Di Göteborg, Swedia, Pejalan Kaki adalah Raja

menyeberang jalan rambu lalu lintas
Menyebrang jalan dengan tenang dan mobil-mobil pun menunggu dengan sabar.

Waktu kecil, orang tua saya sering menasehati kita kalau mau menyebrang jalan: ‘Lihat kanan-kiri, kalau sepi baru menyebrang’. Seandainya tidak hati-hati waktu menyeberang, bisa-bisa ditabrak mobil.

Nasehat ini sepertinya tidak berlaku di Göteborg, Sweden. Di sini pejalan kaki seperti raja. Orang-orang hampir selalu menyeberang jalan di tempat yang sudah disediakan; zebra cross. Jarang sekali saya lihat orang menyebrang jalan sembarangan. Kalau kebetulan kita menyeberang jalan di zebra cross yang tidak ada lampu ‘bangjo’-nya, mobil-mobil akan mendahulukan penyebrang jalan. Kita bisa tetap melintas meskipun ada mobil yang akan lewat. Mobil akan berhenti, mendahulukan dan menyilahkan kita melintas, setelah itu mobilnya baru berjalan.

menyeberang jalan rambu lalu lintas

Di jalan-jalan yang ada lampu merahnya, ada kotak dengan tombol untuk menyeberang. Umumnya tersedia di jalan-jalan yang cukup ramai. Kalau mau menyeberang, sentuh tanda bulatan putih yang ada di kotak itu. Tunggu beberapa saat. Tombol ini akan menyalakan lampu merah (stop) untuk mobil dan lampu hijau (Go) untuk pejalan kaki. Tanda lampu disertai tanda bunyi: tut-tut-tut…, dengan jeda yang cepat. Setelah lampu pejalan kaki menyala hijau, kita bisa menyeberang jalan dengan tenang.

menyeberang jalan rambu lalu lintas
Sentuh bagian yang ditunjuk, maka lampu tanda orang menyeberang akan menyala.

Di beberapa lampu merah kotak penyeberangannya agak lain. Di tempat itu dipasang kotak dengan ukuran sama, tetapi dengan sensor. Kalau ada orang yang akan menyeberang sensor ini akan mengenali dan mengaktifkan lampu untuk  pejalan kaki. Jadi orang yang mau menyeberang tidak perlu mencet tombol, tinggal tunggu sebentar sampai lampu untuk menyeberang menyala hijau. Setelah itu orang bisa melintas dengan tenang, aman, dan sentosa.

menyeberang jalan rambu lalu lintas

menyeberang jalan rambu lalu lintas
Sensor penyeberang. Jika ada orang yang mau menyeberang akan mengaktifkan sensor ini.

Tradisi ini bisa terlaksana ketika semua orang mentaati peraturan. Mobil-mobil mentaati rambu-rambu lalu lintas. Pengendara mobil akan lihat kanan-kiri, apakah ada yang mau menyeberang atau tidak. Demikian pula, pejalan kaki juga tidak menyeberang jalan sembarangan. Semua berjalan tertib, tidak ada yang tertabrak, dan tidak terjadi kemacetan.

Di negeri kita tercinta – Indonesia Raya, rambu-rambu sudah cukup banyak. Aturan dan hukumnya juga sudah ada. Masalahnya jarang orang yang mentaatinya, entah sopir mobilnya atau pejalan kakinya. Orang mentaati rambu-rambu kalau terpaksa. Kalau ada polisi baru taat. Kalau tidak ada polisi, terjang saja rambu-rambu itu.

Pejalan kaki sama saja, banyak yang menyebrang jalan sembarangan. Sudah ada zebra cross tapi tidak dimanfaatkan. Beberapa tempat disediakan jembatan penyeberangan. Bahkan, di bawahnya sering ditambah pagar agar orang tidak menyeberang. Kebangetennya, orang lebih memilih loncat pagar daripada lewat jembatan penyeberangan.

Kadang-kadang pemerintah juga membuat jembatan penyeberangan kurang pas. Contohnya, di jalan jembatan merah, Bogor, ada dua jembatan penyeberangan yang tidak bermanfaat dan tidak dimanfaatkan. Satu di depan Mall Jembatan Merah, dan satu lagi di depan penjara (Lapas). Konon kabarnya dua jembatan itu menghamburkan anggaran negara milyaran rupiah. Perlu diketahui oleh para pembaca, jalan jembatan merah adalah salah satu simpul kemacetan terparah di kota Bogor, macet-cet.

Saya dengar cerita tragis dari kawan yang sudah lama tinggal di Göteborg dan pulang ke negeri tercinta. Pada suatu hari dia mengendarai mobil, di suatu jalan dia melihat ada orang yang mau menyeberang. Sudah jadi kebiasaannya untuk mendahulukan penyeberang jalan, maka dia persilahkan orang itu untuk menyeberang. Berjalanlah Si Penyebrang jalan melintas di depan mobilnya. Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, sekonyong-konyong datanglah mobil dari arah samping dengan kecepatan tinggi….
Braakkk…..!!!!!!

Si Penyeberang jalan tertabrak mobil, terpental, dan terkapar tak berdaya di atas aspal.
Tragis……!!!!!

Kapan di negeriku – Indonesia Raya – pejalan kaki jadi raja….?????

Posted from WordPress for Android

Advertisements

6 responses to “Di Göteborg, Swedia, Pejalan Kaki adalah Raja

  1. kalo emang pejalan kaki adlh raja,saya mendingan jalan kaki aja ah,,?hhe

  2. Reall!! Nyata di indonesia khususnya jakarta Ÿª♌g metropolitan ini….. Harusnya sudah pantess di jln kan hal” seperti di atas……. ,, Rambu” jaln ajh gak di tAati, apalagi pasal” di negara Ÿª♌g hanya tertuliss!! Heran *

  3. saya juga pernah liburan disana, dan memang saya salut dengan warganya yang gemar berjalan kaki.. ya mungkin karena disana pejalan kaki dihargai dan lingkungannya yang pas untuk pejalan kaki..
    coba di Jakarta bisa seperti disana yaa..

    salam blogwalking Hadiah Untuk Ulang Tahun Pernikahan

  4. seneng saya baca cerita ini…. saya sudah biasa nonjok pengendara motor atau nendang mobil yang tidak mau ngalah bila saya sudah ngasih kode nyebrang jalan, tapi mereka tetap saja nyelonong

  5. mulailah dari diri sendiri maka apa yg kita baca diatas tadi tidak mustahil akan dapat terwujud dinegeri kita tercinta indonesia raya ini ,, aminn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s