi pingin minta makan dia masuk rumah dan langsung teriak:
“Pakke, aku luwe ki lho, pingin mangan!”
Bapak saya menyuruh salah seorang ‘rewang’ di rumah saya mengambilkan makan untuk Wiwit.
Ini hampir setiap hari. Subhanallah.
Satu lagi namanya Rikin. Rikit sudah agak tua, badannya tegap, tubuhnya kuat, matanya bulat dan sepertinya banyak putihnya. Anak-anak kampung jarang ngodain Rikin, suka ngamuk soalnya. Kalau ada yang ngodain pasti dikejar dan ditabok. Nggak ada yang berani sama dia. Saya tidak tahu di mana rumah Rikin ini. Kadang-kadang saja dia mampir ke kampung saya.
Sama seperti Wiwit, Rikin juga sering masuk ke rumah. Duduk di bangku kayu panjang yang ada di depan rumah. Rikin ngomongnya juga ngalor-ngidul nggak jelas. Bapak saya sering menyuruhnya mengerjakan sesuatu, bersih-bersih kadang atau kebun.
Pernah suatu hari dia datang ke rumah. Waktu itu belakang rumah masih kebun kosong dan banyak pohon pisangnya. Rumputnya sudah tinggi-tinggi. Bapak saya meminta Rikin untuk membersihkan kebun.
“Kebonan omah kae reged, sukette duwur-duwur. Diresiki kono. Ki gamanne.”,
(Kebon belang rumah sudah kotor. Rumputnya tinggi-tinggi. Dibersihkan ya. Ini sabitnya)
“Yoh….Pakke. Diresikki kabeh, tho?”
“Nganti resik tenah lho, ojo disisakke.”
“Yoh….pak”.
Rikin mengambil sabit itu dan segera ke belang rumah untuk membersihkan kebun. Dia memang rajin sekali dan didukung oleh badannya yang kuat.
Beberapa waktu kemudian, menjelang siang dia selesai mengerjakan tugasnya. Dia kembali ke depan menemui Bapak saya.
“Wis rampung, Pak. Wis tak resikki kabeh.”
“Tenan.”
“Tenah, Pakke. Ora percoyo. Lha mbok ditilikki dewe kae nang mburi.”
Bapak saya menuju ke kebun belakang rumah. Betapa terkejutnya Bapak ketika melihat kebunnya.
Allahuakbar….!!!!
Kebunnya bersih banget, rumputnya dibabat habis oleh Rikin. Termasuk pohon-pohon pisangnya semua. Bersih…sih…. tidak ada yang tersisa.
Bapak pingin marah, tapi juga geli. Bapak ngombel-ngomel ke Rikin. Rikinnya malah nyengar-nyengir saja.
“Mau ngongonnge kon ngersiki kabeh. Yo tak resiki kabah tho……”
“Maksude sukette thok……. ora sak wit-wit gedannge mok enthekke kabeh……..!!!!!”
Tapi Bapak tidak terus-terusan marah. Rikin tetap dikasih makang siang dan sedikit uang. Rikin masih sering datang ke rumah dan Bapak juga ngasih dia kerjaan apa saja.
******
Isroi
Bogor, 07-07-2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s