Bercocok Tanam di Teras Rumah (part 2)

image

Ini melanjutkan lagi posting sebelumnya tentang bercocok tanam di teras rumah. Awalnya cuma iseng-iseng saja, ternyata asik juga. Teras rumah yang cuma seuprit bisa untuk menanam sayur2an. Cara penanamannya organik dan tidak menggunakan pupuk kimia atau obat2a kimia. Jadi lebih sehat dan lebih aman. Istilah kerennya sekarang adalah urban organic farming.

Benih & Bibit Tanaman

Saya akan cerita mulai dari awal, benih tanaman sayur-sayuran. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya mudik ke kampung halaman di Magelang. Di kampung benih lokal tanaman sayuran harganya murah. Saya beli beberapa macam benih. Terutama benih-benih yang cocok di dataran rendah. Saya membeli banyak benih tanaman, seperti: bayam cabut, kangkung cabut, tomat, cabai rawit hijau, cabai rawit merah, terong unggu, terong lalap, kacang panjang, sawi hijau dan kobis (kol). Belinya cuma sekantong kecil saja. Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk menanam di halaman rumah.

image

Kangkung Cabut

image

Bayam cabut

image

Sawi

image

Cabai rawit merah

image

Krai

image

Kobis/kol putih

image

Cabai rawit

image

Tomat Buah

image

Cabai rawit

image

Terong Unggu

image

Kacang Panjang

image

Melon

Di Bogor juga ada tempat yang menjual bibit tanaman organik, yaitu di kebun BP2TP Cimanggu atau di outlet penjualan bibit deptan yang di taman kencana. Ada beberapa bibit sayuran yang dijual, yaitu: selada merah, kenikir, tomat, cabai, wortel, kailan, caisim, kacang panjang, bayam merah, lobak, bit merah, terong dan sayuran2 lain. Harganya pun cukup murah. Untuk bibit yang masih kecil dijual dengan harga Rp. 1000/polybag. Bibit yang besar dijual Rp. 2500-3000 per polybag. Kalau Anda tidak mau repot2 membibitkan bisa beli bibit yang sudah siap tanam.

Bibit dan benih tanaman diseuaikan dengan tempat rumah kita. Jika rumah kita di dataran rendah, seperti Jakarta, Semarang atau Surabaya, sebaiknya menanam tanaman yang cocok di dataran rendah. Kalau tinggi tempat tinggal kita berada di dataran tinggi, pilih benih atau bibit yang cocok di dataran tinggi. Cara mengetahui tinggi tempat tinggal kita bisa memakai applikasi Altimeter di Smartphone Android. Bibit tanaman yang sesuai bisa ditanyakan ke toko pertanian ketika membeli bibit tersebut.

Kalau Anda malas membeli benih/bibit, Anda bisa memngunakan benih dari sisa dapur Anda. Misalnya, cabai rawit, cabai merah, cabai keriting, paria, kacang panjang. Untuk mendapatkan benih dari sisa dapur, pilih cabai atau kacang panjang yang sudah tua. Biarkan di udara terbuka hingga mengering. Setelah kering buka dan keluarkan bijinya. Keringkan anginkan kembali. Benih kering siap disemai. Semai sesuai kebutuhan. Sisanya disimpa di tempat kering.

Media Tanam

Media tanam utama yang dipakai adalah kompos. Kebetulan cleaning service di kantor membuat kompos dari daun2an, terutama daun jati. Komposnya dibuat dengan menggunakan Promi. Kompos daun jati katanya lebih bagus dari kompos daun lain. Keunggulannya lagi sudah mengandung mikroba biofertilizer. Sayang kompos ini tidak banyak jumlahnya. Saya juga memakai kompos dari kotoran sapi atau kotoran ayam yang dijual di toko pertanian. Sebenarnya bisa juga pakai kompos dari sampah dapur. Cuma jumlahnya sedikit sekali dan mesti nunggu beberapa lama. Saya akan menanam tanaman dengan cara organik, jadi kompos adalah media tanam utamanya.

Media tanam yang lain adalah arang sekam atau sekamnya. Saya lebih suka memakai arang sekam. Arang sekam bisa bertindak sebagai biochar yang bermanfaat sebagai pembenah tanah. Selain itu arang berat jenisnya rendah, media tanamnya jadi lebih ringan jika dibandingkan dengan menggunakan tanah. Arang sekam juga membuat media tanam menjadi kompak setelah disiram dengan air.

Saya juga memakai coco peat. Coco peat bermanfaat untuk meningkatkan kapasisitas menahan air, karena coco peat bisa menyimpan air 5 x dari beratnya. Coco peat juga memberikan sifat ringan pada media tanam yang dibuat.

Komposisi media tanam bisa dibuat sendiri. Komposisi yang paling sederhana adalah 1 bagian kompos dan satu bagian tanah. Media tanam ini sudah cukup bagus. Jika bahan media tanam yang lain tersedia, komposisi media tanamnya adalah 2 bagian kompod : 1 bagian coco peat : 1 bagian arang sekam. Atau bisa juga dengan komposisi 2 bagian kompod : 1 bagian coco peat : 1 bagian arang sekam : 1 bagian tanah.

Media tanam yang lain yang cukup bagus ditambahkan untuk media organik adalah tepung zeolit, dolomit, dan fosfat alam. Pemakaiannya sedikit saja, kurang lebih 3-5% saja.

Pupuk dan Pestisida

Media tanam di atas sudah cukup bagus untuk budidaya organik skala kecil. Tanaman bisa tumbuh baik, cuma hasilnya sedikit atau tidak maksimal. Untuk tanaman seperti kangkung cabut, bayam cabut, caisim, media tanam kompos sudah bagus pertumbuhannya tanpa perlu pupuk tambahan.

Pupuk tambahan yang saya pakai adalah biang POC dan Hormon Tanaman. Satu botol Biang POC bisa dipakai beberapa bulan, tergantung jumlah tanaman dan pemakaian. Pemakaian Biang POC sederhana saja, Biang POC diencerkan kurang lebih 50 – 100 kalinya, kemudian disiramkan atau disemprotkan. Pemakaian Biang POC cukup seminggu sekali. Disemprotkan di pagi hari.

Penanaman skala kecil jarang terserang hama atau penyakit. Namun, kadang-kadang tanaman terkena hama juga. Untuk mengatasi hama atau penyakit bisa mencoba memakai beberapa resep pestisida nabati. Bahan2 pestisida nabati bisa diperoleh dari tanaman liar yang ada di sekitar kita.

Ada cara sederhana yang digunakan petani untuk mendapatkan tanaman pestisida nabati. Bolehlah disebut kearifan lokal. Tanaman yang bisa digunakan sebagai pestisida nabati adalah tanaman yang tidak diserang hama atau penyakit. Daunnya tetap mulus tumbuh subur meski tanaman lain terserang hama. Kalau Anda masih binggung, coba perhatikan tanaman2 di lingkungan sekitar Anda. Kalau ada tanaman unik yg sehat, mungkin bisa dipakai sebagai tanaman pestisida nabati.

[Lanjut lagi lain waktu]

Advertisements

One response to “Bercocok Tanam di Teras Rumah (part 2)

  1. thanks buat infonya, sangat bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s