Graffiti hampir saya temukan di setiap kota yang pernah saya kunjungi. Coretan-coretan dinding ini tersebar di berbagai sudut-sudut kota. Mereka mencoret-coret di dinding-dinding yang tak bertuan, rumah-rumah tua, bahkan ada juga yang mencorat-coret di tembok toko-toko. Sebagian menganggap mereka anak kurang ajar (mungkin yang punya dinding), anak-anak berandalan. Ada juga yang menganggap anak kreatif dan ungkapan expresi anak remaja.
Pernahkan Anda memperhatikan coreta-coretan itu. Mereka berteriak “Berikan Kami Ruang”, “Ruang Kami Diserobot Iklan”, dll.








Ini coretan usil anak bangsa, kreatif dengan karya-karya seninya, apa ini karya kartun sdm penerus bangsa yg ekspresikan keresahan jiwa , masadepan yang belum atau tak tertampung pada tempat yang benar menjadi anak jalanan tidak punya tuan yang bijak? Dengan coretan liar di sebarang tempat tanpa kulanuwun akibatnya metropolitan jadi kotor tampa Kalpataru.
Solusinya karyanya perlu disalurkan, disponsori atau ditampung pada tempat yang benar dan karyanya yang kreatif perlu dimusiumkan, contohnya itu seniman-seniman di Polandia …