Catatan:

Tulisan ini adalah kumpulan dari cerita-cerita dari Bulik Wuk. Adiknya Ibu Siti Aminah yang paling kecil fan punya indera keenam, alias indigo. Beliau bisa merasakan aura mistis di tempat-tempat tertentu. Beliau juga pandai bercerita. Ceritanya sangat menarik. Aku coba ceritakan lagi di sini. Insya Allah
Ketika pulang ke Pati, Bulik Wuk pingin banget mampir ke Masjid Sunan Kudus dan berzirah ke makam sunan Kudus. Singkat cerita Bulik Wuk sampai juga ke masjid Kudus. Bulik Wuk masuk melalui gerbang utama masjid. Entah mengapa beliau pingin berziarah ke makam Sunan Kudus yang satu komplek, ada di sebelah barat masjid.
Suasana agak sepi, sekitar waktu dhuha atau masih jam 10an. Beliau masuk komplek makam lewat pintu samping. Umumnya orang-orang akan berjalan ke arah depan ketika melewati gerbang pintu ke arah makam. Seperti ada yang membisiki Bulik kalau berjalannya menyamping atau miring menghadap ke arah utara sambil berberjalan pelan-pelan. Masuk komplek makam sambil mengucapkan salam.
Sampai di komplek makam Bulik pingin ambil air wudhu. Beliau mencari-cari di mana bisa berwudhu. Entah kenapa hari itu sepi dan tidak ada orang. Setelah menoleh ke beberapa sudut, Bulik melihat ada tanda panah dan tertulis mushola. Bulik mengikuti arah penunjuk itu. Di ujungnya seperti ada bilik kecil, ruangan mushola. Di sebelahnya ada tempat wudhu.
Musholanya kecil dan seperti mushola jaman dulu yang dari papan. Di sebelahnya ada rumah gubuk yang terbuat dari bambu, bahasa jawanya gedek. Ada pintu kecil yg dari gedek juga.
Bulik Wuk masuk ke dalam mushola dan berniat sholat dhuha. Tiba-tiba pintu gedek itu terbuka; ‘kreeeekkkk…. ‘, suara pintunya terbuka.
Ada empat orang nenek-nenek tua keluar dari pintu itu. Nenek-nenek tua yang pakai baju jawa dan memakai mukena, seperti mau sholat juga.
“Nuwun sewu, Mbah…!”, kata Bulik Wuk. (Permisi, Mbah).
“Iyo dhuk… ayo sholat bareng-bareng. kowe imamme,” kata simbah itu. (Iya Neng. Ayo sholat bersama-sama, kamu jadi imamnya).
“Njenengan mawon, Mbah,” (Embah saja yang jadi imam.)
“Wis ora opo-opo kowe sing nang ngarep!”
Akhirnya, Bulik yang sholat di depan menjadi imam. Nenek-nenek itu sholat di belakang.
Mukena yang dipakai oleh nenek-nenek itu juga sudah lusuh, seperti sudah lama dan tua juga umurnya. Mungkin sudah puluhan tahun.
Selesai sholat, Bulik Wuk bersalaman dengan nenek-nenek itu, sambil sedikit ngobrol kalau pingin ziarah ke makam sunan Kudus.
Selesai sholat, Bulik menuju makam Kanjeng Sunan Kudus. Berdoa sebentar di sana dan kembali menuju masjid ke depan.
Di sana ada Bapak-bapak penjaga masjid.
“Maaf, Pak. Apakah boleh saya naik ke menara Kudus?,” tanya Bulik.
Menara Majid Kudus ini sangat terkenal. Arsitekturnya unik, karena tetbuat dari batu bata dan dihiasi piring dari Tiongkok. Bentuknya mirip candi-candi di jaman Majapahit. Pintu menara dikunci.
“Maaf, Bu. Tidak boleh naik ke atas menara.” Jelas penjaga masjid.
Bulik Wuk cari-cari alasan agar diperbolehkan naik ke menara.
“Boleh ya.., Pak. Saya jauh-jauh dari Jakarta, ngidam pingin naik menara Kudus.” Rayu Bulik Wuk, sambil salam tempel memberikan beberapa lembar uang ke penjaganya. Penjaga masjid itu menerima uangnya dengan malu-malu.
“Sebentar ya …, Bu,” katanya.
Kemudian dia masuk ke bangunan di samping masjid. Mungkin bapak itu mau bilang ke takmir, pikir Bulik Wuk.
Tidak beberapa lama, Bapak itu kembali lagi, tapi kali ini diikuti oleh anak santri yang jumlahnya lumayan banyak. Santri laki-laki pada umumnya, mereka pakai sarung dan peci. Santri-santri itu duduk bersila di depan pintu menara.
Kemudian Bapak penjaga itu membuka pintu menara.
“Silahkan, Bu….”
“Ibu naik saja, nanti kalau ada suara-suara, Ibu jangan menoleh ke belakang atau pun ke bawah. Jalan saja terus ke atas,” pesan penjaga masjid.
Anak-anak santri kemudian membaca sholawat bersama-sama. Bulik Wuk sedikit heran, kenapa santri-santri itu membaca sholawat cukup kencang.
Bulik lalu mengandeng Dik Dita, anak kedua yang waktu itu masih seumuran SD.
“Ayo… Dik, kita naik.”
Bulik mulai menaiki tangga menara yang terbuat dari kayu jati tebal. Naik tangga satu per satu.
Bulik merasa ada suara-suara yang ramai sekali di bawah.
“Ibuk… ibuk…,” terdengar suara Dik Dita memanggil Bulik Wuk.
Awalnya Bulik mau menoleh. Tapi dia ingat pesan penjaga masjid agar tidak menoleh ke belakang atau ke bawah.
“Ayo naik saja…,” kata Bulik Wuk ke anaknya.
Mereka terus naik dan sampailah ke lantai menara atas. Di atas menara itu ada beduk berukuran sedang. Di atas Bulik Wuk menghadap ke barat dan berdoa sebentar. Setalah itu kembali turun ke bawah.
Sampai di bawah, Bulik Wuk menemui penjaga masjid yang masih menunggu di bawah.
“Sudah… Ibuk,”
“Sudah… Terima kasih ya.. Pak,”
“Sama-sama, Ibuk,”
Setelah itu Bulik Wuk entah kenapa ingin kembali lagi ke dalam, ke mushola yang ada di dekat makam. Setelah masuk… ruangan kecil itu tidak ketemu lagi. Yang ditemukan di tempat tadi sudah tidak ada. Rumah kecil gubuk bambu itu juga tidak ada. Ruangan itu sekarang adalah deretan kran-kran tempat wudhu.
Bulik Wuk clingak-clinguk mengamati dan mencari-cari di sekitar tempat itu. Tempat itu sudah berubah sama sekali, tidak seperti ketika pagi tadi jalan ke makam.
Bulik Wuk keheranan dan tidak percaya. Jadi tadi nenek-nenek yang sholat dhuha berjamaah itu siapa….?????
Sampai sekarang, BuLik Wuk masih penasaran dan belum tahu siapa nenek-nenek yang ikut bareng sholat berjamaah itu, dan juga apa suara ramai yang terdengar ketika naik tangga menuju atas menara.
Wallahua’lam.







