Kenekadan dan Keberanian Mas Royan

Kamis siang sekitar jam 10.30 ada sms masuk, dari orang rumah. Begini isi sms-nya:
”Bi masroyan pulang sekolah sendiri. dedeabim”, yang nulis Dedek Abim. Lalu aku tanya ”Kenapa pulang sendiri’. Rupanya Mas Royan sendiri yang jawab, ”Ummi lama banget, jadi mas Royan pulang sendiri”.
Kaget juga aku, lalu aku tanya: ”Naik apa?”
”Ngak naik apa-apa”
”Lho..dengan siapa pulangnya?”
”Sendiri aja”.
Setengah percaya setengah tidak ketika aku membaca sms dari anak pertamaku ini. Berarti dia harus berjalan sekitar 2 km dari sekolah sampai ke rumah.

Royan

Malamnya aku coba tanya ke Ummi-nya. Ternyata memang bener, hari ini Mas Royan pulang sekolah sendiri jalan kaki. Karena Umminya terlambat menjemput Mas Royan, waktu itu sedang ambil uang di BMT untuk berobat Dedek Abim.

Sekolahnya anak-anak cukup jauh dari rumah. Jaraknya sekitar 1,5 sampai 2 km. Untuk sampai ke sekolah perlu menyebrang empat jalan raya,2 jalan arteri dan 2 jalan negara. SD-nya berada di pinggir jalan raya, semua bis dan truk dari arah surabaya lewat jalan itu. Jalan yang sangat ramai dan sibuk sekali. Sangat berbahaya untuk anak kecil.

Dua jalan berikutnya adalah jalan arteri yang membelah kota. Jalan ini tidak kalah ramainya, meskipun tidak ada bis dan truk. Sebelum sampai rumah harus menyebrang jalan raya lagi, jalan ini dilalui semua bis dan truk dari arah semarang menuju surabaya.

Dengan kondisi jalan yang seperti ini tidak mungkin kami tega membiarkan anak-anak yang masih kelas 2 & kelas 1 berangkat dan pulang sendiri. Hampir setiap hari selalu diantar-jemput oleh Umminya. Kalau berhalangan, biasanya anak-anak diantar jemput oleh tukang becak langganan kami.

Sebenarnya aku mau marah sama Mas Royan karena dia nekad pulang sendiri, tetapi rsanya tidak tega juga. Lalu aku minta dia bercerita bagaimana anak sekecil itu bisa jalan kaki 2 km pulang sekolah, sendiri, dan bisa sampai rumah dengan selamat wal afiat.

Mas Royan mulai bercerita. Karena Umminya terlambat menjemput, dia jadi tidak sabar. Apalagi temen-temennya sudah pulang semua. Lalu dia nekad pulang ke rumah dengan jalan kaki. Rintangan pertama, dia harus menyebrang jalan di depan sekolah. Dia tunggu sampai jalan sepi, baru dia lari menyebrang jalan.

Mas Royan berjalan menyusuri trotoar, sampailah dia di jalan raya kedua. Di sini dia nunggu di dekat lampu merah, ketika lampu merah dan semua kendaraan berhenti, dia lari menyebrang jalan. Pintar juga dia, pikirku.

Dia berjalan kaki menyusuri kios-kios HP, trus belok, sampai di pedagang-pedagang buah. Anak itu berjalan setengah berlari. Sampailah dia di perempatan yang sangat ramai. Di sini dia memakai strategi yang sama. Nunggu di lampu merah dan segera berlari ketika ada kesempatan. Dia berjalan menyusuri trotoar. Bus, truk, dan tronton berseliweran di jalan itu. Justru dia asik memperhatikan truk-truk raksasa yang membawa gulungan baja, kayu glondongan, puluhan sepeda motor, atau bis-bis AKAP.

Serasa berbisik, Mas Royan bilang:
”Bi…ternyata pulang sendiri itu asik lho…”
”Apanya yang asik?” tanyaku menyelidik.
”Mas Royan bisa lihat truk-truk besar dan bis.”
”Lalu, apa yang paling berkesan?” tanyaku lagi.
”Waktu menyebrang”, katanya, ”Mas Royan agak takut.”
”Bi…lebih asik kalau naik sepeda. Boleh ngak Mas Royan ke sekolah naik sepeda.”
Terang saja aku melarangnya,”Ngak boleh, nanti kalau Mas Royan sudah kelas empat saja.”
”Kenapa temenku ada yang boleh berangkat sendiri? Kenapa Mas Royan ngak boleh?” protesnya.
Kebiasaan Royan, dia selalu minta penjelasan yang logis dan memuaskan ketika dilarang melakukan sesuatu. Kalau alasannya tidak memuaskan dia, dia akan nekad melakukannya.

Aku mencoba menjelaskan ke Mas Royan. Bahaya di jalan tidak hanya sekedar masalah menyebrang jalan. Ada bahaya-bahaya lain yang mungkin tidak pernah dia pikirkan. Dari sorot matanya aku tahu dia kecewa, tetapi dia nurut untuk tidak berangkat sekolah naik sepeda.

Kadang-kadang aku bangga dengan keberanian Royan, tetapi di sisi lain aku juga sering khawatir. Dia masih harus belajar banyak tentang bahaya dan ancaman yang ada di ‘dunia luar’ sana. Ini bukan yang pertama kali Royan melakukan perjalanan sendiri dengan jarak yang cukup jauh. Dulu ketika masih umur 3 tahun, pernah juga dia ‘nglayap’ sendirian. Sampai aku binggung mencarinya.

Yah..maklum masih anak-anak.

Advertisements

6 responses to “Kenekadan dan Keberanian Mas Royan

  1. Hahahahaha….jadi ingat masa kecilku dulu. Aku sama spt anakmu itu mas, hanya aku tdk pernah bilang. Meski akhirnya ketahuan juga dan kena marah. Paling berhenti 3 hari hbs gitu nekad lg. Pulang jalan kaki. Sama juga jauhnya 2 km. Dan klo mau pulang sendiiri hrs petak umpet sama yg jemput…
    Akhirnya papaku nyerah dan dia jd rajin ajak aku ngobrol dan cerita. Beliau tdk pernah melarang tp sll memberitahu setiap resiko atau akibat yg akn aku hadapi baik dan buruk dlm setiap keputusan yg aku ambil dan papa jg sll blg aku yg hrs putuskan krn aku yg akn menghadapi akibatnya.
    Dan itu membuatku merasa setara dan dihargai oleh papaku, akhirnya aku tdk nekad lg. Malah sll bertanya dl ttg akibat2 jika aku menghadapi pilihan2 yg aku blm paham atau tahu akibatnya.
    Ini sekedar sharing mas. Dan krn kenekadanku itu maka jadilah aku spt sekarang. Thx for my Papa….
    Semoga mas Royan semakin mencintaimu dan akn sll mengenangmu mas spanjang hidupnya spt aku mengenang dan mengasihi papaku..
    Agatha

    • Terima kasih, Mbak Agatha.
      Saya sekarang juga mencoba untuk tidak selalu melarangnya, tetapi memberi pengertian. Sehingga dia bisa memilih dan berani juga menghadapi setiap resiko dan konsekuensi atas pilihannya itu. Salam sukses Mbak Agatha.

  2. Hahahahaha…
    Calon pendekar, la kalau kesasar terus gimana ya

  3. yo jelas kendele kuwi nurun seko bapakne to, heheheheheh…….

  4. Hwaduh, jadi kebayang entar kalo MAs Royanku sebesar mas Royan ini. Kenekatan dan keberaniannya hampir sama ^_^
    Salam kenal mas Royan, ini tante juga punya anak yang namanya Royan (4,1th). Sudah bisa jumping dengan sepeda roda duanya. Sering bilang, “Bun, mas Royan tak naik sepeda ke mbah kakung ya?” padahal rumah mbah kakung sekitar 2km dari rumah serta harus menyeberang 2 jalan raya. Tentu saja baik om atau tante belum ngasih ijin ^_^. Oya, mas Royan tante berkulit putih, rambut lurus (agak kaku), bermata agak sipit. BAnyak orang bilang kaya orang JEpang ^_^. Mas royan kayanya gitu juga ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s