Tag Archives: haji

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 12

Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail

Ada tiga tempat dan posisi yang paling dicari dan diburu oleh jama’ah di Masjidil Haram. Tiga tempat itu adalah Hadjar Aswad, Multazam dan Hijir Ismail. Hajar Aswad memempel di salah satu sudut Ka’bah. Batu hitam yang sudah terpecah-pecah ini selalu di buru jama’ah untuk dicium atau hanya sekedar diusap tangan saja. Tawaf dimulai dari sudut Hajar aswad ini. Dulu Rasulullah memulai tawaf dengan mengucakan basmallah, takbir dan mencium hajar aswad. Praktek ini diikuti oleh para sahabat dan kaum muslimin hingga saat ini. Jika tidak bisa mencium, mengusap saja atau melambaikan tangan sudah cukup sebagai isyarat memulai tawaf.

Hajar aswad ini adalah batu dari surga yang diturunkan untuk Nabi Adam AS. Lama kelamaan batu ini berubah menjadi hitam kelam karena dosa-dosa yang dilakukan oleh ummat manusia. Meski hanya batu biasa yang tidak bisa mendatangkankan kebaikan maupun kemudhorotan, namun batu ini sangat dimuliakan sejak jaman dulu. Bahkan sejak sebelum kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Ketika hari kimat kelak, batu ini akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menciumnya atau menyentuhnya. Karena itu banyak orang muslim yang berlomba-lomba untuk mencium hajar aswad.

Multazam adalah bagian dinding Ka’bah diantara hajar aswad dan pintu Ka’bah. Dalam sebuah hadist dari Abullah ibnu Umar yang merapatkan seluruh badannya dan menempelkan pipi kanannya ke dinding Multazam. Beliau menyebutkan bahwa seperti itulah yang Beliau saksikan dari Rasulullah. Multazam diyakini sebagai salah satu tempat yang makbul, atau tempat-tempat yang doa-doa akan dikabulkan. Tidak heran jika banyak kaum muslimin yang juga berebut untuk bisa berdoa dan menempelkan badannya ke multazam.

Tempat ketiga adalah hijr Ismail. Salah satu sisi Ka’bah ada bangunan berbentuk setengah lingkaran dan setinggi kira-kira satu setengah meter. Banyak sekali orang mengantri untuk bisa masuk, sholat dan berdoa di dalam hijr Ismail ini. Dalam sebuah hadist Rasulullah dijelaskan kalau hijir Ismail ini adalah bagian dari Ka’bah. Sholat di dalam hijr Ismail sama seperti sholat di dalam Ka’bah. Siapa orang muslim yang tidak ingin sholat di dalam Ka’bah…??? Pastilah semua orang ingin bisa sholat di tempat yang paling mulia ini.

Ketika tawaf dalam rangkaian ibadah umroh hari pertama sama sekali kami tidak bisa mendekat ke Ka’bah. Area tawaf penuh sesak dengan orang. Padahal saat itu masih sore hari. Setiap kali kami mencoba mendekat ke Ka’bah selalu mental kembali ke arah luar. Orang-orang menumpuk dan berjubel di rukun hajar aswad. Di hijr Ismail pun tidak kalau ramainya. Ustad Rofi’i juga sudah mengingatkan untuk tidak berusaha mencium atau mendekat ke Ka’bah ketika tawaf umroh. Sebaiknya selesaikan dulu rangkaian ibadah umroh. Mencium hajar aswad dilakukan di lain waktu saja.

Selepas sholat Magrib kami berempat kembali berpakaian ihram dan akan melakukan tawaf sunnah. Tujuannya agar bisa mendatangi tiga tempat yang mulia itu. Putaran pertama kami masih belum bisa mendekat. Di depan Hajar Aswad penuh sesak orang. Berkali-kali kami coba tetap tidak bisa mendekat. Putaran kedua masih sama. Tapi kalai ini Pak Gunawan terpisah dari rombongan. Kami hanya bertiga saja; saya, istri saya dan Pak Totok.

Di putaran ketiga kami kembali merapat ke Ka’bah. Tetap tidak bisa mendekat ke hajar aswad maupun multazam. Kami berjalan terus ke arah hijr Ismail. Orang-orang masih berdesak-desakan. Ketika sampai di dekat pintu masuk hijr Ismail terlihat terbuka. Dalam pandangan kami, pintu itu kosong, tidak ada orang berdesak-desakan akan masuk, tidak ada penjaganya juga.

“Subhanallah…., sepi Pak Totok”
“Iya…Pak….”
Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam hijr Ismail. Di dekat pintu itu sudah banyak orang yang sedang sholat dan sujud. Bahkan di depan kami pas ada orang yang sujud. Lalu saya ajak mereka merengsek ke arah tengah dan terus ke sisi yang berseberangan.

Alhamdulillah di tempat ini suasana lebih longgar. Akhirnya, di sini kami bertiga berdiri mengambil posisi sholat. Istri saya, saya di tengah dan Pak Totok di samping kanan saya. Saya sholat taubat dua rakaat. Hati bergemuruh hebat. Rasanya senang, terharu, gembira, sedih bercampur menjadi satu. Ketika sujud, air mata tumpah tak bisa ditahan. Kami semua menangis seperti anak kecil. Kami menangis sejadi-jadinya. Kami tidak peduli lagi dengan suasana sekitar kita. Kami tidak peduli kepala-kepala kami dilangkahi dan diinjak orang. Kami mengadu kepuas-puasnya kepada Allah.

Selesai sholat pertama. Kami sholat dua rokaat lagi. Saya niat sholat hajat. Saya sudah tidak memperdulikan dengan istri dan Pak Totok lagi. Ketika saya menoleh, kiri kanan saya sudah beda orang. Air mata tumpah lagi, lebih deras daripada hujan di kota Bogor di bulan Februari seperti ini. Saya berdoa sepuas-puasnya. Dalam setiap sujud saya panjatkan do’a- do’a. Termasuk ditipan do’a dari keluarga, sanak famili dan teman-teman. Salah satu do’a yang saya ucapkan berulang-ulang adalah do’a agar dikaruniani kesehatan dan umur yang barokah. Selesai sholat saya angkat tangan tinggi-tinggi dan berdo’a lagi. Total saya bisa sholat tiga kali, masing-masing dua rokaat. Alhamdulillah.

Lalu saya berdiri. Istri ada di belakang dan Pak Totok juga sedikit di belakang saya. Saya gandeng mereka berdua mendekat ke dinding Ka’bah. Ada askar yang berjaga di sudut itu. Di dinding Ka’bah sudah ada jama’ah perempuan dan laki-laki yang menangis di dinding. Kami menunggu dengan sabar. Askar itu melihat kami. Saya tersenyum ke arah askar itu dan memberi isyarat kalau kami ingin mendekat ke dinding Ka’bah. Askar itu paham dan dengan isyarat kepala dia meminta kami untuk bersabar.

Tak berapa lama askar itu menarik orang yang di dinding Ka’bah dan menyerahkan tempat itu ke istri saya. Saya dan Pak Totok juga mendekat ke dinding. Tapi di depan kami masih ada orang yang sedang berdoa. Tak berapa lama, dia pun beranjak dan kami menempel ke dinding Ka’bah. Tangis kami tumpah lagi. Pak Totok yang menurut saya paling tegar di antar kami juga menangis sesenggukan. Suaranya keras seperti tidak pedulu dengan orang-orang di sekitarnya. Kami pun berdoa lagi. Memanjatkan semua keinginan dan harapan kami kepada Allah, Robb Ka’bah ini. Entah berapa lama kami menangis di dinding Ka’bah ini.

Sampai akhirnya, Istri saya berbisik:”Sudah…gantian dengan yang lain.”
Saya pun segera beranjak. Saya tepuk punggung Pak Totok dan Beliau pun segera beranjak pula. Kami menuju ke arah pintu hijr Ismail.

Ternyata mau keluar dari Hijr Ismail lebih sulit dari ketika masuk tadi. Di sekitar pintu masuk penuh orang. Banyak orang yang mau masuk dan banyak juga orang yang mau keluar. Ada juga orang yang sedang sholat dan berdoa di tengah-tengah keurumunan itu. Pelan-pelan kami terus merengsek ke luar. Maju terus, meski hanya setapak demi setapak. Setelah berdesak-desakan cukup lama, akhirnya kami berhasil keluar juga dari dalam Hijr Ismail. Alhamdulillah.

Kami melanjutkan tawaf yang baru di putaran ketiga. Di rukun yamani kami usap dinding Ka’bah yang terbuka. Berjalan terus dan melantunkan ‘do’a sapu jagad’. Sampai di hajar aswad, kami tetap tidak bisa mendekat. Gelombang orang berdesak-desakan luar biasa yang ingin mencium hajar aswad. Kami terpaksa harus sedikit melebar keluar agar bisa tetap terus melanjutnya putaran tawaf. Di dekat multazam saya coba lagi mendekat. Suasana tidak kalah serunya dibandingkan dengan yang di hajar aswad. Tapi kali ini saya coba paksakan

Jarak kami dengan multazam kira-kira tiga lapis orang. Semuanya berebut ingin mengantung di pintu Kabah, menempel di multazam dan merengsek ke hajar aswad. Saya coba paksakan untuk ikut merengsek ke depan. Badan saya dan istri tergencet. Saya sudah tidak ingat lagi di mana Pak Totok. Pikiran cuma satu, bagaimana badan bisa menempel di multazam. Itu saja.

Sekeras usaha yang kami coba, posisi tetap tidak beranjak. Saya tetap tidak bisa mendekat. Badan malah semakin tergencet. Jarak paling dekat yang sempat saya raih adalah menyentuh dinding multazam. Itu saja tidak bisa lebih lagi. Arus dan gelombang orang sangat kuat. Ketika tangan baru menyentuh sedikit, tiba-tiba gelombang orang keluar dari arah hajar aswad. Kami menjauh lagi dari multazam dan hajar aswad. Akhirnya kami menyerah. Kami mundur dan melanjutkan lagi putaran tawaf yang tersisa.

Putaran-putaran berikutnya kami tidak lagi berusaha mendekat ke hajar aswad atau multazam. Kerumuman orang sangat penuh. Rasanya tidak mungkin bagi kami untuk bisa mendekat. Insya Allah di kesempatan lain kami akan coba lagi. Kami selesaikan tawaf sunnah ini. Lalu kami mencari tempat agak lapang untuk sholat. Sholat di areal tawaf sangat dilarang, karena mengganggu orang yang sedang tawaf. Askar-askar yang berjaga akan mendorong orang-orang yang nekad sholat di areal tawaf dan mengusir mereka ke arah luar.

Kami berjalan terus ke arah luar. Di Bagian belakang ke jalur yang menuju ke bukit shofa ada tempat minum air zam-zam. Seperti yang disunnahkan, kami minum air zam-zam sambil menghadap ka’bah dan membaca doa. Sebagian kami siramkam ke kepala. Kerongkongan rasanya segar sekali.

Kali ini saya sudah terpisah dengan Pak Totok dan Pak Gunawan. Entah di mana mereka. Kami lalu duduk menunggu sholat isya’ sambil berdizkir dan membaca Al Qur’an. Selepas sholat kami pulang ke hotel untuk makan malam.

Di tempat makan kami menceritkan pengalaman kami ini. Pak Totok dan Pak Gunawan sudah ada di hotel duluan. Ustad Rofi’i, mutawif kami, menyarankan kalau kami ingin mencium hajar aswad sebaiknya selepas tengah malam. Sekitar jam 2 malam sampai menjelang waktu subuh. Konon katanya di waktu-waktu itu area tawa lebih sepi dan lebih mudah untuk mencium hajar aswad. Kami pun sepakat nanti malam mau mencoba lagi untuk bisa mencium hajar aswad. Rugi rasanya kalau sudah di Makkah dan di depan Ka’bah tetapi tidak mencium hajar aswad.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 10

Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali

Bis yang ditunggu pun datang juga. Bisnya berwarna orange dan ada tiga pintu otomatis; pintu bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Di bagian depannya ada papan tulisan Deafah Hotel Group. Ustad Rofi’i memberi tahu bahwa bis ini gratis untuk pelanggan hotel. Tandanya gelang plastik warna orange dan ada logonya D; logo group hotel Deafah. Dari hotel ini hanya rombongan jama’ah umroh kami saja, maklum kami terlambat ikut sholat jamaah di masjidil haram.

Kami yang Bapak2 semua sudah berpakaian ihram, ibu2 ada yang mengenakan mukena putih ada juga yang menggenakann mukena hitam. Ustad Rofi’i terus membimbing kami mengucapkan kalimat talbiyah. Jarak antara hotel dengan masjidil haram tidak terlalu jauh, sekitar 500-700m saja. Naik bis tidak lebih dari 5 menit saja. Saya lihat ke arah luar. Dari kejauhan menara masjid sudah terlihat. Kami melewati bagian perluasan masjid yang belum jadi. Setelah tanjakan sedikit, lalu jalan menurun. Pelataran masjidil haram sudah terlihat. Hati berdegub keras serasa tidak percaya bahwa kami akhirnya sampai juga ke Makkah.

Bis berhenti tidak jauh dari pertigaan dekat pelataran masjid. Kami semua turun dengan tertib sambil mulut masing2 melafalkan kalimat talbiyah. Ustad Rofi’i berjalan di depan dan kami mengikutinya dari belakang. Saya gandeng tangan Umminya Royan erat-erat. Pak Gunawan dan Pak Totok berjalan di depan saya. Pak Soleh dan istrinya di belakang saya. Posisi kami ditengah2 jama’ah.

Kami melewati polisi yang berjaga di pertigaan. Jalan terus ditutup, sehingga mobil2 yang sebagian taksi dan bis harus berbelok balik ke arah bawah. Jalan ini macet dan ramai. Sesekali ada bunyi klakson taksi dan klakson bis. Setelah melewati aspal, kami melangkah menuju ke pelataran masjid yang tersusun dari lantai marmer putih. Ada semacam gedung kecil kotak dan di atasnya terlulis ‘EXIT 4’, ditulis juga dalam bahasa arab. Kami berjalan terus, melewati tempat wudhu untuk laki2 dan tempat orang minum. Di depan kami gerbang masjidil haram yang megah sudah terlihat. Di seberangnya berdiri kokoh Zam-Zam Tower yang terkenal itu. Di bagian atasnya adalah jam besar. Jam menunjukkan pukul satu siang lebih sedikit.

Pelataran masjid ini sangat luas. Orang2 berpakaian ihram mulai banyak terlihat berjalan searah dengan jalan kami. Ada orang arab, orang berwajah India atau Pakistan, ada juga orang Turki, dan orang2 berwajah putih dengan mata agak sipit, mungkin jamaah dari Eropa Timur. Kami semakin dekat dengan gerbang masjid. Di salah satu pintunya tertulis Gate 70. Tapi ustad Rofi’i tidak mengajak kami masuk ke pintu itu.

“Kita masuk lewat pintu khusus untuk jamaah umroh,” kata ustad Rofi’i memberi aba2 pada kami.

Kami pun melangkah mengikuti di belakang beliau. Kami berjalan terus mendekat ke arah Zam-Zam Tower. Melewati gerbang besar dengan dua menara yang mengapitnya. Tapi kita masih berjalan terus. Sampailah kita di pntu yang dijaga beberapa orang askar. Jama’ah diminta melepas sandal dan memasukkannnya ke dalam kantong plastik lalu menyimpannya di tas kecil yang kita bawa. Suasana hari ini benar-benar ramai. Pintu masuk untuk umroh ini kecil saja, membuat orang3 berdesak2kan untuk masuk.

Askar2 itu berjaga2 sambil matanya tajam mengawasi setiap jamaah yang mau masuk. Ada juga beberapa orang petugas berpakaian gamis putih dan menggunakan rompi coklat. Mereka mengawasi tas dan bawaan para jama’ah. Jika ada jamaah yang membawa bungkusan besar atau tas besar akan di hentikan dan diperiksa bawaannya. Tas yang besar tidak boleh di bawa masuk. Tas itu harus ditinggal atau dititipkan di tempat penitipan.

Terus terang, perasaan kami antara percaya dan tidak percaya, antara mimpi dan kenyataan. Hati terasa diaduk; haru, sedih, gembira, menjadi satu. Saya pegang erat tangan Umminya Royan, samping saya Pak Gunawan, Pak Totok di depan saya. Ustad Rofi’i yang agak pendek tertutup oleh jamaah yang lain. Kalimat talbiyah terus terucap dari mulut kami. Bersahut2tan dengan jamaah lain.

Masjid ini benar2 megah. Langit2ya tinggi dan semuanya terbuat dari batuan alam. Kami belum bisa melihat Ka’bah. Kami berjalan pelan2 sambil berdesak2kan. Semuanya dengan wajah terharu dan tidak sabar ingin melihat Ka’bah. Kami berjalan terus dan berbelok dua kali. Di beberapa bagian masjid ini ditutup dan tidak boleh dilewati karena sedang ada renovasi, mungkin karena itu jama’ah harus berjalan sedikit memutar.

Meski jama’ah penuh sejak, suasana di dalam masjidilharam terasa dingin. Banyak kipas yang ada di atas kepala kami. Kipasnya berukuran besar dan hanya berjarak sekitar 1,5m dari atas kepala jama’ah. Di beberapa tiang ada kipas2 yang lebih kecil yang menempel dan mengarah ke bawah. Di bagian bawah setiap tiangnya juga terasa udara dingin yang berhembus. Udaranya lebih dingin daripada di puncak. Saya pun terasa kedinginan.

Lampu2 gantung besar mengantung di langit2 masjidil haram. Ada lampu2 lain yang menempel di dinding dan melingkar di tiang2 masjid. Suasana di dalam majid ini terang benderang.

Setelah berjalan beberapa lama, di depan kami ada tangga menuju ke lantai bawah. Di tengah2nya ada dua eksalator (tanga berjalan). Jamaah berduyun2 ke bawah. Di lantai bawah ini lah kami bisa melihat langit luar dan cahaya matahari yang cerah. Dari kejauhan, di atas kerumunan orang2 itu di depan kami mulai terlihat bagunan kotak berwarna hitam. Ya…. itulah bagian atas Ka’bah yang kami rindukan.

Tanpa teras air mata kami tumpah seketika. Do’a-do’a, kalimat2 pujian meluncur dari mulut kami. Hampir semua wajah-wajah itu berlinang air mata. Kami berjalan masih berdesak-desakan. Ustad Rofi’i sesekali menengok ke belakang untuk melihat jamaahnya. Kami masuk dari rukun Yamani.

Tangan kanan saya memeluk istri saya. Saya pegang erat-erat. Tangan kanan saya pegangan dengan tangan Pak Gunawan. Istri Pak Soleh pegangan tangah istri saya, Pak Soleh di belakangnya. Pak Totok dibelakang sendiri. Kami bergandengan seperti ular yang berada di lautan manusia.

Tidak ada mata yang tidak mengucurkan air mata. Tidak ada mulut yang tidak basah berdzikir.

Ya …Robb kami penuhi panggilanmu


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 16

Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali

Meski di tawaf sunnah kedua saya sudah berhasil mengusap hajar aswad, saya belum merasa puas. Karena saya belum bisa benar-benar memasukkan kepala ke dalam lubang hajar aswad dan mencium batu hitam itu. Dalam hati kecil saya, keinginan saya untuk mencium hajar aswad tetap membara. Saya pun mengajak istri saya untuk mencoba mencium hajar aswad lagi di lain waktu.

Setelah makan pagi, saya merasa kuat dan cuaca cukup cerah. Saya ajak istri saya untuk mencoba ke hajar aswad lagi. Istri saya setuju. Kami pun bersiap-siap untuk mencium hajar aswad itu lagi. Saya berpakaian ihram dan istri saya menggenakan baju hitam dan kerudung hitam besar. Seperti biasa, kami berangkat ke masjid dengan naik bis hotel.

Jam besar di zam-zam tower menunjukkan pukul 9 kurang. Cuaca cerah dan cenderung panas. Saya lihat papan penunjuk di depan gerbang Raja Fahd menunjukkan suhu 32oC. Lumayan panas. Meski panas teris sekali, anehnya marmer di pelataran masjidil haram tidak terasa panas. Malah terasa dingin. Aneh.

Di Bogor ada juga masjid yang semuanya dilapisi marmer. Tapi pelataran luarnya panas luar biasa kalau terpapar terik matahari. Pikiran saya tidak bisa memahami bagaimana marmer di masjidil haram ini, yang sedemikian luas ini, bisa tetap dingin di cuaca yang sangat panas dan terik ini.

Sejak keluar hotel, kami menguatkan niat agar bisa mencium hajar aswad. Sepajang pejalanan di dalam bis, saya tidak pernah putus bersholawat. Demikian pula ketika masuk ke masjid. Setelah membaca doa masuk masjid, kami selalu bersholawat atas Nabi. Bersholawat dan terus berjalan sampai di rukun Yamani. Pelataran tawaf tetap ramai meski kondisinya terik. Memang tidak pepenuh dan sepadat ketika malam hari. Mungkin orang-orang lebih banyak menghindar di cuaca yang bisa membuat kepala pening seperti ini.

Kami merangsek agak ke tengah. Kami mulai tawaf dari posisi hajar aswad di lingkaran dalam. Jaraknya sekitar lima lapis orang dari hajar aswad. Hajar aswad tetap dipenuhi orang yang berjubel-jubel ingin menciumnya.

“Bismillahi Allahuakbar…..”, kami lambaikan tangan dan menciumnya.

Baru beberapa langkah kami mendekat ke multazam. Subhanallah. Dalam pandangan kami multazam kosong. Hanya satu lapis orang saja yang sedang menempel di dinding multazam.

“Ayo, Mi….!”

Saya tarik istri saya ke multazam. Di depan kami ada bapak-bapak yang sedang menangis dan bertafakur di dinding multazam. Kami berdiri tepat di bawah askar yang menjaga hajar aswad. Dinding multazam hanya cukup untuk tiga orang saja. Semuanya penuh. Bibir kami tak henti-hentinya bersholawat. Terus bersholawat sambil berdoa di dalam hati.

Tiba-tiba, tangan askar itu menarik orang yang ada di depan kami. Istr saya langsung saya dorong maju dan naik satu batu dan menempel tetap di dinding multazam. Tangan istri saya bergelantungan di kiswah penutup Ka’bah. Saya masih belum bisa ke multazam, karena masih terhalang satu orang lagi. Tak lama berselang, orang itu mundur dan gantian saya yang maju menempel ke multazam. Saya tempelkan seluruh badan saya, dada saya, pipi kanan saya dan tangan saya menegadah menempel ke dinding multazam. Mata air kami tumpah sejadi-jadinya. Hati bergemuruh hebat. Meluap-luap dan meletup-letup tidak terhaankan. Saya panjatkan do’a-do’a saya. Saya baca istigfar, sayidul istigfar, doa nabi yunus ketika diperut ikan paus. Semua doa dan harapan saya panjatkan. Saya sebutkan nama emak saya, nama bapak saya, nama anak-anak saya, nama adik saya, nama kakak saya dan nama saudara-saudara saya. Saya sebutkan semua dan saya sampaikan semua titipan do’anya. Saya berdoa sepuas-puasnya.

Entah berapa lama kami berada di multazam. Waktu serasa berhenti dan kami kehilangan orientasi waktu untuk sesaat. Sampai akhirnya, istri saya mengingatkan saya untuk mundur dan memberi kesempatan kepada jama’ah lainnya yang ada di belakang kami. Kami pun berjalan mundur. Saya pegang erat tangan istri saya, saya peluk kuat-kuat.

Jarak multazam dan hajar aswad sangat dekat. Hanya beberapa langkah saja. Ketika kami mundur itu, saya lihat hajar aswad sepi. Hanya satu atau dua lapis orang saja dan tidak tampak berdesak-desakan seperti sebelumnya.

“Hajar aswad lagi, Mi…. Langsung..!”

Saya tarik istri saya menuju hajar aswad. Di depan kami ada ibu-ibu dari Indonesia yang juga mengantri ingin mencium hajar aswad. Posisinya di depan kami.Kami merangsek ke depan pelan-pelan. Meski berdesak-desakan, kali ini tidak seramai sebelumnya. Sampai akhirnya jarak kami dengan hajar aswad hanya beberapa langkah lagi. Ibu-ibu di depan saya tergencet dari depan. Saya tahan dari belakang. Pelan-pelan kami maju terus. Bapak-bapak saling sikut berebut untuk bisa mencium hajar aswad. Sampai akhirnya tinggal satu lapir orang lagi. Begitu orang yang mencium hajar aswad berbalik, saya segera dorong ibu-ibu itu maju. Posisinya tepat di depan hajar aswad dan bisa mencium hajar aswad. Saya mengikuti dari belakang sambil memeluk istri saya dengan tangan kanan. Tangan kiri saya berpegangan pada bibir hajar aswad.

Ibu-ibu itu berbeger ke kanan. Sesaat hajar aswad terlihat lowong. Saya mencoba untuk maju, tapi susah sekali. Orang-orang laki-laki yang dari sisi kiri juga tidak bisa masuk. Saya berteriak keras: “Allahuakbar….!!!!””””
Saya merengsek ke depan dan seperti mimpi, hajar aswad di depan mata saya. Saya cium sepuas-puasnya hajar asawad itu.

Setelah seluruh bagian dalam hajar aswad saya cium, saya menegakkan badan. Tiba-tiba dari samping orang sudah berdesakan mau masuk. Saya tarik tangan istri saya agar bisa mendekat ke hajar aswad. Rupanya sudah orang lain yang lebih dulu ke hajar aswad. Istri saya terhalang oleh ibu-ibu yang ada di depan saya tadi. Tangan istri saya tetap saya tarik agar bisa masuk, minimal mengusap hajar aswad.

Ibu-ibu yang ada depan saya tadi posisinya sekarang tergencet di bawah askar. Dia bersaha keras untuk berbalik, tetapi tidak bisa. Justru semakin tergencet dari samping dan belakang. Saya dan istri saya berbeser ke kanan. Saya teriak ke ibu itu:

“Jangan berbalik, Bu. Tidak bisa. Mundur saja pelan-pelan.”

Saya tarik bahunya. Seperti ketika pertama kali mencium hajar aswad, tangan kirim saya memeluk istri saya dan menariknya ke belakang. Tangan kanan saya raih bahu ibu-ibu itu dan saya tarik ke belakang. Dengan susah payah, kami pelan-pelan mundur ke belakang mencari tempat yang lebih longgar. Akhirnya, kami pun bisa lepas dari kerumuman orang-orang yang ingin mencium hajar aswad itu. Ibu-ibu itu langsung berbalik dan memeluk erat istri saya. Mereka berdua menangis sesenggukan, entah apa yang dirasakan si Ibu itu. Mungkin si Ibu itu terharu bisa mencium hajar aswad. Mungkin bersyukur karena selamat dari gencetan orang-orang yang ingin mencium hajar aswad.

Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya dilepaskan pelukan itu. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada kami.

“Ibu masih ingat rombonganan, Ibu?” tanya saya.

Dia mengangguk sambil mengucapkan, “Masih.”

“Ibu bisa pulang sendiri?”

“Bisa…”

“Semoga kita bertemu lagi, Bu. Assalamu’alaikum.”

Lalu kami melanjutan tawaf kami yang tertunda. Saya sudah tidak lihat lagi ibu-ibu tadi. Dia menghilang dikerumuman orang-orang yang sedang tawaf.

Di putaran ketiga, kami mendekat ke hijr Ismail. Kali ini, pintu hijr ismail seperti terbuka kembali untuk kami. Kami pun masuk lagi ke dalam hijr Ismail. Sholat sunnah seperti ketika pertama kali masuk ke sini. Ketika keluar kami pun bermunajat di dinding Ka’bah.

Kami lanjutkan tawaf sampai putaran ke tujuh. Di putaran ketujuh kami menuju arah luar. Sholat dua rakaat di tempat yang sudah disediakan untuk sholat dan minum air zam-zam.

Kami berada di masjidil haram sampai sholat dhuhur dan baru kembali ke hotel untuk makan siang selepas sholat dhuhur.

Hari ini kami puas sekali, karena bisa mencium hajar aswad, berdoa di multazam dan sholat lagi di dalam hijr Ismail.

Alhamdulillah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 13

Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam

Sekitar jam 2 malam kami sudah bangun. Saya ketuk pintu kamar istri saya. Kamar kami dipisah, laki-laki dengan laki-laki satu kamar dan perempuan dengan perempuan di kamar yang lain. Saya memberitahu istri saya agar bersiap-siap menuju ke Ka’bah lagi. Kami, yang bapak-bapak berpakaian ihram. Karena yang boleh berada di area tawaf hanya yang berpakaian ihram saja.

Kamar samping saya dihuni ibu-ibu dari rombongan jember. Mereka ternyata juga tidak tidur.

“Mau ke mana, nak?” tanya salah satu nenek-nenek.
“Insya Allah, kami mau tawaf lagi.” jawab saya singkat.

“Mau nyium hajar aswad,ya?” tanya nenek-nenek yang lain dengan logat maduranya.

“Insya Allah, Mbah.”

“Saya juga pingin, boleh ikut bareng?”

“Saget, Mbak. Ikut bareng kami saja.”

Ada satu orang nenek yang ingin ikut. Namanya, Mbak Arstuti. Usianya 67 tahun berasal dari Bondowoso. Nenek Arstuti berangkat sendiri dan dititipkan ke rombongannya Mas Sugiono. Ada satu lagi nenek-nenek dari Surabaya. Usianya mungkin lebih tua dari Mbak Arstuti dan jalanya sedikit payah. Nenek ini berangkat bersama dengan anak-nya.

“Saya juga pingin ikut, tapi anak saya masih tidur. Katanya kecapaian.”

“Nanti saja, Mbak. Bareng dengan anak sampeyan saya. Saya tidak berani kalau ada apa-apa nanti.” kata saya.

Akhirnya, hanya Mbah Arstuti yang ikut kami tawaf malam ini. Kami serombongan bertujuh menuju ke masjidil haram naik bis hotel. Turun dari bis jalanan terlihat lebih sepi daripada malam tadi. Sesepi-sepinya masjidil haram tetap saja ramai orang. Kami masuk melalui pintu yang memang dikhususkan untuk orang yang akan umroh dan berpakaian ihrom. Istri saya selalu bersama dengan Mbah Arstuti. Dan saya menjaga mereka berdua. Pak Totok dan Pak Gunawan berjalan beriringan. Pak Soleh dan Istrinya juga berjalan beriringan.

Kami masuk dari sisi rukun yamani menuju ke rukun hajar aswad. Kami memulai tawaf seperti biasanya. Putaran pertama kami belum berhasil mendekat. Lanjut ke putaran kedua. Di putaran ini belum berhasil mendekat juga. Di putaran ketiga kami terpisah. Saya hanya bertiga; saya, istri saya dan Mbah Arstuti. Kewajiban saya untuk menjaga kedua wanita ini. Mbah Arstuti tumbuhnya pendek dan badannya kecil. Tapi, semangatnya kuat sekali untuk bisa mencium hajar aswad. Jadi selama tawaf berkeliling Ka’bah, saya berada ditengah sedikit di belakang mereka.

Di putara ketiga ini kami mendekat ke Ka’bah. Di depan hajar aswad penuh sekali orang. Berdesak-desakan luar biasa. Mbah Arstuti saya pegang dengan tangan kiri dan istri saya dengan tangan kanan saya. Kita mengikuti arus mendekat ke arah hajar aswad dari sisi multazam. Jadi bertentangan dengan arus orang yang sedang tawaf. Kami tepat di depan multazam. Orang-orang berdesak-desakan luar biasa. Saya lihat Mbah Arstuti tetap bersemangat dan tetap melafalkan dizkir dan sholawat. Saya pun bertambah bersemangat dan berdzikir lebih keras lagi.

Ketika berdesak-desakan itu ada bapak-bapak yang menegur saya:
“Dibantu-dibantu….!!!!” katanya dengan logat madura yang kental.
Rupanya benar kata orang-orang, untuk mencium hajar aswad ada calo-nya juga. Saya sudah diwanti-wanti oleh Ustad Rofi’i kalau jangan mau kalau ditawari bantuan. Karena kalau berhasil mereka minta uang besar sekali. Harganya tidak hitungan. Ada yang bilang 1000 riyal, 1500 riyal atau 500 riyal. Uang yang banyak sekali itu.
“Tidak….Tidak…..”, jawab saya tegas dan singkat.

Tidak cuma sekali saya ditawari. Tapi berkali-kali oleh orang-orang yang berbeda. Mafia dan calo ini memang nyata adanya.

Kami terombang-ambing mengikuti gelombang gerakan orang-orang. Entah berapa lama, saya sudah tidak ingat lagi. Jarak kami dengan dinding Ka’bah kira-kira tiga lapis orang. Kebetulan dua lapis di depan kami sebagian besar adalah ibu-ibu. Dalam posisi terjepit ini kami melatunkan sholawat terus dan berdzikir terus. Saya perhatikan orang-orang ini. Rupanya mereka ini adalah sekelompok sindikat mafia hajar aswad. Saya bisa tahu karena mereka saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan bahasa madura. Meski saya tidak bisa dan tidak tahu bahasa Madura.

Ada seorang ibu-ibu muda yang sedang dibantu calo. Bapak-bapak di belakang saya memberi arahan.
“Maju terus….”
“Jalan lawan arus…ikuti saja”
“Maju lagi….geser ke depan.”
“Tahan….jangan mundur…”

Ooo…. ini ketua mafia-nya, pikir saya dalam hati.

Di bagian paling depan, tepat di samping hajar aswad ada perepuan arab (mungkin), perawakan besar sekali, tangannya besar, badannya besar. Meski di samping hajar aswad, perempuan ini seperti tidak ingin mencium hajar aswad. Kerjaannya memukul kepala laki-laki yang ada di depannya dan memberi jalan bagi orang-orang yang ada di belakangnya. Wah…. calo juga nih sepertinya.
Oleh askar yang menjaga hajar aswad perempuan ini dimarah-marahi. Sayang saya tidak bisa bahasa arab, jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Kami terus merengsek ke depan. Badan tergencet. Saya lihat nenek Arstuti tetap semangat meski badanya kecepit. Istri saya nafasnya sudah terengah-engah dan mau menyerah.
“Kita di depan multazam. Berdoa’ terus. Sholawat terus. MInta sama Allah agar kita bisa mencium hajar aswad,” kata saya ke mereka berdua.

Mereka berdua saya peluk kuat-kuat. Dorongan dari belakang saya keras. Dari depan tidak kalau kerasnya lagi. Perjuangan yang luar biasa. Ibaratnya kita tidak bisa maju tidak bisa mundur. Tergencet di tengah-tengah.

Ibu-ibu muda yang dibantu calo tidak kalah parahnya. Posisinya sekarang tepat di depan kami. Dia sudah sangat kepayahan. Dia berteriak-teriak minta tolong dan mau menyerah.

“Maju terus…. sedikit lagi….Jangan menyerah”, begitu aba-aba dari pimpinan calo di belakang saya. Tepat persis di telinga saya ngomongnya.

Suasana semakin tidak terkendali. Ibu-ibu arab gede besar itu sikut sana sikut sini membuka celah. Termasuk nenek Arstuti kena sikut ibu-ibu itu. Arus dari depan sangat kuat. Mereka bapak-bapak orang arab yang tinggi besar, orang-orang dari Afrika dan dari India yang juga ingin mencium hajar aswad. Dorongannya sangat kuat. Kami terlempar ke luar karena tidak sanggup menahan dorongan itu. Ibu-ibu yang dibantu calo kembali berteriak menyerah. Kerudungnya sampai tertarik lepas dari kepalanya. Wajahnya memerah dan kelihatan kesakitan sekali.

Tiba-tiba dari arah depan, Ibu-ibu Arab itu sikut sana-sikut sini. Mungkin karena tidak kuat menahan dorongan dari depan, Ibu-ibu arab itu menyikut dan mendorong wajah saya. Saya pernah latihan pencak silat dulu, tahu bagaimana menangkis serangan semacam ini. Saya kibaskan tangan saya ke atas, sehingga tubuh ibu-ibu arab itu terlempar ke luar lewat samping saya.

Saya segera pegang kuat-kuat dua wanita yang saya lindungi. Saya dorong maju, hingga jarak kami dengan hajar aswad hanya tinggal satu orang lagi. Ada orang berambut gimbal yang mencium hajar aswad. Perasaan lama sekali dia menciumnya. Tiba-tiba tangan askar itu menarik kepala itu. Badannya sedikit bergeser ke belakang. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Nenek Arstuti saya dorong ke depan hajar aswad.

Alhamdulillah, nenek arstuti bisa masuk ke dalam hajar aswad. Tangan saya bertahan di besi pelindung hajar aswad, saya berusaha sekuat tenaga melindungi istri saya dan nenek ini. Saya tidak bisa mencium hajar aswad karena terhalang tubuh nenek arstuti. Tangan istri saya saya tarik agar bisa menyentuh hajar aswad. Tiba-tiba nenek arstuti terpeleset jatuh. Tangan saya masuk ke hajar aswad. Hajar aswad tepat di depan mata saya. Saya bisa melihat dengan jelas pecahan batu hitam itu. Tapi saya tidak bisa menciumnya, karena kalau saya mencium hajar aswad pasti menginjak nenek arstuti.

Nenek arstuti berteriak dan bertakbir “Allahu Akbar…..Allahu Akbar……Allahu Akbar….!!!!!””””
Tangannya melambai-lambai ke atas seperti minta pertolongongan. Saya terus berusaha melindungi beliau, karena dorongan dari belakang, kanan dan kiri sangat kuat sekali.
Saya pun berterik ke askar “Askar……Askar…..Askar…..!!!!!””””

Askar menoleh ke arah saya. Dia pun segera meraih tangan nenek arstuti dan mengankatnya ke belakang. Saya segera raih nenek arstuti dengan tangan kiri saya. Tangan kanan saya tetap memegang dan memeluk istri saya. Saya tarik mereka ke belakang. Saya berjalan mundur. Dari arah depan orang-orang segera merangsek lagi. Lalu kami pelan-pelan terlempar ke arah luar.

Perjuangan dan pengalaman yang luar biasa. Keringat kami bercucuran. Napas kami tersengal-sengal. Saya lihat wajah istri saya memerah berkeringan kecapaian. Nenek arstuti lebih parah lagi. Ternyata ketika berdesak-desakan tadi tas yang dibawa nenek Arstuti jatuh.

“Biarkan saja, Mbah….!” kata saya.

Kami pun melanjutkan lagi tawaf sampai tujuh putaran. Di lingkaran luar, saya ketemu dengan Pak Gunawan dan Pak Totok. Saya sampaikan ke mereka:
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mencium hajar aswad.”

Rupanya Pak Gunawan dan Pak Totok hanya bisa menempel di Multazam dan belum bisa mencium hajar aswad. Cerita kami ini ternyata menambah semangat Pak Gunawan dan Pak Totok untuk berusaha lebih keras agar bisa mencium hajar aswad. Tanpa sepengetahuan kami, mereka kembali lagi dan akhirnya berhasil juga mencium hajar aswad.

Padahal waktu itu suasana sangat ramai dan padat. Rasanya mustahil bisa mencium hajar aswad dalam suasana seperti ini.

Kami lalu menunggu sholat subuh dan berdzikir sampai waktu syurug. Setelah lewat syuruq kami sholat dua rokaat dan baru beranjak pulang ke hotel untuk sarapan.

***
Ruang makan adalah tempat berkumpul semua orang. Kami ceritakan pengalaman luar biasa kami pagi hari ini. Rupanya, cerita kami memberi inspirasi untuk teman-teman yang lain yang belum mencium hajar aswad. Malam berikutnya mereka ingin mencium hajar aswad dengan dibimbing oleh Ustad Rofi’i.

Esoknya Mbah Arstuti bercerita kalau badannya sakit semua. Di bawah mata kirinya ada lebam biru karena kena sikut orang. Tangan kanan dan kiri biru-biru semua. Kaminya juga biru. Mungkin terbentur waktu jatuh di depan hajar aswad ketika itu. Tapi Mbah Arstuti bangga karena bisa mencium hajar aswad. Biru di matanya malah menjadi pertanda perjuanganya ini. Saya jadi ingat Mak saya di kampung. Ketiak memeluk mereka berdua, yang saya ingat hanya emak saya di kampung. Saya selalu berdoa agar saya diberi kemampuan dan kekuatan untuk mengajak Mak saya pergi umroh. Insya Allah.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Pak Haji Fathur

Pak Haji Fathur haji berkali-kali

Pak Haji Fathur dan saya di Masjid Nabawi.

Namanya Pak Haji Fathur. Orang Madura, tapi tinggal di Jember. Ketika umroh saya gabung (digabungkan) dengan jama’ah umroh keluarga Pak Haji Fathur yang berjumlah 16 orang. Pak Haji Fathur sudah pergi haji 4 kali dan pergi umroh sudah berkali-kali. Semangatnya luar biasa. Saya banyak terinspirasi oleh Beliau. Semoga Allah memberi kemampuan pada kami untuk bisa pergi haji dan umroh berkali-kali, seperti keluarga Pak Haji Fathur ini. Aamiin

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 2

Manasik Terakhir

Kira2 satu minggu sebelum jadwal pemberangkatan ada pesan WA masuk dari Ustad Doddy.
“Assalamu’alaikum wr wb. Afwan, Akhi. Untuk persiapan terakhir dan informasi keberangkatan umroh, semua CJU (calon jamaah umroh) diwajibkan mengikuti manasik terakhir di Mampang Prapatan, Jakarta. Alamat dan jamnya akan dikabari lagi. Terima kasih.”

Kami senang mendapatkan kabar itu, karena selama ini kami masih bertanya-tanya kepastian keberangkatan kami. Lokasi manasiknya di sebuah sekolah IT di jalan utam kayu, Mampang. Jadwal pertemuannya hari minggu pukul 09 pagi.

Hari minggu pagi-pagi kami sudah bersiap menuju ke Mampang. Mesti bisa bawa mobil sendiri, saya minta Pak Rifai untuk mengantar kami ke Jakarta. Kami sempat kesulitan menemukan alamatnya, karena sekolah itu sedang di renovasi dan nomor rumahnya tertutup oleh seng bangunan. Mobil parkir di pinggir jalan yang agak sempit itu. Kami masuk ke lokasi dan ada penjaga sekolah pakai seragam coklat. Saya menanyakan apakah benar ini sekolah IT yang ditunjukkan oleh Ustad Dodi.

“Benar, Pak. Bapak mau manasik, ya? Lokasinya di lantai 2, Pak. Ustad Iwan sudah ada.” Jawan penjaga itu dengan sopan sambil menunjuk ke lantai dua sekolah IT ini.

Ustad Iwan adalah direktur biro umroh tempat kami akan melaksanakan ibadah umroh ini. Saya belum pernah ketemu Beliau dan baru pertama kali ini kami datang manasik di tempat ini. Kami biasanya manasik di Bogor.

Kok masih sepi tempatnya? Padahal sudah pukul sembilan lebih, kata saya dalam hati.

Ketika naik ke lantai dua kami bertemu dengan Bapak dan Ibu sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Suaminya, maaf, jalannya agak pincang. Istrinya jalan di belakangnya.

“Assalamu’alaikum,” sapa saya sambil menjabat tangannya.

“Mau manasik, Pak?”
“Iya.”
“Saya juga, katanya di lantai dua. Ruangan yang mana, ya?”, kata saya sambil berbasa-basi.
Di atas ada Bapak2 berumur sekitar lima puluhan memakai baju koko dan kopiah. Sambil tersenyum dia menyambut kami.
“Dari Bogor, ya? Pak Isroi? Saya Irman.” Katanya memperkenalkan diri.
“Silahkan, Pak. Manasiknya di kelas itu yang pintunya terbuka.”
Kami pun masuk ke ruang kelas itu. Masih kosong. Kelas SD dengan bangku kecil untuk satu anak. Saya masuk dengan Istri. Kami mengambil tempat duduk di baris ke dua agak ke depan dan di ujung. Bapak dan Ibu yang ketemu dengan kita tadi duduk di belakang.
“Saya Isroi, Pak, dari Bogor. Ini istri saya.” Kata saya memperkenalkan diri.
“Saya Soleh, dari Bekasi.” Jawabnya.
“Baru kita saja yang datang, ya? Memangnya berapa orang jamaah umroh kali ini?” Tanya saya lagi.
“Tidak tahu juga saya. Iya masih kita sendiri.” Jawab Pak Soleh singkat. Dari logatnya saya tebak Pak Soleh orang Sunda.
Kami pun ngobrol basa-basi sambil menunggu yang lain. Sementara itu Pak Irman menyiapkan sound system dan layar proyektor.
Tak berapa lama, masuk seorang laki2. Tubuhnya kecil altletis, rambutnya pendek, berkumis dan mengenakan kaos.
“Assalamu’alaikum.”
Sapanya sambil masuk ke ruangan. Dia mengambil tempat duduk di depan sisi kiri. Kami tidak banyak bicara dan menyibukkan diri dengan aktifitas masing2.
Tak berselang lama, masuk lagi seorang ke ruangan. Masih cukup muda, rabutnya tipis, wajahnya bulat, tidak terlalu tinggi dan tubuhnya sedikit besar. Wakahnya selalu tersenyum.
“Assalamu’alaikum.” Katanya ketika masuk ruangan dan menyalami kami satu per satu. Dia mengambil tempat duduk di depan di dekat bapak yang betubuh altletis tadi.
Tak berapa lama, ada Bapak2 yang lain lagi masuk dengan memba snack box dengan kantong plastik putih. Dia mengeluarkan snack box itu dan membagikannya pada kami.
“Silahkan… silahkan…”
Saya iseng bertanya, “Yang lain belum datang, Pak?”
“Tidak. Jamaah umroh kali ini hanya segini.”
“Enam orang saja?”
“Ya.”
Bapak itu, namanya Pak Rusdi, membagikan juga botol minuman air mineral ukuran kecil.
Beberapa menit kemudian, masuk Bapak2 berpakaian koko, memakai kacamata, menggenakan kopiah. Di tangannya membawa segepok buku hijau kecil; pasport. Dia duduk di depan. Pak Irman berdiri membuka acara. Beliau memperkenalkan diri dan mengenalkan bapak yang duduk di depan adalah Ustad Iwan, direktur biro umroh dan haji Maksimal. Pak Irman mempersilahkan Ustad Iwan untuk menyampaikan materi manasik kali ini.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…..”
Sebagaimana pembukaan ceramah, ustad Iwan membaca hamdalah, sahadat dan sholawat atas Nabi. Lalu membaca beberapa ayat dan hadist tentang haji dan umroh. Ustad Iwan menampilkan slide dengan proyektor.
Ustad Iwan menyampaikan materi tentang keutamaan haji dan umroh, hukum2 umroh, larangan2 umroh, sunnah2 umroh dan benerapa tips Umroh. Materi yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di buku saku yang dibagikan dan video2 manasik di YouTube. Di sesi tanya jawab saya menanyakan lagi tentang peserta umroh.
“Jamaah yang umroh kali ini berapa orang, Ustad?”
“Jamaah umroh kali ini hanya enam orang saja.”
“Jadi kita semua yang ada di sini, ya Ustad?”
“Ya.”
Ustad Iwan membuka buku pasport yang diikat karet. Lalu beliau membaca namanya satu per satu.
“Pak Gunawan?”
Lelaki pendek berambut tipis itu mngacungkan jari. Namanya Pak Gunawan.”Pak Soleh?””Bu Mariati?””Pak Totok?”Bapak- bapak berbadan atletis itu menunjukkan jarinya. “Pak Isroi?””Bu Happy?”
Semua orang sudah diabsen. Kami pun diminta untuk mengisi absensi.
Kemudian Pak Gunawan bertanya, “Maaf, Ustad. Jadwal kita nanti di sana seperti apa ya, Ustad? Tiket kita pakai pesawat apa, ya?”
Ustad Iwan menjawab sambil membagikan lembaran fotokopian bersisi jadwal kegiatan umroh selama di Makkah dan di Madinah.
“Ini jadwal kita. Kita insya Allah akan berngkat hari kamis sore jam 14 kumpul di Bandara. Di depan Hokben Terminal 2. Pesawat kita Etihad.”
Ustad Iwan menjelaskan satu persatu jadwal tersebut.
Pertanyaan2 berikutnya seputar tips selama beribadah Umroh.
Acara manasik selesai menjelang adzan dhuhur. Pihak travel sudah menyediakam makan siang nasi kotak. Kami semua dibagikan nasi kotak sebelum pulang.
Wajah2 kami terlihat ceria. Senyuman selalu tersungging di wajah jamaah umroh yang hanya enam orang ini. Meskipun hanya sedikit, tetapi setwlah mendengarkan penjelasan Ustad Iwan, kami merasa optimis dan senang karena akan segera bernagkat ke tanah suci.
Kami pun pualng ke rumah masing2. Saya dan Umminya Royan pulang ke Bogor. Pak Gunawan ke BSD. Pak Totok ke Ciputat. Pak Soleh dan istrinya kembali ke Bekasi.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Suntik Vaksin Meningitis di KKP Soekarno Hatta

suntuk vaksin meningitis KKP Soeta haji umroh

Kartu bukti sudah disuntuk vaksin meningitis di KKP Bandara Soekarno Hatta.

Meningitis adalah penyakit radang selaput otak atau membram pelindung syaraf pusat. Penyakit yang sangat berbahaya. Untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit ini perlu disuntik vaksin meningitis. Terutama untuk masyarakat yang ingin berangkat haji dan umroh. Salah satu klinik yang melayani suntik vaksin meningitis adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Soekarno Hatta,

Vaksin ini diwajibkan oleh pemerintah Saudi sejak tahun 2002 bagi jamaah haji dan umroh dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Calon jamaah haji dan umroh sangat banyak di Indonesia, permintaan suktik vaksin ini pun sangat banyak. Tidak heran kalau sampai mengantri lama untuk vaksin meningitis.

Salah satu klinik yang melayani suntik vaksin ini adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta. Lokasinya ada di komplek perkantoran Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Jakarta. Jika Anda ingin suntik vaksin di sini, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.

suntuk vaksin meningitis KKP Soeta haji umroh

Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno Hatta yang melayani suntik vaksin meningitis untuk calon jamaah haji dan umroh.


Continue reading

Mimpi Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar aswad kakbah mekkah Mencium Hajar Aswad

Jika mimpiku bisa naik haji bersama seluruh keluarga dan Emakku terwujud, aku pingin banget bisa mencium hajar aswad. Mencium sepuas-puasnya, kalau bisa berkali-kali.


Tiga tahun kemudian, kami bisa umroh. Dan Alhamdulillah, kami bisa mencium hajar aswad. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali.

Baca di sini:

Perjuangan Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad Kedua Kali


Mencium hajar aswad haji mekkah Mencium Hajar Aswad

Om Tino; Pergi Haji adalah Panggilan

Sudah cukup lama cerita ini mengendap di kepalaku. Cerita tentang kisah hidupnya Om Tino. Ini adalah lanjuta kisah yang saya tulis sebelumnya: Berbagi Pengalaman dengan Om Tino.

*****
Om Tino menceritakan bagaimana dia akhirnya menunaikan ibadah haji. Beberapa tahun sebelumnya istrinya sudah lebih dulu pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Om Tino tidak mau ikut. Ketika itu sama sekali tidak terbesit dalam pikirannya untuk pergi ke tanah suci. Ada banyak alasan yang dia utarakan untuk memenuhi ajakan istrinya itu. Intinya adalah Om Tino belum merasa terpanggil untuk pergi haji.

Entah dari mana awalnya, Om Tino lama kelamaan jadi ingin pergi haji. Om Tino sudah mulai sholat dan rajin ke masjid. Keinginan untuk pergi haji semakin kuat. Dia mengajak saudaranya untuk ikut serta dan Om Tino yang akan membayar semua biayanya. Padahal waktu itu Om Tino sedang jadi penggangguran dan dia tidak memiliki uang cukup. Saldo rekening bank menipis.

Continue reading