Jam Karet Cap Indonesia Raya

Rasanya stigma jam karet sudah lekat erat dengan orang Indonesia Raya. Budaya jam karet alias waktu yang moloooorrrr sudah menjadi hal lumrah dan dipermaklumi secara nasional. Bahkan orang luar pun juga tahu kalau orang Indonesia Raya suka mengolooor-oloooorrrrr waktu.

Misalkan saja ada undangan, tertulis di suratnya, mulai jam 15:30 teng. Hampir pasti bisa diprediksikan kalau mulainya sekitar satu jam setelahnya, atau bahkan bisa lebih lama lagi. Bagaimana bisa dimulai ‘on time’ kalau pesertanya saja baru mulai bermunculan setelah jarum jam panjang menunjuk angka 11 dan jarum pendek menunjuk angka 3. Munculnya juga satu-satu dengan selang waktu 10an menit. Ampyuuuunnn deh….!!!!

Entah memang karena ada halangan, hambatan, atau memang sengaja ‘nelat’ yang membuat orang Indonesia Raya tidak bisa ‘on time’. Rata-rata dalam benak mereka terbersit pikiran ‘ah…pasti mulainya juga telat’. Jadi jauh dalam pikiran bawah sadar telah terjadi kesepakatan untuk menelatkan diri secara berjama’ah.

Luar biasanya jam karet ini telah merasuki hampir di semua aspek kehidupan orang Indonesia Raya. Mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar; mulai dari janjian personal sampai janjian nasional; mulai dari acara tingkat RT sampai acara tingkat ningrat; hampir semuanya ‘molor’. Rasanya belum pernah saya menghadiri acara RT yang ‘on time’. Bahkan acara di tingkat eeselon 1 dan kementrian pun yang pernah saya ikuti juga molor-loor.

Memang tidak semua orang Indonesia seperti itu, ada beberapa orang yang memang menghargai waktu. Pembimbing saya hampir semuanya menghargai waktu, Prof. Rubiyanto, Prof. Iswandi Anas, dan Dr. Didiek H. Goenadi selalu berusaha ‘on time’. Saya sering dimarahi kalau janjian tidak tepat waktu. Ada beberapa temen lain yang juga seperti itu.

Ini beda jauh dengan orang-orang luar negeri yang sangat menghargai waktu. Seperti di negerinya Uncle Sam, sebagian besar negeri Eropa, atau Jepang. Bagi mereka ‘on time’ adalah harga mati. Saya pernah presentasi yang kebetulan moderatornya profesor dari Jerman. Sebelum mulai presentasi beliau berbisik padaku; ‘Ingat waktumu 15 menit presentasi, kalau lebih aku matikan mic-nya’, ancamnya.  Mungkin dia sadar saya orang Indonesia yang biasanya suka ngoloor-ngolor waktu. (Nasip-nasip jadi orang Indonesia Raya)

Ketika saya berkesempatan belajar di Chalmers University of Technology, Göteborg Swedia. Saya semakin mengerti kalau orang-orang Eropa umumnya sangat menghargai waktu. Kuliah jadwal jam 8, ya mulai jam 8 teng. Mahasiswa dan dosennya sudah siap sebelum jam 8. Undangan rapat jam 9 pagi ya mulai jam 9, peserta rapat sudah siap sebelum jam 9. Acara-acara yang lain pun juga hampir selalu ‘on time’. Apalagi kalau janjian dengan profesor, dokter, atau orang lain, mesti ‘on time’. Seandainya mereka akan terlambat karena sesuatu hal, mereka akan memberitahu, sehingga orang diajak janjian pun bisa mengerti untuk menunggu. Sudah begitu pun mereka minta maaf karena terlambat.

Banyak juga temen – temen orang Indonesia yang tinggal di Göteborg. Karena tinggal di negeri orang yang menghargai waktu, temen-temen pun selalu ‘on time’ kalau janjian dengan orang Swedia. Sepertinya jam karet cap Indonesia tidak dikenakan lagi. (Disimpan di kolong kali…).

Akan tetapi, bilamana di dalam acara atau pun undangan yang sebagian besar pesertanya orang Indonesia Raya – aneh bin ajaib – sepertinya mereka kompak mengenakan jam karet cap Indonesia Raya lagi. Seperti ada kontak batin untuk sepakat mengolor waktu; kembali lagi seperti di Indonesia. Telat & molor jadi lumrah bin biasa, dan semua mempermaklumkannya.

Saya nggak habis pikir; kok bisa ya…????!!!! Memang luar biasa banget nih yang namanya Jam Karet Cap Indonesia Raya.

Advertisements

5 responses to “Jam Karet Cap Indonesia Raya

  1. Ada kekecualian mengenai jam karet ini yg pernah saya alami. Di daerah Malili- Sulawesi Selatan suatu saat saya dapat undangan pesta pernikahan jam 11:00, saya datang tepat waktu ternyata sudah banyak orang yg pulang pada jam tsb. Ternyata kebiasaan disana orang datang ke kondangan itu sebelum jam yg tertera di kartu undangan. Jadi tidak semua daerah di Indonesia mempraktekkan jam karet.

  2. Sepertinya memang sudah membudaya Pak di Indonesia.. dan semuanya bak mendukung, yang dateng telat, yang bikin acara juga telat. mungkin kalau mau tegas dari yang bikn acara mau sesuaiin jam (bukan sesuaiin budaya indonesia), tamu undangan bakalan terbiasa kalau acaranya memang tepat waktu.

  3. Ya begitulah karena pada umumnya terjebak pada pola pikir hidup seadanya dan nerimo ing pandum sehingga seolah semua berjalan apa adanya dan sadar atau tidak klu ada undangan berangkatnya ya pas pada jamnya ga ingat perjalanannya berapa lama macet apa ga akhirnya ya molor juga hehehe

  4. Benar Mas Isroi, sehingga jam karet semakin merusak mutu yang sudah rusak. Tapi ada pengecualian, misalnya untuk presentasi yang bermutu minimal standar sebagaimana bagusnya maka waktu presentasi sebagusnya ditambah, kalau tidak maka mutu belajar menjadi rusak alias di bawah standar bahkan jauh di bawah standar. Jadi tepat waktu dalam banyak hal adalah benar dan baik, tetapi tepat waktu dalam hal tertentu adalah salah dan buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s