Penyerbukan Manual Anggrek Kantong

Anggrek kantong spesies asli Indonesia Paphiopedilum dodyanum
Anggrek kantong spesies asli Indonesia Paphiopedilum dodyanum

Anggrek kantong saya sangat jarang sekali dan susah sekali menjadi buah. Mungkin karena bukan di habitat aslinya, serangga atau hewan penyerbuk tidak ada di tempat saya. Pernah sih, satu dua anggrek kantongnya jadi buah. Tapi jarang sekali. Mas Agus Ma’rup mengajari saya bagaimana menyerbukan bunga anggrek secara manual. Saya coba praktekkan dengan bunga anggrek Paphiopedillum dodyanum dan Paphiopedillum suberbien yang kebetluan sedang berbunga.

Pertama kali yang dilakukan adalah dengan membuang kantong-nya terlebih dahulu dengan hati-hati.

Jadi bunganya menjadi lebih mudah untuk diambil benang sari-nya.

 

Benang sari terletak di belakang tangkai kepala putik. Posisinya agak tersembunyi. Bentuknya berupa dua tonjolan kecil berwarna kuning. Benang sari ini seperti terbungkus lendir yang lengket. Benang sari ini diambil secara hati-hati dengan menggunakan tusuk gigi yang kecil.

Benang sari ini kita tempelkan secara hati-hati di atas kelapa putik. Posisi kelapa putih adalah di bawah benang sari yang berbentuk lempengan kecil. 

Setelah itu beri tanggal kapan penyerbukan ini dilakukan.

Continue reading

Advertisements

Tindihan Ketika Tidur

Apakah Anda pernah ‘tindihan’? Saya coba cari padanan kata ‘tindihan’ dalam bahasa Indonesia, sulit banget. Tindihan itu orang yang dalam posisi tidur, merasa sudah bangun dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya terasa berat dan seperti ditindih sesuatu. Ada beberapa pendapat yang mengaitkan tindihan ini dengan hal-hal ghoib. Entahlah.

Seingat saya, saya belum pernah atau setidaknya sangat jarang sekali tindihan. Padahal sering sekali saya diceritain saudara yang sering ‘tindihan’. Baru kemarin malam saya merasakan sendiri pengalaman tindihan ini. Jadi saya merasa perlu mengabadikan dalam tulisan di blog ini. Kelak suatu saat nanti akan memudahkan saya untuk mengingat dan menceritakan kembali pengalaman ini.

Malam itu saya tidur seperti biasanya. Tidur miring ke kanan. Lampu kamar dimatikan dan hanya lampur ruang utama saja yang dinyalakan. Entah berapa lama saya tertidur. Suatu ketika saya merasa sudah tersadar dari tidur. Saya membuka mata. Kamar masih gelap. Saya bisa melihat almari dan cermin di dekat tempat tidur. Tetapi ketika saya mencoba berpindah posisi tidur dan ‘mengolet’, badan tidak bisa digerakkan. Badan terasa berat banget. Saya coba meronta, tetapi tidak bisa bergerak.

Seperti ada sesuatu yang menindih dari punggung saya. Tengkuk saya bergidik, bulu kuduk berdiri. Saya ingin berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut. Sekilas, saya tersadar; mungkin saya tindihan.

Saya coba untuk membaca ta’awudz, sebisanya…. meski mulut terkunci, tetapi saya terus membaca ta’awudz. Hanya suara ‘argh–argh’ yang keluar. Saya terus berusaha membaca. Saya baca istighfar. Lalu pelan-pelan saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya. Lalu jari-jari kaki. Bisa bergerak sedikit.

Saya coba meronta sekuat tenaga….. Allahuakbar…..

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bergerak normal. Saya bangkit dari tempat tidur. Badan sedikit berkeringat. Lalu saya keluar dan ke kamar mandi. Buang hajat. Lalu, ambil air wudhu.

Saya lihat jam di dinding. Pukul 03.15. Subuh masih cukup lama.

Saya sholat beberapa rakaat… lalu berdzikir dan berdoa seperti biasanya.

Saya coba ingat-ingat, apakah sore tadi saya lupa tidak baca dzikir petang, apakah saya sudah baca doa dan dzikir tidur….. Tidak ingat.

Anggrek klasik Doritis purcherrima

Anggrek Doritis pulcherrima

Anggrek Doritis pulcherrima

Anggrek Doritis pulcherrima

Anggrek Doritis pulcherrima

Continue reading

Penjarangan Bunga Durian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suranant Subhadrabandhu, peneliti dari Thailand tahun 1997, menemukan bahwa penjarangan bunga terbukti bisa meningkatkan produksi buah dan jumlah buah durian, tetapi tidak meningkatkan qualitas buah durian.

Hasil penelitian ini sangat menarik, terutama untuk tujuan praktis para praktisi kebun durian. Tanaman durian berbunga sangat banyak dalam satu musim. Mungkin ini adalah strategi tanaman durian untuk bertahap hidup dan melangsungkan keturunannya. Bunga durian tidak terjadi penyerbukan sendiri. Penyerbukan durian dibantu oleh hewan seperti serangga, kelelawar dan burung. Morfologi bunganya juga tidak memungkinkan untuk terjadinya penyerbukan dengan bantuan angin. Menariknya lagi, polen hanya ditebarkan ketika bunga mekar penuh dan hanya bisa bertahan satu hari saja. Dengan memperbanyak bunga, peluang terjadinya penyerbukan akan lebih besar.

Namun, ternyata, dengan banyaknya bunga durian ini juga menyebabkan persaingan alokasi nutrisi pada tanaman durian. Nutrisi akan ditranslokasikan ke seluruh buah yang berhasil terbentuk setelah proses penyerbukan. Sehingga pertumbuhan buah tidak bisa maksimal. Nah, percobaan orang thailand itu menemukan bahwa jika bunga durian dilakukan penjarangan, terbukti bisa meningkatkan jumlah dan produksi buah durian.

Penjarangan bunga durian dilakukan pada saat bunga mekar penuh. Pada saat itu jumlah bunga hanya disisakan 10% saja dari jumlah bunga yang ada. Jadi banyak banget yang dipangkas.

Referensi: Subhadrabandhu, Suranant, and Makoto Shodal. “Effect of Time and Degree of Flower Thinning on Fruit set, Fruit Growth, Fruit Characters and Yield of Durian.” Kasetsart J.(Nat. Sci.) 31 (1997): 218-222.

Penyerbukan Manual Bunga Durian

Rendahnya produksi buah menjadi salah satu tantangan dalam produksi buah di kebun durian. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya penyerbukan/polinasi bunga dan pembentukan buah durian. Strategi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan polinasi, pembentukan buah dan produksi buah durian adalah dengan melakukan penyerbukan manual. Teknik ini bisa meningkatkan peluang serbuk sari sampai ke kepala putik dengan demikian peluang pembentukan buah pun menjadi lebih besar.

Pentingnya Penyerbukan dan Pembentukan Buah Durian

Polen (serbuk sari) durian dilepaskan di dalam rumpun dan kecil kemungkinan serbuk sari bisa disebarkan oleh angin. Polen hanya dilepaskan ketika bunga sudah mekar sempurna. Beberapa penelitian melaporkan bahwa pelepasan serbuk sari terjadi pada sore hari  menjelang magrib sampai matahari tenggelam. Polen akan segera berkecambah dalam beberapa jam.  Viabilitas polen akan turun drastis sehari setelah pelepasan polen. Kondisi ini menyebabkan kecil kemungkinan terjadinya penyerbukan sendiri.

Penyerbukan bunga durian dibantu oleh hewan, seperti: ngegat, burung dan kelelawar. Penyerbukan yang efisien terjadi pada tengah malam. Jika tidak terjadi penyerbukan dalam waktu 24 jam kemungkinan terjadinya penyerbukan akan semakin rendah, karena vibilitas polen yang rendah. Gagalnya proses penyerbukan akan menyebabkan bunga gagal membentuk buah dan bunga akan segera rontok.

Beberapa penelitian mengungkapkan penyebab rendahnya presentase pembentukan buah durian, antara lain: viabilitas polen yang rendah, kegagalan penyerbukan bunga, kesalahan pemupukan, ketidakcocokan polen sendiri, ketidakcocokan klonal, tingkat nutrisi tanaman, kekurangan air, kerusakan bunga dan buah karena hama dan penyakit, kondisi cuaca yang buruk pada saat pembungaan dan penyerbukan buah.

Bunga durian akan mekar sempurna secara bersamaan kurang lebih sebanyak 25% dari total bunga dalam satu pohon. Penyerbukan manual terbukti bisa meningkatkan persentase penyerbukan dan pembentukan buah durian. Penyerbukan dilakukan dengan menggunakan polen yang diambil dari bunga di tanaman yang berbeda, baik dalam satu varietas maupun dari varietas lain. Penyerbukan dengan menggunakan polen yang sama dalam satu bunga sering menyebabkan inkontabilitas (ketidakcocokan) dan menyebabkan kegagalan pembentukan buah atau buah yang cacat. Waktu yang effektif untuk penyerbukan manual adalah pada sore hari dari pukul 06.30 malam sampai pukul 09.00 malam, atau lebih malam lagi. Beberapa varietas waktu optimum untuk penyerbukan pukul 01 malam.

Penyerbukan Manual

Langkah-langkah penyerbukan manual buah durian adalah sebagai berikut.

  1. Pilih pohon durian yang sedang banyak berbunga. Amati bunga yang akan mekar sempurna. Dan pilih bunga yang tangkai benang sarinya sudah akan pecah dan melepaskan polen/serbuk sari.
  2. Potong dan kumpulkan tangkai benang sari dari bunga-bunga yang sudah dipilih tersebut. Serbuk sari dikumpulkan di dalam botol atau tabung reaksi dan ditutup rapat.
  3. Serbuk sari dikawinkan/diserbukkan dengan bunga dari tanaman yang berbeda.
  4. Penyerbukan dilakukan malam hari mulai pukul 06.30 malam.
  5. Dengan menggunakan kuas yang lembut, rontokkan serbuk sari secara hati-hati dan ambil dengan menggunakan ujung kuas.
  6. Pilih kelapa putik menonjol dari kelopak bunga yang belum mekar. Perkiraan bunga akan mekar sempurna dalam waktu 10-12 jam kemudian.
  7. Oleskan ujung kuas yang sudah ditempeli serbuk sari ke kepala putik.
  8. Keberhasilan polinasi ditandai dengan bunga yang tidak rontok dan membentuk buah.

Pemeliharaan Buah Durian

Buah durian yang diharapkan untuk dipanen adalah buah durian besar, berat dan rasanya enak. Kualitas buah durian ditentukan banyak faktor, antara lain adalah pemupukan yang tepat dan pemeliharaan buah. Banyaknya buah dalam satu pohon diatur agar tanaman bisa mendukung pembentukan buah durian yang maksimal. Buah yang dihasilkan dari perkawinan/penyerbukan manual harus dipelihara agar bisa berkembang sampai siap di panen.

  • Penjarangan Buah

Penjarangan buah pertama dilakukan pada umur 4-5 minggu setelah penyerbukan. Banyaknya buah yang ditinggalkan sebanyak 2-3 kali dari target buah yang akan dipanen. Jadi, misalnya target buah yang akan dipanen sebanyak 10 buah, maka buah muda yang ditinggalkan sebanyak 20-30 buah muda. Penjarangan berikutnya pada buah umur 7-8 minggu. Hanya buah yang tumbuh bagus yang dibiarkan untuk terus berkembang sampai siap di panen.

  • Pemupukan Buah

Pemupukan untuk perawatan buah agar buah durian yang dihasilkan berkualitas bagus dilakukan pada umur buah 5-7 minggu atau setelah penjarangan buah yang pertama.  Dosis pupuk yang diberikan adalah 12N-12P2O5- 17K2O+2MgO atau 8N-24P2O5-24K2O atau13N-13P2O5-21K2O. Setelah penjarangan buah yang kedua hanya pupuk K saja yang diberikan yaitu pada umur buah 9 s/d 10 minggu setelah penyerbukan.

*) Foto dan ilustrasi menyusul ya

Presentasi TEDx Talks Tentang Durian

Bagi orang barat/bule, durian terdengar sedikit ‘mengerikan’ dan ‘menjijikkan’ karena baunya yang sangat menyengat. Beda benget dengan kita orang Asia (Indonesia, Malaysia dan Thailand) yang mengangap durian sebagai ‘Raja-nya Buah’. Orang Barat masih belum bisa menerima, kenapa buah yang sangat bau ini menjadi Raja-nya Buah. Ibaratnya, sama saja orang Indonesia yang tidak bisa makan ‘telur caviar’. Makanan bau begitu kok bisa harganya selangit. Berikut ini ada presentasi menarik dari Dr. Bender tentang durian di forum TEDx Talk. Silahkan dinikmati presentasinya di YouTube.

Ulasan Beberapa Literatur Aplikasi Paclobutrazol untuk Durian

Hormon Paclobutrazol

Hormon Paclobutrazol

Aplikasi hormon retardan Paclobutrazol untuk merangsang pembungaan dan buah pada tanaman durian sudah dilakukan sejak lama. Beberapa penelitian ilmiah sudah dilakukan sejak tahun 80-an. Aplikasi hormon paclobutrazol untuk merangsang bunga dan buah durian sudah menjadi prosedur rutin di Thailand, negara produsen dan peneksport durian terbesar di dunia. Aplikasi paclobutrazol juga dilakukan di Vietnam dan Indonesia. Petani buah durian di Thailand, Vietnam menggunakan hormon Paclobutrazol untuk mengatur produksi buah, terutama agar buah bisa dipanen di luar puncak panen dan mendapatkan harga yang bagus. Di Indonesia, saya tidak tahu apakah petani-petani buah durian sudah menggunakan hormon paclobutrazol atau tidak. Rasanya sih masih jarang.

Saya mencoba mengumpulkan beberapa literatur ilmiah yang menulis tentang aplikasi hormon paclobutrazol khususnya untuk buah durian. Sebagian besar memang literatur ini ditulis oleh orang Thailand, Malaysia dan Vietnam. Ada beberapa yang ditulis oleh peneliti di Indonesia. Saya coba merangkumnya terutama untuk tujuan praktis agar bisa menjadi panduan petani durian untuk mengaplikasikan hormon paclobutrazol.

Tanaman Sudah Dewasa atau Tanaman Menghasilkan

Seperti halnya manusia, tanaman juga ada masa-masa siap bereproduksi. Maksudnya sudah cukup umur. Tanaman durian yang akan dirangsang agar segera berbunga dan berbuah adalah tanaman durian yang sudah dewasa secara fisiologis. Tanaman durian yang berasal dari biji dan varietas lokal biasanya siap berberbuah pada umur 5 tahun. Tanaman durian yang berasal dari cangkok atau sambung (klonal) bisa mulai berbunga pada umur 3 tahun.  Jadi tanaman durian yang boleh dan bisa dirangsang untuk segera berbunga dan berbuah adalah tanaman yang sudah dewasa.

Di dunia perkebunan, tanaman yang masih mudah dan belum siap untuk berbuah dinamakan TBM = Tanaman Belum Menghasilkan, sedangkan tanaman yang sudah mulai berproduksi/berbuah istilahnya TM = Tanaman Menghasilkan. Kalau ada tulisan TBM 1, maksudnya adalah tanaman belum menghasilkan umur 1 tahun. TM 1 maksudnya adalah tanaman menghasilkan tahun pertama, umurnya bisa 4 tahun. Kadang-kadang ada tanaman TBM yang muncul bunga-nya. Jika tanaman belum dewasa, bunga ini dipotong saja/dikatrasi. Meskipun bisa berbuah, biasanya buahnya tidak maksimal dan kualtiasnya kurang bagus. Selain itu akan mengganggu pertumbuhan vegetatifnya. 

Tanaman Sehat, Bebas Hama dan Penyakit

Selain tanaman duriannya harus sudah ‘cukup umur’, tanaman juga harus sehat. Tanaman duriannya tumbuh bagus, percabangan sudah cukup kuat, diameter batang utama sudah cukup besar, demikian pula cabang produktif-nya juga sudah cukup untuk nenopang buah durian. Buah durian Musang King atau Montong bisa beratnya sampai >10kg. Kalau batangnya masih kecil bisa patah. 

Tanaman yang kuntet, kurang gizi, kerdil, meskipun sudah cukup umur tidak bisa dirangsang untuk berbunga. Andaikan bisa berbunga pun tidak akan bagus hasilnya. Tanaman yang kurang gizi dan kerdil harus disehatkan terlebih dahulu sebelum dirangsang dengan Paclobutrazol untuk berbunga dan berbuah. Penyehatan tanaman bisa dengan aplikasi pupuk organik dari kotoran hewan dengan Promi, aplikasi pupuk kimia atau aplikasi Pupuk Organik Cair (POC). Penyehatan tanaman memerlukan waktu, tergantung pada tingkat keparahan tanaman duriannya. Tanaman yang kuntet parah bisa memerlukan waktu hingga satu tahun baru bisa diberi aplikasi paclobutrazol.

Tanaman yang penyakitan, terserang hama dan penyakit, juga tidak bisa dipaksa untuk berbunga. Ibaratnya orang yang sedang sakit-sakitan dipaksa untuk berproduksi. Yah…..semakin parah lah sakitnya. Tanaman sakit harus disehatkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan dengan Paclobutrazol. Misalnya saja dengan aplikasi fungisida atau pestisida. Setelah tanaman mulai menunjukkan pertumbuhan yang normal dan sehat, tanaman bisa mulai diberi hormon paclobutrazol.

Dosis Aplikasi Hormon Paclobutrazol

Hormon Paclobutrazol bisa diaplikasikan dengan cara suntik, infus atau disemprotkan ke daun dan batang. Aplikasi dengan cara suntik dan infus membutuhkan volume yang sedikit. Satu pohon cukup 10-20 cc. Tapi aplikasinya yang ribet. Karena harus membuat lubang atau menggali dan mencari akar yang sehat. Cara semprot lebih mudah, tetapi memerlukan volume hormon yang lebih banyak. Satu pohon bisa membutuhkan 500-1000 cc.

Konsentrasi hormon untuk aplikasi dengan cara disuntik dan infus yang biasa dipakai adalah 10-50 ppm. Jadi kalau menggunakan hormon paclobutrazol pekat dengan konsentrasi 10.000 ppm vol 100ml, diencerkan dulu menjadi 50 ppm. Volume hormon paclobutrazol 10 ppm adalah 20 liter. Jadi kalau 1 pohon membutuhkan 20 cc, 1 botol hormon pekat Paclobutrazol bisa untuk 1000 pohon atau 1000 aplikasi. Cukup murah kan. Nah kalau pakai yang hormon paclobutrazol encer 1 botol bisa untuk 100 aplikasi. Cara suntik diaplikasikan 2-3 tiga kali.

Nah, kalau aplikasi dengan cara disemprot membutuhkan konsentrasi hormon yang lebih tinggi lagi. Kalau diliteratur antara 500 ppm s/d 1000 ppm. Pekat banget ya. Disemprotnya ke kanopi dan sampai ke batangnya juga. Jadi kalau menggunakan hormon paclobutrazol pekat konsentrasi 10.000 ppm vol 100ml, satu botol diencerkan menjadi 5000 ml atau 5 liter. Penyemprotan kabut ke seluruh kanopi. 5 liter cukup untuk 50-100 pohon. Kalau dihitung biayanya murah juga. Aplikasi hormon paclobutrazol dengan cara disemprotkan sekali saja.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk aplikasi hormon paclobutrazol dengan cara disemprotkan:

  1. Efektif jika tidak hujan minimal 3 jam setelah aplikasi hormon paclobutrazol. Jika sebelum 3 jam hujan, maka aplikasi harus diulang lagi. 
  2. Dilakukan pagi hari sebelum jam 9 ketika stomata daun terbuka sempurna dan matahari tidak terik. 

Lama Waktu Muncul Bunga

Lama waktu munculnya bunga sejak dari awal aplikasi hormon paclobutrazol bervariasi. Untuk aplikasi dengan cara diinfus dengan konsentrasi 10-50 ppm mulai berbunga dalam waktu 1 bulan lebih. Saya dengar bahkan ada yang sampai setengah tahun. 

Nah, yang aplikasi hormon paclobutrazol konsentrasi sangat tinggi dengan cara disemprot ke daun sudah mulai berbunga hanya dalam beberapa minggu s/d 35 hari. 

Lama Buah Durian Bisa Dipanen

Bunga sejak dari tunas bunga yang kecil sampai bunga dewasa membutuhkan waktu kurang lebih 8 minggu. Lama juga kan. Setelah bunga mekar sempurna, bunga siap untuk polinasi. Polinasi yang berhasil akan membentuk bakal buah, orang jawa bilang ‘pentil’. Dari pentil sampai buah durian siap di panen membutuhkan waktu sekitar 4-5 bulan.  Setiap verietas durian mungkin ada variasi waktu pembungaan dan pemasakan buah.

Perkiraan waktu pembungaan dan pemasakan buah bisa menjadi pertimbangan untuk mengatur waktu panen. Waktu aplikasi hormon paclobutrazol dihitung mundur dari target panennya. Jadi misalnya waktu pemasakan buah 5 bulan ditambah dengan waktu pembungaan 2 bulan, totalnya 7 bulan. Misalnya, kita ingin waktu panen durian bulan Agustus. Maka aplikasi hormon paclobutrazolnya adalah bulan Januari-februari.

Literatur Ilmiah:

  1. Chandraparnik, S., et al. “Paclobutrazol influences flower induction in durian, Durio zibethinus Murr.” Frontier in Tropical Fruit Research 321 (1991): 282-290.
  2. Subhadrabandhu, Suranant, and Kittipoom Kaiviparkbunyay. “Effect of paclobutrazol on flowering, fruit setting and fruit quality of durian (Durio zibethinus Murr.) cv. Chanee.” Kasetsart J.(Nat. Sci.) 32 (1998): 73-83.
  3. Hasan, M., and M. Z. Karim. “Application of paclobutrazol to lengthen fruiting season in durian (Durio zibethinus).” Off-season production of horticultural crops: Proceedings of the international seminar “Off-season production of horticultural crops”. Food and Fertilizer Technology Center for the Asian and Pacific Region (Taipei). 1990.
  4. Van TRI, Mai, et al. “Paclobutrazol application for early fruit production of durian in Vietnam.” Tropical Agriculture and Development 55.3 (2011): 122-126.
  5. Poerwanto, Roedhy, et al. “Off-season production of tropical fruits.” XXVII International Horticultural Congress-IHC2006: International Symposium on Enhancing Economic and Environmental 772. 2006.
  6. Subhadrabandhu, Suranant, and Makoto Shodal. “Effect of Time and Degree of Flower Thinning on Fruit set, Fruit Growth, Fruit Characters and Yield of Durian.” Kasetsart J.(Nat. Sci.) 31 (1997): 218-222.
  7. Kittichontawat, Adisai. “Effect of paclobutrazol on vegetative growth of durian (Durio zibethinus L.) cv. Chanee.” (1988).
  8. KOZAI, Naoko, Hirokazu HIGUCHI, and Yoshimi YONEMOTO. “Determination of the Crucial Floral Morphogenesis Stage Leading to Early Flowering with Paclobutrazol Treatment in Durian (Durio zibethinus Murr.).” Tropical Agriculture and Development 56.1 (2012): 35-37.
  9. Chandraparnik, Sookwat, et al. “Effects of paclobutrazol and environmental factors on early flowering, fruit setting and quality of durian.” Warasan Wichakan Kaset (1993).
  10. Rahmi, D. W. “Pengaruh Aplikasi Paklobutrazol dan KNO3 Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Durian (Durio zibethinus Murr.) cv.” Monthong.[Skripsi]. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor (2005).
  11. Wahyuni, D. R. “Pengaruh aplikasi paclobutrazol dan KNO3 terhadap pertumbuhan dan pembungaan durian (Durio zibethinus Murr.) cv. monthong.[skripsi].” Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor (2005).
  12. Suprianto, Ricip. INDUKSI PEMBUNGAAN DURIAN (DuriozibethinusMurr) DILUAR MUSIM MENGGUNAKAN PAKLOBUTRAZOL DAN KNO3. Diss. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2015.
  13. Safri, M. Tri. INDUKSI PEMBUNGAAN DURIAN (DuriozibethinusMurr) DILUAR MUSIM MENGGUNAKAN PAKLOBUTRAZOL. Diss. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2015.

Populasi Mikroba di dalam Pupuk Hayati, Pupuk Organik dan Biopestisida

Produk-produk pupuk hayati, pupuk organik dan biopestisida yang banyak beredar di pasaran. Merek-nya bermacam-macam dan seringkali mencamtumkan kandungan mikroba berserta populasinya. Sayangnya, banyak produk-produk seperti itu yang ‘agak’ menyesatkan. Besarnya populasi seringkali tidak masuk akal dan menurut saya sih ‘mustahil’ populasinya bisa sebesar itu. Konsumen, khususnya petani, harus lebih cerdas dan hati-hati dalam memilih produk-produk bio semacam ini.

Ambil saja contoh sebuah produk pupuk hayati. Merek-nya imaginer dan di dalam labelnya tertulis seperti ini:

  • Aspergillu sp 10^10 cfu/ml
  • Azotobacter sp 10^10 cfu/ml
  • Azosprillium sp 10^10 cfu/ml
  • Pseudomonas sp 10^12 cfu/ml
  • Bacillus sp 10^12 cfu/ml
  • Trichoderma sp 10^9 cfu/ml

*) catatan: cfu singkatan dari colony forming unit dan satuannya adalah cfu per gr (kalau padatan) atau cfu per ml (kalau cairan).

Menurut saya sih, populasi mikroba yang disebutkan di dalam produk itu tidak benar. Tidak mungkin satu produk dengan kandungan campuran mikroba yang bermacam-macam dan populasinya bisa sangat tinggi.

Berbeda misalnya dengan satu produk biopestisida yang hanya mengandung satu jenis mikroba dan mencamtumkan nilai populasi mikroba yang tinggi. Misalnya:

Trichoderma sp 10^12 cfu/gr

Nah…. kalau produk kedua yang hanya mengandung satu jenis mikroba dan mencantumkan populasi tinggi masih masuk akal.

Kenapa bisa begitu…? Kira-kira begini penjelasannya.

Mikroba mudahnya bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu: bakteri dan kapang/jamur. Mikroba biofertilizer maupun mikroba yang dipakai untuk biopestisida dari dua kelompok itu, kalau tidak bakteri ya kapang. Mikroba biofertilizer berdasarkan fungsinya dikelompokkan menjadi: mikroba penambat N simbiotik, mikroba penambat N non simbiotik, mikroba pelarut P, mikroba pelarut K, mikroba pemantap agregat tanah, mikroba perangsang pertumbuhan tanaman. Ada produk yang mengandung hanya satu atau dua kelompok mikroba, tapi ada juga produk yang mencamtumkan seluruh kelompok mikroba biofertilizer.

Saya tidak tahu bagaimana produsen-produsen pupuk hayati tersebut memproduksi mikroba-mikrobanya. Namun, umumnya mikroba dikembangbiakkan dan diproduksi di dalam fermentor menggunakan kultur cair atau kultur padat. Kultur cair yang paling bayak dipraktekkan. Jadi mikroba biofertilizer dari kultur F1 diinokulasikan ke dalam media cair dan diinkubasi dalam jangka waktu tertentu. Mikroba dipanen pada saat pertumbuhannya maksimum. Setelah itu baru diformulasikan dan dicampur dengan bahan lain atau mikroba lain menjadi produk jadi yang siap dipasarkan.

Bakteri umumnya tumbuh dengan cepat dan sampai pada pertumbuhan maksimum dalam waktu beberapa jam saja. Kapan/jamur tumbuh lebih lambat dan mencapai pertumbuhan maksimum setelah beberapa hari. Populasi maksimum untuk bakteri biasanya di kisaran 10^10 sampai 10^12 cfu/ml. Kalau jamur umumnya hanya sampai 10^10 cfu. Mikroba yang bisa tumbuh maksimum ini jika ditumbuhkan dalam kultur tunggal dan media spesifik. Mikroba dengan populasi sangat tinggi kalau dilihat kulturnya sangat keruh, tidak jernih, dan mengeluarkan bau yang khas mikroba tersebut.

Nah, anggaplah, produsen pupuk hayati itu memiliki fasilitas untuk memproduksi mikroba tunggal dengan kultur cair. Dan, populasi maksimum ketika panen adalah 10^12 cfu/ml.

Andaikan setelah dipanen kemudian dimix atau dicampur menjadi satu produk, apa yang terjadi dengan populasi mikrobanya.

Misalkan ada 2 jenis mikroba dan rasio pencampurannya adalah 1:1. Artinya, 1 liter kultur mikroba A dengan populasi 10^12 cfu/ml dicampur dengan 1 liter kultur mikroba B dengan populasi 10^12 cfu/ml. Populasi akhir dari masing-masing mikroba adalah:

Populasi akhir mikroba A = (1000 ml x 10^12 cfu/ml)/( 1000 + 1000)ml = 10^13 cfu/2000ml = 5 x 10^9 cfu/ml

Populasi mikroba B juga sama = 5 x 10^9 cfu/ml

Kalau ada 3 mikroba yang ditambahkan. Dengan cara perhitungan yang sama, populasi masing-masing mikrobanya adalah:

= 3 x 10^9 cfu/ml

Kalau mikroba yang ditambahkan semakin banyak, maka populasinya juga akan semakin turun.

Beberapa mikroba setahu saya jarang bisa mencapai populasi yang tinggi, seperti Azosprillium sp dan Rhizobium sp. Mikroba penambat N simbiotik umumnya tidak bisa mencapai kepadatan populasi yang sangat tinggi pada kultur tunggal. Masalah akan terjadi jika masing-masing mikroba populasinya berbeda-beda. Mungkin ada yang 10^9 cfu/ml, ada yang 10^10 cfu/ml atau ada yang 10^12 cfu/ml. Mudahkan, nilai pangkat sepuluhnya dikurangi tiga. Misal kalau 10^9 cfu/ml dicampur dengan rasio 1:1 populasinya akan menjadi 10^6 cfu/ml.

Ini kalau masing-masing mikroba ditumbuhkan pada kultur tunggal. Pertumbuhannya bisa maksimal.

Ada produsen pupuk hayati yang memproduksi mikroba dalam kultur majemuk. Artinya, mikroba-mikroba ditumbuhkan dalam satu fermentor. Saya ragu-ragu masing-masing mikroba akan bisa mencapai kurva pertumbuhan yang maksimal. Mikroba-mikroba yang ditumbuhkan dengan cara ini tidak akan bisa tumbuh maksimal. Mikroba akan tumbuh sub optimal dan bahkan bisa tidak tumbuh sama sekali. Kenapa bisa begitu? Karena masing-masing mikroba memerlukan media dan syarat tumbuh-nya masing-masing. Ketika ditumbuhkan dalam satu fermentor, mikroba bisa saling bersaing dan ‘berantem’.

Setelah mikroba-mikroba tersebut dicampur menjadi satu, mikroba ini akan hidup dalam kultur majemuk. Masalah timbul lagi. Dalam kultur majemuk dengan populasi tinggi, mikroba-mikroba itu akan saling ‘berantem’ untuk berebut makanan. Populasi mikroba biasanya akan turun secara gradual. Bahkan bisa turun drastis. Nah, jika Anda membeli produk biofertilizer atau POC yang mengandung banyak mikroba dan waktu expired-nya sudah dekat, hampir bisa dipastikan kalau populasi mikrobanya lebih rendah daripada ketika dicampur pertama kali.

Yang lebih mengelikan adalah ada produk pupuk hayati yang mencantumkan populasi mikroba sangat tinggi (10^10 cfu/ml), tapi ketika dilihat produknya jernih. Secara visual saja sudah bisa dilihat jika populasi mikrobanya rendah. Populasi mikroba yang tinggi menyebabkan warna cairan di dalam produk bio, khususnya yang cair, akan berwarna keruh.

Jadi, para petani dan konsumen pupuk hayati, pupuk organik cair, atau biopestisida jangan mudah tergiur dengan produk yang mencamtumkan populasi mikroba sangat tinggi dan banyak jenisnya. Populasi yang tinggi tidak selalu benar dan tidak selalu menjamin jika produk tersebut bagus ketika diaplikasikan ke lapangan/lahan.

Anggrek Spesies Indonesia Bulbphyllum echinolabium

Bulbophyllum echinolabium

Anggrek spesies yang unik ini nama ilmiahnya Bulbophyllum echinolabium. Anggrek unik ini adalah anggrek endemik Sulawesi dan ditemukan di dekat Dongala dan didiskripsikan oleh Pak Johannes Jacobus Smith pada tahun 1934. Bunga anggrek Bulbophyllum echinolabium berukuran sangat besar. Panjangnya bisa sampai 40 cm. Konon adalah bunga anggrek bulbo terbesar di kelasnya.

Keunikan anggrek spesies Bulbophyllum echinolabium ini adalah bentuk bibirnya yang menjuntai panjang dan bisa bergerak-gerak jika terkena angin. Bunga anggrek Bulbophyllum echinolabium juga mengeluarkan bau yang menyengat seperti bau bangkai binatang. Fungsinya adalah untuk menarik serangga penyerbuk.

Dalam satu tangkai bunga bisa mengeluarkan bunga hingga beberapa kali secara bergantian. Ketika bunga yang lama tanggal, dibelakangnya akan muncul knop dan bunga baru.

Perawatan anggrek spesies Bulbphyllum echinolabium ini cukup mudah. Ukuran daunnya yang lebar dan besar mengindikasikan kalau anggrek ini suka di tempat yang teduh. Memerlukan kelembaban yang cukup agar bisa tumbuh subur dan berbunga.

Anggrek spesies Indonesia Bulbophyllum echinolabium dari Maluku

Anggrek spesies Indonesia Bulbophyllum echinolabium dari Maluku

Anggrek spesies Indonesia Bulbophyllum echinolabium dari Maluku

Anggrek spesies Indonesia Bulbophyllum echinolabium dari Maluku

Metode Analisis Fraksinasi Biomassa Lignocelulosa

Biomassa lignoselulosa banyak sekali menjadi objek penelitian. Tujuannya untuk macam-macam, karena memang biomassa lignoselulosa ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam produk. Salah satu analisis yang hampir selalu dilakukan untuk biomassa lingoselulosa adalah analisis kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa. Masalahnya adalalah seringkali data hasil analisis ini tidak selalu klop. Karena satuannya dinyatakan dalam persen (%), mestinya kalau dijumlahkan totalnya menjadi 100%. Nah, banyak data penelitian yang kalau dijumlahkan nilainya >100%. Kan… nggak mungkin.

Salah satu permasalahan dari data ini adalah karena metode analisnya yang tidak fraksional. Pisah-pisah, jadi datanya agak ngaco dan sering tidak masuk akal.Kalau data kurang cocok, pembahasannya pun bisa bias. Metode analisis yang menurut saya paling cocok adalah analisi fraksinasi biomassa lingoselulosa. Menggunakan metode yang dipakai oleh Pak Andrew Chesson dan dipakai juga oleh Pak Datta.

Berikut alur analisisnya:

Analisis fraksional biomassa lignoselulosa untuk kandungan lignin, selulosa dan hemiselulosa.

Refernsinya:

Chesson, A. “The maceration of linen flax under anaerobic conditions.” Journal of Applied Bacteriology 45.2 (1978): 219-230.

Datta, Rathin. “Acidogenic fermentation of lignocellulose–acid yield and conversion of components.” Biotechnology and Bioengineering 23.9 (1981): 2167-2170.