BERANTEM

Karena NEM (Nilai Evaluasi Murni)-ku pas-pasan, akhirnya aku melanjutkan sekolah SMP di SMP luar negeri alias SMP swasta. Nama SMP itu adalah SMP Purnama. Sekolahnya masih dompleng dengan SMP Negeri 5 Magelang. Jam sekolah masuk mulai siang sampai sore, karena paginya digunakan untuk SMP Negeri. Jarak rumah dan sekolah kurang lebih 5 – 6 km. Aku berangkat dengan naik sepeda BMX milikku.

Maklum sekolah swasta, umumnya kecerdasan murid-muridnya di bawah rata-rata dan dari golongan yang ‘kurang beruntung’. Perangai mereka juga agak beringasan dan susah di atur. Waktu kelas satu aku punya geng beranggota sekitar 6 atau 7 orang. Nama-nama mereka yang masih aku ingat adalah Agus P, Agus Supriyanto, Sugito, Frangki, Witono, Imam dan satu orang lagi yang aku lupa namanya. Walau tanpa pemilihan aku menjadi pemimpin geng itu. Setiap ada masalah biasanya anggota geng ‘curhat’ padaku, mulai dari masalah-masalah di rumah sampai masalah cewek. Kami sering membuat gaduh dan onar di kelas. Kadang-kadang kami ‘kemlinti’ dan sering ngajak orang untuk berantem. Tidak jarang kami berkelahi gara-gara masalah yang sepele.

Pernah aku berantem hanya gara-gara masalah ballpoint. Kami janjian satu lawan satu waktu pulang sekolah. Kira-kira menjelang magrib, musuhku sudah menunggu di lapangan yang tidak jauh dari sekolah. Kami berantem di situ dengan disaksikan teman-temanku. Mukaku biru lebam karena kena pukul musuhku, dia pun juga tidak kalah parah dengan kondisiku. Tapi biasanya beberapa hari setelah itu kami sudah damai kembali.

Seperti biasanya, jika jam kosong atau guru tidak hadir anak-anak selalu ramai dan gaduh. Aku dan teman-temanku tentu saja jadi pelopornya. Kepala sekolahku, Pak Sudiharto sedang keliling sekolah. Dia masuk ke ruangan kelasku, kelas 2 waktu itu, kami bungkam seketika. Pak Sudi marah-marah pada kami. Beliau bertanya siapa yang ramai dan membuat gaduh. Tentu saja yang gaduh hampir seluruh murid di kelas 2. Muka pak Sudi merah padam dan terlihat sangat marah sekali. Tidak ada satu pun dari murid-murid yang berani mengangkat kepalanya, semua tertunduk. Lalu pak Sudi mengamcam, kalau tidak ada yang mau mengaku maka kelas ini tidak akan dipulangkan sampai ada yang mau bertanggung jawab. Dengan sedikit keberanian aku tunjuk jari. Pak Sudi menyuruhku maju ke depan kelas. Aku tunjuk beberapa orang temanku untuk maju ke depan, waktu itu Sugito dan Agus P. Pak Sudi marah sekali, kami bertiga ditampar satu per satu. Anehnya, Agus dan Gito sama sekali tidak berani marah dan dendam padaku.

Ada satu orang murid perempuan yang wajahnya agak lumayan. Agus Supriyanto temanku naksir padanya. Sebagai teman, aku mencoba membantunya. Aku sering membuatkan surat cinta untuknya. Jika mendapat surat balasan, aku dulu yang membacanya terlebih dahulu sebelum Agus. Tetapi rupanya bukan hanya Agus sendiri yang naksir cewek itu. Ada murid lain yang juga menaksirnya, anak ini adalah juara di kelas kami. Saingan berat untuk Agus. Si Juara kelas mengambil sikap bermusuhan dengan kami. Wajahnya sinis setiap bertemu denganku, tidak pernah menegur apalagi berbicara. Kebencian di antara kami sudah sangat memuncak, tapi Dia tidak berani menantang Agus S atau pun aku.

Suatu hari di sekolah diadakan kerja bakti untuk membersihkan ruangan kelas. Aku membersihkan di bagian. Si Juara kelas menyapu di bagian dalam. Aku sedang berdiri di balik pintu, tiba-tiba ada sapu yang mengenai kakiku. Aku kaget dan ketika aku mengetahui itu adalah perbuatan Si Juara Kelas aku semakin marah. Aku adu mulut dengannya. Akhirnya aku tantang dia untuk berantem nanti pulang sekolah.

Aku sudah menunggu di jalan yang biasa dilalui musuhku. Aku lihat musuhnya berjalan pulang. Tanpa banyak basa-basi aku seret dia ke lapangan dan kami pun berantem rame sekali. Mungkin karena nyaliku lebih besar aku berantem dengan penuh semangat. Musuhku terjatuh dan aku terus saja memukuli wajahnya. Ada guru yang melerai kami. Kami berdua di bawa ke ruang guru dan diinterogasi oleh beberap arang guru. Guru fisikaku (aku lupa namanya) beberapa kali menamparku. Yang paling membuatku sebel adalah justru musuhku dielus-elus wajahnya yang babak belur itu. Aku benar-benar merasa diperlakukan tidak adil dan dilecehkan oleh Pak Guru. Esok hari kedua orang tua kami diundang ke sekolah. Bapakku bilang kalau aku akan dikeluarkan dari sekolah jika ketahuan berantem lagi.

Hatiku sakit sekali. Aku dendam sekali dengan Si Juara Kelas itu. Aku bertekad untuk mengalahkanya. Aneh bin ajaib. Sejak saat itu aku sangat bersemangat belajar. Nilai pelajaranku yang dulu tidak pernah lebih dari 6 mulai membaik. Aku menjadi juara kelas ketika kenaikan kelas 3. Aku tetap menjadi juara kelas ketika kelas 3. Bahkan hasil ujian akhirku pun adalah yang terbaik di sekolahku. Nilai NEM-ku tidak kalah dengan murid-murid di SMP N 5. Akhirnya aku diterima di sekolah SMA N 1 Magelang, sekolah paling favorit di kota Magelang.

Leave a comment