Mengapa Bioetanol Tidak Berkembang di Indonesia…???

Di saat harga BBM kembali dinaikkan oleh pemerintah, orang-orang kembali ribut untuk mencari solusi alternatif pengganti BBM. Salah satu biofuel pengganti/subtitusi bensin adalah bioetanol. Gaung bioetanol pernah booming kurang lebih 8-10 tahunan yang lalu. Rasanya hampir semua orang berlomba-lomba membuat bioetanol, terutama dari singkong/pati. Kebun-kebun singkong dibangun di mana-mana. Pelatihan-pelatihan bioetanol berjamur dan selalu penuh pesertanya. Namun, ini yang sungguh membuat saya terheran-heran, realisasi bioetanol sebagai energi di Indonesia ternyata NOL. Saya ulangi lagi NOOOOL…sodara-sodara….. alias NIHIL….alias NGGAAKKK ADA. Data ini saya peroleh dari website/publikasinya Kementrian ESDM dan informasi langsung dari staf ESDM. Sungguh aneh.

Saya sudah membahasnya di artikel lain, mengapa bioetanol masih diperlukan di Indonesia. Bioetanol belum bisa digantikan oleh biogas, biosolar/biodiesel atau listrik. Kenapa….????? Karena semua motor dan sebagian besar kendaraan di Indonesia masih minum bensin/premium. Mesin bensin beda dengan mesin diesel apalagi mesin biogas atau mesin listrik. Karenanya mesin bensin tidak bisa disuruh minum biosolar dan biogas. Perlu modifikasi sana-sini atau tambah ini-itu.

Pemerintah sudah menaikkan harga bensin/premium menjadi Rp. 8.500 pr liter sejak seminggu yang lalu dengan alasan bahwa subsidi BBM sangat membebani anggaran negera. Terlepas dari pro dan kontra terhadap kebijakan pemerintah tersebut, saya hanya berharap agar momentum kenaikan BBM ini bisa menjadi momentum kebangkitan/kesadaran pemerintah dan bangsa ini untuk mengembangkan biofuel, khususnya bioetanol sebagai alternatif penganti/substitusi bensin. Hanya saja, perasaan saya euforia bioetanol dan biofuel tidak seperti 8 tahun yang lalu. Program ini pernah tidak berjalan alias gagal, dan sepertinya orang-orang sudah trauma dengan kegagalan ini.

Saya jadi berfikir, kira-kira apa yang menyebabkan bioetanol tidak berkembang di Indonesia. Saya tidak punya banyak informasi. Informasi yang saya punya hanyalan informasi yang saya peroleh secara informal dari teman-teman yang pernah berkecimpung di dunia peretanolan jaman dulu, kenalan dari ESDM, dan teman-teman yang konsern dengan etanol.

Saya menduga bahwa salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomis. Bioetanol di Indonesia yang sudah siap untuk diproduksi dalam skala masal adalah bietanol dari molases, nira, dan singkong atau sumber pati-patian yang lain. Bioetanol dari molases dan nira adalah yang paling mudah. Industri ini sudah berdiri sejak dulu kala dengan nama Pabrik Spirtus. Beberapa pabrik spirtus ada di beberapa tempat, terutama yang ada di dekat pabrik gula (PG). Produknya adalah spirtus yang berwarna biru. Spirtus ini adalah bioetanol yang diberi pewarna biru. Jika akan digunakan sebagai bioethanol fuel grade (EFG), perlu ditingkatkan kemurniannya menjadi 99%. Nah…problemnya adalah masalah harga bioetanol itu.

Spirtus kalau tidak salah harganya kurang lebih 15 rb per liter, padahal kadar etanolnya sekitar 60%. Ethanol 95% yang dijual di apotik atau toko kimia dijual dengan harga Rp. 25rb – Rp. 30rb. Saya biasa menggunakan etanol ini untuk disinfektan di lab. Biofuel yang kadar etanolnya 99%, harganya berapa….????????? Konon, jaman dulu pertamina membelinya dengan harga Rp. 5.500/L. Sekarang mungkin harganya naik, tetapi saya tidak tahu berapa tepatnya.

Bagi pengusaha, bagaimana mungkin membuat barang (dalam hal ini bioetanol) yang sangat murni (99%) dengan tahapan yang lebih zulit, rumit, dan biayanya lebih besar, tetapi harganya muurraaahhh. Lebih murah daripada barang yang sama dengan kemurniana cuma 60%. Sungguh-sungguh tidak masuk di akal, bukan….?????!!!!! Itulah Indonesia.

Bahan baku bioetanol berikutnya adalah dari singkong atau bahan lain yang mengandung pati tinggi, seperti: sorgum, sagu, ganyong, dan lain-lain. Singkong sudah di tanam besar-besaran di berbagai daerah di Indonesia. Kabar angin juga, perusahaan-perusahaan besar nasional yang bergerak di bidang energi terbarukan juga sudah menginvestasikan untuk menanam singkong di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahkan, kabarnya mereka juga sudah membangun pabrik bioetanol. Kabar terakhir pabrik ini tidak berjalan.

Bioetanol dari singkong atau dari umbi-umbian yang lain membutuhkan langkah proses yang lebih panjang dari pada etanol dari molases atau dari nira. Tambah satu proses lagi, yaitu hidrolisis. Hidrolisis bisa menggunakan asam atau enzime. Kendalanya adalah ketersediaan enzime ini dan harga enzimenya. Gula hasil hidrolisis enzimatik mesti segera difermentasi, kalau tidak akan segera terfermentasi sendiri menjadi asam. Repot, kan. Lebih konyol lagi, harga singkong melonjak hingga 300%nya sejak isu bioetanol dari singkong ini berkembang. Meningkatnya harga bahan baku ini menyebabkan biaya produksinya juga meningkat.

Tantangan lainnya adalah bioetanol dari singkong berkompetisi dengan tepung tapioka. Proses pembuatan tempung tapioka jauh lebih sederhana daripada proses pembuatan bioetanol. Gampangnya, cuma diparut, diperes, dicuci, dan diendapkan saja. Semuanya proses fisik dan tidak melibatkan proses kimia. Harga jual tepung tapioka pun juga lumayan tinggi. Pabrik bioetanol dari singkong tidak bisa bersaing dengan pabrik tepung tapioka. Tragis.

Alternatif berikutnya adalah bioetanol dari lignoselulosa. Secara teoritik, bioetanol ini sangat menjajikan. Indonesia memiliki biomassa yang sangat melimbah. Kalau dikonversi secara matematik potensinya sangat besar. Ini baru dihitung dari limbah biomassa agroindustri, perkebunan, dan kehutanan. Belum lagi kalau biomassanya memang langsung dari tanaman yang ditanama khusus untuk produksi biomassa, akan semakin besar lagi potensinya.

Hanya saja….sayangnya…
Teknologi ini belum siap dalam skala besar. Beberapa pilot plan sudah dibagun di negara Eropa dan di Indonesia juga sudah ada pilot plant yang cukup besar. Masalahnya sama, proses produksi bioetanol dari biomassa lignoselulosa jauh lebih panjang dan lebih sulit daripada produksi bioetanol dari singkong. Tentu saja ini akan berakibat pada biaya produksinya. Setahu saya sampai saat ini belum ada teknologi yang murah untuk menghasilkan bioetanol dari lignoselulosa.

Dari bahan yang mudah saja masih berat apalagi membuat bioetanol dari bahan-bahan yang lebih sulit, lebih berat lagi menjualnya. Itulah kira-kira analisa saya, mengapa bioetanol belum berkembang di Indonesia.

Saya tetap optimis jika bioetanol tetap akan menjadi biofuel yang menjanjikan di masa depan. Namun kapan masa depan itu masih belum jelas. Saya berusaha untuk meneliti dan membuat bioetanol dari biomassa dan mengembangak cara-cara yang bisa lebih murah dari teknologi saat ini. Penelitian semacam ini, meskipun belum terlihat potensi ekonominya dalam jangka pendek, tetapi seyogyanya didukung oleh pemerintah atau industri terkait. Kalau tidak, kemungkinan kita akan tetap dan terus menjadi konsumen teknologi di masa depan. Penelitian-penelitian tentang biofuel/bioetanol dari biomassa sangat gencar di lakukan di luar negeri. Perlahan tetapi pasti mereka akan menemukan teknologi produksi yang murah dan bisa bersaing dengan BBM. Indonesia, kalau tidak mengejar akan tertinggal dan akhirnya menyerah untuk menggunakan teknologi mereka. Semoga ini tidak terjadi.

Wallahua’lam.

Advertisements

7 responses to “Mengapa Bioetanol Tidak Berkembang di Indonesia…???

  1. pernah juga dengar cerita yang kurang lebih sama dari Pak Sahirul Aiman

  2. apa boleh saya meminta no. kontak yang bisa dihubungi ya pak? Saya dari mahasiswi Biologi ITS yang sedang mengerjakan skripsi. Mau tanya mengenai pembuatan bioetanol menggunakan bahan lignoselulosa.. terimakasih. Mohon balasannya

  3. Saya sangat tertarik dengan artikel-artikel yang bapak tulis, terutama tentang bioetanol. Saya sangat setuju sekali dengan pendapat bapak. Di Indonesia belum ada realisasi secara nyata tntang produksi bioetanol, mungkin hanya sekedar wacana sana-sini yg belum tahu ujungnya. Kebetulan saya juga pernah 2x melakukan penelitian tentang bioetanol dari lignoselulosa, dan saya rasa hal ini sangat berpotensi apabila dkmbngkan sbagai bhan baku bioetanol. Semoga pemerintah secepatnya merealisasi pengembangan bioenergy (bioetanol) di Indonesia, dan kami sebagai generasi muda, semoga kelak bisa ikut berkonstribusi di dalamnya.

    Salam Bioenergi

  4. Mungkin tunggu minyak betul2 habis mas baru perintah mau mendukung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s