Mobil Berbahan Bakar Minyak Tanah

Mobil berbahan bakar bensin atau solar itu biasa, tetapi jika ada mobil yang berbahan bakar minyak tanah itu baru luar biasa. Aku temukan mobil yang berbahan bakar minyak tanah ketika aku berkunjung ke Kediri.

Mobil berbahan bakar minyak tanah

Mobil berbahan bakar minyak tanah

Waktu itu aku datang ke Kediri dengan naik Bus Patas jurusan Surabaya. Aku berdua dengan temanku Muh ‘Memet’ Amat. Sampai di Ketosono sekitar pukul 19.30 malam. Sebelum turun aku sempatkan SMS ke temanku, Erwin, karena dia janji akan minta orang untuk menjemputku di Kertosono. Dia mengatakan bahwa orang yang menjemputku naik mobil sedan tua berwarna merah tua. Mereka menunggu tepat di bawah pintu gerbang Selamat Datang di Kota Kediri.

Setelah kami turun dari bis, kami segera menyebarang jalan. Lalu berjalan sebentar menuju ke arah Kediri. Kami berjalan kurang lebih 150 m. Dari kejauhan kami sudah melihat sebuah mobil sedan tua berwarna merah tua. Kami menduga itu adalah mobil yang menunggu kami.

Ketika kami sudah dekat, ada seorang berperawakan kurus, putih, dengan potongan rambut lurus dan kaku, memakai kacamata, segera menghampiriku.

“Pak Isroi …ya…???” tanya dia sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan denganku.

“Betul..” jawabku singkat. Kusambut jabat tangannya.

“Saya Benyamin yang menyemput Bapak”, lanjutnya lagi. Tiba-tiba di dalam sebuah warung, muncul Pak Mus, sopir yang sudah kami kenal karena pernah menyemput kami sebelumnya.

Tidak ada yang istimewa dari mobil tua ini. Warnanya sudah kusam tak terawat. Perkiraanku mobil ini keluaran tahun 80-an, atau mungkin sudah seumuran denganku. Ketika aku membuka pintu dan masuk di dalamnya, handel pintu itu sudah agak rusak. Joknya pun sudah tampak tua dan kurang terawat, tetapi jok itu masih utuh dan tidak terlihat ada yang sobek-sobek. Agar pintu bisa tertutup sempurna perlu sedikit marah menutupnya, dibanting dengan cukup keras. AC jelas tidak ada. Waktu di dalam pun terasa agak sempit.

Mobil berbahan bakar minyak tanah

Mobil berbahan bakar minyak tanah

Ketika mobil mulai berjalan aku merasakan akselerasi yang bagus untuk mobil setua ini. Suara mesinnya halus. Lampunya pun menyala dengan sangat terang. Kami pun segera meluncur ke arah kota Kediri. Jarak antara Kertosono sampai Kediri kurang lebih 35 – 40 km.

Di sepanjang jalan kami pun sedikit berbasa-basi untuk memperkenalkan diri kami masing-masing. Kami berbicara tentang banyak hal. Namun, yang sangat menarik adalah ketika Bunyamin menceritakan kalau mobil ini berbahan bakar minyak tanah.

“Bapak mungkin tidak percaya, mobil ini berbahan bakar minyak tanah.” katanya menjelaskan padaku.

“Ah…masak….???!!!” sahutku seraya tidak percaya.

“Bener, mobil ini sudah di modifikasi. Aslinya adalah bermesin diesel. Kemudian oleh pemiliknya dimodifikasi agar bisa berbahan bakar minyak tanah.”, jelasnya padaku.

Kemudian Benyamin menjelaskan kalau mobil ini sudah cukup lama berbahan bakar minyak tanah. Katanya ada sedikit yang dirubah di bagian pengapiannya. Menarik sekali bagiku. Karena di kota kecil seperti Kediri ini ada montir yang kreatif untuk memodifikasi pengapian mobil diesel.

Meskipun berbahan bakar minyak tanah, mesin masih bagus.

Meskipun berbahan bakar minyak tanah, mesin masih bagus.

Ini merupakan salah satu ide kreatif untuk menyiasati melambungnya harga BBM. Di daerah-daerah seperti Kediri harga minyak tanah masih cukup rendah, yaitu sekitar Rp. 3.300/liter. Bisa dibandingkan dengan harga solar yang Rp. 6000/liter. Hebatnya lagi mobil ini jarang sekali bermasalah. Lampu-lampu masih sangat terang. Suaranya cukup halus, bahkan menurut saya lebih halus daripada suara mobil Panther yang juga bermesin diesel.

Lubang tangki tempat memasukkan minyak tanah

Lubang tangki tempat memasukkan minyak tanah

Akselerasi mobil ini sangat baik. Demikian pula perbandingan rpm dan kecepatannya. Kebetulan speedometer masih berfungsi denga baik. Di jarum penunjuk kecepatan mobil 70 km/jam, tetapi rpmnya masih sekitar 2000-an rpm. Benyamin menjelaskan rpm mobil ini tidak pernah lebih dari 3000. Bahan bakarnya irit lagi, sambungnya lagi.

Modifikasi ini sangat menghemat bahan bakar, baik dari sisi biaya maupun dari sisi komsumsi bahan bakarnya. Tetapi ini mungkin hanya berlaku jika harga minyak tanah masih cukup rendah dan lebih rendah dari harga minyak solar. Jika modifikasi ini diterapkan di Jakarta dan sekitarnya tidak akan ekonomis, karena harga minyak tanah di wilayah itu sudah menembus angka Rp. 10.000/liter. Bahkan bulan September 2008 yang lalu harganya pernah mencapai Rp. 12.000/liter.

Sayangnya saya tidak sempat bertemu dengan montir yang memodifikasi mobil ini. Meskipun demikian, saya tetap salut dengan montir yang memodifikasi mobil ini. Dia sudah memberikan solusi untuk mengatasi mahalnya harga solar. Jika harga minyak juga ikut membumbung tinggi, mungkin dia juga akan mengembangkan teknik-teknik lain untuk menghemat bahan bakar.

2 responses to “Mobil Berbahan Bakar Minyak Tanah

  1. Nah ini sebenarnya prestasi anak bangsa yang harus diapresiasi pemerintah……
    Mungkin suatu saat akan ditemukan mesin dengan bahan bakar air, dengan memecah molekul air untuk kemudian dilakukan reaksi fusi…….saluut!

    Nderek tepang ae mas

  2. keren bosssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s