Kebutuhan Biofuel Indonesia 2014 Diperkirakan Mencapai 45 juta kiloliter. Gimana memenuhinya….?


Dampak dari diterbitkannya Peraturan Menteri ESDM No. 25 tahun 2013 beberapa waktu yang lalu yang mewajibkan sektor industri, transportasi, dan pembangkit listrik menggunakan 10% biofuel atau bahan bakar nabati (BBN) menyebabkan peningkatan kebutuhan biofuel di tahun 2014. Kementrian ESDM memperkirakan kebutuhan biofuel di tahun 2014 akan mencapai 45 juta kiloliter dengan rincian 20 juta kiloliter untuk transportasi, 17 juta kiloliter untuk industri, dan 8 juta kiloliter untuk pembangkit listrik.

Sayangnya data tersebut tidak dirinci berapa untuk masing-masing biofuel, seperti: biodiesel, bioetanol, dan biogas. Kalau dilihat dari data tahun-tahun sebelumnya, hanya biodiesel yang benar-benar terealisasi digunakan untuk sebagai pencampur solar. Sedangkan bioetanol sama sekali tidak ada penyerapannya di Indonesia. Biogas juga belum digunakan untuk sektor transportasi atau untuk bahan bakar lainnya. Kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas masih menggunakan gas alam, bukan bioetanol.

Produksi biodiesel memang lebih mudah dilakukan di Indonesia, mengingat Indonesia adalah produsen terbesar CPO di dunia saat ini. CPO menjadi bahan baku utama produksi biodiesel. Memang di surat-surat kabar ada berita pembuatan biodiesel dari minyak jlantah. Namun, saya yakin jumlahnya tidak signifikan. Tantangan utama produksi biodiesel adalah fluktuasi harga CPO di tingkat dunia dan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Jika dolar naik, otomatis harga cpo dalam rupiah juga akan naik. Biaya produksi biodiesel juga akan naik.

Karena berbasis CPO, industri biodiesel pun mengikuti sentra-sentra perkebunan sawit. Saat ini tercatat ada 14 pabrik biodiesel yang masih beroperasi. Sebagian besar berada di pulau sumatera (6 pabrik) dan pulau jawa (6 pabrik), dan 2 pabrik di kalimantan. Kapasitas produksi pabrik-pabrik tersebut sebesar 3,8 juta MT/th. Meskipun kapasitas pertahunnya besar, berdasarkan data dari Kementrian ESDM realisasi produksi biodiesel tahun 2013 hingga bulan oktober sebesar 723.047 kiloliter. Artinya pabrik-pabrik biodiesel tersebut belum maksimal berproduksi.

Produksi biodiesel dari minyak-minyak lain hanya sebatas kabar berita. Realisasinya ‘tau ah gelap’. Heboh penanaman jarak bebeapa tahun lalu, sekarang seperti tidak tersisa. Namun, ada selentingan kalau jarak akan dibangkitkan lagi dari ‘kubur-nya’. Kita tunggu saja.

Tercatat masih ada empat pabrik bioetanol yang berproduksi di Indonesia. Pabrik-pabrik kecil yang dulu pernah booming mungkin tidak tercatat. Hampir semua pabrik bioetanol ini ada di Pulau Jawa dan hanya satu yang di Lampung. Total kapasitas produksinya sebesar 166.923 kiloliter/tahun. Sayang saya tidak mendapatkan berapa realisasi produksi bioetanol untuk bahan bakar. Mungkin memang tidak ada realisasinya, karena di situs kementrian ESDM memang nol. (…hik..hik…padahal dulu pernah heboh sekali, lebih heboh dari biodiesel)

Setahu saya sebagian besar bahan baku untuk pembuatan bioetanol masih mengandalkan molases. Memang ada desas-desus produksi bioetanol dari singkong. Kenyataanya saya tidak mendapatkan informasi pabrik mana yang sudah memproduksi bioetanol dari singkong saat ini. Pabrik bioetanol yang di lampung apakah masih berproduksi atau tidak juga tidak tahu. Ada kabar angin lagi kalau salah satu produsen bioetanol yang dulu mau pakai singkong malah tidak terdengar lagi eksistensinya.

Setahu saya penanaman singkong masih gencar dilakukan. Bahkan ada kabar akan diperluas untuk wilayah luar jawa dan luar sumatera, seperti di Kalimantan dan Sulawesi. Singkong-singkong ini lebih banyak digunakan untuk produksi tepung daripada untuk produksi bioetanol. Seandainya potensi singkong ini dimanfaatkan dengan baik, Indonesia bisa jadi produsen bioetanol terbesar di dunia (kabar dari salah satu situs bioenergi nasional).

Singkong dan pati merupakan salah satu bahan pangan dan pakan. Jadi, sebenarnya kurang tepat jika digunakan sebagai bahan baku bioetanol untuk bahan bakar. Memenuhi perut manusia lebih didahulukan daripada memenuhi ‘perut’ tangki mobil/motor. Molases juga sama yang kandungan utamanya pati. Molases dimanfaatkan terutama untuk memproduksi bahan pangan atau pakan.

Meskipun sempat heboh beberapa waktu yang lalu, baik di tingkat nasional maupun internasional, bioetanol bisa dibuat dari bahan yang berkayu. Cuma masalahnya adalah teknologinya belum benar-benar siap dan ekonomis. Masih perlu penelitian yang mendalam agar bisa matang teknologinya. Namun, lagi-lagi, pemerintah dan industri masih setengah hati membantu penelitian bioetanol dari bahan-bahan berkayu atau lignoselulsoa. Sebenarnya jika dihitung-hitung, potensi bioetanol selulosa sangat-sangat besar. Tantangan utamanya: bagaimana mewujudkan potensi ini agar bisa memenuhi kebutuhan bioetanol nasional. (lihat di sini: Potensi Bioetanol Selulosa)

Potensi biogas sebenarnya juga sangat-sangat besar. Cuma sepertinya belum digarap atau bahkan belum dilirik oleh kementrian ESDM. Sebagai contoh saja, di Indonesia saat ini ada lebih dari 500 pabrik sawit. Kolam limbahnya luar biasa luas dan potensial untuk produksi biogas. Andaikan pemerintah mau membantu atau memberi insentif bagi pabrik-pabrik kelapa sawit (PKS) untuk mengolah limbah cairnya, paling tidak ada dua keuntungan. Pertama, mengatasi masalah limbah dan kedua memproduksi biogas. Biogas bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik atau langsung dipakai oleh masyarakat.

Saya masih menunggu nih, apa langkah-langkah kongret pemerintah melalui kementrian ESDM untuk melaksanakan PerMen ESDM No. 25 tahun 2013 tersebut. Kalau pemerintah serius, permen ini akan membangkitkan kembali gairah memproduksi biofuel di Indonesia.

Advertisements

One response to “Kebutuhan Biofuel Indonesia 2014 Diperkirakan Mencapai 45 juta kiloliter. Gimana memenuhinya….?

  1. thanks bang buat informasinya, lagi butuh bahan buat tugas. sekalian menanggapi bang, realisasi untuk bioetanol dan biogas kan belum ada secara besar-besaran. kalaupun ada kemudian pihak yang ‘membangkitkan’ produksi bioetanol dari singkong itu, bisa-bisa bakal sedikit banyak memengaruhi sektor pangan. pertanian Indonesia kayaknya belum siap buat memenuhi bagian pangan dan bioetanol sekaligus..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s