Category Archives: MyPoems

Puisi-puisiku

Puisinya Abim: Tamanku

Anakku yang nomor dua, Dedek Abim alias Ibrahim (8 tahun), mulai belajar menulis. Anaknya periang, sensitif, dan sedikit romantis. Hari ini dia mengirimkan puisi gubahannya yang pertama via Skype. Ini dia puisinya:

Tamanku

tamanku kau bersih sekali,
aku lihat burung bernyanyi riang,
tidak ada sampah dimana – mana,
tamanku kau indah sekali,
karena kubersihkan setiap hari.

Pati, 30 Oktober 2010
Abim

100_1154

Advertisements

Rinduku

Seuntai Rindu

Malam ini
Bersama sunyi dan sepi
Di  balik diam termanggu
Rindu menyapa
dengan lembut
namun mengena

***

Hal terberat yang aku rasakan ketika berada di Göteborg ini adalah jauh dengan keluarga & orang yang dicintai.  Meskipun saat ini ngobrol bisa dilakukan setiap saat  via Skype (thanks skype), tapi cuma bisa didengar dan dilihat. Tak bisa di pegang, dipeluk atau dicium.
Minggu-minggu awal belum begitu terasa. Komunikasi masih dilakukan dengan cara konvensional: SMS. Saya lupa tidak install Skype di komputer rumah, jadi belum bisa Skype-an. Paling-paling kirim pesan via FB atau YM-an pakai NIMBUZZ. Hanya bisa baca pesan-pesan singkat saja.
Awalnya saya SMS pakai kartu KOMPIZ. Lumayan juga, sekali SMS kena 1-2 SEK. Pulsa disedot habis dalam sekejab. Obat rindu ternyata mahal banget. Lalu, temen merekomendasikan pakai AMIGOS, katanya murah untuk telepon dan SMS ke luar negeri. Jadilah saya beli pulsa AMIGOS di warung PRESSBYRÅN 100 SEK. Memang bener murah sekali, semenit cuma sekitar 1  SEK. Tapi biaya misscall sampai 2 SEK. Pernah susah sekali terhubung, yang menjawab Cik Veronika melulu, tak terasa pulsa 25 SEK pun melayang. Bulan ini biaya pulsaku menembus 500 SEK  (= Rp. 600rb). Obat rindu memang semakin mahal. 
Komunikasi yang murah memang via internet rupanya. Apalagi pakai SKYPE. Masalahnya satu, laptop rumah belum terinstall Skype. Saya minta Ummi Royan – istri tercinta – install Skype saya pandu via NIMBUZZ, tetep aja belum bisa. Saya  pandu pakai AMIGOS. Ngomong sampai ndower bibirku, belum berhasil juga. Lalu coba alternatif lain, minta bantuan saudara untuk mwngistallnya, tetep aja nggak bisa-bisa. Akhirnya laptop rumah diungsikan ke Magelang. Setelah diutak-utik oleh Om Manto baru sukses Skype  terintall. Malam itu pukul 2 WIB (atau pukul 11 malam CEST) aku bisa melihat wajah Om Manto. AKhirnya pikirku….
Hari-hari berikutnya, ngobrol via Skype. Pulsa telepon bisa ditekan lebih rendah. Demi Skype, orang rumah pasang Speedy, tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Hari minggu pagi, saya janjian Online dengan keluarga. Jam 5 pagi, habis sholat subuh laptop sudah dihidupkan. Nunggu video call dari negeri tercinta di seberang benua sana.
Tak begitu lama suara ringging call khas Skype terdengar. Klik Accept video call. Koneksi terasa luuaaambrrraaaatttt…..banget. Loading video tidak muncul-muncul. Setelah nunggu sampai hampir putus asa:
“Abi…………..!!!!!!”, teriak Mas Royan & Dedek Abim bersamaan. Suara itu menerobos masuk ke relung hati.
Saya jadi ingat dulu ketika mereka masih anak-anak.  Royan yang diam, tetapi tak pernah berhenti bergerak. “Anteng Kitiran” kata orang jawa. Dedek Abim yang tangisannya kenceng banget dan klo ngomong seperti radio, sama-sama tak bisa diam.
Tanpa ku sadari mereka sudah besar-besar. Dedek Abim tambah putih dan cakep. Mas Royan wajahnya  semakin ‘cool’ dan tampak lebih besar.
“Abi…, sedang apa? Di sana dingin ya…?” tanya Mas Royan.
Adiknya yang ada disampingnya, sambil bergaya bilang, “Abi…abi…abi….”
Ummi Royan yang ada di belakang mereka hanya senyam senyum saja. Meskipun kadang-kadang nakal, anak-anak tetap menyenangkan.
Hari itu rinduku tertumpah semua.
***
Pernah suatu hari, ketika sedang naik Tram, saya melihat dua anak laki-laki. Sepertinya mereka bersaudara, karena wajahnya mirip. Yang satu duduk diam saja menghadap ke arah luar. Sepertinya dia anak yang lebih besar. Di sampingnya adiknya mengelayut di punggung kakaknya. Sang kakak sepertinya sedang marah dan tidak mau diganggu adiknya. Di usirnya sang adik dengan sikutnya. Sang adik tetap aja menggoda. Dia sentil-sentil kakaknya. Sang kakak tetap mengarahkan pandangannya ke luar, cuek saja.
Sang adik tidak kekurangan akal. Diahadapkan wajahnya ke wajah sang kakak, sambil menyibir: “Weeeekkk…..” (gitulah kira-kira klo orang Indonesia).
Sang kakak tampak semakin kesal. Lalu dia bangkit dan ngeloyor pindah ke depan.   Sang adik mengekor di belakangnya.
Melihat tingkah mereka saya jadi ingat Royan & Ibrahim. Hampir tiap hari mereka bertengkar. Ada aja yang rebutkan. Kadang-kadang mereka bertengkar, kadang-kadang kompak. Pernah suatu hari saya jemput mereka di sekolah, keduanya jalan pulang sambil berangkulan. Kompak banget. Tak jarang kakaknya menggoda adiknya sampai nangis. Atau adiknya merenggek-rengek yang membuat kakaknya kesal.
Umminya yang sudah capek semakin kesal dan marah-marah. Anak-anak seperti sengaja membuat umminya marah.
Saya jadi ingat Royan ketika baru berumur 1 tahun. Sejak kecil Royan tidur denganku, karena umminya ‘nenenin’ Ibrahim. Saya jadi ingat Ibrahim kalau tidur selalu minta ‘dipuk-puk’ punggungnya. Kalau Abim belum tidur tidak boleh berhenti nepuk-nepuk punggungnya. Padahal orang tuanya sudah capek seharian kerja.
Saya jadi teringat kalau saya capek, Mas Royan dan Dedek Abim yang menginjak-injak badan. Badan capek jadi sedikit lebih lega.
Kenangan-kenangan itu menari-nari di dalam pikiranku. Ketika sendiri mau tidur. Atau ketika istirahat di sela-sela mengerjakan tugas. Kenangan itu menoreh-menoreh hati.
Rinduku makin dalam. 

Posted from WordPress for Android

….

. ' 12 ' .
9   ì/   3
' . 6 . '

Yang SINGKAT itu WAKTU
Yang BERAT itu AMANAH
Yang DEKAT itu KEMATIAN
Mohonlah AMPUNAN dan KESELAMATAN dalam Qiyamul Lail

(from brother at SMS)

Kutitipkan

Wahai bintang-bintang
kutitipkan sepotong mimpiku padamu
agar dia gemerlap seperti cahayamu

Wahai mentari
kutitipkan sepotong harapanku padamu
agar dia bergelora seperti kobar semangatmu

Wahai angin
kutitipkan sepotong angan-anganku kepadamu
agar dia terus bergerak segesit gerakanmu

Wahai samudra
kutitipkan sepotong kenanganku padamu
agar dia tersimpan rapat seperti misteri dalammu

Wahai Penguasa Langit dan Bumi
kutitipkan diriku padaMu
agar aku tetap berada di jalanMu

Tarengge, April 2010
isroi

Belajar

Beberapa minggu ini aku masuk ke sebuah gua. Tempat yang banyak digunakan orang untuk semedi. Berkontemplasi. Gua di lereng gunung, di tengah hutan belantara. Gua yang gelap, dingin, lembab, dan sepi. Sendiri. Jauh dari dunia luar. Jauh dari orang-orang. Jauh menghindar dari semua masalah. Hanya ada suara tetes-tetes air yang menemani.

Guanya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk duduk dan berbaring. Anehnya tidak ada binatang di dalam gua ini. Aku bersihkan gua ini. Cahaya mentari mengintip malu-malu. Bisikan angin menyapa, “Selamat datang penghuni baru”.
Continue reading

Merajut Mimpi

Ku rebahkan badan di pangkuan malam yang menaruh kasihan pada mata yang tidak bisa terpejam. Dibelaiannya kurajut mimpi dari benang-benang imanjinasi. Pikiran mengelana ke dunia misteri. Mengembara ke negeri-negeri tanpa batas.

Serpihan-serpihan kutemukan sepanjang jalan. Ku jumputi potongan-potongan berserakan. Orang-orang dengan pandangan aneh penuh tanya: apa yang kau cari? Orang gila. Aku melihat. Apa yang tak terlihat. Aku mencari. Apa yang tersembunyi.

Ku susun potongan-potongan mimpi. Ku bangun bata demi bata membumbung tinggi. Di negeri ini semua tersedia. Di negeri ini semua boleh terjadi. Di negeri bebas merdeka. Semua boleh berbuat apa saja. Tak ada batas pembatas. Hukum alam tidak berlaku di sini.

Mimpiku menjulang tinggi. Awang-awang. Langit.

Di gelapnya antariksa. Aku mengelana.

Jogja, 181108

3 x 3.5

Sendiri. Sendirian. Sepi. Kembali ke masa-masa lalu. Kenangan-kenangan lama yang menggugah jiwa. Goresan-goresan tinta lusuh di buku tua. Ingatan itu kembali berduyun-duyun menuju lubuk hati. Iringan tembang kenangan masuk dari telingan ke sanubari. Apa yang ku cari….????

Hampa datang. Perjalanan jauh yang telah ku tempuh membawaku entah ke mana. Aku asing di tempat terasing. Mimpi-mimpi. Menggantung di awang tinggi.

Lari-larilah. Kan ku kejar. Sembunyi. Kan ku cari. Pergi. Kembali lagi. Rintik hujan. Gemuruh badai di awan. Gelap. Petir menyambar. Kan ku kejar.

Gambar. Gambaran. Angan-angan. Peta-peta khayalan. Samar-samar kembali. Biar lah. Terbuka lah. Wahai…semua yang terkubur. Bangkitlah…..!!!!

Kucari lagi jejak-jejak itu. Mata air. Bekas-bekas masa lalu. Puing-puing masa depan. Kembali mencari dasarnya lagi. Telanjang. Borok-borok. Bekas-bekas luka. Bopeng. Koreng. Apa adanya.

Ku cuci baju lusuhku. Ku basuh wajahku. Mandi badanku. Di oase ini. Jernih airnya untuk berkaca. Daki-daki larut semua. Selamat tinggal.

Ku susun lagi. Potongan-potongan puzzle. Reruntuhan masa depan. Jalanan batu setapak. Rambu-rambu.

Kembali. Berangkat lagi.

Jogja, Nov 2009
isroi

Bila Mati

Bila aku mati nanti
Aku ingin menikmati
hangatnya api neraka

Karena surga
sudah kudapatkan
di dunia

[april 1990]

Belajar

Duduk di bangku
dengan cahaya lentera
dengan tangan terbuka

Coba memahami kata-kata
Coba menerjemahkan bahasa

Dengan terkatuk-katuk
Terus mengganjal mata

Namun apa akhirnya?
Semuanya lupa

[Magelang 03/89]

Sebuah Kapal yang Tiba-tiba Berhenti di Tengah Samudra

Sebuah kapal telah mengarungi samudra
Dengan nakhoda yang terus berteriak-teriak
tenpa ada ujung pangkalnya
Perutnya tampak gendut kekenyangan air laut
Anak buahnya tanpak kelelahan
mengayuh dayung
Yang hanya minum keringatnya sendiri
Yang tak kalah asin denga air laut
Benderanya tampak kuyu enggan berkibar
Anginpun sudah berhenti meniup layar
Kemudian satu per satu anak buahnya roboh
tapi tangannya masih tampak kuat memegangi dayungnya
Walaupun tidak bergerak sejengkal pun
Sang nakhoda terus berteriak-teriak
Walaupun ia tahu anak buahnya
sudah tidak mendengar apa-apa lagi

[Magelang, 06/88]