Sajak Anak Gembala

Sebelum fajar menampak
Ku ayunkan langkahku ke
padang gembala
Yang tak berluas dan tak bertepi
Mengekori setiap langkah gembalaanku

Selangkah kemudian aku duduk
Termenung
di tengah padang yang kian
Gersang
Bernaung di bawah mega yang
tak kunjung datang

Kumengadah menatap langit
Sambil mencari segumpal
awan perindang
Namun, langit itu biru tak berbintang bulan

Aku menatap ke padang luas
Di nama mata memandang
Hanya melihat bertaburnya bunga
rumput kering
Di tiup angin panas yang kian
gersang

Ku dengan lati gembalaanku
mengembik
Seakan tahu apa yang aku
renungkan
Seakan dia menghiburku dengan berkata
“Allah memberikan yang
terbaik untuk kita
walau itu suatu kekecewaan”

Aku tersenyum mendengar itu
Ku ayunkan langkahku lagi
Mengarungi padang yang belum
ku lalui
yang penuh duri merintang

Oktober 1988
Isroi

/*****\

Ketika kita berdebat
Tentang hitam dan putih
malam gerimis di sudut beranda rumahmu
Kita tak pernah sampai pada pemahaman
bahwa yang putih itu putih
dan yang hitam itu hitam
semua kelabu

Tidakkah kau tahu bahwa putih itu
kumpulan dari mi ji ku hi bi ni u
Jadi satu
Semua harus dalam perbandingan yang sama
Agar putih terlihat putih
Tidak “putih mangkak”
Dan hitam itu
Hakekat
Di sanalah bersemayam semua rahasia
tak terpecahkan
Hitam tetap hitam
Tak pernah jadi putih

Lukisan paling indah
Adalah goresan tinta hitam
Di atas putih
Tidak mi
Tidak ji
Tidak ku
Tidak hi
Tidak bi
Tidak ni
Tidak u

Lukisan paling indah
Adalah campuran harmonis
Antara mi
ji
ku
hi
bi
ni
u
dengan hitam disela-selanya

Sudahlah..!!!
Kita yakini saja kebenaran
yang tlah sekian lama mempertebal
dinding-dinding kalbu
karena kebenaran yang kita cari
ada di dalam hati
Mari,
Kita pandangi timur
Matahari akan selalu terbit
Di sana

Purwokerto, 30 juni 1995
Isroi

………..Ssssttttt………

Tolong jangan katakan
pada siapa-siapa
kalau mereka
bangsaku

Isroi

*

Tonggak kayu
Yang tertancap kuat
Di atas batu karang itu
Sudah hampir roboh

Januari 1990
Isroi

*

Huruf-huruf bicara tanpa kata
Pena tak lagi menari-nari
Hanya kita termanggu dalam sendiri
Tak tahu kau atau aku
Hanya angin semilir meniup resah

Oktober 1989
Isroi

Sepi

Hanya angin sendirian
di tengah jalan
Berbisik tanpa makna
Tanpa suara
Kemudian Diam
Lenggang

Oktober 1989
Isroi

Tumbal

Mereka mati
Ager kemerdekaan
Negeri ini
Abadi

Magelang, 4 Oktober 1992
Isroi

Tumbal

Mereka mati
Ager kemerdekaan
Negeri ini
Abadi

Magelang, 4 Oktober 1992
Isroi

Beku

Ketika aku beku
Sekelilingku juga beku
Dak aku semakin beku
Kaku

April 1990
Isroi

Seuntai Rindu

Malam ini
Bersama sunyi dan sepi
Di balik diam termanggu
Rindu menyapa
Dengan lembut
Namun mengena

Isroi

BULAN

“Itu bulan”, katamu.
“Bukan. Itu matahari”, sahutku
“Itu bulan ..!” katamu ngeyel
“Bukan…!! Itu matahari.
Bulan sudah dimakan Betara Kala kemarin,” kataku.
“Itu bulan…..!!!!!!” katamu dengan suara tinggi.
“Itu matahari. Cuma karena sekarang banyak kabut
jadi seperti bulan,” jelasku
“Itu bulan…………….!!!!!” teriakmu.

Matamu yang bening
terpaku menatapnya
tak berkedip
Dan kau tetap pada pendirianmu
bahwa itu bulan.
“Matahari tak pernah keluar malam, kan?” gumanmu.

Kabut makin tebal,
Kita sama-sama ragu, apakah itu bulan
atau matahari
karena tak lagi jelas perbedaan
siang dan malam

Pringamba, 21 – 9 – 1997

Bila Mati

Bila mati nanti
Aku ingin menikmati
Hangatnya api neraka
Karena surga
Sudah kudapatkan
di dunia

April 1990
Isroi