Healing Level Langit: Ketika Nabi Diajak “Jalan-Jalan” Melintasi 7 Dimensi Saat Sedang Terpuruk

Namaku terinspirasi dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Aku lahir dini hari di hari Sabtu, 14 Rajab. Bulan Rajab adalah bulan terjadinya Isra’ Mi’raj. Simbah kakung, Mbah Amad Dakwan, memberiku nama ISROI. Entah kenapa jadi ISROI aku juga tidak tahu, tapi nama itulah yang tertulis di surat lahir dari desa.

Makanya, peringatan Isra’ Mi’raj selalu menjadi momen istimewa bagiku pribadi. Rasanya seperti diingatkan kembali pada identitas diri dan peristiwa agung yang melekat pada namaku.


Pernah nggak sih kamu merasa sedih banget? Merasa terpuruk, hopeless, karena kehilangan support system terbaik, sampai rasanya dunia sempit sekali?

Itulah fase yang dialami Rasulullah Muhammad SAW sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj. Sejarah mencatat tahun itu sebagai ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Beliau baru saja kehilangan istri tercinta, Khadijah r.a. Kehilangan kekasih hati yang sangat dicintai dan selalu ada saat suka duka itu mellow banget, Bro. Rasanya separuh jiwa pergi.

Berikutnya, paman pelindungnya, Abu Thalib, yang selama ini selalu membela, menjadi pendukung utama, dan sosok yang disegani oleh kafir Quraisy, juga meninggal dunia. Belum lagi, dakwah beliau di Thaif ditolak mentah-mentah dengan lemparan batu hingga beliau berdarah-darah.

Coba bayangkan dirimu berada di posisi Rasulullah waktu itu. Sedih, hampa, dan manusiawi banget kalau merasa lelah mental.

Di titik terendah itulah, Allah SWT memberikan penghiburan (Tasliyah) yang nggak tanggung-tanggung. Kalau anak sekarang healing-nya main ke mall atau staycation ke tempat wisata, Nabi beda. Beliau diundang langsung “main” ke rumah-Nya di Sidratul Muntaha.

Ini bukan dongeng. Ini adalah perjalanan dinas lintas dimensi yang terekam abadi dalam Al-Qur’an (QS. Al-Isra: 1 & An-Najm: 13-18).

Mari kita bedah faktanya berdasarkan data yang valid (Sahih Bukhari & Muslim) dan sedikit tinjauan sains biar makin mind-blowing.

1. Kendaraan Super Cepat: Al-Buraq

Perjalanan dimulai dari Masjidil Haram (Makkah). Jibril membawa kendaraan dinas bernama Al-Buraq.

Dalam hadits riwayat Muslim, hewan ini dideskripsikan berwarna putih, lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bagal. Kecepatannya? Mind-blowing.

“Ia meletakkan langkah kakinya sejauh pandangan matanya.” (HR. Muslim No. 164)

Ini bukan teleportasi sihir, tapi perjalanan fisik dengan kecepatan super tinggi yang melipat jarak. Kalau pakai logika fisika, ini teknologi Ilahi yang melampaui kecepatan cahaya.

2. Waktu yang Sangat Singkat vs Jarak Antariksa

Mari kita bicara data. Jarak darat dari Makkah ke Masjidil Aqsa adalah sekitar 1.239 km. Kalau zaman dulu naik unta butuh waktu sebulan pergi, sebulan pulang.

Lalu, jarak ke langit? Wah, ini lebih gila lagi. Untuk kamu yang belum tahu, satuan jarak antariksa itu ukurannya adalah Tahun Cahaya (Light Year). Kecepatan cahaya itu 300.000 km per detik. Bayangkan kamu berlari secepat itu selama satu tahun tanpa henti. Nah, jarak yang kamu tempuh itu disebut 1 tahun cahaya (setara 9,4 triliun km).

Sebagai gambaran betapa luasnya langit: Jarak Bumi ke pusat galaksi Bima Sakti kita saja diperkirakan sekitar 26.000 tahun cahaya. Itu baru satu galaksi, belum jarak antar galaksi, apalagi jarak antar langit, sampai ke Sidratul Muntaha (Langit ke-7 dan seterusnya).

Tapi, menurut dalil Al-Qur’an (Surat Al-Isra ayat 1), Allah menggunakan kata “Lailan” (suatu malam), yang dalam kaidah bahasa Arab (Nakirah) bermakna “hanya sebagian kecil dari malam”. Bukan semalam suntuk.

Ulama memperkirakan perjalanan ini terjadi selepas Isya dan Nabi sudah kembali sebelum waktu Subuh. Bayangkan! Jarak ribuan kilometer di bumi plus jutaan tahun cahaya di langit (pulang-pergi), hanya ditempuh dalam waktu beberapa jam saja (kurang dari sepertiga malam). Ini bukti bahwa hukum fisika tunduk total pada Penciptanya.

3. Transit di Palestina: Reuni Para Nabi

Tujuan pertama bukan langsung ke langit, tapi ke Masjidil Aqsa (Palestina).

Di sini, Rasulullah SAW melakukan sholat 2 rakaat. Menurut riwayat shahih (HR. Muslim), beliau menjadi imam bagi ruh para Nabi terdahulu. Ini adalah simbolisasi bahwa risalah Islam adalah penyempurna dari ajaran Nabi-Nabi sebelumnya. Persaudaraan Sesama Muslim (Ukhuwah), Ikhwanul Muslimin. One brotherhood, one mission.

4. Menembus 7 Langit (The Sky Tour)

Langit yang tampak di atas kita itu ternyata berlapis-lapis dan setiap lapis ada pintu serta penjaganya. Setelah dari Palestina, barulah Jibril membawa Nabi naik (Mi’raj) menembus lapisan langit. Di setiap pintu langit, Jibril harus meminta izin penjaga (protokol keamanan langit ternyata sangat ketat!).

Di sinilah terjadi “Meet and Greet” dengan para senior, nabi-nabi terdahulu (Sumber: HR. Bukhari, Kitab Bad’ul Khalq):

  • Langit 1: Bertemu Bapak Manusia, Nabi Adam a.s.
  • Langit 2: Bertemu sepupu, Nabi Isa a.s. & Yahya a.s.
  • Langit 3: Bertemu pria tertampan (diberi setengah ketampanan dunia), Nabi Yusuf a.s. Artis Korea mah lewat!
  • Langit 4: Bertemu Nabi Idris a.s.
  • Langit 5: Bertemu Nabi Harun a.s.
  • Langit 6: Bertemu Nabi Musa a.s. (Ada momen haru di sini, Nabi Musa menangis karena tahu umat Nabi Muhammad akan lebih banyak masuk surga dibanding umatnya).
  • Langit 7: Bertemu Bapak Para Nabi, Nabi Ibrahim a.s. yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur (Ka’bah-nya penduduk langit).

5. Oleh-Oleh Istimewa: Negosiasi “Diskon” Sholat

Puncak perjalanan ini adalah di Sidratul Muntaha, tempat yang tidak bisa dijangkau nalar manusia. Di sinilah Allah memberikan perintah Sholat 50 Waktu sehari semalam.

Bayangkan kalau kita harus sholat 50 kali sehari? Mungkin kita nggak sempat kerja, apalagi scroll medsos.

Di sinilah peran Nabi Musa a.s. (di langit ke-6) menjadi mentor. Beliau menyarankan Rasulullah untuk minta keringanan (diskon), berkaca dari pengalaman beliau mengurus Bani Israil yang fisiknya kuat tapi jiwanya sering membangkang.

Rasulullah pun bolak-balik menghadap Allah untuk meminta keringanan.

  • Dari 50 jadi 40…
  • Turun terus… per 10 atau per 5 waktu…
  • Hingga akhirnya deal di angka 5 waktu.

Sebenarnya Nabi Musa masih menyarankan untuk minta kurang lagi, tapi Rasulullah SAW bersabda: “Aku sudah meminta hingga aku merasa malu. Sekarang aku ridha dan berserah diri.” (HR. Bukhari).

Meski jumlahnya jadi 5, Allah memberikan bonus luar biasa: Pahalanya tetap dicatat setara 50 kali sholat! Win-win solution banget, kan? Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.

6. Pagi Hari yang Menggemparkan: Logika Iman Abu Bakar

Rasulullah kembali ke Makkah sebelum subuh. Saat beliau menceritakan hal ini di pagi harinya (di Hijr Ismail), penduduk Makkah heboh. Mereka mengejek, “Mana mungkin ke Palestina cuma semalam? Biasanya butuh waktu sebulan!”

Mereka mencoba meruntuhkan mental Abu Bakar dengan kabar “gila” ini. Namun, jawaban Abu Bakar justru menjadi standar keimanan kita hari ini:

“Kalau Muhammad yang mengatakannya, PASTI BENAR. Aku percaya dia menerima wahyu dari langit (yang jaraknya tak terhingga) dalam sekejap, masa urusan ke Palestina saja aku ragu?” (HR. Al-Hakim).

Sejak saat itulah Abu Bakar bergelar As-Siddiq (Sang Pembenara Sejati).


Takeaway Buat Kita

Perjalanan Isra’ Mi’raj mengajarkan kita beberapa hal penting:

  1. Sholat adalah “Healing”: Perintah ini turun saat Nabi sedih. Perintah yang langsung disampaikan oleh Allah ke Rasulullah tanpa perantara Malaikat (jemput bola). Artinya, sholat adalah cara kita “naik” menemui Allah untuk mengadu masalah hidup, layaknya Mi’raj-nya orang mukmin.
  2. Validitas Mutlak: Kisah ini valid, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits terpercaya (Bukhari-Muslim), bebas dari dongeng-dongeng seram (israiliyat) yang nggak jelas sumbernya.
  3. Kasih Sayang Nabi: Perjuangan Nabi negosiasi sholat dari 50 ke 5 waktu itu bukti betapa beliau peduli sama kita, umatnya yang lemah ini.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa berat melangkah ke sajadah untuk sholat 5 waktu, ingatlah: Perintah ini dijemput langsung ke Langit ke-7, bukan sekadar “titipan” via kurir malaikat.

Leave a comment