Var så god och ta

varsagod“Var så god och ta” kalau diindonesiakan artinya kurang lebih ‘Silahkan diambil’. Tulisan itu tertera di karpet yang ditinggal pemiliknya di dalam lift apartemen. Barang itu sudah tidak dipakai oleh pemiliknya, dan ditinggalkan untuk dipakai siapa saja yang mau memakainya. Jangan dibayangkan kalau barang ditinggal ini sudah rusak atau jelek atau ‘layak buang’. Barangnya masih bagus. Masih sangat layak dipakai, cuma kelihatan agak kotor, dan seringkali belum ada cacatnya.

varsagodOrang Swedia memiliki kebiasaan yang baik untuk barang-barang yang sudah tidak mereka perlukan lagi tetapi masih bagus dan bisa dimanfaatkan. Orang Swedia meletakkan barang tersebut di tempat umum dan menyilahkan siapa saja yang mau untuk mengambilnya. Pernah saya lihat di depan kamar apartemen tergeletak sebuah monitor 19″ & keyboard. Di dekatnya ada tulisan ‘ FOR FREE, PLEASE TAKE ANYTHING YOU NEED’. Kata temen sudah beberapa hari ada di tempat itu & belum ada yang mengambilnya.

Di kampus, di ujung koridor ada yang meletakkan file box di dalam kardus besar. Ada beberapa filebox. Di situ tertulis ‘Please, take me if you want’. Harga filebox baru lumayan mahal untuk ukuran Indonesia, harganya bisa 30-40 kron atau hampir Rp. 50 ribuan. Orang yang meletakkan barang ini mungkin mahasiswa yang sudah lulus dan tidak membutuhkannya lagi. Pernah juga saya lihat di depan sebuah rumah, ada sebuah TV besar, ukurannya saya rasa > 21″. Mungkin pemiliknya sudah punya TV baru dan TV lamanya diberikan ke orang lain.

Barang-barang yang “dibuang” ini tidak hanya itu saja. Meubeler, almari, kursi dll pun sering dijumpai. Di setiap apartemen ada tempat khusus untuk menaruh meja, kursi, atau barang-barang yang ukurannya cukup besar. Setiap orang boleh mengambil & memanfaatkan barang-barang yang diletakkan di tempat itu. Temen saya beuntung mendapatkan kursi belajar/kerja yang masih bagus dan sebuah lampu hias rumah.


Orang Swedia juga memiliki kebiasaan mengganti perabotan mereka secara berkala. Ketika mereka mengganti barang-barang tersebut, perabot lamanya diberikan ke siapa saja yang mau, atau diletakkan di tempat umum yang setiap orang bisa menggambilnya. Beberapa hari yang lalu, ada Prof di Chalmers yang mengganti rak-rak buku kantornya. Rak tersebut kemudian diambil sebagian untuk di pakai di mushola Chalmers. Kadang-kadang di koridor ada setumpuk CPU dan monitor lengkap. Temen saya bilang, “Kalau kamu membutuhkan silahkan saja diambil”.

varsagod

varsagod

Yang saya lebih respek lagi adalah mereka yang mengambil barang itu memang memerlukan barang tersebut. Kalau mereka membutuhkan, mereka akan ambil. Mereka tidak ‘rakus’ & ‘serakah’ mengambil barang-barang gratis seperti itu.

Di Göteborg, kota tempat saya tinggal, ada beberapa toko yang menjual barang-barang second hand. Tokonya cukup ramai dan barang-barangnya bagus, seperti Myrorna dam Emmaus. Saya baru tahu kalau barang-barang yang dijual di sini adalah barang yang sudah dibuang dan mereka memberikannya ke Myrorna. Di beberapa tempat Myrorna menyadiakan tempat khusus untuk menaruh barang-barang yang sudah tidak dipakai. Myrorna dan Emmaus adalah lembaga sosial, uang hasil penjualan barang-barang itu digunakan untuk membiayai kegiatan sosial di luar negeri. Seperti kelaparan di Afrika atau di Asia. Banyak juga lembaga atau toko second hand yang dikelola oleh gereja. Gereja-gereja ini menerima sumbangan barang-barang dari jama’ahnya dan menggunakan uang hasil penjualannya untuk kegiatan sosial.

varsagod

Myrorna adalah salah satu toko favorit mahasiswa asia. Di sini tersedia pakaian, jaket, sepatu, perabotan rumah tangga, dan buku. Saya beli jaket di sini, karena jaket yang saya bawa dari Indonesia tidak cukup kuat menahan dinginnya suhu Göteborg. Jaketnya masih bagus banget, harganya kurang dari setengah harga jaket baru. Catatan, harga jaket atau jas musim dingin sampai beberapa juta rupiah . …. !!!!!…..

varsagod

Lain ladang lain belalang, begitu kata pepatah. Lain Swedia lain juga Indonesia. Rasanya tak perlu saya uraikan panjang lebar di sini. Kalau Anda – yang baca tulisan ini – orang Indonesia, pasti sudah bisa membedakannya.

Kapan ya..di negeriku bisa menyontoh kebiasaan baik ini…….

Posted from WordPress for Android

Advertisements

7 responses to “Var så god och ta

  1. Kebiasaan yang baik, barangkali berhubungan juga dengan tingat kesejahteraan sosial masyarakat Swedia. Kalo di Indonesia, ehmm.. gak bakal jalan kebiasaan yang seperti itu ..meletakan barang yang sudah tidak terpakai untuk diambil oleh siapa saja. hehehe.. salam kenal mas.

  2. heheh… woww seru sekali yaaaa. sebelumnya saya juga baca soal pejalan kaki jadi raja itu yang juga seru banget

  3. komputer yang kudapat sekarang di pake siapa ya??

  4. Maaf, kakak sedang pertukaran pelajar atau memang tinggal di Swedia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s