Jadi Sopir Omprengan Plat Hitam

Colt T Station Wagon

Dengan mobil Colt T merah ini aku 'ngompreng' waktu SMA

Ini ceritaku 20 tahun yang lalu waktu kelas 2 SMA. Aku pernah nyari tambahan uang saku dengan nyopir angkutan plat hitam. Kenangan yang tak pernah terlupakan.

Aku belajar nyetir mobil ketika masih kelas 1 SMA, umurku masih sekitar 15-16 tahunan. Sebenarnya seumur itu belum boleh nyopir mobil dan dapat SIM A. Di Indonesia tahu sendiri lah – ‘semua bisa diatur’. Meskipun aku belum cukup umur, tapi bisa juga aku dapat SIM A. Modal buat nyopir mobil.

Bapakku membeli sebuah mobil Colt T station Wagon warna merah. Bapakku punya kenangan tak terlupakan dengan Colt T warna merah, makanya mobil yang diinginkan Beliau adalah mobil tipe ini. Tahun 1982 Bapak pernah kecelakaan ketika naik angkot Colt T merah. Ceritannya Bapak mau melayat ke Muntilan. Dasar sopir angkot, kalau nyopir ugal-ugalan, sampai di jembatan kali Elo desa Blondo Colt T dengan kecepatan tinggi mencoba menyalip mobil di depannya. Tanpa disadari dari arah depan ada bis Sumber Waras dari arah Jogja juga melaju dengan kecepatan tinggi. Tabrakan hebat tidak terhindarkan. Bis banting setir ke kiri, menabrak pembatas jembatan, dan langsung nyemplung ke kali. Badan bis terendam air dan banyak jatuh korban jiwa karena tenggelam. Kondisi Colt lebih memprihatinkan. Separoh body mobil rinsek. Tujuh dari 14 penumpang meninggal. Enam orang yang lain pingsan di tempat. Termasuk teman bapakku, Pak Gundir, yang tiga hari tidak sadarkan diri. Hanya Bapak yang masih siuman dengan rahang patah dan dua gigi depan hilang. Kalau tidak salah ingat total 39 orang meninggal dalam tragedi itu. Colt T merah dijadikan monumen peringatan tragedi itu di dekat jembatan Blondo. Colt T merah yang mirip seperti itu mobil pertama yang Bapak beli.

Karena hanya aku yang bisa nyopir, mobil itu seperti menjadi milikku. Aku biasa nganter Bapak atau Emak ke pasar, atau untuk keperluan lain. Bapakku hanya penjual warung kecil, jadi kepikiran untuk memanfaatkan Colt T Merah untuk mencari tambahan rejeki. Awalnya cuma tetangga atau kenalan yang minta di antar ke luar kota. Istilahnya ‘nyarter mobil‘, dan aku yang nyopirin kalau sedang tidak sekolah. Hasilnya memang tidak besar tapi lumayan lah. Biasanya aku mengantar ke kota Jogja, Klaten, Solo, Semarng, Salatiga, Temanggung, Wonosobo, atau ke Purworejo, dan kota-kota di Jawa Tengah lainnya.

Orang ‘nyater mobil’ tidak setiap hari, jadi mobil itu lebih banyak parkir di depan rumah. Lalu kepikiran untuk ‘ngompreng‘ di malam hari. Maklum waktu itu angkutan masih jarang, jadi kalau malam hari banyak beroperasi angkutan tidak resmi alias angkot plat hitam. Apalagi di kampungku banyak juga yang berprofesi sebagai sopir atau kenek. Tetanggaku, Slamet, namanya yang mengajakku ‘ngompreng‘ dan minta ijin ke Bapakku. Akhirnya disepakati kami ‘ngompreng‘ hari sabtu dan minggu waktu aku tidak sekolah.

Pertama ‘ngompreng‘ kami ‘ngetem‘ di perempatan Soko, depan Hotel Trio. Di sini biasanya banyak penumpang bis yang turun. Mereka mau melanjutkan ke kota lain, berhubung angkutan resmi plat kuning sudah tidak ada, kami lah yang mengisi kekosongan layanan ini. Kami justru lebih fleksibel, karena bisa ke semua jurusan tergantung permintaan penumpang. Ongkosnya pun fleksible juga, tergantung kesepakatan kedua belah pihak; penumpang dan sopir. Biasanya banyak penumpang yang pergi ke Purworejo, Jogja, atau Semarang. Alternatif tempat ‘ngetem‘ yang lain adalah terminal bis Sukarno Hatta, perempatan Pakelan, atau terminal Pasar Kebonpolo.

Hampir setiap akhir pekan aku selalu ‘ngompreng‘ sampai punya langganan tetap Mbok-mbok yang jualan di Semarang. Biasanya Si Mbok duduk di depan dekat sopir, ya aku ini. Dia suka ngomong ngalor-ngidul sepanjang perjalanan. Kadang-kadang ngasih buah atau makanan kecil ke aku untuk cemilan di jalan. Kalau sampai di tanjakan Jatingaleh selalu bilang, ‘Diklakson, Nak’. Konon tanjakan ini ‘wingit‘ dan para sopir selalu membunyikan klakson sebagai tanda ‘kulo nuwun‘ untuk ‘Sing Mbahurekso‘ jalan ini. Meskipun aku sama sekali tidak percaya dengan tahayul ini, aku tetap penjet tombol klakson untuk menyenangkan & menenangkan hati Si Mbok ini.

Kadang-kadang kalau sedang banyak penumpang lumayan juga dapatnya. Bisa untuk ntraktir teman-teman Tapi tidak jarang semalem suntuk tidak ada penumpang. Nasip-nasip….!!! Cuma pindah tidur di terminal.

Kadang-kadang aku hanya ngompreng berdua dengan Slamet. Seringkali aku bertiga dengan sohibku, Bambang. Merekalah lah bertugas mencari, merayu, dan kalau perlu memaksa penumpang. Aku duduk manis di depan setiran, sambil menghitung jumlah setoran.

Pernah suatu malam tidak ada penumpang, akhirnya daripada tidak dapat penumpang kami pindah ngetem di pasar Gotong Royong dan mengangkut para pedagang yang kulakan di pasar ini. Aku antar mereka ke pasar Ngablak dekat Kopeng di kaki gunung Merbabu. Tubuh sudah loyo dan mata ngantuk karena belum tidur, plus perut keroncongan, aku kuat-kuatkan untuk nyopir. Jalan ke arah gunung Merbabu yang berkelok-kelok hampir membuatku celaka. Di belokan yang cukup tajam, tanpa aku sadari ada aparat pakai seragam yang naik motor. Karena hari yang masih gelap plus mata yang sudah lima watt, hampir saja aparat itu aku sambar. Untung aku cepat banting setir, dan akhirnya semua selamat, sehat, aman, dan sentosa.

Di pasar Ngablak yang penuh orang plus mobil omprengan ini, mobilku nyerempet mobil angkutan bak terbuka. Mobil bak yang sudah bulukan itu cuma lecet sedikit. Sama sekali tidak terlihat karena memang sudah penyok-penyok sebelumnya. Nah, mobilku yang agak parah. Body catnya tergores dari depan sampai belakang. Pulang langsung kena damprat Bapak. Maklum hasil ngompreng tidak cukup untuk memoles goresan itu.

Di terminal tidak hanya mobil angkot plat hitam saja yang ngetem, tapi ada juga para bencong yang mangkal mencari mangsa. Memperhatikan gerak-geriknya sering membuatku geli sendiri. Kok ada ya makhluk salah kaprah seperti itu. Kalau siang namanya Junaidi, kalau malam menjelang, namanya jadi Jenny. Mukanya dibedakin tebel banget, bibirnya yang tebal bin dower diolesi lipstik merah, dan pakai bulu mata palsu.  Pakai rok mini di atas lutut, sambil berjalan megal-megol. Seperti enthok mau bertelur. Parfumnya parfum murahan yang dibeli di emperan pasar. Bukannya wangi, tapi baunya sudah cukup membuat orang pingsan. Bayangin sendiri deh seperti apa rupanya. Mungkin dalam benak Si Jenny dia terlihat cantik, tapi menurutku dia lebih mirip burung unta dibedakin. Apalagi kalau ngetem di tempat remang-remang, bisa dikira kuntilanak kesasar. Na’udzubillah min dhalik.

Kehidupan malam memang keras. Tak jarang aku menyaksikan orang berantem gara-gara masalah sepele. Orang yang mabok-mabok sambil main kartu atau main gaple di sudut terminal. Untunglah diriku yang masih bau kencur dan masih ‘suci’ ini (ciee……!!!!)  tidak terkontaminasi. Aku masih tetap ingat pesan guru ngajiku, Bu Nyai dan Pak Nur,kalau minuman keras itu haram,  dosa besar, dan induknya dosa-dosa besar yang lain. Sebatang rokok pun belum pernah menyentuh bibirku. Alhamdulillah.

Pernah juga aku beramtem sama kernetku sendiri, Slamet. Aku lupa apa sebabnya. Ya….maklum lah, kehidupan malam memang bisa membuat orang jadi lebih temperamental.

Aku ngompreng sampai awal-awal kelas tiga. Ketika sudah masuk semester pertengahan aku mulai jarang ngompreng. Karena aku mesti siap-siap menghadapi EBTANAS (sekarang namanya UAN).  Jadi aku mesti lebih rajin belajar. Aku lupa kapan sampai akhirnya aku benar-benar berhenti ngompreng. Meskipun sudah tidak lagi ngompreng, tetapi aku masih tetap menerima ‘cateran’ mobil kalau ada yang membutuhkan.

Slamet masih sering jadi kernet dengan omprengan lain. Beberapa kali dia merantau ke luar Jawa. Sekarang Slamet sudah tidak jadi kernet lagi. Slamet sudah jadi orang sukses. Slamet sekarang membuka warung bakmi di Tanjung Kalinegoro. Warungnya ramai sekali, orang-orang yang tinggal di sekitar Kalinegoro, Tanjung, Salaman, dan Borobudur pasti tahu Warung Bakmi Pak Slamet. Kalau kebetulan Anda sedang jajan di warungnya Pak Slamet Kalinegoro, coba tanyakan masih ingat tidak dengan Isroi Jambon yang suka ngompreng bareng dua puluh tahun silam.

Advertisements

10 responses to “Jadi Sopir Omprengan Plat Hitam

  1. bagus sekali mas

  2. wah hahaha….. asyik tenan…

  3. Wah, jaman dulu nyopir Plat Ireng banyak ceritanya ya pak. Sekarang kata saudaraku yang juga nyopir Plat Ireng (sejak jaman Oplet) jamannya sudah urusan hukum. Dikit-dikit ada konflik antara Hitam-Kuning langsung masuk ke sidang.

  4. pengalaman yang menarik mas. sangat menarik. pengalaman yang bisa jadi cerita anak cucu. di fatimah dulu gak pernah cerita tentang hal ini ya

  5. saya cari foto monumen colt T yg ada diblondo kala itu, dan sampai sekarang belum menemukannya, ya buat kenang2 an aja mas. .

  6. seru!!! wah ternyata ceritanya mas Isroi gak cuman ttg power point kelasnya Prof Sukarti dulu, banyak cerita yg menarik bgt. Oh ternyata mobil ringsek yg dulu dipajang tu dulu tumpanganya mas Roi tow? alhamdulillah bpk masih slmt mas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s