Tag Archives: biogas

Pak Supar; Tidak Sekolah, Jadi Petani Saja Bisa Kaya

Petani Kaya Lampung

Pak Supar di Kebun Sayurannya, Lampung

Laki-laki tua yang di sebelah kiri itu namanya Pak Supar. Pak Supar adalah contoh nyata bahwa profesi menjadi petani bisa jadi kaya raya. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk jadi petani. Belajar sambil bekerja;’Learning by doing’. Setelah sekian tahun jadi petani, Pak Supar kini memiliki lahan (tanah, kebun dan sawah) yang luasnya puluhan ha, punya pabrik tapioko medern dengan pengering bahan bakar biogas, pengolahan jagung dan lahan pertanian yang subur.

Pak Supar lahir di Kediri, Jawa Timur. Masa kecilnya bandel dan tidak mau sekolah. Pak Supar kecil hanya mau sekolah selama 10 bulan di kelas 1 SD. Setelah itu nggak mau sekolah dan memilih untuk kerja kasar. Umur 15 tahun merantau ke Lampung, daerah bukaan transmigrasi baru yang masih rawan. Kerja serabutan apa saja, jadi kuli panggul singkong dan pindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Lampung.

Badannya yang kecil membuatnya tidak cukup kuat dan tangkas untuk jadi kuli panggul. Mandor kuli dan teman-temannya tidak mau memakai tenaganya. Lalu dia belajar dan coba-coba untuk menjadi pedagang singkong saja, yang kerjanya menyetor singkong ke pabrik-pabrik tapioka di Lampung. Usahanya maju, dia dipercaya oleh engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka. Sampai akhirnya dia punya beberapa truk untuk mengangkut singkong.

Pak Supar berteman baik dengan engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka itu. Pak Supar memang tidak bisa membaca tulis, tapi bisa berhitung. Kalau uang tau lah. Tambah-tambahan tahu. Pak Supar banyak belajar dari Engkoh-engkoh itu. Belajar bagaimana cara orang-orang china berbisnis dan berdagang, termasuk belajar bagaimana mereka memanfaatkan pinjaman dari Bank.

Tahun 1997 terjadi krisis. Ekonomi memburuk dan banyak usaha yang tumbang, termasuk usaha pabrik tapioka. Pasokannya ke pabrik pun turun drastis. Banyak orang yang tidak punya kerja, mengganggur. Termasuk tetangga-tetangganya sendiri. Pak Supar merasa kasihan dan ingin membantu memberikan lapangan kerja untuk tetangga-tetangganya yang jadi penggangguran. Lalu dia memberanikan diri untuk membuat pabrik tapioka sendiri. Semuanya masih manual.

Petani Kaya Lampung

Berkunjung ke rumah pak Supar

Barokah dari Allah. Usahanya maju dan berkembang. Pak Supar mulai berani memajukan usahanya. Pak Supar mendapat pinjaman dari Bank. Karena dia tidak bisa baca tulis, orang bank-nya yang membantu dia mengisi semua formulir. Pokoknya dia hanya tandan tangan dan dapat pinjaman. Dengan uang itu dia mulai membangun pabriknya, sampai dia bisa membangun pabrik dengan nilai lebih dari Rp. 6 M.

Pak Supar juga mengambangkan usaha pertanian yang lain. Pak Supar menanam singkong sendiri, jagung, berternak sapi, menanam padi, sayuran, tomat, terong dan buah-buahan. Dia senang dan bahagia, terutama bisa memberikan lapangan kerja untuk tetangga dan saudara-saudaranya.

Bahkan Pak Supar salah satu pengusaha kecil yang berhasil memanfaatkan limbah dari pabri tapioka menjadi biogas. Kolam limbah biogasnya besar dan berukuran 40m x 70m. Metodenya covered lagoon. Penutup lagoonnya itu mengembung tinggi sekali, bahkan bisa dinaiki motor di atasnya. Energi dari biogas ini digunakan untuk mesin pengering pabrik tapioka, memasang dan kebutuhan lainnya.

Petani Kaya Lampung

Pabrik tapioka milik Pak Supar


Continue reading

Advertisements

PP No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

Artikel lain tentang sampah, klik di sini: SAMPAH

TPA Sampah Kota Pati: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah yang Menjadi Taman Rekreasi

image
Gerbang masuk TPA Kota Pati


Sampah bukan MASALAH, SAMPAH ADALAH BERKAH.
Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH


Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah kota Pati, Jawa Tengah, berbeda dengan TPA tempat lain. Di sini tempatnya rapi, bersih, ada rusa, kera, sapi, merak, dan binatang-binatang lain. Ada juga pusat pembuatan kompos dan pengolahan sampah plastik menjadi solar. Tidak tercium bau busuk menyengat. Orang-orang datang ke TPA ini bukan mau buang sampah, tetapi mau berekreasi.

TPA Sampah Pati memiliki konsep yang berbeda dengan TPA-TPA lain. Kalau di tempat lain, TPA selalu terkesan kumuh, bau, jorok, dan sumber penyakit, TPA Pati justru kebalikannya. Kalau di tempat lain keberadaan TPA selalu ditentang oleh masyarakat disekitarnya, TPA Pati justru banyak dikunjungi untuk rekreasi. Saya ingin mengetahui lebih banyak tentang TPA ini, sayangnya tidak ada pengelola yang ‘berwenang’ di sini, dan cuaca gerimis, jadi tulisan ini hanya laporan ‘pandangan mata’ saja.

image
Lokasi TPA kota Pati. Hanya 7 km dari alun2 kota Pati.

TPA Kota Pati berada di desa Sukorejo, kec. Margirejo, Pati. Jaraknya kurang dari 7 km dari pusat kota. Saya tidak tahu sejak kapan TPA ini mulai beroperasi. Kalau dilihat dari tumpukan sampahnya sepertinya belum cukup lama. Di gerbang pintu masuknya terdapat tulisan besar “Selamat Datang di TPA Pati”.  Masuk ke TPA ini seperti tidak masuk ke tempat pembuangan sampah. Tempatnya bersih. Jalan masuknya rapi. 
Kalau Anda datang dengan membawa mobil atau motor, disediakan tempat parkir yang cukup luas. Tempat parkirnya masih tanah, ketika musim hujan seperti ini tanahnya lembek. Jadi hati2 memilih tempat parkir, jangan sampai terjebak di lumpur. Tidak jauh dari tempat parkir terdapat lapangan yang cukup luas. Lapangan ini bisa dijadikan tempat berolah raga atau camping. Di pingir lapangan terdapat gazebo untuk berteduh.

Ketika saya berkunjung ke TPA ini tidak banyak orang yang datang. Terlihat beberapa remaja naik motor berboncengan dan motor2 trail yang lewat melintas. Mungkin karena cuaca yang mendung dan hujan, jadi pengunjungnya sedikit. Menurut pedagang yang berjualan di lokasi TPA, penunjung biasanya banyak di sore hari dan hari minggu/hari libur.

Berseberangan dengan tempat parkir, terdapat kandang rusa. Ada cukup banyak rusa yang dipelihara di tempat ini. Anda bisa memberi makan rusa dengan rumput, wortel, atau sayuran, seperti orang2 yang memberi makan rusa2 di istana Bogor. Ada beberapa kandang rusa, salah satu kandang berisi rusa jantan yang besar.

Di lokasi sekitar kandang rusa terdapat pepohonan yang besar dan tinggi. Pohon2nya cukup banyak. melihat besarnya pohon ini kemungkinan pohon ini sudah berumur puluhan tahun dan sudah ada sebelum TPA ini dioperasikan.

Di sebelah kandang rusa ada beberapa kandang yang berisi kera. Pengunjung biasanya melempar kacang atau biskuit untuk kera2 ini. Tidak jauh dari kandang monyet terdapat beberapa kurungan besar yang berisi burung merak. Ada juga angsa, enthok dan burung dara yang dibiarkan bebas. Di dekat kandang2 binatang itu juga disediakan arena bermain untuk anak2, seperti: ayunan dan plosotan. Ada juga tempat duduk yang cukup nyaman untuk menikmati binatang2 ini. 
Di dekat kandang rusa, terdapat bangunan yang berisi mesin2 untuk membuat kompos dan pupuk organik. Di tempat yang sama juga terdapat mesin2/peralatan pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi minyak solar. Sayangnya mesin2 ini sedang tidak beroperasi.

Berjalan lebih ke dalam di sisi kiri, terdapat areal luas yang ditanami beberapa tanaman buah2an. Namun, tanamannya masih pendek2 dan belum berbuah. Dari denah lokasi TPA, areal ini adalah areal kebun buah. Jika tanamannya sudah besar dan berbuah, areal ini akan menjadi area favorit pengunjung. Di TPA ini juga terdapat tempat pembibitan tanaman. Saya lihat tidak banyak bibit yang ada di tempat ini. Hanya ada beberapa bibit, sepertinya bibit durian.

Berjalan terus ke arah belakang terdapat kandang sapi dan kandang kambing. Ada sekitar 6 ekor sapi yang dipelihara. Sapi2 ini dirawat cukup baik. Makanannya rumput segar, tidak seperti di TPA lain yang diberi makan ‘sampah’. Saya tidak tahu berapa jumlah kambing yang dipelihara, karena posisinya sulit dijangkau.

Berjalan terus ke belakang terdapat instalasi pengolahan lindi sampah. Ada beberapa bak2 dan kolam pengolahan. Lindi seperti ini bisa menghasilkan biogas, dan sisanya bisa diolah lagi menjadi pupuk cair. Posisi kolam pengolahan lindi berada di bawah yang curam. Di sisi kanan kirinya terdapat ‘gunung sampah’.

Semakin dekat dengan tempat penimbunan sampah bau menyengat mulai tercium. Mungkin karena sedang musim hujan, sampah menjadi basah dan baunya semakin menyengat. Beberapa waktu sebelumnya saya pernah datang di musim kemarau, baunya tidak menyengat seperti ini.
Di salah satu ‘gunung sampah’ terdapat instalasi pipa2 pralon yang ditanam ke dalam tumpukan sampah. Saya menduga instalasi ini adalah instalasi untuk menangkap biogas (methane capture). Biogas yang diambil ditampung dan dialirkan ke warung2 yang berada di dekat tempat parkir.
Di dekat lokasi penimbunan juga mulai terlihat tumpukan2 plastik yang sudah disortir dan sebagian sudah dikemas. Beberapa pemulung terlihat sedang bekerja merapikan plastik2 tersebut. Jumlah pemulung tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Di TPA tempat lain jumlah pemulungnya sampai ratusan orang.

TPA Pati memang tidak seperti taman yang indah di kota2 besar. Pengelolaannya dan perawatannya belum maksimal. Namun, TPA ini menawarkan konsep yang bagua sekali. Andaikan TPA ini dikelola dengan baik bisa menjadi percontohan untuk TPA-TPA lain di Indonesia.

Artikel lain tentang sampah, silahkan klik di link ini: BERKAH DARI SAMPAH

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Permen ESDM No. 25 Th. 2013 tentang Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel: biodiesel, bioetanol, dan biogas

Permen ESDM 25 2013 Tentang Bahan Bakar Nabati (BBN) atau Biofuel

Alternatif download: Permen ESDM No. 25 Th. 2013

Tiga Fokus Kegiatan Mengelola Sampah-sampah di Sekitar Kita

sampah

Masalah sampah rasanya tidak kunjung bisa diselesaikan dengan tuntas. Meskipun sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Sampah tetap saja terlihat menumpuk di mana-mana. Masyarakat masih suka membuang sampah sembarangan. Tempat sampah khusus sudah disediakan: tempat sampah khusus bahan organik, tempat sampah khusus plastik, dan tempat sampah khusus logam. Anehnya tempat sampah itu sepertinya tidak berfungsi. Tempat sampah organik isinya plastik, sandal, dan sampah-sampah lain campur jadi satu.

Masalah sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah khusus atau mengolahnya menjadi pupuk kompos dan pupuk organik. Penyelesaian masalah sampah sebaiknya dimulai dari SI PENGHASIL sampah alias orang-orangnya. Kemudian penyelesaian masalah difokuskan pada sampahnya. Masalah sampah demikian komplek sehingga penyelesainnya pun harus komprehensip meliputi seluruh aspek tentang sampah ini.


Sampah bukan MASALAH, SAMPAH ADALAH BERKAH.
Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH


Continue reading

Peluang-peluang Pemanfaatan Sampah Organik

Salah satu kesulitan mengolah sampah adalah karena sampah campur aduk jadi satu. Sampah secara umum bisa dikelompokkan menjadi dua macam, dan setiap kelompok bisa dibagi lagi menjadi beberapa kelopok.

1. Sampah non organik:
a. Bisa didaur ulang : besi, logam, plastik, kaca dll
b. Tidak bisa didaur ulang: plastik yang tidak bisa didaur ulang, dll
2. Sampah organik:
a. Bisa didaur ulang: kertas (koran, kardus)
b. Tidak bisa didaur ulang: sisa makanan, sayuran, dll

Untuk sampah yang bisa didaur ulang tidak menjadi masalah. Justru memiliki nilai jual tersendiri. Sampah-sampah ini sudah ada pengepulnya. Jadi tidak akan di bahas di sini.


Sampah bukan MASALAH, SAMPAH ADALAH BERKAH.
Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH


Continue reading

Pemanfaatan Produk Samping Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Alternatif Terbarukan

Didiek H. Goenadi , Wayan R. Susila , dan Isroi


Makalah disampaikan pada tanggal 1 Maret 2005 di Badan Litbang Pertanian, Jakarta
Artikel terkait: Energi Terbarukan dari Limbah Sawit


PENDAHULUAN
Sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa, Indonesia menghadapi masalah energi yang cukup mendasar. Sumber energi yang tidak terbarukan (non-renewable) tingkat ketersediaannya semakin berkurang. Sebagai contoh, produksi minyak bumi Indonesia yang telah mencapai puncaknya pada tahun 1977 yaitu sebesar 1.7 juta barel per hari terus menurun hingga tinggal 1.125 juta barel per hari tahun 2004. Di sisi lain konsumsi minyak bumi terus meningkat dan tercatat 0.95 juta barel per hari tahun 2000, menjadi 1.05 juta barel per hari tahun 2003 dan sedikit menurun menjadi 1.04 juta barel per hari tahun 2004 (Tabel 1).

Continue reading