Tag Archives: Puisi

Tumbal

Mereka mati
Ager kemerdekaan
Negeri ini
Abadi

Magelang, 4 Oktober 1992
Isroi

Tumbal

Mereka mati
Ager kemerdekaan
Negeri ini
Abadi

Magelang, 4 Oktober 1992
Isroi

Beku

Ketika aku beku
Sekelilingku juga beku
Dak aku semakin beku
Kaku

April 1990
Isroi

Seuntai Rindu

Malam ini
Bersama sunyi dan sepi
Di balik diam termanggu
Rindu menyapa
Dengan lembut
Namun mengena

Isroi

BULAN

“Itu bulan”, katamu.
“Bukan. Itu matahari”, sahutku
“Itu bulan ..!” katamu ngeyel
“Bukan…!! Itu matahari.
Bulan sudah dimakan Betara Kala kemarin,” kataku.
“Itu bulan…..!!!!!!” katamu dengan suara tinggi.
“Itu matahari. Cuma karena sekarang banyak kabut
jadi seperti bulan,” jelasku
“Itu bulan…………….!!!!!” teriakmu.

Matamu yang bening
terpaku menatapnya
tak berkedip
Dan kau tetap pada pendirianmu
bahwa itu bulan.
“Matahari tak pernah keluar malam, kan?” gumanmu.

Kabut makin tebal,
Kita sama-sama ragu, apakah itu bulan
atau matahari
karena tak lagi jelas perbedaan
siang dan malam

Pringamba, 21 – 9 – 1997

Bila Mati

Bila mati nanti
Aku ingin menikmati
Hangatnya api neraka
Karena surga
Sudah kudapatkan
di dunia

April 1990
Isroi

Bonsai

Dia adalah sebuah pohon
yang kelihatan indah, kokoh, dan kuat
di atas sebuah pot yang berukir indah

Dia adalah sebuah pohon
yang seharusnya kuat dan perkasa
yang seharusnya mengeluarkan mata air di sela-sela akarnya

Dia merasa kerdil,
(dan sesungguhnya memang kerdil)
di antara sesama bangsanya
Dia juga dihargai
bahkan dipajang di sebuah ruangan yang tampak berwibawa

Dia merasa sedih
seharusnya dia dapat mencengkeram
batu sebesar gunung
tapi dia hanya dapat menggenggam
batu sekepal tangan
seharusnya dia dapat keluarkan mata air
di sela-sela akarnya
tapi dia hanya dapat keluarkan air mata
di antara kesedihannya

Dia iri terhadap saudara-saudaranya
yang dapat menyumbangkan kemampuan
tidak hanya uang,
tapi juga kehidupan

Tidakkah lebih baik?
Jika dia diminta menjaga lereng curam
agar tidak longsor
Tidakkah lebih baik?
Jika dia tumbuh wajar dengan mata air
yang keluar di sela-sela akarnya
Tidakkah lebih baik?

Magelang, Juni 1989
isroi

Rumah Terakhir

Di sini rumahku yang terakhir
Di luar tampak seram mencekam
Tapi di dalam aku menggigil ketakutan

Aku dikuburkan bersama seribu duka
Dan tanpa bau dupa atau kemenyan
Hanya ketakutan dan bau busuk

Tak ada yang kutinggalkan
Karena memang tidak ada yang dapat
……….kutinggalkan…
Tak ada yang tersisa bahkan mimpi aku bawa
Aku belum juga di neraka atau di surga
Karena hari kiamat belum tiba

Bila malam datang
Burung hantu yang biasa bertengger di pohon dekat kuburku
Siap mencari mangsa
Tikus-tikus yang tinggal di liang lahatku
Adalah makanan kesukaaannya
Dan burung hantu itu makin gemuk saja

Tapi aku
Dagingku lumat….
…………..busuk…
Kemudian tinggal tulang belulang
Dalam tidur panjangku ini
Aku masih bermimpi tentang masa hidupku
Ketika kecil dan menjelang mati
Dan semua dosaku berkejaran….
……………………..menyiksaku…

Magelang, Feb 90
isroi

Pagi-pagi

Pagi aku bangun
suasana sepi
Pagi itu aku buka pintu
mentari pucat pasi

Dan seekor laron
melintas bebas
menikmati sepi
tanpa burung
tanpa cicak

Aku lihat juga
dua gadis kecil
belajar naik sepeda
yang satu luka dilututnya
yang satu malah takut berdua
kemudian keduanya tertawa
tanpa menghiraukan
seekor laron yang merangkak sedih
tak bisa terbang lagi

Magelang, Des 89
isroi

Oase

Dulu ketika kau pertama kali
mulai perjalananku ini
seorang tua nan arif berkata:

“Berjalanlah, Nak!
Buntuti matahari
Jangan sampai kau di makan
gelapnya
Bila kau tiba di sebuah
oase
di tengah gurun gersang
Carilah…..!!
Pasti akan kau temukan.”

Sejak itu aku terus melangkah
tanpa henti

Beribu-ribu sahara telah ku lalui
Beribu-ribu oase talah ku cari
namun, tak pernah kutemui
semua oase itu hanya fatamorgana

Kini keringatku telah habis,
darahku mengering
Ku seret langkahku satu-satu
Dalam lubuk hatiku yang paling dalam
keyakinanku tetap membara
Oase itu ada dipelupuk mata

Purwokerto, 24 Juni 1997
isroi

Lukisan

Lukisan ini hanya sampai di sini
Dan dengan warna hitam putih saja
Sudah dapat ku gambarkan redup sinar bulan
Dengan garis yang tidak teratur
Semua tergores tanpa terasa
Lukisan ini jangan disimpan
Berilah pigura dengan kertas putih bersih
Lalu tempelkan di dinding
dekat jendela
Dan biarlah tergantung
menoreh sukma

Magelang, Feb 90
isroi

Kolam Itu

Jantungku jatuh di tengah kolam
airnya jadi keruh
Kemudian nadiku jatuh juga
airnya jadi merah
Kemudian mukaku jatuh juga
airnya jadi hitam
Kemudian aku mandi di dalamnya
aku jadi hilang

Magelang, Des 89
isroi