Tonggak kayu
Yang tertancap kuat
Di atas batu karang itu
Sudah hampir roboh
Januari 1990
Isroi
Tonggak kayu
Yang tertancap kuat
Di atas batu karang itu
Sudah hampir roboh
Januari 1990
Isroi
Huruf-huruf bicara tanpa kata
Pena tak lagi menari-nari
Hanya kita termanggu dalam sendiri
Tak tahu kau atau aku
Hanya angin semilir meniup resah
Oktober 1989
Isroi
Hanya angin sendirian
di tengah jalan
Berbisik tanpa makna
Tanpa suara
Kemudian Diam
Lenggang
Oktober 1989
Isroi
Mereka mati
Ager kemerdekaan
Negeri ini
Abadi
Magelang, 4 Oktober 1992
Isroi
Tumbal
Mereka mati
Ager kemerdekaan
Negeri ini
Abadi
Magelang, 4 Oktober 1992
Isroi
Ketika aku beku
Sekelilingku juga beku
Dak aku semakin beku
Kaku
April 1990
Isroi
Malam ini
Bersama sunyi dan sepi
Di balik diam termanggu
Rindu menyapa
Dengan lembut
Namun mengena
Isroi
“Itu bulan”, katamu.
“Bukan. Itu matahari”, sahutku
“Itu bulan ..!” katamu ngeyel
“Bukan…!! Itu matahari.
Bulan sudah dimakan Betara Kala kemarin,” kataku.
“Itu bulan…..!!!!!!” katamu dengan suara tinggi.
“Itu matahari. Cuma karena sekarang banyak kabut
jadi seperti bulan,” jelasku
“Itu bulan…………….!!!!!” teriakmu.
Matamu yang bening
terpaku menatapnya
tak berkedip
Dan kau tetap pada pendirianmu
bahwa itu bulan.
“Matahari tak pernah keluar malam, kan?” gumanmu.
Kabut makin tebal,
Kita sama-sama ragu, apakah itu bulan
atau matahari
karena tak lagi jelas perbedaan
siang dan malam
Pringamba, 21 – 9 – 1997
Bila Mati
Bila mati nanti
Aku ingin menikmati
Hangatnya api neraka
Karena surga
Sudah kudapatkan
di dunia
April 1990
Isroi
Dia adalah sebuah pohon
yang kelihatan indah, kokoh, dan kuat
di atas sebuah pot yang berukir indah
Dia adalah sebuah pohon
yang seharusnya kuat dan perkasa
yang seharusnya mengeluarkan mata air di sela-sela akarnya
Dia merasa kerdil,
(dan sesungguhnya memang kerdil)
di antara sesama bangsanya
Dia juga dihargai
bahkan dipajang di sebuah ruangan yang tampak berwibawa
Dia merasa sedih
seharusnya dia dapat mencengkeram
batu sebesar gunung
tapi dia hanya dapat menggenggam
batu sekepal tangan
seharusnya dia dapat keluarkan mata air
di sela-sela akarnya
tapi dia hanya dapat keluarkan air mata
di antara kesedihannya
Dia iri terhadap saudara-saudaranya
yang dapat menyumbangkan kemampuan
tidak hanya uang,
tapi juga kehidupan
Tidakkah lebih baik?
Jika dia diminta menjaga lereng curam
agar tidak longsor
Tidakkah lebih baik?
Jika dia tumbuh wajar dengan mata air
yang keluar di sela-sela akarnya
Tidakkah lebih baik?
Magelang, Juni 1989
isroi
Di sini rumahku yang terakhir
Di luar tampak seram mencekam
Tapi di dalam aku menggigil ketakutan
Aku dikuburkan bersama seribu duka
Dan tanpa bau dupa atau kemenyan
Hanya ketakutan dan bau busuk
Tak ada yang kutinggalkan
Karena memang tidak ada yang dapat
……….kutinggalkan…
Tak ada yang tersisa bahkan mimpi aku bawa
Aku belum juga di neraka atau di surga
Karena hari kiamat belum tiba
Bila malam datang
Burung hantu yang biasa bertengger di pohon dekat kuburku
Siap mencari mangsa
Tikus-tikus yang tinggal di liang lahatku
Adalah makanan kesukaaannya
Dan burung hantu itu makin gemuk saja
Tapi aku
Dagingku lumat….
…………..busuk…
Kemudian tinggal tulang belulang
Dalam tidur panjangku ini
Aku masih bermimpi tentang masa hidupku
Ketika kecil dan menjelang mati
Dan semua dosaku berkejaran….
……………………..menyiksaku…
Magelang, Feb 90
isroi
Pagi aku bangun
suasana sepi
Pagi itu aku buka pintu
mentari pucat pasi
Dan seekor laron
melintas bebas
menikmati sepi
tanpa burung
tanpa cicak
Aku lihat juga
dua gadis kecil
belajar naik sepeda
yang satu luka dilututnya
yang satu malah takut berdua
kemudian keduanya tertawa
tanpa menghiraukan
seekor laron yang merangkak sedih
tak bisa terbang lagi
Magelang, Des 89
isroi