Tag Archives: catatan

Catatan-Catatan Umroh – Bagian 2

Manasik Terakhir

Kira2 satu minggu sebelum jadwal pemberangkatan ada pesan WA masuk dari Ustad Doddy.
“Assalamu’alaikum wr wb. Afwan, Akhi. Untuk persiapan terakhir dan informasi keberangkatan umroh, semua CJU (calon jamaah umroh) diwajibkan mengikuti manasik terakhir di Mampang Prapatan, Jakarta. Alamat dan jamnya akan dikabari lagi. Terima kasih.”

Kami senang mendapatkan kabar itu, karena selama ini kami masih bertanya-tanya kepastian keberangkatan kami. Lokasi manasiknya di sebuah sekolah IT di jalan utam kayu, Mampang. Jadwal pertemuannya hari minggu pukul 09 pagi.

Hari minggu pagi-pagi kami sudah bersiap menuju ke Mampang. Mesti bisa bawa mobil sendiri, saya minta Pak Rifai untuk mengantar kami ke Jakarta. Kami sempat kesulitan menemukan alamatnya, karena sekolah itu sedang di renovasi dan nomor rumahnya tertutup oleh seng bangunan. Mobil parkir di pinggir jalan yang agak sempit itu. Kami masuk ke lokasi dan ada penjaga sekolah pakai seragam coklat. Saya menanyakan apakah benar ini sekolah IT yang ditunjukkan oleh Ustad Dodi.

“Benar, Pak. Bapak mau manasik, ya? Lokasinya di lantai 2, Pak. Ustad Iwan sudah ada.” Jawan penjaga itu dengan sopan sambil menunjuk ke lantai dua sekolah IT ini.

Ustad Iwan adalah direktur biro umroh tempat kami akan melaksanakan ibadah umroh ini. Saya belum pernah ketemu Beliau dan baru pertama kali ini kami datang manasik di tempat ini. Kami biasanya manasik di Bogor.

Kok masih sepi tempatnya? Padahal sudah pukul sembilan lebih, kata saya dalam hati.

Ketika naik ke lantai dua kami bertemu dengan Bapak dan Ibu sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Suaminya, maaf, jalannya agak pincang. Istrinya jalan di belakangnya.

“Assalamu’alaikum,” sapa saya sambil menjabat tangannya.

“Mau manasik, Pak?”
“Iya.”
“Saya juga, katanya di lantai dua. Ruangan yang mana, ya?”, kata saya sambil berbasa-basi.
Di atas ada Bapak2 berumur sekitar lima puluhan memakai baju koko dan kopiah. Sambil tersenyum dia menyambut kami.
“Dari Bogor, ya? Pak Isroi? Saya Irman.” Katanya memperkenalkan diri.
“Silahkan, Pak. Manasiknya di kelas itu yang pintunya terbuka.”
Kami pun masuk ke ruang kelas itu. Masih kosong. Kelas SD dengan bangku kecil untuk satu anak. Saya masuk dengan Istri. Kami mengambil tempat duduk di baris ke dua agak ke depan dan di ujung. Bapak dan Ibu yang ketemu dengan kita tadi duduk di belakang.
“Saya Isroi, Pak, dari Bogor. Ini istri saya.” Kata saya memperkenalkan diri.
“Saya Soleh, dari Bekasi.” Jawabnya.
“Baru kita saja yang datang, ya? Memangnya berapa orang jamaah umroh kali ini?” Tanya saya lagi.
“Tidak tahu juga saya. Iya masih kita sendiri.” Jawab Pak Soleh singkat. Dari logatnya saya tebak Pak Soleh orang Sunda.
Kami pun ngobrol basa-basi sambil menunggu yang lain. Sementara itu Pak Irman menyiapkan sound system dan layar proyektor.
Tak berapa lama, masuk seorang laki2. Tubuhnya kecil altletis, rambutnya pendek, berkumis dan mengenakan kaos.
“Assalamu’alaikum.”
Sapanya sambil masuk ke ruangan. Dia mengambil tempat duduk di depan sisi kiri. Kami tidak banyak bicara dan menyibukkan diri dengan aktifitas masing2.
Tak berselang lama, masuk lagi seorang ke ruangan. Masih cukup muda, rabutnya tipis, wajahnya bulat, tidak terlalu tinggi dan tubuhnya sedikit besar. Wakahnya selalu tersenyum.
“Assalamu’alaikum.” Katanya ketika masuk ruangan dan menyalami kami satu per satu. Dia mengambil tempat duduk di depan di dekat bapak yang betubuh altletis tadi.
Tak berapa lama, ada Bapak2 yang lain lagi masuk dengan memba snack box dengan kantong plastik putih. Dia mengeluarkan snack box itu dan membagikannya pada kami.
“Silahkan… silahkan…”
Saya iseng bertanya, “Yang lain belum datang, Pak?”
“Tidak. Jamaah umroh kali ini hanya segini.”
“Enam orang saja?”
“Ya.”
Bapak itu, namanya Pak Rusdi, membagikan juga botol minuman air mineral ukuran kecil.
Beberapa menit kemudian, masuk Bapak2 berpakaian koko, memakai kacamata, menggenakan kopiah. Di tangannya membawa segepok buku hijau kecil; pasport. Dia duduk di depan. Pak Irman berdiri membuka acara. Beliau memperkenalkan diri dan mengenalkan bapak yang duduk di depan adalah Ustad Iwan, direktur biro umroh dan haji Maksimal. Pak Irman mempersilahkan Ustad Iwan untuk menyampaikan materi manasik kali ini.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…..”
Sebagaimana pembukaan ceramah, ustad Iwan membaca hamdalah, sahadat dan sholawat atas Nabi. Lalu membaca beberapa ayat dan hadist tentang haji dan umroh. Ustad Iwan menampilkan slide dengan proyektor.
Ustad Iwan menyampaikan materi tentang keutamaan haji dan umroh, hukum2 umroh, larangan2 umroh, sunnah2 umroh dan benerapa tips Umroh. Materi yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di buku saku yang dibagikan dan video2 manasik di YouTube. Di sesi tanya jawab saya menanyakan lagi tentang peserta umroh.
“Jamaah yang umroh kali ini berapa orang, Ustad?”
“Jamaah umroh kali ini hanya enam orang saja.”
“Jadi kita semua yang ada di sini, ya Ustad?”
“Ya.”
Ustad Iwan membuka buku pasport yang diikat karet. Lalu beliau membaca namanya satu per satu.
“Pak Gunawan?”
Lelaki pendek berambut tipis itu mngacungkan jari. Namanya Pak Gunawan.”Pak Soleh?””Bu Mariati?””Pak Totok?”Bapak- bapak berbadan atletis itu menunjukkan jarinya. “Pak Isroi?””Bu Happy?”
Semua orang sudah diabsen. Kami pun diminta untuk mengisi absensi.
Kemudian Pak Gunawan bertanya, “Maaf, Ustad. Jadwal kita nanti di sana seperti apa ya, Ustad? Tiket kita pakai pesawat apa, ya?”
Ustad Iwan menjawab sambil membagikan lembaran fotokopian bersisi jadwal kegiatan umroh selama di Makkah dan di Madinah.
“Ini jadwal kita. Kita insya Allah akan berngkat hari kamis sore jam 14 kumpul di Bandara. Di depan Hokben Terminal 2. Pesawat kita Etihad.”
Ustad Iwan menjelaskan satu persatu jadwal tersebut.
Pertanyaan2 berikutnya seputar tips selama beribadah Umroh.
Acara manasik selesai menjelang adzan dhuhur. Pihak travel sudah menyediakam makan siang nasi kotak. Kami semua dibagikan nasi kotak sebelum pulang.
Wajah2 kami terlihat ceria. Senyuman selalu tersungging di wajah jamaah umroh yang hanya enam orang ini. Meskipun hanya sedikit, tetapi setwlah mendengarkan penjelasan Ustad Iwan, kami merasa optimis dan senang karena akan segera bernagkat ke tanah suci.
Kami pun pualng ke rumah masing2. Saya dan Umminya Royan pulang ke Bogor. Pak Gunawan ke BSD. Pak Totok ke Ciputat. Pak Soleh dan istrinya kembali ke Bekasi.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
15. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
16. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Catatan buku: The Thief of Baghdad

Novel terjemahan The Thief of Baghdad

Novel terjemahan The Thief of Baghdad


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Saya sebenarnya jarang sekali membeli buku novel. Apalagi novel terjemahan. Entah mengapa waktu saya ‘refreshing’ di toko buku saya tertarik dengan buku saku bersampul merah ini. Judulnya ‘The Thief of Baghdad’ karangan Alexander Romanoff. Bukunya berukuran kecil, jadi saya pikir cocok untuk menjadi ‘teman dalam perjalanan’.

Pikiran yang terlintas di kepala ketika membaca judul buku ini adalah kisah tentang Aladin di negeri 1001 malam, atau film “The Prince of Persia”. Apalagi nama penerbitnya adalah Dastan, sama seperti nama tokoh utama dalam film The Prince of Persia. Ceritanya pasti tidak jauh berbeda, pikir saya.

Saya baca buku ini dalam ‘acara mudik mingguan’ ke Bogor-Pati. Buku ini menjadi teman setia untuk membunuh waktu di dalam kereta. Ternyata asik juga baca buku cerita heroik seperti ini.

Novel ini bercerita tentang Ahmad yang berprofesi sebagai pencuri di Bagdad. Kisahnya berlatar belakang negeri Persia yang perkasa. Persia jaman dulu adalah negera adidaya bersama dengan Romawi. Kalau Romawi berkuasa di Barat, Persia kekuasaannya di Timur. Kerajaannya makmur.

Syahdan Khalifah Bagdad akan menikahkan putrinya. Pangeran2 berdatangan dari negeri2 tetangga. Ahmad si pencuri pun menyamar menjadi pangeran dan ikut melamar. Ahmad dan tiga pangeran yang lain merebutkan cinta sang putri.

Malapetaka pun terjadi. Kekhalifahan Bagdad jatuh ke tangan pasukan Mongol yang kejam. Dari kekacauan tersebut siapakah yang berhasil mendapatkan cinta sang putri dan membebaskan Bagdad dari tangan bangsa Mongol.

image

Catatan Buku: Di Bawah Lindungan Ka’bah

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Buku klasik ini saya temukan di perpustakaan keluarga milik Bapak Mertuaku. Sampul bukunya sudah hilang entah ke mana. Warna kertasnya juga sudah coklat. Tapi, isinya tetap menarik untuk dibaca.

Buku tipis setebal 84 halaman ini adalah salah satu karya sastrawan besar bangsa ini; Prof. Buya HAMKA. Cetakan pertama buku ini tahun 1938 dan buku ini adalah cetakan yang ke-12 tahun 1976. Sudah cetak ulang selama 38 tahun. Luar biasa. Bahkan mungkin ada cetakan terbaru dari buku ini.

Seingat saya, saya pernah membaca buku ini waktu SD dulu. Pinjam dari perpustakaan sekolahku; SD Inpres Cacaban 2. Jaman dulu belum ada ruangan khusus perpustakaan. Bukunya juga masih sedikit. Ketika jam istirahat buku-bukunya akan digelar di atas meja di depan ruang kantor sekolah. Anak-anak mengerumininya, termasuk aku.

Buku ini bercerita tentang kisah tragis anak manusia yang berakhir sedih. Sebuah kisah cinta yang tak sampai dan berakhir dengan kematian.

Meskipun saya sudah beberapa kali membaca buku ini. Kadang2 saya ulangi lagi. Ketika membacanya saya seperti kembali ke masa-masa silam. Sekolahku yang di bawah gunung sukorini seperti hadir kembali. Teman-teman kecilku dulu muncul di kepalaku.

Kalau Anda suka membaca buku cerita, buku ini sebaiknya tidak Anda lewatkan.
Selamat membaca.
Baca juga : Catatan Buku.

image