Category Archives: Biofuel

Tulisanku tentang biofuel khususnya bioethanol

Nyobain Minyak Atsiri untuk Motor Bensin

Setelah sebulan lebih nyobain pakai GastrofaC saya jadi pingin nyobain pakai minyak atsiri untuk bensin. Dari bau GastrofaC, saya sepertinya kenal bahan dasar pembuatannya. Salah satu kekurangan dari GastrofaC adalah harganya yang menurut saya masih belum ekonomis. Minyak atsiri harganya > seperdelapan harga GastrofaC. Kalau minyak atsiri ini bisa memberikan efek yang mirip, akan jauh lebih ekonomis menggunakan minyak atsiri.

minyak atsiri untuk bensin

Minyak Atsiri untuk Aditif Bensin

Saya coba tambahkan ke tangki motor dulu, belum berani ke tangki mobil. Kalau sudah terbukti di motor bensin baru masukkan ke tangki mobil bensin. Saya tambahkan sebelum mengisi bensin dan bensin diisi penuh. Saya tambahkan kira-kira tiga s/d empat cc. Setelah dua hari saya pakai efeknya baru terasa. Efek pertama yang saya rasakan tarikan menjadi lebih ringan dan motor menjadi lebih bertenaga. Sama seperti GastrofaC. Namun, memang lebih ringan jika menggunakan GastrofaC. Untuk masalah ke-iritan bensin masih nunggu seminggu lagi. Kalau seminggu kemudian (tujuh hari) saya baru isi bensin lagi, berarti efeknya sama seperti GastrofaC.

Harga minyak atsiri jauh lebih murah daripada harga GastrofaC. Kalau harga GastrofaC Rp. 1000 per ml, harga minyak atsiri hanya Rp. 110 rp per mil. Jauh banget. Ini sudah dihitung dengan perubahan harga premium yang naik menjadi Rp. 7600. Konsumsi BBM per hari jika pakai GastrofaC adalah Rp. 4900, sedang kalau pakai minyak atsiri adalah Rp. 4400. Sedangkan kalau tidak pakai aditif apa-apa konsumsi BBM per harinya rata-rata RP. 6000. Ada penghematan yang cukup besar. Pakai minyak atsiri bisa menghemat Rp. 1600. Lumayan banget.

Pengujian ini saya lakukan tanpa memenuhi kaidah-kaidah statistik. Jadi kemungkinan errornya sangat besar, kemungkinan penyimpangannya juga sangat besar. Meskipun begitu, hasil ini cukup memberi keyakinan pada saat untuk memakai minyak atsiri. Perlu diuji coba sampai beberapa bulan. Kalau mesin tetap baik, dipakai untuk mobil atau mesin-mesin yang lain pun kemungkinan juga tidak apa-apa.

Advertisements

Testimoni GastrofaC untuk Mobil Bensin

image

Liburan ini saya punya kesempatan untuk menguji manfaat GastrofaC untuk mobil bensin. Metode pengukuran yang saya lakukan adalah full to full. Rata-rata konsumsi bahan bakar adalah 15 km per liter BBM atau biaya perjalanannya Rp. 729/km (pertamax).

Sebelum berangkat saya isi tangki bensin di SPBU full. Saya catat jarak yang sudah ditempuh sebesar 271 km. Sebelumnya saya sudah pakai GastrofaC. Volume bensin yang ketika full sebanyak 21 L. Jadi konsumsi bensinnya adalah 13 km per liter bensin. Ini konsumsi bbm untuk pemakaian dalam kota. Tahu sendirilah Bogor macetnya minta ampun. Mungkin karena itu konsumsinya agak boros.

Seingatku konsumsi bbm di kota rata2 11-12 km per liter bensin. Ada peningkatan sedikit jadi 13 km per liter. Penghematannya adalah sebesar:
= (13-11)/11
=  18%

Dari sisi biaya, ada penambahan biaya GastrofaC sebesar Rp. 1 033 per liter. Kalau pakai pertamax berarti peningkatan biayanya sebesar 9,4%. Masih ada sedikit keuntungan sebesar 8,6%. Menurut saya penghematan ini masih terlalu kecil dan belum cukup menarik secara ekonomi.

Awal perjalanan agak macet di tol Jagorawi-Cikampek sampai ke Subang. Perjalanan lancar setelah lepas dari Subang. Saya mengisi bensin lagi setelah sampai Purwokerto dan Pati. Konsumsi bensinnya adalah:
= 353,6 km : 23,5 L
= 15 km per liter

Dari sisi biaya sebesar Rp. 729 per km.

Saya tidak punya pengalaman rata konsumsi bensin untuk di luar kota. Jadi tidak bisa membandingkan dengan konsumsi sebelum memakai GastrofaC. Seingat saya ketika lebaran konsumsi bensinnya sebesar 13 km per liter bensin. Ada peningkatan cuma 2 km per liter saja. Menurut saya, penghematan ini masih kecil secara ekonomi.

Penghematan akan cukup menarik bagi konsumen jika penghematannya minimal 20% dari sisi biaya. Jadi misalnya biaya perjalanan per kmnya dari Rp. 850 menjadi Rp. 680 per km.

GastrofaC dibuat dari minyak atsiri. Saya kenal bau minyak atsiri ini. Setahu saya harga minyak atsiri ini di daerah banten pelosok murah. Mestinya harga GasgrofaC bisa lebih murah lagi, sehingga penghematannya juga akan semakin besar.

Saya ingin mencoba memakai minyak atsiri langsung. Saya penasaran dengan hasilnya. Kalau hasilnya sebanding atau pun jeleknya lebih rendah, tapi secara ekonomi akan lebih besar, karena harganya yang lebih murah.

Bensin Lebih Irit Setelah Pakai GastrofaC

image

Suer…ini murni testimoni saya setelah menggunakan GastrofaC. Bukan promosi. Kurang lebih sudah tiga-empat minggu menggunakan GastrofaC untuk kendaraan saya. GastrofaC bisa menghemat bensin kendaraan dan tarikan gas terasa lebih ringan.

Meski harga bensin cuma naik Rp. 2000, pengeluaran keluarga naiknya berlipat-lipat. Segala cara untuk mengefisienkan pengeluaran akan kami lakukan. Salah satunya efisiensi untuk konsumsi bahan bakar. Sejak BBM naik saya leih banyak naik motor. Ketika saya diberitahu GastrofaC bisa membuat irit bensin saya memakainya juga.

Sebelum memakai GastrofaC biasanya saya isi tangki motor full tank sebanyak kira2 3 liter. Kalau saya pakai terus-terusan, saya isi bensin lagi setelah 5-6 hari. Rata2 saya pakai motor sehari kurang lebih 25-35 km.

Saya tambahkan GastrofaC kira2 saja. Satu tangki full saya isi kurang lebih 5 ml. Kira2 saja, karena tidak ada takaran di botol GastrofaC. Pertama pemakaian yang saya rasakan adalah tarikan gas lebih ringan dan lunak.

Saya isi tanki bensin motor lagi setelah satu minggu, sekitar 7 hari. Namun, saya masih belum yakin, karena kadang2 saya naik motor, kadang2 kalau pergi sekeluarga kami pakai mobil. Minggu berikutnya saya isi lagi setelah 7 hari. Minggu ketiga ternyata 7 hari juga.

Kalau dihitung kasar ada penghematan sedikit. Biasanya saya isi bensin 5-6 hari, setelah pakai GastrofaC jadi 6-7 hari. Perasaan lebih banyak 7 harinya.

Andaikan setiap hari saya pakai 35 km, tujuh hari jadi 210 km. Saya beli bensin 3 L. Jadi satu liternya kurang lebih 81 km. Menurut saya ini sudah irit banget. Menurut artikel yang pernah saya baca, konsumsi ekonomis motor saya adalah 50-60 km per liter bensin. Berarti efisiensinya kira2 naik 14%.

Jika dilihat dari sisi harga/biaya, pemakaian GastrofaC menambah biaya Rp. 1000 rupiah. Mahal sedikit dari harga pertamax. Kenaikan efisiensi 14% masih terlalu rendah. Penghematannya baru terasa jika peningkatan efisiensinya minimal 20%.

Testimoni ini lebih banyak pakai perasaan. Saya tidak benar2 melakukan pengukuran yang teliti. Bisa saja perhitungan saya ini meleset. Bisa lebih tinggi atau lebih rendah.

Terus terang saya juga penasaran untuk mobil. Sayang tanki mobil saya masih terisi separohnya. Belum ngisi lagi, jadi belum tahu berapa konsumsi bahan bakar per kmnya. Saya ceritakan lagi nanti. Insya Allah.

Tankos Sawit Kini Tidak Gratis Lagi

Tengah bulan lalu saya diajak jalan2 oleh teman melihat2 kebun sawit di sisi barat P. Sumatera. Ada banyak yang saya lihat, namun yang membuat saya sedikit terkejut adalah tandan kosong kelapa sawit atau tankos. Ternyata kini tankos tidak gratis lagi.

Kurang lebih sepuluhan tahun yang lalu ketika awal-awal saya kerja dengan tankos. Tankos sama sekali tidak ada harganya. Bahkan ketika itu pabrik sawit membuat incinerator untuk membakar tankos. Ketika pembakaran tankos dilarang. Tankos ditumpuk saja.

Tahun-tahun itu saya meyakini konsep ‘dari tanah kembali ke tanah’. Tankos dibuat kompos dan dikembalikan ke lahan sawit. Harga tankos masih nol dan kompos sawit menjadi ekonomis. Bertahun-tahun kemudian, berdasarkan cerita pekebun, aplikasi kompos tankos mulai menunjukkan hasilnya. Tankos yang diaplikasikan ke tanah, baik sebagai mulsa atau pun kompos memberikan performa produksi yang lebih baik daripada pemupukan kimia saja.

Tankos juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai berbagai macam produk. Salah satunya bioethanol.

Sejak awal saya sudah menduga jika kelak tankos ini akan ada harganya. Ketika banyak orang yang mencari2, maka akan berlaku hukum ekonomi. Tankos akhirnya ada harganya.

Petani menceritakan ke saya jika ketika mereka setor tbs ke pabrik mereka pulangnya membawa tankos. Tankos ini tidak gratis. Ada harganya, kira2 Rp. 300rb per truk. Andaikan satu truk isinya pool 5 ton, harga tankos per kgnya sebesar Rp. 60. Harga ini belum termasuk ongkos kirim, ongkos angkat2 dan ongkos encer.

Secara kasar, biaya bahan saja jika tankos dibuat menjadi kompos harganya akan menjadi Rp. 120/kg kompos. Jika dibuat menjadi ethanol kira2 menjadi Rp. 240 – 300 per liter ethanol. Ini belum ditambah dengan biaya aktivator, tenaga kerja, energi, investasi, dll.

Harga tankos sudah keniscayaan karena mengikuti hukum ekonomi. Selama harga ini masih lebih rendah daripada harga produk turunannya, harga ini tidak menjadi masalah. Tantangannya adalah membuat proses yang lebih ekonomis dan efisien, sehingga harga produk turunan tankos bisa ditekan serendah mungkin.

GastrofaC: Minyak Atsiri untuk Penghematan Bensin

image

Hari ini saya kepingin mencoba salah satu inovasi dari Balittro yang menggunakan minyak atsiri sebagai bahan aditif untuk menghemat penggunaan BBM. Karena kendaraan saya minum bensin saya coba yang GastrofaC yang diformulasikan khusus untuk motor bensin/mobil bensin.

Klaim dari inovatornya yang saya peroleh dari website Balittro bahwa produk ini bisa menghemat BBM dari 20-40%. Ini luar biasa lho. Mestinya diapresiasi oleh pemerintahan sekarang meningkatkan harga bensin sebesar Rp. 1.500. Kalau klaim ini terbukti benar, yang minimal saja 20%, bisa mengurangi beban kenaikkan BBM.

Continue reading

Mengapa Bioetanol Tidak Berkembang di Indonesia…???

Di saat harga BBM kembali dinaikkan oleh pemerintah, orang-orang kembali ribut untuk mencari solusi alternatif pengganti BBM. Salah satu biofuel pengganti/subtitusi bensin adalah bioetanol. Gaung bioetanol pernah booming kurang lebih 8-10 tahunan yang lalu. Rasanya hampir semua orang berlomba-lomba membuat bioetanol, terutama dari singkong/pati. Kebun-kebun singkong dibangun di mana-mana. Pelatihan-pelatihan bioetanol berjamur dan selalu penuh pesertanya. Namun, ini yang sungguh membuat saya terheran-heran, realisasi bioetanol sebagai energi di Indonesia ternyata NOL. Saya ulangi lagi NOOOOL…sodara-sodara….. alias NIHIL….alias NGGAAKKK ADA. Data ini saya peroleh dari website/publikasinya Kementrian ESDM dan informasi langsung dari staf ESDM. Sungguh aneh.

Saya sudah membahasnya di artikel lain, mengapa bioetanol masih diperlukan di Indonesia. Bioetanol belum bisa digantikan oleh biogas, biosolar/biodiesel atau listrik. Kenapa….????? Karena semua motor dan sebagian besar kendaraan di Indonesia masih minum bensin/premium. Mesin bensin beda dengan mesin diesel apalagi mesin biogas atau mesin listrik. Karenanya mesin bensin tidak bisa disuruh minum biosolar dan biogas. Perlu modifikasi sana-sini atau tambah ini-itu.

Pemerintah sudah menaikkan harga bensin/premium menjadi Rp. 8.500 pr liter sejak seminggu yang lalu dengan alasan bahwa subsidi BBM sangat membebani anggaran negera. Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebijakan pemerintah tersebut, saya hanya berharap agar momentum kenaikan BBM ini bisa menjadi momentum kebangkitan/kesadaran pemerintah dan bangsa ini untuk mengembangkan biofuel, khususnya bioetanol sebagai alternatif penganti/substitusi bensin. Hanya saja, perasaan saya euforia bioetanol dan biofuel tidak seperti 8 tahun yang lalu. Program ini pernah tidak berjalan alias gagal, dan sepertinya orang-orang sudah trauma dengan kegagalan ini.
Continue reading

Ngapain pemerintah menyiapkan lahan biomassa

Kliping Kompas tgl 29 Agustus 2014, hal 14, kol 1-2

Kliping Kompas tgl 29 Agustus 2014, hal 14, kol 1-2

Ngapain pemerintah repot-repot menyiapakan lahan untuk menyediakan biomassa, lha wong biomassa yang tersedia saja belum tergarap.

Hari ini saya baca sebuah berita kecil di Harian Kompas, tgl 29 Agustus 2014, halaman 7, kolom 1-2. Judulnya menarik bagi saya: Energi Terbarukan; Lahan Pengembangan Biomass Disiapkan. Ketika saya membaca berita itu sedikit senang, karena pemerintah punya keinginan untuk mengembangan energi alternatif yang terbarukan. Akan tetapi saya akan mengkritisi kebijakan pemerintah ini.

Saya sudah mendengar desas-desus akan pengembangan energi dari biomassa ini. Kebutuhannya memang sangat besar, khususnya untuk pasar export. Konon kabarnya Korea sudah melarang penggunaan batubara dan mengantinya dengan biomassa. Artinya, kembali ke jaman baheula lagi. Kasarnya begini; energi biomassa = kayu bakar. Karena yang dibakar sama-sama kayu, cuma namanya sekarang sedikit mentereng: energi biomassa.

Korea adalah negeri yang industrinya maju, tentu saja sangat membutuhkan banyak energi untuk menjalankan industrinya itu. Nah, mereka kan tidak punya lahan yang luas. Datanglah mereka ke Indonesia mencari lahan untuk menanam ‘kayu bakar’. Menurut kabar desas-desus lagi yang tidak jelas kebenarannya; investor korea sudah menanam ribuah hektar tanaman ‘kayu bakar’ di Indonesia, di wilayah Indonesia Timur dan Kalimantan.

Saya tidak tahu apakah ini sudah direncanakan matang-matang atau sekedar ikut-ikutan. Menurut berita Kompas di atas pemerintah akan menyiapkan lahan untuk penanaman ‘kayu bakar’. Kata kabar berita itu lagi, konon, Indonesia membutuhkan 2 juta ha lahan untuk menanam ‘kayu bakar’.

Ngapain pemerintah repot-repot menyiapkan lahan untuk ‘kayu bakar’ seluas itu. Lha wong Indonesia punya banyak limbah biomassa yang melimpah ruah dan tidak termanfaatkan. Barangnya tinggal ambil saja, tidak usah menanam, bahkan ‘mungkin’ tidak usah beli. Tinggal ongkos angkut saja. Ini saya tahu sendiri, karena lama saya mengelutinya, yaitu: Limbah biomassa KELAPA SAWIT. (Baca: Potensi Limbah Biomassa Sawit)

Indonesia adalah negera produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi minyak sawit menurut data dari BPS tahun 2013 diperkirakan mencapai 26,9 juta ton CPO. Kalau dihitung secara kasar produksi CPO sebanyak itu akan menghasilkan limbah biomassa yang ruuuaaarrr biaya besar zekali; yaitu:

TANKOS: 30.93 juta ton
FIBER dan Cangkan: 25.5 juta ton
Limbah Cair: 94.15 juta ton

Total biomassa (Tankos, fiber, cangkang): 56.43 juta ton.
(Ini hitungan kasar ….lho….)

Neraca Massa Kelapa Sawit

Menurut berita kompas itu lagi 1 ha lahan ‘kayu bakar’ bisa menghasilkan 64 ton ‘kayu bakar’. Ini artinya limbah sawit itu equivalent dengan 882 187 ha lahan ‘kayu bakar’ atau dua kali lipat luas lahan yang akan dibangun di Madura itu.

Konversi energinya juga sangat besar. Dari Tankos, cangkang, dan fiber bisa dihasilkan energi listrik, sedangkan dari limbah cair bisa dihasilkan biogas. Angka perkiraan kasarnya adalah:

Listrik: 16 152 mega watt
Biogas: 2 692 m3.

Ini jumlah anergi yang sangat-sangat besar. Ini belum limbah biomassa yang lain yang dari agroindustri, seperti: bagas tebu, jerami padi, serbuk gergaji, batok kelapa, limbah kotoran ternak, dll. Masih banyak sekali.

Saya tahu, itu hanya itung-itungan di atas kertas. Merealisasikannya tidak mudah. Namun, mbok yao…pemerintah itu juga memikirkan potensi-potensi biomassa yang sudah ada di lapangan. Saya tahu sendiri, limbah biomassa sawit masih ‘terbengkalai’ dan tidak termanfaatkan.

Beberapa kali saya mencoba diskusi dengan pengusaha sawit dan menyampaikan ide ini. Bagi pengusaha sawit, mereka kurang tertari memanfaatkan limbah biomassa sebagai energi. Lha mereka sediri sudah kecukupan energi dari limbah cangkan saja. Bahkan sisa. Apalagi kalau disuruh repot-repot membuat biogas segala. Mereka enggan berinvestasi.

Kalau pun mereka bisa memproduksi listrik dan dijual ke pe-el-en, itungan-itungan mereka masih nggakk ‘masuk’. Masalahnya, pe-el-en maunya harganya super murah. Bagaimana pengusaha bisa untung klo harganya sama dengan ongkos produksi.

Di sini sebenarnya peran pemerintah. Menjebatani antara pengusaha dan kebutuhan masyarakat. Yang butuh energi itu masyarakat luas. Pengusaha punya ‘limbah biomassa’ yang tidak termanfaatkan dan mereka tidak tertarik untuk memanfaatkannya. Posisis pemerintah adalah ditengah-tengahnya. Jadi ‘jembatan’ itu dengan regulasi maupun kebijakan lainnya.

Contoh sederhana, misalnya; pemerintah memberikan subsidi untuk pengusaha yang bisa menyediakan listrik untuk masyarakat. Maksudnya, memberikan harga yang layak bagi pengusaha. Atau memberikan keringanan pajak, infrastruktur dll, sehingga pengusaha tetap bisa mendapatkan keuntungan dari usaha itu.Masih banyak contoh-contoh bentuk dukungan riil pemerintah untuk pemanfaatkan biomassa dari limbah perkebunan di Indonesia.

Seandainya ide ini berjalan, krisis energi akan bisa diatasi. Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar dan lahan yang luas.
Kalau hanya sekedar ‘Kayu bakar’ tinggal ambil saja. Tinggal kemauan (good will) dari pemerintah untuk mendorong pemanfaatan ‘kayu bakar’ ini.

Kita tunggu saja kiprah pemerintahan baru ke depan. Apakah masih pro-rakyat atau justru mau mengail di atas penderitaan rakyat.

walllahu’alam.

Spirulina, alga micro yang bergizi tinggi

Sebenernya saya sudah tahu alga micro ini sudah luama zekali. Cuma selama ini saya memandangnya dengan ‘mata sebelah’ dan sedikit ‘dipicingkan’. Saya juga sering ditawarin produk-produk MLM yang berasal dari Spirulina. Saya tolak semua. Terus terang, sama sekali saya belum pernah mencicipi ‘spirulina’. Teman-teman saya pun banyak yang menceritakan tentang kehebatan spirulina sebagai suplemen makanan. Ada yang bilang kalau setelah makan spirulina, anak kecil yang dulunya sekit-sakitan, sekarang sudah sehat dan tidak pernah lagi ‘absen’ ke rumah sakit. Ada juga cerita kalau spirulina bisa merangsang kehamilan. Bahkan kabarnya untuk ‘kaum Adam’, spirulina bisa meningkatkan ‘kejantanannya’. Cerita ini cuma saya serap sebagai ‘info’ belaka.

Sekarang, tiba-tiba, saya mendapatkan ‘tugas’ untuk membantu teman yang ahli spirulina untuk ‘menernakkan’ spirulina. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya mesti belajar tentang si spirulina ini. Subhanallah, baru sedikit yang saya baca, ternyata spirulina ini makhluk ciptaan Allah yang luar biasa bermanfaat untuk manusia. Cerita-cerita yang saya dengar dulu memang benar dan sudah banyak dibuktikan secara ilmiah. Paper-paper ilmiah tentang spirulina sudah banyak sekali. (Silahkan click di sini: Laporan Ilmiah tentang Spirulina).

Continue reading

Pelatihan Pengelolaan Sampah: BERKAH DARI SAMPAH

Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH

Mengapa bioetanol masih diperlukan untuk Indonesia


Bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BNN) atau biofuel masih dianak-tirikan di Indonesia. Entah apa sebabnya. Padahal, peranan bioetanol tidak bisa digantikan oleh biofuel yang lain, seperti: biodiesel atau biogas. Bioetanol masih diperlukan untuk Indonesia.

Ilustrasi gampangnya seperti ini. Sebagian besar konsumsi BBM digunakan di sektor transportasi. Sektor industri dan sektor yang lain konsumsinya lebih kecil. BBM yang banyak dipakai saat ini ada dua: solar (mesin diesel) dan bensin. Berdasarkan data dari kementian ESDM, konsumsi bensin lebih besar daripada konsumsi solar. Jadi ada dua jenis mesin yang banyak dipakai saat ini, yaitu mesin diesel dan mesin bensin. Mesin diesel dipakai untuk kendaraan berat, angkutan umum, dan mobil pribadi. Sedangkan bensin umumnya untuk mobil pribadi dan sepeda motor.

Biofuel alternatif untuk mengantikan solar adalah biosolar atau biodiesel. Biosolar bisa dibuat dari minyak-minyak nabati, semperti minyak sawit (CPO), minyak jlantah, minyak jarak, dan minyak nabati lainnya. Biodiesel dari CPO yang saat ini banyak dipakai di Indonesia.

Nah, untuk bensin biofuel alternatifnya adalah bioetanol. Mesin bensin beda dengan mesin diesel dan tidak bisa memakai bahan bakar solar atau biosolar. Itulah mengapa pengembangan bioetanol masih tetap diperlukan.

Argumen berikutnya adalah populasi kendaraan yang menggunakan bensin sangat besar. Terutama sepeda motor. Menurut artikel di Bisnis Indonesia (tgl 15 desember 2013) populasi kendaraan di Indonesia tidak kurang dari 100 juta unit (hampir setengah penduduk Indonesia). Dari jumlah itu 80 juta unit adalah sepeda motor. Kabar terbaru di koran kompas bahkan sudah mencapai 94 juta unit. Jumlah ini sangat-sangat besar. Konsumsi bensin nasional juga sangat besar mencapai 116.35 MMBSY (…ngaak ngerti artinya apa…).

kendaraan bermotor memenuhi jalan di Indonesia
(foto nyomot dari kompas.com)

Yang lebih mengerikan lagi, populasi motor Indonesia diperkirakan akan meningkat pesat dan exponensial. Lihat gambar di bawah ini yang saya olah dari data BPS. Kalau tidak dikendalikan jumlah sepeda motor akan meledak dalam beberapa tahun lagi. Jalan-jalan akan penuh dengan motor. Artinya, kebutuhan bioetanol untuk mensubstitusi kebutuhan bensin untuk bahan bakar sepeda motor masih sangat diperlukan.

motor di Indonesia

Pertumbuhan motor di Indonesia


Continue reading