Ngadimin Hadiprayitno, veteran perang ’45

veteran perang 45 Mbah Ngadimin

Mbah Ngadimin Hadiprayitno, sedang menyanyi keroncong di gerbong 7.

NGADIMIN, nama itu tertulis di atas saku kiri baju veterannya. Beliau memakai baju seragam lengkap, hijua tentara, langbang jasa, dan topi kuning. Umurnya saya perkirakan sudah kepala tujuh. Mungkin seumuran dengan Bapak Alhmarhum.

Sejak nunggu kereta di stasiun Pasar Senen, beliau sudah menarik perhatian. Biacaranya ceplas-ceplos. Beliau duduk menunggu di dekat tempat aku duduk. Ternyata waktu di kereta pun duduknya di depanku.

Mbah Ngadimin mengajak ngobrol akrab dengan siapa saja. Ngobrol sambil bercanda. Sayangnya pendengarannya sudah jauh berkurang. Jadi kalau diajak ngobrol tidak nyambung. Jadi kami mangut2 saja kalau beliau ngajak ngomong.

Ketika para penumpang sedang asik dengan HP masing2, tiba-tiba Mbah Ngadiman memecah kesunyian. Beliau menyanyi keroncong dengan keras. Kami jadi terhenyak. Beliau terus menyanyi dengan keras, tampa memperdulikan sekitarnya. Ketika sebuah lagu selesai, Mbah Ngadiman menyelanya dengan pantun;

“Ali-ali ilang matane; ojo lali karo kancane”

“Pring peting cagakke radio; pontang panting bojone loro”

“Semarang kaline banjir, jo sumelang ra dipikir”

Mendengar pantun itu penumpang tertawa kepingkal-pingkal. Kami semua jadi terhibur. Kemudian dia berhenti sejenak.

“Sik ….. aku meh nguyuh sik,” katanya sambil berdiri menuju wc.

***
Setelah diam beberapa saat. Dia minta saya untuk mengambilkan tas rangselnya yang disimpan di tempat tas di atas. Saya ambil dan serahkan tas itu padanya.

Dia membuka tas dan mengambil seauatu dari dalam tas. Sebuah tumpukan kertas yang diikat dengan tali karet. Dia membuka ikatan karetnya dan memilah2 isinya. Lebar demi lembar dia buka, seperti sedang mencari seauatu. Dia mengambil sebuah buku catatan lusuh. Bukunya sudah tidak ada sampulnya. Kertasnya sudah menguning dan tulisannya sudah agak luntur.

“Di bawah sinar bulan purnama…..”
Mbah Ngadiman mulai menyanyi lagi. Ternyata Mbah Ngadiman mengambil buku catatan lagu keroncong.

Tujuh lagu dia bawakan. Dengan selingan pantun2 lucu yang menghibur. Mbah Ngadiman membawakan lagu dengan gaya penyiar radio.

Kami semua jadi terhibur sepanjang perjalanan ini.

Mbah Ngadiman bercerita kalau dia pemimpin band keroncong veteran di Semarang dan biasa siaran di RRI. Pantes.

Sampai di Semarang Mbah Ngadamin turun. Saya pun turun di sini. Beliau sudah ditunggu oleh anaknya.

Sugeng tindak. Semoga tetap sehat Mbah Ngadiman.

Saya meneruskan perjalanan ke timur. Memuntahkan rasa rinduku pada buah hatiku.

Advertisements

One response to “Ngadimin Hadiprayitno, veteran perang ’45

  1. abdullahrahmanzain@ymail.com

    Sent from Windows Mail

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s