Amanah & Ujian: Kebenaran Menurut Siapa

Minggu ini ada yang sedikit berbeda dengan minggu-minggu yang lain. Banyak amanah yang dibebankan padaku. Seiring dengan amanah itu ada juga ujian yang aku terima. Awalnya aku pikir sederhana, tetapi ternyata kemudian berkembang menjadi tidak sederhana dan semakin rumit. Setidaknya menurut penilaianku. Aku merasa menjadi ‘sasaran tembak’ dan ‘kambing hitam’ atau mungkin juga ‘sasaran pelampiasan’.

Awal minggu lalu aku mendapatkan tugas dari atasanku. Sebagai anak buah, tentunya aku melaksanakan tugas ini dengan sebaik mungkin. Aku tidak punya pretensi apa-apa, ‘hard feeling’, atau yang lainnya. Aku laksanakan tugasku ini dengan sukses (–menurutku sih–), karena tugasnya sebenarnya sederhana. Atasanku menerima dengan baik hasil kerjaku ini, bahkan memuji hasil yang aku peroleh. Tugas selesai dengan baik, kok masalah. Aneh, kan…?????!!!

Aku mulai sadar ketika masalah ini mulai muncul. Awalnya, memang aku merasa ada yang ‘kurang senang’ dengan tugas yang dibebankan padaku ini. Ketika kami (aku dan rekan kerjaku) mencari informasi, kami mendapatkan informasi yang simpang siur. Bahkan terkesan sengaja di-siur-kan. Aku tentu saja tidak kekurangan akal. Aku cross cek, informasi itu dengan informasi yang lain. Dan akhirnya kami mendapatkan informasi yang valid. Aku mengecek dan membuktikan informasi itu. Meskipun awalnya sedikit sulit, aku mendapatkan informasi yang lengkap, valid, dan bisa dipertanggung jawabkan.

Selesai melaksanakan tugas, ada yang menelpon. Aku ngak punya prasangka apa-apa. Aku ceritakan apa yang aku kerjakan sejujur-jujurnya tanpa aku tutup-tutupi. Rupanya tanggapannya agak lain. Beliau complain dengan hasil kerjaku. Pikiranku saat itu, lho kok komplainnya ke aku. Aku hanya sekedar melaksanakan tugas atasan. Rasanya salah alamat, kalau mau complain ya.. ke yang memberi tugas padaku. Cuma sekitar 5 menit dan aku pikir sudah selesai.

Namun, setelah itu aku jadi berfikir. Kenapa masalah ini muncul ya…. Aku mencoba merenung dan mencari-cari: apa yang salah dengan kerjaanku, apa hubungannya dengan yang lain, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Aku coba cari informasi lain yang mungkin berkaitan. Akhirnya aku sadar, apa yang aku kerjakan ada hubungannya dengan D U I T dan mengganggu stabilitas perduitan orang lain. Kalau nilainya kecil sih mungkin tidak apa-apa, tetapi dari hasil hitungan-hitungannku nilainya SUANGGAATTT BUUUUEEESAAARRR ZZZEEEKAAALLLLIII. Agar mudah untuk membayangkan, besarnya kira-kira sama seperti 400 bulan gaji yang aku terima setiap bulan, atau sama dengan 33 tahun gajiku dikumpulkan jadi satu. Hanya beda satu tahun dengan umurku saat ini.

Aku baru sadar setelah mengetahui hal ini. Semua orang yang terkait dengan hal ini, pasti akan berang. Mereka membutuhkan orang yang bisa dijadikan sasaran dan pelampiasan kemarahan. Beberapa hari berikutnya masalah mulai berkembang. Ada orang lain lagi yang menelponku. Tetapi aku sedang rapat seharian waktu itu. Jadi ngak sempat bicara. Lalu esok harinya ada lagi yang menelponku. Teman baikku dan boleh dibilang mantan seniorku. Lewat telepon dia marah-marah dan mencaci maki aku. Katanya, aku orang yang tidak tahu diri, orang yang tidak tahu balas budi, kacang lupa kulitnya, dan lain-lain. Dia mengatakan orang yang rajin sholat di masjid, rajin ngaji, terlihat alim, tetapi kelakuannya benar-benar tidak tahu diri. Munafik. Dan masih banyak lagi.

Rumor terus berkembang. Orang-orang yang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya, jika mendengar hal ini mungkin saja akan berfikiran yang sama. Aku orang munafik yang tidak tahu balas budi dan tidak tahu diri. Aku berdiskusi dengan rekan kerjaku. Dia tahu hal yang sebenarnya dan mendukungku. Secara singkat aku mencoba menjelaskan ke dua atau tiga orang yang terkait langsung dan aku rasa bisa menjaga diri. Mereka semua mendukungku.

Aku sama sekali merasa tidak melakukan hal-hal yang salah, melanggar hukum, melanggar syariah, atau jenis pelangaran-pelanggaran yang lain. Apapun kata orang tentang diriku, aku tetap pada keyakinanku kalau aku tidak bersalah. Ini tentu saja kalau dilihat dengan ‘kaca mata’ku. Orang-orang yang memakai kacamata lain, mereka melihat aku orang yang munafik dan ‘najis’. (Na’udhubillah summa na’udhubillah). Memang kalau urusannya DUIT, orang punya kacamata sendiri-sendiri.

Lebih parah, masalah ini dikait-kaitkan dengan amanah yang aku pegang sekarang. Padahal sama sekali tidak ada hubungannya. Anamah yang diberikan padaku amanah ‘padang pasir’ alias kering kerontang. Tetapi mungkin karena bersinggungan dengan ‘daerah basah kuyup + banjir’, mulai timbul masalah. Ini murni pelaksanaan tugas anak buah dari atasannya.

Apa boleh buat, semua sudah mengalir begitu cepat dan diluar kontrolku. Aku mengambil sikap yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. Aku tidak mau ambil pusing dengan pikiran dan presepsi orang. Aku menggangap masalah ini tidak ada, aku tidak mau memikirkan hal ini sampai pusing kepalaku, atau sampai mengganggu pekerjaanku. Aku menganggapnya biasa-biasa saja. Ngak peduli apa kata orang, ngak peduli cemooh orang, ngak peduli cacian orang. Ibarat kata pepatah: Anjing Mengonggong Kafilah Berlalu. Ibarat tidak masuk telinga kiri dan tidak keluar dari telinga kanan. Aku cuek bebek.

Justru aku semakin bersemangat bekerja. Dan aku bersemangat melaksanakan hasil-hasil yang aku peroleh dari pelaksanaan tugas itu. Biarlah Allah yang menentukan, Allah Maha Tahu, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Adil, Maha Menghukumi, dan Maha Memberi Ampun. Aku hanya risau dengan pandangan Allah padaku, aku hanya takut kalau Allah yang marah atau mencaciku. Biarlah waktu yang membuktikan.

Wallahua’lam.


Ini pandangan subjektif dari sudut pandangku. Kalau ada yang merasa tidak terima dan punya pandangan lain atau terlibat langsung dengan masalah ini, silahkan saja dikomentari. Insya Allah, tidak akan saya ‘sensor’.


2 responses to “Amanah & Ujian: Kebenaran Menurut Siapa

  1. Bismillahirrahmanirrahim. Nasehat-menasehati adalah perangai orang beriman dengan tujuan untuk mendapat keselamatan dunia dan akhirat. Setelah saya membaca kasus Bapak Isroi di atas dapat dikatakan, itu cobaan karena kita berbuat jujur tidak melakukan pelanggaran, sebaliknya bila kita berbuat dengan sengaja suatu pancingan berupa suatu tingkah misalnya memperlihatkan bahwa aku orang pintar yang serba tahu atau suatu perbuatan yang tidak menurut aturan, disebut bala. Bila seorang mukmin yang dikasihi oleh Allah sedikit salah langsung mendapat peringatan dan pada hakikatnya teguran itu datangnya dari Allah, bila ada orang lain yang mengingatkan kita bersyukur, alamat kita orang terpelihara dan kita termasuk orang didekatkan kepada-Nya. Bila apa saja yang kita buat tanpa tantangan bahkan berbuat salah menjadi enjoy, uang tambah banyak, pangkat naik, dikenal dimana-mana pada hal perbuatannya sesat ini disebut istidraj atau jurungan. Seorang mukmin diperintahkan untuk berlindung kepada Allah agar terhindar dari istridraj, ini bahaya besar biasanya sadar ketika sakratul maut. Orang seperti ini tidak akan mapan nasehat dan akhirnya pada pribadi seperti itu akan tercabut rasa ubudiyah. Biasanya menjadi orang supersibuk sehingga tidak tersisa waktu untuk shalah seluruhnya sibuk dengan bisnis, meeting, jamuan makan, conferen, wawancara, syooting dan lain-lain yang sifatnya anti tesis dengan ibadah. Dia merasakan hedonisme duniawi dengan ancaman azab di akhirat, kalau kita baca al-Quran dan melihat ayat-ayat Allah serta ancaman-Nya terhadap orang yang seperti itu sangat mengerikan, na’uzubillah. Kesimpulannya, Mas Isroi ada peringatan dari Allah. Untuk mengujinya bila pribadi kita merasakan tambahnya harta, ilmu, populer dll rasa ubudiyah juga meningkat ini pertanda kebaikan tetapi bila ubudiyah terpinggirkan pertanda itu keburukan dan wajib evaluasi. Semoga Mas Isroi juga mendoakan saya agar selalu dalam petunjuk dan redha-Nya. Amin.
    Wassalam semoga tersambung silaturahim di antara kita.
    Abu Ahmad.

  2. Terima kasih, nasehatnya. Semoga saya bukan termasuk orang yang istidraj. Dan semoga saya tetap istiqomah di jalan Allah.
    Saya juga mendoakan semoga Sdr. Abu Ahmad tetap dalam lindungan, bimbingan, dan mendapat petunjuk dari Allah. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s