Mengapa bioetanol masih diperlukan untuk Indonesia


Bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BNN) atau biofuel masih dianak-tirikan di Indonesia. Entah apa sebabnya. Padahal, peranan bioetanol tidak bisa digantikan oleh biofuel yang lain, seperti: biodiesel atau biogas. Bioetanol masih diperlukan untuk Indonesia.

Ilustrasi gampangnya seperti ini. Sebagian besar konsumsi BBM digunakan di sektor transportasi. Sektor industri dan sektor yang lain konsumsinya lebih kecil. BBM yang banyak dipakai saat ini ada dua: solar (mesin diesel) dan bensin. Berdasarkan data dari kementian ESDM, konsumsi bensin lebih besar daripada konsumsi solar. Jadi ada dua jenis mesin yang banyak dipakai saat ini, yaitu mesin diesel dan mesin bensin. Mesin diesel dipakai untuk kendaraan berat, angkutan umum, dan mobil pribadi. Sedangkan bensin umumnya untuk mobil pribadi dan sepeda motor.

Biofuel alternatif untuk mengantikan solar adalah biosolar atau biodiesel. Biosolar bisa dibuat dari minyak-minyak nabati, semperti minyak sawit (CPO), minyak jlantah, minyak jarak, dan minyak nabati lainnya. Biodiesel dari CPO yang saat ini banyak dipakai di Indonesia.

Nah, untuk bensin biofuel alternatifnya adalah bioetanol. Mesin bensin beda dengan mesin diesel dan tidak bisa memakai bahan bakar solar atau biosolar. Itulah mengapa pengembangan bioetanol masih tetap diperlukan.

Argumen berikutnya adalah populasi kendaraan yang menggunakan bensin sangat besar. Terutama sepeda motor. Menurut artikel di Bisnis Indonesia (tgl 15 desember 2013) populasi kendaraan di Indonesia tidak kurang dari 100 juta unit (hampir setengah penduduk Indonesia). Dari jumlah itu 80 juta unit adalah sepeda motor. Kabar terbaru di koran kompas bahkan sudah mencapai 94 juta unit. Jumlah ini sangat-sangat besar. Konsumsi bensin nasional juga sangat besar mencapai 116.35 MMBSY (…ngaak ngerti artinya apa…).

kendaraan bermotor memenuhi jalan di Indonesia
(foto nyomot dari kompas.com)

Yang lebih mengerikan lagi, populasi motor Indonesia diperkirakan akan meningkat pesat dan exponensial. Lihat gambar di bawah ini yang saya olah dari data BPS. Kalau tidak dikendalikan jumlah sepeda motor akan meledak dalam beberapa tahun lagi. Jalan-jalan akan penuh dengan motor. Artinya, kebutuhan bioetanol untuk mensubstitusi kebutuhan bensin untuk bahan bakar sepeda motor masih sangat diperlukan.

motor di Indonesia

Pertumbuhan motor di Indonesia



Lebih menarik lagi rencana untuk mengatur pemakaian BBM bersubsidi (termasuk bensin) dengan menggunakan RFID. Kabarnya, setiap motor akan dijatah konsumsi maksimal bensinnya. Kalau lebih dari jatahnya, motor itu harus ‘minum’ bensin non subsidi.

Ada ancaman dan ada peluang dari kebijakan ini. Ancaman tentunya bagi pemilik kendaraan bermesin bensin dan motor, seperti saya ini. Mau tidak mau kalau jatahnya habis harus beli bensin non subsidi yang harganya lebih mahal. Dengan demikian pengeluaran juga akan meningkat.

Namun, sisi bagusnya. Kebijakan ini mungkin akan lebih mendorong perkembangan bioetanol dalam negeri. Salah satu kendala perkembangan bioetanol adalah harganya yang belum cocok dengan pemerintah. Kalau harga BBM non Subsidi mendekati rp. 10rb per liter, produksi bioetanol akan ekonomis. Baik yang berbahan baku molases, singkong, atau yang lain.

Semoga bioetanol tidak lagi dipandang sebelah mata oleh pejabat-pejabat penentu kebijakan di’atas’ sana.

Advertisements

One response to “Mengapa bioetanol masih diperlukan untuk Indonesia

  1. Pingback: Mengapa Bioetanol Tidak Berkembang di Indonesia…??? | Berbagi Tak Pernah Rugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s